Woobin memandangi isi gerbong subway malam ini. Hanya terlihat beberapa pekerja kantoran yang terduduk sambil memejamkan mata. Ia mengambil tempat duduk di deretan yang tidak terlalu penuh, hanya ada seorang ibu bersama anak lelaki kecilnya yang duduk di kursi itu. Woobin mengatur posisi duduknya agar nyaman, dan memasang earphone ke telinganya dan mulai memencet tombol play dari smartphonenya.

Woobin tersenyum saat smartphonenya memutar lagu kesukaannya, ia bersenandung kecil sambil sesekali mengamati tingkah para pengguna subway di dalam gerbong. Pandangan matanya terhenti saat melihat sesosok yeoja yang sepertinya lebih muda darinya. Yeoja itu dengan serius membaca buku yag dipegangnya. Woobin tidak bisa melihat dengan jelas buku apa yang dibacanya. Namun dari raut wajahnya yang sesekali menunjukkan kecemasan, lalu kelegaan, dan kemudian tertawa kecil, Woobin menebak pasti buku yang sedang ia baca pasti sangat seru.

Woobin tak menyadari jika ia sudah melewati 3 lagu di playlistnya karena sibuk memandangi yeoja di hadapannya. Ia merasa lucu karena saking serunya yeoja di hadapannya membaca bukunya hingga yeoja itu tidak menyadari jika Woobin terus memandanginya tanpa berkedip.

Pengeras suara memberitahukan stasiun penghentian berikutnya. Yeoja itu seperti tersadar dari dunia fantasinya dan segera beranjak dari kursinya tanpa menyadari kehadiran Woobin sedetikpun. Bola mata Woobin mengikuti yeoja itu bergerak menuju depan pintu gerbong. Seiring dengan kereta subway yang berhenti dan kaki yeoja itu melangkahkan kakinya keluar gerbong, Woobin seperti tersadar apa yang harus ia lakukan.

Mengejar yeoja itu.

Namun sayangnya, pintu gerbong sudah tertutup kembali.


Jihyo menghela napas panjang berulang kali. Sudah seminggu ini publishernya terus mendumel karena tokoh utama namja di novelnya tidak menarik dan ide ceritanya juga tidak menarik. Jihyo ingin bersikap masa bodoh, tapi jika ia lakukan, tentu ia akan kehilangan pekerjaannya. Ia menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh ide gilanya. Ia harus segera merombak ide cerita novel pertamanya dan mencari sososk yang tepat untuk tokoh utama namja.

Ia terus melangkahkan kakinya menuju coffee shop favoritnya, siapa tau ia bisa mendapatkan pencerahan sambil menyeruput segelas hot macchiato. Namun, langkahnya terhenti begitu sampai di luar coffe shop. Dari kaca transparan yang memisahkan dunia luar dengan dalam coffee shop, Jihyo melihatnya, sang inspirasi tokoh utama namja.

Jihyo tanpa sadar ikut tersenyum saat namja itu tertawa bersama teman-temannya yang juga tidak kalah tampan sambil meminum kopi. Jihyo bisa merasakan kehangatan dari senyuman namja itu, walaupun senyuman itu terlihat dari garis rahang wajahnya yang tegas. Namja itu kini terdiam, yang membuat Jihyo semakin mengembangkan bibirnya. Meskipun ia terdiam, mendengarkan teman-temannya berbiara, namun aura tegas dan sedikit mengintimidasi tetap ada di sekellilingnya. Tangannya pun terlihat kokoh mengenggam cangkir kopinya.

Namja itu tak berapa lama bersama-sama teman-temannya melangkah keluar dari coffee shop. Jihyo terus memandangi punggung lebar sang namja inspirasinya. Ia tidak ingin ingatannya akan namja itu terhapus begitu saja, Jihyo mengejar namja itu.

Sayang, langkah Jihyo tidak bisa menandingi langkahnya.


Sudah seminggu sejak Woobin melihat yeoja itu. Tidak ada satu hari pun yang Woobin lewatkan sambil berharap akan bertemu lagi dengannya. Woobin tersenyum bodoh, ia seperti ketagihan melihat ekspresi yeoja itu yang larut dalam dunianya sendiri bersama bukunya. Namun, sudah seminggu pula ia tidak pernah bertemu lagi dengan yeoja itu di subway. Setengah dari diri Woobin menyerah, mungkin saja yeoja itu hanya kebetulan saja naik kereta subway dengan rute yang sama dengan Woobin.

Namun setengah dirinya terus berharap, mungkin, jika saja mungkin, ia akan bertemu kembali dengan yeoja itu. Dan Woobin tidak berkeberatan untuk terus memandangi selama perjalanan.


