Cho Kyuhyun’s POV

Hari ini aku kembali melihatnya termenung menatap smartphone miliknya. Meski tahun berganti, ia tetap menunggunya. Meskipun tak ada kabar apapun dari pria itu, ia tetap berharap. Sesuai ciri khasnya yang keras kepala.

“Apa belum ada kabar dari Donghae?” tanyaku tulus, walau gadis itu menganggap lain pertanyaanku. Ia menatapku dengan mata yang sama selama dua tahun ini, penuh dengan kemarahan. Ia tahu dengan pasti bagaimana cara untuk membuat hatiku terasa sakit.

“Jangan bertanya seolah-olah kau peduli. Kau senang, kan, melihatku seperti ini?” ujarnya.

Tidak, percayalah, aku rela mengorbankan apapun agar kau tidak lagi memandangku seperti itu. Tapi aku lebih memilih untuk terdiam.Tidak berusaha memberikan jawaban itu. Ia tak akan pernah mempercayainya, yang ada hatiku hanya akan merasakan sakit yang lebih dalam lagi.

“Makanan sudah siap, Hyejin. Kalau kau tak keberatan, aku ingin makan bersama,” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak lapar. Pergilah, aku ingin sendirian,” katanya.

Aku melakukan apa yang ia mau. Dalam kesendirian ini, tiba-tiba setetes air mata lolos. Dadaku terasa sesak mengingat bagaimana ia memandangku, bagaimana ia tidak mencintaiku, dan bagaimana ia masih menunggu pria itu. Apakah perasaanku ini tidak sampai padamu? Aku sudah memutuskan sejak lama. Sama sepertimu, aku juga akan tetap menunggumu. Kurasa sifat keras kepalamu sudah menular padaku.

Aku mencintaimu, Hyejin. Sangat mencintaimu. Kata yang tak bisa kuucapkan karena sampai kapan pun kau tak akan pernah mempercayainya.

*****

Lee Donghae’s POV

“Oppa, apa yang kau kerjakan?” tanya gadis yang ada di sampingku ini.

“Aku sedang membaca bahan yang menjadi sumber presentasiku di perusahaan minggu depan,” jawabku tanpa mengalihkan fokusku.

“Baiklah, karena oppa sedang sibuk, aku juga akan menyibukan diriku dengan buku-buku psikologiku ini. Kencan sambil belajar sepertinya tidak buruk,” katanya.

Ucapannya membuat perhatianku teralih. Aku memperhatikan dirinya yang sedang fokus membaca buku miliknya. Semakin melihatnya, aku semakin sadar ia sangat berbeda dengan Hyejin. Jika aku bersikap seperti tadi pada Hyejin, gadis itu pasti sudah menutup laptopku dan mengajakku berbincang.

Hamun adalah adik sahabatku di Amerika ini. Gadis pertama yang selalu berusaha untuk membuatku tertawa tanpa memikirkan dirinya sendiri. Ia satu-satunya perempuan yang berhasil membuatku ingin belajar mencintai sekali lagi. Sejak 6 bulan yang lalu kami berpacaran dan saat ini aku ingin belajar mencintainya. Dirinya yang jauh berbeda dari Hyejin.

Aku mematikan laptopku dan menutup buku yang sedang ia baca. Hamun menatapku penuh heran sekarang. “Waeyo, oppa?” tanyanya bingung.

Aku tersenyum padanya. Aku tahu pasti kalau ini adalah perasaanku yang tulus. “Maafkan aku. Padahal aku yang mengajakmu bertemu siang ini tapi aku malah mengacuhkanmu,” kataku.

“Aku bisa mengerti, oppa. Kau sudah cerita padaku kalau presentasi itu sangat penting bagimu. Kau tak perlu minta maaf,” jawabnya.

Aku menggenggam tangannya erat. “Hamun,” panggilku.

Ia tersenyum padaku, membuatku merasa tenang dan damai. Rasa yang selalu ia berikan padaku tiap kali aku bersamanya. “Oppa, pegang perkataanku. Aku akan membuatmu bahagia. Aku tak ingin melihatmu terpuruk seperti saat kau pertama kali datang ke Amerika,” ujar Hamun.

