Kyuhyun membuka pintu kamarnya lebar-lebar, selebar senyuman yang terukir di wajahnya, dan hal pertama yang aku lakukan adalah mendorongnya masuk ke dalam kamar lalu memeluk dan menciumnya dengan erat. Dengan susah payah, Kyuhyun menutup pintu kamar hotelnya yang sudah ia tempati 4 hari. Namun aku sangat yakin ia tidak keberatan.

Aku melepaskan Kyuhyun setelah aku merasa cukup puas telah bertemu dengannya, memeluknya dan menciumnya, setelah 2 minggu sama sekali tidak melihatnya. “Apa kabar? Kau makin gendut. Makanmu pasti sangat banyak,” ujarku santai sambil berlalu duduk di atas tempat tidur Kyuhyun.

Kyuhyun menatapku sambil tertawa. “Justru sebaliknya. Aku tidak boleh makan karena pakaianku mulai sempit. Para stylist noona tidak mau membeli pakaian-pakaian baru untukku kalau aku makin gendut,” sahut Kyuhyun.

Aku menertawakannya. Kalau aku jadi stylist Kyuhyun, aku juga tidak mau membelikan pakaian baru untuknya. Lebih baik pria itu diet atau biar saja ia memakai pakaian-pakaian ketat yang menunjukkan setiap lekuk tubuhnya, juga lemaknya. Aku rasa Kyuhyun akan terlihat lebih seksi.

“Kalau aku jadi stylist-mu, aku juga tidak mau membelikan baju baru karena kau menggendut,” kataku.

“Waaeyo?”

Aku menatap Kyuhyun sambil tersenyum jahil. “Kau lebih seksi dengan kemeja sempit, pas badan,” kataku membuat Kyuhyun terbahak-bahak namun kemudian menciumku.

“Baiklah kalau begitu. Aku seksi,” ujarnya. “Kau kerasukan apa, Hye? Kenapa tiba-tiba datang ke Kobe hanya untuk menemuiku? Padahal besok pagi aku pulang,” Tanya Kyuhyun. Ia mengambil tempat duduk di sebelahku sambil tertawa. Menertawakanku, lebih tepatnya.

“Jangan menertawaiku,” ujarku kesal sekaligus malu. Aku yakin pipiku pasti sudah memerah membayangkan kelakuanku. Tiba-tiba muncul di depan kamar hotelnya lalu menciumnya dengan membabi buta hanya karena aku tidak tahan lagi menahan kerinduan ini.

“Aku tidak menertawaimu,” kata Kyuhyun. Ia lalu memegang keningku dan bertanya, “Apa kau sedang sakit, Hye?” Tanya Kyuhyun lagi tanpa berusaha menghentikan tawanya meskipun aku tahu ada kebahagiaan dalam tawa itu karena aku menemuinya.

Aku mengambil honey chips yang tergeletak asal di atas tempat tidur Kyuhyun lalu memakannya. “Aku hanya merindukanmu. Tidak boleh?” Ujarku jujur sambil mengunyah honey chips kesukaanku ini. Aku memang merindukannya.

Kyuhyun mengelus kepalaku dengan lembut dan kemudian menciumku untuk kedua kalinya, yang ketiga kalau ciuman kami di pintu kamar tadi dihitung. “Kau kesini dengan siapa? Kenapa tidak memberitahuku?” Tanyanya sambil bergerak mengelilingi kamar hanya untuk mengambil wine dan dua buah gelas.

“Kejutan,” jawabku singkat. Mulutku masih sibuk mengunyah honey chips yang enak ini. “Aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak melihatmu jadi aku iseng saja pesan tiket pesawat kesini. Aku terbang sendiri dari Korea lalu Yong Sun oppa menjemputku di Kansai dan membawaku ke sini,” lanjutku setelah selesai mengunyah.

“Jadi sekarang Yong Sun hyung sudah mulai bersekongkol denganmu?”

