“Kau kenapa?” Seunghyun memandangi kembarannya yang sudah seminggu ini bersikap urakan melebihi biasanya.

“Hyung! Aku ini patah hati, patah hati!” Woobin meringkuk lemah di kasurnya.

“Kau tau tidak, hati itu tidak bisa patah,” Seunghyun memandangi sketsa bangunan yang tertempel di dinding kamar Woobin. “Atau kau mau aku berikan surat rujukan untuk melakukan rontgen?”

“Aish,” Woobin melempar bantalnya ke arah Seunghyuun, namun tidak kena. “Kau ini tidak bisa sama sekali mengertiku!”

“Aku mengertimu, baby Ubin,” Seunghyun melempar dirinya ke kasur bergabung dengan Woobin dan memeluk kembarannya dengan membabi buta. “Kenapa anak bayiku? Kau disakiti oleh wanita ular itu? Cup cup”

“Arrrggghhh, hyung!” Woobin mendorong kembarannya. “Eh, bagaimana dengan si yeoja kolot itu?”

“Nugu?”

“Itu, yeoja hasil pilihan appa dan eomma.”

“Loh, bukannya kau bilang akan berbicara dengan appa dan eomma?” Seunghyun memandang curiga ke Woobin.

“Aku kan sedang patah hati jadi aku malas berbicara pada appa dan eomma! Lagipula kenapa bukan kau saja sih yang bilang kalau aku tidak menyukai yeoja itu?” Woobin memanyunkan bibirnya yang membuat Seunghyun ingin sekali menendangnya.

“Kau ini selalu saja membuang tanggung jawabmu kepadaku. Mana handphonemu?”

“Itu, ada di atas meja.”

Seunghyun langsung beranjak dan mengambil smartphone Woobin dan mengetik sesuatu dengan benda itu.

“Seunghyun, apa yang kau lakukan?” Woobin merebut smartphonenya dari tangan Seunghyun. “Untuk apa kau mengajak yeoja kolot itu bertemu lagi haaaaah?”

+++

“Kim Kibuuuum!” Jihyo berlari menuju meja kerja Key. “Coba lihat coba lihat!” teriak Jihyo sambil mengacungkan smartphonenya.

“Wae?” Key memandang murka Jihyo yang kini lebih mirip bocah kegirangan daripada public relation sebuah perusahaan food and beverage. “Jihyo-ssi, ada waktu nanti malam? Dinner di tempat biasa?” Key membaca text di layar smartphone Jihyo.

“Dari Woobin oppa, hahahaha,” Jihyo tertawa senang. “Tebakanmu salah, weeek!”

“Kau senang sekali sih, kau memang betul-betul suka padanya?”

“Anniyo, hanya senang saja,” Jihyo berlari kembal menuju mejanya. “Tugas-tugasku tersayang, ayo segera cepat selesai, yeaaay!”

+++

“Kau mulai gila, nona,” Key memandangi salah satu meja di cafenya yang sudah tertutup dengan kertas-kertas. “Kau membawa semua berkas kerja ke sini? Kau memangnya pindah kantor apa?”

“Tugasku belum selesai dan aku ada janji pukul 8 malam ini! Coba kau lihat ini jam berapa? 7 malam, Key!” Jihyo memandang kertas-kertas pekerjaannya dengan nanar.

“Salahmu sendiri.. Kau pulang cepat dan tiba-tiba saja bermigrasi ke cafeku sejak jam 4 tadi. Kan lebih mudah jika kau menyelesaikan di kantor, nona cantik.”

“Berlama-lama di kantor tidak membuatku semangat menyelesaikan tugas menumpuk ini,” keluh Jihyo.

Jihyo dan Key sama-sama menengok begitu mendengar pintu cafe terbanting kencang. Namja yang seminggu lalu merebut taksi Jihyo dan diputuskan oleh yeojachingunya akhirnya kembali ke cafe ini.

“Tuh, sang most wanted namja datang. Bukankah seminggu ini kau terus menunggunya?” ujar Key.

“Hah, kalau bukan karena buku ini, aku juga tidak akan sudi menunggunya,” Jihyo berjalan malas ke arah meja namja itu.

“Kau mau apa? Aku sedang malas bertengkar dengan orang lain,” namja itu bahkan tak melihat wajah Jihyo.

“Kau ini tidak punya sopan santun apa?” Jihyo rasanya ingin melempar buku yang ia pegang ke kepala namja itu, namun ia menahannya agar tidak terjadi perang dunia ketiga.

