“Hyejin eonnie, chukkae!” Jihyo berteriak memeluk sahabatnya, Song Hyejin, yang malam ini akan melaksanakan pagelaran busana hasil desainnya.

“Ugh, anak ini! Kau tau tidak berapa menit lagi show ku akan dimulai?” Hyejin menjewer telinga Jihyo.

“Aaaagggghh, sakit eonnie,” Jihyo melepaskan tangan Hyejin dari telinganya. “Kau tau kan aku pulang kantor jam berapa? Itu jam-jam macet tau!”

“Anak ini benar-benar, selalu saja bisa menjawab. Sana segera duduk! MinAh, HyunAh, dan Hamun sudah menunggu di kursi penonton,” Hyejin mendorong Jihyo keluar dari backstagenya.

Jihyo berjalan menuju kursi penonton, namuun langkahhnya terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya sdang berdiri di belakang pangggung.

“Jadi, kau model juga?” ujar Jihyo mengagetkan namja tersebut. Jihyo tersenyum, ternyata benar dugaannya, dia namja yang sering Jihyo temui di cafe milik Key.

“Hai,” namja itu tak bisa menyembunyikan kekagetannya, “Kau menguntitku?”

“Ya!” Jihyo menyilangkan kedua tangannya di dada. “Asal tau saja, desainernya itu sahabatku. Aku tidak menguntitmu tau, weeek.”

“Aku bercanda,” namja itu tertawa. Jihyo bisa melihat wajah namja itu memerah walaupun ia sudah memakai make up pucat sekali. “Duduklah, kau tentu mau melihat aku berjalan di runway kan?”

Jihyo menggeleng. “Aku yakin kau pasti akan kaku sekali.”

“Aku yakin kau tidak akan bisa menutup mulutmu nanti saat melihatku,” namja itu meletakkan tangannya di kepala Jihyo. “Sana duduklah, aku akan menemuimu sesuai show berakhir.”

Dan anehnya, Jihyo langsung saja menurut perkataan namja itu.

+++

“Ugh, Hyejin! Kau harus mengenalkanku dengan modelmu! Harus harus!” seru MinAh seusai fashion show. “Para model itu belum pulang kan?”

“Yang mana sih memang?” tanya Hyejin bingung.

“Itu loh eonnie, yang tampangnya sedikit matang,” jawab Hamun cepat dan langsung dipelototi MinAh.

“Lebih tepatnya yang berumur,” ralat Jihyo. “Tapi tetap tampan kok, iya kan MinAh eonnie?” Jihyo menyengir.

“Oooooh, Eric Mun yah?” Hyejin berusaha mengingat-ngingat. “Dia salah satu model favoritku. Semua hasil desainku cocok di badannya.”

“Anyeonghaseyo,” suara namja menghentikan obrolan kelima yeoja tersebut.

“Oh, hai,” Jihyo pertama kali menjawab namja tersebut.

“Kau hari ini mau ke tempat biasa?” tanya namja tersebut melirik ke arah empat yeoja lainnya yang kini sibuk berbisik-bisik di belakang Jihyo.

“Mmmh,” Jihyo berbalik ke arah Hyejin, MinAh, HyunAh, dan Hamun.

“Bawa saja dia, gwenchana,” HyunAh akhirnya mendorong Jihyo ke arah namja tersebut. “Evil magnae, besok jangan lupa kumpul di rumahku, oke?”

Jihyo dengan cepat memeluk keempat yeoja sahabatnya dan berjalan menjauh bersama namja itu.

“Eonnie, memangnya itu siapa? Model juga?” tanya Hamun penasaran.

“Ne, Kim Woobin. Karirnya sedang melejit sekarang,” jawab Hyejin. “Tapi, darimana Jihyo bisa kenal dengannya? Jihyo kan paling jarang datang ke acara fashion.”

+++

“Kau setiap hari ke cafe?’ tanya Woobin ke yeoja yang sedang berjalan di sampingnya.

“Hampir.”

“Oh,” Woobin mencari dimana letak sepeda motornya. “Lalu kau tidak apa-apa jam segini pergi ke sana?”

“Cafenya kan buka hingga jam 12 malam, ini baru jam 9. Lagipula sepertinya aku seharusnya lebih khawatir karena aku pergi ke sana dengan orang asing sepertimu.”

