Hyejin menghela nafas panjang melihat kartu nama yang baru saja diberikan bos-nya untuk segera di follow-up.

Cho Industries
Contractors and Trading

Marcus Cho
Cho Kyuhyun
President Director

Menurut bos-nya, orang yang namanya tertera di kartu itu memiliki dana sekitar 500 juta USD di bank pesaing. Tugas Hyejin sebagai seorang Private Banking Officer : memindahkan paling tidak 80 persen dana tersebut ke bank-nya, tempat ia bekerja.

“Ya Tuhan, berkati aku,” gumam Hyejin pasrah dengan kartu nama yang masih ditatapnya lekat.

“Hye!! Song Hyejin-ssi!!! Kau sudah menelepon sekretaris tuan Cho untuk minta waktu bertemu?!” Teriak Manager Kim, atasan Hyejin yang baik hati namun tidak bisa kalau bicara tidak dengan suara keras.

“Sudah. Siang ini jam 1 kita ke kantornya,” jawab Hyejin sesuai dengan pembicaraannya dengan sekretaris tuan Cho.

“Siang ini?! Jeongmal?!” Manager Kim sampai keluar dari ruangannya untuk memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya.

Marcus Cho atau yang memiliki nama asli Cho Kyuhyun adalah pimpinan tertinggi Cho Industries, perusahaan kontraktor dan perdagangan terbesar di Korea Selatan. 60 persen konstruksi gedung-gedung, jalan-jalan, bahkan kilang-kilang minyak di Korea Selatan dilakukan oleh Cho Industries. Selain itu, 80 persen perdagangan ekspor-impor di negara ini juga melalui perusahaannya. Adalah hal yang sangat langka bisa bertemu dengan Cho Kyuhyun, melihat besarnya perusahaan yang harus ia urus. Ia pasti sibuk kesana kemari untuk mencari klien, menjaga hubungan baik dan pasti melobi pemerintahan demi menjaga kemajuan perusahaannya.

Seharusnya butuh waktu seminggu atau dua minggu untuk bisa bertemu dengan pria itu tanpa jaminan ia tidak membatalkannya tiba-tiba pada hari H. “Siang ini?! Kau tidak berbohong padaku kan, Hye? Kau baru meneleponnya pagi ini dan kita bisa bertemu dengannya siang ini?!” Manager Kim kembali berbicara, memekakkan telinga.

Hyejin hanya mengangguk. Ia juga sebenarnya bingung. Kenapa bisa ia begitu mudah mendapatkan jadwal meeting dengan CEO tersibuk versi majalah iBank padahal ia berharap tuan muda itu tidak memiliki sedikit pun waktu untuk bertemu dengannya, tidak hari ini, tidak selamanya.

—-

“Song Hyejin dari Bank of Korea, ingin bertemu dengan Tuan Cho Kyuhyun,” kata Hyejin kepada salah satu resepsionis cantik yang duduk berjajar di balik meja panjang di lobby gedung dengan tinggi 37 tingkat.

“Sudah ada janji sebelumnya?” Tanya resepsionis.

“Sudah. Jam 1 siang,” jawab Hyejin.

Resepsionis bernama Kim Hyo Rin itu mengotak-atik komputernya, mengecek jadwal Presiden Direkturnya yang selalu terupdate di setiap komputer resepsionis. Resepsionis yang melayani Hyejin kemudian tersenyum ramah. “Boleh saya minta ID Anda, nona?” Tanya resepsionis itu kepada Hyejin.

Hyejin memberikan ID-nya dan juga ID Manajer Kim. Kedua ID tersebut digantikan dengan dua buah kartu akses menuju lift yang akan membawa mereka ke ruangan yang diinginkan. “Silahkan. Semoga pertemuan Anda menyenangkan,” kata Hyo Rin lebih ramah dari yang seharusnya seorang resepsionis lakukan.

“Terima kasih banyak,” sahut Hyejin juga dengan ramah.

