Kyuhyun sedang menyetir mobil sehingga ia tidak bisa membaca pesan yang masuk ke dalam smartphone-nya meskipun bunyi notifikasinya menggema keras melalui speaker-speaker di seluruh sisi pintunya. Kyuhyun memasang mode voice speaker pada smartphone-nya agar jika ada yang menghubunginya ia tidak perlu mengangkat smartphone-nya, hanya cukup memencet tombol penjawab pada setirnya.

“Miinah,” ucapnya dan entah bagaimana penciptanya menemukan teknologi ini, Kyuhyun tersambung dengan seseorang di sana.

“Yaaa Cho Kyuhyun!!! Kau dimana?? Aku kirim pesan berkali-kali tidak ada yang kau balas. Haiiish!!!” Teriak seorang gadis, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kyuhyun tidak keberatan. Ia sudah mengenal gadis itu cukup lama dan sudah menjadi kebiasaannya tidak mendengar salam walau hanya sekedar untuk basa-basi tapi langsung mendengar omelannya atau sebaliknya, ia yang mengomel pada orang itu. Bukan masalah besar.

Kyuhyun tertawa. “Maafkan aku, cantik. Aku sedang menyetir jadi tidak bisa membaca pesanmu. Waeyo?” Sahut Kyuhyun dengan nada yang menurutnya selalu normal tapi selalu dianggap orang itu sebagai candaan.

“Jangan bercanda. Kau jadi ke rumahku tidak? Aku nyaris tertidur saking lamanya menunggumu,” kata perempuan itu. Yah, Kyuhyun memanggilnya cantik jadi bisa diasumsikan lawan bicaranya sekarang adalah seorang perempuan. Perempuan itu tidak lagi mengomel.

Dengan enteng Kyuhyun menjawab, “Jadi. Ini aku sudah masuk parkiran rumahmu. Aigoo… Kenapa parkiran rumah presiden harus sebesar ini sih?”

Kyuhyun kembali tertawa mendengar lawan bicaranya kembali mengomel. “Itu sudah keluhanmu yang keseribu yang aku dengar. Lain kali tidak usah bawa mobil ke rumahku!”

“Berlebihan. Aku sudah selesai memarkir mobilku. Lebih baik sekarang kau membuka pintu rumahmu.”

“Daritadi juga sudah dibuka, jelek. Aku tunggu di ruang makan.”

Perempuan itu yang lebih dulu mematikan kontak mereka. Kyuhyun keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah perempuan itu dengan membawa sebuah bungkusan yang isinya tentu saja berupa makanan ringan. Tidak ada yang lebih nikmat dari mengobrol sampai larut malam ditemani dengan makanan ringan.

“Selamaaaat malaaaam!!” Seru Kyuhyun dengan gaya cerianya yang khas untuk menyapa perempuan yang sudah duduk manis di salah satu kursi makan, menunggu kedatangannya. Tidak, makanan yang dipesannya sebenarnya.

“Kau bawa ttokboki pesananku?” Tagih perempuan itu begitu Kyuhyun muncul di hadapannya.

Seolah berada di rumahnya sendiri, Kyuhyun mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan tempat duduk perempuan itu lalu membuka bawaannya dengan cekatan. “Kalau aku lupa, kau pasti marah padaku kan? Jjan,” kata Kyuhyun dan menyodorkan ttokboki yang ia bawa kepada pemesannya.

Perempuan itu tersenyum lebar melihat ttokboki di hadapannya. Ia mengendus, menghirup aroma salah satu makanan kesukaannya dan memasukkan satu potong ke dalam mulutnya. “Mashitta!” Ucapnya setelah ttokboki itu telah berpindah ke perutnya.

Saat perempuan itu menikmati ttokbokinya, Kyuhyun tampak sekali menikmati makanan ringannya sendiri, fishcake. “Orang tuamu belum pulang?” Tanya Kyuhyun sambil mengunyah fishcake kesukaannya.

