Enjoy!

XY1

“Semua sudah eomma urus. Hyejin juga sudah tanda tangan. Begitu kau membubuhkan tanda tangan, kau resmi bercerai dari perempuan itu,” ujar perempuan berusia hampir 60 dengan angkuh kepada satu-satunya anak laki-laki yang dimilikinya.

Kyuhyun menatap kertas di depannya, bergantian dengan wanita tua yang ia panggil eomma. “Aku tidak ingin bercerai,” kata Kyuhyun.

“Sayang sekali. Hyejin tampaknya menginginkan hal yang sebaliknya. Ia menandatangani surat perceraian ini tanpa banyak bertanya,” sahut eomma Kyuhyun sambil menyodorkan semakin dekat dokumen yang harus ditandatangani anaknya beserta pulpen.

“Aku tidak mau,” kata Kyuhyun sekali lagi.

“Yaa Cho Kyuhyun!” Emosi nyonya Cho mulai meningkat. Ia sudah tidak sabar menghadapi anaknya. “Kau hanya punya dua pilihan, tinggalkan perempuan itu atau tinggalkan keluarga Cho.”

Kyuhyun menatap eomma-nya dengan sedih. Ia tahu eomma-nya bisa saja bertindak lebih kejam jika ia tidak menuruti perkataan eomma-nya. “Apa yang membuat eomma begitu membenci Hyejin? Apa ia pernah berbuat sesuatu yang menyakiti eomma?” Tanya Kyuhyun.

“Aku hanya tidak suka anakku bersanding dengan wanita miskin, jelek, tidak berpendidikan dan tidak jelas masa depannya seperti dia. Mau ditaruh dimana muka keluarga kita kalau kau bersanding dengannya, Cho Kyuhyun? Yang paling tidak aku suka, dia membuatmu lupa bahwa kau adalah Cho Kyuhyun, pewaris tunggal Cho Industries. Ia membuatmu jauh dari keluargamu. Ia membuatmu lupa jati dirimu, nak.”

“Tidak. Ia selalu berusaha mendekatkan diri dengan keluarga Cho tapi kalian selalu menolaknya. Ia selalu mendorongku untuk kembali ke keluarga Cho tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Eomma masih punya Appa dan Ahra nuna, sedangkan Hyejin tidak punya siapa-siapa lagi, Eomma. Karena kalian.”

“Cho Kyuhyun…”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Sayangnya aku hanya bisa jatuh cinta pada wanita itu. Kalau saja kalian, eomma dan appa, tidak menyabotase bisnis keluarga Song, aku yakin Hyejin tidak akan jatuh miskin dan tidak yatim piatu,” ujar Kyuhyun. “Menurutku, Hyejin tidak jelek, sangat cantik bahkan. Ia juga berpendidikan, yang terpintar di universitas. Eomma jangan lupa ia kuliah di tempat yang sama denganku. Kalau eomma bilang ia tidak berpendidikan, berarti percuma juga eomma membuang jutaan dolar untuk kuliahku.”

“Tapi kau menyelesaikan kuliahmu dengan baik sedangkan dia tidak.”

“Karena kau menyabotasenya, eomma. Kau menggagalkan bisnis keluarganya, membunuh pelan-pelan orang tuanya, mematikan sumber penghasilan hidupnya dan mencabut beasiswanya. Menurutku, perbuatan eomma sangat kejam. Eomma tahu tidak kalau ada hukum karma di dunia ini? Apa yang eomma tabur itu yang akan eomma tuai. Jadi, terimalah kenyataan, pewaris tunggalmu ini mencintai wanita itu.”

“CHO KYUHYUN! JAGA MULUTMU!!!”

Kyuhyun mengambil dokumen perceraiannya lalu menyobek-nyobeknya dan membuangnya ke tempat sampah. “Kalaupun aku tidak menandatangani surat perceraian itu, aku yakin eomma masih punya seribu satu cara untuk memisahkan Hyejin dariku. Aku hanya menebak, kalau saja eomma bisa melakukannya, aku rasa eomma sudah mengusir Hyejin ke planet lain saat ini.”