“Heeeey,” Woobin menghentikan langkahnya. “Yasudah, aku antarkan kau pulang.”

“Wae?” yeoja itu ikut menghentikan langkahnya, menatap Woobin dengan bingung. “Aku kan mau ke cafe.”

“Tapi kan sudah malam,” jawab Woobin.

“Aku bisa menginap di rumahnya Key. Lagipula kenapa kau yang jadi mengaturku sih?”

“Kau ini keras kepala,” Woobin menarik tangan yeoja itu menuju sepeda motornya. “Naik, kuantar kau pulang.”

+++

“Lalu kau diantar pulang olehnya?” Key berusaha menahan agar dia tidak berteriak di ruang rapat.

Jihyo mengangguk.

“Oh my God! Choi Jihyo, kau bahkan tidak tau siapa namanya!”

“Relax Key, buktinya aku masih ada saat ini, masih masuk kantor dan bekerja. Aku baik-baik saja,” ujar Jihyo sambil mengutak-atik bahan presentasinya di tablet.

“Lalu bagaimana calon suamimu?” Key membenarkan posisi duduknya sebelum bosnya memergoki dirnya dan Jihyo mengobrol di tengah rapat.

“Dia tidak menghubungiku lagi. Entahlah. Aku juga tidak serius dengannya,” jawab Jihyo sambil mengecek smartphonenya yang tiba-tiba bergetar. “Keeeeeeey.” Jihyo menyikut lengan Key.

“Oh, tadi kau bilang kau tidak serius dengannya. Sekarang begitu dia sms, kau girangnya berlebihan.”

+++

“Miss evil, mengapa kau malah ada di cafeku? Katanya kau mau bertemu dengan Woobin oppa mu itu?” Key memandang aneh Jihyo yang terus memandangi ke arah jalanan.

“Dia bilang dia akan menjemputku. Tapi katanya dia sedikit terlambat, makanya aku memutuskan untuk menunggu di cafemu saja. Aku tidak suka menunggu di kantor sendirian,” Jihyo kini mengalihkan pandangannya ke arah smartphonenya.

“Baiklah, kurasa kau juga sekarang tidak membutuhkanku untuk menemanimu. Tuh, namja kesukaanmu datang,” Key melengos pergi melayani tamu lain yang datang ke cafenya.

“Hai,” namja itu menghampiri Jihyo dan duduk di hadapannya. “Kenapa kau selalu saja ada di cafe ini?”

“Harusnya aku yang bertanya itu kepadamu. Ini kan cafe temanku, jadi aku bebas datang kapan saja.”

“Karena,” namja itu mengeluarkan buku sketsanya dari tasnya. “Aku suka suasana di sini. Dari sini semua arsitektur sepanjang jalan terlihat. Inspirasiku selalu muncul saat aku di cafe ini.”

Jihyo mengangguk. Memang lokasi cafe milik orangtua Key berada di tempat yang strategis, banyak bangunan tua yang elegan dan bangunan baru yang megah berdiri berdampingan dan menciptakan pemandangan arsitektur yang indah.

“Kau model, namun juga mahasiswa arsitektur, menarik,” gumam Jihyo.

“Kalau kau punya rumah, kau ingin rumahmu seperti apa?” namja itu memandangi Jihyo dengan seksama, mengamati setiap lekuk wajahnya.

“Kenapa pertanyaanmu aneh begitu?” Jihyo memajukan tubuhnya melihat apa yang digambar oleh namja itu.

“Ya, jangan salah sangka. Aku sedang dapat tugas untuk membuat sketsa arsitektur rumah impian. Aku tidak punya bayangan,” namja itu menghela napas panjang. “Jadi kau ingin rumah seperti apa?”

“Mmmh,” Jihyo berpikir sejenak. “Fortress.”

“Apa? Fortress?”

“Ne,” Jihyo kini memandang wajah namja di hadapannya. Setiap lekuk di wajah namja itu mengingatkannya pada seseorang, namun Jihyo tak dapat mengingatnya. “Kau tau, benteng. Aku ingin rumahku terlihat dingin, kokoh, dan tak dapat ditembus dari depan.”

