“Onnie, chukkae!” Hamun menyerahkan sebuket mawar lima warna ke tangan Jihyo.

“Hahaha, gomawo magnae! Ayo masuk ke ruanganku,” Jihyo menarik Hamun masuk ke ruangan make upnya. “Kau tidak apa-apa kan menunggu di sini? Atau kau mau ke backstage? Mian baby magnae, 10 menit lagi acaranya akan mulai.”

“Gwenchana onnie. Aku bisa menontonmu dari tv di sini. Lagipula masih banyak tugas yang harus aku kerjakan,” Hamun membalikkan badannya yang memikul tas (yang sepertinya) berisi buku-buku pelajarannya.

“Kau tidak bisa apa sehari tidak bersentuhan dengan buku?” Jihyo meletakkan buket bunga dari Hamun di meja dan mengambil soft drink dari kulkas mini untuk Hamun.

“Yah, mau bagaimana lagi onnie,” Hamun menghela napas panjang. “Oiya, Hyejin onnie, MinAh onnie, dan HyunAh onnie titip salam dan maaf karena tidak bisa datang ke acara musik baru mu hari ini.”

“Tenang, tadi mereka sudah memberi pesan untukku,” Jihyo menengok ke pintu ruangan yang berdecit dibuka.

“MC Choi, 5 menit lagi!” ujar salah satu kru. Jihyo mengangguk memberi tanda ia akan segera ke backstage.

“MinAh onnie kan sedang ikut Eric oppa konser di Beijing, HyunAh onnie sedang liburan bersama dengan Yonghwa oppa. Kalau Hyejin eonnie?” tanya Hamun.

“Leader sedang menjenguk Joong Ki oppa,” Jihyo mengarahkan dua jam tangan kesukaannya ke arah Hamun, memintanya untuk memilihkan. “Tapi aku tidak tau apakah sehabis itu ia pergi ke apartemen Hyung oppa, hahaha.”

“Mmmh, onnie,” Hamun menunjuk jam tangan yang dipegang tangan kiri Jihyo. “Mumpung tidak ada Hyejin onnie, MinAh onnie, dan HyunAh onnie, boleh aku tanya sesuatu?”

Jihyo mengerenyitkan dahinya. “Mmh, boleh. Tapi cepat ya, Hamun. Aku harus ke backstage.”

“Ah, tidak jadi,” Hamun menggeleng. “Sudah sana onnie segera ke backstage.”

“Ya! Kang Hamun! Cepat beri tahu aku apa yang mau kau tanyakan atau tidak aku akan mengurungmu di ruangan ini hingga acaraku selesai!”

Hamun cemberut mendengar ancaman Jihyo. “Ne, onnie. Jangan kurung aku. Aku hanya ingin bertanya bagaimana membuat Donghae oppa cemburu,” ucap Hamun dengan kecepatan tinggi hingga Jihyo hanya bisa mendengar kata bagaimana, Donghae, cemburu.

“Ah,” Jihyo perlu beberapa detik untuk mencerna maksud Hamun. “Hahahaha, serius magnae kau mau membuat Donghae oppa cemburu? Kau kebanyakan belajar ya hingga otakmu korslet begitu?”

“Onnie!” protes Hamun.

“Ya, maksudku diantara kita berlima, cuma kau yang paling adem ayem denga kekasihmu. Maksudku, kau tidak pernah terlihat ingin membuat Donghae oppa cemburu. Yah, walaupun Hae oppa suka cemburu dengan buku-bukumu itu,” cerocos Jihyo. “Ah, aku harus burur-buru ke backstage. Duh kalau aku jelaskan teori bagaimana bisa membuat kekasihmu cemburu itu panjang. Kau lihat saja prakteknya ya!” Jihyo menepuk pundak Hamun dan berlari keluar dari ruangan menuju backstage.

+++

“Ah, Hamun! Kau datang juga ke sini rupanya,” Woobin masuk ke ruang make up Jihyo. “Sudah lama?’

“Annyeong oppa,” Hamun melambaikan tangannya ke kekasih eonnienya. “Mmh, lumayan, sudah dari setengah jam yang lalu. Oppa habis pulang syuting?”

“Tidak, aku sedang break syuting dan si nona evil memerintahkanku untuk melihat dirinya menjadi MC. Padahal kan aku bisa menontonnya dari televisi saja, huh,” Woobin membantingkan tubuhnya ke sofa.

“Tunggu,” Woobin menatap Hamun curiga. “Jangan-jangan kau digeret oleh Jihyo dari dorm ke sini hanya untuk menontonnya lewat televisi di ruangan ini?”

Hamun tertawa, apa onnienya semenyeramkan itu di mata Woobin. “Tidak, tidak kok oppa. Aku ke sini atas kemauan sendiri. Ah, Bigbang sedang tampil!” seru Hamun menunjuk ke arah televisi.

“Dan Choi Jihyo tidak bilang kalau si Choi Seunghyun ada di sini,” Woobin mendengus kesal.

