Annyeong, thank you for always reading our fanfiction and hope you enjoy this one too. Ini sequel dari ff ‘The Way To Love’. Enjoy!

Now i know how much i hurt you. But, i know it’s too late to apologize. Could you please come back to me? I can’t forget you, never. Even there’s someone love me like you do. Even then. What should i do, Hamun? Tell me, please. – Lee Donghae (everytime, after the end)

Disaat seperti sekarang, wanita ini merasa sangat bahagia. Ia bahagia, karena bisa melihat pria yang ia cintai menatapnya dengan penuh kelembutan. Ia bahagia, karena pria itu mengelus kepalanya dan membelai wajahnya dengan tangan yang hangat. Apabila wanita itu bertanya, “Oppa, kau sudah mencintaiku saat ini?” Pria itu pasti akan tersenyum dan menjawab, “Saranghae, Hamun ah,” Berbeda dengan diri pria itu setahun yang lalu. Jika Hamun bertanya seperti itu, pria itu pasti akan menjawabnya dengan dingin.

“Donghae oppa, apa kau bahagia bersamaku? Kau tak menyesal dengan keputusanmu setahun yang lalu?” tanya Hamun sambil menggenggam tangan Donghae yang sejak tadi membelai wajah Hamun. Lagi-lagi, Donghae tersenyum. Kini Donghae menarik Hamun ke dalam pelukannya. “Tentu saja, Hamun sayang,” katanya.

Kalimat pendek yang Donghae ucapkan dan semua sikapnya pada Hamun selalu membuat jantung gadis itu berdebar lebih cepat. “Tidurlah, sudah malam, sayang. Kau tidak boleh kelelahan. Jaga jantungmu,” kata Donghae.

“Arraseo, Donghae oppa,” kata Hamun sambil membalas pelukan pria itu. Perhatian dan kelembutan yang Donghae berikan selalu membuat Hamun merasa bahagia. Selalu membuat Hamun berandai-andai, andai ini bukan kebohongan. Selalu membuat Hamun berharap, suatu saat Donghae akan benar-benar mencintainya.

Donghae melihat mata Hamun sudah terpejam. Ia melepaskan tangan Hamun yang memeluknya. Ia bangkit dari tempat tidurnya tanpa lupa membawa smartphone miliknya. Ia berjalan dengan sangat pelan, membuka pintu kamar itu dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan Hamun. Tepatnya, ia tidak ingin Hamun tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini. Donghae duduk di ruang tamu dan menekan beberapa angka yang sudah sangat ia hafal.

“Hyejin ah, aku merindukanmu,” katanya begitu orang diseberang sana menyapanya.

“Nado, aku sangat merindukanmu, Donghae,” balas orang itu.

Mereka terus bercakap-cakap sampai tidak terasa waktu 2 jam telah terlewati. “Sayang, tidurlah. Kau pasti mengantuk. Maaf, aku hanya bisa menelponmu di jam seperti ini,” kata Donghae.

“Oppa, sampai kapan aku harus menunggu?” tanya Hyejin.

Donghae menghela nafas, “Bersabarlah sayang, kontrak dari ayah Hamun akan selesai setahun lagi,”

“Oppa, kau.. tidak mencintai Hamun, kan? Kau selalu bersamanya,”

Donghae tersenyum lirih. “Hm, dia memang gadis yang baik, tapi aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu. Jangan khawatir ya, sayang. Aku hanya kasihan pada Hamun dan ayahnya. Mereka orang yang baik, setidaknya aku ingin membalas kebaikan mereka,” katanya.

Kaki Hamun menjadi lemas setelah mendengar semua percakapan Donghae dan Hyejin melalui telepon. Dirinya terduduk di balik pintu yang membatasi antara kamarnya dan ruang tamu. Ia tersenyum lirih dan air matanya mengalir. Hatinya terasa perih. Rasa yang sama seperti saat pertama kali ia mengetahui semua kenyataan ini setahun yang lalu.

Sebulan awal setelah Donghae memutuskan untuk kembali pada Hamun, hari-hari Hamun terasa sangat menyenangkan. Hamun berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik. Ia memasak untuk Donghae, menyiapkan kemeja yang akan Donghae pakai untuk ke kantor, dan hal-hal lainnya. Suatu hari, saat ia membereskan lemari baju Donghae. Ia menemukan sebuah berkas yang membuat hatinya sangat hancur. Berkas itu berisi dokumen mengenai perpanjangan kontrak antara Donghae dan ayah Hamun lalu juga ada surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh Donghae.