Hyejin memberikan satu kartu akses kepada Manajer Kim dan mempersilahkan atasannya itu untuk berjalan lebih dulu.

4 dari 7 resepsionis, 3 resepsionis yang lain sedang melayani tamu, saling menatap begitu Hyejin dan Manajer Kim masuk ke dalam lift. “Siapa wanita itu?” Tanya Jung Eum kepada Hyo Rin yang dijawab Hyo Rin hanya dengan gelengan kepala.

“Song Hyejin, Bank of Korea. Namanya tiba-tiba muncul di jadwal tuan Cho, menggeser jadwal lain yang lebih penting. Bahkan Mr. Reyvanov harus menggeser jadwal penerbangan pulangnya ke Rusia karena tuan Cho mengundur pertemuan mereka gara-gara mau bertemu dengan Bank of Korea ini,” kata Bwon Ah, salah satu dari 4 resepsionis yang sedang penasaran melihat kejadian menghebohkan satu kantor Cho Industries hanya karena pimpinannya meminta penjadwalan ulang 12 meeting-nya hanya karena 1 meeting dengan Bank of Korea.

—-

Hyejin dengan terpaksa melangkahkan kakinya masuk ke sebuah ruangan yang dipintunya terpasang jelas nama seseorang.

Cho Industries
Contractors and Trading

Marcus Cho
Cho Kyuhyun
President Director

“Ya Tuhan, berkati aku,” gumam Hyejin sebelum ia memasuki ruangan tersebut yang langsung disambut oleh pria yang sangat sangat sangat tidak ingin ditemuinya.

“Selamat datang,” sambut Kyuhyun dengan ramah kepada Hyejin dan manajer Kim. “Manajer Kim dan Private Banking Officer Song, Bank of Korea. Aku benar?”

“Sangat benar! Sangat benar, tuan Cho. Terima kasih sudah menerima kami dengan baik. Kami tidak menyangka bisa bertemu dengan tuan Cho secepat ini. Suatu kehormatan, tuan Cho,” sahut Manajer Kim dengan hangat selayaknya seorang manajer Private Banking yang sedang mengincar dana yang lebih besar dari nasabah terbesar dalam portofolio kelolaannya.

“Well, Bank of Korea banyak membantu Cho Industries dari zaman dahulu. Sejak perusahaan ini didirikan kakek buyutku, Bank of Korea sudah mendukung kami. Lagipula kita sudah lama tidak bertemu,” kata Kyuhyun kepada Manajer Kim. “Iya kan, nyonya Song?”

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang berdiri di belakang Manajer Kim. “Eoh? Ya, tuan Cho?” Kata Hyejin gelagapan. Bingung. Sejak ia menginjakkan kaki di ruangan itu, hal yang ada di otaknya hanyalah cepat-cepat angkat kaki dari tempat itu. Tidak ada hal lain. Masa bodoh dengan 80 persen kali 500 juta USD.

“Hai. Lama tidak bertemu. Ya kan?” Kata Kyuhyun membuat Hyejin semakin kacau. Mereka memang sudah lama tidak bertemu dan Hyejin berharap tidak akan ada pertemuan lagi setelah pertemuan 7 tahun lalu.

Manajer Kim memandang Kyuhyun dan Hyejin secara bergantian. “Anda sudah kenal dengan Hyejin sebelumnya, tuan Cho?” Tanya Manajer Kim dengan sumringah. Jika PBO-nya sudah kenal dengan tuan Cho maka langkahnya untuk mendapatkan 400 juta USD semakin mudah.

Kyuhyun menganggukkan kepala. Senyum penuh wibawanya dilempar penuh kepada wanita yang kini menggosok kedua tangannya dengan gelisah. “Kau tidak pernah cerita kepada manajer Kim bahwa kau mengenalku, Song Hyejin-ssi?” Tanya Kyuhyun dan membuat keinginan Hyejin untuk segera keluar dari ruangan ini semakin tinggi.

