This is the last couple for sequel The Coffee Cafe! Hope you like it🙂 Some part of this fanfiction inspired by Amber song, its titled ‘I just wanna love you’ and i also recommended this song for you all hehe. Enjoy reading!

201112128006
My feelings for you grow deeper and deeper, as the days go on. I never thought i could feel this way. You showed me the world in a whole new light. You showed me, a whole new me. Now, i don’t need surrounded by people. I just need you by my side. Days without you, they don’t feel the same. Without you, i feel so blue because you’re the one that i need to make everything complete.

******

“Hamun, kurasa kau perlu segera cari pacar,” kata Minah pada magnae kesayangannya itu.

“Ne, biar kami tidak berat hati saat meninggalkanmu sendirian,” sahut Hyejin.

“Kami ingin punya waktu lebih banyak dengan kekasih kami, Hamun,” ujar Jihyo, Hyunah langsung menyikut lengan Jihyo.

“Ehm, maksud kami, kalau kamu punya pacar, kami bisa lebih leluasa dengan pacar kami masing-masing,” kata Hyunah memperhalus perkataan Jihyo.

“Setuju dengan Hyunahku. Aku punya banyak rekomendasi untukmu, kalau kau mau, Hamun,” ujar Henry.

“Kalau kau ingin pria yang sudah matang dan punya banyak uang, aku bisa mengenalkan temanku padamu,” kata Kyuhyun.

“Aku tidak bisa banyak membantu, Hamun. Teman-temanku tidak ada yang beres,” sela Eric yang disetujui oleh Minah.

“Sebenarnya, Lee Jongsuk dan Kang Haneul ingin berkenalan denganmu sejak aku mengajaknya ke cafe ini sebulan yang lalu. Kau mau coba mengenal mereka?” imbuh Woobin.

Hamun tersenyum pada mereka semua. “Terima kasih onniedul dan oppadeul. Kalian tidak perlu repot-repot mencarikanku pacar. Kalian juga jangan terlalu memikirkan aku. Aku tak masalah kalau kalian ingin menghabiskan waktu dengan pacar kalian,” kata Hamun.

Setelah mendapat izin dari Hamun, akhirnya semua onnie-nya pergi dengan pasangannya masing-masing. Hamun hanya bisa tertawa melihat onnie dan oppa-nya. Akhirnya Hamun kembali sendirian di cafe ini, ia bisa kembali melanjutkan novelnya.

“Annyeonghaseyo, Kang Hamun ssi,” sapa seseorang. Hamun menengadahkan kepalanya. “Lee Donghae sunbae?” tanya Hamun memastikan setelah ia melihat wajah pria yang menyapanya.

Pria itu mengangguk lalu tersenyum pada Hamun. “Aku tak menyangka kau tahu namaku. Saat kuliah dulu, aku tak pernah berbicara denganmu,” katanya.

Hamun tersenyum. “Di kampus tidak ada yang tidak tahu Lee Donghae,” timpal Hamun. Hamun menilik pria itu dari atas sampai bawah, “Sunbae bekerja sebagai butler disini? Sejak kapan? Aku tak pernah tahu,” tanyanya.

“Sepertinya sudah 3 hari aku bekerja disini. Kau terlalu fokus dengan laptop dan bukumu jadi kau tidak menyadari keberadaanku,” jawab Donghae sambil tersenyum. “Kau sendirian, kan? Aku akan menemanimu,” lanjutnya sembari ia duduk di kursi yang berada di hadapan Hamun.

“Ah, aku lebih senang sendirian. Sunbae bisa tinggalkan aku,” sahut Hamun yang masih berusaha sopan.

“Aku tak percaya kau senang sendirian. Aku tak bisa sendirian. Saat sendirian, aku merasa kesepian dan sangat sedih. Jadi, aku tak mau kau merasakan hal itu,” ujar Donghae tanpa ada rasa bersalah.

