I think this is my last fanfiction before final exam hahaha and i will start to write again maybe 3 weeks later ._. Well, hope you like this fanfiction hehehe enjoy!

******

Hamun tersenyum melihat pria yang berdiri jauh dihadapannya. Sosok yang menjadi objek perhatian Hamun itu tampak sangat bahagia terutama setelah ia membuka lokernya dan menemukan sebuah buku tulis yang berisi rangkuman materi kuliah dari awal semester ini. Hamun tertawa saat melihat pria itu memamerkan buku tersebut pada sahabat-sahabatnya.

“Hamun ah, kau kenapa ketawa sendiri seperti itu?” tanya Hyejin tiba-tiba. Hamun langsung mengalihkan perhatiannya pada hal lain dan berusaha mengelak, “Aku tidak ketawa sendiri. Kau kira aku gila?” balas Hamun.

Jihyo memukul kepala Hamun dengan buku tulisnya. “Ne, kau sudah cukup gila sampai-sampai kau mau tidak tidur selama 3 hari untuk membuat rangkuman yang parahnya bukan untuk dirimu melainkan untuk orang yang bahkan tidak tahu kalau kau ada disekitarnya,” katanya.

“Bahkan kau tidak memfotokopikan catatan itu untuk sahabat-sahabat terbaikmu ini. Dasar wanita kejam,” sindir Minah.

“Ya, kau kejam, Hamun,” tambah Hyunah.

Hamun tertawa sambil memukul kepala sahabat-sahabatnya itu dengan setumpuk kertas. “Jangan mudah ambil kesimpulan. Ini untuk kalian,” kata Hamun sambil memberikan kertas yang ia gunakan untuk memukul ke empat gadis tadi.

Hyejin, Minah, Jihyo, dan Hyunah membuat wajah nyaris menangis melihat kertas itu. “Gomawo, Hamun! Kami doakan semoga Donghae segera menyadari keberadaanmu!” ujar mereka bersamaan sambil memeluk Hamun.

“Diam. Jangan sampai orang lain tahu,” kata Hamun mengingatkan empat orang itu.

Hyejin, Minah, Jihyo, dan Hyunah melepaskan pelukannya. “Aku tetap akan mendoakan supaya suatu saat Donghae tahu siapa yang selalu memberikannya sarapan, coklat, catatan, dan surat semangat di lokernya,” ujar Hyejin.

Hamun tersenyum mendengarnya. “Kalian tahu aku melakukan semua itu karena aku mencintainya. Bukan karena aku ingin ia membalas perasaanku.”

“Aku tahu. Aku doakan suatu saat sebelum kita lulus Donghae tahu tentang perasaanmu,” balas Minah.

“Kalau pun dia tak tahu, aku juga tidak masalah. Aku sayang padanya. Tulus. Lagipula, kau sendiri tahu ia sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik dariku,”

Jihyo menghela nafas panjang saat melihat senyum Hamun. Senyum tulus yang Jihyo anggap sangat menyedihkan. “Baiklah, lebih baik kita masuk kelas sebelum gangsa-nim datang,” ajak Hyunah.

*****

Waktu terus berlalu dan musim selalu berganti. Hanya satu hal yang selalu sama yakni perasaan Hamun pada Donghae. Ia masih melakukan kebiasaannya yang lalu meski sampai saat ini Donghae tetap tidak menyadari kehadirannya.

“Kau sudah tahu Donghae putus dengan Dara?” tanya Hyejin tiba-tiba.

“Aku tahu. Diamlah. Aku tak mau ditegur gangsa-nim,” bisik Hamun yang membuat Hyejin kembali membetulkan posisi duduknya.

“Permisi, gangsa-nim. Aku Lee Donghae dari kelas E izin untuk sit in di kelas gangsa-nim karena saya tidak masuk kelas mata kuliah ini tadi pagi,” ujar seorang pria yang dengan kehadirannya saja sudah membuat jantung Hamun berdetak tak karuan.

