Enjoy reading^^ hope you give any comments or suggests thank you ^^

Jung Hyunah
Minah, kau bilang hanya mau ke kamar mandi tapi kenapa sampai sekarang belum kembali?

Jung Hyunah
Ini sudah lebih dari 10 menit

Kang Hamun
Minah onnie pasti ditarik Eric oppa ke kantornya

Song Hyejin
Hahahaha, benar sekali! Coba cek, Hyunah!

Choi Jihyo
Pasti sedang bermesraan

Jung Hyunah
Tega sekali dirimu Minah~ Aku sudah berjalan menuju ruang si boss. Awas kau ya, hahaha.

“Minah, sampai kapan kau mau di dalam ruangan ini? Ayo pulang!” seru Hyunah sambil mengetuk pintu yang berlabelkan ‘Head officer’. “Eric ssi, tolong kembalikan Minahku,” lanjutnya namun tak ada seorang pun yang membalas panggilan Hyunah itu.

Hyunah menghela nafas panjang namun tiba-tiba ia mendengar suara seorang pria sedang tertawa kecil. “Mianhe,” kata pria itu saat Hyunah memandangnya. “Mereka sepertinya tidak akan keluar sampai setengah jam lagi,” lanjutnya.

Hyunah memukul pelan kepalanya dengan tasnya. “Tahu seperti ini, aku bawa mobil sendiri saja tadi,” keluhnya.

“Kau mau ikut aku ke dapur? Siapa tahu kau bisa melakukan sesuatu disana,” sahut pria itu yang membuat Hyunah bersemangat kembali.

“Kau benar, Henry ssi! Kkajja,” ujar Hyunah sambil mengikuti langkah Henry ke dapur.

Hyunah terkesima melihat dapur café itu dipenuhi dengan alat-alat masak yang memiliki standard internasional. Ia lebih kagum lagi saat Henry tiba-tiba memberikan sebuah cake padanya. “Untukmu,” kata Henry.

Hyunah menerimanya dengan senang hati. “Aku sedang coba membuat resep baru. Mungkin kau bisa menilainya,” ujar Henry.

“Jeongmalyo?” tanya Hyunah. Ia mengangguk-angguk, “Baiklah, akan kunilai secara objektif,” katanya. Hyunah mulai menyuapkan sesendok cake itu ke dalam mulutnya. Henry menatapnya dengan harap-harap cemas.

“Otte?” tanya Henry.

“Truffle dengan strawberry. Kombinasinya pas, namun aku merasa ada kurang,” kata Hyunah sembari tetap mengunyah cake yang masih ada dimulutnya. Ia masih mencari rasa apa yang kurang dari cake itu. “Sedikit asam, mungkin kau bisa tambahkan madu agar rasanya lebih manis,” lanjutnya.

Henry mengangguk lalu mengambil cake yang tadinya ditangan Hyunah. Ia segera menambahkan madu secukupnya sesuai dengan saran Hyunah tadi. Setelahnya, Henry mencicipi cake itu. “Kau benar, terasa lebih segar setelah diberikan madu. Jung Hyunah, daebak!” seru Henry senang sambil mengacungkan ibu jarinya untuk Hyunah.

Hyunah tersenyum senang melihat Henry tampak antusias dengan cake itu. Hyunah selalu bahagia jika melihat orang lain senang dengan masakannya atau saran yang ia berikan seputar bidangnya. “Ah, Hyunah ssi, jika kau tak keberatan, apa aku boleh minta tolong padamu untuk mengajariku membuat cake sekaligus menjadi tester cake yang kubuat? Aku ingin menjadi seahli dirimu,” katanya.

Hyunah tersenyum. “Kau bisa datang ke tempat kursusku, Henry ssi,” jawabnya.

Wajah Henry tiba-tiba menjadi bimbang. “Itu masalahnya. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku ini karena hanya aku yang dapat membuat cake di cafe,” katanya.

Hyunah tampak berpikir sesaat. “Jam berapa shiftmu selesai?” tanya Hyunah.

“Jam 9 malam,” jawab Henry.