“Well, tiap orang punya personality yang berbeda. Kau mungkin senang jika bersama orang lain, tapi aku senang jika kau meninggalkanku,” ucap Hamun yang mulai ketus. Bahkan ia sudah menatap pria itu untuk menunjukan keseriusannya. Baru saja ia merasa bahagia karena akhirnya onniedul dan oppadeulnya memberikan waktu untuknya, tapi kini sudah muncul lagi orang yang akan mengusik teritorialnya.

“Aku tak akan meninggalkanmu sendirian,” jawab Donghae masih dengan senyum diwajahnya.

“Meskipun kau menemaniku, aku tak akan membayar service butler untuk sunbae. Jadi, sebaiknya sunbae mencari customer lain yang ingin dilayani oleh sunbae. Kau bisa mendapat tip dari mereka,” ujar Hamun.

“Aku akan tetap disini. Aku tak bisa membiarkanmu sendirian. Jangan keras kepala, apapun yang kau katakan tidak akan mengubah keputusanku,” kata Donghae. Meskipun kata-katanya tajam namun senyumnya masih terpatri.

Hamun menghela nafas panjang. “Sunbae yang keras kepala,” ujar Hamun. “Terserah sunbae. Aku tak akan mengajak sunbar berbicara. Jadi, kalau sunbae bosan, silahkan pergi,” lanjutnya.

Donghae tersenyum. “Kurasa aku tak akan bosan. Karena aku dapat melihat wajahmu sampai puas,” katanya.

Hamun tertawa. “Aku ingat salah satu gosip tentang sunbae dulu. Katanya sunbae adalah seorang playboy. Jadi, aku tidak akan menganggap serius ucapan Donghae sunbae,” ucapnya.

“Hm, it’s okay,” jawab Donghae tanpa kehilangan senyumnya.

Hamun mencoba kembali konsentrasi dengan pekerjaannya. Ia berusaha menganggap pria itu tidak ada. Hamun merasa susah untuk fokus karena pria itu terus memandangnya dalam diam.

*****

“Ini untukmu,” kata Donghae saat ia mengantar frapuccino latte pesanan Hamun. Begitu Donghae pergi dari meja itu, onniedul Hamun (yang kebetulan belum dipanggil oleh kekasihnya masing-masing) memberikan banyak sekali pertanyaan tentang pria itu.

“Aku melihatnya menungguimu kemarin dari sore sampai kau pulang dari cafe,” komentar Minah.

“Siapa dia, Hamun? Ceritakan pada kami,” pinta Hyunah.

“Dia seniorku saat kuliah S1 dulu. Dia sangat terkenal di kampusku,” jawab Hamun.

“Kurasa dia suka padamu,” ujar Jihyo.

“Kenapa kau tidak coba dengannya, Hamun?” tanya Hyejin.

Hamun tertawa kecil. “Dia terkenal karena ia sangat baik dan mudah akrab dengan siapa saja. Ia menemaniku kemarin bukan karena dia suka padaku tetapi karena dia tidak bisa membiarkanku sendirian. Dia juga lebih senang jika ada orang di dekatnya. Intinya, dia tidak suka padaku,”

“Itu hanya asumsimu. Coba saja jalani dulu,” kata Kyuhyun yang tiba-tiba datang. “Tidak ada pria yang mau berlama-lama dengan gadis yang tidak ia sukai,” lanjutnya.

“Pria juga bisa seenaknya saja selama ia memperoleh keuntungan. Yang terjadi pada aku dan sunbae itu adalah simbiosis parasitisme. Ia diuntungkan karena ia merasa senang jika ada orang lain disekitarnya sedangkan aku justru dirugikan,” kata Hamun. “Dan jangan paksa aku berteman dengannya. Aku cukup berteman dengan kalian,” lanjutnya, seakan Hamun tahu apa yang mau dikatakan oleh Hyunah.

“Baiklah, terserah kau saja magnae. But, at some point in this life, God will give you someone. The one who will change everything. Even yourself. So, give a chance for your heart,” ujar Hyejin dengan lembut.

