image

Hyejin baru saja menutup pintu apartemennya ketika nama dan wajah Donghae yang paling tampan di galeri fotonya muncul besar-besaran di layar ponsel pintar gadis itu. Hyejin agak kesusahan untuk mengangkat panggilan itu karena tangan kanan dan kirinya penuh belanjaan pelipur lara hatinya.

Kau sudah pulang? Tanya Donghae.

Hyejin menjawab, “Aku bahkan baru menginjakkan kaki di apartemenku. Tidak bisakah kau menelepon 5 menit lagi? Aku belum menaruh belanjaanku tahu.”

Donghae tertawa keras. “Sudah puas belanjanya?”

“Belum tapi aku sudah tidak punya uang lagi,” jawab Hyejin dengan polosnya membuat tawa Donghae semakin keras, memancing teriakan kesal Hyejin untuk keluar, “YAA LEE DONGHAE! Temanmu ini sedang bersedih tapi kau malah tertawa sebahagia itu. Menyebalkan! Awas kau!”

“Hei, aku hanya mengkhawatirkanmu, makanya aku menelponmu,” ujar Donghae dengan nada lembut. “Kau baik-baik saja kan?”

“Aku baik-baik saja. Aku tidak akan mati,” kata Hyejin dengan helaan nafas panjang. “Paling tidak sampai belanjaanku ini habis aku pakai.”

Donghae tersenyum meskipun Hyejin tidak dapat melihatnya. “Sebetulnya, apapun yang terjadi kau tidak boleh mati. Sudah kubilang kau terlalu berharga kan?” kata Donghae yang sudah akan didebat oleh Hyejin namun segera dihentikan oleh Donghae sebelum pembicaraan mereka semakin panjang. “Hamun akan menginap di tempatmu. Sebentar lagi ia akan datang. Pastikan gadis kecilku tidak kelaparan. Arraseo?”

Kening Hyejin berkerut, menerka-nerka maksud Hamun menginap di apartemennya. Bukan karena Hamun tidak pernah menginap di tempat Hyejin, sering malah. Hanya saja pada saat liburan bukan saat dengan jadwal kuliahnya yang padat merayap. “Buat apa dia menginap di tempatku?” Tanya Hyejin curiga.

“Tidak boleh?” tanya Donghae.

“Bukan itu maksudku. Sejak kapan aku melarang Hamun menginap di apartemenku? Aku hanya ingin tahu motif Hamun menginap di tempatku padahal jadwal kuliahnya masih padat. Katakan padaku. Jangan berbohong.”

“Aku tidak akan berbohong padamu. Aku mengirim Hamun untuk memastikan tidak akan terjadi sesuatu yang mengancam jiwamu. Aku harus yakin kau tidak akan bunuh diri.”

“Kau tidak percaya padaku, Lee Donghae?” Nada suara Hyejin agak menajam.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu, Song Hyejin-ku tersayang. Berapa kali harus aku bilang padamu? Lagipula kau kan jadi tidak sendirian di apartemenmu kan? Kau punya teman cerita, makan dan nonton televisi bersama,” kata Donghae masih dengan lembut agar Hyejin kembali lembut.

“Makan dan nonton bersama tapi aku hanya bisa bercerita denganmu. Kau tahu itu kan?”

“Aku tahu tapi aku tidak bisa menginap di tempatmu sekarang. Jadi, tunggu Hamun sebentar ya. Katanya taksinya baru masuk ke gerbang masuk. Okay? Maaf tidak bisa menemanimu. Aku masih banyak pekerjaan. Annyeong!”

“Sampai jumpa, Donghae-ya. Terima kasih banyak,” ucap Hyejin sungguh-sungguh atas kebaikan sahabatnya yang entah kapan bisa dibalasnya.

—–

Donghae menutup teleponnya lalu berpaling pada gadis yang sedang duduk di sebelahnya dengan tenang. “Hyejin eonni-mu sedang depresi. Jangan terkecoh dengan senyum atau tawanya. Aku mohon pastikan dia baik-baik saja. Aku mau mengurus si brengsek Cho Kyuhyun dulu. Aku bisa percaya padamu kan, sayang?” Tanya Donghae dengan tatapan penuh cinta sekaligus harapan kepada gadisnya.