Jihyo terus mengetikkan ide ceritanya di smartphonenya sambil menunggu kereta subway datang. Tinggal beberapa hari lagi sebelum ia mempresentasikan ide final ceritanya. Jihyo dalam hati mengucapkan terima kasih untuk sang namja inspirasinya yang walaupun hanya beberapa menit ia lihat dengan mata kepalanya.

Namun Jihyo sangat ingin bertemu lagi dengan namja itu, mengucapkan terima kasih, atau mungkin lebih dari sekedar itu.


Woobin mendengar jika kereta subway yang akan ia tumpangi segera datang. Ia menunggu dalam jalur antrian masuk. Tangan kanannya refleks menyumpal lubang telinganya dengan earphone dan tangan kirinya memencet layar smartphonenya. Hari ini Woobin pulang lebih cepat daripada biasanya. Ia memandangi jalur antrian yang sudah penuh sesak dengan orang lain. Sepertinya hari ini Woobin tidak akan bisa menikmati gerbong subway dalam kondisi lengang.

Woobin tersenyum saat playlist di smartphonenya memutar lagu favoritnya, yang kini tidak hanya menjadi kesukaannya saja, namun jika pengingat pertama kali ia bertemu dengan yeoja itu. Mulutnya ingin ikut bersenandung kecil mengikuti irama lagu, namun otaknya memberikan perintah lain, memerintahkan leher dan kepalanya untuk menengok ke kanan.

Dan di sana, diantara orang-orang yang menunggu untuk masuk ke gerbong, Woobin menemukannya.


Jihyo memasuki gerbong subway dengan langkah terburu-buru. Hari ini sepertinya gerbong kereta subway akan penuh sesak. Jihyo bisa mendengar beberapa siswa sekolah menengah atas mengobrol di sampingnya, meskipun Jihyo tidak paham topik apa yang ia bicarakan. Jihyo menoleh ke sebelah kirinya saat ia merasa ada seseorang yang mencolek lengannya.

Jihyo tersenyum saat melihat seorang bocah laki-laki tersenyum padanya. Anak itu terus mencolek lengan Jihyo dan sesekali memegang jari Jihyo sambil menunjuk ke bawah. Eomma anak itu mengucapkan permintaan maaf kepada Jihyo karena tingkah iseng anaknya. Namun Jihyo tau apa maksud bocah itu, mobil-mobilan berwarna merah berada tepat di samping kaki Jihyo. Jihyo berjongkok dan meraih mobil-mobilan itu, menyerahkannya ke bocah lelaki.

Jihyo ingin membalas ucapan terima kasih yang keluar dari mulut kecil anak itu, namun Jihyo malah menoleh ke belakang. Ia melihat ada sesosok namja yang berjalan cepat melewatinya dan penumpang yang lain. Meskipun Jihyo tak bisa melihat wajahnya, namun Jihyo sangat ingat dengan punggung itu.

Dan Jihyo harus mengejarnya saat ini juga.


Woobin telah berjalan melalui beberapa gerbong untuk mencari yeoja itu. Namun di dalam gerbong yang penuh dengan penumpang lainnya, sulit bagi Woobin untuk menemukan yeoja itu. Ini sudah gerbong paling ujung, namun ia tetap tidak dapat menemukan yeoja itu. Mungkin, Woobin memang harus menyerah.


Jihyo mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan namja itu lagi. Jihyo terus menjaga jarak pandangnya agar punggung namja itu tetap terlihat olehnya. Kini, seluruh ide cerita di dalam benak Jihyo rasanya ingin meledak begitu melihat sosok pemeran utama ada di depan sang novelis. Jihyo menyuruh kakinya berhenti saat namja itu berhenti berjalan. Beberapa saat Jihyo memandangi dengan dekat betapa tingginya namja itu dan betapa atletis tubuhnya. Dia benar-benar seperti tokoh utama di kartun-kartun yang keluar dari dunia nyata.

Namja itu tanpa aba-aba berbalik, kini Jihyo dan namja itu berhadapan.


Woobin membalikkan badannya, ia memang lebih baik kembali ke dunia nyata, tidak mencari yeoja itu lagi. Lebih baik kini ia berjalan kembali ke belakang, mencari mungkin saja masih ada bagian dari gerbong subway yang tidak terlalu penuh.


Jihyo tersenyum melihatnya, akhirnya Jihyo menemukan sang pemeran utama dalam novelnya, berjalan ke arahnya.


Woobin benar-benar melihat yeoja itu ada di depannya. Yeoja itu tersenyum kepadanya, itu senyuman yang sama yang Woobin lihat seminggu yang lalu, bahkan mungkin lebih indah dibandingkan waktu itu.

Woobin tertawa lega melihat yeoja yang selama ini menghantui pikirannya.

Dan mungkin, akan selamanya terus ada di hatinya.