image

Annyeoooong yeorubun!
Dalam rangka menyambut kembalinya joong ki oppa kesayangan hyejin. Mari kita baca FF joong ki oppa sayang!

****

“Kyuuu!!! Cho Kyuhyun!!! Ppali ireona!!!!” Telingaku mendengar dengan jelas teriakannya, hanya saja tubuhku terlalu malas untuk bangkit dari tempat tidur yang sangat memikat ini.

“YAAA CHO KYUHYUN!!!” Kini ia sudah berada di sebelahku. Teriakannya terdengar semakin jelas, bahkan memekakkan telinga, dan dengan terpaksa aku membuka mataku dan menyadarkan diri.

“Yaa Song Hyejin, aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur 3 menit lagi,” kataku dengan malas.

“Yongsun Oppa sudah datang menjemputmu. Terserah kau mau kembali tidur dan ia yang akan membangunkanmu atau kau bangun sekarang juga untuk bersiap-siap,” katanya lalu keluar dari kamar.

Mendengar nama Yongsun hyung, jelas aku lebih memilih bangun sekarang juga dan bersiap-siap. Aku tidak pernah kuat dengan caranya membangunkan orang.

Setelah aku selesai bersiap-siap dan terlihat cukup tampan ketika bercermin, aku bergabung dengan Hyejin dan Yongsun hyung untuk makan pagi bersama. Hyejin punya kebiasaan menyiapkan sarapan dan dia akan marah kalau aku tidak memakannya.

“Pagi, hyung,” sapaku kepada Yongsun hyung.

“Humm…”

“Pagi, Hye,” sapaku kepada Hyejin. Hanya kepada Hyejin aku menambahkan sebuah ciuman mesra sebagai sapaan selamat pagi.

“Pagi,” balas Hyejin lengkap juga dengan sebuah ciuman.

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu keluar masuk dorm sesuka hati,” ujar Yongsun hyung sambil bergidik menatap aku dan Hyejin. Kami berdua hanya tertawa. Ucapan itu mungkin sudah yang keseratus ribu kali yang diucapkan Yongsun hyung tapi ia membiarkan aku keluar masuk dorm sesuka hati kecuali ketika ada jadwal ke luar negeri.

Aku duduk dan mulai menyantap makan pagiku, sepiring nasi goreng berisikan telor, daging sapi cincang dan banyak potongan sosis ayam. Hyejin tampaknya sudah mulai menyerah memberikan aku sayur-sayuran. Good.

“Hyung, aku akan menikah,” kataku kepada Yongsun hyung yang langsung tersedak begitu mendengarnya.

“JINJJA?!” Serunya, nyaris berteriak, lalu menatap Hyejin dengan tatapan menuntut penjelasan.

“Kyuhyun melamarku semalam,” kata Hyejin dan aku tersenyum lebar bahagia.

“Lagi?! Dan kau menerimanya?!” Tuntut Yongsun hyung.

“Aku bilang aku akan memikirkannya. Joong Ki Oppa keluar dari wajib militer-nya hari ini. Aku akan bicara dulu dengannya,” jawab Hyejin membuatku terkejut.

“Kau tidak bilang Joong Ki hyung keluar wajib militer hari ini,” kataku.

“Beritanya ada dimana-mana. Kau yang tidak perhatian berarti,” balas Hyejin.

Baiklah, aku yang salah. “Apa kau akan menjemput Joong Ki hyung?” Tanyaku.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Dengan siapa?” Tanyaku lagi.

“Para fans. Aku dan member berencana untuk mengadakan welcome party di apartemen Joong Ki hyung nanti malam. Dan no boys allowed,” jawabnya.

“Sudah kuduga,” ujarku kesal. Hyejin selalu seperti itu, mengadakan pesta dimana aku tidak boleh hadir. Selalu!

“Aku akan pergi ke menemui Joong Ki hyung begitu jadwalku hari ini selesai,” lanjutku dan Hyejin hanya tersenyum menanggapiku. Senyumnya seolah berkata, “Coba saja kalau kau bisa.”

