Annyeong! Dengan segala keabsurdan dan ketidak-inginan mengerjakan tugas, akhirnya jadilah ff ini hahaha. Hope you enjoy this fanfiction, let me know your opinion, so leave your comments here hehe thank you so much! Enjoy reading!

esquirekoreadonghae-4 - Copy

PS: I love you, Hae!

******

Spotted! Lee Donghae dan Dara bersama di Los Angeles semalam. Apakah Lee Donghae sudah putus dengan Kang Hamun? – Dispatch

Hamun terdiam menatap headlines artikel yang baru ia baca padahal berita tersebut sudah menjadi trending topic worldwide sejak 2 jam yang lalu. Ia juga mengetahui berita itu karena Hyejin onnie tiba-tiba datang ke kamarnya dan meminta konfirmasi kebenaran berita itu.

Hamun tak bisa menjawab pertanyaan Hyejin: ‘Kalian ada masalah apa?’ karena Hamun merasa hubungannya dengan Donghae baik-baik saja. Ia bahkan mengantar Donghae ke bandara 3 hari yang lalu dan masih berkomunikasi sampai kemarin malam.

“Mworago? Lalu kenapa ia bisa bersama Dara onnie? Dia tidak berselingkuh, kan?” tanya Hyejin onnie lagi yang Hamun jawab dengan kesunyian. Melihat magnaenya yang tampak sangat shock dengan semua berita ini, Hyejin segera keluar dari kamar itu dan menelpon Kyuhyun atau siapapun yang bisa menolong Hamun.

‘Donghae oppa selingkuh dengan Dara onnie?’ pikiran itu tiba-tiba melewati benak Hamun. Jantung Hamun berdetak kencang karena rasa khawatir dan takut mulai merasukinya. Ia juga makin gentar karena Donghae tidak meneleponnya ataupun mengirimkan chat untuk Hamun terkait artiket tersebut. Hamun tidak ingin meragukan perasaan Donghae padanya akan tetapi kali ini yang digosipkan dengan kekasihnya adalah Dara, yang Hamun ketahui sebagai cinta pertama Donghae, dan Hamun pun sadar Dara jauh lebih baik dari dirinya sebagai seorang wanita. Apa yang harus ia lakukan? Ia mencoba menelpon pria itu, akan tetapi panggilannya di reject oleh Donghae.

“Hamun, gwencana?” tanya seseorang dari ambang pintu Hamun. Hamun melihat Sehun, Taemin, dan Chanyeol ada disana. Taemin yang tadi bertanya.

“Gwencana?” Sehun menanyakan hal itu lagi karena Hamun belum memberikan jawaban.

Hamun terdiam sesaat karena ia masih belum dapat mengatur isi kepalanya dan hatinya.

Akhirnya ia hanya bisa memberikan senyum palsu pada mereka dan berkata, “aku tidak apa-apa,” karena ia tak mau ketiga pria itu mengkhawatirkannya.

Chanyeol kini masuk ke dalam kamar Hamun dan duduk di tepi tempat tidur gadis itu. “Jeongmal gwencana?” tanyanya pada gadis yang dihadapannya. Chanyeol menatap Hamun sampai kemanik matanya. Tatapan itu seakan melongok hati Hamun sampai ke dalam. Ia tahu kalau usahanya untuk tampak baik-baik saja di hadapan teman-temannya gagal.

Chanyeol menarik tangan Hamun sehingga gadis itu kini berada dalam pelukan Chanyeol. “Jangan pura-pura kuat di depanku,” kata pria itu dan akhirnya tangisan Hamun merebak.

*****

“Hamun mana?” tanya Siwon yang baru saja tiba dorm SG ini. Ia melihat di ruang tamu dorm itu sudah ada Hyejin, Kyuhyun, Jihyo, Woobin, Henry, Hyunah, Minah, Eric, Taemin dan Sehun.

Begitu melihat oppanya, Jihyo langsung bangkit dari tempat duduknya. “Yaa, oppa! Bagaimana mungkin sahabatmu itu berselingkuh dengan gadis lain?!” tanya Jihyo dengan emosi.

“Donghae tidak mungkin melakukan itu,” kata Siwon mengabaikan fakta bahwa artikel Dispatch memergoki Dara dengan Donghae sedang bersama. Ia lebih mengenal Donghae daripada siapapun.

“Kalau memang bukan selingkuh, kenapa ia tidak menelpon Hamun untuk mengklarifikasi semuanya?” kini Minah yang bertanya.

