“I just want to spend the rest of my life while laughing with you” – Henry to Hyunah

Hyunah tersenyum saat ia membuka pintu ruang itu. Ia melihat seorang pria sedang bermain piano dan dikelilingi anak-anak kecil yang terkesima dengan permainan jarinya. “Hyunah noona!” seru seorang anak kecil yang bernama Minguk.

“Annyeong, Minguk-ah,” sapa Hyunah sambil membuka lebar tangannya sebagai tanda ia ingin dipeluk. Minguk dan teman-temannya langsung menghampiri Hyunah dan memeluk gadis itu.

Henry tersenyum melihat kekasihnya begitu akrab dengan murid-muridnya. “Kalian meninggalkanku sendirian. Aku juga ingin dipeluk oleh Hyunah,” rengek Henry yang akhirnya menghentikan permainan pianonya.

Wajah Hyunah merona. Ia menggeleng. “Noona, kasihan sem. Ayo peluk sem,” ujar anak-anak itu sambil menggandeng Hyunah dan membawanya mendekati Henry.

Begitu Hyunah sudah berdiri di dekatnya, Henry berdiri dari kursinya. Ia menarik tangan Hyunah sehingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. “Bagaimana sekolahmu?” bisik Henry.

Hyunah membalas pelukan Henry. “Baik-baik saja, oppa,” jawabnya.

“Kau pasti lelah. Gomawo, sudah datang kesini. Aku sangat merindukanmu,”

“Saat berpikir aku akan bertemu dengan oppa, lelahku hilang. Aku juga merindukanmu,”

Tiba-tiba, Henry merasa ujung kemejanya ditarik seseorang. Ia melihat ke bawah dan mendapati Manse masih menarik-narik baju Henry. “Sem, jangan lama-lama berpelukan. Aku mau dengar piano lagi,” ujar Manse yang membuat Henry melepaskan pelukannya pada Hyunah.

“Mianhe, Manse-ah,” ujar Henry dan Hyunah sambil mencubit pipi Manse dan mengacak rambutnya.

“Ayo, kita mulai lagi pelajaran musiknya. Semuanya kembali duduk di tempatnya, ya. Kita dengarkan Henry sem bermain piano,” kata Hyunah yang langsung dituruti oleh anak-anak itu. Mereka kembali duduk dengan rapi.

“Sem akan memainkan sebuah lagu,” ujar Henry yang disambut dengan tepuk tangan oleh anak-anak itu dan Hyunah.

“When I first walked in the room I saw your face, baby girl I was so amazed. I caught you smiling back at me, and I didn’t know what to say,” Henry menyanyikan lirik lagi tersebut. Bersamaan dengan melodi yang ia mainkan, ia kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Hyunah.

Hari itu adalah kali pertamanya Henry mengajar di tempat kursus. Ia sangat nervous membayangkan dirinya akan mengajari orang lain bermain piano. Saat ia membuka pintu ruangan kursusnya, ia melihat seorang gadis dengan seragam sekolahnya sedang menekan tuts piano.

“A-annyeonghaseyo,” sapa Henry. Gadis itu memutar tubuh dan wajahnya lalu tersenyum pada Henry. Dalam benak Henry saat itu berkata bahwa gadis ini sangat cantik. Terutama saat ia tersenyum, jantung Henry berdetak makin kencang.

“Annyeonghaseyo, Sem. Hyunah imnida,” katanya memperkenalkan diri.

“A-annyeonghaseyo, aku Henry. A-ayo kita mulai latihan,”

Henry semakin nervous dan menjadi salah tingkah. Ia jadi susah menjelaskan dan permainan pianonya pun banyak salah. “Mi-mianhe, ini hari pertamaku mengajar,” ujar Henry pada akhirnya. Ia merasa tidak dapat mengajar Hyunah dengan baik.

“Bagaimana kalau hari ini kita bicara-bicara saja?” usul Hyunah tiba-tiba.

“Wa-waeyo?”

“Jujur saja, aku juga masih sangat nervous dan aku kurang tertarik dengan piano. Mungkin dengan berbincang-bincang, kita bisa menjadi saling mengenal dan mungkin aku menjadi lebih tertarik untuk bermain piano,” jelasnya.