Hamun menangis saat membaca kontrak itu dan surat perceraiannya. Ia pikir, Donghae kembali padanya karena memang mau belajar mencintainya. Ia pikir, jika ia terus berusaha Donghae akan benar-benar mencintainya. Ia pikir, kali ini ia dapat membuat Donghae bahagia.

Hamun kembali ke tempat tidurnya saat mendengar langkah kaki Donghae. Ia menghela nafasnya panjang dan segera menghapus air matanya.

“Oppa, kau darimana?” tanya Hamun yang sudah kembali tertidur di kasurnya.

Donghae tersenyum lalu kembali naik ke tempat tidur itu. “Aku lapar, jadi aku mencari makanan di kulkas barusan,” katanya sembari membetulkan selimut di tubuh Hamun.

“Mau kumasakkan sesuatu?” tanya Hamun sambil menatap Donghae lembut.

Donghae menggeleng lalu kembali memeluk Hamun. “Ani, kau tidur saja ya, Hamun. Aku juga sudah mengantuk,” katanya.

Dalam dekapan itu, setetes air mata Hamun mengalir. Ia kembali disadarkan bahwa sampai hari ini harapannya belum menjadi kenyataan. Ia tidak mendengar debaran jantung pria itu saat Donghae memeluknya. Ia juga ingat perkataan Donghae pada Hyejin yang selalu sama tiap harinya. ‘Aku tidak mencintainya. Aku hanya kasihan padanya. Aku hanya mencintaimu, Hyejin.’ Kalimat yang selalu membuat hati Hamun hancur.

Donghae tidak pernah tahu kalau Hamun sudah mengetahui kebohongan ini sejak awal. Hamun bertahan selama ini, karena sesungguhnya di dalam hatinya Hamun masih berharap kalau suatu hari Donghae bisa menyayanginya, walau hanya sedikit. Hamun masih berharap dalam hatinya, suatu saat senyum yang terpatri di wajah Donghae adalah karena dirinya.

*****

Waktu pun terus berlalu. 1 tahun  4 bulan telah terlewati. Sampai saat ini pun, Hamun tahu kalau Donghae belum mencintainya. Kemarin malam pun, ia masih mendengar Donghae mengucapkan kata cinta untuk Hyejin. Bukan untuknya.

Saat ini sudah pukul 2 dini hari. Disaat sekarang, seperti biasanya, Hamun duduk di depan pintu kamar untuk mendengarkan apa yang Donghae dan Hyejin bicarakan. Tindakan bodoh ini ia lakukan dengan harapan bahwa Donghae akan mengatakan, ‘Hyejin maaf, aku jatuh cinta pada Hamun.’ Ia rela menambah rasa sakitnya hanya untuk mendengarkan pengakuan itu dari Donghae.

“A-a-apa? Kau bercanda, kan, Hyejin? Ka-kau tidak mungkin memutuskanku, kan, sayang?” tanya Donghae. Begitulah yang Hamun dengar. Jantung Hamun mulai berdebar kencang. Ia mulai bertanya-tanya apa yang terjadi antara Donghae dan Hyejin.

“Aku tidak bercanda, Donghae. Aku memutuskanmu karena aku sadar diriku tidak pantas untukmu. Aku, saat kau tidak bersamaku, aku menemukan seseorang yang mengisi kesepianku. Kini, aku rasa aku mencintainya,” kata Hyejin.

Hamun tak mendengar balasan apapun dari Donghae. Ia buru-buru kembali ke tempat tidurnya karena ia mendengar suara langkah Donghae yang semakin mendekat. “Oppa, darimana?” tanya Hamun begitu Donghae masuk ke kamarnya. Donghae naik ke tempat tidur tanpa menjawab pertanyaan Hamun. Ia segera menutup badannya dengan selimut dan memutar tubuhnya memunggungi Hamun.

Hamun tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, walaupun Hamun tak bisa bilang kalau ia mendengar semua percakapan Donghae dengan Hyejin tadi. “Oppa, gwencanayo?” tanya Hamun.