“Sebenarnya, para manajermu itu lebih sayang kepadaku dibanding kau. Jadi, aku bisa dengan lebih mudah membujuk mereka untuk melakukan sesuatu untukku,” kataku tertawa puas mengingat kebaikan para manajer SJ yang begitu banyak membantu para kekasih SJ untuk menemui artis mereka tanpa terlihat publik.

“Curang,” kata Kyuhyun.

“Tapi kau suka kan? Kalau tidak, aku mau pulang saja.”

Kyuhyun menepuk kepalaku pelan. “Tentu saja aku suka. Kalau bisa, setiap hari kau ikut denganku. Jadwalku yang membuat kita tidak bisa bertemu ini masih panjang,” katanya.

“Kalau saja bisa begitu tapi aku juga punya banyak jadwal yang membuat kita tidak bisa bertemu,” sahutku.

“Aku janji akan menyempatkan menemuimu nanti,” kata Kyuhyun sambil duduk di sebelahku dan menuangkan wine ke dalam gelas yang jelas untukku dan dirinya. “Aku baru membelinya kemarin dan aku rasa sangat enak. Coba deh,” katanya.

Aku meneguknya sedikit dan merasa wine yang kali ini dia berikan untukku sangat enak. “Enak,” kataku.

Kyuhyun tersenyum lebar, merasa puas dengan pilihan wine-nya. Dia sudah mau menambahkan wine ke dalam gelasku dan aku buru-buru menarik gelasku. “Aku hanya bilang enak bukan berarti aku mau menambahnya. Aku tidak mau mabuk malam ini,” ujarku dengan penekanan khusus. Kyuhyun tertawa.

“Baiklah. Tidak mabuk malam ini,” ujar Kyuhyun. Karena setiap mabuk, aku tahu, tidak ada satupun dari kami berdua yang bisa mengontrol diri dengan baik.

Karena tidak ada kursi yang menghadap tepat ke depan televisi, aku dan Kyuhyun memilih duduk di atas tempat tidur dengan selimut yang menghangatkan tubuh kami dari ujung kaki sampai sebatas pinggang.

Aku berada di sebelah kiri Kyuhyun sehingga tangan kirinya yang mendekap pinggangku dengan erat sedangkan tangan kanannya memegang gelas wine. “Kapan jadwal konsermu akan selesai? Aku sudah mau mati bosan rasanya melihat kerjaanmu hanya bolak-balik bandara. Pulang ke Korea hanya untuk tidur saja. Menyebalkan,” ocehku sambil menonton televisi yang tidak kumengerti bahasanya.

“Kau sebegitunya merindukanku?” Kata Kyuhyun dengan senyum terkulum. Wangi wine menguar dari mulutnya yang terlihat sangat menggodanya.

Aku mencium bibir Kyuhyun sekilas sambil membersihkan sisa wine. “Iya. Aku sebegitunya merindukanmu,” kataku dan Kyuhyun tertawa ringan. “Menyebalkan!”

Kyuhyun meletakkan gelas wine-nya sehingga tangan kanannya kini bebas untuk mendekapku sepenuhnya. “Aku juga sangat merindukanmu,” bisiknya lalu menciumku lagi. Beberapa kali. Aku kehilangan perhitunganku.

Kyuhyun tersenyum kepadaku. “Aku tahu kau belum mandi tapi kau sangat cantik malam ini,” rayunya membuatku tersipu malu.

Kyuhyun mendekapku semakin erat dan aku merebahkan kepalaku dengan nyaman di dada Kyuhyun. “Kyu, apa kau tidak bosan hanya berkencan seperti ini? Kalau tidak di kamar, di mobil. Kalau tidak, di rumah. Kita tidak pernah ke taman bermain, ke laut atau kemanapun tempat-tempat terbuka,” kataku.

“Aku tidak pernah bosan. Asal bersamamu, 7 hari 7 malam hanya di dalam kamar aku tidak akan sanggup menolak,” ujar Kyuhyun.

“Kyu, menurutmu kalau kita berkencan dengan normal bagaimana?”

Kkeut!

xoxo @gyumontic