Hope you like it! Enjoy reading!🙂

This place is the beginning and the end of the stories.
This’s where things are really happening.

Tempat ini menjadi saksi kisah mereka. Dimulai dengan kesungguhan, perjuangan, kesalahpahaman, sampai akhirnya mereka menemukan akhir yang bahagia. Siapa sangka suatu tempat yang awalnya mereka datangi hanya karena penasaran, kini menjadi tempat yang begitu berarti. Disini mereka menemukan cinta dan merasakannya. Disini mereka menemukan kebahagiaan. Disini menjadi awal dan akhir bagi mereka.

*****

Eric memukul pelan gelas winenya dengan garpu untuk mendapatkan perhatian dari pria dan wanita yang duduk bersama di lingkaran meja ini. Setelah semua menatapnya, Eric bangkit berdiri. “Naneun, Eric,” katanya. Ia berhenti sesaat untuk menatap Minah yang duduk disampingnya. Setelah Minah tersenyum padanya, Eric melanjutkan kalimatnya.

“Hari ini tepat setahun cafeku dibuka. Aku senang karena cafe ini sangat laris, jauh diluar ekpektasiku. Akan tetapi, hal yang paling membuatku bersyukur adalah aku dapat bertemu dengan Minah disini. Aku bisa merasakan cinta darinya. Karena tempat ini, dan karena Minah juga, aku bisa bertemu dengan kalian. Patissierku yang handal, ketiga butlerku yang paling digemari oleh pelanggan, sahabat Minah yang kini menjadi sahabatku, kalian sudah menjadi sosok yang berharga untukku,”

Eric mengangkat gelas wine-nya tadi. “Hari ini, aku juga ingin menyampaikan beberapa hal,” katanya. Eric memandang Henry dan Hyunah yang duduk bersebelahan. “Pertama, terima kasih pada Hyunah dan Henry yang sudah menyiapkan makanan dan dessert untuk acara kita malam ini.” Kyuhyun, Hyejin, Minah, Woobin, Jihyo, Hamun, dan Donghae bertepuk tangan untuk mereka.

“Kedua, selamat untuk Donghae yang akhirnya bertunangan dengan Hamun,” seru Eric yang disambut tepuk tangan oleh yang lainnya. Donghae tersenyum bahagia sambil memamerkan cicin di jari manisnya. Ia bahkan memaksa Hamun untuk memamerkan cicin yang ada ditangannya. Hamun hanya bisa menggelengkan kepala dan melakukan apa yang kekasihnya minta.

“Ketiga, selamat untuk Woobin atas debut internasionalnya! Selamat juga untuk Jihyo yang akhirnya mendapat kenaikan pangkat menjadi kepala divisi bagian Entertainment!” seru Eric. Semuanya memberikan selamat pada Jihyo dan Woobin.

“Keempat, selamat untuk Kyuhyun yang akhirnya berhasil membuat Hyejin menerima lamarannya! Setelah sekian lama mencoba, akhirnya nona satu ini luluh juga,” ujar Eric sambil tertawa terbahak-bahak.

“Well, memang tidak ada yang sanggup melawan pesonaku,” kata Kyuhyun yang langsung mencium Hyejin.

“Ya, ya, ya, hentikan. Kau hanya boleh mencium Hyejin setelah aku mencium Minah. Kau memang bos di perusahaanmu, tapi disini aku bosnya. Arraseo?” gerutu Eric yang membuat Minah tertawa terbahak-bahak.

“Untuk semua kebahagiaan yang telah kita capai dan untuk kebahagiaan selanjutnya.”

Semua orang sudah mengangkat gelas wine mereka. “Cheers!”

*****

“Mworago?! Kalian benar-benar mau keluar dari café?! Yaa! Baru 15 menit yang lalu aku bilang kalian adalah butlerku yang berharga namun kalian sudah mengkhianatiku!” seru Eric pada ketiga pria yang ada di hadapannya.

Minah yang ada disampingnya berusaha untuk menengkan Eric dengan mengelus-elus pundak pria itu. “Sabar sayang, pasti ada jalan keluar,”

Eric tiba-tiba memandang Henry tajam. “Kau juga mau keluar?!” tanyanya.

Henry tersenyum ragu. “A-aku berencana ke Paris untuk melanjutkan sekolah. Ta-tapi masih dua bulan lagi. A-aku akan membantumu mencari penggantiku. Ja-jangan khawatir, setelah pulang dari Paris nanti aku akan kembali bekerja disini untuk membantumu. Aku pasti menjadi patissier yang lebih handal setelah pulang dari Paris,” kata Henry yang membuat Eric terpuruk.