Perempuan itu menggelengkan kepala. “Mereka masih kunjungan negara ke Rusia. Ya Tuhan Cho Kyuhyun! Kurasa kau tinggal satu-satunya orang yang memanggil presiden negara ini dengan sebutan yang begitu kasual. ‘Orang tuamu’,” kata perempuan itu sambil tertawa. Perempuan itu bukannya tidak suka, ia malah begitu senang bahwa masih ada yang menganggap ia dan orang tuanya hanyalah juga orang biasa.

“Orang tuamu sendiri yang melarangku memanggil mereka dengan sebutan ‘Yang Terhormat Bapak Presiden’ atau ‘ Yang Terhormat Ibu Presiden’. Mereka lebih senang dipanggil ‘Samchon’ atau ‘Imo’. Tentu saja di luar urusan formal. Lagipula aku bersumpah tidak akan jadi sekretaris Presiden lagi kalau aku hidup formal 24 jam. Kalian tidak akan bisa menemukan sekretaris sehebat aku,” kata Kyuhyun dengan percaya diri, tentu saja diiringi tawa renyahnya.

“Dasar sombong!”

“Aku tidak sombong. Aku bicara kenyataan.”

Memang pada kenyataannya, Kyuhyun adalah sekretaris terbaik yang dimiliki oleh Presiden Song. Sejak orang tua Hyejin dilantik menjadi Presiden dan ibu negara, Kyuhyun banyak membantu pekerjaan orang tua Hyejin sebagai orang nomor satu negara ini. Kyuhyun punya tingkat negosiasi yang lebih tinggi akibat kemampuannya ini.

“Calon suamimu sudah pulang?” Tanya Kyuhyun saat menggigit fishcake-nya yang ketiga.

Perempuan itu memandang tajam Kyuhyun, melemparkan pandangan yang seolah menyuruh Kyuhyun lebih baik diam. Kyuhyun yang sudah mengerti arti tatapan perempuan itu, tanpa diminta dua kali, tidak lagi mengajukan pertanyaan tersebut.

“Gara-gara kau, aku terpaksa menerima perjodohan itu,” kata Hyejin tajam.

Kyuhyun tahu jelas bagaimana perempuan itu dijodohkan dengan seorang anak Perdana Menteri yang sama sekali tidak dicintainya. Berkali-kali ia mencoba untuk melarikan diri dari perjodohan ini tapi ia selalu saja gagal. Pria itu selalu mengejarnya sampai ia sendiri lelah dan akhirnya menerima perjodohan itu. Perempuan itu mencoba belajar untuk mencintai pria yang dijodohkan dengannya namun pria itu justru bertindak sebaliknya, bukannya menghargai usaha perempuan itu tapi malah merasa memang sudah kewajiban perempuan itu untuk melakukannya.

Kyuhyun menatap perempuan itu dengan intens. Tidak sedetik pun pandangannya lepas dari perempuan yang sedang memakan potongan terakhir ttokbokinya, terlihat sangat menikmatinya. “Yaa Song Hyejin,” panggil Kyuhyun kepada perempuan itu dengan nama lengkapnya.

Perempuan itu menegok kepada Kyuhyun dengan bingung. Baru kali ini ia mendengar nada suara Kyuhyun yang begitu serius. Hyejin mengenalnya sebagai sosok pria yang sangat menyenangkan. Meskipun mulutnya tajam tapi semua kata-kata yang keluar selalu menimbulkan tawa. Dua tahun mengenal Kyuhyun, ia juga tahu bahwa Kyuhyun adalah tipe orang yang easy going, tidak pernah terlihat serius meskipun sebenarnya ia sangat bertanggung jawab pada apapun yang diberikan kepadanya. Jadi, mendengar Kyuhyun memanggilnya seserius ini terasa sangat aneh.

“Waeyo?” Tanya Hyejin dengan ringan, berusaha mencairkan suasana di antara mereka meskipun tidak berguna. Aura Kyuhyun selalu lebih kuat darinya.

