Hope you enjoy this fanfiction. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan🙂

This picture was sent by Hyejin, 4 years ago.
“When you take this picture?” I ask her.
She said, “When you came to my apartement last night. When Hamun sat next to you. Are you in love with my sister?”
“What? How could i? No, i’m not,”
“Yes, you are. You’re my bestfriend from very-very-very longtime. And, you never saw Hamun like that before. Geez, you definitely in love with her!”
By that time, i realized. Yes, i’m in love with her.
I will never secretly look at her like that if i’m not in love with her.
And now, i’m still looking at you. Secretly.
I’m wondering, can i tell you what i’m feeling now?
Because my feelings for you grow deeper and deeper, as the days go on.

*****

“Annyeonghaseyo! Aku pulang!” seruku begitu aku masuk ke dalam apartemen. Saat aku masih melepaskan sepatu, aku bisa mendengar onnie kesayanganku mengomel, “Anak perempuan jangan teriak-teriak!” katanya.

Aku hanya tertawa dan segera menghampirinya. Ternyata onnieku sedang duduk di ruang makan bersama dengan calon suaminya dan sahabat kesayangannya.

“Hai, Kyuhyun oppa. Hai, Donghae oppa,” sapaku pada mereka berdua. Aku memeluk dan mencium pipi onnieku, Kyuhyun oppa, dan tak terkecuali Donghae oppa, meskipun efeknya adalah jantung berdetak kencang sekali.

Hamun, tenang. Bersikap biasa saja. Santai.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Kyuhyun oppa.

“Baik. Tidak ada yang spesial. Ah, iya, hari ini ada apa? Tumben semuanya kumpul?” tanyaku sembari menaruh nasi dan daging di piringku.

“Donghae baru putus,”

“Mwo?” tanyaku tak percaya atas pernyataan Hyejin onnie tadi.

“Aku baru saja memutuskan pacarku,” jawab Donghae oppa. Menyedihkan, namun ia tetap tersenyum.

“Karena?” tanyaku lagi. Aku tak habis pikir ada wanita sebodoh itu.

“Dia selingkuh,” jawabnya yang membuatku makin tidak terima.

Aku mengambil iPhone Donghae oppa yang ada di meja. Aku sangat mengenalnya sampai aku tahu password iPhone-nya. Aku segera mencari nama wanita itu di kontaknya. Kalau tidak salah, Jung So ji. Ah, ini dia. Aku langsung menelpon nomor itu.

“Mau apa?” tanya Donghae.

Hyejin onnie hanya tertawa. Ia sudah sangat mengenalku, pasti ia tahu apa yang akan kulakukan. “Serahkan saja pada Hamun,” katanya.

“Hai, Lee Donghae. Berani sekali kau menelpon setelah kau memutuskanku. Ada apa?” tanya wanita diseberang sana.

Mendengar suara ketus wanita itu tentu saja langsung membuat darahku naik. “Yaa, kau pikir siapa yang salah disini? Kau! Kau yang berselingkuh! Kau yang bodoh karena mencari pria lain selain Donghae oppa! Kau, pasti akan menyesal sudah menyakiti perasaan Donghae oppa!” seruku.

“Yaa! Siapa kau?! Beraninya kau berbicara seperti itu padaku! Aku berselingkuh karena pria bodoh itu tidak mencintaiku dan masih sayang pada cinta pertamanya! Cih, dasar pria naif!”

“Beraninya kau bilang Donghae oppa bodoh?! Kau benar-benar cari masalah! Aku Kang Hamun. Ayo kita ketemu dan buat perhitungan! Akan kubuktikan kalau Donghae oppa memang pria yang pantas dicintai!” seruku lagi. Aku hendak melanjutkan kalimatku namun tiba-tiba seseorang mengambil iPhone itu dari tanganku. Donghae oppa. Ia tersenyum padaku lalu mengelus kepalaku, kebiasaannya selama ini. “Terima kasih, kau membelaku lagi,” katanya tulus.

