Dedicated for Jihyo and Woobin couple hehe, hope you like it. Enjoy this fanfiction!🙂

I love the feeling that i get when i see you, everytime.
When you smile, shy, cry, or angry.
That’s why i love to tease you, as much as i love you.

*****

Perlahan-lahan Jihyo membuka matanya yang tersinari oleh mentari pagi. Jihyo merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit karena ia tidur dengan posisi duduk. Ia sangat kaget saat mendapati Hamun ada di depannya sedangkan ketiga onnienya sudah meninggalkan dirinya. “Pagi, onnie,” sapa Hamun yang Jihyo balas dengan senyuman. Tanpa bertanya pun, Hamun tahu kalau semalaman Jihyo pasti bergadang untuk membuat artikel untuk berita hari ini. Jihyo mulai terbiasa untuk menyelesaikan tugasnya itu di café dan Eric juga tidak pernah melarang.

Jihyo mengambil majalah yang ada di meja itu. Ia membaca sebuah artikel dengan serius sampai dahinya pun ikut berkerut. “Onnie, kau baca apa?” tanya Hamun sembari ia menyesap kopinya.

Jihyo akhirnya mengalihkan perhatiannya untuk menatap Hamun. “Kau, tumben tidak membaca atau mengetik apapun?” candanya yang membuat Hamun tertawa.

“Jawab aku dulu. Kalau tidak, aku akan meninggalkan onnie sendirian disini,” ujar Hamun yang sudah bangkit berdiri. Dengan segera, Jihyo menahan tangan Hamun. “Andwe, jangan biarkan aku sendiri. Aku akan merasa sangat kesepian. Onniedul tidak akan menemaniku meskipun aku minta karena mereka sudah dengan pasangannya masing-masing,” kata Jihyo.

Akhirnya, Hamun kembali duduk. Jihyo menghela nafas panjang. “Aku sedang membaca artikel tentang artis sekaligus model pendatang baru yang karirnya langsung melejit. Namanya Kim Woobin. Tapi, semua artikel itu memberitakan hal-hal yang baik tentang dirinya. Aku yakin dia tidak sebaik itu. Aku yakin dia adalah serigala berbulu domba. Aku tidak suka orang sepertinya,” katanya.

“Jangan bilang onnie ingin mencari fakta mengenai sisi buruknya?” tebak Hamun yang Jihyo jawab dengan anggukan. “Yaa! Onnie! Kau tak ingat pengalamanmu sebelumnya? Kau hampir diculik orang karena berusaha membongkar kejahatan yang dilakukan Rail Entertainment? Atau kau tak ingat kau nyaris dibunuh saat mencari tahu tentang kehidupan psikopat Kim Eddy? Onnie, hentikan. Aku mohon!” seru Hamun.

Percuma saja, seorang Jihyo tidak pernah mau mendengarkan siapa pun. “Aku akan melakukannya. Karirku bisa semulus ini karena aku melakukan hal-hal yang jelaskan tadi. So, kali ini aku juga akan mencari tahu tentang Kim Woobin,” katanya.

Kini giliran Hamun yang menghela nafas panjang. “Baiklah, tapi onnie harus janji untuk langsung mengabariku jika kau merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, aku akan menggunakan akalku untuk mengurangi resiko yang membahayakanmu,” katanya.

Jihyo tersenyum pada Hamun sambil mengacak rambut magnaenya itu. “Kau paling kecil tapi bisa kuandalkan! Gomawo!” seru Jihyo yang sudah bersemangat untuk memulai rencananya. Tiba-tiba saja, Eric datang menghampiri mereka.

“Aku ada kejutan untuk kalian,” kata Eric.

“Apa itu oppa?” tanya Jihyo dan Hamun bersamaan. Eric tersenyum usil lalu meminta Jihyo dan Hamun menutup kedua matanya. “Saat hitungan ketiga, buka mata kalian. Kalian pasti tidak percaya dengan apa yang akan kalian lihat,” katanya.

“Hana, dul, set!”

Begitu Jihyo membuka matanya, mulutnya langsung terbuka saking kagetnya. Melihat reaksi Jihyo membuat Eric merasa puas. “Well, sudah kuduga Hamun akan bereaksi biasa saja. Tapi, aku cukup puas dengan reaksi Jihyo,” kata Eric sambil tertawa lebar. “Kalian pasti sudah mengenalnya tapi biarkan dia memperkenalkan dirinya secara resmi,”

“Annyeonghaseyo, Kim Woobin imnida. Senang berkenalan dengan anda,” kata Woobin sambil memberikan senyum mautnya untuk Jihyo dan Hamun.

