Annyeonghaseyo! Hehe akhirnya ff the coffee cafe ini mulai muncul. Pasangan kali ini adalah Minah dan Eric! uri random couple kekekeke. Semoga suka ceritanya ya. Kalau lupa latar belakang cafe, atau gadis-gadis yang ada di FF ini, bisa dibaca teasernya ^^ So, enjoy reading! ^^

*****

Park Minah
Kau dimana, Hamun? Aku sudah di parkiran Fakultasmu. Cepat kesini.

Kang Hamun
Onnie…… why me?

Song Hyejin
Hanya kau yang belum menemani Minah ke café itu minggu ini

Jung Hyunah
Lagipula seingatku jadwal kuliahmu hari ini sudah selesai, kan, Hamun?

Choi Jihyo
Aku diluar kota Hamun, jadi aku tidak bisa menemaninya. Semangat!

Kang Hamun
*Menghela nafas panjang*

Park Minah
Ppaliwa, sister. Aku tak sabar bertemu dengan butler kesayanganku. Eric ssi. Muah.

Song Jihyo
Selamat bersenang-senang, sayang!

Jung Hyunah
Jangan mengacuhkan Hamun, Minah. Kasihan. Hahaha.

Choi Jihyo
Salam untuk Eric ssi, onnie!

*****

“Selamat malam, Ladies. Hai, Nona Park,” sapa butler dengan nametag Eric Mun. “Malam ini, nona Park ingin dengan saya atau butler yang lain?” tanyanya.

“Tentu saja denganmu,” kata Minah dengan penuh semangat. Eric tersenyum mendengar jawaban Minah itu.

“Lalu, bagaimana dengan anda, nona?” tanya Eric pada gadis yang sejak tadi berada di belakang Minah.

“Ah, aku sedang ingin sendiri. Aku tidak perlu butler khusus,” jawabnya. Eric tersenyum lalu kembali memperhatikan nona cantik yang berdiri tepat dihadapannya.

“Mari saya antar ke meja anda, nona,” ujarnya lembut yang membuat Minah makin terpana.

*****

Eric meninggalkan Minah dan Hamun sesaat untuk menyiapkan pesanan kedua gadis itu. “Dia sangat tampan, kan, Hamun?” tanya Minah.

Hamun menjawab seadanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. Katanya, “Lumayan,”

“Lihat badannya itu. Sangat proposional. Kurasa dia punya abs di perutnya,” lanjut Minah yang sudah tidak bisa melepaskan pandangannya dari Eric.

“Sepertinya begitu,” jawab Hamun.

“Aku sudah bertekad untuk menyatakan perasaanku padanya malam ini,” ujar Minah yang berhasil membuat Hamun kaget setengah mati. “Mwo?” tanya Hamun tak percaya. “Onnie, kau baru mengenalnya 2 minggu!” seru Hamun yang tidak mengerti jalan pikiran onnienya itu.

“Aish, aku tak peduli dengan waktu. Aku yakin dengan perasaanku dan aku ingin dia tahu,” kata Minah. Hamun hanya bisa menghela nafas panjang mendengar itu. Ia sangat tahu kalau onnienya sudah memiliki tekad, ia tak bisa dihentikan.

“Maaf lama, nona. Ini pesanan anda,” ujar Eric sambil menempatkan makanan yang ia bawa di depan Minah dan Hamun. Setelah itu, Eric juga duduk di meja itu dan mulai menyuapi Minah. Mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain. Hamun sudah mulai mual melihat tingkah Minah dan Eric.

“Apa nona Hamun juga ingin saya suapi?” tanya Eric yang sadar kalau Hamun belum menyentuh makanannya. Hamun menggelengkan kepalanya dengan segera. Ia tak mau disuapi seperti itu oleh Eric.

“Eric ssi, biarkan saja. Hamun memang begitu,” ujar Minah. “Makanan yang dimulutku sudah habis. Aaa,” lanjutnya sambil membuka mulutnya. Eric tertawa melihat sikap manja Minah dan ia kembali menyuapi Minah.

Setelah makan malam itu selesai, Minah terus berbincang dengan Eric tanpa mengenal waktu. Selalu saja ada topic yang dapat dibicarakan diantara mereka. Minah terlalu asik berbicara dengan Eric sampai akhirnya lupa dengan Hamun.

“Ah, Nona Hamun, maaf, aku terlalu asik berbicara dengan nona Minah sehingga lupa mengajak anda berbicara. Apa yang sedang anda kerjakan, nona?” tanya Eric.

