By @gurlindah93

Sudah sejak pagi MinAh mengirimkan puluhan pesan untuk Eric tapi belum ada satupun yang dibalas sampai malam ini. Dia cukup kesal karena belum menerima kabar dari kekasihnya hari ini.

Tapi senyum MinAh terkembang saat Eric akhirnya menelepon.

“Oppa..” sapa MinAh manja.

“Ada apa?” tanya Eric dingin begitu MinAh mengangkat telepon.

“Oppa sedang apa? Kenapa pesanku tidak ada yang dibalas?” MinAh sedikit terkejut dengan nada suara Eric. Senyumnya seketika hilang dari wajahnya.

“Bekerja. Apa ada yang penting?”

“Ani, aku hanya ingin tahu keadaan oppa”

“I’m okay.. Sedang sibuk” jawab Eric singkat.

“Sibuk apa?”

“Seharian ini aku mengikuti 2 rapat penting lalu latihan. Apa aku harus memberitahu semua jadwalku?”

“Bukan begitu.. Setidaknya oppa bisa memberitahu kalau oppa sedang sibuk bukannya mengabaikan semua pesanku. Oppa ini kenapa sih?”

“Apanya yang kenapa?”

“Oppa tidak biasanya seperti ini… Biasanya sesibuk apapun oppa pasti akan memberi kabar” keluh MinAh.

Eric menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab.

“Park MinAh, seharusnya kau mengerti kalau aku tidak memberi kabar itu artinya aku sibuk. Aku tidak ingin konsentrasiku terganggu jika melakukan hal lain”

“Jadi aku mengganggu?”

“Menurutmu? Bukankah aku sudah memberitahumu kalau dalam beberapa hari ini aku akan sibuk mempersiapkan konser pertama untuk Asia tour kami tahun ini?”

“Ara.. Aku hanya ingin tahu keadaan oppa..”

“Tidak usah berlebihan MinAh.. Aku baik-baik saja”

“Jadi aku berlebihan hanya karena ingin tahu keadaan orang yang aku cintai?”

“…..”

“Oppa!” pekik MinAh.

“Wae?”

“Oppa tidak ingin bicara denganku?”

“Kalau aku tidak ingin bicara denganmu aku tidak akan meneleponmu”

“Tapi oppa terdengar terpaksa bicara denganku”

“Astaga Park MinAh, aku bicara denganmu sambil mengirim beberapa email. Bukankah aku sudah bilang kalau hari ini sangat sibuk? Banyak sekali yang harus kukerjakan”

“Baiklah aku tidak akan mengganggu oppa lagi. Selamat bekerja” setelah mengatakan itu MinAh langsung menutup telepon sambil cemberut. Jelas-jelas MinAh merasa kesal dengan pembicaraannya dengan Eric barusan.

“Eonni…. Gwenchana?” tanya Jihyo perlahan. Keempat member Super Girls yang sedang berada dalam van menuju radio untuk interview hanya bisa saling bertatapan bingung harus berbuat apa.

“Nan gwenchana. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Jonghyun, tidak terasa dia dan teman-temannya sudah dewasa. Menurutku MV barunya aneh, mereka bertingkah layaknya orang dewasa hahahaaa” jawab MinAh diiringi tawa yang dipaksakan untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja.

Tapi keempat temannya tahu benar kalau Park MinAh sedang tidak baik-baik saja.

“Jjong-aaaaaaaahhhh” MinAh langsung memeluk Jonghyun begitu bertemu radio DJ yang akan menginterview Super Girls malam ini.

“Noona…. Nado bogoshippo… Bagaimana kabar Eric hyung?” begitu mendengar pertanyaan Jonghyun MinAh langsung melepas pelukannya dan mencari tempat duduk di dalam studio.

“Gwenchana?” tanya Jonghyun bingung pada member Super Girls lainnya sambil menunjuk MinAh yang bertingkah aneh.

“Gwenchana.. Bagaimana kabar Minho?” HyunAh berusaha mengalihkan pembicaraan agar Jonghyun tidak bertanya lebih jauh tentang keadaan MinAh saat ini.

***

Kring kring.

MinAh terkejut saat melihat caller id di smartphonenya.

‘My MOONlight’

Ini pertama kalinya Eric menelepon MinAh setelah pembicaraan yang tidak berakhir baik kemarin.

“Yoboseyo..” tidak biasanya MinAh mengucapkan halo saat ditelepon Eric.

“Yoboseyo.. Sedang apa?” tanya Eric.

“Di jalan, ada interview dengan Gukjoo eonni di radio” jawab MinAh datar.