Nyonya Cho terdiam menghadapi anaknya. Ia tidak bisa lagi berkata-kata saking kesalnya. Ia ingin marah tapi sudah tidak punya tenaga untuk melakukannya. Ia hanya menatap Kyuhyun dengan tajam dan bersumpah, “Selama aku hidup, kau tidak akan kubiarkan bersatu dengan Hyejin.”

“Aku tidak akan menemuinya kalau itu mau Eomma tapi aku mohon jangan coba-coba untuk menyusahkan hidupnya. Biarkan ia hidup tenang dan bebas. Biarkan ia bahagia. Aku janji tidak akan menemuinya lagi,” kata Kyuhyun dengan tenang meskipun dalam hatinya ia merasa sangat berat. Ia tidak bisa membayangkan kehidupannya tanpa ada wanita yang paling ia cintai di sisinya.

“Pengacara Jung. Maaf sudah banyak merepotkan. Terima kasih atas bantuan Anda selama ini. Sampai jumpa,” pamit Cho Kyuhyun sebelum ia keluar dari ruangan pengacara terbaik yang dimiliki keluarganya.

“CHO KYUHYUN! KEMBALI! EOMMA BELUM SELESAI BICARA!!!!”

Kyuhyun tidak mempedulikan teriakan eomma-nya. Ia terus berjalan sambil berusaha menghubungi nomor kontak Hyejin.

“Nomor yang Anda tuju tidak aktif, mohon periksa kembali nomor tujuan Anda.” Operator provider nomor handphone Hyejin yang menjawab panggilan Kyuhyun.

Hyejin sudah mematikan nomornya. Kyuhyun berusaha menghubungi lewat email dan hasilnya tidak jauh berbeda.

This email has been deactivated. Please check your recipient. Balasan yang ia terima di kotak masuk e-mailnya.

“Shit!!!” Umpat Kyuhyun kesal. Dengan cepat ia menghubungi sahabat sekaligus tangan kanannya. “Jonghyun-ah, tolong aku. Aku tidak bisa menghubungi Hyejin. Tolong cari dimana ia berada dan pastikan ia aman.”

“Kau sudah mencoba meneleponnya? Menghubungi e-mailnya? Mengirim pesan ke seluruh akun media sosial miliknya?” Sahut Jonghyun.

“Jonghyun, aku mohon, lakukan apa yang aku minta. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya sekarang. Eomma bisa saja membuat hidupnya lebih menderita kalau aku berani menemuinya lagi. Aku mohon, tolong aku dengan semua peralatan canggihmu, aku yakin kau tidak akan mengecewakanku. Ya kan Lee Jonghyun?”

“Berikan aku waktu 30 menit.”

“Tidak bisa 5 menit saja?”

“30 menit, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan mengecewakanmu,” kata Jonghyun tegas lalu memutus sambungan teleponnya dengan Kyuhyun.

Kyuhyun merasa 30 menit menanti kabar dari Jonghyun seperti 3 tahun. Setiap ia melihat jam tangannya, satu detik terasa sangat sangat sangat lama. Ketika 30 menit sudah berlalu dan Jonghyun belum juga menghubunginya, Kyuhyun lebih dulu menghubungi Jonghyun, “Apa sudah ada kabar?”

“Ya Tuhan, Cho Kyuhyun. Kau tidak sabaran sekali. Aku sedang mengetik pesan untukmu,” jawab Jonghyun.

“Tidak perlu. Katakan saja sekarang. Dimana Hyejin? Apa dia aman?” Tanya Kyuhyun tidak sabar.

“Dia akan terbang ke Paris sore ini dengan Air France pukul 14.30. Dia akan tinggal di sana dengan seseorang bernama Lee Donghae,”

“Siapa Lee Donghae?” Potong Kyuhyun sebelum Jonghyun selesai bicara.

“Sudah aku duga kau akan bertanya tentang pria itu.”