“Tapi, kau boleh menjadi egois jika hal itu menyangkut diriku,”

“Oppa, aku tahu kapan harus bersikap seperti itu. Tenang saja ya,”

Aku mencium bibirnya lembut setelah ia selesai berbicara. “Gomawo,”

Dia tersipu malu. “Kalau oppaku melihat ini, ia akan memukulmu,”

Aku tertawa mendengar perkataannya. “Saat aku memutuskan untuk berpacaran dengamu, aku sudah siap dengan resiko sister complex oppamu itu. Aku sudah memikirkan semuanya karena aku ingin serius dengan hubungan ini. Karena itu, apa kau mau menemui keluargaku di Korea, Hamun?” tanyaku padanya. Aku serius, dengan perkataanku dan komitmenku. Aku ingin belajar mencintai Hamun, lebih besar daripada aku pernah menyayangi Hyejin.

*****

Song Hyejin’s POV

Kedua orang tua Kyuhyun mengajak kami makan malam di salah satu restaurant favoritku. Kalau bukan karena mereka, aku tak akan keluar berdua dengan Kyuhyun seperti sekarang ini.

“Omma dan appa akan telat sekitar satu jam karena ada urusan bisnis yang harus diselesaikan,” kata Kyuhyun setelah ia membaca pesan yang sampai di smartphonenya. Aku tak berkomentar apapun. Aku langsung turun dari mobil dan berjalan menuju restaurant tanpa menunggu Kyuhyun lebih dulu.

“Untuk berapa orang, madam?” tanya waiter yang menyambutku. Aku memberitahunya dan ia membawaku menuju meja yang cukup untuk keluarga Kyuhyun.

Tubuhku tiba-tiba terpaku. Langkahku tak bisa kulanjutkan, jantungku mulai berdebar kencang, dan nafasku sudah tidak beraturan. Semua ini diakibatkan karena mataku melihat seseorang yang selama ini kutunggu, Lee Donghae. Ia duduk di meja itu dan akhirnya ia menyadari keberadaanku. Ia juga terpaku seperti diriku sekarang. Matanya menatapku lekat.

“Ada apa, Hyejin?” tanya Kyuhyun yang sudah tiba di belakangku. Aku tak menjawab, namun aku yakin Kyuhyun juga melihat Donghae.

“Donghae ssi,” panggil Kyuhyun mewakiliku yang tidak bisa bersuara saking kagetnya, atau lebih tepatnya aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Donghae tersenyum, aku tahu senyum itu untuk Kyuhyun karena ia sudah tidak menatapku lagi. Katanya, “Hai, Kyuhyun ssi.”

Kyuhyun merangkul pundakku seakan memberikanku kekuatan untuk bisa berjalan menuju meja Donghae. Begitu kami tiba di mejanya, Donghae berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Kyuhyun dan juga untukku.

“Bagaimana kabar kalian?” tanya Donghae.

“Kami baik-baik saja,” jawab Kyuhyun.

“Ani, aku tidak baik-baik saja,” jawabku. “Kau.. kenapa kau tak pernah menjawab teleponku?” tanyaku tanpa bisa kutahan. Aku menatapnya, sama sepertinya yang saat ini menatapku lirih. Aku ingin memeluknya saat ini juga dan mengatakan padanya kalau aku sangat merindukannya.

“Oppa, mereka teman-teman oppa disini?” tanya sebuah suara yang menyadarkanku kalau ada gadis lain di meja itu.

“Ne, Hamun,” kata Donghae dengan lembut pada gadis itu. Kini Donghae menatapku dan Kyuhyun. “Perkenalkan, Kyuhyun ssi, Hyejin ssi, dia Kang Hamun. Gadis yang saat ini aku cintai,” katanya.