“Oh… Apa kau sudah makan?”

“Sudah. Bukannya oppa sedang sibuk?” jelas sekali MinAh sedang menyindir Eric.

“Geurae.. Hati-hati di jalan, telepon aku kalau sudah selesai interview” pinta Eric.

Tanpa menjawab MinAh langsung menutup teleponnya.

“Cih.. Katanya sibuk, kenapa minta aku meneleponnya?” gumam MinAh kesal.

Setelah 1 jam lebih melakukan interview mereka langsung pulang menuju dorm.

Di tengah perjalanan MinAh menerima telepon dari Shin Hyesung.

“Hyesung oppa…” sapa MinAh.

“Eoh… Apa kabar?” tanya Hyesung.

“Tidak usah basa-basi oppa.. Ada apa oppa meneleponku? Tumben” MinAh sedikit curiga kalau Hyesung meneleponnya karena disuruh Eric.

“Aigo… Judes sekali Park MinAh… Aku mau tanya, apa sepatuku yang waktu itu kau pinjam masih kau bawa?”

MinAh berusaha mengingat sepatu apa yang Hyesung maksud. Ternyata maksud Hyesung adalah sepatunya yang dipinjam MinAh gara-gara sandalnya rusak saat MinAh makan malam bersama member Shinhwa beberapa minggu yang lalu.

“Aaaaahh ne oppa… Masih ada di dormku. Wae? Apa oppa membutuhkannya?”

“Eoh…. Aku akan memakainya untuk berangkat ke Shanghai beberapa hari lagi. Apa kau bisa mengembalikan besok pagi?”

“Besok pagi? Di apartment oppa?”

“Ani, di kantor Shincom jam 9 pagi karena jam 10 kami harus latihan dan ada camera yang akan merekam kegiatan kami”

“Di Shincom? Tapi oppa….”

“Okay, see you tomorrow” Hyesung langsung menutup teleponnya.

“Heeiiiiisssshhh oppa satu itu selalu saja seenaknya sendiri” gerutu MinAh.

“Ada apa Min?” tanya Hyejin.

“Hyesung oppa ingin aku mengembalikan sepatunya besok pagi di Shincom padahal aku sedang menjauhi tempat itu” jawab MinAh kesal lalu segera menghubungi ‘Are you really my sibling?’ di contactnya untuk meminta tolong.

***

“Kenapa kau memintaku mengantarmu ke Shincom? Tumben..” Jungsoo yang terpaksa bangun pagi untuk mengantarkan adiknya bertanya dengan keheranan.

“Tidak ada apa-apa… Mobil siapa yang oppa pakai ini?” MinAh terkejut saat tadi melihat mobil sport berwarna putih yang Jungsoo bawa saat menjemputnya di dorm.

“Temanku, aku tidak ingin ada yang mengenali mobilku masuk ke kantor Shincom. Jangan mengubah arah pembicaraan Park MinAh.. Biasanya kau selalu sendirian kalau menemui Eric hyung, kenapa kali ini memintaku untuk mengantarmu? Apa kalian bertengkar?”

MinAh tidak terkejut kalau kakaknya bisa menebak dengan tepat apa yang sedang terjadi padanya.

“Aniya oppa… Lagipula aku ke Shincom untuk menemui Hyesung oppa kok”

“Hyesung hyung? Untuk apa? Apa sekarang kau memacarinya?”

“Yaaaa, apa oppa sudah gila? Aku harus mengembalikan sepatunya yang kupinjam. Ah sudahlah, oppa konsentrasi menyetir saja. Oppa menyetir terlalu lambat sampai mobil-mobil di belakang kita mengklakson berkali-kali”

“Heheee aku masih mengantuk jadi harus berhati-hati. Apa kau mau menggantikanku menyetir?”

“Andwae…” tolak MinAh tegas.

Tidak lama kemudian mereka sampai di kantor Shincom. Di lobby MinAh langsung menelepon Hyesung untuk mengabarkan kalau dia sudah datang.

“Oppa aku sudah di lobby, oppa di mana?”

“Di ruang latihan, kemarilah…”

“Apa oppa tidak ingin ke lobby?”

“Malas. Cepatlah kemari sebelum crew datang untuk merekam kami” suruh Hyesung.

“Oppa jahat” dengan terpaksa MinAh menuruti Hyesung.

“Oppa kau mau menunggu di sini atau ikut ke ruang latihan?” tanya MinAh pada Jungsoo.

“Di sini saja…”

“Geurae… Tapi jangan selca lalu menguploadnya di instagram atau twitter. Awas kalau aku lihat oppa melakukannya” MinAh mengingatkan Jungsoo bahwa netizen bisa dengan mudah mengidentifikasi sebuah foto layaknya FBI.