“Aku pasti akan menemui Joong Ki hyung. Aku juga mau mengatakan kepadanya mengenai adik perempuannya yang susah sekali diajak menikah padahal sudah berkali-kali tidur denganku.

“YAAA!!!” Hyejin menatapku seolah ia akan menelanku. “Awas kalau kau sampai bilang seperti itu pada Oppa!”

Aku tertawa melihat wajah panik Hyejin yang sangat menggemaskan. Aku tidak sebodoh itu akan menceritakan semua yang telah kami berdua lakukan kepada Joong Ki hyung. Yang ada, Joong Ki hyung akan langsung mengunci Hyejin di rumahnya dan tidak memperbolehkannya bertemu lagi denganku.

“Kalian berdua,” kata Yongsun hyung menginterupsi aku dan Hyejin. “Bisakah kalian selesaikan sarapan ini lebih cepat? Kau sudah hampir terlambat, Cho Kyuhyun!!!”

Aku buru-buru menghabiskan nasi gorengku dan juga segelas susu coklat kesukaanku. “Okay. Aku harus pergi. Sampai jumpa, sayang. Sampaikan salamku pada Joong Ki hyung ya,” pamitku tidak lupa dengan sebuah ciuman mesra tepat di bibirnya membuat Yongsun hyung berjengit.

“Kalian berdua. Haiissssh!!!” Yongsun hyung berjalan lebih dulu, melewati aku dan Hyejin dengan malas.

—–

Setelah perjuangan dan perdebatan yang sangat sengit, aku bisa bertemu dengan Joong Ki hyung keesokan paginya setelah pesta penyambutan yang dibuat Hyejin selesai.

“Hai, hyung. Lama tidak bertemu,” sapaku sambil memeluknya begitu ia membuka pintu apartemennya masih dengan mata setengah tertutup, rambut mencuat kesana-kemari dan piyamanya yang kusut.

Joong Ki hyung tertawa renyah. “Kita baru minum soju bersama dua bulan lalu waktu aku mengambil cuti sebentar. Masa itu sudah lama?”

“Menurutku begitu. Kalau aku tidak bertemu dua bulan dengan adikmu, hyung, aku pasti sudah gila,” ujarku sambil tertawa namun penuh kejujuran. Aku masih belum bisa tahan jika lama tidak bertemu Hyejin.

Joong Ki hyung mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya. “Kau pasti berdebat cukup lama dulu dengan Hyejin sebelum kesini. Ya kan?” Tanya Joong Ki hyung sambil menepuk-nepuk punggungku pelan.

“Bagaimana hyung bisa tahu?”

“Suara nyaringnya saat berdebat denganmu itu yang membangunkanku pagi-pagi buta,” katanya sambil tertawa. “Sejujurnya, aku juga bingung kenapa untuk menemuiku saja, kalian harus berdebat dulu.”

Aku hanya mengedikkan bahuku. Aku juga tidak mengerti. “Hyung, kau pasti belum sarapan. Hamburger? Dan jus jeruk?” Aku memberikan penawaran dengan mengangkat belanjaanku yang baru aku beli dari restoran fast food terdekat.

“Jus jeruk? Bukan soju?” Tanya Joong Ki hyung heran.

“Hyejin bilang, kita tidak boleh mabuk-mabukkan. Hari masih pagi,” jawabku dengan penuh penyesalan. “Mungkin kalau sudah malam, kita bisa sambil minum wine?”

“Ide bagus,” sahut Joong Ki hyung. “Yang mana hamburgerku? Pedas kan?”

Aku menganggukkan kepalaku lalu memberikan hamburger pedas kesukaan Joong Ki hyung. “Kau masih ingat kesukaanku ternyata,” katanya membuatku tertawa.

“Hyung, kita baru tidak bertemu dua bulan. Aku tidak mungkin lupa makanan-makanan kesukaan hyung hanya dalam waktu dua bulan kecuali tiba-tiba aku kecelakaan lalu gegar otak,” kataku.

