Maafkan author yaaaa, maafkan. Padahal Game of Love belum beres, hihi. Tapi apalah daya malah tulisan ini yang selesai duluan daripada Game of Love Part 11. Semoga suka semuanya😀

“Hyuuuuuung!”

“Wae? Aku tidak mau menggantikan posisimu.”

“Hyung! Ayolah tolong aku sekali saja! Aku janji, untuk sekali saja!”

“Seumur hidupmu, kau selalu mengatakan hal itu.”

“Ah, hyung ayolah! Kau kan kembaranku!”

“Andwae. Salah kau sendiri menentang appa dan eomma. Ingat, kau dulu yang menyetujui agar jodohmu dipilihkan oleh appa dan eomma.”

“Aish, itu kan supaya appa dan eomma mengizinkanku jadi model. Lagipula memangnya ada yang salah menjadi model? Kau sudah mengikuti keinginan appa dan eomma menjadi dokter. Bukankah cukup hanya satu anak saja yang mengikuti jejak orangtuanya?”

“Yasudah baiklah. Berhenti mengoceh dan berikan detailnya.”

“Hyung gomawoyoooo! Aku akan mentraktirmu selama sebulan! Appa dan eomma menyuruhku mengajak yeoja itu makan malam di Star restaurant. Dekat rumah sakitmu kan?”

“Lalu?”

“Lalu terserah kau. Yang penting bertemu dulu dengannya. Jangan bersikap ramah. Sisanya, nanti akan aku urus. Aku tinggal bilang ke appa kalau aku tidak menyukainya, hahaha.”

“Kau bahkan belum bertemu dengannya.”

“Hyung, sudah jelas appa dan eomma kolot. Pilihan mereka juga sudah pasti kolot.”

“Memangnya kau mau kemana sih hingga aku harus menggantikanmu?”

“Pacaranlah. Kan malam minggu.”

+++

“Kau aneh, zaman sekarang kau masih mau dijodohkan oleh orangtuamu?” Key memberikan segelas greentea latte ke Jihyo.

“Ne. Oiya, ini bukan dijodohkan. Hanya dikenalkan. Jika aku tidak suka, aku boleh menolak,” ujar Jihyo sambil meminum minuman yang dibawakan Key. “Eh, ini gratis?”

“Kau ini setiap ke sini selalu maunya gratis. Ini cafe milik orangtuaku, bukan aku. Bayar!”

Jihyo memanyunkan bibirnya. “Ah tidak asik!”

“Lalu, kau mau pergi menemui calon suamimu dengan pakaian seperti ini?” Key memandang sebal outfit Jihyo. “Choi Jihyo, kau sudah berteman denganku berapa lama sih? Kok bisa kau tidak ketularan sense of fashionku yang tinggi?”

“Karena aku tidak mau si-namja-yang-entah-menjadi-calon-suamiku-atau-tidak itu merasa aku benar-benar berharap kepadanya. Cih, tidak akan. Aku bukan yeoja seperti itu.”

“Kau yeoja yang suka menyiksa namja lebih tepatnya.”

Jihyo tersenyum tengil dan memberikan beberapa lembar uang ke Key. “Baiklah, aku berangkat dulu, Kibum-ah!”

Jihyo setengah berlari keluar dari caffee dan menyetop taksi. Namun, tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang saat membuka kenop pintu.

“Ummh, mian, Tapi taksi ini-”

“Sorry, aku buru-buru,” namja itu memandang tajam ke arah Jihyo.

“Tapi aku yang menghentikan taksi ini dan aku juga sedang buru-buru. Jeongmal mianhae,” Jihyo membuka pintu taksi sambil memblok jalan masuk ke dalam taksi dengan tubuhnya.

“Tapi aku yang melihat taksi ini duluan,” namja itu menarik tangan Jihyo hingga Jihyo hampir terjatuh. “Mian, agassi. Aku harus menemui kekasihku!”

“Ya! Aku harus menemui calon suamiku!” teriak Jihyo setengah mengejar taksi yang sudah mulai berjalan. “Ya! Dasar namja tidak tau budaya mengantri!”

+++

Seunghyun memandangi sendok di hadapannya dengan gusar. Selama hidupnya, bahkan karirnya sebagai dokter, dia tidak pernah segugup ini. Ini bukan kali pertama dia bertukar tempat dengan kembarannya. Namun, situasi kali ini berbeda, dia akan bertemu dengan calon istri kembarannya.

“Kim Woobin-ssi?” seorang yeoja berdiri di hadapannya. Sepatu keds, celana jeans, dan kaos dengan ditutupi jaket denim yang dipakai yeoja ini, membuat Seunghyun berpikir mengapa ia tampil seformal ini.

“Mmhh, mianhae. Aku salah orang sepertinya. Maaf, aku sedang mencari seseorang dan hanya kau yang duduk sendirian di sini. Permisi.”

“Tunggu,” Seunghyun hadirnya tersadar. “Choi Jihyo-ssi?”

Yeoja itu tersenyum, “Annyeonghaseyo, Choi Jihyo imnida.”

Seunghyun bangkit dari tempat duduknya, “Kim Woobin imnida. Silahkan duduk.”