“Arasseo… Mungkin aku akan ketiduran di sini” jawab Jungsoo sambil menguap.

Setelah yakin kakaknya tidak akan berbuat macam-macam MinAh segera menuju ruang latihan Shinhwa.

Sebelum masuk MinAh berdoa dalam hati agar tidak bertemu dengan Eric, dan ternyata Tuhan mengabulkan doanya. Di dalam hanya ada Hyesung, Junjin, dan Minwoo.

“Oppadeul” sapa MinAh lalu memeluk mereka satu persatu.

“Long time no see” kata Hyesung.

“Kau makin cantik Park MinAh” goda Junjin yang langsung dibalas pukulan pelan di lengannya oleh MinAh.

“Jangan bercanda oppa… Hyesung oppa ini sepatumu, aku pulang ya” MinAh menyerahkan sepatu Hyesung lalu langsung pamit pulang.

“Di sini dulu, mau ke mana kau terburu-buru?” larang Minwoo sambil memegang tangan MinAh untuk mencegahnya pergi.

“Aku…. Sebentar lagi ada syuting” dusta MinAh.

“Jinjja? Jam berapa?” tanya Minwoo curiga.

“Eric-aahh.. Ada MinAh di sini” teriak Hyesung yang membuat MinAh kaget.

“Apa benar kekasih hyung ada syuting siang ini?” tanya Junjin.

“Mungkin saja” Eric tiba-tiba sudah di berdiri sebelah MinAh.

“Aku pamit oppadeul… Bye bye…” pamit MinAh untuk kedua kalinya.

“Kuantar” ujar Eric.

MinAh tidak ingin berdebat jadi dia membiarkan Eric mengikutinya keluar dari ruang latihan.

“Tadi aku bertemu Jungsoo di lobby” kata Eric.

MinAh terpaksa berbalik untuk menghadap kekasihnya.

Sejujurnya MinAh ingin berlari menghampiri Eric kemudian mencium pria itu karena hari ini Eric terlihat tampan dengan jaket yang MinAh belikan. Tapi MinAh menahan diri, dia masih marah karena Eric mengabaikannya.

“Oh” hanya itu yang keluar dari mulut MinAh.

Setelah saling terdiam selama beberapa saat tanpa diduga Eric mendekati MinAh lalu mencium kening gadis itu “Sampai bertemu lagi” bisiknya lalu kembali masuk ke dalam ruang latihan.

Secepat kilat MinAh segera menjemput Jungsoo di lobby dan mengajaknya pulang. Perasaannya bercampur aduk setelah bertemu Eric.

***

“Eonnideul, apa yang harus kita lakukan? Ini sudah 4 hari mereka bertengkar” tanya Hamun cemas pada eonnideulnya.

Akhir-akhir ini MinAh menghabiskan waktunya sendirian di kamar.

“Seingatku mereka hanya 3 atau 4 kali bertengkar hebat seperti ini dan biasanya dalam 3 hari sudah berbaikan. Tapi kali ini sepertinya lumayan parah” ujar HyunAh.

“Sepertinya masalahnya sepele, tapi MinAh cukup tersinggung karena merasa diabaikan dan Eric oppa juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sedang sibuk” Hyejin berusaha menganalisis permasalahan temannya berdasarkan pembicaraan MinAh dan Eric beberapa hari lalu.

“Ne eonni.. Aku setuju.. Rasanya kita harus melakukan sesuatu” kata Jihyo lalu menelepon seseorang.

***

Tok tok.

“Aku masuk ya” kepala Jungsoo menyembul di dalam kamar adiknya dan berhasil membuat MinAh kaget.

“Oppa… Sedang apa di sini?”

“Aku ingin menemui nae dongsaeng… Apa tidak boleh?” Jungsoo merebahkan dirinya di samping adiknya yang nampak acak-acakan.

MinAh menatap Jungsoo dengan curiga.

“Wae?” tanya Jungsoo.

“Apa ada yang menyuruh oppa kemari? Hyejin? Hamun?”

“Ani.. Hanya ingin menemuimu” ujar Jungsoo meyakinkan MinAh.

Walaupun Jungsoo tidak mau mengakui tapi MinAh tahu kalau yang menyuruh kakaknya untuk datang adalah member Super Girls. Dia bersyukur memiliki teman-teman yang sangat pengertian pada keadaannya.

“Gadis-gadis itu berlebihan” gumam MinAh.