“Aku ingin tidur,” balas Donghae dengan singkat. Jantung Hamun kembali berdetak dengan ritme yang tidak biasa. Ia punya firasat buruk mengenai hal ini.

Pagi itu, Hamun bangun lebih cepat dibandingkan biasanya. Ia ingin memasakan sesuatu yang spesial untuk Donghae. Makanan favorit Donghae. Ia juga menyiapkan semua keperluan Donghae di kantor dan memilihkan setelan jas untuk pria itu. Hamun melakukan semua ini karena ia ingin Donghae bahagia. Ia ingin semua perbuatannya ini dapat membuat Donghae melupakan kesedihannya yang disebabkan oleh Hyejin dini hari tadi.

“Selamat pagi, oppa,” sapa Hamun pada Donghae yang sedang memakai kemejanya. “Sarapannya sudah jadi,” lanjutnya. Melihat Donghae yang hendak memakai dasi, Hamun segera menghampiri Donghae untuk membantunya. “Sini, aku pasangkan, oppa,” katanya.

Tangan Hamun terhenti saat Donghae mengatakan, “Aku bisa sendiri, Hamun,”

Jantung Hamun berdebar lebih cepat. Ia merasakan dadanya sakit namun ia mengacuhkan semua perasaan itu. “Ah, oppa, aku ingin membantumu. Aku bantu, ya?” tawar Hamun sembari ia mulai membuat simpul dengan dasi itu.

“Aku bilang, aku bisa sendiri Hamun,” kata Donghae sambil menepis tangan Hamun. Donghae menatap Hamun dengan dingin, seperti Donghae setahun yang lalu. Tatapan yang membuat Hamun merasakan sakit yang mendalam tiap kali melihat mata itu. Hamun mengalihkan pandangannya. “Kalau begitu, aku tunggu diluar ya, oppa,” kata Hamun. Begitu ia keluar dari kamar itu, tangisan Hamun meleleh. Ia tak mau Donghae kembali seperti dulu.

Setelah Donghae keluar dari kamar, pria itu segera duduk di kursi ruang makan. Hamun tersenyum saat pria itu mulai memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. “Oppa senang dengan makanannya?” tanya Hamun.

“Hm,” jawabnya tanpa menatap Hamun. Hati Hamun teriris. Ia bisa melihat kalau segala sesuatu yang Hamun lakukan untuk Donghae tidak dapat membuatnya bahagia. Apakah sumber kebahagiaanmu hanya Hyejin onnie, oppa? Apa sedikit pun yang kulakukan untukmu tidak dapat membuatmu bahagia? Sesungguhnya, Hamun sendiri sudah tahu jawabannya. Ia menanyakan hal itu berulang kali dengan harapan suatu saat Donghae akan menyangkalnya. Akan tetapi, kapankah hal itu mungkin terjadi?

Hamun menghela nafas panjang untuk meredam rasa sakitnya. “Oppa, apa yang bisa kulakukan agar engkau bahagia?” tanya Hamun pada Donghae.

Donghae terdiam dan tetap menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Ia bertindak seolah-olah dirinya tidak mendengar pertanyaan Hamun. “Oppa, jawab aku,” ujar Hamun lirih. Hamun berharap dalam hati kalau ia dapat menemukan cara untuk membuat pria yang sangat ia cintai ini bahagia.

Donghae meletakan sendoknya. Ia akhirnya menatap Hamun, akan tetapi hati Hamun hancur saat melihat pria itu menatapnya seperti setahun yang lalu. Dingin, tidak ada kelembutan, justru Hamun bisa merasakan kebencian dari cara pria itu menatapnya. Hamun bertanya dalam hati, apa kesalahan yang ia lakukan sampai pria itu kembali menatapnya seperti itu?

Tiba-tiba pria itu mendengus lalu tertawa sinis. “Kau yang membuatku seperti ini. Kau lemah, sakit, tak berdaya, namun kau punya kekayaan untuk membeliku. Kau yang membuatku sudah lupa bahagia itu seperti apa. Kau bertanya padaku apa yang bisa membuatku bahagia?”

Air mata Hamun mengalir saat mendengar perkataan Donghae. Ia mencintai pria itu dengan tulus, sepenuh hatinya. Apa rasa itu sedikitpun tidak sampai pada pria itu? Apa kehadiran Hamun tidak dapat membuat Donghae tersenyum lagi?