“Ba-bagaimana bisa?” tanya Jihyo menuntut penjelasan dari Eric.

“Aku sedang cuti, jadi aku ingin membantu cafe pamanku yang sedang laris-larisnya ini. Sekalian aku bisa mendalami karakterku untuk film selanjutnya,” jawab Woobin.

“Aku tanya pada Eric oppa, bukan dirimu,” jawab Jihyo ketus. Ia akhirnya memperhatikan penampilan pria itu dari atas sampai bawah. Well, dia memang sangat tampan dan tubuhnya juga bagus tapi Jihyo tetap pada pendiriannya untuk membuktikan kalau pria ini adalah serigala berbulu domba!

“Waeyo?” tanya Woobin yang merasa diperhatikan oleh Jihyo.

Jihyo memandangnya sinis. Ia mengeluarkan ID pers miliknya lalu menunjukan ID itu pada Woobin. “Aku wartawan dari Entertainment Daily. Aku dikenal sebagai ‘penembus yang tak tertembus’, kau tahu apa artinya?”

Woobin dan Eric menggeleng sedangkan Hamun tertawa kecil. Ia tak habis pikir pada onnienya yang selalu bangga dengan julukan itu. Sampai saat ini, Hamun masih memikirkan julukan lain yang lebih keren untuk onnienya itu.

“Artinya, aku selalu bisa mendapatkan bukti dari apapun yang disembunyikan oleh para artis atau management,” jelas Jihyo sambil tersenyum bangga.

“Lalu hubungannya denganku?” tanya Woobin.

“Aku mencurigaimu karena kau selalu dielu-elukan dimana-mana. Aku yakin ada skandal yang kau tutupi. Aku akan menghantuimu 24 jam sampai aku mendapat bukti itu,” katanya menantang Woobin.

“Yaa, Choi Jihyo yang benar saja, kau mencurigai keponakanku?” tanya Eric tak habis pikir.

Woobin tiba-tiba tersenyum. “Sepertinya menarik. Baiklah, aku setuju. Kau boleh mengikutiku 24 jam. Kalau kau menemukan suatu hal buruk yang kulakukan, aku mohon beritahu aku sehingga aku dapat mengintrospeksi diriku. Aku masih baru di dunia ini, aku mohon kau membimbingku,” katanya.

Mendengar itu, Jihyo justru terdiam, kehabisan kata-kata. Satu hal yang bisa dia simpulkan, ia tidak cukup pintar. Bagaimana mungkin ia mengizinkan seorang wartawan mengikutinya selama 24 jam?! Bahkan ia minta dibimbing oleh wartawan itu! Pria ini memang sesuatu! Jihyo memijat pelipisnya yang sakit karena pria itu.

“Jihyonie, waeyo?” tanya Seunghyun, salah satu butler yang paling dekat dengan Jihyo di Coffee Cafe itu. Melihat tampang Seunghyun membuat Jihyo bahagia dan melupakan kekesalannya yang disebabkan oleh Woobin.

Jihyo menatap Woobin tajam. “I’ll watch you,” katanya dengan nada mengancam. Jihyo bahkan membuat bentuk V pada jemarinya, menunjuk matanya dengan V itu dan ganti menunjuk ke arah mata Woobin. Seperti itu beberapa kali.

Woobin justru tertawa dan tersenyum, “Terima kasih, tolong jaga aku baik-baik, Jihyo ssi,” balas Woobin yang membuat Jihyo mengacak rambutnya frustasi. Jihyo akhirnya segera pergi dari tempat itu bersama Seunghyun.

“Jangan kaget kalau nanti malam tiba-tiba onnieku muncul di apartemenmu. Jika ia bilang 24 jam, literally 24 jam,” kata Hamun memperingati Woobin.

“Astaga, ia bisa sakit jika seperti itu. Baiklah, aku akan minta managerku untuk membereskan apartemenku dan membeli makanan untuk dua orang,” ujar Woobin yang langsung menelpon managernya. Melihat itu, Hamun hanya bisa tertawa.