“Donghae bahkan mereject panggilan Hamun dan tidak membalas chat Hamun padahal sudah dia read,” kata Hyunah.

“Oppa, apa kau tahu ada hubungan apa sebenarnya antara Dara onnie dan Donghae oppa? Kyuhyun dan Henry tak mau mengatakan apapun pada kami,” kata Hyejin.

Siwon menatap Kyuhyun dan Henry dengan ragu. “Dara adalah cinta pertama Donghae. Akan tetapi, yang kutahu adalah Donghae sudah lama putus dengannya dan sejak 7 tahun yang lalu ia hanya mencintai Hamun. Aku rasa Donghae tak mungkin mengkhianati Hamun,” ujar Siwon yang membuat semua orang disitu terdiam.

“Siapa yang menemani Hamun di dalam?” tanya Siwon lagi.

“Chanyeol hyung,” jawab Sehun.

*****

Siwon masuk ke dalam kamar Hamun dan mendapati Chanyeol sedang menatap Hamun dengan lirih. Siwon bisa melihat hoobaenya itu menggenggam tangan Hamun yang sedang tertidur dengan erat.

“Chanyeol,” panggil Siwon untuk memberitahukan keberadaannya.

“Ah, hyung, annyeonghaseyo,” sapa Chanyeol dengan gelagapan. Ia langsung melepaskan tangan Hamun dan bergegas keluar dari kamar itu.

“Kau menyukai Hamun?” tanya Siwon sebelum Chanyeol sempat membuka pintu.

Chanyeol kembali memutar tubuhnya sehingga ia dapat kembali melihat gadis itu dan sunbaenya. “Ne, hyung,” jawab Chanyeol tegas.

“Apa kau sudah mengatakan perasaanmu padanya?” tanya Siwon lagi. Chanyeol menggeleng dan tersenyum lirih.

“Aku tak bisa mengatakannya karena Hamun sangat mencintai Donghae. Asal bisa berada disampingnya, itu sudah cukup,” jawab Chanyeol. “Hamun sangat menyayangi Donghae hyung. Bahkan setelah artikel itu dan tidak ada kabar dari Donghae hyung, Hamun masih sangat mempercayainya. Saat apa yang Hamun percaya tidak terbukti benar, aku akan menyatakan perasaanku padanya,” lanjutnya sebelum akhirnya ia keluar dari kamar itu.

Siwon tersenyum mendengar jawaban Chanyeol. Senyumnya makin mengembang saat ia melihat gadis yang terlelap ini. “Aigo, sudah berapa orang yang kau buat patah hati, hm? Kang Hamun, bangun,” ujar Siwon sambil menepuk-nepuk punggung Hamun dengan lembut. Tak lama setelah itu, akhirnya Hamun terbangun.

“Oppa, waeyo?” tanya Hamun. “Chanyeol oppa?” tanyanya lagi.

“Aku menyuruhnya pulang. Ia pasti lelah karena setelah syuting ia langsung kesini dan besok pagi dia sudah ada jadwal,” jawab Siwon.

Hamun mengangguk-angguk sebagai tanda ia mengerti. “Lalu kenapa Oppa disini?” tanya Hamun.

“Aku mengkhawatirkanmu,” jawab Siwon sembari ia membantu Hamun untuk bangkit dari tempat tidurnya.

Hamun tersenyum. “Tak ada yang perlu oppa khawatirkan. Aku percaya Donghae oppa tidak mungkin berselingkuh,” jawabnya.

“Kau yakin? Meskipun ia mereject panggilanmu, tidak membalas chatmu, dan tidak menghubungimu kembali? Kau tahu kan, kalau Dara adalah cinta pertama Donghae?” tanya Siwon.

Hamun tersenyum. “Aku memang sempat khawatir dan merasa takut. Disaat itu, aku teringat bagaimana Donghae oppa menyayangiku selama ini sampai ia rela menungguku selama kita berpacaran. Kau juga pernah bilang, kalau tidak ada yang menyayangiku sebesar Donghae oppa. Aku tidak ingin menyangsikan perasaan itu,” katanya.

Siwon tersenyum sambil mengacak rambut Hamun. “Kau umur berapa, sih? Bahkan pemikiranmu terkesan lebih dewasa dari onniedulmu itu,” tanya Siwon setengah bercanda.

“Awas kalau mereka dengar,” peringat Hamun.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Siwon.