Hamun tersenyum. Tangannya mengelus pipi Donghae dengan lembut. “Percayakan Hyejin eonni padaku. Aku akan menjaganya dengan baik. Oppa fokus saja pada Kyuhyun Oppa. Mengingat perbuatannya pada Hyejin onnie, aku jadi malas memanggilnya ‘oppa'” katanya sambil menghela nafas panjang.

Donghae tersenyum lalu mengelus kepala Hamun. “Ia masih suami Hyejin eonni-mu jadi, yah, kau masih harus memanggilnya ‘oppa’,” katanya.

“Baiklah. Aku naik dulu ke apartemen Hyejin eonni. Oppa jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan dan istirahat. Bekerja itu penting tapi jangan sampai terlalu lelah ya, Oppa. Ingat pesanku.”

Donghae menganggukkan kepalanya, memahami dengan baik semua pesan Hamun. Ia lalu mengecup kening Hamun sebelum melepaskan gadisnya. “Jangan bilang Hyejin kalau aku mau mengurus Kyuhyun. Bilang saja aku sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa lagi kau ketahui saking banyaknya,” kata Donghae.

“Arraseo, Oppa sayang. Fighting!”

Donghae mengecup kening Hamun sekali lagi. “Aku mencintaimu.”

“Nado saranghae,” balas Hamun.

Hamun pun keluar dari mobil Donghae dengan sekoper besar perlengkapannya untuk menginap di tempat Hyejin. Satu koper besar yang 70 persen isinya adalah buku-buku kuliahnya. Soal pakaian, seperempat lemari Hyejin sudah terisi pakaian Hamun. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Maaf tidak bisa membantu,” seru Donghae melihat gadisnya yang bersusah payah menarik kopernya yang besar dan berat itu. Hamun melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke apartemen Hyejin.

Donghae menyusul keluar dari mobil 15 menit kemudian namun bukan untuk mendatangi apartemen Hyejin melainkan apartemen yang terletak 7 tingkat di atas apartemen Hyejin. Apartemen pria yang harus segera ia urus.

—–

Cho Kyuhyun
Aku sudah pulang, hyung. Waeyo?

Lee Donghae
Ada yang harus kita bicarakan tentang proyek hotel di Gangnam.

Cho Kyuhyun
OK.

Donghae menaiki lift khusus menuju apartemen Kyuhyun dan menunggu pemilik apartemen itu membuka pintu di depannya. “Annyeonghaseyo,” sapa pria di depan Donghae. Melihat wajah pria itu membuat Donghae ingin menononjoknya berulang kali sampai memar namun harus ia tahan agar tidak memancing keributan. “Silahkan masuk, hyung,” kata Kyuhyun dengan sopan.

Donghae pun masuk ke dalam apartemen Kyuhyun dengan seperangkat sketsa dan peralatan arsiteknya. Bukan. Donghae bukan seorang arsitek. Donghae tidak memiliki bakat gambar-menggambar. Ia hanya seorang kontraktor sipil sesuai dengan gelarnya sebagai Master of Civil Engineering. Peralatan arsiteknya digunakan hanya untuk merevisi sedikit-sedikit gambar arsiteknya. Kyuhyun yang seorang arsitek. Kyuhyun yang menggambar, Donghae yang membangun.

Donghae duduk di ruang tamu Kyuhyun yang bersih dan rapi. Satu set sofa coklat muda terletak di tengah ruangan dengan televisi besar menghadap ke sofa utama yang paling panjang. Tanpa basa-basi Donghae menggelar sketsa gambar Kyuhyun di atas meja tamunya. “Kau tahu aku masih harus ke proyek untuk mengawasi pekerjaan jadi aku langsung saja,” kata Donghae. Matanya menatap tajam kepada Kyuhyun, mengabaikan sketsa di meja. “Kenapa kau ingin bercerai dengan Hyejin?”

“Hyung…” Kyuhyun ingin mengelak dari pertanyaan ini apalagi jika sudah Donghae yang menanyakannya. Berurusan dengan Donghae jauh lebih rumit daripada berurusan dengan Hyejin sendiri.

“Aku tahu kau tidak pernah mencintainya. Lalu, kenapa kau mau menikah dengannya? Kenapa kau bisa bertahan satu setengah tahun jika kau tidak mencintainya?” Nada Donghae membuat Kyuhyun agak terpojok.

“Hyung….” Kyuhyun enggan membahas masalah ini namun ia tahu ia tidak dapat mengelak dari Donghae. Setiap hari ia akan bertemu dengan Donghae, yang membuat pria yang 2 tahun lebih tua darinya itu dapat menanyakan pertanyaan yang sama setiap hari dan Kyuhyun tidak punya pilihan selain menjawabnya.