Jantung aku berdebar kencang. Dengan segera, aku mengalihkan wajahku dan kembali menghabiskan makananku. “Sama-sama, oppa. Sudah tugasku,” sahutku yang membuatnya tertawa.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Ah, oppa. Aku heran. Memangnya siapa cinta pertamamu? Wanita tadi bilang, kau masih mencintainya karena itu dia berselingkuh,”

Mendengar pertanyaanku membuat Donghae oppa tersenyum, seakan membayangkan gadis itu membuatnya sangat bahagia. “Dia gadis yang lucu dan cantik. Sangat lembut dan peduli dengan orang lain. Pintar, enak diajak berbicara, dan ia tidak pernah sadar kalau dirinya punya kelebihan itu.”

“Ah, begitu. Pantas saja kau masih mencintainya,” kataku yang disetujui olehnya. Gadis itu sangat berbeda denganku. Aku tidak ada apa-apa dibandingkan cinta pertama Donghae oppa. Hatiku rasanya perih. Astaga, aku patah hati, lagi. Sepertinya cinta yang sudah kupendam selama 5 tahun ini harus segera aku akhiri. Sepertinya tidak ada harapan untukku.

Tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Aku segera bangkit dari tempat dudukku untuk membuka pintu. “Temanku yang datang, aku saja yang buka pintu,” kataku pada Hyejin onnie, Kyuhyun oppa, dan Donghae oppa.

*****

“Percuma saja kau bilang seperti itu. Hamun tidak akan sadar. Kau harus langsung bilang, i love you, baru dia mengerti perasaanmu,” kata Hyejin padaku setelah Hamun pergi. Kyuhyun hanya tertawa mendengar nasihat Hyejin untukku.

“Betul kata Hyejin. Sampai kapan kau mau seperti ini? Sudah 4 tahun kau menyembunyikan perasaanmu,” kata Kyuhyun.

Aku sedikit kesal mendengar nasihat mereka. “Kalau kalian kasihan padaku, harusnya kalian membantuku! Mungkin kalian bisa bantu tanya mengenai perasaan Hamun padaku atau lainnya,” kataku.

Hyejin tersenyum. “Baiklah, akan kubantu sedikit,” katanya. “Hamun saat ini sedang didekati oleh temannya, namanya Chanyeol. Aku tahu karena Chanyeol sampai menghubungiku untuk menanyakan hal-hal favorit Hamun. Suatu tindakan yang tak pernah kau lakukan,” sindirnya. Kalau dia bukan kakaknya Hamun dan bukan sahabatku, aku pasti sudah memukulnya.

“Aku sudah sangat mencintai Hamun sejak 4 tahun yang lalu. Aku sudah sangat mengenal Hamun. Aku sudah tahu apa yang dia suka dan yang tidak ia sukai meskipun aku tidak tanya padamu,” jelasku.

“Sudah, sudah. Aku percaya kesungguhanmu pada Hamun. Tapi, jika kau tidak mulai mengambil tindakan, aku tidak berani jamin ia akan menjadi milikmu,” kata Kyuhyun.

“Tapi, bagaimana kalau setelah aku bilang mengenai perasaanku dan perasaanku tidak berbalas, ia jadi takut padaku? Kau tahu sendiri bagaimana ia menghindari pria-pria yang pernah menyukainya. Aku tak mau ia jauh dariku. Maka dari itu aku menahan perasaanku selama ini,” ucapku.

“Kalau begitu, lupakan Hamun. Cari saja yang lain,” kata Hyejin.

“Itu yang aku coba lakukan. Sejauh ini, tidak ada yang berhasil. Kalian lihat sendiri, semua gadis memutuskanku atau kuputuskan,”

Kyuhyun tersenyum padaku. “Kau tahu, Hamun sangat mirip dengan Hyejin dulu. Hyejin saat SMA, dia juga menghindariku karena ia tak mau memberi harapan padaku. Tapi, aku kembali mencoba ketika kami sama-sama sudah kerja dan Hyejin sudah berubah. Kurasa, Hamun yang sekarang tidak akan seperti ia yang dulu. Kalau ia tidak menyukaimu, pasti ia akan mengakhirinya dengan baik,” ujarnya yang membuat hatiku lega setengah mati.