“Meskipun aku percaya padanya, aku tetap kesal dengan sikap Donghae oppa. Jadi, aku mau memberikan counter attack padanya,” kata Hamun.

“Perlu kubantu?” tanya Siwon yang Hamun jawab dengan anggukan.

*****

Hamun dan Siwon sudah berada di dalam bandara kedatangan sejak setengah jam yang lalu (Siwon memiliki koneksi yang membantunya untuk dapat masuk ke dalam Bandara). Berdasarkan info dari manager Super Junior, Donghae akan kembali hari ini dari LA. Hamun dan Siwon sudah merencanakan semuanya dengan matang, semoga semuanya berjalan dengan lancar.

“Hamun? Siwon?” panggil sebuah suara. Mungkin karena terlalu asik mempersiapkan rencananya, Hamun dan Siwon tidak menyadari kalau pesawat Donghae sudah sampai dan pria itu sudah di dalam bandara. “Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Donghae oppa yang masih berdiri cukup jauh dari Hamun.

Hamun tersenyum pada pria itu lalu berjalan medekatinya. Akan tetapi, seiring jarak itu mendekat, senyum Hamun hilang. Apa yang sudah ia rencanakan seakan menguap saat ia melihat kekasihnya menggenggam tangan seorang perempuan. Meskipun perempuan itu menggunakan kacamata hitam dan masker yang menutupi wajahnya, Hamun tahu kalau itu adalah Dara onnie.

Hamun terlalu kaget sampai-sampai ia lupa untuk menahan air matanya. Ia segera menghapus air matanya dan menggantinya dengan senyuman.

“Oppa, welcome back!” sapa Hamun dengan suara yang ia buat setegar mungkin.

“Hamun, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” kata Donghae lirih memohon pengertian Hamun. Hatinya ikut terluka melihat senyum palsu itu terukir di wajah Hamun.

“Apa oppa tahu apa yang kupikirkan?” tanya Hamun. Belum sempat Donghae menjawab, Hamun menyelanya, “Aku percaya padamu, karena aku mencintaimu,”

Donghae terdiam tak berkutik di tempatnya.

“Hamun, gwencana? Apa kita pulang saja? Kita selesaikan ini dorm bagaimana?” tanya Siwon khawatir walaupun sesekali ia menatap Donghae dengan niat memukul pria itu.

Hamun mengangguk. “Ne, nan gwenchana. Oppa tenang saja, ya. Akan aku selesaikan masalah ini sekarang,” katanya.

Hamun berjalan mendekati Donghae, melepaskan masker pria itu, dan berjinjit untuk dapat mengecup bibir pria itu. “Oppa, saranghae. Aku percaya padamu. Tapi, jika apa yang kupercaya itu hanya ilusi….” Hamun terdiam sesaat karena sesungguhnya apa yang ingin ia katakan, sangat menyakitkan baginya. Meski ia tersenyum, ia tak mampu menahan air matanya. Hamun mengelus lembut wajah pria yang paling ia sayangi itu, berusaha mengingat bagaimana kehangatan pria itu. “I love you enough, to let you become the sunshine in another sky. I brave enough, to be left in the dark and cold. And i strong enough, to wait for you until you love me again,”

“Hal yang wajar kupikir jika oppa kembali pada Dara onnie. Ia jauh lebih baik dariku. Tapi aku tak akan berdiam. Aku akan mengubah diriku dan berusaha agar dapat menjadi wanita yang dapat oppa banggakan kelak,” katanya. Kini Hamun menatap lekat Dara, “Saat itu tiba, aku akan datang kembali untuk merebutnya dari onnie. Mianhe, onnie. Akan kupastikan Donghae oppa kembali padaku,” katanya. Setelah itu, ia dan Siwon langsung berjalan pergi meninggalkan Donghae dan Dara.

Donghae tersenyum memandang punggung Hamun yang menjauh. Ia bisa merasakan tangan Dara tidak lagi menggenggam tangannya. “Bagaimana menurutmu? Dia gadis yang hebat, kan?” tanya Donghae sambil menatap Dara dengan senyum kemenangan.

Dara tersenyum lembut sambil menghela nafas panjang. “Kuakui aku kalah darinya. Aku bisa terima sekarang kenapa kau lebih memilihnya daripada aku. Bukannya kau sekarang harus mengejarnya?” tanya Dara sambil menyerahkan iPhone milik Donghae yang selama beberapa hari ini dipegang Dara.