“Kau ajaib,” namja itu menggelengkan kepalanya.

“Gomawoyo,” cengir Jihyo. “Jadi bagaimana dengan yeoja yang dijodohkan denganmu?”

“Aku belum menemuinya,” jawab sang namja yang kini asik menggerakkan pensilnya di buku sketsa.

“Yaaa! Katanya kau akan menemuinya!”

“Aku menunggu waktu yang tepat,” jawab namja itu tanpa melihat wajah Jihyo. “Kau sendiri bagaimana?”

“Aku? Aku sekarang sedang menunggunya menjemputku, hehe.”

Sang namja refleks menghentikan kegiatannya dan mengangkat wajahnya menatap Jihyo. “Serius?”

Jihyo mengangguk.

“Oh,” namja itu menutup buku sketsanya dan memasukkan bukunya ke dalam tas. “Baiklah, selamat berkencan.” Namja itu bergegas keluar dari cafe, bahkan ia tidak sempat memesan apapun.

“Kalian bertengkar lagi?” tanya Key menghampiri Jihyo yang kebingungan.

“Tidak. Dia tiba-tiba pergi. Aneh.”

+++

“Ada yang sedang kau pikirkan?” Seunghyun menengok ke arah Jihyo yang sejak tadi memandang ke arah luar jendela mobil.

“Bukan apa-apa,” Jihyo menghela napas panjang. “Oppa, mengapa namja suka meninggalkan lawan bicaranya seenaknya?”

Seunghyun tidak menjawab, dia terus mengamati sosok yeoja di sampingnya yang kini bergumam sendiri.

“Aneh, kenapa dia tiba-tiba meninggalkanku sih?”

“Ada namja yang meninggalkanmu?” tanya Seunghyun. Ia sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan keingintahuannya dan sedikit rasa tidak sukanya.

“Anniyo,” Jihyo menggeleng. “Tadi aku bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba mengajakku bicara lalu meninggalkanku seenaknya. Namja macam apa itu.”

“Kalau aku meninggalkanmu seperti itu, apakah kau akan memikirkanku seperti kau memikirkan namja itu?” tanya Seunghyun tiba-tiba.

“Tentu saja tidak. Aku akan menerormu, menghubungimu sampai kau menjawabku mengapa kau tiba-tiba meninggalkan di tengah obrolan,” Jihyo tersenyum yang anehnya membuat Seunghyun ikut tersenyum.

“Anak pintar,” Seunghyun refleks mengacak-acak rambut Jihyo, sama seperti yang ia selalu lakukan pada Woobin.

“Oiya, apa kau akan datang lusa?”

“Ada acara apa?”

“Rumah sakit tempat orangtuaku dan orangtuamu bekerja akan mengadakan acara gala dinner charity kan? Kau tidak datang?”

Seunghyun refleks menginjak rem. Untunglah mereka berdua menggunakan seatbelt hingga Jihyo tidak menghantam dashboard. “Lusa?” Seunghyun sama sekali tidak ingat jika ada acara seperti itu. Rumah sakit tempat appa dan eommanya bekerja kan juga rumah sakit tempat ia bekerja.

“Ne, kau kenapa sih, oppa? Kau mau aku saja yan menyetir?” tanya Jihyo khawatir melihat wajah namja di sebelahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi.

“Gwenchana,” Seunghyun kembali memacu mobilnya. “Kau yakin akan datang?”

“Ne. Appa dan eomma sudah heboh sekali. Katanya sekali-kali mereka ingin memamerkan putrinya, haha. Kau datang juga kan?”

Seunghyun tidak menjawab sama sekali. Kalau dia datang, tentu Jihyo akan tau jika dia bukanlah Woobin, namun dokter Kim Seunghyun. Namun jika dia tidak datang, itu tidak mungkin dia lakukan.

“Woobin oppa,” Jihyo menepuk lengan Seunghyun, menyadarkan dia kembali. “Kau akan datang?”

“Ne.”

+++

“Kau mau kemana?” teriak Seunghyun ke saudara kembarnya.

“Ikut ke acara appa dan eomma,” Woobin memandang aneh ke hyungnya. “Biasanya kau yang selalu memaksaku untuk ikut. Sekarang giliran aku mengajukan diri untuk ikut, mengapa kau heboh?”

