Annyeong!

Seperti janji author tadi sore, ini dia FF lengkap hingga tamatnya. Terima kasih yang tadi sudah baca part pertama dan jangan lupa baca kelanjutannya yaaah. Biar gak bingung, update ceritanya dijadikan satu di sini.

Oiya, Selamat Idul Fitri 1436 H untuk yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin🙂

kim woobin soccer

Seluruh penonton di stadion menahan napas, beberapa mahasiswa perempuan terlihat saling berpelukan sambil berdoa berharap sang kapten bisa memasukkan gol ke gawang lawan.

Woobin berdiri di titik penalti, ia mengambil napas sejenak. Ini adalah kesempatannya untuk dapat membawa timnya melaju ke semi final University Cup 2015. Ia mengayunkan kaki kanannya dengan kuat menendang bola dan melesat masuk ke gawang lawan.

Seluruh isi stadion berteriak gol, sepuluh pemain lainnya berlari ke arah Woobin, berteriak suka cita memeluk sang kapten. Namun Woobin langsung mengarahkan untuk kembali ke posisi masing-masing, bola kembali bergulir di tengah lapangan. Namun sayang, tak lama waktu pertandingan telah mencapai 90 menit.

Seluruh mahasiswa berlari masuk ke lapangan, bersorak menyambut kesebelasan Universitas mereka.

“Kau lihat tadi? Kau lihat?” napas Woobin tersengal-sengal, namun ia tak bisa menahan lagi kegembiraannya begitu melihat Jihyo setengah berlari ikut dengan penonton lain masuk ke lapangan.

“Ne, daebak!” Jihyo menepuk pundak Woobin. “Jangan senang dulu, masih ada pertandingan semi final.”

“Ay, ay, captain!” Woobin baru saja ingin memeluk sahabatnya namun segerombolan mahasiswi datang menghampirinya dan mengepung dirinya.

Jihyo hanya bisa tertawa melihat Woobin yang kelabakan menghadapi para fansnya. Yeoja itu menggeleng saat melihat melihat wajah Woobinn memelas dan bibirnya mengucapkan kata tolong.

“Aku akan menemuimu nanti di depan ruang ganti!” teriak Jihyo puas melihat Woobin kini mulai dicubiti oleh para fansnya.

+++

“Kau benar-benar jahat, Choi Jihyo! Bagaimana kalau tadi aku cidera, hah?” Woobin berjalan menghampiri Jihyo yang sejak tadi menunggu dirinya di depan ruang ganti para pemain.

“Ne, ne, jeongmal mianhae. Berapa kali aku harus meminta maaf padamu karena tidak menyelamatkanmu dari yeoja-yeoja centil itu?” Jihyo melangkahkan kakinya berjalan dari stadion diikuti Woobin.

“Sampai aku memaafkanmu. Arra?” Woobin mengejar ketertinggalannya dari Jihyo dan merangkul pundak sang yeoja.

Jihyo tiba-tiba berhenti. Napasnya tercekat.

“Wae? Kenapa berhenti? Mengapa wajahmu merah? Ya! Kan sudah kubilang jangan terlalu keras berlatih! Memangnya berapa minggu lagi kejuarannya akan dimulai?” Woobin memegang dahi Jihyo untuk memeriksa temperatur tubuhnya, namun Jihyo menampiknya.

“Gwenchana. Ayo jalan! Kita bisa ketinggalan bis!” Jihyo setengah berlari meninggalkan Woobin. Ia meletakkan tangannya di dada, mengecek apakah janttungnya masih berdegup sangat kencang karena sahabat sejak kecilnya itu.

+++

“Kau lama-lama bisa gila,” JinAh berlari menyusul Jihyo. “Kau tidak bilang kepadanya jika kau menyukainya?”

“Menurutmu bagaimana? Aku tidak mau merusak persahabatanku dengannya hanya karena tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat setiap kali dia merangkulku atau memelukku!” Jihyo mempercepat larinya.

“Ya! Choi Jihyo, tunggu!” JinAh menarik baju taekwondo Jihyo. “Bagaimana jika Woobin juga menyukaimu?”