Hyunah tersenyum pada pria itu. “Baiklah, aku akan ke café ini jam 9 malam saat aku tidak ada jadwal. Bagaimana? Kita bisa membuat cake di dapur ini,”

“Aku setuju. Gamsahamnida, Hyunah ssi. Kau ingin apa sebagai imbalannya?” tanya Henry.

Hyunah kembali tersenyum. “Aku belum tahu. Akan kupikirkan terlebih dahulu,” jawabnya.

“Well, well, siapa yang saat ini membiarkan temannya menunggu?” tanya sebuah suara yang berasal dari pintu dapur. Minah memandang Hyunah dengan tampang jahil.

“Jangan berpikir macam-macam. Aku dan Henry hanya membicarakan cake,” ujar Hyunah yang mengerti maksud Minah meskipun sahabatnya tidak berbicara apapun. Minah menghela nafas panjang akibat jawaban yang Hyunah berikan.

“Sepertinya si boss dan pacarnya sudah menyelesaikan kegiatannya. Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Bye, Henry,” pamit Hyunah pada Henry.

*****

Park Minah
Tadi Hyunah berduaan dengan Henry di dapur café

Choi Jihyo
Kyaaaaaa, apa yang terjadi, onnieduuul? Cerita!

Song Hyejin
Sepertinya Hyunah juga akan segera memiliki pacar, hahaha

Kang Hamun
Henry? Nugu?

Park Minah
Yaa! Kang Hamun! Makanya kalau kau ke café jangan hanya baca buku atau main laptop!

Jung Hyunah
Park Minah! Sudah kubilang, aku dan Henry tidak ada hubungan apa-apa

Kang Hamun
Mianhe Minah onnie, tapi itu tidak menjawab pertanyaan, onnie

Kang Hamun
Jadi, siapa Henry yang sedang kita bicarakan ini?

Song Hyejin
Kau ingat Minah pernah cerita kalau ia pernah bertengkar dengan seorang wanita yang mengatakan cake di café Eric tidak enak?

Kang Hamun
*nod-nod*

Choi Jihyo
Henry yang membuat cake itu

Park Minah
Singkatnya, Henry adalah patissier di café Eric dan Hyunah yang membelanya saat itu.

Choi Jihyo
Kyaaaa, so sweet

Jung Hyunah
Aishh! Kalian ini tidak dewasa-dewasa. Aku hanya membelanya sekali bukan berarti ia langsung memiliki perasaan padaku, kan?

Jung Hyunah
Sudah, aku mau tidur. Bye, girls. Selamat tidur

Song Hyejin
Aku sudah dewasa, Hyunah

Park Minah
Aku juga! Menyebalkan!

Choi Jihyo
Onnie, aku juga sudah dewasa!

Kang Hamun
Aku setuju dengan Hyunah onnie. Onniedul, dewasalah.

Song Hyejin
Kang Hamun!!!!!!!

*****

“Hai, Hyunah ssi,” sapa Henry begitu ia melihat seseorang yang sudah ia tunggu sejak 10 menit yang lalu. Begitu Hyunah masuk, Henry segera menutup pintu café itu dan memasang tanda ‘close’.

“Sudah tidak ada yang disini?” tanya Hyunah.

“Ne, mereka semua sudah pulang. Boss juga sudah,” jawab Henry sembari ia menggunakan apron untuk melindungi bajunya. Ia juga memberikan sebuah apron untuk Hyunah.

“Jadi, mulai dari mana, sonsaengnim?” tanya Henry penuh antusias.

Hyunah tertawa mendengar Henry memanggilnya seperti itu. “Well, kau sudah memiliki skill, jadi hari ini aku ingin tahu seberapa ahli dirimu. Jika ada yang kurang sesuai, aku akan memberitahumu,”

“Call!” seru Henry senang. Ia segera menyibukan dirinya dengan tepung dan telur untuk membuat adonannya. Hyunah memperhatikan dengan seksama dan sesekali memberikan saran tambahan untuk Henry. Akhirnya setelah 60 menit berlalu, cake yang Henry buat sudah jadi.