“Aku harap, apa yang kulihat saat ini bukan hanya aktingmu,” kata Hamun yang Woobin balas dengan senyuman tulus. Senyuman itu membuat Hamun yakin kalau pria ini memang berhati lembut. “Tolong jaga Jihyo onnie, ya,” pinta Hamun yang disanggupi oleh Woobin.

******

Dalam perjalanannya pulang menuju apartemennya, Woobin bisa merasakan ada aura orang lain disekitarnya. Ia tersenyum saat mengingat peringatan dari Hamun tadi. Kemungkinan yang mengikutinya adalah Jihyo. Tiba-tiba, Woobin menghentikan sepedanya. Ia menoleh ke belakang. Meskipun Jihyo bersembunyi, Woobin tetap bisa melihatnya. “Kata Minah noona, Hyunah noona, dan Hyejin noona, kau adalah stalker handal. Tapi, aku tidak yakin,” ujar Woobin yang akhirnya membuat Jihyo keluar dari persembunyiannya.

“Kau tiba-tiba menoleh, sih! Lagipula, darimana kau tahu aku akan mengikutimu?! Kau membuat semua rencanaku kacau!” seru Jihyo kesal.

“Hamun memperingatkan aku tadi,” jawab Woobin jujur.

“Aish! Dasar gadis itu selalu ikut campur urusan orang saja!”

“Dia hanya khawatir padamu,” balas Woobin.

Mendengar Woobin mengatakan itu membuat Jihyo kesal. “Tentu saja aku tahu Hamun melakukan itu karena ia khawatir padaku. Aku mengenalnya nyaris 22 ta-”

Suara Jihyo terputus karena perutnya tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Jihyo yang sedari tadi berteriak-teriak karena kesal menjadi terdiam karena malu. Awalnya Woobin berusaha menahan tawanya, tapi pada akhirnya ia tertawa dengan lepas. “Kau lapar? Kau menghabiskan energimu untuk marah-marah, sih. Kalau kau ingin mengikutiku 24 jam, kali ini kau harus menurut padaku,” kata Woobin yang tidak mendapat sahutan apapun dari Jihyo.

“Ayo naik,” ajak Woobin sambil menunjuk tempat duduk yang ada di belakangnya.

“Ka-kau yakin mau memboncengku? Aku cukup berat,” kata Jihyo.

“Aku cukup kuat. Ppali,” ujar Woobin yang refleks dituruti Jihyo.

“Kau mau bawa aku kemana? Kuingatkan kau, aku bisa segala jenis bela diri. Kalau kau punya niat macam-macam, lebih baik segera kau urungkan,” ancam Jihyo.

Woobin tertawa mendengar hal itu. “Kalau aku bilang, aku akan membawamu ke apartemenku bagaimana? Hanya ada kita berdua disana,” goda Woobin.

“Yaa, Kim Woobin! Hentikan sepeda ini! Hentikan! Hentikan! Hentikan!” seru Jihyo yang tidak dipedulikan Woobin. Pria itu hanya tertawa mendengar suara Jihyo yang melengking itu dan ia malah mempercepat laju sepedanya.

*****

‘Dia pria, tapi cukup rapi,’ kata Jihyo dalam hati begitu ia masuk ke apartemen Woobin.

“Biasanya aku tidak serapi ini. Karena Hamun bilang kau akan mengikutiku sampai ke apartemen, aku minta managerku membereskan apartemenku,” kata Woobin seakan-akan ia bisa mendengar suara hati Jihyo.

Jihyo yang kaget dengan kemunculan Woobin, segera memasang kuda-kuda seperti yang biasa ia lakukan dalam pertandingan taekwondo. “Kemari kau kalau kau berani. Aku tak akan membiarkanmu menyentuhku,” kata Jihyo yang kembali membuat Woobin tertawa.

“Kau terlalu negative thinking. Aku tidak ada keinginan untuk menyentuhmu. Aku hanya ingin mengajakmu makan,” kata Woobin sembari ia berjalan menuju meja makan.

“Kemarilah,” panggil Woobin yang tersadar kalau Jihyo masih berdiri di ruang tamu.

Mencium bau makanan itu membuat Jihyo mau tak mau berjalan menuju ruang makan itu. Ia segera duduk manis dan membiarkan Woobin mengambilkan makanan untuknya. “Selamat makan,” kata Woobin.

Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Jihyo diam karena ia sangat menikmati makanan itu. Sedangkan Woobin diam karena ia memandangi Jihyo sedari tadi. “Apa makanannya sangat enak?” tanya Woobin yang Jihyo jawab dengan anggukan.