“Pria?”

“Pria. Lee Donghae adalah Komisaris Utama Biag Petroleum yang berbasis di Perancis. Ia salah satu pria terkaya di dunia. Orang tuanya dulu bersahabat dengan mendiang orang tua Hyejin. Kurasa, ia juga bersahabat dengan Hyejin.”

“Kau yakin?”

“Aku yakin. Lee Donghae sudah punya istri, Cho Kyuhyun. Tenang saja. Mereka sudah bersahabat sejak bayi. Aku yakin Hyejin akan aman bersamanya.”

“Kau yakin?”

“Aku yakin. Kalau kau tidak percaya padaku, cek saja sendiri.”

“Baiklah. Baiklah. Aku percaya padamu ya, Lee Jonghyun.”

“Apa aku pernah mengecewakanmu, Tuan Cho?”

“Tidak. Gomawo, Jonghyun-ah. Sekarang kau bisa datang menemuiku? Aku patah hati. Aku butuh teman minum anggur.”

“Dengan senang hati, buddy. See you soon.”

—-

XX1

Hyejin menghambur memeluk Donghae begitu melihat sahabatnya di pintu terminal kedatangan bandara Charles de Gaulle. “Aku merindukanmu, Idongek,” ucap Hyejin sambil menatap sahabatnya dengan sayang. Tangannya menangkup wajah Donghae sambil tersenyum. “Terima kasih banyak sudah mau membantuku.”

“Aku akan selalu ada untuk membantumu,” kata Donghae juga sambil tersenyum namun dengan mata berkaca-kaca. “Aku mohon jangan menangis sekarang. Aku tidak bisa menangis di depan umum seperti ini.”

Hyejin tertawa kecil. “Tidak ada tangis-tangisan. Sudah cukup,” ujar Hyejin lalu beralih pada gadis yang lebih pendek darinya yang sedang berdiri di sebelah Donghae tanpa melepaskan tangannya dari kemeja Donghae. “Hai Hamun, aku juga merindukanmu. Kau agak lebih gemuk.”

“Aku sedang hamil 3 bulan, eonni,” kata Hamun.

Hyejin menatap Hamun dan Donghae dengan terkejut. Senyuman bahagia terkembang lebar di wajahnya. “Kalian berdua tidak pernah cerita. Chukkae!!!” Seru Hyejin sambil memeluk Donghae dan Hamun bergantian. “Kalau ia sudah lahir, aku jadi ibu baptisnya ya. Jangan lupa, salah satu anak kalian harus menikah dengan salah satu anakku kelak,” kata Hyejin bersemangat diiringi tawa renyah yang sedikit melegakan untuk Donghae.

“Kita lanjutkan nanti di rumah ya. Hamun sudah masak sup ayam yang enak untuk makan pagi kita. Kajja,” kata Donghae sambil berjalan mendorong troli koper sahabatnya. Donghae berjalan dengan dua wanita cantik yang mengapitnya.

“Kalau orang tidak tahu, dipikirnya kau punya dua istri, Idongek,” gurau Hyejin sambil tergelak. “Aku hanya bercanda, Hamun. Aku tahu Lee Donghae ini hanya milikmu seorang,” lanjut Hyejin melihat Hamun yang sudah menatapnya dengan tajam.

Donghae meminjamkan salah satu apartemennya untuk ditempati Hyejin. “Kau bisa tinggal disini sampai kapanpun kau mau kecuali tiba-tiba aku bangkrut dan harus menjual semua asetku,” kata Donghae sambil tertawa namun membuat Hyejin marah.

“Jangan bicara sembarangan, Lee Donghae-ssi. Bangkrut itu tidak enak. Aku yakinkan kau, lebih baik kau bekerja keras untuk membesarkan perusahaanmu,” kata Hyejin. “Aku pernah merasakannya jadi aku tahu bagaimana pahitnya bangkrut. Dan sebatang kara.”