“Hyejin-ah, kenapa kau tidak bilang kau sudah kenal dengan tuan Cho?” Kata Manajer Kim sambil tertawa-tawa.

Hyejin hanya tersenyum tipis. “Tidak, Manajer Kim. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan tuan Cho.”

Alis Kyuhyun mengerut lalu naik tinggi. Tampak sekali dibuat-buat. “Oh ya? Tapi aku tidak mungkin salah ingat wanita yang aku nikahi 8 tahun lalu di Amerika. Nyonya Cho? Song Hyejin? Eugene Song? Baby? Panggilan mana yang kau sukai?”

“Kau…menikah dengan…tuan Cho? Song Hye…jin?” Manajer Kim gelagapan bertanya kepada bawahannya. Ia begitu syok mendengar kabar tersebut.

Song Hyejin, salah satu Private Banking Officer underdog yang dipercaya oleh satu Bank of Korea bahwa ia tidak bisa apa-apa kecuali diam di kursinya, menyesali keputusannya untuk menjadi seorang Banker dan Manajer Kim adalah salah satu dari seratus manajer yang mati-matian memberikan seribu alasan untuk menolak Hyejin menjadi bagian timnya yang ternyata adalah istri Cho Kyuhyun, pemilik 55 persen dana mengendap Bank of Korea.

“Kau…tidak pernah…cerita…Yaa Song Hyejin!!!” Manajer Kim berusaha menguasai kembali dirinya.

“Kau tidak pernah cerita? Apa kau melamar dengan status lajang, nyonya?” Kyuhyun menyeringai membuat Hyejin bertambah benci kepada pria itu.

Hyejin menatap tajam Kyuhyun. Segala keramahannya sudah tergantikan kebekuan. “Marcus, itu masa lalu. Kita sudah bercerai. Hentikan.”

“Tidak. Itu bukan masa lalu. Asal kau tahu, saat ini kau masih resmi istriku. Aku tidak pernah menandatangani surat perceraian itu. Aku bahkan merobek-robeknya dan membuangnya di kantor pengacara ibuku. Aku tahu eomma yang memaksamu menandatangani surat cerai itu.”

Manajer Kim semakin bingung. Ia hanya bisa melihat sepasang pria dan wanita yang saling berhadapan dan saling menatap dengan tajam. “Manajer Kim. Aku tahu apa yang Anda butuhkan. 500 juta USD kan?” Kata Kyuhyun kemudian.

“Tuan Cho, anda sungguh-sungguh akan memindahkan 500 juta USD ke bank kami?” Manajer Kim semakin syok dibuat oleh CEO yang satu ini. Targetnya hanya ia bisa mendapatkan 200 juta USD minggu ini.

“Well, tidak semudah itu. Tidak. Tidak. Aku hanya akan memindahkan 100 juta USD-ku ke Bank of Korea. Sisanya….”

“Sisanya, tuan Cho?”

“Itu urusanku. Aku pastikan target portofoliomu akan hijau terang dengan satu syarat. Kau tahu aku punya banyak kolega kan?”

“A…apa syaratnya, tuan Cho?” Manajer Kim tidak bisa menyembunyikan hasratnya yang menggebu untuk mendapatkan 500 juta USD. Rasanya, ia akan melakukan apapun untuk Cho Kyuhyun demi mencapai targetnya.

Kyuhyun menjulurkan tangannya ke depan mata Hyejin. “Kartu nama dan handphone-mu,” kata Kyuhyun memaksa kepada Hyejin.

“Aku tidak punya kartu nama. Handphone-ku rusak,” jawab Hyejin dingin, tentu saja dilengkapi dengan kebohongan.

“Kartu nama dan handphone-mu,” ulang Kyuhyun. “Aku hanya butuh itu dan 500 juta USD akan menambah portofolio kalian paling lambat besok siang.”