“Coba cicipi,” kata Henry sambil memberikan cake itu pada Hyunah.

“Teksturnya terlalu lembut. Untuk cake seperti ini lebih baik jika memberikan sensasi saat menggigitnya. Coba tambahkan perasa mint di tiap lapisnya lalu buat teksturnya lebih tebal,” kata Hyunah.

Henry mengangguk tanda ia mengerti. Ia kembali membuat cake itu dari awal. Hyunah tersenyum saat melihat Henry begitu serius. Ia mencolek tepung yang ada di meja itu lalu mengusapnya di pipi Henry. Akibatnya, tangan Henry terhenti dan ia menatap Hyunah heran. “Waeyo?” tanya Henry.

Hyunah tertawa kecil melihat tampang Henry yang seperti anak kecil, ditambah lagi ada noda tepung di pipi pria itu. “Jangan lupa untuk menikmati proses saat kau membuat cake itu. Coba pikirkan ekspresi mereka yang akan memakan cake yang kau buat nanti. Kau akan lebih bersemangat,” katanya.

Henry tersenyum lalu menutup matanya. Ia mencoba membayangkan sesuai yang dikatakan Hyunah. “Kau benar, aku jadi lebih bersemangat sekarang,”

“Bagus, kau bisa kembali membuat cakenya sekarang,”

“Tapi, sebelumnya aku akan membalasmu terlebih dulu,” kata Henry sambil mencolek tiap jari tangannya dengan tepung. Melihat itu, Hyunah segera kabur tapi Henry terus mengejarnya sampai dapat.

“Kena kau,” kata Henry sambil menarik tangan Hyunah. Kini Hyunah tepat dalam pelukan Henry dan wajah mereka sangat dekat sekarang.

Hyunah merasakan jantungnya berdebar kencang saat ia menyadari Henry sedang menatapnya lekat. Ia tahu seharusnya dirinya segera menjauh namun rasanya ia tak mau lepas dari dekapan itu. Henry tersenyum lalu mengusapkan tepung yang ada di jari-jarinya ke dahi, dagu, dan kedua pipi Hyunah. Ia tertawa kecil saat melihat wajah Hyunah. “Kau seperti gumiho,” kata Henry sembari ia menjauhkan tubuhnya.

Hyunah merasa ada yang aneh dengan dirinya. Aneh sekali karena ia merasa kecewa saat Henry melepas pelukannya. Ia juga aneh menyadari jantungnya masih berdetak sampai sekarang.

*****

Jung Hyunah
Apa jantung berdebar itu menandakan orang jatuh cinta?

Park MinaH
Astaga! Tuh, kan! Kau jatuh cinta pada Henry?

Jung Hyunah
Belum pasti, makanya aku bertanya

Song Hyejin
Salah satu indikator, tapi tidak hanya itu

Choi Jihyo
Omonaaa, aku tak sabar melihat akhir hubungan ini kyaaa

Kang Hamun
Menurut pandanganku sebagai penulis, jika setelah ini onnie merasa selalu ingin bertemu dengannya dan merasa sedikit khawatir saat ia dengan gadis lain, berarti onnie jatuh cinta

Jung Hyunah
Baiklah, akan kucoba perhatikan

*****

“Maaf membuatmu repot harus datang kesini,” kata Henry pada Hyunah yang baru saja tiba di café.

‘Tidak apa-apa, aku memang ingin melihatmu,’ ujar Hyunah dalam hati.

Henry dan Hyunah memulai pelajaran membuat cake-nya. “Kalau sekarang, apa sudah pas rasanya?” tanya Henry dengan harap-harap cemas.

“Masih kurang, rasanya kurang tercampur dengan baik. Coba apelnya dipotong kecil-kecil dan diaduk bersamaan dengan adonannya,” kata Hyunah.

Meskipun sudah tengah malam dan ini sudah ke empat kalinya Henry mengulang, ia tetap semangat dan selalu tersenyum pada Hyunah. “Kenapa kau berusaha keras seperti ini, Henry shi?” tanya Hyunah.