Jihyo akhirnya tersadar kalau ia terlalu menikmati makanan itu sampai lupa misi awalnya. Tapi, jika Jihyo mengulang kembali ingatannya sepanjang hari ini, ia tidak mendapatkan bukti apapun mengenai hal yang disembunyikan pria ini. Justru yang ia lihat adalah bukti nyata kebaikan Woobin, sesuai dengan yang diceritakan di majalah-majalah.

“Terima kasih, kau sudah sangat baik padaku,” ujar Jihyo akhirnya.

“Terima kasih juga, kau sudah bersusah payah mencari skandal tentang diriku,” katanya.

“Kau menyindirku?”

“Sedikit,” kata Woobin yang membuat mereka berdua tertawa.

“Ah, iya, apa benar kau berteman baik dengan Kang Haneul dan Lee Jongsuk? Bagaimana bisa? Bukannya mereka aktor yang cukup susah didekati?” tanya Jihyo yang tiba-tiba teringat suatu artikel tentang Woobin.

“Aku mencari tahu terlebih dahulu mengenai hal-hal apa saja yang mereka suka dan mereka tidak suka. Biasanya aku cari info itu melalui internet, menyamar dan menjadi member di blog fanclub mereka, sesekali aku juga bertanya pada mereka. Akhirnya aku tahu apa yang harus kubicarakan saat bersama mereka. Hubungan yang awalnya aku bangun untuk profesionalitas, justru jadi persahabatan,” katanya.

“Apa kau selalu seperti itu sebelum membangun hubungan dengan artis dan aktor lain?” tanya Jihyo yang Woobin jawab dengan anggukan.

Jihyo terdiam. Ia baru tahu kalau Woobin ternyata juga bekerja keras untuk membangun karirnya, bukan dengan sekejap ia berada di puncak. “Maafkan aku, aku sudah salah menilaimu,” sesal Jihyo.

Woobin tersenyum mendengar hal itu. “Untuk apa minta maaf? Kau tidak menyakitiku. Justru kau membuatku tertawa sepanjang hari. Melihat kau bekerja keras dan sangat serius terhadap pekerjaanmu, aku juga menjadi bersemangat,” kata Woobin.

“Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman? Sebagai gantinya, aku akan memberikan info-info paling aktual tentang artis atau aktor yang ingin kau ketahui,” tawar Woobin.

“Sebenarnya prinsipku saat berteman adalah tidak boleh memanfaatkan temanku sendiri. Tapi, idemu sangat bagus. Jadi, deal!” seru Jihyo.

Woobin tertawa mendengar perkataan Jihyo. “Kau juga harus tetap menghantuiku selama 24 jam. Kalau kau melihat aku membuat kesalahan, segera beritahu aku sehingga aku bersih dari skandal,” kata Woobin.

“Setuju!”

*****

“Ah, jadi peranmu di film terbarumu adalah seorang barista. Pantas saja kau mengisi liburanmu dengan bekerja di cafe,” ujar Jihyo saat membaca script yang ada di ruang tamu apartemen Woobin.

Sudah seminggu ini Jihyo selalu ke apartemen Woobin untuk melaksanakan tugasnya sebagai teman. Berkat itu, Woobin jadi semakin tahu bagaimana dunia entertainment sesungguhnya. Ia juga akhirnya semakin mengenal sosok Jihyo yang ternyata sangat tangguh dan pantang menyerah. Selain itu, Jihyo juga sering membantu Woobin membereskan apartemennya. Tak jarang pula Jihyo ke cafe atau ke apartemen ini untuk meminta bahan artikelnya dari Woobin.

“Coba kau nilai aktingku ini,” kata Woobin. Ia mulai memperagakan apa yang tertulis di script itu. “Bagaimana?” tanya Woobin setelah selesai. Jihyo langsung bangkit dan bertepuk tangan. Menurutnya, akting Woobin sangat bagus. Mungkin karena ia juga habis-habisan mengeksplor karakternya saat ia bekerja di cafe. “Keren!” seru Jihyo sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Kemari Jihyo,” titah Woobin.

“Waeyo?” tanya Jihyo saat ia sudah berdiri di depan Woobin.

“Scene 29, berdansa. Tak mungkin aku melakukan itu sendirian,” katanya sambil menggenggam tangan Jihyo dan mengalungkan tangannya yang lain dipinggang Jihyo.

