Anyyeooooong!

Terima kasih sudah membaca Untitled ya, terima kasih juga untuk komen-komennya. Ini kelanjutan dari one shot Untitled. Yang belum baca, silahkan mampir dulu ke cerita sebelumnya.

Big hug untuk semua reader dan selamat berpuasa bagi yang menjalankan😀

Woobin setengah berlari melihat pintu gerbong kereta subway mulai tertutup. Untungnya ia sempat masuk sebelum pintu gerbongnya tertutup rapat dan menjepit tubuhnya. Woobin tak sempat menghela napas dengan tenang. Matanya memburu setiap sudut di gerbong yang baru saja ia masuki.

Tidak ada, tidak ada tanda-tanda dari Jihyo. Akhirnya Woobin mengetahui nama yeoja yang beberapa minggu lalu terus menghantui pikirannya. Woobin dengan terburu-buru berjalan melintasi gerbong demi gerbong, berharap mungkin saja malam ini Jihyo naik kereta subway yang sama dengan dirinya.

Bibirnya merekah saat melihat sosok yeoja yang dicarinya. Woobin kini tersadar jantungnya berdetak amat kencang, mungkin saja ada orang lain yang bisa mendengarnya. Ia berusaha setenang dan serileks mungkin. Woobin melonggarkan dasinya, namun tentu saja itu tidak membantu dirinya untuk tidak segugup ini.

Baru saja Woobin akan melangkahkan kakinya menghampiri Jihyo, namun ia kalah cepat. Jihyo telah melihat ke arahnya dan tersenyum seolah menyambutnya.

Mungkin saja yeoja itu tidak tau jika setiap senyuman yang ia perlihatkan pada Woobin semakin membuat namja ini jatuh cinta kepadanya.


Jihyo memandangi buku yang sejak tadi ia pegang. Ini adalah buku yang ia baca saat pertama kali ia bertemu dengan namja sang inspirasi novelnya. Jihyo tertawa sendiri, sejujurnya ia tidak ingat bahwa pertama kali dirinya bertemu dengan Woobin, itu nama namja yang tak ingin dia lupakan sedetik pun, adalah di gerbong subway ini. Jihyo malah mengira pertama kali ia melihat Woobin saat namja itu berada di coffee shop.

Entah sudah berapa banyak terima kasih yang Jihyo ucapkan kepada Woobin. Karena Woobin semua ide cerita Jihyo untuk novel terbarunya tidak pernah habis. Publishernya sangat menyukai ide cerita Jihyo, dan bahkan jatuh cinta kepada sang tokoh utama namja di novelnya, tentu saja publishernya tidak tau jika ada namja sesempurna itu di dunia nyata.

Namun Jihyo tau bahwa ia benar-benar ada. Dan kini namja itu ada di gerbong yang sama dengan Jihyo. Apa yang lebih tampan dibandingkan dengan namja dengan kemeja kerja yang lengannya tergulung hingga sikunya dan dasi longgar yang menggantung di kerahnya?

Tentu saja Jihyo tak bisa menahan senyumannya.


“Bagaimana dengan progres novelmu?” Woobin duduk di kursi berhadapan dengan Jihyo. Ini adalah posisi yang paling sempurna untuk Woobin, dirinya bisa memandangi Jihyo dengan jelas dari sini.

“Buruk, publisherku mengamuk mengapa belum selesai juga, haha,” Jihyo menyodorkan buku yang sejak tadi dipegangnya kepada Woobin. “Ini.”

Woobin mengerutkan dahinya. Ia bukanlah seseorang yang bisa tahan membaca buku setebal ini. Lagipula, science fiction bukanlah kesukaannya.

“Kau bilang waktu itu kau mencariku karena tertarik dengan buku yang aku baca, iya kan?” Jihyo mengulang perkataan Woobin saat mereka berdua bertemu di dalam gerbong yang sama beberapa minggu lalu.