“Maafkan aku,” ucap Donghae menyesal telah bicara hal yang tidak seharusnya ia bicarakan di depan Hyejin. Ia tahu bagaimana terpuruknya Hyejin ketika ia mengalami kebangkrutan dan ditinggal keluarganya satu demi satu.

“Jangan pernah mengucapkannya lagi,” kata Hyejin. “Jadi, boleh kita sarapan sekarang? Aku sudah sangat lapar.”

Donghae tersenyum lalu mempersilahkan Hyejin untuk mengikutinya ke apartemen yang ia tinggali bersama Hamun. “Silahkan masuk. Kau bisa makan sepuasmu sambil bercerita apa yang terjadi sebenarnya,” kata Donghae.

“Aku kan sudah cerita padamu. I’m divorced. Aku janda sekarang. Aku diusir oleh mantan ibu mertuaku. Aku tidak bisa tinggal di Korea. Ia menjauhkanku dari anaknya, pria yang paling aku cintai. Pria terbaik yang pernah aku temukan. Appa bahkan tidak sebaik Kyuhyun,” kata Hyejin. “Case closed.”

“Kau yakin?”

“Aku tidak ingin membuat hidup Kyuhyun lebih susah. Sudah cukup kebahagiaan yang ia korbankan hanya untuk diriku.”

“Kau juga sudah banyak berkorban. Kau masih mencintainya?”

“Sangat tapi aku tidak akan kembali padanya. Sampai kapanpun, aku tidak akan kembali padanya.”

“Wae?”

“Idongek sayang, aku tidak mau menjadi sumber perpecahan di dalam sebuah keluarga. Aku ingin menjadi pembawa damai bukan perpecahan. Kyuhyun tidak akan bahagia kalau terus bersamaku. Keluarganya akan terus menerornya. Lebih baik, aku pergi saja,” kata Hyejin dengan santai.

“Kau tidak sedih?” Tanya Donghae melihat Hyejin yang masih tertawa-tawa sambil memakan sandwich dan sup ayam buatan Hamun.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang bisa menggambarkan kesedihanku sekarang tapi aku tidak mau menangis lagi. Aku mau menata kehidupanku yang baru. Kyuhyun hanya masa lalu. Aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Lebih baik aku fokus untuk mencari pekerjaan dan melanjutkan kuliah. Benar kan?”

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau bisa bekerja di perusahaanku tapi aku tidak bisa membayarmu dengan gaji yang besar karena kau belum lulus kuliah, Hye. Kau tidak memenuhi standar perusahaan kami.”

“Idongek, kau mau meminjamkan apartemenmu saja aku sudah sangat berterima kasih. Kau tidak usah terlalu memikirkanku. Aku akan mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang layak.”

Hyejin kembali menyantap sarapannya dengan lahap karena ia benar-benar sudah lapar, 10 jam penerbangan dengan jatah sekali makan saja.

“Eonni.” Hamun tiba-tiba bicara.

“Ya? Kenapa Hamun?” Tanya Hyejin setelah bersusah payah menelan sandwich 3 lapisnya.

“Kadang Tuhan memberikan pilihan kepada siapa kita jatuh cinta atau dengan siapa kita akan menikah tapi terkadang IA juga tidak memberikan pilihan. Ia hanya menunjukkan satu orang yang bisa kita cintai dan berbagi hidup,” ujar Hamun pelan namun sangat bermakna.

Hyejin mengelus kepala Hamun dengan lembut. “Kau sudah semakin bijaksana sekarang. Apa Donghae yang mengajarimu? Tidak mungkin ya? Hahahahahahaa. Gomawo, Hamun sayang. Tapi aku berdoa pada Tuhan agar tidak bertemu lagi dengannya sampai selama-lamanya. Tuhan pasti mendengarkan doaa umatnya kan?”

“Tapi belum tentu mengabulkannya kalau IA anggap itu bukan yang terbaik untuk umatnya.”

“Haiisssh Lee Donghae, kenapa istrimu ini sangat pintar sih?! Molla! Aku mau makan saja.”

—–

xoxo @gyumontic