“Kyu, kau pasti sudah ketularan Hyejin. Kenapa pengandaian-mu semakin lama semakin mengerikan? Gegar otak? Astaga!!!” Aku hanya menyeringai polos.

Aku dan Joong Ki hyung duduk di ruang tamu, dengan botol-botol jus jeruk terbuka di atas meja dan hamburger di tangan kami, kami mengobrol.

“Hyung, aku rasa kau akan bosan dengan pertanyaan ini,” kataku.

“Pertanyaan apa?” Tanya Joong Ki hyung sambil menggigit hamburgernya. Tangan kirinya yang bebas sibuk mengganti saluran televisi.

“Bagaimana rasanya selesai wajib militer?” Tanyaku.

“Melegakan,” jawabnya sambil tertawa. “Sebentar lagi kau akan merasakannya.”

Aku berpikir kapan kira-kira aku akan masuk wajib militer, 2 atau 3 tahun lagi. “Masih lama, hyung. Nanti saja dipikirkan,” kataku.

“Waktu itu berlalu begitu cepat. 2 atau 3 tahun itu tidak akan terasa. Kenapa kau tidak mulai menyiapkan diri dari sekarang?”

Aku menatap Joong Ki hyung dengan serius. “Hyung, kau membuatku takut,” kataku dan sukses membuat Joong Ki hyung tertawa keras.

“Tidak seseram itu tapi ya kau harus tetap menyiapkan diri. Dunia wajib militer berbeda dengan dunia yang kau jalani sekarang. 2 tahun kau tidak akan muncul di televisi. 2 tahun kau akan menjalani kegiatan yang tidak pernah kau jalankan sebelumnya. Siapkan saja dirimu.”

“Hyuuuung…”

Joong Ki hyung sudah menghabiskan separuh hamburgernya sedangkan aku baru sepertiganya. “Kau sedang sakit?” Tanya Joong Ki hyung melihatku tidak bersemangat makan.

Aku menggelengkan kepala. “Aku sedang diet. Kau tidak merasa aku makin gemuk?”

Joong Ki hyung menatapku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. “Harus kuakui, kau harus mulai diet. Kau terlihat besar sekali di televisi,” katanya tepat seperti apa yang pernah Hyejin katakan padaku.

“Hyung, aku yakin kau dan Hyejin benar-benar kakak beradik. Mulut kalian sama kejinya,” kataku berlagak sedih sedangkan Joong Ki hyung hanya tertawa. Ia sudah hampir menghabiskan hamburger dan jus jeruknya.

“Oh ya, Kyu. Kalau kau wajib militer 2 atau 3 tahun lagi berarti umurmu sudah 30 tahun,” kata Joong Ki hyung dan aku hanya mengangguk. “Kalau begitu, kau ingin menikah dahulu sebelum wajib militer atau menikah setelah wajib militer?”

“Sebelum atau sesudah bagiku sama saja. Yang paling penting, pasanganku siap dan bahagia,” jawabku.

Joong Ki hyung diam sambil menikmati gigitan terakhir hamburgernya.
Aku menatap Joong Ki hyung dengan seksama. Aku rasa Hyejin telah bercerita soal lamaranku dua malam lalu. “Hyejin bercerita sesuatu padamu, hyung?”

Joong Ki hyung tersenyum kepadaku. “Hyejin bertanya kepadaku semalam, apa yang harus ia lakukan terhadap lamaranmu,” kata Joong Ki hyung.

Aku meneguk jus jeruk-ku untuk menyembunyikan senyuman pahit di wajahku. “Menurutmu, hyung, apa yang harus Hyejin lakukan?”

Joong Ki hyung menyelesaikan sarapannya dengan sempurna lalu menatapku dengan serius. Aku meletakkan separuh hamburgerku di atas meja dan balas menatap Joong Ki hyung dengan serius. “Hyejin sangat mencintaimu. Kau tahu?” Tanya Joong Ki hyung.