Manajer Kim memukul-mukul tangan Hyejin, memaksa gadis itu untuk menyerahkan apa yang diminta Tuan Cho. “Berikan kartu nama dan handphone-mu atau kau akan kubuang ke divisi lain yang belum tentu mau menerimamu,” ancam Manajer Kim dengan suara pelan namun menusuk.

Tidak. Aku masih mau bekerja. Aku masih butuh uang, pikir Hyejin.

Dengan sangat terpaksa, Hyejin menyerahkan kartu nama dan handphone-nya kepada Kyuhyun. “Apa yang mau kau lakukan dengan kartu nama dan handphone-ku?”

“Seorang nasabah prioritas seperti aku harus mempunyai kontak dengan pengelola akun-ku di Bank kan?” Ujar Kyuhyun dengan santai sambil memasukkan kartu nama Hyejin ke dalam dompetnya sedangkan handphone Hyejin diserahkan kepada sekretarisnya.

“Aaaah, aku belum menawari kalian minum. Maaf. Maaf. Mau minum apa? Kalau makan, bagaimana?” Tawar Kyuhyun dengan ramah namun tidak dipedulikan Hyejin yang sedang was-was memperhatikan handphone-nya yang diotak-atik oleh sekretaris Kyuhyun.

Setelah beberapa menit, sekretaris yang sebenarnya jauh lebih tampan dari bos-nya itu mengembalikan handphone tersebut kepada Hyejin. “Apa yang kau lakukan pada handphone-ku?” Tanya Hyejin merasa ada yang tidak beres dengan handphone-nya. Berkali-kali dicek memang tidak ada yang berubah tapi tidak mungkin selama hampir 15 menit sekretaris tadi tidak melakukan apapun dengan handphonenya.

Kyuhyun menengok kepada sekretarisnya dan tanpa perlu ia bicara, sekretaris itu menjawab seakan ia mengerti maksud Kyuhyun, “Handphone-nya bersih. Semua yang dibutuhkan juga sudah di-install ke dalam handphone-nya, Tuan.”

Kyuhyun tersenyum sumringah, penuh kepuasan. “Mulai hari ini kau tidak akan bisa lari dariku dan jangan coba-coba untuk mengganti handphone-mu. Aku sudah menginstall semua aplikasi yang kubutuhkan di handphone-mu. Kau mengerti, baby?”

“Brengsek,” gumam Hyejin yang tidak dihiraukan Kyuhyun yang sudah tersenyum kepada Manajer Kim. Seharusnya ia tahu ini akan terjadi. Kyuhyun adalah pria paling posesif dan egois yang pernah ia kenal. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau. Ia juga bisa mendapatkan apapun yang ingin ia dapatkan.

“500 juta USD paling lambat besok siang akan menambah portofolio Anda. Senang bertemu dan bekerjasama dengan Anda, manajer Kim,” ucap Kyuhyun menambah satu orang lagi yang bisa tersenyum sumringah.

“Terima kasih, tuan Cho. Terima kasih banyak,” ujar Manajer Kim. Tawanya terdengar jauh lebih menyenangkan dibandingkan saat pertama kali Group Head Private Banking memanggilnya tadi pagi.

“Oh ya, aku bisa memberikan 500 juta USD lagi akhir bulan ini asal Anda bisa memberikan Hyejin libur 1 minggu untuk mengurus keuanganku. Aku butuh bantuan untuk mengelola uang-uang ini.” Kyuhyun memberikan penawaran yang sangat menggiurkan untuk manajer Kim namun tidak untuk Hyejin.

“Yaa Cho Kyuhyun!!! Aku tidak bisa kau beli dengan uangmu!!!” Hyejin ingin sekali melempar tasnya ke muka presiden direktur yang sangat menyebalkan satu ini. Sayang, manajer Kim menghalanginya.

“Song Hyejin, jaga perilakumu atau kau tidak akan pernah melihat kota Seoul lagi,” ujar manajer Kim halus dan menusuk.