Henry tersenyum. “Aku ingin melihatnya tersenyum saat ia memakan kue yang kubuat. Aku selalu memikirkannya saat aku membuat cake,” kata Henry.

“Siapa dia? Ibumu?” tanya Hyunah penasaran.

Henry menggelengkan kepalanya. “Dia, gadis yang kusukai,” katanya. “Ia sepertimu, Hyunah. Sangat picky dan perfeksionis. Susah untuk membuatnya mengatakan cake yang kubuat sudah sempurna,”

Hyunah merasakan sesak di dadanya. Ia tahu dengan pasti kalau hatinya terasa sakit saat Henry bilang kalau ada gadis yang sedang ia sukai saat ini.

“Hyunah ssi, kenapa melamun?” tanya Henry yang sudah beberapa kali mengibaskan tangannya di depan wajah Hyunah. “Kau lelah?” tanyanya dengan wajah khawatir.

“Ani, aku hanya memikirkan sesuatu tadi,” jawab Hyunah asal.

“Kalau yang sekarang, bagaimana?” tanya Henry.

“Ini sangat pas. Enak,” jawab Hyunah sambil memaksakan senyumnya. “Apa yang kau lakukan jika cake ini sudah sangat enak?”

Henry tersenyum. “Aku akan memberikan cake ini padanya. Aku ingin melihatnya tersenyum,” jawab Henry.

“Kapan kau akan memberikannya?”

“Secepatnya. Aku harap keberanianku juga muncul secepatnya. Aku ingin ia tahu kalau aku menyukainya,” kata Henry yang tak sadar kalau Hyunah sudah semakin terpuruk.

*****

“Onnie, waeyo?” tanya Hamun yang melihat Hyunah sedang mengaduk adonan cakenya sambil melamun.

“Hamun, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Hyunah yang kaget dengan kehadiran Hamun.

Hamun mengangkat bahunya. “Tiba-tiba saja aku ingin kesini. Mungkin lidahku ingin merasakan cake buatan onnie,” jawab Hamun seadanya yang berhasil membuat Hyunah tertawa. Hyunah menyuruh Hamun duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan kursus itu sedangkan ia mengambil salah satu cake favorit Hamun yang selalu ada di kulkasnya.

“Dark sweet chocolate,” kata Hyunah sambil memberikan cake itu pada Hamun.

“You’re the best,” kata Hamun saat ia sudah menyuapkan cake itu kedalam mulutnya.

“Ah, sebenarnya aku kesini karena ada yang ingin kutanyakan,” ujar Hamun.

“Apa itu?”

“Sudah berapa lama onnie tidak ke café untuk mengajari Henry?” tanya Hamun.

“Dua minggu,” jawab Hyunah dengan lemas.

“Tanpa memberi kabar padanya?”

Hyunah menggeleng, “Toh, dia tidak akan mencariku. Ia pasti tahu aku tidak bisa datang karena sibuk,”

“Dia mencemaskanmu, onnie. Saat aku ke café tadi, ia menghampiriku hanya untuk bertanya tentang dirimu,” kata Hamun.

Hyunah tertawa kecil. “Itu dia masalahnya. Ia terlalu baik. Membuat aku berharap,”

“Ada apa onnie?”

“Dia suka wanita lain. Dia berusaha keras untuk bisa membuat cake yang enak demi gadis itu. Bagaimana aku bisa mengajarinya?”

“Lalu onnie memilih untuk melarikan diri?” tanya Hamun yang tak bisa Hyunah jawab.

“Aku tahu, pengalaman cintaku sangat minim dibandingkan onniedul, karena itu aku akan memberikan sudut pandangku sebagai penulis. Saat seseorang tahu kalau ia dicintai dan diperjuangkan, ia pasti akan bahagia. Onnie, kau tak ingin kalah tanpa melakukan sesuatu, kan? Onnie juga harus berjuang dengan caramu seperti Henry berjuang untuk gadis yang ia suka. Dengan demikian, ada kemungkinan ia akan mempertimbangkanmu, onnie,” kata Hamun.