“Mianhe, Eric oppa. Aku yang menganjurkan Henry untuk belajar disana. Itu untuk masa depannya,” ujar Hyunah sambil menggenggam tangan Henry.

Ia memeluk Minah dengan suara rauangan tangis yang kelihatan sekali dibuat-buat. “Mereka tega padaku Minah! Tega! Bagaimana cafeku kalau mereka semua tidak ada?!” raungnya. Melihat itu membuat yang lain ingin ketawa namun mereka tahan sekuat tenaga.

“Mianhe, mau bagaimana lagi, hyung. Setelah ini aku akan lebih sering di Amerika daripada di Korea,” ujar Woobin.

“Ne, oppa. Tolong maafkan Woobinku,” kata Jihyo.

“Aku juga harus menyiapkan pernikahanku dengan Hyejin. Tidak mungkin aku membiarkannya menyiapkan semua itu sendiri,” ujar Kyuhyun membuat pembelaan.

“Aku tidak mau menyiapkan semua itu sendiri,” kata Hyejin.

“Eric hyung, mianhe, aku ingin fokus dengan perusahaanku. Tapi, aku janji jika ada waktu, aku akan membantumu walaupun mungkin akan sangat jarang,” ujar Donghae penuh rasa bersalah. Donghae menatap Hamun. Berharap gadis itu membantunya untuk menguatkan alasan yang Donghae bilang tadi, namun Hamun hanya tersenyum seakan berkata, ‘itu masalahmu’

Eric melepas pelukannya. “Kalian harus mencari pengganti kalian! Yang tampangnya setampan kalian! Pokoknya mereka harus punya prospek yang bagus seperti kalian! Aku tidak mau tahu! Besok kalian sudah harus memperkenalkan mereka padaku!” seru Eric sambil menatap Kyuhyun, Donghae, Woobin, dan Henry bergantian.

“Besok? Tidak mungkin, hyung,” rengek Woobin dan Henry.

“Yaa, Hyung, kenapa kau seenaknya sekali, sih!” omel Kyuhyun.

“Hyung, jangan besok ya, please!” pinta Donghae.

“Aku tidak mau tahu!” seru Eric.

“Jangan khawatir, besok novel terbaruku akan rilis,” ujar Hamun tiba-tiba yang membuat Hamun menjadi pusat perhatian sekarang.

“Kenapa kau tidak bilang sama kami?!” tanya mereka semua bersamaan.

“Aku tak mau mendengar Jihyo onnie memohon-mohon padaku untuk menerima interview dari kantor Jihyo onnie,” ujar Hamun sambil menatap Jihyo yang sudah tampak sangat bersemangat.

“Yaa, Kang Hamun, ini sudah waktunya kau menampakan diri! Novelmu sudah laris dan kau sudah terkenal sebagai penulis best seller!” seru Jihyo.

“Lalu apa hubungannya perilisan novelmu dengan cafeku, Hamun?” tanya Eric tak mengerti.

“Well, inti cerita itu terinspirasi oleh kisah kalian masing-masing di café ini, onniedul-oppadeul,” ujar Hamun,

“Mwo??!”

“Tenang saja, aku mengganti nama kalian. Aku juga tidak menggunakan nama café ini, akan tetapi aku mendeskripsikannya seperti cafe oppa ini. Kisah yang ada di novel hanya 30% yang mirip dengan kehidupan kita,” kata Hamun.

“Cerita tentang kita juga ada?” tanya Donghae pada wanita yang sangat ia cintai itu. Hamun mengangguk.

“Lalu, kalau di novel itu tidak menyebutkan nama cafeku ini, bagaimana mereka akan tertarik untuk kesini?” tanya Eric lagi.

“Seperti kata Jihyo onnie, sudah saatnya aku menampakan diri. Aku akan melakukan interview dengan onnie,” ujar Hamun sambil tersenyum pada Jihyo.

*****

“Annyeonghaseyo, namaku Kang Hamun. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku memutuskan untuk menampakan diri. Aku ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena kalian sudah membeli novel terbaruku. Banyak pembaca yang bertanya pada editorku, ‘Apakah café seperti yang aku deskripsikan di novel ada di dunia nyata?’ Jawabannya, ada. Jujur saja, aku menulis sebagian novel ini di café yang sering aku kunjungi. Aku mendapat banyak inspirasi disana. Aku ingin merekomendasikan café itu pada kalian namun aku dilarang untuk melakukan promosi pada interview kali ini. Jadi, aku akan memberi tahukan kalian di kesempatan lain. Terima kasih banyak sudah mendukungku selama ini,”

Jihyo langsung memeluk Hamun setelah Hamun selesai melakukan interview ekslusif itu. “Sekarang giliran Woobin oppa,” ujar Hamun yang membuat Jihyo tertawa.