“Aku mencintaimu,” kata Kyuhyun dengan tegas, lugas dan jelas. Tatapannya pun menunjukkan hal yang sama. Tidak ada sedikitpun keraguan di matanya.

Hyejin menatap Kyuhyun dengan tingkat kebingungannya yang telah bertambah. “Mwo? Apa kau bilang?”

“Aku hanya ingin kau tahu. Kau tidak perlu memikirkannya. Arraseo?” Kata Kyuhyun yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hyejin.

Hyejin melemparkan serbet yang berada di dekatnya kepada Kyuhyun, dengan kesal. “Aku tanya kau bilang apa dan kau jawab supaya aku tidak memikirkannya? Humm?” Protes Hyejin mengingat sekarang jantungnya berdebar tidak karuan begitu juga dengan kepalanya yang tiba-tiba sakit.

Kyuhyun hanya tersenyum. “Aku hanya akan mengucapkannya sekali. Yang akan aku tekankan, aku hanya ingin kau tahu. Titik,” kata Kyuhyun.

“Kau benar-benar menyebalkan, Cho Kyuhyun! Berkali-kali aku bilang mencintaimu tapi kau tidak pernah bilang apapun dan sekarang dengan mudahnya kau bilang aku harus tahu bahwa kau juga mencintaiku. Kau menyebalkan!”

Hyejin mengangkat tubuhnya dari kursinya dan membawanya menuju kamarnya. Dia terlalu kacau sehingga yang ia rasakan satu-satunya cara untuk membantunya kembali tenang adalah masuk ke dalam kamarnya dan tidur.

Aku terkejut. Lebih baik kau pulang, Kyu. Mian. Sampai jumpa.

Kyuhyun membaca pesan yang dikirimkan Hyejin kepadanya beberapa saat setelah perempuan itu masuk ke dalam kamarnya. Kyuhyun pun segera membalasnya.

Jalja. Selamat tidur, cantik. Sampai jumpa BESOK. BESOK! Hahahahaa.

—-

Hyejin hanya mampu berguling-guling di tempat tidurnya sampai jam 4 pagi, memikirkan pernyataan cinta laki-laki bodoh yang entah mendapat ilham darimana untuk tiba-tiba mengatakannya, dan sekarang ia sudah dibangunkan oleh dering smartphone-nya.

Hyejin melihat layar smartphone-nya yang menunjukkan waktu baru beranjak memasuki pukul 6 pagi dan orang ini sudah meneleponnya. “Babo,” gumam Hyejin sambil menerima panggilan tersebut. “Waeeee?!”

“Yaaa!!! Kau ada kuliah jam 7 dan kau belum bangun?! Yaaa! Kau mau tidak lulus?!” Teriak penelepon itu membuat Hyejin tersadar sepenuhnya.

Hyejin bangkit berdiri dari tempat tidurnya dan balik berteriak, “Yaa Cho Kyuhyun! Apa hakmu berteriak-teriak padaku seperti itu?!”

“Ya Tuhan perempuan ini! Kau lupa pesan ayahmu setiap saat dia mau berpergian? ‘Kyu, aku titip Hyejin padamu’ dan aku selalu tidak pernah mengecewakannya. Jadi sekarang, angkat badanmu dari tempat tidur itu, masuk ke kamar mandi, siap-siap dan segera berangkat. Aku akan mengecekmu sudah di kampus atau belum jam 7 nanti!” Kyuhyun lalu memutus panggilannya dan meninggalkan Hyejin yang sedang bersungut-sungut kesal kepadanya sambil bersiap-siap untuk pergi kuliah.

“Dasar aneh! Semalam bilang cinta padaku tapi pagi-pagi sudah marah-marah padaku. Sialan! Jangan harap aku membalas cintamu, tuan Cho!!! Tidak akan!!!”