*****

Dari balik laptopnya, Hamun bisa melihat pria itu tertidur di meja tanpa memejamkan mata. “Sudah kubilang, kalau sunbae bosan, sunbae boleh pergi. Donghae sunbae tak perlu menemaniku terus. Sudah 2 minggu sunbae seperti ini. Kau tahu, gara-gara sunbae, aku dibilang kejam oleh onnieku,” jelas Hamun.

“Ne, Kang Hamun sangat kejam,” ujar pria itu sambil memayunkan bibirnya dan memasang tampang sedih. “Sudah dua minggu aku seperti ini, tapi kau tetap dingin padaku dan tidak pernah mengajakku berbicara lebih dahulu,” lanjutnya.

Hamun tahu pria itu hanya berakting, namun dalam hatinya ia tak tega melihatnya. Meskipun akalnya menolak semua perkataan Donghae, namun sebagian kecil hatinya mengakui kalau yang dikatakan Donghae ada benarnya. Jika sudah seperti ini, hati selalu menang.

Hamun menghela nafas panjang lalu menutup laptopnya. “Kali ini saja, aku akan menemani berbicara. Puas?” tanya Hamun ketus.

Donghae tersenyum merekah mendengar ucapan Hamun. “Pertama, aku ingin tahu tentang dirimu. Apa yang kau lakukan saat ini dan sebagainya. Aku ingin mendengar ceritamu,” kata Donghae sembari menyesap kopi miliknya.

“Aku sedang menyelesaikan S2. Aku juga seorang novelis. Aku sering kesini untuk menulis atau mengerjakan tugas. Saat ini kuliahku sedang libur jadi aku bisa berada disini dari siang sampai malam untuk mencari inspirasi. Sayangnya, akhir-akhir ini ada seseorang yang menggangguku sehingga progress novelku sangat lambat,” sindir Hamun. Donghae hanya tertawa mendengar sindiran itu.

“Lalu, kenapa kau suka sendirian? Kau tahu, aku sangat benci hal itu,” ujar Donghae.

“Aku tahu,” jawab Hamun. “Dulu aku sepertimu. Sampai akhirnya aku sadar kalau mereka ada disampingku hanya karena otakku, uang yang orang tuaku miliki, dan sahabat-sahabatku itu. Cukup banyak pria yang mendekatiku untuk bisa lebih dekat dengan onnie-onnieku itu. Aku tidak mau dimanfaatkan orang lain, lalu aku menghindari mereka. Sampai akhirnya, tanpa kusadari, aku menjadi senang saat aku sendirian. Aku merasa tenang,” jelas Hamun.

Donghae tersenyum mendengar cerita Hamun. “Hm, jadi kau suka sendirian dan suka anak-anak. Kurasa kau akan jadi calon ibu yang baik,” kata Donghae yang membuat Hamun sangat heran.

“Bagaimana sunbae tahu aku suka dengan anak-anak?” tanya Hamun.

“Saat kau kuliah dulu, kau sering membantu di taman kanak-kanak yang dimiliki oleh universitas kita. Disana, apa kau kenal seorang anak kecil bernama Song Daehan?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan anggukan.

“Dia keponakanku. Aku sering melihatmu saat aku harus menjemputnya. Daehan juga sering bercerita padaku tentang dirimu. Daehan bilang, dia sangat menyukaimu,”

“Jeongmalyo dia bilang begitu? Astaga, aku jadi rindu padanya,” kata Hamun. Mengingat betapa lucunya Daehan membuat Hamun tersenyum.

“Akhirnya kau tersenyum,” ujar Donghae yang merasa takjub saat melihat senyum Hamun itu. “Dulu aku selalu melihatmu dari kejauhan. Saat di kampus atau saat aku menjemput Daehan. Hal itu akhirnya menjadi kebiasaanku. Aku selalu ingin mengenalmu namun aku tak pernah berani melewati teritorialmu. Aku tak menyangka akan bertemu lagi denganmu disini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapamu,” lanjutnya.