“No problem, aku juga sedang butuh konsentrasi. Aku sedang mengerjakan novel terbaruku. Deadlinenya sudah sangat dekat. Kau bicara saja dengan Minah onnie,” jawab Hamun tanpa menjauhkan pandangannya dari laptop miliknya.

“Eric ssi, apa kau punya butler yang bisa kau rekomendasikan untuk Hamun? Aku sebenarnya kasihan melihat dongsaeng kesayangku ini,” kata Minah.

“Jangan mengkhawatirkanku,” ujar Hamun yang mendengar jelas ucapan Minah tadi.

Eric tertawa melihat Minah yang cemberut karena perkataan Hamun. “Kau sangat perhatian dengan teman-temanmu. Aku suka dengan sifatmu itu, nona,”

Wajah Minah langsung memerah mendengar kata ‘suka’ dari mulut Eric. Minah tidak mau kehilangan kesempatan itu. Ia pun mengungkapkan apa yang ada dipikirannya dan dihatinya. “Aku juga menyukaimu, Eric ssi. Kau pekerja keras. Meskipun lelah, kau tetap tersenyum untuk pelangganmu. Aku ingin kau menjadi pacarku,” kata Minah dengan lugas tanpa keraguan.

“Mianhe, Nona Minah. Butler kami tidak diperbolehkan berpacaran dengan pelanggan café ini,” kata Eric tanpa kehilangan senyumnya. Beda dengan Minah yang saat ini urat-urat dikepalanya mulai kelihatan tanda ia sangat kesal.

Hamun yang melihat itu segera mengambil tindakan. “Onnie, sabar. Onnie, tolong jangan membuat masalah, ya. Kita pulang saja bagaimana?” tanya Hamun sambil menepuk-nepuk punggung Minah.

“Antarkan aku ke ruang bossmu. Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga,” kata Minah pada Eric. Ia mengacuhkan Hamun yang sudah sangat khawatir.

“Ah, mianhe, nona. Boss kami tidak ingin bertemu dengan pelanggan,” jawab Eric.

Minah menghela nafas panjang. “Bilang padanya, kalau ia tidak mau bertemu denganku sekarang juga, aku bisa minta ayahku untuk membatalkan perjanjian peminjaman tanah tempat café ini dibangun. Aku tidak main-main dengan perkataanku,” ujar Minah serius.

“Eric ssi, tolong Minah onnie,” ujar Hamun yang tak ingin masalah ini berlanjut lebih lama. Mereka sudah menjadi tontonan pelanggan café lainnya.

Eric menghela nafas panjang dan menggandengan tangan Minah. Ia membawa gadis itu ke ruangan yang ada di belakang dapur. Ada tulisan ‘Head officer’ di depan pintu ruangan itu. Eric membawa Minah masuk.

“Kenapa tidak orang? Mana bossmu?” tanya Minah kesal.

Eric menutup pintu ruangan itu dan menguncinya. “Aku boss di tempat ini,” kata Eric. Minah memutar tubuhnya dan menatap Eric.

“Jeongmalyo?” tanya Minah tak percaya.

Eric mengangguk lalu berjalan menuju meja kerjanya. Minah mengikuti langkah Eric. “Kalau begitu, hapus peraturan konyol yang melarang butler berpacaran dengan pelanggan café ini,” kata Minah.

“Aku tak bisa,” jawab Eric. “Kalau pelanggan lain tahu bahwa butler favoritnya memiliki pacar, mereka pasti patah hati dan tidak mau datang ke café ini lagi,”

“Rahasiakan saja,” jawab Minah.

“Tidak bisa,” balas Eric.

“Lalu apa maksudmu mengatakan suka padaku tadi?” tanya Minah.

“Aku suka padamu karena kau wanita yang menarik. Tapi, aku belum mencintaimu. Aku tak akan menghapus peraturan itu demi seseorang yang belum kucintai,” kata Eric.

Minah menghela nafas panjang. “Baiklah, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Kalau kau sudah jatuh cinta padaku, kau harus menghapus peraturan konyol itu,”

Eric tersenyum. “Baiklah. Aku juga punya syarat untukmu,”

“Apa itu?”

“Kalau dalam sebulan kau tidak bisa membuatku jatuh cinta padamu, aku tidak perlu membayar biaya sewa tanah 6 bulan kedepan. Deal?”

“Kau memanfaatkan aku?” tanya Minah tak percaya dengan permintaan pria itu.