“Ini,” Jihyo akhirnya dengan baik-baik menaruh buku ketinggalan itu di meja sang namja. “Bukumu waktu itu ketinggalan. Mian jika aku melihat isinya. Kurasa sketsa-sketsa itu sangat penting, jadi kukembalikan padamu.”

Sang namja kini memandang Jihyo, bukan dengan pandangan marah, namun dengan pandangan tulus berterima kasih. “Gamsa hamnida, agassi. Aku mencari-cari buku ini selama seminggu! Kukira aku tidak akan bertemu lagi dengannya.”

“Ne,” sikap Jihyo melunak. “Jeongmal mianhae, aku waktu itu marah-marah padamu.”

“Aku juga minta maaf,” namja itu mempersilahkan Jihyo duduk. “Aku hanya sedang buru-buru waktu itu menemui kekasihku, maksudku mantan. Aku tidak membuatmu terlambat menemui calon suamimu kan?”

“Sedikit,” Jihyo menyengir. “Jadi, kau arsitek?”

“Belum, aku sedang kembali melanjutkan kuliahku.”

“Oooh,” Jihyo memandangi jari-jemarinya. Sebenarnya bukan itu pertanyaan utamanya, dia lebih penasaran mengenai topik seminggu yang lalu saat sang namja di hadapannya dengan mantannya bertengkar, itu lebih menarik untuk digosipkan.

“Kau dijodohkan ya?” Jihyo mengamati ekspresi namja tersebut, siapa tau dia marah. “Aku hanya mendengar karena kalian berteriak waktu itu,” buru-buru Jihyo menambahkan.

“Haha, aku dijodohkan dan Minseo tidak terima,” namja itu tersenyum getir. “Kata hyungku, dia itu wanita ular.”

Jihyo mengangguk-angguk, “Dia memang wanita ular.”

Namja itu mengangkat alisnya saat mendengar ucapan Jihyo, dia tidak tau harus marah atau tertawa melihat yeoja di hadapannya serius sekali mengatakan hal itu, akhirnya dia memutuskan untuk tertawa.

“Sebenanrnya, seharusnya yang pantas disebut wanita ular itu yeoja yang dijodohkan denganku.”

“Wae? Memangnya kau sudah pernah bertemu dengannya?” Jihyo tidak terima, enak saja, memangnya semua yeoja yang dijodohkan itu wanita ular apa.

“Belum sih. Hanya saja gara-gara dia, hubunganku dan Minseo jadi rusak.”

“Kau belum bertemu dengannya sudah bisa mengatakan kalau dia wanita ular,” Jihyo sedikit menaikkan nada bicaranya. “Bagaimana kalau yeoja itu juga tidak suka padamu? Bagaimana jika sekarang dia juga sedang patah hati karena namjachingunya tidak terima karena dia dijodohkan denganmu?”

Namja itu terdiam.

“Oh tidak, sudah setengah delapan malam! Senang bertemu denganmu. Aku duluan ya,” Jihyo berlari cepat menuju mejanya kembali dan membereskan berkas pekerjaannya dan segera keluar dari cafe.

+++

Seunghyun memandangi jarum jam yang terus bergerak di jam tangannya, sudah pukul 8.30 malam, namun Jihyo tidak muncul juga.

“Annyeonghaseyo, Woobin oppa,” tiba-tiba yeoja yang dipikirkannya muncul di hadapannya. “Mian, aku terlambat. Lagi.”

Seunghyun tersenyum, bagaimana dia bisa marah dengan yeoja semanis ini. Seunghyun menggeleng, tidak, tidak, apa yang tadi kau pikirkan, Seunghyun?

“Gwenchana. Aku sedang malas makan di restaurant. Mau makan yang lain?”

Jihyo menganggguk. “Bagaimana kalau makan ramyun? Ada kios makanan di dekat sini yang jual ramyun enak.”

Jihyo dan Seunghyun akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki. Jihyo sesekali memandang Seunghyun yang berjalan di sampingnya. Jihyo tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena lampu jalanan yang temaram. Namun, sekilas dia mirip dengan seseorang yang tak bisa Jihyo ingat.

“Wae?” Seunghyun akhirnya sadar sejak tadi Jihyo terus memandanginya. “Lihat ke depan, kau bisa tersandung.”