Hamun menoleh ke arah oppanya yang raut wajahnya langsung berubah melihat T.O.P dengan setelan berwarna ungu ada di layar televisi. “Wae oppa?”

“Tidak apa-apa,” Woobin menekuk wajahnya. “Dasar Choi Jihyo menyebalkan. Kenapa dia harus satu panggung dengannya sih? Kenapa dia suka namja seperti itu. Aku lebih tampan darinya,” gumam Woobin pelan namun Hamun masih bisa mendengar Woobin menggerutu.

Hamun tersadar jika Woobin oppanya cemburu dengan T.O.P. Ini semua berawal dari drama Jihyo onnienya dengan T.O.P yang memasangkan mereka berdua sebagai sepasang kekasih. Lalu, Jihyo mulai mengatakan kalau sepintas wajah Woobin dan T.O.P mirip. Tentu saja itu bukan alasan utama Woobin cemburu, karena Choi Jihyo tetaplah Choi Jihyo. Yeoja yang mudah sekali akrab dengan namja, terutama T.O.P. Dan itu membuat Woobin tidak suka.

Hamun merasa tidak enak harus menghabiskan setengah jam bersama Woobin yang sibuk memainkan smartphonenya sambil mendumel sendiri. Untunglah acara musik Jihyo akhirnya selesai dan sebentar lagi eonnienya akan kembali ke ruangan.

“Oppa, acaranya sudah selesai,” ujar Hamun.

“Ne, aku tau,” jawab Woobin ketus. “Maksudku, aku tau Hamun-ah,” Woobin langsung meralat nada suaranya menjadi manis.

Hamun dan Woobin berpandangan saat mendengar dua suara berteriakan di depan pintu, salah satu suara itu amat dikenal oleh Hamun dan Woobin. Itu suara Jihyo.

“Ya, Choi Jihyo! Kau serius sekali?” teriak T.O.P yang diculik Jihyo dari para membernya.

“Iiiiih, aku serius oppa. Lagipula kan acaranya sudah selesai! Aku geregetan melihat rambutmu,” ujar Jihyo sekuat tenaga menarik tangan T.O.P menuju ruangan make upnya.

“Jihyo,” Woobin membuka pintu dan melihat kekasihnya sedang tarik-tarikan dengan T.O.P. Hamun menyempil di belakang Woobin yang menjulang tinggi.

“Ah, annyeonghaseyo, Woobin-ssi, Hamun-ssi,” T.O.P langsung membenarkan posisi berdirinya dan menghempaskan tangan Jihyo, memberi salam kepada kedua orang yang berdiri di depan pintu tersebut.

“Huh, kalau di depan orang lain saja, langsung cool begitu. Awwwh oppa sakit!” teriak Jihyo kesakitan karena lengannya dicubit T.O.P.

“Annyeong T.O.P sunbae. Penampilanmu tadi betul-betul sangat bagus,” puji Hamun tulus. T.O.P tersenyum yang membuat Hamun tanpa sadar tersenyum malu sendiri.

“Terima kasih, Hamun-ssi. Oiya, kalau begitu kurasa aku harus kembali ke ruanganku,” T.O.P kembali tersenyum untuk kedua kalinya. Hamun berpikir, jika tiga kali T.O.P tersenyum kepadanya, ia bisa pingsan di tempat.

“Oppaaaaaaa,” rajuk Jihyo tidak terima.

“Mianhae, nona evil. Kali ini ide jahilmu belum bisa dilaksanakan,” T.O.P mencubit gemas hidung Jihyo. “Sampai jumpa besok.”

“Oh, jadi dia memanggilmu dengan sebutan nona evil juga?” Woobin sengaja menaikkan nada suaranya agar tetap bisa terdengar oleh T.O.P yang berjalan menjauh dari depan ruangan make up Jihyo. “Dan apa yang mau kau lakukan dengannya besok?”

“Rahasia,” jawab Jihyo cepat sambil melirik penuh arti ke Hamun.

“Yasudah, bukan urusanku juga,” Woobin memasang tampang datar dan kembali masuk ke dalam ruangan.

“Onnie, Woobin oppa tidak apa-apa seperti itu?” Hamun memandang cemas melihat Woobin yang mulai mendumel sendiri.

“Seperti itu bagaimana?” Jihyo menutup pintu dan membiarkan Woobin sendiri di dalam ruangan. “Itu namanya cemburu, Hamun, hahaha.”

“Cemburu?”

“Iya, katanya kau minta diajari bagaimana membuat Hamun cemburu. Seperti itu, hahaha,” Jihyo berusaha menahan tawanya agar tidak sampai terdengar oleh Woobin. “Tenang, Woobin oppamu paling hanya ngambek beberapa jam saja. Nanti juga dia baik sendiri.”

“Serius?” Hamun sepertinya tidak yakin.

“Seriuuuus. Coba praktekkan saja ke Donghae oppa,” kedip Jihyo sambil masuk ke dalam ruangan.