*****

“Hamun!” panggil suara yang sangat Hamun kenali. Begitu ia memutar tubuhnya, pria itu sudah ada dihadapannya sambil memberikan senyum terindahnya yang ia khususkan untuk Hamun.

“O-oppa, wae? Kau meninggalkan Dara onnie sendirian?” tanya Hamun bingung.

“Jangan khawatir padanya. Ayo ikut aku,” kata Donghae yang sudah menggenggam erat tangah Hamun. “Siwonie, terima kasih. Aku titip koperku padamu. Kini biarkan aku yang akan menjaga Hamun,” katanya.

Donghae membawa Hamun menuju ruang tunggu yang di pintu keluarnya sudah ada banyak wartawan. Mungkin mereka tahu Donghae akan kembali hari ini sehingga wartawan-wartawan itu menunggu di Bandara untuk mengkonfirmasi hubungannya dengan Dara dan Hamun. Donghae hendak mengajak Hamun keluar namun gadis itu menahan langkah mereka. “Oppa, kenapa kau membawaku kesini?” tanyanya tak mengerti.

“Aku ingin memberitahu pada wartawan kalau apa yang mereka beritakan itu salah. Aku ingin mengatakan pada mereka kalau aku mencintaimu. Hanya dirimu,”

“Maksud oppa apa? Bukankah kau.. Dara onnie..”

Donghae tersenyum pada Hamun. Ia menatap lekat ke manik mata gadis itu. Ia merapikan rambut Hamun yang menutupi wajah cantiknya. Ia mengelus pipi Hamun lembut. Ia merindukan semua tentang gadis itu. “Hamun, apa kau tahu betapa bahagianya aku saat kau mengatakan semua hal itu? Terima kasih karena kau mempercayai perasaanku. Terima kasih karena kau sangat mencintaiku. Terima kasih karena kau mau berkorban untukku. Terima kasih karena kau mau berjuang untukku. Siapa aku sampai kau rela melakukan semua itu untukku?” tanyanya.

Hamun menyentuh tangan Donghae yang membelai wajahnya. “Oppa, wae?” tanya Hamun lagi.

“Aku tak ingin kau mengubah dirimu menjadi seperti Dara karena aku hanya bisa menyayangimu. Bagaimana dirimu dulu, saat ini, seterusnya, aku mencintaimu yang selalu menjadi dirimu sendiri. Kau tak perlu mengubah dirimu agar menjadi pantas kubanggakan karena aku sudah sangat menyayangimu dengan apa yang ada padamu sekarang,” katanya.

“Oppa, sebenarnya ada apa? Kalau kau menyayangiku, bagaimana dengan Dara onnie?” tanya Hamun.

Donghae tersenyum melihat Hamun yang masih mengkhawatirkan orang lain ditengah kesedihannya. Ia tidak menjawab pertanyaan Hamun, yang ia lakukan adalah menyampaikan perasaannya. “Hamun, saranghae,” kata Donghae sambil mengecup lembut bibir Hamun. Sangat lembut sampai membuat keduanya terhanyut dan lupa dimana mereka saat ini.

“Kalian masih di bandara. Jangan berciuman lama-lama,” ujar sebuah suara yang membuat Hamun melepaskan bibirnya.

“Dara onnie, mianhe,” kata Hamun kikuk karena ia merasa bersalah pada gadis itu.

“Hamun, jangan merasa bersalah padaku seperti itu. Aku sudah tidak ada perasaan pada Donghae. Aku hanya ingin mengganggumu kemarin,” jelas Dara diikuti dengan tawanya.

“A-apa?” tanya Hamun belum mengerti.

“Aku kesal karena setiap kali kami berbicara, Donghae selalu membicarakan dirimu. Aku kesal begitu mendengar kalau ia menunggumu selama 6 tahun padahal dulu saat aku tinggal selama 6 bulan saja, dia sudah minta putus. Aku penasaran seperti apa gadis yang mampu membuat Donghae tergila-gila sampai seperti itu. Akhirnya, dengan dibantu Donghae kami merencanakan semuanya dengan matang.” jelas Dara.

“Kau juga ikut-ikutan rencana Dara onnie ini oppa?” tanya Hamun tak percaya yang Donghae jawab dengan anggukan.

“Aku tak suka saat ia mengatakan kalau kau gadis cengeng dan merepotkan. Aku ingin menunjukan padanya kalau kau memang pantas untuk disayangi,” jawabnya.

Hamun tercengang dan menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan itu. “Oppa, boleh kita pulang sekarang?” tanya Hamun.