Tidak. Tidak. Aku tidak bisa hidup di kota antah berantah. Tidak. Sabarlah, Song Hyejin. Sabar. Brengsek kau, Cho Kyuhyun!! Hyejin merutuk dalam hati.

“Song Hyejin-ssi, aku tidak sedang membelimu. Aku sedang meminta izin kepada bos-mu agar kau bisa mengurus uangmu. Ingat, kau masih istriku dan seperti istri-istri pada umumnya, kau harus tahu keluar masuknya uang suamimu. Iya kan, manajer Kim?”

“Betul. Betul sekali, tuan Cho. Saya juga mempercayakan seluruh uang saya kepada istri. Para wanita lebih hebat untuk urusan keuangan,” sahut manajer Kim. Demi tambahan 500 juta USD lagi, manajer Kim bahkan siap menjilat lubang pantat seorang Cho Kyuhyun. Apalah arti kata-kata manis hanya untuk membuat Kyuhyun senang.

“Brengsek,” desis Hyejin yang jelas didengar oleh Kyuhyun yang cukup tersenyum mematikan.

—–

Manajer Kim memantau rekening Cho Industries dan para pengurusnya hampir setiap detik untuk memastikan portofolionya bertambah 500 juta USD paling lambat siang ini seperti yang tuan Cho janjikan kepadanya dan manajer Kim janjikan kepada atasan-atasannya.

“Cho Industries, 100 juta USD. Cho Kyuhyun 200 juta USD.  Choi Corporation 100 juta USD. Choi Siwon 50 juta USD. Lee Inc 100 juta USD. Lee Donghae 25 juta USD. 575 juta USD!!! SONG HYEJIN!!! GOMAWO!!!” Teriak manajer Kim dengan girang dan langsung berlari menuju lift untuk menemui atasannya yang pasti juga akan gembira mendengar kabar bahwa neraca dana pihak ketiga mereka bertambah 575 juta USD hanya dalam waktu satu hari.

Pada saat yang hampir bersamaan, sekretaris manajer Kim mendatangi meja Hyejin dengan sebuah surat. “Chukkae! Direksi menyetujui liburanmu tanpa memotong cutimu,” kata Hamun memberikan izin dinas luar selama seminggu kepada Hyejin sesuai alat barter 500 juta USD akhir bulan ini.

Hyejin menghela nafas pasrah menatap surat izin dinas luar miliknya. Kalau boleh memilih, Hyejin akan lebih suka berada di kantornya meski ia harus mendengar cemoohan orang tentang kinerjanya dibandingkan berada di tempat orang yang sangat tidak diinginkannya. “Ya Tuhan, berkati aku,” gumam Hyejin pelan.

Hamun belum beranjak dari meja Hyejin. Ia masih berada di depan Hyejin dengan tatapan ingin tahu namun tidak ingin bertanya. “Ada apa, Hamun-ssi?” Tanya Hyejin mulai risih.

“Gosip itu…apa benar?” Tanya Hamun dengan lirih dengan maksud tidak ingin didengar orang lain.

“Gosip apa?” Hyejin balik bertanya, pura-pura tidak tahu akan cerita tentang dirinya yang telah menyebar dari lantai basement sampai lantai helipad Bank of Korea berada.

“Kau dan CEO Cho Industries. Apa benar kalian…”

“Kalian apa, Kang Hamun?”

“Pernah itu?”

“Pernah itu apa?”

Hamun mendekatkan mulutnya ke telinga Hyejin dan berbisik, “Menikah?”

“Tidak. Aku tidak pernah menikah dengan siapapun. Aku masih lajang sejak aku lahir,” kata Hyejin lalu berdiri dari tempat duduknya. “Aku mau mengantarkan surat ini ke bagian kepegawaian dulu. Permisi ya.”