Aku menganggukkan kepalaku. Aku tahu. Kalau dia tidak mencintaiku, mana mungkin dia akan bertahan sekian lama denganku. Kalau dia tidak mencintaiku, dia tidak akan mungkin tetap bersamaku meskipun banyak laki-laki yang lebih baik dariku yang mengejarnya.

“Hyejin tidak bisa kehilanganmu tapi ia tidak bisa terikat dengan pernikahan,” kata Joong Ki hyung membuatku agak terkejut.

“Kenapa?”

“Apa kau tahu aku dan Hyejin terlahir tidak dalam keluarga yang bahagia? Orang tua kami tidak selalu bertengkar tapi cukup sering dan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan di saat mereka sudah tua seperti ini, mereka masih suka bertengkar. Aku tidak tahu apa ayah dan ibuku menderita setiap mereka bertengkar tapi aku tahu Hyejin akan jadi yang paling menderita. Semua mengadu padanya dan itu jadi beban tersendiri. Dia hanya takut,” kata Joong Ki hyung.

“Takut menikah?”

Joong Ki hyung menganggukkan kepalanya dengan enggan. “Aku mencoba meyakinkannya bahwa kalau kalian menikah, pernikahan kalian akan baik-baik saja,”

“Tapi hyung tidak berhasil meyakinkannya?”

Joong Ki hyung tersenyum tipis. “Aku percaya kau bisa menjaga adikku dengan baik tapi aku hanya bisa berusaha meyakinkan adikku. Semua keputusan tetap ada di tangannya. Kau, hanya bisa bertahan dan mencoba meyakinkannya atau tetap bersamanya tanpa ada ikatan. Hyejin tahu suatu saat ia tidak akan bisa memaksamu untuk terus bersamanya dengan keadaan seperti ini dan dia akan memilih hal yang membuatmu bahagia.”

Kepalaku agak pusing memikirkan ucapan Joong Ki hyung. “Aku akan bicara lagi dengan Hyejin. Dia harus tahu aku juga sangat mencintainya dan aku akan melakukan hal yang membuatnya bahagia.”

Joong Ki hyung memelukku dengan erat. “Terima kasih, Kyu. Aku tahu aku bisa mempercayakan Hyejin padamu,” katanya dengan penuh terima kasih. Dari nada suaranya, aku bisa merasakan rasa terima kasihnya. “Aku akan membantu sebisaku. Tapi aku mohon jangan ceritakan padanya apa yang aku beritahukan padamu. Ini rahasia. Okay?”

“Okay. Ini rahasia.”

—–

“Cho Kyuhyun!!!!” Entah angin apa yang membuat seorang Hyejin bisa tiba-tiba muncul di dorm-ku dengan sekantong makanan ringan dan sebotol wine.

“Kau sendirian? Mana Hyukjae Oppa? Kau sudah makan malam? Bagaimana latihanmu tadi?” Tanyanya panjang lebar sambil menyiapkan makanan ringan dan membuka wine untuk kami berdua.

“Pertanyaanmu banyak sekali. Apa aku harus menjawabnya dengan lengkap?”

Hyejin memanyunkan bibirnya. “Aku sudah tahu jawabannya. Kau sendirian. Hyukjae Oppa masih di Chocolat Bon-Bon. Kau sudah makan malam. Latihanmu tadi pasti lancar-lancar saja.”

“Lalu kenapa kau masih bertanya?” Kataku lalu mencium bibirnya dengan gemas.

“Ingin bertanya saja,” jawabnya lalu tertawa. Aku dan Hyejin duduk santai di kursi makan dengan sepiring ddokboki dan sebotol wine. “Kau tidak boleh makan ddokboki. Nanti gendut. Wine juga tidak boleh terlalu banyak.”

“Kau terlalu banyak peraturan,” kataku tidak peduli lalu mencomot satu potong ddokboki dan memasukkannya ke dalam mulutku.