Henry menyetujui usul Hyunah dan melakukan seperti yang gadis itu katakan. Hasilnya adalah ia makin mengenal Hyunah, dan berkat itu pula Henry menyadari kalau ia jatuh cinta pada gadis itu.

“I just wanna love you, give me that chance. Wanna hold you, baby you know that I need you, I need you, and I want you in my life,” Henry menyanyikan bagian itu sambil menatap lekat Hyunah.

“Sem, itu lagu apa? Daehan tidak tahu,” kata Daehan dengan wajah yang murung. Tentu saja Henry tahu kalau Daehan dan teman-temannya tidak tertarik dengan lagu yang Henry mainkan. Akan tetapi, ia sengaja memainkan lagu itu khusus untuk seseorang.

‘This song for you,’ ujar Henry tanpa suara pada Hyunah yang melihatnya.

Wajah Hyunah kembali memerah. ‘Jangan main-main, ayo ajarin mereka dengan benar,’ balas Hyunah hanya dengan gerak bibir.

Henry tertawa. “Mianhe, anak-anak. Siapa yang suka lagu Pororo? Sem akan memainkan lagu itu untuk kalian,” kata Henry.

Setengah jam kemudian, pelajaran musik untuk anak-anak itu selesai. Henry, Hyunah, dan anak-anak keluar dari ruangan music. Mereka bermain di lapangan belakang tempat kursus, sambil menunggu dijemput oleh orang tuanya.

Henry dan Hyunah duduk di bench yang ada di lapangan itu. Mereka tersenyum-senyum sendiri saat melihat Daehan, Minguk, Manse, dan teman-temannya bermain dengan gembira. “Mereka sangat lucu,” ujar Hyunah.

Henry mencuri lihat Hyunah yang duduk di sebelahnya. “Apa kau tahu aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu?”

Hyunah menatap Henry sambil tersenyum. “Aku tidak tahu. Aku sudah sangat bahagia saat  tahu perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Mendengar kau menyukaiku sejak awal, aku sangat bahagia,” katanya.

“Kau tahu aku sangat menyayangimu, kan, Hyunah?” tanya Henry sambil menatap lekat mata Hyunah.

Hyunah mendekatkan wajahnya. “Kau juga tahu aku sangat sayang padamu, kan, oppa?” Hyunah mengakhiri pertanyaan itu dengan ciuman di bibir Henry.

Wajah Henry bersemu merah sekarang. Ia mengalihkan pandangannya dari Hyunah. “Oppa, saat kau malu seperti ini, lucu sekali,” canda Hyunah untuk menganggu Henry.

“Anak-anak bisa melihat perbuatan kita tadi,” kata Henry masih menjauhkan pandangannya dari Hyunah.

Hyunah meletakan kepalanya di bahu Henry. “Aku sudah memastikan kalau mereka sedang asik bermain sebelum aku menciummu,” katanya.

Henry menggenggam tangan Hyunah. “Setelah kita menikah nanti, aku mau punya 3 anak laki seperti Daehan , Minguk, Manse,” kata Hyunah sambil menatap tangannya yang digenggam erat oleh Henry.

“Aku akan bekerja keras mencari uang untuk menghidupi kalian. Aku akan membuatmu dan anak-anak kita nanti bahagia, Hyunah,” kata Henry dengan tekad yang kuat.

“Kira-kira kapan oppa akan mengajakku menikah?” tanya Hyunah.

“5 tahun lagi, mungkin. Atau lebih cepat,” kata Henry.

“Deal. Aku menunggumu, oppa,”

Henry tersenyum membayangkan kelak jika ia hidup bersama dengan Hyunah dan ketiga anak lelakinya. Mungkin saat ini terlalu cepat untuk memikirkan itu semua karena waktu dapat mengubahkan segala sesuatu. Akan tetapi, satu hal yang pasti dan Henry yakin bahkan waktu tidak bisa berbuat apa-apa yakni, keinginannya untuk hidup bersama dengan Hyunah sampai akhir nanti. ‘She’s is the only one I want to spend my rest of my life with,’

END
Thank you for reading🙂 ditunggu kommennya ya chingu hihihihihi