tumblr_nflfheGfeh1qckmvno5_1280
“I didn’t realize that, form beginning, you already melted my frozen heart” – Eric to Minah.

Seperti pagi yang Minah jalani tiap harinya, hari ini pukul 07.00, Minah sudah berada di perpustakaan sekolahnya. Belum ada siapa pun di tempat ini selain satu orang. Seseorang yang menjadi alasan Minah untuk berdandan sejak pagi-pagi buta dan datang ke sekolah lebih pagi dibanding siswa manapun.

“Hai, oppa,” sapa Minah pada pria yang ada di lorong buku-buku Kimia. Pria itu duduk di lantai, bersandar di rak buku, dan saat ini sedang membaca buku.

“Hai,” balas pria itu. “Kita di sekolah, panggil aku ‘sem’,” lanjutnya sembari ia mengalihkan pandangannya dari Minah.

Minah duduk di sebelah pria itu. “Mianhe, tapi tidak ada siapa-siapa kok, oppa,” kata Minah.

“Hm,” respon pria itu sebagai tanda ia tetap mendengarkan perkataan Minah walaupun matanya tertuju pada buku yang ia baca.

“Kau baca apa, Eric oppa?” tanya Minah lagi. Eric tidak menjawab. Ia mengangkat bukunya dan menunjukan sampul buku itu pada Minah.

“The God Particle? Semenyenangkan itu membacanya? Dasar maniak kimia,” kata Minah.

“Hm,”

Minah menatap Eric dengan kesal. “Kau menyebalkan, Eric-ssi,” kata Minah yang akhirnya membuatnya diperhatikan Eric. “Aku sudah berdandan dari jam 5 tadi dan aku ke sekolah cepat-cepat hanya untuk bisa menghabiskan waktu denganmu, walaupun sebentar. Tapi, kau malah membaca buku The God Particle itu. Sekalian saja kau baca semua kamus unsur-unsur senyawa. Eter, Ester, atau apalah itu. Aku pergi saja,” lanjutnya. Minah bangkit berdiri dan segera beranjak.

Tiba-tiba, Eric menahan tangan Minah. “Bukan begitu,” kata Eric. Ia menarik pelan tangan Minah untuk mengajak Minah kembali duduk. “Kau terlalu cantik. Aku tak yakin bisa mengontrol diriku kalau kau menyerangku seperti biasanya.” Eric bahkan tidak mau menatap Minah karena ia yakin wajahnya sudah memerah.

Minah tersenyum melihat ekspresi pria itu. Ia tahu Eric tidak sedang berbohong. “Baiklah, aku hanya akan menggenggam tangan oppa,” kata Minah sambil menautkan jemarinya di sela-sela jemari Eric.

Eric tersenyum melihat tangan digenggam Minah. Ia hendak kembali membaca buku itu, namun tiba-tiba Minah menyandarkan kepalanya di pundak Eric. Berkat tindakan itu, jantung Eric kembali abnormal. Ia bahkan tidak mengerti apa yang dibacanya.

“Kenapa hari ini aku lebih cantik dari biasanya, oppa?” tanya Minah.

Eric menelan ludahnya sendiri. “Ada yang berbeda dengan make-up yang kau pakai,”

Minah tersenyum. “Bingo! Aku baru mencoba produk baru, oppa. Kalau oppa bilang begitu, seterusnya aku akan pakau produk ini,” katanya. “Oia, ada yang harus kukoreksi mengenai perkataan oppa tadi,”

“Yang mana?” tanya Eric bingung.

“Tidak hanya aku yang menyerangmu. Kau juga sering menyerangku,” kata Minah yang membuat Eric harus menahan tawanya, mengingat mereka sedang di perpustakaan.

“Kadang kala, aku tidak bisa menahan diri. Kau sangat cantik,” kata Eric jujur.

“Kau bilang hari ini aku lebih cantik,”

“Maka dari itu, aku sedang berusaha keras,” kata Eric. Tiba-tiba saja, Minah berbisik tepat ditelinga Eric, “Sa-rang-hae,” katanya memberi penekanan pada tiap suku kata.

Wajah Eric kembali memerah. Ia bahkan menolak untuk melihat Minah. “Jangan menggodaku,” komentar Eric yang membuat Minah tertawa terbahak-bahak.

“Kadang aku masih tidak percaya kalau saat ini kau sudah menjadi kekasihku. Ingat bagaimana kau selalu menolakku selama dua tahun aku mengejarmu? Surat-surat yang kutulis untukmu selalu kau buang. Aku sering melihatmu membuangnya,” cerita Minah.

Eric tersenyum. Ia juga kembali mengingat kenangannya saat Minah mengejarnya dulu. “Sebenarnya, tidak ada satu pun surat darimu yang aku buang. Aku bisa membuktikannya padamu,” kata Eric.

Minah menegakkan tubuhnya dan menatap Eric dengan antusias. “Jeongmalyo?”

“Aku tak bisa membuang surat yang kau tulis dengan sepenuh hati,” kata Eric.

“Lalu, apa yang kulihat salah?” tanya Minah tak mengerti.

“Aku hanya membuang amplopnya. Sengaja. Agar kau tidak berharap padaku karena aku ini gurumu. Aku mencoba menyakiti hatimu agar kau berhenti mencintaiku, tapi aku sadar kau tak bisa kuhentikan. Perasaanmu yang tulus membuatku mencintaimu,” jelas Eric sambil menatap lekat Minah.

“Kau tahu aku sudah nyaris menyerah karena kau tidak juga membalas perasaanku. Aku takut kau membenciku jika aku terus berusaha,”

“Tidak mungkin aku membencimu. Asal kau tahu, sejak kau kelas 11, aku sudah menyukaimu. Tapi, masih banyak hal yang kupertimbangkan saat itu sehingga aku belum bisa menerimamu,”

Mendengar itu membuat Minah meneteskan air matanya, ia terharu. Eric tersenyum lalu menyeka air mata Minah yang mengalir. “Aku mencintaimu. Aku tak akan ragu untuk mengatakan hal itu padamu. Akan tetapi, bertahanlah sampai kau lulus nanti. Setelah itu, kita akan memiliki hubungan yang normal seperti pasangan kekasih lainnya,”

Minah tersenyum mendengar perkataan Eric yang membuat hatinya makin bahagia. Ia memegang tangan Eric yang masih ada di pipinya. “I love you too,” kata Minah.

Mendengar perkataan itu membuat Eric tidak menahan dirinya lagi. Ia mencium Minah dengan lembut, seperti biasanya. Minah mendorong Eric pelan saat mendengar pintu perpustakaan terbuka. “Ada yang datang,” kata Minah sambil tertawa pelan.

“Untung kau mendorongku. Aku tidak mendengarnya,” kata Eric.

“Aku pergi dulu, oppa,” ujar Minah sambil mengecup bibir Eric sekilas.

Setelah Minah hilang dari pandangannya, Eric tersenyum-senyum sendiri sambil memegang bibirnya. Ia menggelengkan kepalanya, seakan ia sendiri tak percaya kalau dirinya bisa sangat bahagia hanya karena ciuman singkat dari Minah. “Kurasa aku bisa sakit jantung kalau Minah sering mengejutkanku seperti itu,” gumamnya. Ia menutup bukunya karena pikirannya  tidak bisa konsentrasi. Hanya ada Minah yang memenuhi hatinya dan pikirannya.

END
Buat ff High School Rhapsody, semua couplenya akan dibuat ficlet kayak Eric-Minah diatas, jadi ffnya ga akan panjang-panjang. Hope you still like it🙂 Makasih buat yang sudah baca ya ^^