“Kau tidak bisa ikut, tidak bisa,” Seunghyun memasukkan kembali jas yang akan Woobin kenakan ke dalam lemari.

“Hyuuuuung!” protes Woobin. “Apa-apaan ini?”

“Kau tau kan kalau kedua orangtua Jihyo juga akan datang? Kalau kau bertemu Jihyo bagaimana?”

“Annyeonghaseyo, Jihyo-ssi. Kim Woobin imnida. Dan ini saudara kembarku, Kim Seunghyun. Maaf kalau selama ini kami berdua bertukar tempat, tapi hyungku tulus mencintaimu,” ujar Woobin sambil mengambil kembali jasnya dari dalam lemari.

“Woobin-ah, kumohon untuk sekali ini saja, jangan dulu bertemu dengannya,” Seunghyun memeluk kembarannya dengan erat.

“Akh hyung! Ini waktunya tepat hyung! Eomma! Hyung melarangku untuk ikut ke acara gala dinner! Appaaaaa, tolong aku Seunghyun hyung menyiksaku!”

“Kalian berdua sedang apa sih?” eomma si kembar kini sudah berdiri di depan kamar Woobin. “Seunghyun-ah, biarkan Woobin ikut.”

“Tapi eomma, nanti ada Jihyo!” kini Seunghyun mulai meracau tidak jelas.

“Loh, memangnya kenapa? Bukannya Woobin sudah bertemu dengannya? Atau jangan-jangan kau tidak pernah menemuinya, Kim Woobin? Appamu bisa mengamuk kalau mengetahuinya!” ujar eomma si kembar.

“Ih, aku menemuinya kok eomma, sudah beberapa kali malah,” Woobin bertukar pandangan dengan Seunghyun. “Makanya sekarang aku mau menemuinya, hehe.”

“Yasudah cepat kalian berdua bersiap-siap. Kalian tau bagaimana appamu, semuanya harus tepat waktu,” ujar eomma si kembar menutup pintu kamar Woobin.

“Kau dengar kata eomma, hyung? Kita harus bersiap-siap,” ujar Woobin penuh arti.

+++

Seunghyun sejak tadi berdiri di depan pintu ballroom, menunggu kehadiran Jihyo. Ia sesekali mengetikkan pesan di smartphonenya, bertanya apakah Jihyo sudah sampai di tempat acara.

“Hyung, kau tidak ingin makan?” tanya Woobin menghampiri kembarannya. “Ayolah, jangan gugup seperti itu!”

“Kim Woobin, kau tau kan kalau kita berdua ini sedang membohongi seorang yeoja?” Seunghyun menatap kesal ke dongsaengnya. “Dan kau akan membuka rahasia itu di depan semua orang malam ini!”

“Hyung ayolah, dia bukan monster yang kalau marah akan mengamuk dan menghancurkan seluruh kota kan?” tawa Woobin. “Dia pasti akan memaafkan kita berdua lalu jatuh hati padamu, selesai. Yasudah kalau kau masih ingin menunggunya, aku masuk duluan.”

Seunghyun benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah dongsaengnya. Memang Seunghyun dan Woobin selalu suka bertukar tempat jika bukan di lingkungan yang asing. Orang-orang yang baru mengenal mereka tentu tidak akan terlalu mengingat bagaimana rupa si kembar.

Namun lain persoalan jika mereka bertukar tempat di lingkungan familiar dnegan merka, tentu orang-orang akan mengetahuinya karena Seunghyun dan Woobin bukan kembar identik.

Dan ini yang ditakutkan Seunghyun, Jihyo bisa mengetahui jika Seunghyun bukanlah Woobin dari rekan-rekan kerjanya sat ini. Semua pegawai di rumah sakit sudah hapal betul perbedaan wajah Seunghyun dan Woobin.

“Ah, annyeonghaseyo, dokter Choi,” Seunghyun membungkukkan badannya begitu melihat kedua orangtua Jihyo.

“Dokter Kim, mengapa kau di sini? Tidak masuk ke dalam?” tanya eomma Jihyo.

“Aku sedang menunggu seseorang,” jawab Seunghyun. “Kalian hanya datang berdua?”