Air mataku langsung mengalir mendengar perkataan itu. Tidak mungkin. Donghae pasti bohong. Dia hanya bisa mencintaiku. Aku mencengkram lengan Kyuhyun meminta pertolongannya. Aku tak kuat jika harus berada disini lebih lama lagi.

*****

Kang Hamun’s POV

Aku mengaduk dan menyesap kopiku. Sesekali aku melihat pria itu tampak bimbang di tempat duduknya.

“Kang Hamun ssi, Lee Donghae sangat mencintai Song Hyejin, istriku,” katanya. “Perasaan itu tak akan pernah hilang dari hatinya,”

“Aku tahu,” jawabku sembari meletakan cangkir yang kupegang tadi. “Aku bisa melihat hal itu dari caranya menatap istrimu. Awalnya aku ingin menyangkal perasaanku ini, tapi sepertinya tidak bisa lagi,” kataku sambil menyunggingkan senyum sebisaku. Sejak malam itu aku bertemu dengan Kyuhun dan Hyejin di restaurant ini, aku akhirnya sadar kalau hatinya sejak awal tidak menjadi milikku. Bahkan sampai saat ini ia masih begitu mencintai Hyejin, bukan diriku.

“Aku sangat mencintai Hyejin,” ujarnya. Aku terdiam, menanti kelanjutannya. Aku bisa melihat wajahnya yang penuh kesedihan dan tampak tersakiti. “Setelah ia bertemu Donghae di tempat ini, ia menjadi depresi. Ia telalu terdiam, tak mau makan, tak mau melakukan apapun. Ia terlihat kosong. Aku tak sanggup melihatnya menderita seperti itu. Lebih baik aku yang menderita,” jawabnya. Aku bisa melihat setetes air mata keluar dari matanya. Sekuat tenaga, aku menahan diriku untuk tidak ikut menangis. Aku bisa mengerti perasaan pria ini, mencintai tanpa dicintai. Aku pun yakin, ia jauh lebih tersakiti dibandingkan diriku.

“Lalu, apa tujuanmu mengajakku bertemu di tempat ini?” tanyaku setenang mungkin.

“Tinggalkan Donghae, Kang Hamun ssi. Biarkan pria itu bahagia dengan Hyejin,” katanya.

Dadaku terasa sesak seketika. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku sangat menyayang Donghae, aku tak bisa meninggalkannya. Terutama untuk wanita lain. Apa tak bisa jika aku saja yang membahagiakannya? Apakah harus Hyejin?

“Hanya Hyejin yang dapat membuat Donghae bahagia,” kata Kyuhyun sambil menatapku lekat. “Aku tahu kau sangat menyayangi Donghae seperti aku menyayangi Hyejin. Kau juga ingin Donghae bahagia, kan, Kang Hamun ssi?”

*****

Cho Kyuhyun’s POV

Begitu aku bangun pagi ini, aku tersadar hari ini akan menjadi hari terakhir aku menjadi seorang suami. Hari ini, aku akan resmi bercerai dari istriku, satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini namun hatinya tidak pernah mencintaiku. Pengacaraku sudah menyelesaikan semua urusan perceraian, dengan sebuah tanda tangan lagi, tidak akan ada yang bernama Cho Hyejin di daftar anggota keluargaku. Aku ingin menangis tapi jika ini yang membahagiakannya, aku akan melakukannya.

“Ini,” kataku sambil menyerahkan dokumen perceraian kepada wanita yang selama 2 minggu ini selalu mengurung dirinya di kamar, calon mantan istriku.

“Apa ini?” tanyanya.

Aku hanya menaikkan alisku. Aku tidak sanggup untuk mengatakan padanya bahwa isi amplop yang sedang ia pegang itu adalah dokumen perceraian.

Hyejin mengeluarkan dokumen tersebut dan membacanya sebentar. “I-ini?,” tanyanya seakan ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Maaf agak lama mengurusnya,” kataku dengan penuh penyesalan. Seharusnya, aku tidak pernah mengurusnya. “Kau tinggal menandatanganinya saja dan kita resmi bercerai,” kataku memberitahu bagian terpenting dari proses perpisahan ini.