“A-aku tak bisa berdansa,” kata Jihyo yang khawatir nantinya dia akan menginjak kaki Woobin.

“Aku cukup pintar untuk mengajarimu. Jadi, ikuti saja langkahku,” kata Woobin. Jihyo mengangguk sebagai tanda ia mengerti.

Jihyo selalu menunduk untuk memperhatikan langkah Woobin. Ia tidak tahu kalau sejak awal, mata Woobin tidak lepas darinya. Woobin bahkan sudah tersenyum-senyum sendiri saat memperhatikan wajah serius Jihyo. “Bagaimana? Kau sudah hafal langkahnya?” tanya Woobin.

“Ne, ayo kita coba dengan musik,” kata Jihyo.

Woobin dan Jihyo mulai berdansa. “Sejauh ini sangat mulus,” kata Woobin sebagai pujian untuk Jihyo. Gadis itu tersenyum merekah mendengar pujian dari Woobin. Tiba-tiba, kaki Woobin terinjak. “Sorry, my bad,” ujar Jihyo yang membuat Woobin tertawa. “Untuk kau tidak pakai high heels sekarang,” canda Woobin.

Di ending lagu itu, Jihyo berputar seperti yang ada di script. Woobin menangkap Jihyo dalam pelukannya seperti yang ada di script. Keduanya saling bertatapan lekat sepertinyang ada di script. Akhirnya, Woobin mencium bibir Jihyo.

“Ke-kenapa?” tanya Jihyo yang masih sangat kaget dengan tindakan Woobin.

Wajah Jihyo yang memerah justru membuat Woobin tersenyum. “Apanya yang kenapa, hm?” tanya Woobin sambil merapikan poni Jihyo.

“Ke-ke-kenapa kau menciumku? In- ini tidak ada di script,” tanya Jihyo yang memberanikan dirinya untuk menatap Woobin.

“Well, karena aku ingin,” katanya lalu kembali mencuri ciuman di bibir Jihyo. Jihyo tak bisa berbuat apa-apa selain menutup matanya dan menikmati kelembutan yang Woobin berikan.

“Kau suka?” tanya Woobin setelah ia menjauhkan bibirnya.

“A-ani. Ka-kata siapa! Jangan terlalu percaya diri!” seru Jihyo walaupun wajahnya sudah memerah karena malu.

“Kau menutup matamu dan membuka mulutmu seperti ini tadi.” Woobin memperagakan apa yang ia ucapkan. Melihat itu, Jihyo makin merasa malu. Ia tak menyangka dirinya bisa seperti itu. Ia lebih tidak menyangka kalau jantungnya berdebar sangat kencang sekarang.

“Sini, sini, aku akan menciummu lagi. Aku tahu kau suka, Jihyo,” ujar Woobin sambil berjalan mendekati Jihyo. Jihyo refleks langsung melemparkan bantal sova yang ada di dekatnya ke arah Woobin. Ia tak mau Woobin mendekat. Ia tak mau jantungnya berdetak kencang lebih dari ini.

“Ayo, jangan malu-malu, sini Jihyo,” kata Woobin.

“Sudah kuduga, kau memang serigala berbulu domba! Pervert!” seru Jihyo.

“Siapa yang menikmati ciuman dari si pervert ini? Kau harus diberi pelajaran Choi Jihyo,” kata Woobin yang langsung mengejar Jihyo. Sisa malam itu dihabiskan oleh Woobin untuk menatap Jihyo yang tertidur setelah lelah berlari-lari.

“Aku selalu suka wajahmu saat tertidur,” gumam Woobin yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri.

*****

“Woobin menatapmu sedari tadi,” kata Minah yang sedari tadi memperhatikan barista tampan itu.

“Biarkan saja,” sahut Jihyo tanpa berniat memutar tubuhnya untuk memandang Woobin.

“Ada yang aneh,” kali ini Hyunah yang berbicara.

“Setuju, sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara Woobin dan Jihyo,” ucap Hyejin menambahkan. Jihyo tetap terdiam sambil membaca koran yang ada ditangannya.

Hamun yang duduk di samping Jihyo mengamati onnienya itu dengan seksama. Ia melihat Jihyo menggelengkan kepalanya beberapa kali seakan ia sedang menghapus sebuah pikiran yang tidak ia inginkan dari kepalanya. Beberapa kali, Jihyo kedapatan menggigit bibirnya sendiri. “Sepertinya aku tahu apa yang terjadi,” ujar Hamun memecah keheningan.