Tidak sampai 30 menit, Hyejin sudah siap berangkat. Sebagai seorang anak nomor satu di negara ini tentu saja ia tidak akan dibiarkan berangkat sendiri, kemanapun ia pergi. Seorang supir dan sejumlah pengawal harus selalu siap mendampinginya. Meskipun ia telah merengek ribuan kali untuk terlepas dari protokol itu, tidak ada yang mengabulkannya. Hanya ke kamar mandi, Hyejin dibiarkan sendiri.

Hyejin memasuki kelasnya dan duduk bergabung dengan sahabat-sahabatnya sedangkan 4 pengawalnya duduk di belakang mereka. Pada awalnya, Hyejin merasa risih dengan kuliah macam ini tapi lama-lama ia menganggap makhluk yang selalu memakai earphone yang tersembunyi di telinga mereka, nyaris tidak terlihat. Ia melakukan kegiatannya seperti layaknya orang biasa yang tidak memiliki orang-orang yang bertugas menjaganya.

Baru saja Hyejin duduk, smartphone-nya berdering hebat. Tanpa perlu melihat siapa yang meneleponnya, Hyejin langsung menjawabnya. Ia tahu yang akan meneleponnya saat ini hanyalah orang yang mau mengecek keberadaannya di jam 7 pagi. “Aku sudah di kelas,” kata Hyejin singkat lalu menutup sambungannya.

Kyuhyun mencoba meneleponnya lagi dan reaksi yang diberikan Hyejin adalah menekan tombol reject. Begitu terus sampai akhirnya Kyuhyun menyerah dan memilih untuk mengirimkan pesan kepada Hyejin.

Nanti siang aku ada rapat dekat kampusmu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku traktir.

Hyejin membaca pesan itu lalu membalasnya.

Kalau kau minta maaf karena pagi-pagi telah mengomeliku, aku akan datang.

Aku minta maaf.

Senyuman Hyejin terkembang lebar. Segala kekesalan yang ia rasakan sejak bangun jam 6 pagi tadi seketika sirna. Ia merasakan hatinya jauh lebih hangat. Dengan senang hati, ia pun menyetujui ajakan Kyuhyun.

Okay. Kirimkan aku alamat restorannya.

Tenang saja. Aku akan menjemputmu.

Hyejin langsung menoleh kepada empat pengawalnya yang duduk siaga di belakang Hyejin. Mana mungkin keempat orang itu membiarkannya pergi tanpa pengawalan.

“Kenapa, nona?” Tanya salah satu pengawal Hyejin dengan sopan namun tidak meninggalkan kesiagaannya.

“Nanti siang, Kyuhyun akan menjemputku untuk makan siang bersama. Apa boleh?” Tanya Hyejin dengan keraguan para pengawalnya akan mengabulkan. Untuk makan di kantin dengan keempat sahabatnya saja Hyejin masih dikawal ketat apalagi makan di restoran yang isinya orang-orang yang tidak dikenal. Hyejin menyebutnya sebagai pengawalan yang berlebihan.

Tanpa disangka-sangka, pengawal Hyejin menganggukkan kepalanya. “Tentu saja boleh,” jawab pengawal itu membuat Hyejin tercengang.

Bagaimana bisa? Apa mereka sudah gila? Bagaimana mereka begitu mudah memberikan izin?

“Kalian serius?” Tanya Hyejin kepada para pengawalnya dengan tidak percaya.

“Kami serius. Anda pergi dengan tuan Cho kan?” Kata pengawalnya yang menyadarkan Hyejin bahwa pertanyaan-pertanyaan bodohnya sudah memiliki jawaban sejak lama.

Ia akan pergi dengan Cho Kyuhyun, orang yang dipercaya ayahnya untuk menjaga dirinya bahkan perusahaan berskala internasional yang dimilikinya. Kalau ayahnya saja percaya, kenapa para pengawal bisa tidak percaya? Lebih lagi, ternyata laki-laki itu mencintainya. Mengenal Kyuhyun sekian lama, tidak pernah terlihat Kyuhyun suka menyakiti sesuatu yang disukainya.

“Babo,” gumam Hyejin lebih kepada dirinya sendiri.

—-

Kkeut!

xoxo @gyumontic