“Ah, tentu saja. Kau bisa duduk di sebelah Hamun,” ujar gangsa-nim sambil menunjuk Hamun yang duduk di barisan ke 2.

“Annyeong,” sapa Donghae pada Hamun sembari ia duduk di bangku kosong itu.

“A-annyeong,” balas Hamun. Ia berusaha menahan rasa senang dan malu yang muncul bersamaan didalam hatinya.

“Aku Lee Donghae,” ujar Donghae tiba-tiba memperkenalkan dirinya.

“Aku tahu,” balas Hamun tanpa mengalihkan pandangannya dari dosennya (meskipun ia sudah tidak bisa mencerna semua kalimat yang diucapkan oleh dosen itu). “Aku Kang Hamun,” kata Hamun.

“Aku juga tahu,” balas Donghae. Hamun tersenyum mendengar Donghae mengucapkan hal itu. Selama ini ia berpikir kalau Donghae tidak tahu ada teman seangkatannya yang bernama Kang Hamun.

“Kau tidak bawa buku?” tanya Hamun yang menyadari di depan Donghae hanya ada sebuah buku tulis. Buku catatan yang Hamun buat untuk Donghae sebulan yang lalu.

“Aku tidak perlu buku. Semua yang harus kutahu sudah ada di buku catatan ini,” kata Donghae sambil menggeser buku catatan itu agar Hamun dapat melihatnya.

“Wah, kau rajin sekali. Kau tidak terlihat seperti itu,” ujar Hamun bersandiwara. Mendengar komentar Hamun itu membuat Donghae tertawa.

“Tentu saja bukan aku yang membuat. Penilaian kau tentang aku benar. Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa yang membuatkan buku ini untukku. Tapi, catatannya sangat rapi dan membuatku mudah mengerti. Bahkan, orang yang membuatkan catatan ini untukku juga menjelaskan bab-bab yang belum diajarkan oleh dosen. Hebat sekali, kan?” ujar Donghae. Kini ia mengalihkan pandangannya dari papan tulis dan menatap Hamun.

“Apa pendapatmu pada gadis yang selalu membuatkan catatan ini untukku? Sudah setahun seperti ini namun ia tetap tidak pernah memberitahu siapa dirinya,” tanya Donghae. Hamun langsung mengalihkan perhatiannya dari papan dan menoleh ke arah Donghae. Ia terdiam sesaat mendapati Donghae kini sedang menatapnya.

“Ke-kenapa kau bertanya padaku?” tanya Hamun panik. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya. Ia tak pernah menyangka moment seperti ini akan terjadi dalam hidupnya.

“Aku butuh pendapatmu karena kau berbeda dari teman-temanku yang lain. Maksudku, ya, kau tahu sendiri, orang-orang menilai aku dan teman-temanku bad guys. Sedangkan, kau anak baik-baik, rajin, pintar. Ehm, jadi, ya…”

Hamun tersenyum. “Aku anggap itu pujian,” kata Hamun yang membuat Donghae tertawa.

“Apa aku terdengar seperti menyukaimu sampai memuji-mujimu seperti itu?” tanya Donghae yang belum bisa menghentikan tawanya.

“Tidak. Tidak. Bukan seperti itu. Lagipula, tidak mungkin kau menyukai seseorang sepertiku,” kata Hamun sambil tertawa.

“Well, nothing is impossible,” jawab Donghae sambil menatap lekat mata Hamun. Tawa Hamun menghilang. Ia tak tahu apakah ini hanya perasaannya saja atau memang kenyataannya demikian, Donghae menatapnya dangan tampang yang serius. Ia tidak seperti sedang bercanda. “Jadi, menurutmu bagaimana, Hamun? Aku rasa pendapatmu akan berbeda dibandingkan teman-temanku,” tanya Donghae lagi.

Hamun mengabaikan prasangkanya. ‘Tak mungkin Donghae serius,’ kata Hamun pada dirinya.