“Gadis-gadis itu manis… Tidak seperti dirimu Park MinAh… Cerewet, suka bertindak seenaknya, manja… Aku heran bagaimana Eric hyung bisa tahan bersamamu selama 3 tahun ini”

MinAh diam saja mendengar perkataan kakaknya, dia mengambil majalah di dekatnya kemudian membolak-balik halamannya tanpa membacanya.

“Ada apa denganmu dan Eric hyung? Apa kalian bertengkar?” tanya Jungsoo hati-hati.

“Tidak ada apa-apa oppa…. Sungguh…” jawab MinAh, matanya masih terpaku pada majalahnya.

“Gwenchana?” tiba-tiba Jungsoo mengambil majalah yang dibaca MinAh dan membolak-balik majalah itu tanpa tahu artinya. Tapi mulutnya menganga saat melihat model mengenakan pakaian super seksi seolah-olah dia melihatnya untuk pertama kali.

“Heol…. Kenapa akhir-akhir ini semua orang bertanya hal yang sama sih? ‘MinAh, Gwenchana?’ Tentu saja aku baik-baik saja, nan gwenchana, I’m fine and thanks for asking me” MinAh melipat kedua tangannya di dada dengan kesal.

Jungsoo melirik adiknya lalu meletakkan majalah di samping tempat tidur kemudian merengkuh adiknya ke dalam pelukannya.

MinAh tidak menolak. Berada dalam pelukan kakaknya adalah hal yang paling membuatnya nyaman sejak dia kecil.

“Tidurlah” ucap Jungsoo sambil mengelus-elus kepala MinAh.

Tidak lama kemudian Jungsoo merasa kaosnya basah dan terdengar suara sesenggukan dari mulut adiknya.

***

Pagi hari MinAh bangun dalam pelukan kakaknya.

“Good morning pemalas… Sekarang sudah jam 10” goda Jungsoo. MinAh tersenyum pada Jungsoo “Good morning oppa… Aku terlalu lelap semalam, rasanya menyenangkan bisa kembali ke masa kecil dulu saat tidur dalam pelukan seseorang hehee”

“Aigo… Bukankah sudah cukup banyak pria yang memelukmu saat tidur?” Jungsoo menyengir jahil dan berhasil membuat wajah adiknya memerah.

“Yaaaaa… Aku kan bilang dulu… A long time ago hahaa”

“Karena Park MinAh sudah bangun, aku harus pulang.. Nampaknya yang membutuhkanku bukan hanya nae dongsaeng” smartphone Jungsoo bergetar berkali-kali, dia menunjukkan banyaknya pesan dari member Super Junior.

“Ka… Gomawo sudah menemaniku oppa….” MinAh mencium pipi Jungsoo.

“Sama-sama” Jungsoo balas mencium pipi MinAh kemudian keluar dari kamar adiknya.

“Jangan lupa bersihkan dirimu dan kamarmu” teriak Jungsoo sebelum menutup pintu.

MinAh bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mencuci muka dan gosok gigi sesuai perintah Jungsoo dia keluar kamar dan melihat member lainnya berkumpul di ruang TV.

“Mau sarapan Min?” tanya HyunAh. MinAh menggeleng kemudian bergabung bersama mereka untuk menonton TV.

Kring kring.

MinAh melihat caller id yang tertera di smartphonenya.

‘My MOONlight’

Dia mengabaikan panggilan itu.

“Tidak diangkat Min?” tanya Hyejin. MinAh hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Hyejin.

Setelah belasan panggilan yang tidak dijawab, ada 1 pesan masuk ke smartphone MinAh.

‘Aku akan berangkat ke Shanghai. Jaga dirimu’

Membaca pesan itu membuat tangis MinAh tiba-tiba pecah.

“MinAh… Wae geurae? Gwenchana?” Hyejin mengelus-elus punggung MinAh berusaha menenangkannya.

“Eonni, gwenchana?” tanya Hamun, dia langsung mengambilkan air putih untuk MinAh tapi ditolak.

“Aku merindukannya… Aku benar-benar merindukannya” tangis MinAh semakin tak terbendung.

“Aku merasa ini tidak adil…. Di saat aku merindukannya dia malah pergi jauh… Aku tahu hari ini dia berangkat.. Tapi… Tetap saja ini tidak adil… Aku ingin bertemu dengannya….” lanjutnya di tengah isakan tangisnya.

“Telepon saja Eric oppa… Dia meneleponmu berkali-kali itu tandanya dia juga merindukanmu” ujar HyunAh.

MinAh menggeleng “Aku tidak ingin mengganggunya” jawab MinAh.

Setelah bisa mengontrol tangisnya MinAh kembali ke kamar ditemani Jihyo.

