Song Seung Hoon. Siapa tidak kenal pria itu? Pria berusia 52 tahun yang sukses malang melintang di dunia bisnis transportasi baik darat, laut dan udara. Pria yang mengawali karirnya sebagai agen travel kini punya 125 unit pesawat terbang, 100 unit kapal dan hampir 500 unit bus. Tidak hanya itu, setelah berhasil menjadi pengusaha tersukses, dia mencoba untuk mempertaruhkan gelar sarjana ilmu politiknya untuk menjadi seorang perdana menteri. Siapa yang sangka ia sukses? Dengan aman dan menakjubkan, ia menjalankan tugasnya dan menyelesaikannya. Pria itu didapuk menjadi Perdana Menteri terinovatif sepanjang sejarah Korea. Berdasarkan kesuksesannya itu, ia diajukan untuk menjadi Presiden. Siapa yang sangka ia akan sukses meningkatkan karirnya dari seorang agen travel menjadi orang nomor 1 di negeri ini?

Karena itu, di sinilah aku sekarang. Di sebuah ruangan yang tidak pernah aku bayangkan aku akan berada di tempat ini meski hanya untuk beberapa jam. Aku terbang 11 jam hanya untuk melihat ayahku dilantik menjadi Presiden Korea Selatan dengan masa bakti sampai 5 tahun ke depan. Song Hyejin. Anak orang nomor satu di Korea Selatan yang entah kenapa tidak begitu menyukai jabatan baru yang disandang ayahnya saat ini.

Aku melihat ibuku, Choi Jin Seul, dengan anggun berdiri di sebelah ayahku, mendukung sepenuhnya karena saat ini ia adalah wanita nomor satu di negeri ini. Aku hanya tertawa geli membayangkan kemanapun mereka pergi, sekarang, kan selalu ada orang yang mengikuti mereka. Sekretaris, ajudan, bodyguard. Bodyguards. I hate that terms.

Aku duduk bersama Choi Siwon, sepupuku yang paling tampan, ketua dewan perwakilan rakyat termuda yang pernah dimiliki oleh Republik ini. “Kenapa duduk di belakang denganku? Kenapa tidak di depan? Kau kan ketua DPR kami, Oppa,” kataku sambil mengetik lincah di layar smartphone-ku.

“Dan membiarkanmu duduk sendirian dan memperhatikanmu dari jauh? Sedetik aku meleng darimu, kau akan kabur. Iya kan?” Sahutnya yang membuatku menyeringai. Dia benar. Kalau tidak ada Siwon Oppa, mungkin aku akan kabur ke mall terdekat.

“Joong Ki Oppa tidak datang?” Tanyaku yang tidak mengetahui keberadaan Oppa kandungku sendiri. Song Joong Ki.

Siwon Oppa menggelengkan kepalanya. “Dia harus ke Dubai. Sejak Samchon terjun ke dunia politik, Oppa-mu itu mengambil alih perusahaan. Kau malah senang-senang di London.”

“Aku tidak senang-senang. Aku kuliah,” ujarku.

“Aku melihat fotomu dengan teman-temanmu di sebuah club,” katanya lagi membuatku agak kesal.

“Ya ampun, Choi Siwon Oppa-ku yang tampan. Apa salahnya sih ke club sehabis selesai ujian? Memangnya aku harus selalu belajar? Eoh?!”

Siwon Oppa hanya menyeringai jahil. Ia dan Joong Ki Oppa memang punya kebiasaan unik, menggangguku. Waktu kami kecil, mereka bahkan membuatku menangis minimal 3 kali sehari.

“Seremoni ini sebentar lagi selesai. Kau pasti sudah tidak sabar kan?”

Aku tersenyum lebar. Tentu saja. Aku sudah 3 tahun tidak pulang. Aku rindu dengan sahabat-sahabatku, Park MinAh, Jung HyunAh, Choi Jihyo dan Kang Hamun. Aku juga rindu dengan pria paling baik hati yang aku cintai, Kim Junsu.

Me
I will be coming in 30 minutes. I miss you so bad, girls!

MinAh
We miss you too, our new President’s daughter. Kkkkkk

HyunAh
We will wait. Come. Ppali!