“Bagaimana kalau setelah itu akhirnya ia menjauhiku?” tanya Hyunah khawatir.

“Berarti ia bukan pria yang pantas untuk menerima cinta onnie. Seorang pria dewasa pasti akan mengharga perasaan seseorang yang mencintainya,” kata Hamun.

*****

“Annyeonghaseyo, Hyunah ssi. Apa kabar?” sapa seorang butler saat Hyunah datang ke café itu.

“Siapa namamu?” tanya Hyunah.

“Ahn Jaehyun, nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya butler itu dengan sopan.

“Aku ingin bertemu dengan Henry. Apa dia ada?”

“Di dapur, nona,” jawaban Jaehyun. Tanpa menunggu lebih lama, Hyunah segera berjalan kearah dapur. Ia bisa melihat beberapa butler sedang berbicara dengan Henry.

“Mianhe, apa aku boleh berbicara dengan Henry?” tanya Hyunah yang membuat Henry tersadar akan kehadiran gadis itu. Henry segera berjalan ke tempat Hyunah berdiri sekarang.

“Hyunah ssi, akhirnya kau datang juga. Aku mengkhawatirkanmu,” kata Henry. “Kau sehat-sehat saja, kan? Tidak sakit? Tidak kelelahan?” tanya Henry.

Hyunah menggeleng. Ia menghela nafas panjang untuk menenangkan jantungnya. “Aku kesini untuk mengatakan sesuatu,” kata Hyunah.

“Kau ada masalah, Hyunah ssi? Baiklah, aku akan mendengarkan,” kata Henry.

Hyunah mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Henry. “Namaku Jung Hyunah. Aku seorang patissier ternama yang sudah sering menjadi juri di acara TV.”

Hyunah memberikan kartu lain pada Henry. “Aku juga mendapat lisensi sebagai seorang tester makanan yang tarafnya Internasional,”

“Aku juga membuka sebuah kursus membuat cake dan menjadi pengajar di tempat itu,” kata Hyunah.

Henry tersenyum mendengar semua itu. “Ne, kau memang wanita yang hebat,” pujinya.

Air mata Hyunah mengalir melihat senyum Henry itu. Ia berpikir, andaikan saja senyum itu tercipta khusus untuknya. Andai saja gadis yang Henry sukai adalah dirinya. Hyunah menghapus air matanya saat menyadari kalau Henry sudah menatapnya dengan tampang khawatir.

“Tapi, saat ini aku datang kepadamu sebagai seorang wanita biasa. Seorang wanita yang jatuh cinta kepada seorang pria. Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya mengendalikan perasaan ini. Aku takut kau akan menjauhiku setelah ini tapi aku ingin kau tahu kalau aku menyayangimu,” kata Hyunah.

“Kau pernah bertanya imbalan apa yang kuinginkan sebagai ganti aku mengajarimu. Aku sudah tahu jawabannya sekarang. Aku ingin sebelum kau menyatakan perasaanmu pada gadis itu, aku mohon pertimbangkan diriku,” lanjutnya Hyunah. Tepat diakhir kalimatnya itu, tangisnya menderas.

“Lee Jongsuk, Kang Haenul, Lee Hyunwoo, keluarlah. Aku ada urusan dengan wanita ini,” kata Henry yang langsung membuat ketiga butler itu keluar walaupun sebenarnya ia penasaran dengan kelanjutan kisah Henry.

Tanpa Hyunah sadari, Henry pergi sesaat ke arah kulkas dan kembali kepada Hyunah dengan sebuah cake. “Cobalah,” ujar Henry.

Hyunah menggeleng. “Kalau cake ini sudah enak, kau akan menyatakan perasaanmu pada gadis itu, kan?” tebak Hyunah.

Henry mengangkat wajah Hyunah lalu mengusap air mata yang jatuh diwajah Hyunah. Saat ia melihat wajah wanita itu, Henry tersenyum lembut. “Kalau kau bilang cake ini enak, aku tidak jadi menyatakan perasaanku pada gadis yang kusukai,”

“Jeongmal? Waeyo?” tanya Hyunah.