“Sudah lama aku ingin melihat senyum itu lagi. Akhirnya aku melihatnya. Kurasa aku harus berterima kasih pada Daehan,” kata Donghae.

Mendengar itu, senyum Hamun langsung menghilang. “Sudah kubilang, rayuan sunbae tidak akan mempan,” jelas Hamun yang membuat Donghae tertawa.

“Aku tidak sedang merayumu. Aku mengatakan apa yang hatiku rasakan. Beritahu aku kenapa kau suka anak kecil,”

“Karena mereka tulus,” jawab Hamun.

“Baiklah kalau begitu, anggap saja aku anak kecil,” kata Donghae setelah ia menghabiskan kopinya. Tanpa Donghae sadari, ternyata cream kopi itu melekat disekitar bibir atasnya. Hamun tertawa melihat wajah Donghae.

“Sunbae memang seperti anak kecil. Egois, tidak bisa diberitahu, dan terus terang. Minum kopi saja masih belepotan seperti ini,” ujar Hamun. Ia mengulurkan ibu jarinya untuk menghapus cream di sekitar bibir Donghae itu. “Kurasa Daehan lebih dewasa dibandingkan sunbae,” lanjutnya sambil tertawa.

Tawa Hamun menghilang saat Donghae tidak memberikan respon apapun padahal detik-detik sudah cukup lama berlalu. Donghae bahkan menundukan kepalanya dan tidak menatap Hamun. “Su-sunbae, sepertinya bercandaku kelewatan. Mianhe,” ujar Hamun merasa bersalah.

Donghae tiba-tiba bangkit berdiri meninggalkan Hamun. Hamun langsung bangkit mengejar pria itu. Akhirnya Hamun berhasil menggapai tangan Donghae saat ia berada di lorong menuju ruangan Eric. “Sunbae, aku minta maaf. Kau belum memaafkanku,” ujar Hamun.

“Aku sudah memaafkanmu. Sekarang lepaskan tanganku,” ujar Donghae yang langsung Hamun turuti.

“Kau kenapa, sih? Tiba-tiba seperti ini. Aku tidak mengerti,” tanya Hamun yang bingung dengan sikap Donghae.

Donghae menarik Hamun dan menyenderkan gadis itu di tembok. Kini keduanya saling berhadapan dan Hamun dapat melihat wajah Donghae dengan jelas. “Wajahmu sangat merah, sunbae. Kau sakit?” tanya Hamun sambil menyentuh dahi Donghae dengan punggung tangannya.

“Yaa, Kang Hamun jangan menyentuhku seenaknya!” seru Donghae yang membuat Hamun segera menyingkirkan tangannya.

“Sunbae kenapa, sih?! Kau marah lagi padaku! Kalau kau kesal karena selama ini aku bersikap dingin padamu dan aku mengejekmu tadi, aku minta maaf. Kalau kau tidak bisa memaafkanku, tidak apa-apa! Dari awal bukan aku yang minta untuk ditemani!” seru Hamun kesal sambil terus menatap lekat mata Donghae.

Donghae menghela nafas. “Tutup matamu. Jangan melihatku lekat seperti itu. Kau membuat jantungku berdebar tak karuan,” ujar Donghae yang mengusahakan dirinya tetap tenang.

“Mwo? Kau bahkan menyuruhku tutup mata karena kau-”

“Tutup mata, Hamun!” ujar Donghae yang akhirnya dituruti oleh Hamun. “Kau pintar tapi kau tak peka. Aku sudah menyukaimu dari dulu, tapi aku merasa tak punya harapan karena kau bilang, kau tidak akan mempercayai perkataanku. Aku menyerah sedari awal dan kupikir aku akan mudah melupakanmu karena kau sangat dingin, tidah ramah, tidak pernah tersenyum seperti Hamun yang kusukai dulu. Namun hari ini seenaknya saja kau berubah. Kau mengajakku berbicara, kau menceritakan masalahmu, kau tersenyum, kau membuktikan padaku kalau kau masih sama seperti Hamun yang dulu, lalu kau-”

“I’m falling in love with you again when you touched me and I stopped feeling blue,” ujar Donghae.