Tiba-tiba saja Hamun kembali dengan raut wajah yang berbeda. Ia kembali duduk di sampingku tapi tidak menyentuh makanannya. Ada yang aneh dengan dirinya. “Ada apa?” tanyaku.

Ia menatapku. Membuat jantungku berdetak lebih kencang. “Temanku yang datang tadi Chanyeol. Dia bilang, dia sayang padaku lebih dari seorang teman. Dia mencintaiku.” Detak jantungku makin berpacu mendengar perkataan Hamun.

“Kau menjawab apa?” tanyaku setenang mungkin, walau sesungguhnya aku sudah sangat panik. Bahkan aku belum memulai ceritaku dengan Hamun, apa ia akan memulainya dengan pria lain? Aku tidak mau. Aku tidak rela. Aku mencintaimu, Hamun.

“Aku- tak tahu. Aku bingung. Aku belum menyukainya, aku ingin menghindarinya sama seperti yang biasa kulakuka dulu. Tapi, aku tidak tega, aku tidak bisa melakukannya. Aku pikir, aku harus memberinya kesempatan,” katanya sesekali terbata-bata. Aku bisa melihatnya panik dan bimbang. Pertama kalinya aku melihat Hamun bersikap seperti ini pada seorang pria yang menyatakan perasaannya pada Hamun. Aku sangat khawatir sekarang.

Kekhawatiran membuat pikiranku tidak berfungsi dengan baik. Aku membiarkan instingku memimpin tanpa memperdulikan akalku.

“Hamun, ikut aku,” kataku padanya. Hamun, maafkan aku. Aku tidak ingin menjadi pengecut saat ini. Aku tidak ingin kehilangan dirimu.

*****

“Oppa, ada apa?” tanyaku bingung. Ia tiba-tiba membawaku ke dalam kamarku. Ia bahkan sudah menutup pintu kamarku. “Oppa?” panggilku lagi karena ia tidak kunjung menjawab pertanyaanku. Ia hanya memandangku lekat.

Tiba-tiba, ia memegang tangan kananku. Ia mengunci jemarinya di sela-sela jemariku. Tangannya yang lain mulai membelai wajahku, menyisipkan untaian rambutku ke belakang telingaku, dan ia kembali menatapku. “O-oppa, w- wa- waeyo?” tanyaku lagi. Aku berusaha menyembunyikan jantungku yang berdebar, namun tetap saja suaraku gemetar dan terbata-bata.

Tatapannya berubah lirih namun tiba-tiba, aku merasakan sensasi yang aneh dibibirku. Bibirku dicium. Pertama kalinya, dan itu oleh Donghae oppa. Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya dicium oleh dirinnya. Aku tak tahu apakah ciuman ini sama seperti yang dideskripsikan di novel-novel. Aku terlalu kaget dengan tindakannya.

“Mianhe, Hamun. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa lagi berakting sebagai oppa yang baik atau hanya sebagai sahabat onniemu. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang pria. Aku mengatakan semua ini sekarang karena aku tidak ingin Chanyeol memonopoli pikiranmu. Aku ingin kau memikirkanku. Kalau kau tidak menyukaiku, aku mohon, setelah ini jangan menjauhiku. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit jika kau menganggapku tidak ada,” katanya padaku.

Mulutku terbuka, ingin memberikan jawaban padanya. Aku ingin bilang padanya kalau aku juga mencintainya namun aku tak bisa. Suaraku tidak keluar. Segala sesuatu yang terjadi membuatku kaget dan tubuhku bereaksi abnormal.

“Kau bisa memikirkanku terlebih dulu, Hamun. Aku mohon, pertimbangkan aku baik-baik. Aku janji, aku akan membahagiakanmu,” katanya, setelah itu ia keluar dari kamarku. Aku merasa tubuhku sangat lemas. Aku terjatuh dan terdiam. Perkataannya berputar terus di kepalaku. Kehangatan tangannya merambat di sekujur tubuhku. Siapa pun, tolong aku. Aku tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.

*****

“Aku pulang!” seru sebuah suara yang kurindukan. Beberapa hari ini aku tidak dapat ke apartemen Hyejin karena tugasku di kantor sangat banyak. Aku harap bisa mendengar jawabannya hari ini.

