Song Hyejin
Hai buncit! Gendut!

Song Hyejin

image

Song Hyejin
Huahahahahahhahahaa!!!

Song Hyejin
Kkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!

Song Hyejin
Aku rasa sudah saatnya kau diet, sayang.

Aku membuka fotoku yang dikirimkan Hyejin dan aku bisa membayangkan wajahnya yang sedang tertawa puas akibat fotoku yang membuatku terlihat sangat gendut dan berperut buncit.

Me
Yaa Song Hyejin! Awas kau! Lihat pembalasanku.

Song Hyejin
HUAHAHAHAHAHA!!!

Song Hyejin
Jam berapa pulang? Aku sudah di rumah.

Me
Berhenti tertawa. Kau juga semakin gendut.

Me
Apa kau sudah begitu merindukanku sampai bertanya jam berapa aku akan pulang?

Song Hyejin
Tidak pulang juga tidak apa-apa. Aku malah bisa tidur nyenyak karena tidak perlu mendengar suara dengkuranmu.

Me
Yaak!!! Grrrr!!

Song Hyejin
Oh ya, kalau aku makin gendut, tidak mungkin VS mau mengontrakku jadi model mereka.

Me
Apa itu VS? Victoria Song? Kkkkk!!

Song Hyejin
Jangan sebut-sebut namanya! Victoria’s Secret.

Me
Mwo?! Yaa Song Hyejin! Kita harus buat perhitungan!

Setelah pesan terakhir yang aku kirimkan dan Hyejin tidak membalasnya, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Bagaimana ia bisa menjadi model pakaian dalam?

Me
YAA SONG HYEJIN!!

—–

Aku langsung pulang begitu pekerjaanku dinyatakan selesai. Meskipun para hyungdeul mengajakku minum, aku menolak. Aku punya urusan lebih penting di rumah.

Me
Aku sudah di jalan. Kau tidak boleh tidur dulu. Kita harus buat perhitungan, Song Hyejin-ssi.

Song Hyejin

image

Song Hyejin
Salah satu contoh produk Victoria’s Secret. Cocok kan?

Me
TIDAK SAMA SEKALI!

Me
TUNGGU AKU!

Aku mengemudikan mobilku secepat yang aku bisa tanpa mengabaikan rambu-rambu lalu lintas dan keselamatan diriku. Aku masih waras meski Hyejin baru saja membangkitkan ketidakwarasanku. Dalam 15 menit, mobilku sudah terparkir dengan rapi di basement apartemen.

Me
Aku sudah sampai.

Hyejin membukakan pintu untukku dan menyambutku dengan tawa persis seperti aku bayangkan. Tawa terbahak-bahak yang keluar seperti ia baru saja melihat ada orang yang melucu di depannya.

“Jangan tertawa terus. Kau yang memaksaku untuk makan segala jenis makanan. Sekarang lihat sendiri akibatnya,” kataku sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Hyejin menyusul dengan tawanya yang belum berhenti.

“Harusnya kau mengikuti jejak Donghae Oppa atau Siwon Oppa atau hyungdeul-mu yang lain yang suka olahraga,” katanya sambil melirik perutku, yang aku akui sudah maju beberapa senti, lalu kembali tertawa. “Astaga Cho Kyuhyun.”

Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku agar ia berhenti tertawa. Meskipun tidak berhasil, paling tidak bisa meredam suara tawanya. “Sekarang ceritakan padaku bagaimana Victoria’s Secret mau mengontrakmu? Dada dan perut balapan begitu,” kataku melihat dadanya yang nyaris rata sedangkan perutnya tidak bisa dibilang tidak ada.

Hyejin akhirnya terdiam dan dia menatapku dengan sangat mengerikan. Kalau aku tidak ingat bahwa dia satu-satunya gadis yang aku cintai sampai aku rela mengorbankan apapun untuknya, aku pasti sudah memilih untuk angkat kaki dari tempat ini.

“Yaa Cho Kyuhyun! Memang ada yang salah dengan dada dan perutku? Biarpun rata, mereka masih asli ya!!!” Omel Hyejin kepadaku yang masih terdengar kencang meski aku sudah menyumbat telingaku dengan jari telunjukku.

Aku melirik dada dan perutnya kemudian menyengir jahil kepada Hyejin. “Bagaimana aku tahu punyamu masih asli atau tidak kalau kau tidak pernah memperbolehkan aku menyentuhnya?”

“Tidak boleh! Sampai kapanpun tidak boleh!!” Serunya lalu meninggalkanku masuk ke dalam kamar membuatku harus menyusulnya.