Jihyo menghentikan larinya. “Tidak mungkin dengan banyaknya nomer mahasiswi yang ia save di smartphonenya.”

JinAh berdecak sebal mendengar ucapan rekan satu tim nya. “Kalau begitu, lebih baik kau juga harus seperti dia. Lupakan Woobin dan mulai simpan nomer namja lain selain dirinya.” JinAh melirik ke arah bangku penonton.

“Mungkin kau bisa mulai dari namja itu,” JinAh memberi kode ke Jihyo.

“Dia siapa? Aku belum pernah melihatnya di kampus,” Jihyo memandang JinAh kebingungan.

“Ya ampun, Jihyo. Makanya jika kau datang ke pertandingan sepak bola, buka matamu lebar-lebar, jangan hanya memandangi Woobin. Dia itu Choi Seunghyun. Mahasiswa transfer dari luar negeri. Baru-baru ini ia masuk ke tim sepakbola kampus kita dan dalam seminggu, jumlah fansnya hampir menyamai fans Woobin.”

+++

“Kenapa kau bertanya-tanya soal Seunghyun itu?” teriak Woobin dari dalam kamarnya.

“Bukan apa-apa,” Jihyo duduk di jendela kamarnya yang berhadapan dengan jendela kamar Woobin. “JinAh tadi bercerita mengenai dirinya.”

“Aku tidak suka dirinya. Baru saja ia masuk ke tim, dan seluruh mahasiswi kini berteriak ‘Ya ampun Seunghyun oppa’, ‘Seunghyun oppa, saranghae’,” Woobin kini menarik daun jendela kamarnya hingga terbuka.

“Kau takut para fansmu meninggalkanmu?” Jihyo menggoda Woobin. Sejak kecil, ia hapal betul sifat namja di hadapannya ini, tidak mau kalah dengan siapapun.

“Tidak, fansku lebih banyak daripada dirinya. Lagipula, aku kapten tim!” Woobin menjulurkan lidahnya. “Ah, lihat! Fansku menelponku. Annyeong! Ne, aku sedang bersantai. Tentu saja kau tidak mengganggu, cantik.”

Jihyo tersenyum kecut mendengarnya, ia melompat masuk ke dalam kamarnya, membanting daun jendela hingga tertutup dan memasang musik di kamarnya keras-keras agar suara Woobin tidak terdengar.

+++

“Kim Woobin, saranghaeeeeee!”

“Choi Seunghyun oppaaaaa!”

Jihyo hanya bisa memandangi para mahasiswi di bangku penonton terbagi menjadi dua kubu. Di sesi latihan hari ini, Woobin dan Seunghyun berada di tim yang berbeda. Jihyo mengerenyitkan dahinya saat melihat dua kubu suporter kini mulai saling bertengkar satu sama lain.

“Ya ampun, mereka itu kenapa sih? Lagipula ini kan hanya sesi latihan,” gumam Jihyo.

Peluit berbunyi tanda babak pertama berakhir. Woobin berlari menuju para suporternya dan menyapa para mahasiswi yang mulai menggila melihat idolanya.

“Choi Jihyo.”

“Eh,” Jihyo memalingkan pandangannya dari Woobin ke namja yang ada tepat di hadapannya. Ini pertama kali ia melihat sosok Choi Seunghyun dari jarak dekat.

“Bagaimana kau tau namaku?”

“Jika di babak kedua aku memasukkan gol, kau harus pulang bersamaku,” Seunghyun sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jihyo.

“Maksudnya?” Jihyo kini bisa mendengar para fans Seunghyun berteriak sangat kencang. Seunghyun masih berdiri di hadapannya, tak bergerak sedikitpun. Jihyo bisa melihat dari sudut matanya kini mereka berdua menarik atensi setiap orang di lapangan, tidak terkecuali Woobin.

Woobin bergegas menghampiri sahabatnya, namun peluit tanda babak kedua dimulai berbunyi.

“Babak kedua sudah akan dimulai, kembalilah ke lapangan,” Jihyo mengusir halus Seunghyun.