Jihyo menyengir malu. “Oppa, mengapa kau tidak mengikuti jejak kedua orangtuamu menjadi dokter?”

Seunghyun berpikir sejenak, mengingat-ngingat apa yang akan dijawab Woobin jika ia ditanya pertanyaan seperti itu. “Karena hyungku sudah menjadi dokter. Cukup satu anak saja yang menurut pada orangtuanya.”

Jihyo tertawa, jawaban itu yang ia katakan dulu saat memutuskan tidak mengambil jurusan kuliah kedokteran.

“Wae?”

“Aku mengatakan hal yang sama pada orangtuaku. Onnieku sudah menjadi dokter, untuk apa ada banyak dokter di rumah. Ah, itu tempatnya, di seberang.”

Seunghyun langsung berpindah ke sisi kanan Jihyo, “Ayo.”

Jihyo tentu saja tidak bisa berhenti tersenyum bodoh selama 20 detik menyebrang.

+++

“Kau pelanggan loyal cafe ini ternyata,” Woobin melambaikan tangannya saat melihat yeoja yang akhir-akhir menganggu hidupnya, sekaligus penyelamat hidupnya karena mengembalikan buku sketsa.

“Kau menguntitku?” yeoja itu tersenyum dan menarik kursi di hadapan Woobin. “Kau selalu membawa buku itu.”

“Tentu saja, ini semua harta karunku,” Woobin memeluk bukunya dengan erat. “Jadi bagaimana kencan waktu itu dengan namja yang dijodohkan oleh orangtuamu?”

“Heeeeh,” yeoja itu terlihat kaget.

“Aku diberitahumu oleh temanku waktu itu. Katanya kau ada janji makan malam dengan namja yang dijodohkan oleh orangtuamu. Sekarang aku tau mengapa kau kesal saat aku menyebut yeoja pilihan orangtuaku dengan sebutan wanita ular.”

“Tentu saja, karena dia pasti bukan wanita ular,” seru yeoja itu.

“Jadi, apakah namja itu menyukaimu?” Woobin memanggil waiter untuk memesan minuman untuk yeoja di hadapannya. “Iced americano, satu. Anggap saja ini giliranku yang mentraktirmu.”

“Tidak tau, tapi kami sudah beberapa kali bertemu.”

“Dia mau dengan yeoja galak sepertimu?” Woobin berdecak kagum. “Aku salut padanya.”’

“Ya! Mana aku tau dia mau denganku atau tidak. Lagipula aku ini hanya dikenalkan oleh kedua orangtuaku dengannya, bukan dijodohkan,” yeoja itu langsung menyeruput minuman yang baru dianterkan oleh waiter.

“Itu sama saja. Apa coba bedanya dijodohkan dengan dikenalkan?”

“Beda,” yeoja itu mengepalkan tangannya. “Kalau dijodohkan kau harus menurut. Kalau dikenalkan, kau yang menentukan apakah kau mau dengannya atau tidak.”

“Arra,arra,” Woobin tertawa melihat tingkah lucu yeoja di hadapannya. “Lalu mengapa kau mau saja menurut suruhan orangtuamu untuk berkenalan dengan namja itu?”

“Karena menurutku tidak ada salahnya. Jika aku memang tidak suka dengan namja itu, aku masih bisa menjadi temannya. Bukannya baik jika kita memperbanyak teman?”

Woobin mengangguk, benar juga apa yang dikatakan oleh yeoja ini. “Tapi kenyataannya kau menyukai namja itu?”

Woobin bisa melihat wajah yeoja itu sedikit merah.

“Tidak, masa baru beberapa kali bertemu aku sudah langsung suka padanya, haha tidak mungkin. Tapi dia tampan sih, sedikit absurd,” yeoja itu tertawa.

Woobin berpikir, apa memang sebaiknya ia menemui langsung yeoja kolot pilihan appa dan eommanya itu? Toh sebenarnya tidak ada salahnya jika ia tidak menyukai yeoja itu.

“Apa aku harus menemui yeoja itu?” ucap Woobin tanpa sadar.

“Tentu saja! Kalau kau tidak suka dengannya, katakan baik-baik,” yeoja itu bersemangat. “Jadi kau akan menemuinya kan?”

“Ada masalah,” Woobin tersadar. Selama dua minggu ini ia selalu meminta Seunghyun untuk menggantikan dirinya bertemu dengan yeoja kolot wanita ular itu. Bagaimana reaksinya kalau tiba-tiba ia mengaku sebagai Woobin yang asli?