Ia menatapku, seakan menanti penjelasan dariku. “Kau bebas, Hyejin. Kau boleh pergi dengan Donghae sekarang,” kataku, bertentangan dengan hatiku yang sesungguhnya tak mau melepaskannya.

*****

Kang Hamun’s POV

Aku tersenyum melihat Donghae yang tampak lahap menghabiskan makanannya. “Yaa, oppa, pelan-pelan kalau makan,” ujarku mengingatkannya.

“Aku sudah sangat rindu pasta, Hamun. Kau tahu sendiri aku sangat menyukai pasta,” katanya. Aku menjulurkan tanganku sehingga dapat menghapus saos yang ada diujung bibirnya. “Makanlah sepuasnya, oppa” kataku.

Setelah Donghae oppa selesai makan, kami mulai berbincang. “Oppa, kau ingat perkataanku kalau aku akan selalu membuatmu bahagia?” tanyaku.

“Tentu saja,” jawabnya.

“Aku akan membuat hal itu menjadi nyata,”

“Caranya? Memang kau tahu apa yang saat ini sangat kuinginkan?” tanyanya penasaran. Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke arahnya. Aku berdiri dibelakang kursinya dan menutup kedua matanya dengan tanganku. “Hitung sampai 10,” perintahku.

Donghae melakukan seperti apa yang aku mau. Saat ia berhitung, aku bisa melihat wanita yang ia cintai sedang berjalan mendekati meja kami. Ia menatapku sambil tersenyum lalu duduk di kursiku tadi. Aku menghela nafas panjang, mengingatkan diriku kalau aku harus baik-baik saja. Dihitungan ketiga, aku melepaskan tanganku dari matanya.

“Hyejin?” ujar Donghae yang tampaknya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Donghae memutar tubuhnya sehingga saat ini ia bisa melihatku. “Apa maksudnya, Hamun?” tanyanya.

Aku tersenyum padanya. “Aku tahu tentang dirimu dan Hyejin dari Kyuhyun. Aku juga tahu sampai saat ini oppa masih menyayanginya,” kataku.

“Kyuhyun salah, Hamun,” sangkal Donghae.

“Oppa, bukan Kyuhyun yang bilang kalau oppa masih mencintai Hyejin. Aku sendiri yang menyadarinya sejak hari itu,” jawabku yang membuatnya terdiam.

Aku menggenggam tangannya dan menatapnya lekat. Aku sangat ingin mengatakan padanya kalau aku mencintainya, tapi aku tidak bisa. “Oppa, aku hanya ingin kau bahagia. Aku sudah melakukan bagianku. Sekarang dan seterusnya, berbahagialah dengan Hyejin. Wanita yang sangat kau cintai.” Aku tersenyum padanya, meyakinkan padanya aku baik-baik saja. Aku melepaskan tangan Donghae dari tanganku. Aku sadar diri, kini sudah saatnya aku harus pergi.

“Bye, Hyejin onnie, Donghae oppa,” pamitku pada mereka. Aku berjalan dengan langkah yang pasti, meyakinkan diriku kalau aku tidak menyesali keputusanku. Saat aku membuka pintu restaurant itu, aku melihat Kyuhyun berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum lirih padaku.

“Nice acting,” katanya padaku. “Masuklah, aku akan mengantarmu pulang,” lanjutnya sembari membukakan pintu mobil itu untukku. Sebelum ia menjalankan mesin mobil itu, ia berkata padaku, “Hanya ada kita saat ini. Menangislah,” katanya.

Detik itu juga, air mataku mengalir. Sangat deras, nyaris histeris. Hatiku sangat sakit membayangkan Hyejin dan Donghae. Akan tetapi, rasa sakitku bertambah saat Kyuhyun mengelus kepalaku dengan lembut. Aku tahu ia sedang berusaha keras menyembunyikan air matanya saat ini. Akhirnya kini aku juga menangis, menggantikan dirinya yang hatinya hancur.