Seunghyun mengangguk singkat dan berlari ke tengah lapangan. Dari jauh Woobin memandangi Jihyo dengan tatapan aneh, Jihyo tersenyum kecil sambil berteriak ‘gwenchana’ tanpa suara.

Jihyo bisa mendengar bisik-bisik dari suporter Seunghyun. Kebanyakan dari mereka bertanya ada hubungan apa dirinya dengan Seunghyun. Yang lainnya mencelanya karena ia adalah yeoja yang selalu menempel dengan Woobin dan kini berusaha merebut idola lain dari kesebelasan kampus mereka.

Tentu saja Jihyo bisa menutup semua mulut mereka dengan tendangan dan pukulannya, namun niat itu Jihyo urungkan. Ia bisa kena masalah nanti.

+++

“Kenapa sih aku harus selalu menonton pertandinganmu? Yang ini bahkan hanya pertandingan latihan!” Jihyo berkacak pinggang saat melihat Woobin keluar dari ruang ganti pemain.

“Ya! Kau kan selalu melakukannya sejak kita kecil!” Woobin menarik tangan Jihyo untuk segera pergi.

“Kau tidak pernah menonton pertandinganku. Bahkan melihat aku latihan saja tidak. Ya ampun Kim Woobin, fans-fansmu itu benar-benar ingin melahapku jika aku ada di tengah mereka!” keluh Jihyo.

“Ne, ne. Kau bebas protes apa saja namun jangan di sini, ayo pergi!” seru Woobin.

“Choi Jihyo,” Seunghyun mencegat Woobin dan Jihyo. “Jadi pulang bersama?”

“Ada yang tidak aku tau?” Woobin menatap Jihyo dengan tatapan mengerikan, Jihyo menggeleng.

“Kau sudah berjanji akan pulang bersamaku,” Seunghyun memperjelas ucapannya.

“Kapan aku berjanji?” Jihyo melepaskan tangan Woobin dari lengannya. “Oh, itu! Sekarang?” Jihyo teringat jika Seunghyun tadi berhasil mencetak 2 gol.

“Ne. Kau tidak bisa sekarang?” Seunghyun kini melempar pandangannya ke Woobin.

“Tentu saja dia tidak bisa. Kau tidak lihat dia pulang bersamaku sekarang?” Woobin maju ke depan Jihyo, menutup pandangan Jihyo dari Seunghyun.

“Ya, Kim Woobin!” Jihyo mendorong Woobin agar tidak menutupinya. “Aku sudah berjanji kepadanya. Belum sih, tapi duh. Baiklah, aku pulang denganmu sekarang, Seunghyun-ssi.”

“Mana bisa seperti itu! Kau kan selalu pulang bersamaku! Ya! Choi Jihyo!” teriak Woobin frustasi, Jihyo langsung menutup mulut Woobin dengan tangannya.

“Kau berisik. Cuma sekali saja. Cepat pulang sana,” ujar Jihyo.

“Bisa kita pulang sekarang?” seru Seunghyun menginterupsi kedua sahabat yang sibuk bertengkar.

“Ne, Seunghyun-ssi,” Jihyo segera menghampiri Seunghyun dan keluar dari gedung bersamanya meninggalkan Woobin.

+++

Woobin mengetuk-ngetukkan jarinya di daun jendelanya. Sejak dua jam yang lalu, ia terus memandangi jendela kamar Jihyo yang tertutup rapat, tak terlihat siluet cahaya lampu yang menandakan sang empunya kamar sudah pulang.

“Aish anak ini! Dia pergi kemana dulu sih?” Woobin berniat untuk menghubungi Jihyo, namun ia urungkan niatnya saat melihat lampu kamar Jihyo menyala.

“Ya! Choi Jihyo! Choi Jihyo!” teriak Woobin. Ia mengambil beberapa pulpen dari meja dan mulai melemparkan ke jendela Jihyo.

“Sebentar, sebentar! Aku sedang ganti baju, ppabo!” teriak Jihyo. Tak lama, ia membuka jendela kamarnya. “Ada apa sih?”

“Kau ini!” Woobin memalingkan wajahnya. “Ya! Choi Jihyo! Kancingkan yang benar piyamamu, ppabo!”