“Aku melakukan kesalahan padanya.”

Yeoja di hadapannya mengerutkan dahinya, “Kau bilang kau belum pernah bertemu dengannya. Lalu kau melakukan kesalahan apa?”

“Pokoknya ada,” Woobin menggaruk kepalanya. “Kurasa aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak akan bertemu dengannya.”

Yeoja itu terdiam sejenak, “Kurasa kau memang harus bertemu dengannya. Apalagi jika kau melakukan kesalahan. Jelaskan saja apa masalahnya. Lagipula sebesar apa sih kesalahanmu padanya?”

“Besar,” Woobin memajukan tubuhnya mendekati yeoja di depannya, “Sangat besar.”

+++

“Hyuuuuuuung,” Woobin merangsek masuk ke kamar Seunghyun. “Jadi aku harus bagaimana?”

“Terserah,” ujar Seunghyun dari dalam kamar mandi. “Woobin-ah, tolong ambilkan handukku di atas kasur.”

“Aish anak ini bagaimana sudah sebesar ini masih lupa membawa handuk ke dalam kamar mandi,” ujar Woobn sambil menjulurkan handuk ke celah pintu yang sedikit dibuka oleh Seunghyun.

“Menurutmu aku harus menemui si yeoja kolot itu?””

“Jangan,” ujar Seunghyun keluar dari kamar mandi, sepertinya ia berubah pikiran. “Kurasa jangan. Jihyo bisa saja marah karena dibohongi oleh kita.”

“Tapi kata yeoja di cafe, sebaiknya kita jujur saja daripada semakin lama kita membohongi si yeoja piilihan appa dan eomma,” keluh Woobin.

“Woobin-ah, bagaimana badanku? Bagus kan? Sudah terlihat hasil fitnessnya?” Seunghyun menyengir.

Woobin menghela napas panjang mengapa ia punya kembaran absurd seperti ini. Bisa-bisanya ia membicarakan hal tidak penting di saat seperti ini. “Seunghyun-ah, aku seriiuuuus!”

“Kenapa kau selalu memikirkan saran dari yeoja yang kau temui di cafe itu? Bukankah kau sendiri yang pernah bilang kalau kau benci sekali dengannya?” Seunghyun mengambil pakaian dari lemarinya dan segera memakainya.

“Kami sudah baikan, hehe,” Woobin berguling-guling di kasur Seunghyun. “Dan dia ternyata tidak terlalu buruk.”

“Kau menyukainya,” Seunghyun bergabung dengan kembarannya berguling-guling di kasur. “Padahal waktu itu kau meraung-raung tidak bisa hidup tanpa Minseo.”

“Kata siapa aku menyukai yeoja itu? Aku saja tidak tau namanya,” elak Woobin.

“Jjinja? Kau bahkan belum tau namanya? Kim Woobin, apa yang kau lakukan selama ini? Katamu kau selalu mengobrol berjam-jam dengannya.”

“Ah, hyung. Aku lupa. Dia juga tidak pernah bertanya siapa namaku,” ujar Woobin kini bangkit dari kasur. “Kembali ke topik utama kita. Mengapa kau tidak membiarkanku membongkar rahasia kita ke Jihyo?”

“Karena,” Seunghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dia bisa marah kepada kita berdua?” jawab Seunghyun tidak yakin.

“Oh hyungku tersayang! Mengapa selama ini aku tidak menyadarinya!” Woobin berteriak kegirangan. “Kau mulai tertarik kepadanya, aku yakin!”

“Heeeey, kata siapa?”

“Percuma saja berbohog, walaupun kau lebih tua 12 menit dariku, tapi aku betul dirimu. Kau mulai tertarik kepadanya!” Woobin kini berjingkrak kegirangan. “Yes! Aku tinggal bilang ke appa dan eomma kalau kau menyukainya dan yeoja itu tidak akan dijodohkan denganku, tapi malah denganmu. Horeeee!”

“Ya, ya, jangan sembarangan! Aku tidak menyukainya dan Jihyo juga tidak menyukaiku,” elak Seunghyun.

“Mana ada yeoja di dunia ini yang boleh menolak hyungku? Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan satu pun yeoja menolakmu, tidak akan,” seru Woobin. “Jadi kapan kita bertemu dengan Choi Jihyo itu, hyung?”