*****

Song Hyejin’s POV

Aku menatap pria yang sedang berdiri di tengah balkon kamar kami. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Aku tak menyangka saat ini akau berada sangat dekat dengannya.

“Oppa, bagaimana kabarmu?” tanyaku tanpa berniat melepaskan pelukanku.

“Aku baik-baik saja, Hyejin,” jawabnya yang membuat hatiku makin tenang.

“Oppa, aku tak menyangka bisa memelukmu lagi seperti ini,” kataku. Donghae oppa tidak memberikan jawaban apapun. Ia hanya terdiam.

“Bawa aku ke Amerika, oppa. Kyuhyun sudah memberikan surat cerai padaku. Aku hanya perlu menandatanganinya. Setelah itu, kita bisa memulai segala sesuatunya dari awal oppa,” kataku.

Donghae melepaskan tanganku dari tubuhnya. Ia memutar tubuhnya sehingga kini kami saling berhadapan. “Hyejin, aku tak bisa melakukan itu,” katanya.

“Maksud, oppa?” tanyaku tak mengerti.

“Hyejin, seseorang yang bisa membuatmu benar-benar bahagia bukan aku tetapi Kyuhyun. Kau sendiri sudah lihat bagaimana ia berkorban untukmu, kan? Cobalah untuk mencintainya, Hyejin,” katanya padaku.

Air mataku mengalir mendengar ucapannya. Aku tak mengerti dengan dirinya. Ia mencintaiku tapi ia menyuruhku untuk bahagia dengan pria lain. “Aku tak bisa jika bukan denganmu, oppa. Aku mencintaimu. Kau juga mencintaiku, kan?”

Donghae memegang kedua pundakku dan menatapku lurus. “Aku sudah memutuskan untuk melupakanmu dan belajar mencintai Hamun. Sama seperti Kyuhyun, Hamun juga mencintaiku sampai ia rela mengorbankan perasaannya. Aku tak ingin menjadi egois. Aku juga ingin bisa mencintai Hamun seperti itu,”

“Tapi yang bisa membuatmu bahagia hanya aku, oppa!” ujarku mengingatkannya.

Ia tersenyum lalu membelai wajahku. “Bahagia itu pilihan, Hyejin, dan aku memilih untuk bahagia bersama Hamun. Sadarlah, Hye. Kau juga bisa bahagia dengan Kyuhyun kalau kau mau mencoba membuka hatimu,”

Air mataku menderas. Aku tak mau mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Donghae. Aku hanya ingin bersamanya, bukan Kyuhyun, dan aku tak mau melihatnya bersama dengan Hamun. Aku memeluknya erat, tak mau melepaskannya.

*****

Cho Kyuhyun’s POV

Hatiku sakit melihatnya menangis sendirian. Aku menghampirinya dan menariknya dalam pelukanku. “Lee Donghae meninggalkanku. Ia memilih Hamun,” katanya lalu tangisnya kembali menderas.

“Hatiku sakit. Aku tak kuat. Aku tak punya siapa-siapa selain kau,” katanya. Aku semakin mengeratkan pelukanku.

“Hm, terima kasih kau ingat kalau aku akan selalu ada untukmu,” kataku padanya. “Aku akan menemanimu disini sampai kau tenang,” ujarku padanya

*****

Lee Donghae’s POV

Aku tersenyum saat melihatnya dari kejauhan. Gadis yang rela mengorbankan perasaannya hanya untuk membuat pria sepertiku bahagia. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku mencarimu di rumahku, ternyata kau sudah kembali ke Amerika. Aku mencarimu di rumahmu, kata oppamu kau sedang ada di kampus. Buku apa yang kau baca? Serius sekali,” tanyaku. Ia menengadahkan kepalanya dan kini ia sudah menatapku dengan tampang tidak percaya.

“Ba-bagaimana oppa bisa disini?” tanyanya.

“Pesawat,” jawabku setengah bercanda yang Hamun respon dengan memukulku menggunakan buku bacaannya.

“Bukan itu maksudku,” ucapnya dengan serius.