Jihyo melihat piyamanya, ia baru sadar dua kancing atas piyamanya terbuka. Ia langsung dengan cepat mengancingkan kembali. “Ya! Ini salahmu karena kau heboh memanggilku! Sudah, sudah aku kancingkan!”

Woobin masih memalingkan wajahnya, ia tau saat ini wajahnya pasti seperti udang rebus. “Mengapa menyalahkanku sih?”

“Pokoknya ini semua salahmu, weeek!” Jihyo menjulurkan lidahnya mengejek sahabatnya. “Aku tadi makan malam dulu dengan Seunghyun.”

“Makan malam?” Woobin kini kembali memandang Jihyo lekat-lekat, rasanya ia ingin sekali merantai yeoja di hadapannya agar tidak pergi lagi dengan Seunghyun. “Kau makan malam dengan orang yang baru kau kenal?!”

“Ne, kau kenapa sih? Lagipula dia baik kepadaku,” Jihyo kini duduk di jendela.

“Jauhi dia!” Woobin berteriak untuk kesekian kalinya.

“Kalau aku tidak mau?” Jihyo kini memasang tampang serius.

“Kalau kau tidak mau, aku akan datang ke kamarmu dan aku akan mengelitikimu sampai kau kehabisan napas,” ujar Woobin tak kalah serius.

“Oh, coba saja kalau berani,” tantang Jihyo.

Woobin langsung berlari keluar dari kamarnya. Jihyo tau kemana Woobin akan pergi. Jihyo segera melompat masuk ke kamar dan berteriak kepada eommanya. “Eomma! Jangan biarkan Woobin masuk ke rumaaah!”

+++

Jihyo tersenyum saat melihat Seunghyun yang duduk di kursi penonton, ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran sang namja tersebut setiap sesi latihan taekwondonya.

“Bukankah hari ini pertandingan semi final?” tanya Jihyo sambil menghampiri Seunghyun.

“Bukankah hari ini kau akan menonton pertandingan?” Seunghyun berdiri dari duduknya. “Shall we?”

“Wait,” Jihyo melipat kedua tangannya di dada. “Aku tidak pergi bersama orang asing.”

“Aku sudah pernah sekali mengantarmu pulang?” Seunghyun terdiam sejenak. “Dan sudah sebulan ini selalu menonton sesi latihanmu. Kurang cukup?”

Jihyo tertawa. “Well, sebenarnya kurang. Tapi ayo, Woobin bisa mengamuk jika salah satu anggota timnya datang terlambat.”

“Aku tidak pernah melihat Woobin-ssi datang ke sini,” Seunghyun menghampiri Jihyo dan mengambil tas perlengkapan taekwondo dari tangan Jihyo.

“Memang dia tidak pernah datang,” ujar Jihyo. “Dia tidak mau melihatku dipukuli.”

“It’s true.”

“Haha, tapi itu hanya alasannya saja. Aku kenal Woobin sudah lama sekali. Dia memang sebenarnya tidak ada waktu saja. Waktunya hanya untuk sepak bola dan para fansnya.”

“Tapi kau selalu datang setiap pertandingan.”

“Woobin memaksaku. Huh anak itu.”

Seunghyun memandangi Jihyo dengan lekat beberapa saat, lalu tersenyum. “Aku membuat keputusan yang tepat.”

“Mwo?” Jihyo menoleh mendengar ucapan aneh Seunghyun. “Keputusan apa?”

“Janji kepadaku,” Seunghyun tersenyum. “Jika aku mencetak satu gol dan tim universitas kita lolos ke final, give me a proper date.”

“Haha, funny,” Jihyo menggeleng cepat. “Aku tidak mau.”

“Wae?”

“Aku bahkan tidak tau mengapa kau tiba-tiba tau namaku, lalu sering sekali datang melihat sesi latihan taekwondo, mengajakku pulang bersama, dan kini mengajakku kencan? Kau tidak sedang mengerjaiku kan?”

“Maybe,” nada suara Seunghyun tiba-tiba berubah menjadi ceria membuat Jihyo sedikit ketakutan. “I made a bet with myself.”