“Mian aku terlambat. Tadi macet,” Jihyo membuka buku menu dan memesan makanan dan minuman. “Kau sudah pesan?”

“Sudah,” Seunghyun tersenyum. Ia berpikir keras bagaimana caranya untuk tidak bersikap baik kepada yeoja di hadapannya.

Jihyo memandangi gelas yang berisi air putih di hadapannya. Ia sangat benci suasana kikuk seperti ini. Tapi tidak mungkin juga ia tiba-tiba bersikap sok akrab dengan namja di depannya.

“Kau sudah bekerja?”

“Eh?” Jihyo mengalihkan pandangannya ke namja di hadapannya. Jika saat ini dia bisa menghubungi Key, dia pasti sudah berteriak jika namja di hadapannya sangat tampan. Pilihan appa dan eomma nya memang jjang!

“Sudah, public relation,” Jihyo tersenyum saat makanannya diantarkan oleh waitress. “Kau?”

“Dok, bukan, model,” Seunghyun menjawab pertanyaan itu bagai robot.

“Kurasa kita berdua memang tidak mengikuti jejak orangtua kita sebagai dokter,” Jihyo tersenyum kembali. Baru saja 10 menit Jihyo ada di restaurant ini, sepertinya dia sudah tersenyum lebih dari 10 kali.

“Kau,” Seunghyun menghela napas panjang, ia terlalu gugup malam ini. “Kau lebih muda dariku.”

“Kurasa iya.”

“Oppa.”

“Mmmmh?” Jihyo menyuapkan spaghetti yang ia pesan tadi ke dalam mulutnya.

“Kalau begitu, kau harus memanggilku oppa.”

“Uhuk,” Jihyo hampir tersedak mendengarnya. Ia memandangi dengan lekat lawan bicaranya, berharap jika ini hanya lelucon untuk mencairkan suasana. Namun tidak sama sekali, wajahnya terlihat serius.

Oke, dia tampan, namun sangat absurd.

+++

“Jadi kau tidak tertarik dengannya?” Key merebahkan tubuhnya di sofa cofee shopnya.

“Bukan begitu, tapi dia agak absurd, banyak sebenarnya. Dia menyuruhku memanggilnya oppa!” Jihyo ikut bergabung dengan sahabat sekantornya itu. “Tapi dia tampan, Key!”

“Dia mengajakmu bertemu lagi?”

Jihyo menggeleng.

“Kalau begitu lupakan dia. Dia tidak berminat denganmu. Pasti saat ini dia sudah bilang ke orangtuanya bahwa dia tak mau dijodohkan denganmu!”

“Yaaaaaaaa!” Jihyo mencubit gemas Key. “Memangnya begitu?”

“Tentu saja! Bagaimanapun aku ini namja tau! Aku tau apa yang dipikirkan namja lainnya!”

“Key,” Jihyo menyikut lengannya. “Itu, itu! Namja yang baru masuk ke caffe, itu namja yang berebut taksiku!

“Kurasa aku sering melihatnya. Dia lumayan sering datang ke cafe,” Key masih berbicara panjang lebar namun Jihyo sudah bangkit sambil mengambil iced americano di mejanya dan membawanya ke arah namja tersebut.

“Ups,” Jihyo sengaja menabrakkan dirinya ke arah namja tersebut hingga iced americano yang dipegangnya tumpah ke kemeja putih sang namja yang tingginya menjulang. “Mianhae.”

“Ya!” Namja itu memandang kesal ke arah Jihyo. “Kalau jalan lihat-lihat! Kau lihat ini, kemejaku kotor gara-gara kau!”

“Itu balasanku karena kau sudah merebut taksiku,” Jihyo menyerahkan gelas iced americanonya ke namja tersebut. “Ini dariku, gratis.” Lanjut Jihyo sebelum ia kembali ke mejanya.

“Ya, Choi Jihyo! Kau sudah gila apa membuat keributan di cafeku?” Key memelototi sahabatnya.

“Salah sendiri dia macam-macam denganku, huh,” Jihyo menyeruput iced tea milik Key.

“Minseo, dengarkan aku dulu!” Jihyo menoleh saat mendengar suara namja yang tadi baru saja menjadi korban kekesalannya setengah berteriak. Kini namja itu menahan seorang yeoja yang harus Jihyo akui sangat cantik.

“Aku tidak tertarik dengan seseorang yang sudah dijodohkan oleh orangtuanya. Lagipula, ini sudah zaman modern! Aku tidak membutuhkanmu, masih banyak namja lain yang bisa kudapatkan,” teriak yeoja bernama Minseo itu sambil menghempaskan genggaman namja itu.

Jihyo merasa sangat berdosa tadi menganggap yeoja itu sangat cantik. Apa-apaan dia? Memangnya apa yang salah jika dijodohkan?!

“Minseo!” Namja itu berlari keluar mengejar Minseo.

Entah mengapa Jihyo kini merasa sedih untuk namja itu. “Nasibnya buruk sekali, cckcck,” keluh Jihyo. Namun pandangannya kini tertambat pada meja yang ditinggalkan oleh namja itu.

Jihyo berjalan menuju meja tersebutt, meraih buku yang tergeletak di meja tersebut.