Aku tersenyum padanya. “Jangan keras-keras, kita di perpustakaan,” ujarku mengingatkannya.

“Bagaimana dengan Hyejin onnie?” tanyanya, sangat jelas ia tampak khawatir sekarang.

Aku menggenggam tangannya. “Aku memilihmu, Hamun. Aku mencintaimu,” kataku dengan tegas. Ya, aku ingin dia tahu perasaanku padanya. “Aku tidak akan pernah lupa bagaimana dulu aku sangat mencintai Hyejin. Ia tetap menjadi wanita yang penting dalam hatiku. Tapi, kau, orang yang kusayangi saat ini dan selamanya. Aku telah memberikan seluruh hatiku padamu, Hamun,”

Hamun menatapku dengan tampang kaget, seakan ia butuh waktu untuk mencerna perkataanku tadi. Aku bisa melihat air mata Hamun tiba-tiba mengalir. Aku mengusap air matanya dan mencium bibirnya. “Sama sepertimu. Aku juga akan selalu membuatmu bahagia. Karena itu, Kang Hamun, apa aku boleh kembali padamu? Kali ini aku janji, aku tak akan membiarkanmu melepaskanku lagi seperti kemarin,”

Meski air matanya masih mengalir, aku bisa melihat Hamun tertawa kecil mendengar ucapanku. “Saat ini, aku memberikanmu kesempatan terakhir. Kau boleh kembali kepada Hyejin onnie sekarang,” katanya sambil tersenyum lirih padaku.

Aku kembali mengecup bibirnya. Aku ingin ia yakin pada perasaanku padanya. “Aku tak akan kemana-mana,” jawabku.

Air matanya kembali mengalir setelah ia mendengar jawabnku. “Kali ini, aku tak akan melepaskanmu walaupun oppa yang minta,” katanya sambil tersenyum. Aku kembali menghapus air matanya yang lagi-lagi jatuh karena diriku. Aku mengecup keningnya. Aku berjanji Hamun, aku akan mengganti semua air matamu dengan kebahagiaan. Aku akan menjamin, suatu saat jika kau menangis, itu adalah air mata kebahagiaan.

Aku sangat berterima kasih padamu, Hamun, karena kau yang menemukanku saat aku sedang terpuruk. Aku beruntung bisa dicintai olehmu yang mencintaiku dengan tulus. Mulai saat ini, aku akan mencintaimu dengan seluruh hatiku. Aku akan mengorbankan apapun agar kau bahagia, Kang Hamun.

Hyejin, aku tahu keputusanku tidak salah karena itu, aku harap kau juga menemukan kebahagiaanmu dengan Kyuhyun. Saat kau sudah benar-benar mencintainya, aku yakin kau akan sangat bahagia.

*****

Cho Kyuhyun’s POV

Hyejin mendatangi ruanganku. Aku melihat dokumen perceraian kami di tangan kanannya. Perlahan namun pasti, ia semakin dekat padaku. “Hai,” sapanya.

Sambil berusaha tersenyum, aku menyahutnya, “Hai.”

Hyejin duduk di hadapanku dan menyerahkan dokumen perceraian kami kepadaku. Dengan tangan gemetaran, aku menerima dokumen tersebut. Aku berharap ada seseorang yang merebut dokumen ini lalu merobek-robeknya agar perceraian ini tidak terjadi.

Tidak. Tidak boleh berkhayal terlalu jauh, Kyu.

Aku membuka dokumen perceraian itu, mengecek setiap lembarnya dengan teliti. “Kau belum menandatanganinya, Hye,” kataku.

Hyejin hanya menatapku. “Hye, kau belum menandatangani dokumen perceraian ini,” ulangku sekali lagi. Hye masih hanya menatapku.

“Hye…”

“Aku berubah pikiran,” katanya.

Apa?!

“Maksudmu?”