Jihyo tertawa lega mendengarnya. “Untuk sesaat kau hampir saja membuat jantungku mau copot,” ia memukul pelan lengan Seunghyun. “Kau aneh.”

+++

Jihyo memutuskan untuk duduk di barisan paling depan, bersama para fans berat Woobin, walaupun ia tau pasti selama 90 menit pertandingan telinganya akan sakit karena teriakan heboh para mahasiswi itu.

Dan benar saja, saat kedua kesebelasan memasuki lapangan, seisi stadion berteriak heboh. Jihyo melambaikan tangannya begitu melihat Woobin menatapnya.

Woobin tersenyum dan menunjukkan jari jempolnya kepada Jihyo. Beberapa detik kemudian, kedua lengannya melingkar ke atas kepalanya membentuk hati, tentu saja membuat seluruh fansnya semakin menggila dan Jihyo harus menutup telingannya dengan rapat. Woobin tertawa puas melihat ekspresi sahabatnya yang sudah ingin menghajarnya.

Pertandingan semi final kali ini berlangsung dengan ketat. Woobin berhasil melesatkan satu gol pembuka, namun dengan cepat dibalas oleh tim lawan. Kedudukan 1-1 bertahan hingga akhir babak pertama.

Di 45 menit kedua, kedua tim semakin agresif, pemain lawan lebih dulu mengubah kedudukan menjadi 2-1, namun salah satu pemain dari kesebelasan yang dipimpin Woobin berhasil menyamakan kedudukan. Di menit-menit terakhir, Seunghyun menjebol gawang lawan dan membawa tim melaju ke final.

Stadion bergemuruh menyambut kemenangan kesebelasan universitas mereka. Lagi-lagi panitia tidak bisa mmelarang para penonton untuk turun ke lapangan. Woobin dengan cepat dikerubungi oleh para fansnya. Begitu juga Seunghyun. Namun Seunghyun berhasil menghindar dari kejaran para mahasiswi.

“Hai,” napas Seunghyun masih tersengal, namun ia tidak bisa menghapuskan senyum dari wajahnya. “Sabtu ini?’

“Sabtiuini,” Jihyo tertawa melihat wajah Seunghyun yang masih memerah. Ia melirik ke arah Woobin yang kini sudah mulai bisa lepas dari kerumunan fansnya. “Sampai jumpa, Seunghyun!” Seru Jihyo berlari menghampiri Woobin.

+++

“Ini,” Jihyo melempar kaleng soda ke arah Woobin yang sedang bersantai di kamarnya. “Kapan pertandingan finalnya?”

“Minggu ini,” ujar Woobin bergeser memberikan ruang ke Jihyo agar bisa duduk di tempat tidurnya, namun yeoja itu memilih duduk di kursi.

“Minggu ini?” Jihyo menepuk keningnya. “Oh tidak.”

“Ada apa?”

“Aku janji untuk pergi dengan Seunghyun Sabtu ini,” Jihyo langsung menutup mulutnya begitu melihat Woobin memelototinya.

“Apa tadi kau bilang?”

“Bukan apa-apa, akan aku batalkan,” cengir Jihyo.

“Tentu saja harus kau batalkan!” Woobin bangkit dari tempat tidurnya. “Harus kau batalkan! Apa-apaan dia mengajakmu kencan sedangkan besoknya ada pertandingan final!”

“Aku tidak bilang kalau itu kencan,” ujar Jihyo membela diri.

“Pasti itu kencan! Mana ada seorang namja pergi berdua bersama seorang yeoja jika itu bukan kencan?” kini suara Woobin memenuhi seluruh kamar.

“Kau dan aku selalu bersama, dan kita tidak berkencan,” gumam Jihyo.

“Tentu saja itu beda. Kita sudah bersama-sama sejak kecil. Itu beda!” Woobin tidak menyadari jika wajahnya kini memerah. Degup jantungnya lebih kencang daripada saat ia bermain sepak bola. “Ah sudah, terserah kau saja!” Woobin kembali ke tempat tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Yaaaa, Kim Woobin! Jangan ngambek,” Jihyo bergegas menghampiri Woobin. “Jangan seperti anak kecil.”