Me
Shut up, Min! I am Song Hyejin, the prettiest girl on earth. Kkkkkk.

Jihyo
Of course I miss you too. Aku tidak sabar berjumpa denganmu, eonni. PS : kau bawa titipanku dari London kan, eonni?

Hamun
Hyejin eonni!!!! Aaaah! Bogoshipoo!!! Aku akan langsung meluncur begitu kelas tambahanku selesai.

—–

Aku tidak tahu apalagi agenda acara ayah dan ibuku setelah upacara pelantikan presiden. Mungkin acara makan bersama dengan mantan presiden dan pejabat-pejabat lainnya. Aku tidak peduli. Aku ingin segera bertemu dengan sahabat-sahabatku.

“Girlsss!!! Long time no see!!!” Seruku dengan histeris sambil memeluk keempat sahabatku satu per satu.

Park MinAh, sahabat yang aku kenal melalui pertemuan asosiasi pengusaha transportasi Korea Selatan. Kalau ayahku bergerak di bidang transportasi manusia, ayahnya di bidang transportasi barang. JMP Cargo dan Logistics. Tipe orangnya sama seperti aku, easygoing.

Jung HyunAh adalah sahabatku sejak bayi. Ayah kami bersahabat maka jadilah kami bersahabat. Ayah mengenalkan HyunAh kepadaku sejak ia masih berumur 2 tahun dan aku masih berada di kandungan. Dia sudah seperti kakak perempuanku tapi aku tidak pernah memanggilnya eonni. Maafkan aku, Hyun. Orangnya sabar dan bijaksana. Makanya aku betah dengannya.

Choi Jihyo. Aku tidak ingat kapan pertama kali mengenalnya. Ia jurnalis muda yang selalu mengikuti kemanapun ayahku pergi. Jihyo punya dokumentasi lengkap atas jejak karir ayahku. Kalau ayahku mau membuat otobiografi, Jihyo akan menjadi pilihan pertama yang akan membuatnya. Gadis ini adalah yang paling usil.

Kang Hamun yang paling muda di antara kami. Hobinya adalah belajar. Dia adik kelasku yang paling brilian. Percaya atau tidak, tugas akhir untuk kelulusan SMA-ku dibuat oleh Hamun yang waktu itu masih kelas 2 SMP. Orangnya agak serius tapi kalau tertawa akan yang paling keras suaranya. Oh iya, Hamun membuat tugasku bukan karena aku bodoh, aku tidak sempat karena aku begitu sibuk syuting.

Aku tersenyum cerah kepada sahabat-sahabatku. Setelah 3 tahun, ternyata tidak ada perbedaan. Mereka tetap menyenangkan dan membuatku betah berlama-lama dengan mereka, mendengarkan setiap cerita yang sudah aku lewatkan selama 3 tahun.

“Jadi kalian semua sudah punya pacar. MinAh dan HyunAh bahkan akan segera menikah. Tinggal aku yang masih single? Andweee!!!”

Keempat sahabatku tertawa terbahak-bahak. Hamun yang paling keras. “Makanya jangan pilih-pilih cowok. Emangnya di dunia ini cuman ada Junsu?” Kata MinAh dengan mulut ceplas-ceplosnya.

Aku menepuk bahu MinAh dengan gemas. “Itu namanya cinta sejati tahu. Iiih!”

“Memangnya kau tahu apa sih soal cinta sejati? Memangnya Junsu masih menunggumu?”

“Yaa Park MinAh!!!” Seruku yang kali ini sudah mencubit lengannya dengan gemas. “Jangan bicara yang tidak-tidak ah. Junsu Oppa pasti masih menungguku.”

HyunAh, Jihyo dan Hamun hanya tertawa. Mungkin mereka menertawakan kebodohanku yang masih menunggu pria yang bahkan tidak pernah menghubungiku sejak aku memutuskan hijrah ke London, 3 tahun lalu.

Jihyo menyeringai kepadaku. “Jadi sekarang eonni punya bodyguard?” Tanya Jihyo.