Hyejin duduk bersandar pada headboard tempat tidur, tangan dan kakinya terlipat dengan mata yang menatapku seperti anak anjing peliharaannya yang sedang marah tapi tetap terlihat sangat menggemaskan. “Apa tubuhku terlihat sejelek itu di matamu?” Tanyanya pelan namun ada nada mengintimidasi di dalamnya.

Aku spontan menggelengkan kepala.

“Bohong! Kau pasti lebih suka tubuh-tubuh wanita yang berisi kan?” Tuduhnya tanpa alasan jelas, sesuka hatinya saja.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang untuk menyabarkan diriku sendiri. Sekarang sudah jam 2 pagi, setelah 18 jam rekaman tanpa henti, dan di waktu seharusnya aku istirahat untuk mengumpulkan kembali energi, aku harus mengeluarkan energi untuk berdebat.

“Hyejin-ah,” panggilku.

Sebenarnya, aku tidak pernah mempermasalahkan bentuk tubuh Hyejin. Bagiku ia memiliki tubuh yang sempurna meskipun nyaris rata depan-belakang. Yang aku permasalahkan adalah ia akan memamerkan tubuhnya, yang aku klaim akan menjadi milikku, kepada berjuta-juta orang tidak dikenal di luar sana. Heisssh!!!

Aku duduk di hadapannya, dengan posisi yang sama namun tidak dengan tangan terlipat ketat di depan dada. Tanganku menyusuri helaian rambut coklat gelapnya yang mulai lepek karena sudah dua hari tidak keramas.

“Apa aku pernah protes soal bentuk tubuhmu?” Tanyaku pelan, agar kami tidak bertengkar.

“Lalu sekarang ini apa namanya? Kau tidak suka kekasihmu punya dada yang nyaris rata seperti aku kan? Untung kau belum mengungkit soal pantatku yang juga nyaris rata!” Omelnya membuatku mengernyitkan kening. Bagaimana mungkin aku tidak menyukai pantatnya sedangkan itu satu-satunya bagian yang bisa leluasa aku pegang ketika kami bermesraan?! Ya Tuhan!

“Aku menyukai seluruh bagian tubuhmu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanpa terkecuali,” kataku dengan tegas dan meyakinkan.

Perlahan, aku meluruskan kaki Hyejin, membuka lipatan tangannya dan kemudian mendorong diriku untuk semakin dekat kepadaku. “Hyejin-ah, menurutmu kenapa selama ini aku melarangmu menggunakan konsep seksi?” Tanyaku pelan.

“Selama ini manajemen selalu memberikan konsep seksi untuk Super Girls,” katanya membuatku harus menarik nafas panjang lagi untuk menghadapinya. Bicara dengan gadis ini memang harus detil.

“Maksudku yang hanya memakai gaun pendek, celana pendek atau bikini. Tidak pernah kan?” Tanyaku memperjelas maksud pertanyaanku sebelumnya. Hyejin menggelengkan kepalanya. “Menurutmu kenapa?”

“Karena kau tidak suka,” jawabnya.

“Kenapa aku tidak suka?” Tanyaku lagi.

“Karena tubuhku tidak sebagus tubuh gadis-gadis lain,” jawabnya dengan sinis membuatku ingin menjitak gadis ini.

“Bukan, bodoh!” Kataku mulai kesal.

“Lalu kenapa?” Tanyanya yang tidak akan aku jawab dengan begitu mudahnya. “Coba kau pikirkan,” kataku.

Aku menunggu semenit, dua menit dan Hyejin masih berpikir. Kesabaranku sudah habis. “Karena aku tidak suka melihat orang lain melihat tubuhmu. Kau pikir apa yang ada di otak laki-laki jika melihat wanita berpakaian seksi di depan mereka? Apalagi itu idola mereka?” Hyejin mengangkat bahu, memberikan jawaban atas ketidak tahuannya.

“Aku tidak tahu. Aku kan bukan laki-laki,” katanya.

“Mereka pasti akan berpikiran yang aneh-aneh dan aku tidak suka jika ada orang yang menjadikanmu obyek dalam fantasi liar mereka karena melihatmu berpakaian minim,” kataku.

Hyejin tampaknya mulai mengerti maksudku. Ia sudah tersenyum menatapku. Aku yakin ia cukup pintar untuk mencerna penjelasanku dan cukup pintar untuk menyerangku balik.

“Lalu apa yang ada di otakmu ketika aku bilang aku akan menjadi model Victoria’s Secret?” Tanya sambil tersenyum. Senyuman yang menyiksa seluruh saraf di tubuhku.

“Tidak ada,” jawabku jujur. Aku tidak memikirkan hal apapun kecuali ketidaksukaanku dia akan menjadi model pakaian dalam.