*****

“Hamun, waeyo? Daritadi kau diam saja,” tanya Donghae pada Hamun yang sejak di dalam mobil hanya terdiam sambil memandang keluar jendela.

“Lihat jalan yang benar, oppa,” kata Hamun datar.

Begitu mereka tiba di dorm SG, Hamun turun begitu saja tanpa berpamitan atau memberikan kiss bye pada pria itu. Donghae yang merasa sikap Hamun menjadi aneh langsung turun dari mobil dan menahan kepergian Hamun.

“Hamun waeyo? Kenapa kau tiba-tiba menjadi dingin seperti ini? Kau marah padaku? Jelaskan padaku Hamun, aku tak akan mengerti kalau kau diam saja,” ujarnya.

“Oppa ingin tahu kenapa aku marah padamu?” tanya Hamun. “Ikut aku,” lanjutnya.

Hamun menarik tangan Donghae sampai ke dalam dorm SG. Hamun bahkan tidak memberikan kesempatan pada Donghae untuk menyapa para member SG dan pasangannya yang sejak tadi menunggu kedatangan Hamun di ruang tamu SG. Hamun langsung membawa Donghae melesat ke kamarnya.

“Yaa, Kang Hamun! Apa yang terjadi?!” tanya Hyejin sambil mengetuk pintu kamar Hamun.

Pintu itu tiba-tiba terbuka. Hyejin bisa melihat Donghae duduk di tepi kasur Hamun dengan tampang bingung. “Pasang TV saja atau tanya pada Siwon oppa saja onnie. Jangan ganggu kami,” kata Hamun yang langsung menutup pintu kamar itu tepat di depan wajah Hyejin. Hyejin, Hyunah, Minah, Jihyo, dan para pasangannya hanya bisa melongo melihat sikap Hamun itu. Ini pertama kalinya terjadi.

*****

“Hamun, wae?” tanya Donghae bingung.

Hamun tak menjawab. Ia berdiri di depan Donghae lalu menengadahkan kepala pria itu. Sebelum Donghae sempat bertanya lagi, Hamun mengecup bibir pria itu dengan lembut. Ia mencium Donghae sangat lama. Bahkan saat Donghae nyaris kehabisan nafas, gadis itu tak melepaskannya. Donghae terpaksa menarik Hamun, menjatuhkan gadis itu ke tempat tidur, dan memutar posisi mereka sehingga kini Donghae ada di atas Hamun dan dapat melepaskan kecupan itu. Donghae memegang kedua tangan Hamun disisi kanan kiri kepala gadis itu sehingga Hamun tidak dapat menarik wajah Donghae lagi

“Hamunie, ada apa denganmu?” tanya Donghae bingung.

Saat mata mereka bertemu, Donghae sangat kaget melihat air mata Hamun sudah mengalir. Gadis itu langsung mengalihkan wajahnya saat menyadari kalau Donghae sudah melihat air matanya.

“Hamun sayang, gwenchana?” tanya Donghae khawatir.

Hamun masih tidak mau menatap Donghae, tapi ia mengatakan suatu hal. “Jangan pernah bercanda seperti apa yang sudah oppa lakukan dengan Dara onnie. Tolong pikirkan perasaanku.” katanya. Mendengar itu membuat hati Donghae terenyuh. Ia baru sadar kalau sejak tadi tangan Hamun bergetar seakan ia sedang ketakutan.

Donghae melepaskan tangan Hamun dan ia menidurkan tubuhnya disebelah Hamun. Kini ia bisa kembali melihat mata itu. Donghae merasa bersalah menyadari air mata Hamun mengalir karenanya. “Aku ingin percaya padamu tapi aku juga merasa sangat takut. Aku tak bisa membayangkan kalau kau benar-benar meninggalkanku,” ujar Hamun.

Donghae menatap lirih gadis itu sambil menghapus air mata Hamun yang masih mengalir. “Mianhe, Hamun. Aku sudah keterlaluan. Aku tak akan melakukan hal seperti ini lagi,” janji Donghae. Ia menarik Hamun ke dalam pelukannya. Saat Hamun kembali merasakan kehangatan itu, air matanya mengalir deras. Sisa malam itu, Hamun habiskan untuk menangis dalam dekapan Donghae, sedangkan Donghae memilih untuk terus memeluknya erat. Ia sendiri tidak mau melepaskan Hamun. Ia tak dapat membayangkan jika hal itu sampai terjadi.