“Ah, ne,” Woobin meraih buku itu dari tangan Jihyo. Dalam hati ia sedikit merutuk dirinya mengapa dia membuat alasan konyol itu. “Gomawoyo, Jihyo-ah.”


Jihyo mengamati Woobin yang sedang sibuk membaca buku di hadapannya. Dari sini, Jihyo mulai membuka kembali halaman word di smartphonenya. Kemampuan menulisnya akan selalu bertambah dua kali lipat jika Jihyo memandang Woobin.

Ia ingat sekali saat ia mengatakan kepada Woobin jika ia adalah seorang novelis. Woobin terdiam, namun tidak memandang aneh dirinya yang menceritakan bahwa ia membutuhkan Woobin untuk memunculkan inspirasi menulisnya. Namja itu malah tersenyum, menyodorkan tangannya kepada Jihyo, dan menggandengnya menuju kedai kopi kecil di dalam stasiun. Di sana, hanya dengan segelas hot americano dan hot macchiato, mereka berdua tidak banyak berbicara, namun di otak Jihyo berkecamuk kalimat yang panjang untuk dituliskan di novelnya.

Dan itu karena namja di hadapannya.

Mungkin saja, Jihyo harus mengubah kebiasaan menulisnya. Ia tak perlu terjebak dalam sad ending seperti di novel pertamanya. Pilihan happy ending untuk novel terbarunya adalah prioritas.


Woobin bergegas menuju coffee shop di dekat kantornya. Udara dingin hari ini membuat Woobin sangat ingin bersantai seusai jam kantor dengan menikmati secangkir kopi hangat sambil melanjutkan membaca novel pertama Jihyo. Entah apa yang membuat Woobin kini menjadi gemar membaca buku. Bahkan teman-teman kantornya saja dibuat terpana, mereka menganggap mungkin saja Woobin sedang jatuh cinta, atau mulai depresi dan gila karena pekerjaannya.

Perasaan senang dan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya tidak bertahan lama, kini berubah menjadi rasa gejolak yang aneh di dalam dada dan kepalanya, yang rasanya mau meledak. Ia melihat Jihyo keluar dari coffee shop bersama seorang namja. Jihyo menggosokkan kedua telapak tangannya mencari rasa hangat di tengah udara dingin saat ini, dan namja itu meraih salah satu tangan Jihyo, menggenggamnya dan memasukkannya ke dalam kantong jaket namja itu.

Tentu Woobin tau jika saat ini ia sedang cemburu. Namun yang membuat kepalanya terasa terhantam dengan palu adalah namja itu. Namja dengan tinggi semampai dan tubuh atletis. Harus Woobin akui bahwa namja itu memang tampan, alis dan matanya begitu tegas yang bisa membuat yeoja bertekuk lutut di hadapannya. Sayangnya semua penggambaran yang ada di diri namja itu sama dengan Jaehwa, sang tokoh utama namja di novel pertama Jihyo.


“Jihyo,” Woobin memandangi yeoja di hadapannya yang sibuk menulis di buku kecilnya.

“Ne, oppa?” Jihyo menyadari jika wajah Woobin tidak seceria biasanya.

“Menurut internet, cerita di novel pertama mu terinspirasi dari kisah nyata?” Woobin mengucapkannya dengan pelan hingga suaranya hampir tertelan keramaian di gerbong subway.

Jihyo mengangguk.

“Termasuk tokoh utamanya?”

Jihyo mengangguk kembali.

“Aku penasaran,” Woobin memandangi buku-buku di telapak tangannya. “Apakah Jaehwa dan Sunyoung di kehidupan nyata memang benar-benar berpisah? Atau mungkin, ada kesempatan mereka bisa bersama?”

Jihyo terlihat berpikir sejenak, bimbang memberitahukan kenyataan kepada Woobin. Namun akhirnya ia memutuskan bahwa Woobin akan menjadi orang pertama yang tau kenyataannya. “Kau tau ending di novelku?’

“Akhirnya mereka berdua tidak bersama.”