“Aku memang anak kecil bagimu!” ujar Woobin dari balik selimut. “Kau selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil! Kau tidak mau mendengarkanku.”

“Aku selalu mendengarkanmu, kok,” Jihyo menepuk lengan Woobin. “Ayolah, jangan marah.”

“Urus saja Choi Seunghyun-mu itu! Aku mau tidur!”

Jihyo menghela napas panjang, susah sekali berdamai dengan namja ini jika ia sedang dalam keadaan bad mood. “Ne, aku pulang dulu.” Jihyo terdiam beberapa detik, ragu akan melakukan hal yang biasa ia lakukan untuk menenangkan Woobin saat marah seperti ini, atau lebih baik jangan ia lakukan.

Namun tentu saja akan menjadi bahaya jika Woobin mengambek padanya selama berhari-hari, maka dengan sekuat tenaga ia putuskan untuk melakukannya.

“Kim Woobin, jangan marah lagi ya? Mianhae,” Jihyo memeluk tubuh Woobin yang terbungkuskan selimut. “Saranghae.” Jihyo dengan cepat melepaskan pelukannya dan berlari keluar kamar.

Woobin menghempaskan selimutnya begitu mendengar derap langkah Jihyo menjauh. Ia kini benar-benar tidak bisa mengontrol degup jantungnya. “Jihyo ppaboya!”

+++

“Woobin?” Jihyo membuka pintu kamarnya.

“Annyeong!” ujar Woobin langsung masuk ke dalam kamar tanpa meminta izin dari sang pemilik.

“Ya! Kau mau apa ke sini? Sudah tidak marah?” Jihyo berkacak pinggang melihat sahabatnya kini seenaknya saja berbaring di tempat tidurnya.

“Masih,” Woobin memeluk boneka koala Jihyo. “Tapi aku ingin memastikan kau tidak jadi berkencan dengan si Seunghyun itu.”

“Oh my God, Woobin!” Jihyo menjambak kesal rambut Woobin hingga sang namja jangkung itu berteriak kesakitan. “Aku kan sudah bilang, aku akan membatalkan janjiku dengan Seunghyun. Mengapa kau tidak percaya sih? Hah!”

“Aduh, aduh, sakit Jihyo. Ampun!” Woobin berusaha melepaskan tangan Jihyo dari kepalanya.

“Kau ini mengapa selalu membuatku kesal sih!” Jihyo melepaskan tangannya dari kepala Woobin dan merebut boneka koala yang dipeluk Woobin. “Untung besok kau ada pertandingan. Kalau tidak, sudah aku pukuli!”

“Gomawoyo, Jihyonnie,” cengir Woobin sambil menyelimuti dirinya dengan selimut ungu kesayangan Jihyo. “Sudah ah. Aku butuh istirahat. Aku mau tidur!”

“Kim Woobin! Siapa yang menyuruhmu tidur di tempat tidurku? Sana pulang ke rumahmu!” Jihyo menarik tangan Woobin namun Woobin sekuat tenaga bertahan di posisinya.

“Aku sudah bilang pada appa dan eomma mau menginap. Lagipula ahjussi dan ahjumma sudah mengizinkanku tidur di kamarmu, weeek!”

“Lalu aku tidur dimana, hah?” Jihyo menekuk wajahnya yang membuat Woobin ingin sekali mencubit gemas pipinya.

“Kau bisa tidur di kamar orangtuamu. Atau mau tidur di kamarku? Kosong kok,” goda Woobin.

“Aku mau tidur di kamarku, di kasurku sendiri. Titik!” teriak Jihyo di telinga Woobin.

“Yasudah, sini,” Woobin menepuk sisi kosong tempat tidur Jihyo. “Bukankah sejak kecil kita selalu tidur bersama?”

“In your dream!” Jihyo menarik selimutnya dari Woobin, berbaring di sisi kosong tempat tidurnya dan mulai menendang Woobin. “Geser! Kau ini membuat tempat tidurku jadi kecil.”

“Ih, sudah tidur saja yang benar! Aduh Jihyo, jangan tendang kakiku! Kau mau besok tim sepakbola kampus kita kalah, aawww!”