Cerita akan Hyejin dan CEO Cho menyebar luas begitu cepat. Ketika kemarin sore ia dan manajer Kim kembali menginjakkan kaki di kantor, manajer Kim langsung memberikan laporan kepada Group Head dan Direksi tanpa menyaring informasi yang dia miliki yaitu bahwa CEO Cho memiliki hubungan dengan salah satu pegawai mereka.

Seolah tembok dan lantai gedung ini punya telinga dan mulut, berita itu tersebar, membuat Hyejin pusing dan selalu ingin ke toilet. Menyendiri. Satu-satunya hal yang bagus dari berita itu adalah tidak ada lagi yang memandangnya dengan sebelah mata. Direktur Utama Bank of Korea saja bahkan sampai turun dari singgasananya di lantai 35 untuk menemui Hyejin di lantai 12 dan mengajaknya makan siang bersama.

“Terima kasih banyak atas tawarannya, Direktur tapi aku harus ke Cho Industries sekarang demi 500 juta USD di akhir bulan ini. Kalau bisa, aku akan menjadwal ulang kunjungan ke tempat tuan Cho.”

Direktur Bank of Korea hanya mengangguk dan tersenyum ramah. “Kepentingan nasabah yang utama. Silahkan,” katanya.

“Maafkan aku, Direktur. Maafkan aku,” kata Hyejin basa-basi hanya untuk tidak menyakiti hati Direkturnya dan paling penting ia tidak dipecat dari pekerjaannya sekarang.

Aku butuh uang dan tidak bisa keluar dari Seoul.

Direktur Park mengacungkan dua jempolnya kepada Hyejin sambil tersenyum sumringah. “Sampaikan salamku untuk tuan Cho. Selamat bekerja! Jangan lupa 500 juta USD di akhir bulan ini.”

“Tentu saja, Direktur,” jawab Hyejin dengan mantap dan tentu penuh kepalsuan.

Ketika Direktur Park sudah meninggalkannya barulah Hyejin pergi menuju lobby dimana sebuah mobil sudah menunggu untuk mengantarkannya ke gedung Cho Industries.

Aku sudah di jalan. Berhentilah meneleponku. Aku tidak akan pernah mengangkatnya!

Hyejin mengirimkan pesan kepada Kyuhyun yang sejak pagi membuat handphone-nya bolak balik bergetar.

Kau seharusnya sudah berada di kantorku sekarang. Kenapa masih di Hongdae? Gangnam – Hongdae itu masih jauh kau tahu?!

Aku terpaksa menambah 75 juta USD untuk setengah hari jam kerjamu. Kau tahu?!

Yaa Song Hyejin!!! Aku tidak mau tahu dalam 5 menit kau sudah harus sampai ke kantorku!!!

Hyejin memasukkan handphone-nya ke dalam tas dan membiarkannya kembali bergetar ratusan kali jika nama CHO KYUHYUN yang muncul di layar handphone-nya. Pasti sekretaris pria itu yang menyimpan nomor Kyuhyun di daftar kontak handphone Hyejin kemarin, selain menginstall aplikasi pelacak.

Bagaimana bisa ia tahu aku sedang ada di Hongdae sekarang? Brengsek!

—-

Hyejin memasuki gedung Cho Industries dimana sekretaris penguasa gedung ini telah menunggunya. “Selamat siang, Song Hyejin-ssi. Tuan Cho sudah menunggu. Silahkan,” katanya mempersilahkan Hyejin jalan terlebih dahulu memasuki pintu pembatas yang hanya bisa dibuka dengan kartu akses dari resepsionis.

“Aku belum mendapatkan kartu akses,” kata Hyejin kepada pria di sampingnya.

“Handphone Anda sudah diprogram untuk bisa menjadi akses masuk ke seluruh gedung, Song Hyejin-ssi,” kata sekretaris Kyuhyun dengan sopan.

Hyejin mengernyit bingung. “Silahkan dicoba,” kata sekretaris Kyuhyun diiringi senyuman manis.