“Kau hanya perlu berusaha keras untuk membuatku  jatuh cinta supaya aku tidak mengambil untung seperti itu,” kata Eric. “Jadi, berjuanglah,” lanjutnya sambil mengacak rambut Minah dengan lembut. “Ayo keluar, aku rasa, dongsaeng kesayanganmu pasti sudah khawatir,”

“Kenapa kau menggandeng tanganku?” tanya Minah kesal pada sikap pria itu yang tiba-tiba saja kembali menjadi lembut.

“Bagaimana pun, aku butlermu, nona. Aku akan melayanimu dengan baik,” jawab Eric diiringi senyum manisnya.

Minah menghela nafas panjang. “Tunggu saja, aku akan membuatmu tergila-gila padaku sampai kau tak bisa jauh dariku walaupun hanya 1 menit,” tantang Minah.

Eric tertawa mendengar itu. “Aku tak sabar,”

*****

Kang Hamun
Onnie harus tahu apa yang terjadi di café tadi!

Song Hyejin
Apa? Apa? Apa?

Kang Hamun
Minah onnie menyatakan perasaannya pada Eric!!!!

Jung Hyunah
Astaga!! Lalu jawabannya?

Kang Hamun
Ditolak. Boss café itu tidak memperbolehkan butler berpacaran dengan pelanggan.

Choi Jihyo
Peraturan konyol apa itu?!

Park Minah
Tenang. Tenang. Aku sudah bicara dengan bossnya. Asal aku membuatnya jatuh cinta padaku dalam waktu sebulan, ia akan meghapus peraturan aneh itu.

Song Hyejin
Ha? Bukannya kau mencintai Eric? Kenapa kau harus membuat bossnya jatuh cinta padamu?

Park Minah
Eric adalah boss café itu.

Choi Jihyo
Astagaaaaaaa. Ada apa dengan kalian berdua? Sama anehnya!

Park Minah
Yaa Choi Jihyo! Jaga mulutmu!

Jung Hyunah
Semangat, Minah! Aku yakin tidak ada yang sanggup melawan pesona seorang Park Minah!

Park Minah
Tunggu kabar baik dariku. Hahahaha!

*****

“Hai, Eric ssi, aku ingin kau menjadi butlerku siang ini,” kata Minah begitu ia tiba di café itu.

Eric menyambutnya dengan senyum dan membawanya ke tempat favorit Minah. Begitu pesanan datang, Minah mulai mengajak Eric berbicara.

“Jadi, sekarang seberapa besar kau sudah mencintaiku?” tanya Minah yang membuat Eric tertawa.

“Mungkin  baru 5%,” jawab Eric setelah berpikir untuk beberapa saat.

Minah tersenyum mendengar jawaban Eric itu. “Aku akan membuat perasaan itu naik menjadi 100%. Tapi sebelumnya, aku ingin mengenalmu lebih dulu. Jadi, kau harus menjawab semua pertanyaanku. Arraseo?” tanya Minah.

“Siap nona,” jawab Eric yang membuat keduanya tertawa. Eric menjawab semua pertanyaan Minah dengan sabar. Minah juga tidak berhenti bertanya meskipun sudah satu jam terlewati.

“Pertanyaanku sudah habis. Ah, setahuku hari ini jadwalmu akan selesai lebih awal. Apa kau mau berkencan denganku? Aku akan membuatmu mencintaiku,” kata Minah dengan percaya diri.

Eric tertawa melihat sikap Minah yang pantang menyerah. “Baiklah. Kalau begitu tunggu aku setengah jam lagi. Sebentar lagi shiftku selesai,” ujar Eric.

Minah sangat senang mendengar hal itu namun tiba-tiba smartphonenya berdering. “Ne, oppa?” tanya Minah pada orang diseberang sana.

“Mwo? Oppa perlu aku sore ini untuk menemui Mr. Lim?” tanya Minah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Minah menatap Eric sesaat.

“Aku hanya punya waktu hari ini untuk berkencan denganmu,” ujar Eric yang membuat Minah makin bingung.

“Apa tak bisa lain hari oppa?” tanya Minah. Ia makin terpuruk saat oppanya bilang kalau perjanjian itu harus segera disetujui oleh Mr. Lim. Minah menghela nafas panjang. “Baiklah, aku mengerti,” kata Minah lalu memutus sambungan itu.

“Jadi, bagaimana nona?” tanya Eric.

“Maaf, sepertinya aku tidak bisa berkencan sore ini,” kata Minah dengan penuh penyesalan.