+++

“Wajahmu lecek sekali. Ayo semangat, ini pertandingan final!” seru Woobin sambil merangkul Jihyo.

“Menurutmu? Kau bisa tidur dengan tenang! Aku? Kedinginan karena selimutku kau rebut!” Jihyo mencubit perut Woobin.

“Hahaha, mian, Hyonnie. Aku janji akan membuatmu senang setelah pertandingan final selesai,” Woobin menyodorkan jari kelingkingnya.

“Memangnya kau tau apa yang membuatku senang?”

“Molla,” Woobin bersenandung kecil. “Tapi berjanjilah, selesai pertandingan kau harus bersamaku. Ada yang harus kukatakan.”

“Paling nanti setelah pertandingan, dirimu akan dikerubungi oleh lebah-lebah centil itu,” gerutu Jihyo.

“Kau cemburu?” goda Woobin.

“HA.HA, HA, Aku?” Jihyo menendang pelan kaki Woobin. “Tidak mungkin!”

“Kau ini kenapa sih selalu menendangku?”

“Karena aku mau. Kau mau marah?”

“Annyeonghaseyo, Jihyo-ah, Woobin-ssi,” ujar Seunghyun menyapa keduanya.

“Seunghyun-ah. Kau sudah siap untuk pertandingan?” seru Jihyo menghampiri Seunghyun.

Woobin dengan malas menatap Seunghyun. “Ayo, segera masuk. Coach bisa memarahi kita kalau kita terlambat.”

“Ne, kapten. Oiya Jihyo, nanti malam jadi kan?” tanya Seunghyun.

“Kemana?” selidik Woobin.

“Ehm, kau bilang kan Seunghyun tidak boleh pergi denganku kemarin malam karena pertandingan. Jadi aku bilang ke Seunghyun bagaimana kalau setelah pertandingan,” ujar Jihyo pelan, namun percuma, Woobin pasti bisa mendengarnya.

“Ah, terserah! Choi Jihyo! Ingat perkataanku tadi!” Woobin menabrak bahu Seunghyun dan meninggalkan keduanya.

“Dia tidak mau kehilanganmu,” ujar Seunghyun saat Woobin sudah menghilang dari pandangan mereka berdua.

“Siapa?”

“Woobin-ssi. Sepertinya, untuknya, dirimu adalah hal yang paling berharga,” Seunghyun tersenyum.

“Hahaha, kau ini berbicara apa sih? Sana, cepat masuk!”

“Kau tau mengapa aku sangat menyukaimu, Jihyo? Karena kau adalah hal yang paling berharga untuk Woobin,” Seunghyun kembali berbicara. “Aku sudah merebut para fansnya, namun ia tidak menganggapnya sebagai ancaman. Aku sudah menandinginya menjadi pemain andalan coach, namunia tak ambil pusing. Tadinya aku ingin merebut jabatan kapten tim darinya.”

“Seunghyun, kau bercanda kan?” Jihyo merasa setiap perkataan Seunghyun adalah kenyataan, namun hatinya menolak semuanya. Ini pasti adalah sebuah lelucon.

“Namun saat aku melihat bahwa hal terpenting untuknya bukanlah sepak bola, melainkan kau, aku bertaruh dengan diriku sendiri untuk merebutmu dari Woobin,” Seunghyun berjalan menjauhi Jihyo. “Saat peluit pertandingan berakhir, akan kupastikan milik Woobin yang paling berharga akan jadi milikku.”

+++

Jihyo sama sekali tidak menikmati pertandingan final kali ini. Ia bahkan tidak sadar sudah berapa gol yang tercipta. Di otaknya berkecamuk semua ucapan Seunghyun tadi. Bahkan kini Jihyo ngeri sendiri, jika Seunghyun menyakiti Woobin.

Jihyo tersadar saat beberapa orang menyenggolnya untuk dapat turun ke lapangan. Jihyo melihat papan skor menunjukkan angka 3-1 untuk kemenangan universitasnya. Kini Jihyo bisa melihat seluruh lapangan tertutup oleh sorak sorai para mahasiswa. Namun Jihyo ragu untuk bergabung dengan mereka.