Hyejin pun mengeluarkan handphone-nya dan meletakkannya pada dongle pembatas. Hyejin cukup terkejut melihat kenyataan bahwa pintu pembatas di depannya terbuka. “Kau menginstall aplikasi akses masuk gedung ini di handphone-ku?”

Sekretaris Kyuhyun tersenyum bangga menilai kecerdasannya sebagai pencipta ide tersebut. “Semua yang dibutuhkan tuan Cho sudah aku install di handphone-mu. Alat pelacak, akses gedung ini, akses apartemen tuan Cho, akses akun bank tuan Cho,…”

“Penyadap?” Hyejin mengernyit ngeri membayangkan ada orang yang menyadap percakapan atau pesan-pesan dari handphone-nya.

“Itu juga,” jawab sekretaris Kyuhyun dengan santai. “Tapi belum kuaktifkan. Tenang saja.”

“Yaaa!!! Siapa namamu?”

“Lee Jonghyun, nyonya.”

“Apa kau sudah gila, Lee Jonghyun-ssi?!”

“Sampaikan saja ke bos-ku kalau kau keberatan, nyonya. Aku hanya menjalankan perintah bosku,” kata Jonghyun tenang.

Hyejin mendelik kesal. “Tentu saja aku akan menyampaikan keberatanku. Yaa, Jonghyun-ssi!!! Aku masih nona!”

“Silahkan,” kata Jonghyun mempersilahkan Hyejin masuk lebih dulu ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dimana ruangan seorang Cho Kyuhyun berada.

“Kau sudah lama bekerja untuk Kyuhyun?” Tanya Hyejin yang menyebut nama orang berpengaruh di Korea Selatan dengan kasual membuat seisi lift penasaran.

“Sudah lama sepertinya. Aku bahkan berteman dengannya sejak kuliah,” jawab Jonghyun.

“Pantas kau hampir sama menyebalkannya dengan pria itu,” kata Hyejin.

Jonghyun tertawa. “Silahkan. Aku sarankan kau harus berjalan lebih cepat, nyonya. Tuan Cho sudah terlalu lama menunggu Anda,” kata Jonghyun ketika pintu lift terbuka di lantai ruangan Kyuhyun.

“Siapa yang menyuruhnya menungguku?” Gerutu Hyejin dengan suara lantang dan tidak dapat menghentikan orang-orang lain di dalam lift untuk mulai berkomentar, tentu setelah Hyejin keluar.

“Siapa dia?”

“Kenapa dia begitu santai menyebut nama tuan Cho?”

“Dia juga begitu berani membuat tuan Cho menunggu.”

“Aku dengar dia istri tuan Cho. Mereka menikah 8 tahun lalu.”

“MWO?! JINJJA?!”

“Tapi katanya sudah bercerai. Ada juga yang bilang belum. Entahlah.”

“Buat apa dia kembali?”

“Ya Tuhan, beruntung sekali wanita itu. Cukup sekali lihat saja, langsung tahu ia wanita biasa-biasa saja.”

“Bagaimana bisa tuan Cho menikahi wanita seperti itu?!”

“Aku tidak bisa percaya.”

—–

Kyuhyun tersenyum lebar melihat wanita yang ia tunggu-tunggu telah muncul. Dengan bangga, ia memperkenalkan Hyejin kepada kolega-koleganya. “Song Hyejin, Private Banking Officer Bank of Korea. Cantik kan?”

Kolega-kolega Kyuhyun tertawa dan tersenyum bersamaan. “Akhirnya ada juga wanita yang dibilang cantik olehnya. Aku, Choi Siwon. Aku juga nasabah Manajer Kim. Karena paksaan Kyuhyun, aku menaruh 150 juta USD-ku ke akunku yang kalian pegang,” kata kolega Kyuhyun yang tinggi, putih dan paling tampan di ruangan Kyuhyun.

“Terima kasih, Tuan Choi. Senang bisa berkenalan langsung dengan Anda,” jawab Hyejin otomatis sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali dengan sopan.