Tiba-tiba saja, Henry mengecup bibir Hyunah. Hyunah terkesiap namun ia tidak menolak. Wajah Hyunah memerah saat Henry menatapnya lekat. “Ke-ke-kenapa kau menciumku?”

Senyum Henry rasanya tidak akan hilang selama ia dapat melihat wajah wanita ini. “Aku tak akan menyatakan perasaanku karena gadis yang aku sukai sudah menyatakan perasaannya terlebih dahulu dan aku menciummu, karena aku mencintaimu,” katanya sembari memeluk Hyunah.

Mendengar itu, Hyunah kembali menangis karena bahagia. Sebagian dari dirinya belum percaya dengan apa yang ia dengar. “Lalu kenapa kau bilang gadis yang kau sukai mirip denganku? Kenapa saat itu kau tidak bilang kau suka padaku?” tanya Hyunah

“Aku ingin menyatakan perasaanku dengan keren. Makanya aku minta kau mengajariku membuat cake yang sesuai dengan seleramu. Tapi akhirnya malah kau yang menyatakan perasaanmu duluan,” kata Henry. “Kau wanita yang luar biasa. Aku khawatir, karena aku hanya seorang pria biasa. Karena itu, saat ini aku berusaha keras untuk menjadi seorang pria yang pantas untukmu,” lanjutnya.

Hyunah melepas pelukan itu. Ia menghapus air matanya lalu memberikan senyumannya pada Henry. “Terima kasih karena kau berjuang untukku. Sini, aku cicipi kue yang kau buat,” kata Hyunah.

Hyunah mencicipi cake itu. “Ini enak sekali. Lebih enak bahkan dari cake yang terakhir kita buat!” kata Hyunah dengan gembira.

Henry sangat senang melihat wajah Hyunah yang tersenyum saat menikmati cake yang ia buat. “Benarkah? Aku belum mencobanya. Aku juga ingin mencicipinya,” kata Henry.

Hyunah memotong cake itu dan menyuapkan potongan kecilnya pada Henry. Henry tersenyum. Ia mengambil garpu yang ada ditangan Hyunah itu dan kembali meletakannya di piring cake itu. Ia memilih untuk mencium bibir Hyunah sekali lagi. Kali ini lebih lama dan lembut.

“Hm, kau benar, kuenya enak,” ucap Henry setelah ia melepaskan bibirnya

“Wajahmu merah, Henry,” kata Hyunah sambil tertawa.

Henry mengalihkan wajahnya. “Itu karena akan menambahkan wine di cakenya,”

Hyunah mencubi pipi Henry. “Kau hanya mencicipi cake yang menempel dibibirku. Tak mungkin winenya memberikan efek padamu. Kau malu, baby?” tanya Hyunah.

“Wajahmu sama merahnya sepertiku, baby. I love you,” kata Henry sambil mencium kedua pipi Hyunah yang memerah.

*****

“Aish, beruntung sekali Henry mendapatkan nona Hyunah. Ia sangat cantik, lembut, pintar memasak pula,” kata Haenul yang sejak tadi mengintip di ambang pintu dapur.

“Benar-benar wife material. Aish, tahu begitu aku juga mengejarnya dari dulu,” kata Ahn Jaehyun.

“Kalian sedang lihat apa?” tanya Eric yang membuat kedua butler itu segera membetulkan posisinya.

“A-aniya, bos. Kami hanya-,”

“Kembali ke café sana!” perintah Eric yang membuat Jaehyun dan Haneul berjalan cepat menuju café. Tanpa sepengetahuan siapapun, Eric mengintip juga apa yang terjadi di dapur. Ia tersenyum saat melihat hal itu.

Eric Mun
Well, Happy Ending

Park Minah
Jeongmalyo? Kyaaaa!!! Thank you infonya sayangku! Aku akan menemuimu nanti malam!

Eric Mun
Jangan pakai baju terlalu seksi kalau tidak ingin kuserang Hahaha

Eric Mun
Aku menunggumu

*****

Kkeut!
Thank you for reading!!
Ready for the next couple? kekekeke
Try to guess!