“Aku tidak tanggung jawab kalau kau semakin gendut,” katanya. “Ngomong-ngomong, tadi pagi jadi menemui Joong Ki Oppa?”

“Tentu saja. Kami bahkan sarapan bersama. Waeyo?”

Hyejin menyengir lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. “Apa Joong Ki Oppa ada mengatakan sesuatu padamu?” Tanyanya.

Aku menggelengkan kepala. Rahasia sudah seharusnya akan tetap menjadi rahasia. “Dia hanya menceritakan masa-masanya di camp dan menyuruhku untuk menyiapkan diri untuk wajib militer,” ujarku.

“Untuk apa? Memangnya kau mau masuk wajib militer bulan depan?”

Aku kembali menggelengkan kepala. “Dia bilang waktu itu berlalu dengan cepat jadi aku harus sudah bersiap-siap. Oh, astaga. Membayangkannya saja aku masih malas.”

“Aku tidak bisa membayangkan kau masuk wajib militer, Kyu. Olahraga saja malas. Aku rasa wajib militer bagian pelayanan publik lebih cocok denganmu.”

“Aku rasa juga begitu.”

Kemudian tawa kami meledak entah mengapa. “Oh ya, mulai besok aku akan tinggal di apartemen Joong Ki Oppa,” kata Hyejin memaksa aku menelan ddokboki yang sedang aku kunyah.

“Mwo?!” Tanyaku kaget. Kalau Hyejin tinggal di rumah Joong Ki hyung, bagaimana dengan nasibku. Siapa yang akan menemaniku di rumah atau di rumah eomma? Tidur sendiri itu sangat tidak enak.

Hyejin menatapku serius dengan penuh penyesalan. “Kau serius?! Kau akan tinggal dengan Joong Ki hyung? Lalu aku bagaimana?” Tanyaku berusaha meyakinkan.

“Mian.”

“Hye, jangan bercanda. Kalau kau tinggal di tempat Joong Ki hyung, aku tidak bisa tidur denganmu. Hyejiiin-ah….” Wajahku pasti sudah terlihat sangat panik.

Seketika tawa Hyejin meledak. “Aku bercanda,” katanya.

“Yaa Song Hyejin!!!”

Hyejin masih tetap tertawa terbahak-bahak. “Mian. Mian. Joong Ki Oppa sudah mulai sibuk syuting jadi tidak ada gunanya juga aku tinggal di apartemennya sendirian,” katanya.

“Yaa Song Hyejin. Kau benar-benar menyebalkan!”

“Aku banyak belajar darimu,” ucapnya sambil tertawa.

“Hisssh! Tidak lucu,” omelku dan Hyejin masih tertawa. Aku biarkan saja ia tertawa sampai puas sambil aku menikmati tiga perempat mangkok ddokboki dan setengah botol wine. Selamat tinggal, diet!

“Kyu,” panggil Hyejin kepadaku.

“Eo?”

“Aku sudah memikirkan soal lamaranmu kemarin.”

“Jadi, apa jawabanmu?” Aku berusaha seantusias mungkin walau sebenarnya aku tidak berharap banyak.

“Kau tahu, aku sangat mencintaimu…tapi aku rasa aku belum siap menikah. Aku masih sangat ingin bersamamu tapi tidak dalam hubungan pernikahan. Aku hanya belum siap. Maaf.”

Aku tersenyum. Aku sudah tahu ia akan menolak lamaranku untuk yang kesekian kalinya. “Asal kau bahagia, aku tidak masalah. Santai saja. Aku akan terus bersamamu selama kau masih menginginkan aku,” kataku lalu mengunyah kembali mengunyah ddokboki terakhir.

Hyejin menatapku dengan cemas. “Kau tidak marah? Maksudku, kau sudah…”

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak peduli lagi dengan pernikahan. Selama kau menginginkannya, selama kau bahagia, kita akan selalu bersama. Titik.”

—–

Kkeut!

xoxo @gyumontic