“Hai, Hamun,” sapaku. Ia menatapku saat ini. Hanya sesaat, lalu ia pergi begitu saja menuju kamarnya.

Aku menghela nafas panjang, berusaha meredakan rasa sakit yang kurasakan. “Ia menghindariku. Ia menolakku secara tidak langsung,” kataku. Aku tertawa namun air mataku mengalir. Sesakit ini rupanya menyadari cintaku berakhir.

Hyejin kini sudah duduk disampingku sambil memelukku dan mengelus punggungku. Kyuhyun menuangkan soju ke gelasku. “Menangislah sepuasmu hari ini, dasar cry baby,” ejek Kyuhyun yang membuat tangisku menderas.

“Maafkan adikku, ya, Donghae ah,” kata Hyejin.

Aku menggeleng. Ini semua bukan salah Hamun. Aku tak bisa menyalahkannya. Hati yang memilih siapa yang kita cintai, seperti aku yang memilihnya. Apa yang bisa kulakukan jika hatinya memilih Chanyeol? Aku hanya dapat mendoakan kebahagiaannya. Hamun, gadis yang kusayangi.

*****

Aku merasa kepalaku masih pusing. Aku melihat sekitarku dan aku sadar kini aku berada di kamar Hamun. Aku melihat keluar jendela dan menyadari kalau langit sudah terang. Sepertinya aku mabuk lalu dibawa Kyuhyun ke kamar ini saat aku kehilangan kesadaran.

Tiba-tiba, aku melihat Hamun dari ambang pintu sedang membawa nampan. “Aku membuatkan bubur untuk menghilangkan mabuk,” katanya. Ia meletakan nampan itu di meja kecil yang ada di samping tempat tidur. Hamun duduk di tepi tempat tidurnya lalu menyuapkan bubur itu padaku.

“Kenapa oppa tersenyum?” tanyanya. Aku pun tidak sadar kalau ujung bibirku sudah tertarik.

“Meskipun kau menolakku, aku senang karena sikapmu padaku tidak berubah,” jelasku padanya.

Hamun meletakkan mangkuk bubur yang tadi di pangkuannya. Ia menundukan kepalanya dan aku bisa mendengar ia terisak. “Maafkan aku, oppa. Kau sampai mabuk seperti ini karena aku,” katanya.

Aku mengangkat wajahnya. Bisa kulihat air matanya mengalir. Aku tersenyum padanya. “Jangan menyalahkan dirimu, Hamun. Aku juga tidak menyalahkanmu.” Dasar gadis yang baik. Kurasa, aku akan butuh waktu yang lama untuk bisa melupakanmu.

“Oppa, beberapa hari ini, pikiranku selalu penuh dengan dirimu,” katanya. Aku sangat kaget mendengar pengakuannya, namun aku memilih untuk diam dan mendengar kelanjutannya.

“Aku menghindar bukan karena aku menolakmu tetapi aku pikir jika aku di dekatmu, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Jantung selalu berdetak lebih kencang jika aku di dekatmu, namun kini jantungku berdetak sangat kencang sampai aku merasa sesak,” ucapnya.  “Andai kau tahu, aku sudah lama menyukaimu. Sejak 5 tahun yang lalu,”

“Be-benarkah?” tanyaku tak percaya yang ia jawab dengan anggukan.

“Akan tetapi, beberapa hari ini aku selalu berpikir apa yang membuatmu menyukaiku? Banyak hal yang membuatku ragu pada kesungguhanmu, oppa. Mianhe,” lanjut Hamun.

Aku tersenyum padanya, berharap senyumku dapat mengurangi sedikit keraguannya. “Apa yang bisa kulakukan agar kau percaya padaku, Hamun?” tanyaku.

“Sejak kapan oppa menyukaiku?” tanyanya.

“Jika yang kau maksud ‘mencintaimu’, sejak 4 tahun yang lalu. Saat semua orang menyalahkanku karena sikapku, yang kata mereka, terlalu baik. Kau satu-satu orang yang membelaku. Kau bilang, having soft heart in this cruel world is courage not weakness. Sejak saat itu, aku menganggapmu sebagai seorang wanita. Tanpa kusadari, aku mulai mencintaimu,”

“Lalu, kenapa oppa tidak menyatakan perasaanmu padaku?”