“Kau yakin? Tidak ada kesempatan lain selain hari ini,”

“Aku tahu. Aku akan cari cara lain untuk membuatmu jatuh cinta padaku,” kata Minah. “Aku pamit, annyeonghaseyo,” lanjutnya.

Setelah gadis itu pergi, Eric belum bisa melepaskan pandangannya dari Minah. “Bertanggung jawab, professional, dan tidak egois. Selamat Park Minah, kau mendapat 20 poin tambahan dariku. Astaga, hanya dalam waktu sesaat ia sudah bisa membuatku menyukainya seperti ini,” gumam Eric dengan dirinya sendiri.

*****

“Dimana Eric?” tanya Minah pada salah satu butler di café itu. Kalau tidak salah namanya Jung Yunho.

“Ah, boss sedang istirahat di ruangannya,” jawab Yunho yang membuat Minah jadi tidak bersemangat lagi.

“Apa nona tidak bosan dengan Eric hyung terus? Bagaimana kalau hari ini aku yang melayani nona?” tawarnya.

Minah tersenyum pada Yunho. “Mianhe, aku hanya mau dilayani oleh Eric. Aku pesan Strawberry Cheese cake dan Lemonade Milk juice, tolong diantarkan ke ruangan Eric, ya,” ujar Minah. Beberapa butler yang lain sudah melarang Minah agar tidak masuk ke ruangan Eric, namun seorang Minah tidak akan mendengarkan orang lain.

Saat Minah masuk dalam ruangan itu, ia mendapati Eric sedang tertidur di sova ruangannya. Minah tertawa kecil melihat wajah pria itu yang seperti anak kecil saat ia tidur. Minah mengambil kursi kerja Eric dan menempatkannya disamping Eric. Ia duduk di kursi itu agar dapat menatap Eric sepuasnya.

“Kau pasti lelah kerja lebih keras dibandingkan butler lainnya,” kata Minah. “Tapi, kalau dia tidur bagaimana aku bisa membuatnya menyukaiku? Aish!”

“Apa aku bangunkan saja?” tanyanya. “Tidak. Tidak. Jangan. Dia pasti sangat lelah sampai tertidur seperti ini,” jawabnya.

Minah memandang Eric lalu menghela nafas panjang. “Karena kau sangat lucu saat tidur, hari ini akan kubiarkan kau tidur sepuasnya. Tapi, lain kali akan kubuat kau tergila-gila padaku,” ujar Minah walau ia tahu Eric tidak akan mendengarkannya.

Minah terus menemani Eric dalam diam sambil menghabiskan makanan yang sudah ia pesan tadi. Setelah satu jam terlewati, akhirnya Minah memutuskan untuk pulang. “Cepat bangun dan jangan bekerja terlalu keras. Arraseo?” tanya Minah yang tentu saja tidak mendapat balasan dari Eric. “Aku pulang dulu, bye,”

Setelah Minah pergi, Eric membuka matanya dan tersenyum sendiri. “Cerewet tapi perhatian. Kau dapat 25 poin untuk itu. Astaga, dia belum melakukan apapun tapi aku sudah semakin menyukainya. Dasar Park Minah,” gumamnya.

*****

“Selamat malam, nona Minah. Selamat malam, nona Hyunah. Mana teman anda yang lain?” tanya Eric yang sudah sangat mengenal Minah dan teman-temannya yang bergantian menemani Minah ke tempat ini.

“Hari ini hanya Hyunah yang kosong, jadi ia yang menemaniku,” jawab Minah.

“Hari ini tepat sebulan, kan? Eric ssi, tolong jangan mengecewakan sahabatku. Kau harus tahu bagaimana penderitaan aku, Hyejin, Jihyo, dan Hamun karena ia sangat menyukaimu,” ujar Hyunah yang membuat Eric tertawa sedangkan Minah sekarang hanya tersipu malu.

“Lalu sudah berapa persen kau menyukaiku saat ini?” tanya Minah.

“Rahasia. Kita akan lihat hasilnya nanti malam,” ujar Eric yang membuat Minah kesal setengah mati. Ia sudah sangat penasaran. Akhirnya Minah dan Hyunah dibawa Eric ke salah satu meja yang kosong. Seperti biasanya, Eric sangat asik berbicara dengan Minah sampai mereka berdua lupa kalau ada Hyunah di mejanya.

Hyunah hanya tersenyum melihat bagaimana mereka berdua saling bertatapan. Ia sudah memiliki dugaan kalau Eric juga sudah menyukai Minah saat ini. “Sudah kubilang, tidak ada yang sanggup mengacuhkan pesona Park Minah,” gumamnya.

Tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang marah-marah di salah satu meja. “Apa-apaan ini? Cake ini sangat tidak enak! Panggil orang yang membuat kue ini kesini!” seru wanita itu.

“Kenapa dia marah-marah seperti itu?” tanya Minah yang kesal dengan sikap wanita itu.

“A-ada apa, nona?” tanya seorang butler yang merangkap sebagai patissier di café tersebut, namanya Henry.

“Cake buatanmu sangat tidak enak!” ujarnya.

“Ti-tidak mungkin, nona. Saya sudah membuatnya sesuai dengan resep yang ada,” ujar Henry.

“Maksudmu, lidahku bermasalah?”

Melihat anak buahnya dimarahi seperti itu, Eric langsung berdiri dari bangkunya dan menghampiri meja itu. “Nona, maafkan kami. Jika ada yang tidak sesuai dengan selera anda, kami akan menggantinya,” katanya.

Wanita itu tersenyum penuh arti. “Tidak perlu. Kau tidak perlu menggantinya dengan menu yang lain. Bagaimana kalau kau menggantinya dengan tubuhmu? Kau harus menjadi butlerku selama sebulan. Bagaimana?” tanyanya.

“Cih, kau pura-pura mengatakan makanan itu tidak enak untuk menjebak Eric, kan?” ujar Minah yang kini sudah menghampiri meja itu juga.

“Siapa kau?” tanya wanita itu seakan ia tidak terima dengan ucapan Minah.

“Aku bisa buktikan kalau kau hanya berbohong mengenai rasa cake tersebut,” ujarnya. Minah mempersilahkan Hyunah untuk mencicipi cake milik wanita itu.

“Meskipun cake ini tidak seenak buatanku, tapi cake ini punya citarasa yang unik. Aku memberi nilai 90 dari 100,” kata Hyunah.

Wanita itu tertawa, “Siapa kau sampai kami harus percaya dengan ucapanmu?”

Hyunah mengeluarkan kartu namanya dan lisensinya lalu memberikan pada Minah. “Kau tak hanya punya masalah pada lidahmu tapi pengetahuanmu juga dangkal. Kau tak mengenalnya? Ia adalah patissier di Hotel Shinhwa dan seorang tester dengan standard internasional. Ia sudah sering muncul di televisi sebagai juri diacara memasak,” kata Minah sambil menyerahkan lisensi Hyunah agar dilihat wanita itu. “Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku membuatmu lebih malu lagi,” ancam Minah.

Ia tak bisa berkata apa-apa sekarang. Ia sangat kesal pada Minah karena sudah dipermalukan seperti itu. Ia memegang gelas minumannya. “Kau wanita menyebalkan!” serunya sambil menyiramkan isi gelas itu ke arah Minah.

“Aku tak akan membiarkan pelanggan sepertimu melukai pelanggan kami yang berharga,” ujar Eric yang sudah berdiri di depan Minah. Eric melindungi Minah sehingga dirinya yang basah karena siraman wanita itu.

Kesabaran Minah menjadi habis setelah melihat Eric jadi basah kuyub. Ia menghampiri wanita itu lalu memutar kedua tangannya kebelakang sehingga wanita itu tidak dapat lari kemana-mana. “Minta maaf pada Eric!” seru Minah sambil mendorong tubuh wanita itu agar membungkuk.

Wanita itu karena kesakitan akhirnya melakukan apa yang Minah perintahkan. “Sekarang minta maaf pada Henry. Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan orang yang sudah membuat kue itu?” kata Hyunah.

*****

“Mianhata, gara-gara aku kau jadi basah seperti ini,” kata Minah yang setelah wanita itu pergi langsung membawa Eric ke ruangannya. Minah membiarkan Eric duduk dan segera beralih menuju lemari yang ada di ruangan itu.

“Apa kau punya handuk dan kemeja cadangan?” tanya Minah sambil melihat isi lemari itu. Saat Minah mencari-cari, tiba-tiba ia merasakan Eric memeluknya dari belakang. Jantung Minah berdebar sangat kencang. Ia bisa merasakan wajahnya memerah saat ini.

“Ke-kenapa kau tidak pakai baju?” tanya Minah yang bisa merasakan kalau Eric tidak pakai baju saat ini.

“Aku ingin memelukmu. Kau bisa basah kalau aku memelukmu sambil memakai kemejaku tadi,” jawabnya.