“Apa sama sekali tidak ada yang bisa kulakukan, oppa?” tanya Hamun lirih.

“Ada, satu hal,” jawab Donghae. Hamun kembali menatapnya. Menanti kelanjutan perkataan Donghae.

“Aku akan bahagia apabila aku dapat pergi dari kehidupanmu,” katanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Hamun. Air mata Hamun menderas bersamaan dengan kepergian pria itu. Ia menangis nyaris histeris, ia sudah merasakan jantungnya mulai mencengkram dadanya. Terasa sangat sakit. Ia berusaha menenangkan dirinya. Hamun ingat kalau ada suatu hal yang harus ia lakukan. Hal yang paling menyakitkan bagi Hamun tapi akan ia lakukan untuk Donghae.

*****

Malam itu, Hamun menunggu Donghae dalam kekhawatiran. Pria itu belum kembali ke rumah meskipun waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Hamun langsung bangkit dari tempat duduknya dan segera menghampiri Donghae. “Oppa, kau tidak kenapa-kenapa, kan? Kenapa baru pulang jam segini?” tanya Hamun khawatir sambil mengelus pipi pria itu dan meniliknya dari atas sampai bawah. Hamun menghela nafas panjang karena tidak menemukan luka di tubuh Donghae.

“Syukurlah,” ucap Hamun lega. Ia menengadahkan kepalanya dan matanya bertemu dengan mata pria itu. Jantung Hamun kembali berpacu cepat dan hatinya terasa sakit. Donghae menatapnya dingin, tak ada cinta sedikit pun untuk Hamun. Donghae menepis tangan Hamun yang sejak tadi ada ditubuhnya lalu meninggalkan wanita itu. Hamun terdiam di tempatnya, tak mampu menahan air matanya yang mengalir.

“Oppa,” panggil Hamun lirih. Ia memutar tubuhnya sehingga kini ia hanya dapat memandang punggung Donghae. “Apa tidak ada sedikit pun cinta untukku?” tanyanya.

Donghae memutar tubuhnya sehingga kini ia dapat melihat Hamun. Donghae tidak memberikan jawab apapun namun dari caranya menatap Hamun, wanita itu tahu apa jawaban Donghae.

Hamun menengadahkan kepalanya, mencegah air matanya kembali menetes. Dengan langkah gontai, ia menghampiri Donghae. “Aku akan membuatmu bahagia,” katanya sambil memberikan surat cerai yang sudah Hamun tanda tangani. “Kita sudah resmi bercerai. Kau harus bahagia dengan Hyejin,” kata Hamun. “Janji?” tanya Hamun dengan senyuman yang tidak bisa menutupi kesedihannya. Air matanya mengalir tatapan pria itu berubah menjadi lebih lembut.

“Gomawo,” kata Donghae yang langsung meninggalkan rumah itu.

Hamun langsung terjatuh ditempatnya berdiri tadi. Air mata yang sedari tahan kini mengalir dengan deras. Kesedihan yang tak bisa diungkapkan membuat histeris. Rasa sakit yang tidak sanggup lagi diterima tubuhnya membuat jantung Hamun berpacu kencang. Dadanya terasa sesak dan nafasnya mulai berat. Ia bahkan tidak mampu untuk berteriak lagi. Hanya gelap yang ia tahu setelah itu.

*****

Hamun membuka matanya dan mendapati ayahnya memandangnya dengan kebahagiaan. Ia tidak menyangka kalau putrinya akan bertahan setelah 3 hari koma. Ia tahu pasti kalau hanya Donghae yang membuat Hamun dapat bertahan hidup.

“Ada apa sayang?” tanya Appa Hamun saat melihat Hamun membuka mulutnya.

“Apa.. Donghae.. oppa.. su-sudah bahagia.. dengan.. Hye-Hyejin?” tanya Hamun tanpa bisa menahan air matanya.

Appa Hamun menghela nafas panjang. “Hyejin sudah menikah dengan pria bernama Kyuhyun. Akhirnya, Donghae berusaha bunuh diri. Ia nyaris meninggal namun nyawanya tertolong karena ada orang yang menyelamatkannya. Akan tetapi, ia mengalami kerusakan parah di matanya. Ia tidak bisa melihat lagi,” kata ayahnya.