“Itu masalahmu, bukan masalahku,” ujar Hamun. Saat Hamun membuka matanya, ia mendapati Donghae menatapnya lekat dengan wajahnya yang masih merah.

“Setelah ini, masalahku juga akan menjadi masalahmu,” ujar Donghae. Tanpa peringatan, ia langsung mencium bibir Hamun. Setelah ia melepaskan bibir Hamun, Donghae juga mencium kening Hamun, pipi Hamun, dan bibir Hamun lagi. Terakhir, Donghae memeluk Hamun. “Aku bisa merasakan jantungmu berdetak sangat kencang,” katanya. “Dengan begini, masalahku resmi menjadi masalahmu. Seharian ini, sepanjang waktu, Kang Hamun akan memikirkanku,”

Donghae melepaskan pelukan itu. Ia tidak berani menatap Hamun. Ia hanya membisikan sesuatu di telinga Hamun. “Besok kita bertemu di gerbang kebun binatang jam 9 pagi. Aku akan mengajak Daehan. Kau harus datang. Ani, kau pasti datang. Aku dan Daehan menunggumu,” katanya lalu pergi meninggalkan Hamun.

Begitu Donghae pergi, Hamun langsung terkulai lemas di lantai. Ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak karena jantungnya berdetak terlalu kencang. Hamun memegang bibirnya. Masih sangat jelas dipikiran Hamun sensasi dan kehangatan yang ia rasakan saat bibir Donghae menciumnya dengan lembut. Benar kata Donghae, kepala Hamun terus mengulang perkataan dan perbuatan pria itu. Hamun tak mengerti, kenapa dia bisa diam tanpa perlawanan saat Donghae menciumnya atau memeluknya? Hamun tak mengerti, kenapa ia menginginkan kehangatan itu lagi?

******

Hamun mengutuki dirinya. Ia tak habis pikir kenapa jantungnya berdetak sangat kencang hanya karena ia melihat pria itu dikejauhan sana. Hamun hendak melangkah pergi namun suara anak kecil memanggilnya, “Hamun sem!” teriaknya.

Mendengar panggilan itu membuat langkah Hamun terhenti. Ia memutar tubuhnya dan melihat anak kecil itu sudah berlari ke arahnya dengan antusias. Ia merentangkan tangannya untuk meminta pelukan dari Hamun. Hamun menekuk lututnya dan menyambut Daehan dengan pelukan. “Daehani, nomu bogoshipo,” kata Hamun sambil memeluk Daehan.

“Nado,” kata Daehan yang sudah semakin besar. “Ayo sem kita jalan-jalan dengan Donghae samchon,” kata Daehan sambil menarik Hamun.

“Ha-Hai,” sapa Donghae dengan wajahnya yang sudah memerah.

“Hai,” balas Hamun tanpa berani menatap Donghae. Hamun yakin wajahnya sudah memerah saat ini.

“Itu ada jerapah, sem, samchon! Ayo kita kesana,” seru Daehan.

Seharian itu Daehan sangat senang karena ia bisa melihat banyak binatang. Ia berlari-lari sepanjang hari sampai akhirnya diujung area kebun binatang itu Daehan tertidur dalam pelukan Donghae.

“Terima kasih kau sudah mau datang. Daehan sangat senang karena kau menemaninya juga,” ujar Donghae dalam perjalan menuju pintu keluar.

“Aku juga senang bisa bertemu dengan Daehan,” kata Hamun yang berjalan di samping Donghae.

“Aigo, kalian sangat serasi. Anak kalian ini sudah berumur berapa?” tanya sepasang nenek dan kakek yang tiba-tiba muncul di samping Hamun dan Donghae.

“Bu-bujan anak ka-” Donghae dan Hamun, keduanya, berusaha menjelaskan kesalah-pahaman nenek dan kakek itu.