“Sebenarnya di dunia nyata, akhirnya Jaehwa dan Sunyoung kembali bersama,” Jihyo menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya, namun Woobin sudah memotongnya.

“Sudah cukup,” Woobin berdiri. “Aku hanya ingin tau itu saja, jangan dilanjutkan. Mian, Jihyo. Aku ada perlu. Aku harus turun di stasiun berikutnya.”


Jihyo memegangi hot pack untuk menghangatkan telapak tangannya. Sesekali Jihyo menyapu pandangannya ke seluruh sudut stasiun, berharap mungkin saja sang namja insprasinya akan muncul dan menyapanya dengan senyum menawan.

Sayangnya, sudah seminggu ini Woobin tidak pernah menampakkan dirinya. Entah dia memang menaiki subway di jam lain, atau mungkin dia memang memilih untuk menggunakan transporatsi lain untuk pulang.

Namun hati Jihyo merasa ada hal lain yang menyebabkan Woobin menghilang. Ia merasa namja itu seperti mengacuhkannya, sama seperti pertemuan terakhirnya di dalam gerbong subway. Jihyo berusaha memikirkan satu alasan mengapa Woobin bersikap seperti itu, namun tak ada jawaban sama sekali di otaknya.

Jihyo terhenyak saat hidungnya mencium wangi parfum yang sangat dikenalnya. Ia menoleh ke samping kirinya, Woobin berdiri di sampingnya, menatap lurus ke arah rel. Bersamaan, kereta subway yang akan mereka naiki datang. Jihyo langsung melompat masuk ke dalam, ia melangkah dengan ringan menuju kursi yang kosong. Namun dengan cepat ia menyadari Woobin tidak ada di belakangnya.

Pintuu gerbong mulai tertutup dan Jihyo melihat Woobin masih mematung di depan. Ia berlari menuju pintu, namun sayang pintu sudah tertutup sempurna. Jihyo menggerakkan bibirnya, bertanya mengapa namja itu tidak ikut bersamanya.

Tidak ada jawaban dari Woobin, dan subway pun melaju meninggalkan sang pemeran utama.


Woobin mendekap erat buku science fiction yang Jihyo pinjamkan kepadanya. Dalam hati Woobin, ia berbicara kepada dirinya sendiri untuk tidak bersikap kekanakan. Dirinya yang sejak pertama menyukai yeoja itu, bukan Jihyo. Bukan salah Jihyo juga jika ia memanfaatkan Woobin untuk mendapatkan inspirasi cerita novelnya, karena Woobin dengan senang hati memberikan akses untuk itu.

Woobin memasuki gerbong kereta subway. Ia melangkahkan kakinya perlahan menjelajahi seluruh rangkaian gerbong. Hatinya tidak siap bertemu dengan Jihyo, namun otaknya membentak untuk bersikap dewasa dan hadapi kenyataan.

Disitulah Woobin menemukan Jihyo terduduk. Matanya terlihat kosong meskipun jemarinya sibuk mengetik di smartphonenya. Beberapa kali yeoja itu menghela napas, lalu menggosok-gosok kelopak matanya. Bahkan di dalam keadaan lelah pun, yeoja itu terlihat manis di mata Woobin.

Woobin mengambil tempat duduk di sampingnya, dan tanpa bersuara menyodorkan buku yang ia pinjam ke arah Jihyo.

Jihyo mengangkat kepalanya dan tersenyum. Cukup untuk meluluhkan hati Woobin.


“Mianhae,” Woobin membalas senyuman Jihyo.

“Untuk apa, oppa?” Jihyo mendekap buku yang Woobin berikan. “Seharusnya aku yang minta maaf. Ada perkataanku yang menyinggung yah?”

“Tidak, hanya perasaanku saja yang sedang tidak karuan akhir-akhir ini,” Woobin memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. “Aku boleh minta tolong?”

“Mmh.”