Tangis Hamun kembali menderas. Ia memohon-mohon pada ayahnya untuk dibawa ke ruang Donghae. Tangis Hamun menderas saat melihat tubuh Donghae yang terkapar itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Donghae saat ia bangun dan menyadari apa yang terjadi padanya. Hamun tak ingin Donghae mengalami penderitaan itu. Pria itu sudah menderita karenanya. Ia tak boleh lagi merasakan hal itu.

*****

Donghae membuka matanya setelah sekian lama ia tidak sadarkan diri. Ia merasa ada yang berbeda dengan matanya namun ia masih melihat segala sesuatunya dengan jelas. Donghae hendak bangkit dari tempat tidur namun seorang pria menahannya. “Tidurlah, tubuhmu masih belum kuat untuk bangkit. Akan aku panggilkan suster,” kata pria paruh baya itu.

Setelah selesai diperiksa, akhirnya hanya Donghae dan pria itu di kamar rumah sakit ini. “Kenapa aboeji bisa disini?” tanya Donghae penasaran melihat ayah Hamun menemaninya di ruangan itu.

“Hamun berpesan agar aku menjagamu. Jangan sampai kau mencoba bunuh diri lagi,” katanya.

Mendengar itu, Donghae menghela nafas panjang. “Aku tidak mengerti dengan Hamun. Aku sudah sangat jahat padanya tapi ia tetap memikirkan kebahagiaanku. Aku juga sangat kaget saat ia memberikan surat cerai itu. Aku tak menyangka ia akan melakukannya, padahal ia nyaris meninggal saat aku meminta untuk bercerai 1,5 tahun yang lalu,” ujar Donghae. Mengingat itu, mau tak mau air matanya mengalir karena rasa bersalahnya.

“Ia baik-baik saja, kan, aboeji? Kupikir, rasa cintanya padaku pasti berkurang karena sikapku padanya. Maka dari itu, ia sanggup menceraikanku,” lanjut Donghae.

Ayah Hamun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Donghae. “Mungkin ini dapat membuatmu lebih mengerti,” katanya sambil memberikan selembar kertas pada Donghae. “Aku keluar sebentar,” katanya lemah.

Donghae membuka lipatan kertas itu. Ia melihat rentetan tulisan hangul yang sangat rapi. Sebuah surat dari Hamun untuk pria yang paling ia cintai.

Syukurlah, oppa sudah bisa membaca surat ini. Hehehe. Apa kau sudah merasa baikan, oppa? Saat ini, kau pasti sangat membenciku, karena aku akhirnya kau tidak bersatu dengan wanita yang sangat kau sayangi. Maafkan aku oppa. Aku mohon, jangan berhenti membaca surat ini.

Aku mencintaimu oppa karena senyummu yang selalu membuatku yakin hari esok akan lebih baik. Kau yang membuatku tidak pernah takut menghadapi hari terakhirku seakan kematian adalah sahabat lamaku. Kau yang membuatku bersyukur karena aku bisa dilahirkan di dunia ini. Kau memberikanku banyak hal sehingga aku ingin membalas semua itu.

Aku meminta banyak hal pada ayahku agar kau bahagia namun aku tidak menyangka appaku membuat perjanjian yang mengikatmu. Harusnya sejak awal aku menolak tapi aku tak bisa. Aku tak bisa karena aku mencintaimu. Keegoisanku itu akhirnya membuatmu kehilangan senyummu. Maafkan aku oppa. Maafkan aku. Aku sangat menyesali perbuatanku.

Aku sudah melepasmu. Aku sudah pergi jauh dari kehidupanmu. Aku tak akan lagi menganggu hidupmu. Aku tak akan bertanya ‘apa kau sudah mencintaiku?’. Memiliki waktu untuk mencintai sepenuh hati, aku sangat beruntung. Setelah ini, berbahagialah. Mulailah segala sesuatu dari awal. Jika kau tidak bersatu dengan Hyejin, oppa bisa menemukan wanita lain yang bisa kau cintai. Kau bisa berbahagia dengannya. Jika kau butuh bantuan, kau bisa minta tolong appaku. Meski kita sudah bercerai, kita tetap keluarga.