“Ia pasti menyukaimu. Ah, ani. Mencintaimu. Tulus. Ia tidak ingin kau membalas perasaannya karena kebaikan yang selama ini ia lakukan. Ia melakukan semua itu karena senyummu berharga untuknya,” jawab Hamun. “Eng, itu pendapatku,” tambahnya.

Donghae tersenyum mendengar jawaban Hamun. “Akhirnya ada yang sependapat denganku. Aku juga berpikir seperti itu. Bukankah mencintai seseorang seperti itu sangat luar biasa? Aku berharap suatu saat aku bisa tahu siapa gadis yang mencintaiku sampai seperti ini,” kata Donghae diiringi senyumnya yang tulus.

“Kau yakin ingin bertemu dengannya? Meskipun jika ia tidak sesuai dengan harapanmu?” tanya Hamun.

Donghae kembali tersenyum. “Selama ini, keberadaan gadis ini sangat berarti untukku. Di saat aku terpuruk, ia yang selalu menyadarkan aku kalau masih ada seseorang yang menyayangiku di dunia ini. Aku tak memiliki harapan apapun pada gadis itu. Siapa aku hingga ia mencintaiku seperti itu? Menyadari kalau ada seseorang yang menyayangiku apa adanya, aku merasa bersyukur. Aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih,”

Hamun tersenyum mendengarnya, “Melihatmu sangat menghargai perasaan gadis itu.. Menurutku, you’re actually not a bad boy. Maybe it’s just a mask because you’re too afraid to get hurt. You have a really kind heart,”

“This is my first time, someone said something like that to me. Terima kasih, Hamun,” balas Donghae.

“Aku harap gadis itu mendengar semua perkataanmu tadi. Aku yakin, ia akan merasa sangat bahagia,” jawab Hamun.

“Hamun, kau tahu apa yang aku simpulkan dari percakapan singkat kita ini?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan bahu terangkat, tanda ia tidak tahu.

“Kurasa kita bisa menjadi teman. Aku merasa nyaman bercerita padamu,” kata Donghae sambil mengulurkan tangannya pada Hamun. “Kau mau jadi temanku?” tanya Donghae.

Hamun tertawa pelan lalu menerima uluran tangan Donghae itu. “Tentu saja,” jawabnya.

“Kang Hamun, Lee Donghae, apa yang kalian bicarakan dari tadi?” tegur gangsa-nim yang membuat Donghae-Hamun kembali menghadap papan tulis.

“Kurasa ada yang sedang berbahagia sekarang,” bisik Hyejin yang jelas sekali mengganggu Hamun. Hamun menyikut Hyejin agar sahabatnya itu terdiam. Wajah Hamun bersemu. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia sangat bahagia sekarang. Ia bersyukur bisa jatuh cinta pada seseorang yang menghargai perasaannya, meskipun Donghae tidak akan pernah tahu kalau gadis itu adalah Hamun.

*****

Waktu kembali bergulir. Tahun terakhir telah selesai. Selama ini, Hamun masih tetap melakukan kebiasaannya. Ia tetap mencintai Donghae dalam diam seperti dulu, walaupun Hamun dan Donghae sudah menjadi sahabat sejak 2 tahun yang lalu (sejak Donghae sit in di kelas Hamun). Sampai kapan pun, ia tak mau mengatakannya. Ia ingin agar Donghae menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai.

“Tak ada yang tertinggal?” tanya Donghae sambil menghitung kembali semua koper yang Hamun bawa.

“Tidak ada,” jawab Hamun.

Hyunah, Jihyo, Minah, dan Hyejin memeluk Hamun bergantian. “Kenapa kau harus ambil S2 di Amerika, sih? Kita jadi berjauhan,” rengek Hyejin.

Donghae menarik Hyejin dari pelukan Hamun. “Giliranku,” ujarnya yang membuat Hyejin kesal pada Donghae.

“Kuliah yang benar disana, ya,” ujar Donghae sambil memeluk Hamun.