Nenek itu mengambil tangan Donghae yang tidak dipakai untuk menggendong Daehan, lalu ia juga mengambil tangan kanan Hamun. Nenek itu mengaitkan tangan Hamun dan Donghae. “Kau harus menggenggam tangannya erat seperti ini agar istrimu yang cantik tidak diambil orang lain,” kata nenek pada Donghae.

“Kalian harus bahagia sampai tua seperti kami ya, anak muda,” kata sang kakek. Tak lama kemudian, akhirnya kakek-nenek itu meninggalkan Donghae dan Hamun.

Jantung Hamun berdetak sangat kencang. Ia bisa merasakan kehangatan yang ia inginkan dari kemarin. Donghae pun merasakan sesak di dadanya namun ia tak ingin melepaskan tangan Hamun. “Sebenarnya, aku tak ingin melepaskan tanganmu. Tapi, terserah padamu,” ujar Donghae tanpa berani menatap Hamun. Sebagian dari dirinya sebenarnya tidak rela kalau Hamun melepaskan tangan itu, namun ia tak mau menjadi pria yang egois.

Hamun tidak menjawab namun ia mengeratkan genggaman tangannya. “Ayo kita pulang,” kata Hamun yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Donghae sambil menarik tangan pria itu.

“Hati-hati saat menyetir,” ujar Donghae pada Hamun saat mereka sudah tiba di depan mobil Hamun. Donghae menatap tangannya yang masih digenggam Hamun. “Ah, mian,” kata Hamun yang akhirnya melepaskan tangannya dari Donghae.

“Terima kasih hari ini, aku senang bertemu Daehan,” kata Hamun sambil memainkan ujung kemejanya. Hamun belum berani menatap langsung mata Donghae.

Donghae tersenyum melihat sikap malu-malu Hamun itu. Ia kira hanya dirinya yang merasa berdebar namun ternyata Hamun juga. Ia tak menyangka bisa melihat sisi Hamun yang lain hari ini. “Aku juga berterima kasih. Aku tahu lebih banyak tentang dirimu hari ini,” kata Donghae.

“Hm,” jawab Hamun.

“Hamun, lihat aku,” ujar Donghae. Saat Hamun menengadahkan kepalanya, tiba-tiba ia kembali merasakan kelembutan Donghae di bibirnya. “Bye,” pamit Donghae setelah ia mencium Hamun.

Hamun segera masuk ke dalam mobilnya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia mencengkram erat setir mobilnya. Ia juga membenturkan kepalanya ke setir itu. Namun segala sesuatu yang Hamun lakukan tidak dapat mengurangi debaran jantungnya. Semuanya itu tidak dapat  membuat Hamun berhenti memikirkan Donghae.

*****

“Hai, Lee Donghae sajangnim. Aku tak menyangka sajangnim masih bertahan disini,” ujar salah seorang dari segerombolan pria dan wanita berkemeja rapi yang berbaris di depan kasir. Donghae tertawa mendengar ucapan itu.

“Kalau hanya ingin mengejekku, kalian lebih baik pergi dari sini,” canda Donghae.

“Aku tak meyangka sajangnim mengejar gadis itu sampai rela bekerja di tempat ini,” ujar salah seorang yang lain.

“Kalian mau pesan atau tidak? Kalau tidak segera kembali ke kantor sana. Kalian mau gaji kalian bulan ini kupotong, hm?” ancam Donghae.

“Aku heran apa bagusnya perempuan itu sampai sajangnim kita berusaha keras mengejarnya,” kata yang lain.

“Kau harus mengenalnya lebih dulu baru kau tahu. Semakin aku mengenalnya, aku semakin mencintainya,” kata Donghae.

“Ah, lalu sudah sejauh apa hubungan anda sekarang dengan nona besar itu?”

“Pasti ia mau saja dengan sajangnim. Kau kan tampan dan punya banyak uang. Siapa yang tidak mau?”