“Ke-kenapa kau ingin memelukku?” tanya Minah lagi.

“Apa memeluk seseorang yang dicintai itu salah?” tanya Eric yang membuat Minah sangat kaget. Minah memutar tubuhnya untuk dapat menatap mata Eric.

“Ka-kau mencintaiku? Sejak kapan? Rasanya aku belum melakukan apapun yang special untuk membuatmu jatuh cinta padaku,” ujar Minah.

Eric tertawa melihat wajah Minah. “Setiap waktu yang kuhabiskan denganmu, walaupun hanya sekedar berbincang, hal itu membuatku makin mengenalmu dan akhirnya aku makin menyukaimu,” ujar Eric. “Dan saat kau membelaku tadi, aku semakin yakin kalau perasaanku tidak salah. Aku mencintaimu, Minah. Kau yang menang,” ujar Eric sambil mengecup kening Minah.

“Jeongmalyo? Jadi, sekarang kita berpacaran?” tanya Minah yang Eric jawab dengan anggukan.

“Tapi dengan satu syarat,”

“Apa itu?”

“Ini rahasia. Hanya anak buahku dan sahabat-sahabatmu yang boleh tahu kalau kita berpacaran. Arraseo?”

“Setuju! Tapi kalau ada wanita menyebalkan seperti tadi, mencari-cari alasan supaya bisa memonopoli dirimu, aku tidak akan tinggal diam. Arraseo?”

Eric tertawa melihat Minah yang sudah sangat serius sekarang. “Tentu saja, hanya seorang Park Minah yang boleh mengeksploitasi Eric Mun,” katanya lalu mencium bibir Minah dengan lembut. Mereka tersenyum satu dengan yang lain setelah Eric melepas bibirnya dari bibir Minah.

“Saranghae, Park Minah,” ujar Eric.

“Nado, saranghae,” kata Minah sambil menyerang bibir Eric sekali lagi.

*****

“Kau tidak apa-apa?” tanya Hyunah saat melihat Henry masih murung.

Henry tersenyum pada Hyunah yang sampai menghampirinya di dapur café itu. “Aku tidak apa-apa,” jawab Henry.

“Aku juga sangat sedih kalau ada orang yang tidak menyukai cake yang kubuat. Jadi, kupikir kau juga seperti itu. Apalagi wanita tadi menggunakan cake yang kau buat untuk menjebak orang lain. Aku saja masih kesal kalau memikirkan hal itu,” jelas Hyunah.

Henry tertawa melihat tampang Hyunah yang serius. “Aku memang sedih dan kesal tadi, tapi sekarang sudah lebih baik karena kau bilang cake yang kubuat punya cita rasa yang unik. Kau juga membelaku tadi. Terima kasih, Jung Hyunah ssi,” ujar Henry.

Hyunah tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Henry. “Kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Hyunah, dan kau?”

“Aku Henry, senang berkenalan dengan anda nona,” ujar Henry diiringi senyumannya.

*****

Park Minah
Jung Hyunah, mianhe, kau pulang sendirian ya

Jung Hyunah
Kau sendiri?

Park Minah
Eric tidak mau aku pulang

Kang Hamun
Astaga, jadi, kau yang menang onnie?

Song Hyejin
Eric sudah tergila-gila padamu, Minah?

Choi Jihyo
Sudah kuduga, onnie memang daebak!!

Park Minah
Hahahaha. Ne, ia sudah tergila-gila denganku sampai aku mau pulang pun ia larang. Hahahaha.

Park Minah
Ah, Hyunah, Henry lucu juga. Kau tak mau mengenalnya lebih jauh? Kata Eric, ia memperbolehkan butlernya berpacaran jika kekasihnya adalah sahabat-sahabatku, haha! Berterima kasihlah padaku

Jung Hyunah
Astaga, jangan memulai gosip, Minah.

Song Hyejin
Aku tak tahu ada butler yang bernama Henry. Kenalkan padaku lain kali! Hahaha

Choi Jihyo
Jeongmalyo, onnie? Kyaaa!

Kang Hamun
Sepertinya benefit itu tidak ada gunanya untukku. Hahaha

Park Minah
Dasar Kang Hamun!

Park Minah
Sudah ya, aku ingin mengabiskan malam ini dengan Eric-ku. Huahahaha. Bye single ladies.

Song Hyejin
Kau menyebalkan Park Minah!

*****

Kkkeut!

Kira-kira couple selanjutnya siapa ya? Hehehe. Makasih sudah baca ^^