*****

Hamun tersenyum ceria begitu mendengar sapaan pagi dari Donghae untuknya. Rasanya semua emosi negatif sudah keluar dari tubuhnya. “Kau tidur dengan nyenyak?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan anggukan.

“Pagi, oppa,” sapa Hamun sambil mengecup bibir pria itu.

“Hamun, jangan sering-sering menyerangku seperti itu,” kata Donghae sambil menatap lekat gadis itu. Donghae mengelus-elus pipi Hamun dengan lembut.

“Kenapa tidak boleh oppa? Itu caraku menunjukkan pada oppa kalau aku sangat menyayangimu. Apa itu salah oppa?” tanya Hamun bingung. Melihat wajah polos Hamun itu membuat Donghae tak bisa berkutik. Ia mencium kening Hamun dan memeluknya. “Ani, kau tidak salah. Terima kasih sayang,” jawabnya.

“Donghae, kau harus menahan dirimu sekuat tenaga,” gumam Donghae untuk dirinya sendiri.

“Oppa bilang apa?” tanya Hamun karena ia tak mendengar perkataan Donghae barusan.

“Aku bilang, aku sangat mencintaimu, Hamun,”

“Nado,” jawab Hamun. Ia bangkit dari tidurnya dan membuka lebar tirai kamarnya. Hamun memaksa Donghae bangkit dari tempat tidurnya dan mengajak pria itu keluar dari kamar dengan menggenggam tangan Donghae.

Mereka bercanda dan tertawa bahagia sampai tak sadar kalau mereka sedang ditatap oleh orang-orang yang berada diruang tamu (siapa lagi kalau bukan onniedul dan pasangannya).

“Bagaimana rasanya Hamun?” tanya Hyejin dan Minah onnie yang tampak paling bersemangat, walaupun Hamun tak mengerti apa yang membuat mereka sangat antusias seperti itu.

“Jangan buru-buru, onnie. Nanti Hamun malu,” kata Jihyo diikuti tawanya.

“Aku juga tak sabar,” kata Hyunah penasaran.

“Hyung, ceritakan pada kami,” kata Kyuhyun dan Henry sambil bergelanyutan di sisi kanan kiri tangan Donghae.

“Hyung, selamat ya,” kata Woobin dengan senyum usilnya.

“Kapan-kapan kau boleh pakai kamarku, Donghae,” kata Eric sambil tertawa.

Hamun yang tak mengerti.

“Yaa, onniedul oppadeul, kalian membicarakan apa, sih?” tanya Hamun kesal.

Kini giliran semua orang di ruangan itu yang memandang Hamun heran, sedangkan Donghae hanya tertawa pelan melihat kekasihnya itu. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Lalu semalam kalian ngapain berdua di kamar?” tanya Hyejin bingung.

“Aku hanya tidur. Donghae oppa juga tidur. Iya, kan, oppa? Memangnya apa yang onnidul dan oppadeul pikirkan?” tanya Hamun yang Donghae jawab dengan anggukan.

Hyejin, Minah, Hyunah, dan Jihyo memasang wajah cemberut mendengar jawab Hamun. “Kau tidak seru Hamun!” gerutu mereka.

“Yaa, onniedul jangan samakan aku dengan kalian,” omel Hamun yang malah membuat para onnienya tertawa terbahak-bahak.

Saat Hamun tidak melihat, Donghae menghela nafas panjang. “Hyung, kau harus kuat menahan diri ya,” ujar Kyuhyun yang tepat sasaran.

“Sepertinya masih lama ya, hyung,” ujar Woobin.

“Hyung, jangan menyerah!” ujar Henry menyemangati.

“Jangan memaksa, tunggu saja sampai Hamun benar-benar siap. Ia tak akan kemana-mana. Hamun sangat menyayangimu,” ujar Eric yang membuat senyum Donghae mengembang.

“Aku juga tak bisa kalau bukan Hamun,” katanya. Ia melepaskan diri dari pria-pria yang sedari tadi bergelanyutan di tubuhnya. Donghae menggenggam tangan Hamun dan hendak membawa gadis itu pergi. “Ladies and gentlemen, aku ingin kencan dengan Hamun pagi ini. Tolong jangan ganggu kami. Annyeong!” pamit Donghae.

Hyungdeul dan onniedul Hamun hanya bisa tersenyum melihat kedua pasangan itu. Sepertinya tidak ada yang bisa membuat mereka berpisah.

Kkeut!