“Sajangnim, kau harus berusaha membuatnya jatuh cinta padamu. Kalau dia sudah cinta mati padamu, kau bisa minta bantuannya untuk mempromosikan perusahaan kita pada link-linknya. Ia pasti punya link-link orang terkenal. Kalau tidak salah, ia juga berteman baik dengan Song Hyejin dan Park Minah, kan, sajangnim?”

“Lalu, lalu, apa ia sudah jatuh cinta padamu sajangnim?”

“Kalau pesanan kalian sudah selesai, tolong menyingkir. Kalian membuat antrian semakin panjang,” ujar sebuah suara yang Donghae kenal.

“Hamun,” gumam Donghae saat melihat gadis itu sudah berdiri di depan kasir, melewati teman-teman Donghae tadi.

“Caramel macchiato, satu,” ujar Hamun sambil melihat-lihat menu.

Donghae tersenyum. “Duduklah, nanti akan kuantarkan ke tempatmu,”

“Ani, aku bawa pulang saja. Aku tidak mood berada disini,” ujar Hamun dingin sambil menatap lekat Donghae. Donghae terdiam, merasa ada sesuatu yang aneh.

“Kau mendengar pembicaraanku tadi?” tanyanya.

“Ya. Untunglah aku mendengarnya,” kata Hamun. “Aku tidak jadi mengambil pesanan tadi,” lanjutnya. “Ah, iya,” Hamun menghadap ke salah satu pria yang merupakan teman Donghae tadi. “Aku tidak mencintai seseorang yang bernama Lee Donghae. Aku tidak akan mencintai seseorang yang hanya akan memanfaatkanku,” kata Hamun lalu ia beranjak dari situ.

Donghae langsung keluar dari wilayah pegawai untuk mengejar Hamun. Donghae menahan tangan Hamun dan menariknya pelan sehingga kini Donghae dapat memandang jelas wajah Hamun. “Kau salah paham, Hamun. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak ada keinginan untuk memanfaatkanmu,” ujar Donghae sepenuh hati dengan harapan Hamun akan mempercayainya. Hamun terdiam, ia tak tahu harus berkata apa. Hatinya ingin mempercayai perkataan Donghae namun akalnya merlarang. Kali ini, hatinya kalah.

“Kau mencintaiku, kan, Hamun? Karena itu, aku mohon percayalah padaku,” pinta Donghae.

Hamun menatap lekat mata Donghae. “Aku tidak mencintaimu. Sedikit pun,” ujar Hamun. Tepat diakhir kalimatnya itu, Donghae dapat melihat setetes air mata mengalir diujung mata Hamun. Hamun segera menepis tangan Donghae lalu ia pergi dari situ.

*****

Sebulan sudah berlalu semenjak hari menyakitkan itu. Kuliah Hamun kembali dimulai. Ia kembali menyibukan dirinya dengan pelajaran di kampus dan novelnya. Kini, Hamun lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan kampus daripada harus berada di cafe.

Hamun saat ini sedang mencari sebuah buku yang dapat menjadi referensinya untuk menulis kelanjutan novelnya. Saat ia menemukan buku itu, ia kesusahan untuk mengambilnya karena posisinya yang terlalu tinggi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengambilkan buku itu untuknya. “Terima ka-,” kata-kata Hamun terputus saat ia melihat jelas sosok yang membantunya.

“Kau harus membiasakan diri untuk minta tolong pada orang lain,” katanya.

“Meskipun kau orang terakhir yang ada di muka bumi ini, aku tidak akan minta tolong padamu,” kata Hamun. Hamun hendak pergi dari tempat itu, namun pria itu menghalangi langkahnya.

“Hamun, dengarkan aku,” katanya. Hamun terdiam. Ia mencoba untuk melewati celah yang lain, namun pria itu tetap menghalanginya. Rak buku yang berjajar membuat Hamun semakin susah untuk keluar dari tempat ini.

“Aku memutuskan untuk melupakanmu. Kau wanita yang dingin, tidak ramah, bermulut pedas, dan sering membuat hatiku sakit,” ujar Donghae.