“Aku tidak ingin menjadi dia lagi,” Woobin menatap mata Jihyo. “Aku tidak ingin menjadi namja yang menginspirasimu akan sang karakter utama di novelmu.”

Jihyo menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau tidak boleh begitu kepada Hyunjoong.”

“Hyunjoong?” tanya Woobin.

“Namanya Hyunjoong,” Jihyo menggigit bibirnya dengan kencang. Ia berusaha untuk tidak murka ke namja di hadapannya. “Bagaimana aku bisa menyelesaikan kisahnya jika kau tidak mau lagi menjadi inspirasiku? Bahkan,” Jihyo terdiam. Ini sepertinya sudah salah.

“Bahkan apa?”

“Bahkan, aku sudah memutuskan untuk membuat akhir yang bahagia,” Jihyo tanpa sadar tersenyum. “Dan aku sudah sangat menyukai Hyunjoong.”

“Kau bisa menggantinya dengan Jaehwa,” Woobin tak bisa untuk menambahkan sedikit nada sarkas di sana dan membuat Jihyo bingung.

“Jaehwa?” Jihyo memandangi setiap lekuk di wajah Woobin. Ia bahkan tidak tahan untuk segera menulis di word jika namja di hadapannya terlihat sangat menggemaskan saat ia sedikit memanyunkan bibirnya.

“Ne, namja yang bersamamu waktu itu di coffee shop!” otak Woobin sudah melarang hati Woobin untuk mengatakan hal itu. Namun apabila berkaitan dengan perasaan, tentu saja hati akan selalu menang melawan otak.

“Namja di coffee shop?” Jihyo berusaha mengingat-ngingat siapa namja itu, kemudian Jihyo tertawa geli yang membuat Woobin semakin kesal dan merasa seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

“Ppabo!” refleks Jihyo menyentil dahi Woobin. “Kau sudah membaca secara lengkap novelku?”

Woobin mengangguk seperti anak kecil kebingungan.

“Kau berarti tau siapa saja anggota keluarga Jaehwa?” tanya Jihyo menguji Woobin.

Woobin merengut kesal mendengar pertanyaan itu. Ini bukan sedang bermain tebak-tebakan. Namun siapa saja yah anggota keluarga Jaehwa? Seingat Woobin, Jaehwa hanya pernah memperkenalkan Sunyoung dengan appa dan eommanya, lalu dongsaengnya.

“Appanya seorang bankir, eomma kandungnya sudah meninggal. Jaehwa punya ibu tiri yang sayang padanya, dan …,” Woobin terhenyak saat menyadari sesuatu hal. Jihyo tersenyum melihat ekspresinya.

“Jaehwa punya seorang adik tiri perempuan yang duduk di bangku kuliah,” Jihyo meneruskan ucapan Woobin. “Adik yang sungguh merepotkan, ingin tahu semua hal yang dilakukan Jaehwa dan suatu saat ini bercita-cita menjadi penulis.”

“Jiyoon,” Woobin setengah memarahi dirinya sendiri di dalam hati karena ia baru sadar dengan kenyataan yang sebenarnya.

“Kau melihat Jiyoon dan Jaehwa saat itu di coffee shop,” Jihyo kini tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Woobin yang memerah. “Lain kali kau akan kukenalkan dengan Seunghyun oppa, alias Jaehwa.”

Woobin tak bisa lagi menahan tawanya, ia sungguh merasa bodoh cemburu dengan karakter di novel. “Jadi, bagaimana dengan Hyunjoong?”

“Belum selesai. Semua ideku stuck karena aku tidak melihatmu,” Jihyo bisa merasakan jika pipinya memanas.

“Segera selesaikan novelmu,” Woobin merapat ke arah Jihyo. “Aku tidak akan kemana-mana.”

Jihyo mengangguk pelan, tersenyum sepanjang perjalanan menuju stasiun tempat pemberhentiannya.

“Siapa nama karakter utama yeojanya?”

“Jiyoon.”

funfact : Hyunjoong adalah nama asli Woobin😀