“Eonni, kuberitahu ya.. Sekarang adalah shiftku, tapi nanti mereka akan bergiliran menemani eonni di sini.. Kami membuat jadwal shift untuk menemani eonni heheheee” kata Jihyo jenaka yang mau tidak mau membuat MinAh tersenyum.

“Kalian tidak perlu repot-repot melakukannya. Aku akan baik-baik saja”

“Eeeeeyyyy akan lebih merepotkan kalau Jungsoo oppa memarahi kami semua karena membiarkan eonni sendirian. Eonni tahu sendiri kan bagaimana berisiknya dia…. Heol…”

Kali ini MinAh tertawa mendengarnya, dia sepakat tentang bagaimana berisiknya Park Jungsoo.

Kehadiran Jihyo dan teman-temannya yang lain mampu membuat MinAh sejenak mengabaikan rasa sakitnya.

***

Setelah 2 hari terus-terusan menangis MinAh bangun tidur dalam keadaan mata yang sangat sembap.

“Oppa…….”

MinAh terkejut saat keluar kamar dan melihat pria yang sangat dia rindukan berdiri di depan kamarnya.

Tanpa kata-kata Eric langsung merengkuh MinAh ke dalam pelukannya.

“Bogoshippo…” bisik Eric.

Tangis MinAh kembali pecah.

“Oppa… Aku merindukanmu… Aku sangat merindukanmu…. Mianhae… Mianhae… Aku terlalu kekanakan.. Egois… Dan sombong… Aku selalu menyangkal perasaanku padahal sebenarnya aku tidak baik-baik saja…Ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu…” kata MinAh sesengggukan. Dia terlalu bahagia bisa bertemu dengan pria yang sangat dia rindukan.

“Nado…. Mianhae MinAh, tidak seharusnya aku mengabaikanmu… Sibuk bukanlah alasan untuk tidak memberi kabar… Aku tahu kau mengkhawatirkanku.. Mianhae.. Terima kasih sudah peduli padaku”

MinAh memeluk Eric semakin erat.

“Aku janji tidak akan merengek kalau oppa tidak memberi kabar.. Aku mengerti bahwa oppa sangat sibuk.. Mianhae” ujar MinAh penuh penyesalan.

“Gwenchana… Saranghae Park MinAh” Eric mencium kilat bibir MinAh kemudian memeluknya lagi.

“Saranghae Eric Mun.. Ternyata rasanya sangat menyakitkan saat tidak bisa menyentuhmu atau mendengar suaramu… Tidak apa-apa kalau kita sesekali bertengkar tapi aku tidak akan menghindarimu… Aku akan selalu di dekatmu, menempel padamu walaupun kau mengusirku….”

Eric mencium puncak kepala MinAh.

“Sayang sekali aku tidak pernah berpikir untuk mengusirmu dari hidupku. Kemarin saat konser aku selalu memikirkanmu… Berpikir apa yang harus kulakukan agar Park MinAh memaafkanku dan mau menemuiku… Untunglah aku tidak mengacaukan konser, bisa-bisa 5 pria itu menendangku dari stage”

“Hahaha aku tahu kau tidak mungkin mengacaukan konsermu oppa.. Leader Shinhwa yang kukenal selalu bertanggung jawab pada apapun yang dilakukan”

“Thank you… By the way tadi teman-temanmu menyuruhku mengajakmu makan kalau kau sudah bangun.. Kata mereka kau jarang makan beberapa hari ini. Kau mau makan apa?” tawar Eric.

“Ohya ke mana gadis-gadis itu pergi?” tanya MinAh baru menyadari kalau dormnya kosong.

“Aku hanya bertemu Hamun dan HyunAh… Katanya mereka pergi ke dorm Super Junior dan akan pulang malam jadi kita tidak perlu menunggu mereka… Kita diperbolehkan menggunakan semua ruangan di dorm ini” ujar Eric dengan nada jahil.

MinAh tidak melihat wajah Eric tapi dia tahu kalau saat ini kekasihnya pasti sedang menyeringai.

“Dasar….”

“Jadi mau makan apa? Kita delivery saja ya… Aku akan menelepon restaurant sushi langganan kita”

“Andwae… Jangan ke mana-mana… Aku masih ingin memelukmu” rajuk MinAh.

“Baiklah jagiya… Aku juga masih ingin memeluk gadis yang matanya sembap seperti bola tenis ini” goda Eric.

MinAh tersenyum mendengarnya dan mempererat pelukannya. Rasanya dia tidak akan sanggup berpisah dari pria ini apapun yang terjadi.

***

Enjoy ^^

Thank u for reading…