“Kau juga, segera selesaikan skripsimu, ya,” kata Hamun sambil memukul pelan punggung Donghae. Ia yang lebih dulu melepaskan diri dari pelukan itu. Jika lebih lama lagi, ia takut Donghae menyadari debaran jantungnya.

“Bye, semua,” pamit Hamun.

“Ah, Hamun,” panggil Donghae yang membuat Hamun menahan langkahnya. “Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Donghae sambil menatap lekat manik mata Hamun.

Hamun tersenyum lalu mengangguk. “Jaga kesehatan, ya,” ujar Hamun yang membuat Donghae tertawa pelan lalu mengacak rambut Hamun. “Dasar, Kang Hamun,” katanya.

“Yaa, Lee Donghae! Rambutku berantakan,” gerutu Hamun yang tidak Donghae pedulikan. Ia hanya tertawa sambil membetulkan rambut Hamun.

“Bye, Donghae ah,” pamit Hamun. Saat ia sudah melewati batas pengantar, Donghae kembali memanggilnya.

“Kang Hamun!”

Langkah Hamun terhenti. “Apa lagi?”

“Aku tahu rahasiamu!” seru Donghae diiringi dengan senyumnya.

Hamun tertawa mendengar ucapan pria itu dan tidak ambil pusing. Ia memutuskan untuk segera masuk agar bisa check-in. “Rasanya ia tahu semua rahasiaku. Kecuali tentang perasaanku. Tapi, tak mungkin ia tahu hal itu,” ujar Hamun pada dirinya sendiri.

*****

Setahun berlalu. Semua kembali berubah namun tidak dengan perasaan Hamun. Ia masih sangat mencintai Donghae walau setahun ini ia belum bertemu sama sekali. Ia masih sering membantu Donghae melalui ke empat sahabatnya itu. Donghae juga masih tidak tahu siapa gadis yang selalu mencintainya selama ini. Sejujurnya, saat ini Hamun sangat merindukan Donghae.

Hamun memutuskan pergi ke perpustakaan untuk membunuh waktu. Saat ia asik membaca, seseorang bertanya padanya, “Apa aku boleh duduk disini?”

Hamun tak menjawab. Ia terlalu fokus pada buku yang ia baca. “Apa buku itu sangat seru?” tanya suara itu. Hamun lagi-lagi tak menjawab.

Sosok itu akhirnya menarik nafas panjang dan merebut buku Hamun. “Yaa!” seru Hamun kesal. Ia hendak marah namun saat ia menengadahkan kepalanya, rasa kesalnya menguap. “Mengapa kau disini?” Hamun justru terheran-heran.

“Aku ingin melihat-lihat kampusku. Bukankah hal yang wajar?” ujarnya.

“Kampusmu?”

Sosok itu mengeluarkan selembar surat dari kantong mantelnya. “Aku diterima di universitas ini dan dua minggu lagi aku akan kuliah S2 di tempat ini,” ujarnya.

Hamun langsung bangkit dari tempat duduknya dan memeluk sosok itu. “Lee Donghae, selamat!” seru Hamun bahagia. Ia bahagia karena pencapaian pria itu. Ia juga bahagia karena pria yang ia cintai kini kembali berada di dekatnya.

“Ah, apa aku boleh tinggal di tempatmu sampai aku mendapatkan tempat yang pas untukku? Aku ingin mengejutkanmu, makanya aku tidak menghubungimu sama sekali. Tapi, baru saja aku sadar kalau aku tidak punya tempat tinggal,” kata Donghae.

Hamun melepas pelukannya. “Dasar, selalu saja bertindak tanpa berpikir. Kajja,” ujar Hamun sambil menggeret salah satu koper Donghae.

Tiba-tiba saja Donghae menggenggam tangan Hamun yang bebas. Hamun sangat kaget namun ia berusaha mengendalikan ekspresinya dan debaran jantungnya. “Yaa, kenapa kau tiba-tiba menggandengku?” tanya Hamun.

“Aku kedinginan. Lupa bawa sarung tangan. Kau tidak tega membiarkan tanganku kedinginan, kan?” tanya Donghae yang tepat sasaran.