“Kau tahu aku menikah dengan Hyejin karena kecelakaan. Kami tidak sengaja tidur bersama sewaktu kami mabuk di acara reuni itu,” kata Kyuhyun. Donghae mendelik kepada Kyuhyun memaksa Kyuhyun meralat ucapannya. “Aku menidurinya. Aku sedang frustasi berat karena desain maestro-ku runtuh ketika dibangun. Bukan kesalahanku tapi aku mendapat nama tidak baik,” ralat Kyuhyun.

“Itu bukan alasan, Kyu,” ujar Donghae.

Kyuhyun menatap kosong pada lembar sketsa di depannya. “Aku tahu. Aku merasa sangat bersalah pada Hyejin. Karena itu aku memutuskan untuk bertanggung jawab. Aku menikahinya sekaligus berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang terjadi pada Hyejin,” lanjut Kyuhyun.

“Hamil maksudmu?” Tanya Donghae. Kyuhyun pun mengangguk.

“Kau tahu betapa marahnya Victoria padaku waktu itu? Dia merasa terluka, terkhianati dan ia tidak dapat memaafkanku. Aku merasa sangat bodoh. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Victoria meninggalkanku, karirku terganggu dan hanya Hyejin yang ada saat itu. Aku pikir dengan menikahi Hyejin, wanita yang tidak aku cintai, bisa menghukum diriku sendiri, bisa belajar untuk lebih bertanggung jawab, lebih berhati-hati.” Kyuhyun menarik nafas setelah bicara panjang lebar. “Namun tidak pernah terjadi sesuatu antara kami. Tidak ada cinta, tidak ada anak, tidak ada apapun.”

“Kau tahu Hyejin jatuh cinta padamu kan?”

Kyuhyun hanya diam. Ia melanjutkan ocehannya, “Lalu Victoria kembali. Ia berkata kalau ia sudah melupakan semuanya, ia memaafkanku. Victoria mencintaiku masih mencintaiku dan aku masih sangat mencintainya…”

“Hyejin mencintaimu melebihi apapun,” potong Donghae.

“Tapi ia tidak bahagia bersamaku. Ia tidak akan pernah bahagia dengan pria yang tidak akan pernah mencintainya,” ujar Kyuhyun. “Hyung, aku mohon tolong pahami aku. Aku juga menderita dalam pernikahan ini.”

Donghae membanting punggungnya ke sofa, melipat kedua tangannya di depan dada. “Coba pahami Hyejin juga. Ia jauh lebih menderita dibanding siapapun. Penderitaan kau dan Victoria tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan Hyejin,” kata Donghae.

Kyuhyun kembali terdiam. Ia tahu Hyejin hanya memiliki dirinya saat ini, jika Donghae dikeluarkan dari lingkaran yang bernama keluarga. Kedua orang tua Hyejin sudah tidak ada sedangkan oppa-nya pergi meninggalkan Hyejin begitu saja dan tidak pernah ada kabar sampai saat ini.

Donghae mendengus pelan. “Kau tahu Hyejin bisa mati tanpamu. Kalau ada sesuatu terjadi padanya, aku bersumpah akan mengejarmu sampai ke ujung dunia. Ingat perkataanku dengan baik,” ujar Donghae serius.

Kyuhyun menatap Donghae ngeri. Mata yang biasa memancarkan kelembutan dan kepolosan itu, kini menatapnya lekat seakan memperingatkannya untuk berhati-hati.

“Gambarmu ada revisi sedikit. Tolong diperbaiki agar proyekku bisa berjalan lancar,” lanjut Donghae menunjuk sketsa yang terbengkalai di atas meja. “Kalau bisa besok pagi sudah bisa kita aplikasikan.”

Tanpa pamit, Donghae keluar dari apartemen Kyuhyun. Meninggalkan sketsa gedungnya bersama penggambar aslinya.

—–

Hamun dan Hyejin sudah bergelung di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuh mereka sampai sebatas leher. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Hamun dengan presentasi kuliahnya sedangkan Hyejin dengan website tiket-tiket pesawat murah. “Hamun-ah, temani aku ke Hongkong yuk bulan depan,” kata Hyejin melihat tiket pesawat promo yang ditawarkan penerbangan favoritnya.