“Oh tidak, puteri kami bersikeras untuk memarkirkan mobil sendiri,” jawab appa Jihyo. “Apakah Woobin datang?”

Seunghyun mengangguk.

“Ah, baguslah. Akhirnya kita melihat calon suaminya Jihyo, ya yeobo?” seru eomma Jihyo.

“Ya! Kita kan hanya mengenalkan mereka berdua. Aku tidak mau Jihyo cepat-cepat menikah,” jawab appa Jihyo yang langsung dicubit oleh istrinya.

“Haha, Dokter Kim, kami berdua masuk dulu ya,” ujar eomma Jihyo menggeret suaminya masuk ke dalam ballroom.

“Woobin oppa,” Jihyo tergopoh-gopoh berlari kecil sambil mengangkat gaun birunya agar tidak terinjak. “Kau datang!”

Seunghyun terdiam sesaat. Ini baru pertama kali baginya melihat Jihyo memakai gaun, dan dia tampak lebih cantik dibandingkan biasanya.

“Woobin oppa?”

“Ah ne. Kau yakin mau masuk?” tanya Seunghyun.

“Ne, waeyo oppa?”

“Aku hanya malas saja. Kau mau menemaniku pergi saja dari sini?” ujar Seunghyun tanpa menunggu jawaban dari Jihyo. Ia segera meraih lengan Jihyo dan menariknya pergi.

“Hyung, kau mau kemana?” teriak seseorang menghentikan langkah Jihyo. Ia sangat kenal dengan suara namja yang berlari di belakangnya. Suara namja yang beberapa minggu ini selalu menemaninya di cafe.

“Seunghyun hyung, appa dan eomma mencarimu! Kedua orangtuanya Choi Jihyo juga,” Woobin menyusul Seunghyun dan yeoja yang digandengnya.

“Kau!” teriak Jihyo dan Woobin bersamaan.

“Kalian saling kenal?” tanya Seunghyun.

Jihyo menatap namja yang selama ini dia anggap sebagai Kim Woobin, dan beralih menatap namja yang selalu bertemu dengannya di cafe namun ia tidak pernah tau namanya.

Sekarang Jihyo baru sadar mengapa beberapa minggu ini ia selalu merasakan hal aneh jika bertemu dengan keduanya. Wajah keduanya selalu mengingatkan Jihyo dengan seseorang yang familiar.

“Kau panggil dia apa tadi? Seunghyun hyung?” Jihyo memandang murka ke arah namja yang selalu ia temui di cafe.

“Kalau dia Seunghyun, berarti kau Kim Woobin yang asli?” Jihyo tak bisa menahan tawa sinisnya. “Kembar fraternal,” Jihyo terus mengoceh tanpa membiarkan si kembar menjelaskan apa yang terjadi.

“Tunggu, aku bisa jelaskan,” Woobin kini panik begitu menyadari kenyataan di hadapannya. Ternyata yeoja yang dijodohkan dengannya adalah yeoja yang selama beberapa minggu ini menjadi teman bicaranya di cafe.

“Kalian tau kalau ini trik kuno? Lagipula, kalian berdua tidak mirip!” Jihyo melepaskan genggaman Seunghyun dari lengannya. “Dan satu lagi, Kim Woobin. Aku bukanlah yeoja kolot wanita ular seperti apa katamu!”

“Jihyo, dengarkan kami dulu,” Seunghyun menghalangi Jihyo yang akan kembali ke arah masuk ballroom.

“Apa? Aku sudah tau kalau saudara kembarmu yang tidak mirip ini mengatakan dia sangat membenci yeoja yang dijodohkan dengannya dan bahkan tidak mau menemuinya! Dan kau, dengan baiknya menolong kembaranmu untuk berpura-pura menjadi dirinya untuk membohongiku,” Jihyo menginjak kaki Seunghyun.

“Permisi, aku lapar. Aku mau masuk ke dalam ballroom,” ujar Jihyo dengan datar meninggalkan si kembar.

Akhirnya si kembar bertemu langsung dengan Jihyo hehe. Berhubung kembar sama Kim Woobin, jadi nama marganya Seunghyun jadi Kim yah, hehehe. Jangan lupa komen yaaah. Gomawoyo!😀