Pria yang lebih pendek namun sama tampannya dengan Choi Siwon memperkenalkan diri kepada Hyejin. “Aku Lee Donghae. Lee Inc nasibnya tidak jauh berbeda dengan Siwon hyung karena paksaan magnae kami ini,” kata Donghae membuat Hyejin kembali membungkukkan tubuhnya.

“Terima kasih banyak, Tuan Lee. Bank of Korea sangat berterima kasih kepada tuan-tuan sekalian karena begitu setia dengan Kami,” ujar Hyejin.

Kyuhyun menepuk-nepuk punggung Hyejin pelan sambil bicara kepada Siwon dan Donghae dengan penuh makna, “Well, kalian bisa pulang sekarang. Aku masih ada urusan.”

Siwon dan Donghae tersenyum mengerti lalu keluar dari ruangan Kyuhyun diantar oleh Jonghyun. “Sampai jumpa besok, Kyu.”

“Sampai jumpa, hyungdeul-ku tercinta.”

Hyejin kembali membungkukkan tubuhnya dengan sopan ketika dua nasabah-nya berpamitan namun ketika Siwon dan Donghae sudah pergi, ia kembali menegakkan tubuhnya dengan pasti. “Kolega-kolegamu jauh lebih tampan darimu,” ujar Hyejin asal.

“Tapi aku lebih kaya dari mereka,” sahut Kyuhyun dengan santai.

“Aku tidak keberatan hidup sederhana jika punya suami setampan mereka.”

“Yaa Song Hyejin, hargai sedikit suamimu yang satu ini.”

“Cih! Aku bukan istrimu.”

Kyuhyun mengambil handphone dan dompetnya dari atas meja lalu merangkul Hyejin keluar dari ruangannya. “Ayo,” kata Kyuhyun.

“Ayo ayo kemana? Kau mau membawaku kemana? Yaa Cho Kyuhyun, lepaskan tanganmu,” omel Hyejin sambil mencoba melepaskan tangan yang bertengger di bahunya. Namun bukannya terlepas, tangan Kyuhyun semakin kuat merangkulnya.

“Makan siang. Aku belum makan dari pagi. Kajja,” paksa Kyuhyun membuat Hyejin risih ketika hampir semua mata memandangnya, melihat ia berjalan dengan Kyuhyun dan bahkan masuk ke dalam mobil yang disetir sendiri oleh Kyuhyun.

“Jonghyun tidak ikut?”

“Buat apa? Kalau kita bertiga, namanya bukan kencan. Bodoh!”

“Mwo? Apa kau bilang barusan? Bodoh? Aku bodoh?”

“Yess you are. Wanita mana yang akan meninggalkan pria tampan dan kaya raya seperti aku?”

“Mereka pasti belum pernah merasakan hidup dengan teror dari ibu mertua yang tidak pernah mengharapkan mereka menjadi menantunya.”

Kyuhyun terdiam sesaat. “Aku tidak ingin membahas masa lalu.”

“Aku tidak pernah melupakan masa lalu, tuan Cho.”

—–

Kyuhyun langsung kembali ke kantor begitu selesai makan siang. Makan siang yang ia harapkan menyenangkan, yang terjadi ternyata justru sangat mengerikan. Hyejin tidak menanggapi satu pun omongannya.

“Aku ada rapat sebentar. Kau tunggu saja di ruanganku,” kata Kyuhyun kepada Hyejin.

“Kalau tidak ada yang aku lakukan, lebih baik aku pulang,” ujar Hyejin.

“Tidak. Tidak. Masih banyak hal yang harus kau lakukan. Jonghyun yang akan mengurusnya. Aku harus segera rapat. Aku sudah terlambat,” kata Kyuhyun dengan terburu-buru masuk ke dalam ruangan rapatnya.

“Cih.”

—-

Nah loh nah looo… Author cuman segini aja idenya… Siapapun yang mau ngelanjutin boleh loh….

xoxo @gyumontic