“Aku ada ujian bulan depan, eonni. Mianhe,” sahut Hamun penuh penyesalan. Ia memang harus ujian sebulan penuh untuk mendapatkan dual degreenya sebagai sarjana psikologi sekaligus sarjana hubungan internasionalnya.

Hyejin memanyunkan bibirnya dengan kesal dan Hamun merasa bersalah karena tidak bisa menemani Hyejin. “Mianhe, onnie. Ajak Donghae Oppa saja. Bagaimana?” usul Hamun.

Hyejin menolak mentah-mentah ide Hamun. “Kalau aku pergi dengan Donghae yang ada aku tidak akan berhenti bercerita dan menangis. Aku mengajakmu karena aku kan mau bersenang-senang,” kata Hyejin.

“Eonni… Mianhe…. Aku akan menyiapkan waktu khusus untukmu setelah aku lulus nanti. Ya?”

Hyejin tertawa ringan. “Gwencana, aku akan menyibukkan diri dengan pekerjaanku kalau begitu. Memangnya, kau kapan akan lulus? Kapan akan menikah dengan Donghae?”

Hamun akhirnya melepaskan perhatiannya dari bahan kuliahnya dan menggantikannya dengan menatap Hyejin. “Aku tidak akan menikah dengan Donghae Oppa. Menikah tidak ada dalam list-ku dalam waktu dekat,” kata Hamun.

Hyejin menepuk-nepuk kepala Hamun dengan lembut seperti seorang kakak kepada adiknya. “Menikah itu menggenapkan kebahagiaan, Hamun-ah. Aku menikah juga untuk menggenapkan kebahagiaan tapi kasusku agak berbeda. Jangan pernah melihat pernikahanku sebagai contoh,” ujar Hyejin.

Hamun menggelengkan kepalanya. “Aku mencintai Donghae Oppa tapi aku memang tidak pernah berniat menikah saat ini. Aku masih ingin kuliah master dan doktor. Aku masih ingin mengejar cita-citaku sebagai diplomat,” sahut Hamun jujur.

“Hamun, tidak selamanya hal-hal seperti itu membahagiakan. Sebaiknya kau berpikir berulang kali sebelum mengatakan itu. Donghae adalah pria yang baik. Aku mohon jangan menyia-nyiakannya. Jangan sampai menyesal,” pesan Hyejin dan hanya membuat Hamun tersenyum.

“Baiklah, aku akan memikirkannya. Eonni senang?

Hm, aku senang mendengarnya, kata Hyejin sambil tersenyum.

Sekarang tidurlah, Eonni. Jangan terlalu banyak berpikir. Kau sudah terlalu lelah.” Hamun menepuk-nepuk punggung Hyejin seakan sedang meninabobokan wanita yang lebih tua 4 tahun darinya itu.

“Baiklah. Aku tidur duluan ya, Hamun. Jalja.”

“Jalja, eonni sayang,” ucap Hamun.

Sambil menemani Hyejin tidur, Hamun menyibukkan diri dengan diktat-diktat kuliahnya dan tentu saja dengan Donghae Oppa kesayangannya.

Lee Donghae
Bagaimana keadaan Hyejin?

Kang Hamun
Baik-baik saja. Dia sudah tidur nyenyak. Bagaimana urusan dengan Kyuhyun?

Kang Hamun
Apa Oppa sudah pulang?

Lee Donghae
Aku sedang mengawasi proyek. Aku benar-benar ingin menonjok Kyuhyun tadi, untung bisa kutahan.

Lee Donghae
Kau belum tidur, sayang?

Kang Hamun
Sebentar lagi. Aku masih belajar. Oppa, hati-hati ya di proyek. Jaga kesehatan.

Kang Hamun
Aku mencintaimu. Sangat.

Lee Donghae
I love you too. Neomu neomu neomu!

—-

Kyuhyun sedang memperbaiki gambar gedung seperti yang diminta oleh Donghae. Meskipun malam sudah semakin larut namun Kyuhyun harus bertahan agar dapat menyerahkannya kembali kepada Donghae besok pagi. Ada sedikit sudut gedung yang tidak cukup jika diaplikasikan di lapangan sehingga Kyuhyun harus mengecilkannya sedikit.