Hyejin menghela nafas panjang sebelum bicara panjang lebar kepadaku. “Aku tidak tahu apa aku bisa mencintaimu sebesar kau mencintaiku. Aku juga tidak tahu apa kau bisa memaafkan aku atas apa yang selama ini kulakukan padamu. Kau tahu, menikah denganmu tapi mencintai pria lain. Aku tahu rasanya sangat menyakitkan. Pasti. Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin belajar mencintai pria yang telah mengorbankan banyak hal untukku. Aku mau membatalkan perceraian. Bagaimana? Menurutmu? Aku tidak memaksa jika kau ingin tetap bercerai.”

*****

Song Hyejin’s POV

Rasanya ternyata sangat menyenangkan ketika sebuah lenguhan malas di pagi hari bisa mendatangkan sebuah sentuhan yang sangat nyaman dan menghangatkan sekujur tubuh.

“Kau mau tidur sampai kapan, nyonya Cho? Sekarang sudah hampir tengah hari,” kata Kyuhyun dalam jarak yang sangat dekat.

Ia berbaring di sebelahku dengan tangannya yang memelukku erat. “Aku masih mau tidur. Kau tidak pergi ke kantor?” Tanyaku melihat Kyuhyun yang sudah berpakaian rapi namun entah kenapa tetap berada di atas tempat tidur ini.

“Tadinya aku berpikiran begitu tapi aku tidak mau pergi tanpa ciuman dari istriku,” katanya dengan manja, membuatku gemas.

Aku tersenyum geli dan tidak bisa menahan keinginanku untuk tidak menciumnya. “Selamat bekerja. Aku mau kembali tidur,” kataku.

Kyuhyun menatapku dan menyeringai jahil. “Aku 3 jam menunggumu bangun dan kau hanya memberikan sebuah ciuman?”

“Kau bilang kau tidak bisa pergi tanpa ciuman dariku. Aku sudah memberikannya, jadi kau sudah bisa pergi sekarang kan?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Tangannya menarikku lebih dekat ke tubuhnya. Telapak tangannya terasa sangat kokoh mencengkram punggung polosku. “Aku berubah pikiran. Aku tidak ingin pergi. Aku ingin bercinta saja denganmu. Sepanjang hari,” katanya.

Tawaku meledak seketika. Kami baru menyelesaikan malam yang sangat panjang, bahkan sampai pagi hari menjelang dan aku baru istirahat beberapa jam. “Bagaimana kalau kau pergi kerja dulu? Sepulang kerja, baru kita lanjutkan?”

Kyuhyun kembali menggelengkan kepalanya. “Aku menunggu 2 tahun untuk melakukan hal ini denganmu, sayang. Rasakan akibatnya sekarang,” katanya.

“Kau menyalahkanku? Humm?”

Kali ini Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Anggap saja ini sebagai hukuman karena menolak cintaku selama 2 tahun,” ujarnya dengan tatapan yang sangat sangat menggemaskan.

“Kau menyalahkanku.”

Aku membalikkan posisi. Dengan cepat, aku menaiki tubuh Kyuhyun, melepas kemejanya dan melumat bibir tebalnya dengan rakus. “Rasakan!” Tegasku dengan menghujaninya ciuman-ciuman yang membangkitkan insting terliarnya namun aku membatasinya. Aku tidak akan membiarkannya menjajah tubuhku.

“Awas kau, nyonya Cho!” Erangnya kesal ketika aku memutuskan aku yang memimpin permainan.

“Aku mencintaimu,” bisikku tepat di telinga yang membuatnya mengerang lebih keras dan meledakkan tawaku karena berhasil membuatnya bergerak hanya sesuai dengan keinginanku.

Jika aku tahu bercinta dengan orang yang kita cintai seindah ini, seharusnya sejak dua tahun lalu aku memutuskan untuk melupakan Donghae Oppa dan menyerahkan cintaku pada pria di bawahku yang entah kenapa membuatku selalu ingin berada dalam dekapannya, meskipun terpaut jarak ribuan kilometer. Aku akan menyusulnya, jika sudah tidak bisa menahan kerinduanku.

*****
Kkeut!

xoxo @gyumontic