Hamun hanya tertawa pelan melihat tingkah pria itu. “Dasar kau ini,” balas Hamun.

*****

“Duduklah. Akan kubuatkan minum untukmu. Kau pasti lelah dari bandara langsung menghampiriku tadi,” ujar Hamun.

Donghae mengikuti apa yang Hamun katakan. Tak sampai 3 menit, Hamun sudah kembali ke ruang tamu dengan segelas teh hangat di tangannya. “Minumlah,”

“Ehm, nanti saja. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu terlebih dahulu,” kata Donghae. Ia bangkit berdiri dan berpindah tempat duduk. Ia kini duduk tepat disamping Hamun. Keduanya duduk menyamping sambil berhadapan.

“Ada apa?”

“Kau mau mendengar kabar baik atau buruk?” tanya Donghae.

“Buruk,” jawab Hamun singkat walau dalam hati ia sudah sangat khawatir pada pria itu.

“Aku tahu rahasiamu,” ujar Donghae yang membuat Hamun mengangkat alisnya. “Well, kau tahu semua rahasiaku, Donghae,” jawab Hamun.

Donghae tersenyum. “Selain semua rahasia yang pernah kau ceritakan padaku. Satu rahasia terbesarmu,”

Hamun tersenyum. “Memangnya rahasia apa lagi yang belum kuberitahukan padamu?” tanyanya.

“Aku tahu, kalau kau adalah gadis yang selama aku kuliah, selalu membuatkanku sarapan, selalu memberiku coklat saat valentine, selalu membuatkanku catatan, selalu memberikanku semangat. Aku bahkan tahu, meskipun kau jauh dariku, kau tetap menolongku melalui teman-temanmu itu,” jawab Donghae yang membuat senyum Hamun menghilang.

“Siapa yang memberitahumu? Hyejin, Minah, Hyunah atau Jihyo?” tebak Hamun yang berusaha mengendalikan dirinya agar tetap tenang.

Donghae menggeleng. “Aku tahu sendiri. Sebulan setelah kau mulai melakukan kebiasaanmu itu,” jawabnya.

Hamun tertawa kecil. “Tak mungkin,” sangkal Hamun. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. “Kabar baiknya?” tanya Hamun mengganti topik.

Senyum Donghae mengembang. “Aku mencintaimu, Kang Hamun,” ujarnya.

Hamun menatap Donghae lirih. “Kau tak perlu memaksakan diri, Donghae. Aku tak ingin kau mengatakan hal itu hanya karena kau merasa tidak enak atau karena kau merasa berhutang budi,”

Donghae menggenggam tangan Hamun. “Jangan mudah ambil kesimpulan sendiri. Dengarkan penjelasanku terlebih dulu,” katanya diiringi senyum lembut.

Hamun terdiam. Memberikan kesempatan pada Donghae. “Awalnya, aku sangat penasaran pada gadis yang begitu baik padaku. Akhirnya, aku memutuskan untuk datang ke kampus lebih pagi dibandingkan yang lain. Saat itu, aku melihatmu meletakan bekal yang kau buat di lokerku. Saat itu aku takjub karena kau rela bangun pagi-pagi hanya untuk membuatkan sarapan untukku.”

“Lalu?” tanya Hamun.

“Sejak saat itu, mataku selalu memperhatikanmu. Aku selalu menunggu kapan kau akan datang padaku dan menyatakan perasaanmu. Namun, setahun berlalu, Selama itu pula kau tak pernah datang padaku. Meski aku berpacaran dengan Dara, kebaikanmu tak pudar, kau masih melakukan kebiasaanmu. Bahkan saat berpapasan pun, kau pura-pura tidak mengenalku. Aku terus berpikir ada apa denganmu? Akhirnya aku menyimpulkan kalau cintamu untukku tulus tanpa mengharapkan balasan. Apa kau ingat aku putus dengan Dara dihari yang sama saat aku sit in di kelasmu?”