Semua onnie kini memandang Hamun, menanti kelanjutan ucapan si magnae. “Sepertinya Woobin menci-” sebelum Hamun menyelesaikan kalimatnya, Jihyo segera menutup mulut Hamun dengan tangannya.

“Jihyo berciuman dengan Woobin kemarin,” ujar Seunghyun yang muncul untuk mengantarkan pesanan Jihyo dan kawan-kawan. Jihyo mengumpat tanpa suara pada Seunghyun, sedangkan pria itu membalasnya dengan senyum usil.

“Jeongmalyo?!” tanya onnie-onnienya antusias. Mereka menuntut penjelasan dari Jihyo. Dengan terpaksa, Jihyo menceritakan semuanya.

“Kau suka padanya?” tanya Hyunah.

“Aku tidak tahu, tapi jantungku berdetak sangat kencang sampai aku sendiri merasa sesak,”

“Itu tandanya onnie suka padanya,” sahut Hamun.

“Dia suka padamu?” tanya Minah.

Jihyo mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu.

“Kau harus minta kejelasan dari Woobin. Jangan menghindarinya seperti ini. Kalau kau menyukainya, seperti yang Hamun bilang tadi, apa kau tidak ingin memiliki akhir yang bahagia? Kau harus bertanya padanya,” kata Hyejin.

*****

“Woobin oppa! Siapa dia?! Beri penjelasan pada kami!” seru seorang gadis yang berdiri di depan Woobin.

“Ada apa?” tanya Woobin tak mengerti.

Gadis itu dengan tampang sedih memberikan sebuah foto. Foto Woobin yang tampak sedang mencium seseorang, sayangnya wajah gadis yang diciumnya tertutup oleh  kepala Woobin sehingga tidak ada yang tahu siapa wanita itu.

“Kenapa ribut-ribut?” tanya Jihyo. Woobin tidak sempat menjawab, namun Jihyo lebih dulu melihat foto yang ada di tangan gadis itu. Jantung Jihyo berdetak kencang dan dadanya terasa sesak. Akan tetapi, saat ini ia merasakan rasa sakit berkecamuk di dadanya.

Jihyo merebut foto yang dipegang wanita tadi lalu melemparkan foto itu pada Woobin. “Bodoh sekali aku merasa berdebar karena perbuatanmu kemarin malam. Kau pasti tidak masalah mencium siapapun. Aku sudah salah menilaimu!” seru Jihyo lalu ia meninggalkan café itu.

“Yaa, Kim Woobin! Kenapa kau tidak mengejarnya?!” seru Hyejin, namun Woobin tidak bergeming.

Hamun mengambil foto yang sempat tergeletak di lantai. Ia meniti dengan seksama foto itu. Ia melihat Woobin sedang menggunakan seragam butler café. Postur tubuh wanita itu juga tidak asing bagi Hamun. Beberapa saat Hamun berpikir lalu ia tersenyum. Hamun memberikan foto pada Woobin. Ia bisa melihat Woobin tersenyum. “Aku tidak salah dengar, kan, tadi? Jihyo cemburu?” tanya Woobin pada Hamun sembari ia mengambil foto itu dari tangan Hamun.

Hamun mengangguk. “Kejar Jihyo dan jelaskan padanya siapa gadis itu,” kata Hamun.

Woobin tersenyum saat kembali melihat foto itu. “Bagaimana mungkin ia tidak tahu kalau wanita di foto ini adalah dirinya?” tanya Woobin pada Hamun.

“Kau harus sabar menghadapi onnieku yang satu itu,” kata Hamun.

*****

“Yaa, Choi Jihyo, berhentilah,” panggil Woobin yang akhirnya mengejar Jihyo sampai ke taman dekat café.

“Untuk apa kau mengejarku, ha?!” seru Jihyo yang akhirnya menghentikan langkahnya. Woobin berjalan mendekati Jihyo lalu berdiri di hadapan wanita itu.

“Kau mencintaiku?” tanya Woobin pada Jihyo.

Jihyo menggeleng.

Woobin mengangkat wajah Jihyo sehingga kini mata mereka bertemu. Woobin tersenyum untuk Jihyo. “Kau yakin?” tanyanya sekali lagi.