“Sungguh?” Tanyanya yang kini sudah duduk di atas kakiku, mengikat pinggangku dengan kaki jenjangnya dan tangan kanannya yang menggelitik perut agak buncitku serta tangan kirinya yang sudah mengganggu bagian leher dan rambutku, membuat kami nyaris tanpa jarak. Wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya di pipiku. Ia tersenyum jelas menggodaku. “Kau jelas ingin bermain denganku. Memangnya kau sudah siap?” Tanyaku asal tanpa mengharapkan balasan ‘ya’ darinya. Seribu kali kami bermesraan, seribu satu kali ia membuatku menyelesaikan sendiri urusanku.

Hyejin menggelengkan kepalanya masih sambil tersenyum menggodaku. “Aku masih percaya padamu bahwa sedikit ciuman tidak akan menghilangkan akal sehatmu,” katanya dengan pelan, nyaris berbisik, membakar sumbu kesabaranku.

Ia sudah berada terlalu dekat denganku dan itu adalah sinyal bahwa aku sudah boleh menciumnya. Hyejin tidak akan pernah memulai, ia hanya suka memancing.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku melumat bibir Hyejin dengan rakus dan menyerang lehernya sesuka hatiku sedangkan Hyejin memainkan rambutku sambil berbisik di telingaku yang membuatku semakin bersemangat meninggalkan jejak-jejak di tubuhnya.

“Apa manajer oppa tidak memarahimu karena menggendut seperti ini?” Tanyanya di sela-sela ciuman kami.

“Tidak,” jawabku singkat lalu menciumnya kembali. “Aku rasa mereka sudah lelah bicara itu padaku.”

“Kau memang tidak pernah mau mendengar. Iya kan?”

Aku menarik Hyejin lebih dalam ke pelukanku, mencengkram erat punggungnya ketika ia bergerilya di leherku. “Kau tahu sendiri aku tidak suka olahraga. Mulai besok, kau tidak boleh sembarangan mengajak aku makan,” jawabku.

“Seperti kau bisa menolak saja,” ujar Hyejin diiringi kikik tawa yang menggemaskan.

“Cerewet,” protesku dan mencoba mempersempit jarak antara kami meskipun sebenarnya hanya dua lembar kaus yang menghalangi.

“Mian,” ucapnya dengan sebuah kecupan di bibirku dan sebuah senyuman penuh penyesalan tersungging di wajahnya.

Ketika kami sudah berpelukan terlalu erat dan Hyejin sudah membisikkan permohonan maaf dengan penuh penyesalan, aku tahu hal selanjutnya yang akan terjadi adalah aku akan sendirian menyelesaikan urusanku.

“Kau memang menyebalkan,” kataku membalas kecupannya dan melepaskan pelukanku darinya.

Hyejin sudah berganti pakaian dan siap tidur ketika aku keluar dari kamar mandi. Aku berjalan ke depan meja rias untuk memakai krim jerawatku. Dari cermin meja rias, aku bisa melihatnya sedang menatapku. “Kenapa, sayang?” Tanyaku. Aku tahu ia pasti ingin bicara sesuatu.

“Kau benar-benar harus segera diet. Bagaimana bisa fans-mu tahan dengan perut buncit seperti itu?” Katanya.

Aku tahu bukan itu yang ingin dibicarakan.

Aku hanya tertawa. “Aku memang idol tapi pada dasarnya adalah aku penyanyi ballad, bukan penyanyi rock atau pop atau apalah yang akan memamerkan abs atau bertelanjang dada sambil menyanyi. Aku cukup memakai kemeja dan jas atau jaket untuk menutupi perutku ketika bernyanyi dan mereka semua akan tetap menyukaiku,” kataku dengan percaya diri.

“Cih!” Katanya menyibirku. Kadang aku tidak percaya, baru beberapa menit yang lalu kami bermesraan dimana aku harus bertahan sekuat tenaga untuk tidak menelanjanginya dan kini kami sudah seperti tom and jerry.

“Yaa!! Aku serius! Aku punya fans yang setia seperti itu,” kataku.

“Ara ara…”

Aku membaringkan tubuhku di sebelah Hyejin dan menikmati wajah polosnya yang bagiku sangat cantik. Sedangkan Hyejin hanya menatap langit-langit kamar dalam diam.

“Aku tahu bukan itu yang ingin kau bicarakan. Kau pasti mau membicarakan soal kontrak dengan VS kan? Apa ada masalah?” Tanyaku.

Aku sudah mengenal Hyejin bertahun-tahun dan aku sudah mengerti sifatnya yang tertutup meskipun dia suka bicara. Dia tidak akan bicara mengenai hal-hal penting di dalam dirinya jika tidak dipancing dengan baik dan benar.