Hamun mengangguk.

“Saat aku mulai memahami bagaimana kau mencintaiku, aku memutuskan untuk tidak ingin main-main lagi dengan cinta. Aku sadar Dara tidak benar-benar mencintaiku, begitu juga sebaliknya. Akhirnya aku memutuskannya. Saat itu pula, aku bertekad untuk mengenalmu lebih jauh. Aku sengaja untuk sit in di kelasmu. Aku merasa semesta mendukungku saat itu karena bangku kosong di kelasmu hanya satu, di sebelahmu. Aku memberanikan diri untuk mengajakmu bicara. Kau tahu apa yang terjadi pada diriku saat itu?”

Hamun menggeleng.

“Setiap ucapan yang keluar dari mulutmu seakan meyakinkan aku bahwa aku ingin belajar mencintaimu seperti kau mencintaiku,” katanya. “Aku melakukannya. Aku mencintaimu dalam diam saat kau menjadi sahabatku. Semakin mengenalmu, aku menyadari perasaanku juga semakin dalam. Kau yang berada dekat denganku tetap tidak menuntutku untuk membalas perasaanmu.”

“Kenapa kau harus mengatakan semua ini sekarang?” tanya Hamun lirih.

“Simply, because I love you too much and I want you to know that I love you. Aku bahkan sampai mengejarmu ke tempat ini karena aku tak mau lagi berjauhan denganmu. Setahun ini aku sangat tersiksa,” jawab Donghae. “Hamun, jika aku tidak mengatakan hal ini padamu, sampai kapan kau akan menyembunyikannya?” tanyanya lagi.

“Sampai kau menemukan seorang gadis yang bisa mencintai dan kau cintai dengan tulus,” jawab Hamun.

Donghae tersenyum sambil menatap lekat Hamun. “Well, aku sudah menemukannya sejak awal. Kau,” ujarnya.

Hamun terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Donghae bisa merasakan setetes air membasahi tangannya yang menggenggam tangan Hamun. Ia juga melihat bahu Hamun naik turun seakan gadis itu sedang menangis. “Hamun, waeyo?” tanya Donghae khawatir. Ia mengangkat wajah gadis itu dan menghapus air mata dipipi Hamun.

“Aku… hanya… tidak menyangka.. aku.. bahagia..” jawab Hamun yang belum bisa menghentikan air matanya. Lidahnya kelu sampai-sampai ia tidak dapat menyusun kalimatnya dengan baik. Hamun terlalu bahagia sekarang.

“Aku juga bahagia. Terima kasih, Hamun sayang,” balas Donghae sambil menarik Hamun dalam pelukannya. “Mulai saat ini aku tak akan mencintaimu dalam diam. Aku akan menyampaikan perasaanku padamu. Kau juga harus seperti itu, ya,” katanya.

Hamun tetap mengangguk meskipun air matanya belum berhenti. Di tengah isakannya, Hamun akhirnya mengucapkan kalimat itu. “Saranghae, Lee Donghae,”

Donghae mencium kening Hamun. “Nomu, nomu, saranghae, Kang Hamun. Kalau begitu, apa boleh aku tinggal disini saja? Aku tak mau jauh darimu,”

Hamun hanya bisa tertawa saat melihat Donghae menatapnya dengan wajah yang dibuat-buat sedih. “Dasar. Tidak boleh,” jawab Hamun tegas yang membuat Donghae cemberut.

“Jangan sedih, kau boleh menemui kapan saja kau mau. Aku akan berikan kunci cadangan apartemenku padamu,” ujar Hamun.

Senyum Donghae kini kembali mengembang. Menyadari Hamun berada begitu dengannya, akhirnya Donghae mencium bibir Hamun. “Ide bagus,”

*****

Song Hyejin, Park Minah, Choi Jihyo, dan Jung Hyunah. Kabar bagus untuk kalian: “Donghae bilang, ia mencintaiku,” – Kang Hamun.

Kkeut!

Thank you for reading :’)