Bodyguard. Bodyguard. Astaga!!! Aku lupa. Aku membalik tubuhku dan melihat seorang pria yang entah sudah berapa lama berdiri di belakangku. “Ya Tuhan. Maafkan aku… Cho Kyuhyun-ssi, kenalkan ini teman-temanku. Min, Hyun, Jihyo, Hamun kenalkan ini teman baruku, Cho Kyuhyun.”

Cho Kyuhyun, pria muda yang aku yakin memiliki intelejensi tingkat tinggi karena ia merupakan salah satu lulusan terbaik fakultas hukum Harvard. Menurutku, ia bisa menjadi hakim atau jaksa atau mungkin pengacara paling handal di Korea tapi ia lebih memilih untuk menjadi sekretaris ayahku.

Aku menyeringai penuh rasa bersalah kepada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi bukan boyguardku. Dia sekretaris ayahku. Tadi aku asal masuk ke dalam mobil. Aku pikir itu mobilku tapi ternyata mobilnya dan aku….”

“Tidak usah dilanjutkan. Aku sudah tahu kebodohan eonni,” kata Hamun. Aku menatap Hamun dengan tajam. Entah dia terlalu brilian atau sebenarnya dia cenayang sampai tahu kebodohanku.

Aku masih memandang Kyuhyun dengan perasaan bersalah tapi ia memandangku dengan kesal. “Bisa kita pulang sekarang, Song Hyejin-ssi? Aku masih punya banyak pekerjaan. Aku bahkan seharusnya tidak boleh meninggalkan Tuan Presiden,” kata Kyuhyun.

Aku, seolah kehilangan akal, segera membereskan tas-ku dan berdiri untuk berpamitan pada sahabat-sahabatku. “Aku akan menemui kalian lagi besok,” kataku sambil mengecup dan memeluk keempat sahabatku itu bergantian.

MinAh tertawa kepadaku. “Hye, we’re going to club after this. Are you not coming?” MinAh mengacaukan pikiranku. Aku ingin ikut ke club, bersenang-senang. Dengan bingung, aku menatap Kyuhyun dan kemudian menatap MinAh.

“Kami akan mengantarkan Hyejin pulang dengan selamat, Cho Kyuhyun-ssi,” kata MinAh sambil tersenyum paling mematikan untuk kaum laki-laki. “Besok pagi.”

Kyuhyun tampaknya tidak terpengaruh. Dengan tegas Kyuhyun bilang, “Hyejin-ssi tidak boleh pergi sendirian.”

“Dia tidak pergi sendiri. Kami berempat menemaninya.”

“Maksudku, harus ada staf kepresidenan yang mengawalnya, Park MinAh-ssi. Song Hyejin-ssi bukan lagi rakyat biasa. Song Hyejin-ssi anak Presiden Korea Selatan. Song Hyejin-ssi harus mendapat pengawalan kemanapun Song Hyejin-ssi pergi.”

MinAh berbisik kepadaku, “Kalau dia tidak tampan, aku pasti akan menendangnya, Hye. Heiish!” Aku hanya tersenyum lemah. Aku ingin ikut pergi dengan sahabat-sahabatku namun aku harus pulang.

“Mianhe. Aku janji akan menemui kalian lagi besok. Kita akan bersenang-senang,” ujarku.

Hamun tiba-tiba berdiri. Ia berbicara serius dengan Kyuhyun. Sepertinya Hamun baru saja menggunakan otak briliannya untuk membujuk Kyuhyun.

“Sebentar lagi bodyguard-mu akan datang. Kau boleh pergi setelah bodyguardmu datang. Aku minta 4 orang bodyguard untuk mengawalmu,” kata Kyuhyun benar-benar membuatku takjub.

4 orang. Bodyguard. Aku paling benci dengan kata itu dan sekarang aku memiliki 4 dari hal yang aku benci. Astaga!!!

—–

Cuup.

Aku merasakan sebuah kecupan di keningku yang membuatku bangun di hari yang aku yakin sudah terang benderang melihat sinar matahari yang sudah menembus jendela kamarku.

“Oppa…” Ucapku begitu melihat Joong Ki Oppa yang entah sejak kapan sudah berada di sebelahku, menatapku dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.