“Kyu, aku tahu kau tidak suka jika aku memakai pakaian seksi apalagi ini pakaian dalam tapi aku merasa ini kesempatan bagus yang tidak boleh disia-siakan. Jadi…”

Aku tidak sanggup melihat tatapan matanya yang sangat memelas. Aku rasa ia benar-benar menginginkan kontrak dengan VS dan aku tidak tega untuk melarangnya. “Jadi apa?” Tanyaku.

“Jadi boleh kan aku menjadi modelnya? Hanya setahun kok. Boleh ya?” Pintanya dengan serius.

“Hanya kali ini aku akan memberimu izin. Tidak ada permohonan kedua meskipun itu Prada atau Chanel sekalipun. Kecuali…” Aku sengaja menggantung perkataanku.

“Kecuali apa?” Senyum ceria sekaligus lega sudah mengembang di wajah cantik Hyejin mendengar aku mengizinkannya menjadi model pakaian dalam bahkan memberinya kesempatan lebih meskipun dengan pengecualian.

“Kecuali jika aku yang jadi model prianya,” kataku dengan senyum sumringah jahil yang membuatku perutku dipukul oleh Hyejin.

“Tidak mungkin. Perutmu buncit begitu. Merk pakaian dalam pria mana yang mau modelnya tidak punya abs?” Kata Hyejin dengan tawa melengkingnya yang menyebalkan itu.

Kalau tidak ingat aku baru saja menghabiskan waktu satu jam di kamar mandi akibat perbuatan wanita ini, aku pasti sudah menutup mulutnya dengan ciuman bukan dengan telapak tanganku. Aku ingin segera tidur. “Tidak harus pakaian dalam. Parfum juga bisa,” kataku.

“Bagaimana bisa parfum?” Tanyanya bingung.

“Otakmu itu harus dibuka supaya bisa mempunyai ide-ide yang lebih bagus. Mau dengar ideku?” Kataku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Apa idemu? Pasti ide liar.”

Aku menyeringai jahil. “Aku sedang mengancing kemejaku ketika kau tiba-tiba bangun karena mencium parfumku. Well, karena kita habis bermesraan semalaman, kau terbangun hanya dengan memakai pakaian dalammu. Kau mendekati aku, memeluk aku dari belakang lalu mencium tubuhku, menikmati wangi parfum yang aku semprotkan,” kataku.

Hyejin menatapku dengan mata sipitnya lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah menyangka kau punya ide seliar itu, Kyu,” ujarnya.

“Hei, itu semua berkatmu. Kau ingat dua minggu lalu? Ketika aku harus pergi buru-buru ke Hongkong? Siapa yang hanya dengan memakai bra dan panty membantuku mengancing baju? Humm?”

Wajah Hyejin bersemu merah. Aku yakin ia masih ingat betul kejadian dua minggu lalu, pagi-pagi buta di kamar ini. “Kyuuu, lebih baik kita tidur sekarang,” katanya dengan tersipu malu membuatku gemas. Aku memeluknya sambil memejamkan mataku.

“Selamat tidur. Semoga mimpi indah,” ucapku. Sebuah kecupan di keningnya mengawali istirahat panjang kami setelah jadwal-jadwal padat yang melelahkan. “Sampai jumpa besok siang.”

“Besok siang? Besok pagi aku jadwal rekaman,” sahut Hyejin. “By the way, apa kamera-kamera di kamar ini sudah mati?”

Aku menatap sebuah kamera yang terpasang di atas televisi yang tepat berada di depan kami dan sebuah lagi yang berada di sudut kamar bagian kiri di belakang kami, keduanya berkedip-kedip tanda mereka tidak mati. Dengan segera aku mengecek kamera tersebut dan memastikan bahwa kamera tersebut telah merekam kemesraan kami tanpa ada satu detik pun yang terlewat.

“Kyu, hapus video itu,” kata Hyejin panik.

Aku mencoba untuk melakukannya dan hanya bisa pasrah ketika mengetahui bahwa itu satu video penuh sejak tadi pagi kami memulai syuting. “Hye, aku tidak mengerti bagaimana cara menghapus video kita. Kalau aku hapus, semua rekaman sejak syuting tadi pagi juga akan terhapus,” kataku.

“Lalu bagaimana? Kyu, ottoke?”

“Ingatkan aku besok pagi-pagi menelepon PD untuk menggunting bagian itu,” kataku karena sebenarnya sayang juga jika bagian itu dihilangkan dari episode pertama kami sebagai pasangan WGM. Hihihihihi.

Kkeut!