Membayangkan Woobin akan memberikan senyuman itu pada wanita lain membuat hati Jihyo kembali berkecamuk. Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya mengalir. Rasa yang ia pendam pun akhirnya ia sampaikan. “Aku suka padamu! Aku cinta padamu! Puas kau membuatku patah hati?! Pria jahat! Serigala berbulu domba! Pervert!” seru Jihyo ditengah isakannya. Air matanya makin menderas setelah ia meluapkan perasaannya yang tidak berbalas.

Woobin menengadahkan kepala Jihyo lalu menghapus air mata wanita itu. “Kenapa aku jatuh cinta pada wanita sepertimu sih? Aku, kan, jadi repot,”

“Mwo?! Kau bilang aku merepotkan? Yaa! Kim Wo-” suara Jihyo terhenti sesaat. “Ka- kau bilang jatuh cinta? Kau? Padaku?” tanya Jihyo tak percaya.

Woobin mengacak rambut Jihyo. Ia menyerahkan foto bermasalah itu pada Jihyo. “Kau tidak ingat kalau kau punya baju seperti wanita yang ada di foto ini? Lihat laptopnya. Punyamu, kan?”

Mulut Jihyo terbuka namun suaranya tak bisa keluar. “Kau wanita yang ada di foto itu. Kau tertidur di café setelah semalaman mengerjakan artikelmu. Kau terlihat sangat manis saat tidur sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri. Aku tidak tahu kalau ada orang yang akan melihat dan memotret perbuatanku itu,” jelas Woobin. “Aku hanya mencuri ciuman dari gadis yang kusukai,” lanjutnya.

“Kapan foto ini diambil?” tanya Jihyo.

“Hari pertama aku kerja di café,”

“Mworago?! Kau mencuri ciumanku sejak awal? Saat aku tidur?! Kau memang keterlaluan Kim Woobin!” seru Jihyo sambil memukuli pundak Woobin. Woobin tertawa melihat ekspresi wajah Jihyo yang marah untuk menyembunyikan rasa malunya. Tiba-tiba Jihyo menghentikan pukulannya. Wajahnya tampang bimbang.

“Kenapa, Jihyo ah?” tanya Woobin khawatir.

“Aku yang bilang padamu jangan membangun hubungan relationship dengan wanita mana pun agar kau terhindar dari skandal. Poularitasmu akan menurun. Aku tak-”

“Aku tak masalah dengan itu semua. I just wanna love you. Could you give me that chance?”

*****

“Yaa, Kim Woobin! Hapus foto itu! Ppali!! Kau mau foto itu tersebar lagi di internet? Kau tak tahu aku sangat capek meladeni penggemar-penggemarmu itu, ha?!” seru Jihyo sambil terus mengejar Woobin.

“Yaa, yaa, yaa, kalian di dalam café! Jangan berlarian!” seru Eric.

“Untung saja belum ada pelanggan yang datang,” kata Kyuhyun.

“Aku tak menyangka mereka bisa berpacaran,” sahut Seunghyun.

“Aku bahkan belum percaya kalau mereka sudah resmi berpacaran,” sela Henry.

“Onnie, ayo berangkat. Aku sudah menjemputmu kesini , tolong jangan buat aku telat,” pinta Hamun yang sejak 5 menit yang lalu sudah ada di café itu. Seperti biasa, Jihyo menghabiskan malamnya di café untuk menyelesaikan artikelnya. Ternyata, lagi-lagi Woobin mencuri ciuman Jihyo. Parahnya, Woobin sengaja memotretnya untuk menggoda Jihyo.

Tanpa disadari, tiba-tiba Hamun mendapat kesempatan untuk mengambil iPhone milik Woobin itu. Jihyo mau merebut, namun Hamun lebih dulu mengelak. Tak beberapa lama kemudian, Hamun mengembalikan iPhone itu ke pemiliknya.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jihyo khawatir.

“Sudah aku posting di twitter. Ayo pergi, onnie,” kata Hamun sambil menarik Jihyo yang sudah lemas seketika.

“Gomawo Hamun!” seru Woobin.

“Yaa! Kim Woobin! Kau menyebalkan!”

“Ne, nado saranghae, Jihyo ah!” seru Woobin yang menganggap tiap ucapan dari mulut Jihyo adalah ucapan sayang untuknya.

*****

Kkkeut!

Thank you for reading🙂