Kim Woobin Instagram update (12.47 am).

woobin89: During break time, I’m secretly reading Kang Hamun’s novel. Aku tak sabar menghabiskan novel ini! Aku tak menyangka penulis novel ini adalah seorang wanita yang masih sangat muda. Saat membaca novel ini, aku jadi mengingat kembali saat-saat aku pernah bekerja di café dulu. Sangat menyenangkan! Aku harap kalian juga segera membaca novel ini! Ah, Kang Hamun ssi, apa aku boleh tahu apa nama cafe yang mirip seperti cafe dinovelmu? @khamun

Kang Hamun Instagram update (22.56 pm).

khamun: @woobin89 Terima kasih sudah membaca novelku! Aku selalu datang kesini saat menulis novelku itu. Aku merekomendasikan café ini pada kalian semua, The Coffee Café. Disini aku menemukan banyak hal. Creativity, friend, and love. Aku harap kalian semua juga menemukannya🙂

*****

“Hamun onnie, apa aku boleh meminta tanda tanganmu?” tanya beberapa gadis remaja yang entah bagaimana bisa menyadari keberadaan Hamun. Hamun tersenyum lalu memberikan tanda tangannya di novel milik gadis-gadis itu.

“Hai,” sapa Donghae karena ia merasa gadis-gadis itu memandangnya.

“O-onnie, apa dia ‘love’ yang kau maksud di Instagram kemarin?” tanya salah satu dari mereka. Hamun tersenyum lalu mengangguk.

“Wah, he’s so handsome! Sangat cocok dengan onnie!” ujar mereka yang membuat Hamun tersenyum. “Tolong jangan beritahu yang lain aku disini ya,” ujar Hamun lembut yang tentu saja dituruti oleh gadis-gadis itu.

Setelah gadis-gadis itu pergi, Donghae tersenyum melihat Hamun. “Kau tidak akan pernah sendirian  sekarang,” katanya.

Hamun menghela nafas. “Aku ingin hidupku yang tenang seperti dulu. Aku hanya butuh kau, onniedul, dan oppadeul, untuk menemaniku,” katanya. “Tapi, aku senang melihat Eric oppa tersenyum bahagia seperti itu,” lanjutnya.

“Tentu saja ia sangat bahagia kalau cafenya sangat ramai seperti ini. Aku sendiri tidak menyangka akan seramai ini,” ujar Kyuhyun pada Hyejin, Donghae, Hamun, Woobin, dan Jihyo.

“Mianhe, aku juga tak menyangka akan semembeludak ini. Sampai akhirnya Woobin oppa harus menyamar seperti ini,” ujar Hamun yang membuat onniedul dan oppadeulnya tertawa.

“Aku tidak masalah. Kurasa penyamaranku berhasil. Mereka tadi tidak menyadari aku disini,” ujar Woobin bangga.

“Ngomong-ngomong, Hyunah dan Henry dimana?” tanya Donghae.

“Mereka sudah datang tadi, namun Eric langsung menarik mereka berdua ke dapur untuk membantu,” kata Hyejin.

Hamun menghela nafas, “Aku akan minta maaf pada merek nanti,” katanya.

“Minah onnie?” tanya Jihyo.

“Membantu di kasir,” jawab Woobin. Hamun menatap ke sekeliling cafe

“Lalu bagaimana persiapa pernikahan kalian?” tanya Jihyo pada Kyuhyun dan Hyejin.

“Kami memajukan pelaksanaan pernikahan kami. 2 minggu lagi kami menikah,” kata Hyejin bahagia sambil menggandeng tangan Kyuhyun.

“Kenapa jadi cepat sekali?” tanya Woobin.

Kyuhyun tersenyum pada mereka lalu mendekatkan telinganya ke perut Hyejin. “Kurasa aku mendengar sesuatu,” ujar Kyuhyun pada Hyejin.

“Jeongmalyo?” tanya Hyejin antusias.

“O-onnie- ka-kau,” Hamun tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Ne, sudah 3 bulan. Jika anak ini laki-laki, akan kuberi nama Cho Kihyun,” ujar Hyejin bahagia.

“Siapkan uang yang banyak untuk anakku, ya. Aku akan merepotkan kalian nanti,” ujar Kyuhyun dengan tawa bahagia.

*****

Kkeut!

Thank you for reading🙂