Terakhir, tolong lupakan aku karena aku hanya memberikan kenangan buruk padamu. Bye, Donghae oppa ^^

Air mata Donghae mengalir tanpa disadarinya. Ia bisa merasakan ketulusan Hamun melalui surat itu.

“Apa yang kau baca?” tanya seseorang yang membuat Donghae segera menghapus air matanya.

“Surat,” jawab Donghae seadanya. Ia menengadahkan kepalanya dan mendapati seorang pria berjubah putih.

“Aku Choi Siwon, dokter spesialis mata yang menangani operasi anda,” jawabnya memperkenalkan diri. “Aku tak menyangka mata ini sangat cepat beradaptasi dengan tubuhmu,” katanya yang tidak dapat Donghae mengerti.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae.

“Bagaimana rasanya dicintai oleh wanita bernama Kang Hamun itu? Melihat kesungguhannya membuatku berubah pikiran. Awalnya aku ingin hidup seorang diri saja namun melihat Nona Hamun membuatku ingin dicintai sebagaimana ia mencintaimu,”

“Kenapa mataku dioperasi?”

“Tubuhnya sangat lemah karena jantungnya, tapi ia memaksaku untuk melaksanakan operasi ini meskipun nyawanya menjadi taruhan,”

“Operasi apa maksud anda? Aku tidak mengerti,”

Siwon menatapnya bingung. “Tuan Kang belum menceritakan pada anda? Nona Hamun mendonorkan matanya untuk anda. Sayangnya, nyawanya tidak terselamatkan. Aku turut berduka cita,” katanya lalu pergi dari kamar itu.

Mendengar itu, dada Donghae terasa sangat sakit. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Ia meraung histeris karena tidak kuat menahan rasa sakit di dadanya. Nafasnya mulai merasa berat sampai membuatnya sesak. Ia tak dapat menerima kenyataan yang baru ia dengar. Ia ingin bangkit, ia ingin pergi, membuktikan perkataan dokter itu. Suster yang melihat Donghae nyaris jatuh dari tempat tidurnya segera menghampiri Donghae. Donghae meronta dengan tenaganya yang masih ada. Dengan segera, suster itu memanggil perawat lain dan menyuntikan obat bius padanya.

*****

“Oppa, apa kau mencintaiku?” tanya Hamun.

Hamun? Menyadari keberadaan gadis itu membuat Donghae segera bangkit dari tidurnya. “Kau baik-baik saja?” tanya Donghae panik.

Melihat kepanikan itu membuat Hamun tertawa. “Oppa, kau hanya tidur 20 menit. Kenapa kau bertingkah seperti itu? Aku jadi takut,” kata Hamun sambil tertawa.

Donghae melihat sekelilingnya. Ia melihat padang rumput yang luas dan langit biru dengan angin sepoi-sepoi. Ia juga melihat wanita itu memandangnya lembut sambil tersenyum. “Aku bermimpi sangat buruk. Kau meninggalkanku. Kau pergi ke tempat yang jauh,” kata Donghae  dengan air mata yang mengalir.

Hamun memeluk Donghae. “Oppa, kau harus melupakanku. Lupakah kalau aku pernah ada di kehidupan. Dengan demikian, saat aku pergi jauh, kau tidak akan merasa sakit,”

Mendengar ucapan Hamun itu, Donghae segera melepaskan pelukannya. Ia menatap Hamun heran. “Aku kembali untuk pergi, oppa,” kata Hamun sambil tersenyum lembut dan membelai wajah Donghae. “Aku ingin menciummu, tapi aku tahu diriku tidak pantas. Jadi, kita berpisah disini ya, oppa,” kata Hamun. Detik berikutnya, ia melihat tubuh Hamun terurai dalam bentuk daun yang langsung diterbangkan oleh angin.

Donghae membuka matanya dan mendapati ia masih berada di rumah sakit. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. “Bagaimana mungkin aku sanggup melupakanmu? Kau berkorban terlalu banyak untukku, Hamun,”

Tak ada yang dapat Donghae lakukan selain menangis. Tangisan itu pun, meski berulang kali, tidak membuat Donghae merasa lebih baik. Tidak membuat Donghae melupakan Hamun. Sedikit pun. Hanya Hamun, Hamun, Hamun, yang ada dibenaknya dan dipikirannya.

*****

Keut.