“Karena kau selalu menjauhi pria-pria yang menyukaimu. Aku tidak mau kau menjauhiku jika kau tahu perasaanku,”

“Itu karena aku hanya bisa mencintai kau, oppa. Makanya aku bersikap seperti itu. Aku tidak ingin memberikan harapan apapun pada mereka,” ujarnya yang membuat pipinya merona. Astaga, Hamun, aku sudah sangat ingin memelukmu sekarang. “Ah, lalu kenapa oppa berpacaran dengan wanita lain?” tanyanya.

“Aku berusaha untuk melupakanmu. Aku tidak pernah berpikir kau akan membalas perasaanku. Tapi, kau lihat sendiri, aku tidak pernah bisa melupakanmu,”

“La-lalu, kenapa oppa tiba-tiba menyatakan perasaanmu?”

“Karena Chanyeol membuatmu bimbang. Aku tak mau kehilanganmu,”

“Ja- jadi, maksud oppa, cinta pertama oppa adalah aku?” tanyanya yang aku jawab dengan anggukan.

“Ta-tapi, aku tidak lucu, tidak cantik, tidak lembut, tidak terlalu peduli dengan orang lain, tidak terlalu pintar, dan cukup pendiam,”

“Kau hanya tidak menyadarinya, Hamun. Cinta pertamaku itu tidak pernah sadar ia memiliki semua itu,” ucapku. Wajah Hamun makin merah sekarang. Lucu sekali.

“Jadi, o-op-oppa benar-benar cinta padaku?”

Aku tersenyum padanya lalu mencium keningnya. “Aku tidak meragukan perasaanku, sedikit pun. Apa sekarang aku boleh bertanya?” Hamun mengangguk.

“Apa yang membuatmu suka padaku?” tanyaku.

“Kau satu-satunya orang yang tidak menertawakanku saat aku menangis karena menonton Hachiko. Kau bahkan menemaniku untuk menonton film itu padahal menurut teman-teman, bahkan onnieku sendiri, film itu membosankan.”

Aku tertawa mengingat hal itu. Aku sangat ingat kejadian itu. Saat itu aku belum menyukainya namun aku mulai memperhatikannya.

“O-o-ppa, jadi hubungan kita sekarang-”

“Kau yang tentukan, Hamun. Apa kau mau menjadi kekasihku?” tanyaku.

Ia tersenyum lalu mengangguk. “Tentu saja, oppa. Aku sangat sayang padamu,” katanya. Mendengar pengakuannya itu membuatku sangat bahagia. Aku memeluknya erat. Tidak rela melepaskan kehangatan ini.

“Oppa, sudah jam 10. Kau harus berangkat kerja. Kyuhyun oppa sudah duluan berangkat tadi. Ia sudah membuat surat izin untukmu,” kata Hamun mengingatkan kewajibanku. Akhirnya, aku melepaskan pelukanku. “Apa aku boleh menciummu?” tanyaku.

Hamun tersenyum padaku, seakan ia mengizinkanku untuk melakukan apa yang aku mau. Aku menciumnya. Lembut. Tidak ada keinginan lain selain untuk membuktikan padanya aku menyayanginya dengan sepenuh hati.

“Jangan melakukan hal lain lebih dari ini sebelum kalian menikah. Okay?” ujar sebuah suara yang membuatku segera melepaskan bibir Hamun. Sialan. Kenapa Hyejin harus muncul di saat seperti ini?

“O-onnie. Anu- ehm- kami tadi hanya-” Hamun terbata-bata.

Aku tertawa kecil melihat Hamun yang salah tingkah. Ia berusaha menjelaskan pada Hyejin apa yang kami lakukan tadi. Wajahnya sudah memerah karena Hyejin melihat perbuatan kami tadi. Aku meraih Hamun, memeluknya, tak peduli meskipun Hyejin melihatnya. “I will treasure you, Hamun,” janjiku padanya.

*****

END.

Thank you for reading🙂