“Baguslah kau menyadari hal itu. Sekarang biarkan aku lewat,” kata Hamun yang tidak didengarkan oleh Donghae.

“Tapi, aku mengenalmu. Kau memperlihatkan padaku dirimu yang sesungguhnya. Hamun yang selalu tersenyum. Hamun yang menyukai anak-anak. Hamun yang lembut. Hamun yang ramah. Hamun yang malu-malu. Hamun yang dapat membuat jantungku berdebar sangat kencang. Kau membuatku tidak bisa melupakanmu,” ujar Donghae lirih.

Hamun tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia mendorong Donghae ke samping dan berjalan melewatinya. “Kau mencintaiku, Hamun,” ujar Donghae yang membuat langkah Hamun terhenti. “You can deny your love by lying through words and act, but you can never deny love when you look me in the eyes. It tells me that you love me,”

Hamun memutar tubuhnya dan kembali menatap Donghae. Donghae terpaku saat melihat air mata Hamun. “Kau kira hanya kau yang merasa sakit? Apa kau tak tahu kalau aku juga tersiksa? Aku terlanjur memberikan hatiku kesempatan untuk mencintaimu. Aku tak tahu harus bagaimana saat aku mendengar ucapan temanmu. Aku tak ingin percaya kalau kau hanya memanfaatkan aku,” ujar Hamun di sela tangisnya.

Donghae menghampiri Hamun lalu menghapus air mata gadis itu. “Jangan menangis lagi, ya, Hamun,” ujar Donghae. Hamun mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat Donghae tersenyum padanya walaupun air mata Donghae juga mengalir. “Kenapa kau ikutan menangis, dasar,” ujar Hamun.

“Hamun, you’re the one i’ve been searching for. With you, my life means more. I want to love you because I need you, Hamun. And if you love me, come to me and get to know me. You will know that I want you so bad and I love you so much,”

*****

“Hai, sayang,” sapa Donghae pada Hamun yang sudah menunggu di lobby perusahaan pria itu. Donghae langsung menggenggam tangan Hamun dan mengajaknya pergi.

“Jangan menggenggamku saat banyak pegawaimu melihat,” bisik Hamun yang merasa ia dan kekasihnya itu menjadi pusat perhatian orang-orang di perusahaan itu.

Donghae hanya tersenyum mendengar itu. Ia justru mencium pipi Hamun tiba-tiba. “Yaa, Lee Donghae!” bisik Hamun kesal sedangkan pria itu hanya tertawa.

“Bagaimana kabar noona-noona dan pasangannya masing-masing?” tanya Donghae. Hari ini mereka memutuskan untuk makan siang di Coffee Café. Mereka berjalan kaki menuju tempat itu.

“Mereka bilang padamu untuk sering-sering main kesana meskipun aku sudah menjadi pacarmu sekarang. Mereka bilang, kau harus ingat kalau mereka yang membantumu dulu,” kata Hamun.

“Astaga, mereka cuma satu kali membantuku. Mereka hanya memberitahuku dimana kau berada saat kau tidak pernah ke café lagi,” jelas Donghae yang membuat Hamun tertawa. “Aku jadi tidak ingin kesana,” ujar Donghae yang segera di tahan oleh Hamun.

“You can’t. I don’t wanna be alone,” kata Hamun lirih dengan wajahnya yang sedih.

Donghae menghentikan langkahnya sambil menatap wajah Hamun lalu mencium bibir gadis itu singkat. “Aku semakin tidak ingin ke café hari ini,” kata Donghae.

“Waeyo?” tanya Hamun bingung.

“Because I just wanna be with you right now, Hamun,” bisiknya.

*****

END.
Thank you so much for reading ^^

I know it from beginning, my samchon in love with Hamun sem! – Song Daehan
I will try my best to help you, samchon! – Song Daehan (before they went to zoo)
Good job, Donghae Samchon! – Song Daehan