Saat Kyuhyun sedang menggambar, seseorang datang mengagetkannya. “Song Qian, jangan mengagetkanku lagi seperti itu,” kata Kyuhyun namun sambil tersenyum melihat wanita yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Tangannya dengan cepat memeluk Victoria. “Aku merindukanmu,” ucap Kyuhyun kepada wanita yang memiliki akses bebas keluar masuk apartemennya yang bahkan tidak dimiliki Hyejin sebagai istrinya.

“Aku juga,” sahut Victoria dengan senyuman lebar. Victoria membelai pipi Kyuhyun lalu menciumnya. “Aku membawakan makanan untukmu. Aku akan menyiapkannya sebentar.”

Kyuhyun melepaskan Victoria dan membiarkan wanita itu menjajah dapur sedangkan dirinya menyelesaikan pekerjaan di depannya.

Bel apartemennya kembali berbunyi tidak lama kemudian. Mau tidak mau Kyuhyun kembali bangkit berdiri dari kursinya, meninggalkan sketsanya untuk membukakan pintu apartemennya. “Hyejin?” Mata Kyuhyun membelalak melihat istrinya yang hidup terpisah 7 lantai, tiba-tiba muncul di depan matanya. “Mau apa kau ke tempatku?”

Hyejin tersenyum. “Boleh aku masuk?”

Kyuhyun tidak menjawab. Justru suara lain yang muncul. “Siapa yang datang, sayang?” Hyejin mendengar jelas suara Victoria dan hanya sebuah senyum kecut menyakitkan yang bisa ia lemparkan kepada Kyuhyun melihat Victoria berada di dalam apartemen suaminya.

“Aku tidak akan lama. Eommonim tiba-tiba menelepon dan ia ingin bicara denganmu. Aku bilang kau sedang di kamar mandi. Sebentar lagi ia akan menelepon.” Katanya sambil memberikan ponselnya pada Kyuhyun. Orang tua Kyuhyun tidak pernah tahu bahwa anaknya hidup terpisah dari istrinya.

Victoria datang mendekat dan tersenyum kepada Hyejin. “Hai, Hye. Lama tidak bertemu,” sapa Victoria seramah mungkin yang berusaha tidak dimasukkan Hyejin sedikitpun ke dalam pikirannya.

“Hai,” sahut Hyejin singkat seadanya. Ia berusaha mengabaikan keberadaan Victoria. Kalau saja ia bisa melempar gadis itu keluar dari apartemen Kyuhyun, ia pasti sudah melakukannya. Untung telepon nyonya Cho menyelamatkannya dari pikiran-pikiran untuk berbuat gila.

“Kyuhyun-ah!!!!” Suara nyonya Cho yang nyaring terdengar meskipun Kyuhyun tidak memasang mode speaker pada ponsel Hyejin.

Victoria masih tersenyum pada Hyejin sedangkan Hyejin hanya memperhatikan Kyuhyun dan ponselnya. Hyejin berusaha keras memfokuskan pikirannya untuk menganggap Victoria tidak ada di antara mereka saat ini. Hanya ada Kyuhyun, dirinya dan ibu mertua yang sedang bicara di ponselnya. Tapi sudah pasti gagal.

“Sudah selesai?” Tanya Hyejin ketika Kyuhyun mengembalikan ponselnya.

“Eomma mau bicara denganmu. Bulan depan ia akan ke sini. Siap-siaplah,” kata Kyuhyun dan meninggalkan wanita itu begitu saja tanpa memikirkan perasaannya. Kyuhyun menggandeng Victoria kembali ke dapur.

Hyejin mengambil ponselnya. Dengan mata nanar, ia menatap punggung Kyuhyun. “Tuhan, kuatkan aku,” bisik Hyejin kepada dirinya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Hyejin keluar dari apartemen Kyuhyun, menarik nafas panjang lalu mendekatkan ponselnya ke telinga. “Eommonim, apa kabar?” Sapa Hyejin dengan ceria kepada ibu mertuanya.

Hyejin hanya bisa berharap suara sengaunya tidak disadari oleh nyonya Cho, meskipun nafasnya yang tersengal-sengal jelas sekali mengganggu. Air matanya baru bisa mengalir deras ketika nyonya Cho menutup teleponnya.

Hyejin duduk meringkuk di dalam lift, mengetikkan pesan kepada sahabatnya dengan pandangan yang sudah tertutup genangan air.

Song Hyejin
X

X memiliki arti yang khusus untuk Donghae dan Hyejin. X memiliki arti tolong aku.

—–

To be continued
Author harus kerjaaaaa….

xoxo @gyumontic