Aku memeluknya dengan erat dan kembali memejamkan mataku dengan kepalaku di atas dadanya. “Kapan Oppa pulang dari Dubai?” Tanyaku dengan mata terpejam. Aku hanya memejamkan mata, bukan tidur.

“Tadi pagi,” jawabnya sambil mengelus kepalaku. “Waktu aku sampai, kau masih tidur. Kau baru pulang subuh ya? Kau pergi ke club dengan teman-temanmu?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku untuk menjawabnya.

“Kau harus mengurangi kebiasaanmu yang suka bersenang-senang itu. Appa sudah jadi Presiden sekarang. Kita tidak bisa lagi bertindak sesuka hati kita. Semua orang pasti akan memperhatikan. Kalau ada yang salah di mata mereka, pasti kita akan mendapatkan komentar yang tidak baik dan komentar tidak baik akan berpengaruh tidak baik untuk Appa juga rakyat.”

Song Joong Ki. Cinta pertamaku. A father is always a daughter’s first love. Berhubung, ayahku adalah orang yang sibuk berat maka Joong Ki Oppa adalah yang menjadi sosok ayah untukku karena itu aku jatuh cinta padanya. Joong Ki Oppa orangnya sama easygoing-nya denganku. Dia suka bersenang-senang tapi hanya sampai umur 16 tahun. Begitu dia masuk kuliah, dia sadar takdirnya adalah sebagai penerus Song Seung Hoon dan dia mempertanggung jawabkannya takdirnya itu dengan baik, menurutku.

Aku memeluk Joong Ki Oppa semakin erat. “Oppa… Kau cerewet sekali.”

“Aku mohon dengarkan nasihatku. Aku tahu kau tidak suka Appa jadi Presiden, Oppa juga. Kita tidak perlu mendukungnya tapi paling tidak kita tidak mengacaukan pekerjaannya sekarang.”

“Humm…” Aku menjawab seadanya. Agak malas mendengarkan ceramahnya di hari kedua aku menjadi anak Presiden, gelar paling memalukan yang pernah aku dapatkan seumur hidup.

“Hyejin-ah, Oppa mohon dengarkan perkataan Oppa dengan baik.”

“Arraseo, Oppa sayang.”

“Gomawo, dongsaengi,” kata Joong Ki Oppa sambil mengecup dan mengelus kepalaku lagi, dengan penuh kasih sayang.

Sekretaris Joong Ki Oppa tiba-tiba masuk ke kamarku. Aku tidak tahu namanya karena aku belum pernah melihatnya. “Tuan, Nona. Presiden sudah menunggu di bawah untuk makan siang bersama,” katanya.

Seketika, aku membelalakan mataku. “Makan siang?! Apa?!”

Aku segera loncat dari tempat tidurku. Aku segera mencuci muka dan gosok gigi serta mengganti bajuku dengan pakaian rumah yang lebih bersih. Appa pasti akan memarahiku habis-habisan kalau ia tahu anak perempuannya baru bangun apalagi kalau ia tahu aku pergi ke club sampai pagi. Joong Ki Oppa hanya menertawakan kepanikanku.

“Oppa, berhenti menertawakanku!” Omelku saat kami menuruni tangga untuk menemui Appa di ruang makan.

Appa dan Eomma sudah menunggu di ruang makan dengan beberapa pelayan dan ajudan serta sekretarisnya yang menurut penglihatanku lebih tampan daripada semalam aku melihatnya.

“Selamat pagi, Song Hyejin-ssi. Tidurmu nyenyak pagi ini?” Sapanya dengan ramah namun membuat Appa membelalakan matanya kepadaku.

“Hyejin-ah, kau pergi ke club dan baru pulang tadi pagi?”

Aku hanya bisa diam seribu bahasa mendengar pertanyaan Appa dan omelannya yang lebih panjang daripada rangkaian kereta yang dimiliki perusahaan kami. Aku melirik Kyuhyun dengan kesal.

‘Astaga! Kalau kau tidak tampan. Aku pasti sudah menghajarmu, Cho Kyuhyun!’ Batinku dengan jantung berdegup kencang.

—–

Kkeut!

xoxo @gyumontic