Woobin ikut larut dalam sorak sorai kemenangan kesebelasannya. Ia melihat dari kejauhan sosok yang sangat ia kenal berdiri sendirian di bangku tribun penonton. Woobin melambaikan tangannya memangil Jihyo, namun sepertinya Jihyo tidak melihatnya.

“Permisi, permisi. Ah, kamsahamnida. Maaf, aku ada perlu,” ujar Woobin melewati beberapa suporter yang terus memberikan ucapan kepadanya karena kemenangan timnya dan gelar best player yang ia raih. Woobin dengan susah payah menembus keramaian hingga ia berhasil mencapai ujung lapangan.

Dan melihat Jihyo tidak sendiri. Ia bersama Choi Seunghyun. Seunghyun mencium Jihyo.

Woobin berlari dengan cepat, bahakn lebih cepat dibandingkan saat ia mengejar bola. Ia tak bisa berpikir sehat. Jihyo selalu mengatakan bahwa kekerasan bukanlah penyelesaian yang baik untuk sebuah masalah. Namun Woobin kini tidak peduli, ia menarik Seunghyun menjauh dari Jihyo dan mulai menghujani namja itu dengan pukulan.

+++

“Kim Woobin! Sudah berapa kali aku bilang, jangan menggunakan kekerasan! Lagipula mengapa kau memukuli Seunghyun sih?” ujar Jihyo sambil memberikan obat ke luka di wajah Woobin. Jihyo harus sedikit berbohong kepada eommanya Woobin mengenai keadaan anaknya yang babak belur seperti ini.

“Hentikan,” ucap Woobin pelan. Ia tidak suka Jihyo ada bersamanya di sini sekarang. Melihatnya babak belur karena perkelahiannya dengan Seunghyun. Ia tidak suka melihat tatapan orang-orang ke Jihyo karena menganggap yeoja di hadapannya adalah sumber masalah dari perkelahiannya tadi.

“Aku tidak suka kau berkelahi. Apalagi dengan Seunghyun,” Jihyo tak memperdulikan ucapan Woobin, ia terus membersihkan luka di ujung bibir Woobin.

“Choi Jihyo, hentikan!” Woobin berteriak ke Jihyo. Ia tidak pernah semarah ini.

“Baiklah,” Jihyo menghentikan tangannya untuk membersihkan luka Woobin. “Kau mau cerita ada apa?”

Woobin menggeleng, ia tidak ingin mengatakan jika dirinya tidak suka jika Jihyo direbut dari sisinya. Ia ingin mengatakan jika selama ini ia sangat mencintai sahabatnya, namun takut akan merusak persahabatan mereka berdua. Woobin ingin mengatakan saat selesai pertandingan tadi bahwa ia telah menetapkan hati dan menguatkan niatnya untuk mengatakan jika Jihyo adalah hal yang paling berharga untuknya selama ini.

“Gwenchana. Sana istirahatlah. Besok aku akan menemuimu lagi,” Jihyo beranjak dari tempat tidur Woobin, namun Woobin menahannya.

“Tunggu,” Woobin memberikan isyarat agar Jihyo kembali ke sampingnya.

“Waeyo?” Jihyo duduk di samping Woobin, mengelus pelan lengan sahabatnya itu.

“Kau janji besok akan menemuiku lagi?”

“Ne, anak kecil. Kapan memangnya aku tidak menemuimu? Lagipula jika aku tidak datang kan biasanya kau akan melempari jendelaku dengan semua barang di kamarmu,” Jihyo berusaha melucu, namun ia tau tidak berhasil.

“Baiklah,” Woobin menatap Jihyo, “Tapi aku tidak suka jika semalaman ini sisa dari dirinya akan tidur bersamamu.”

“Apa? Dirinya? Seunghyun?”

“Jangan sebut nama itu di depanku!” Woobin kembali meninggikan suaranya, rasanya darahnya mendidih mendengar nama itu.

“Ne, ne. Mana aku tau jika dia yang kau maksud,” Jihyo menjitak pelan kepala Woobin.

“Kemari, mendekat,” ujar Woobin menarik Jihyo mendekat ke wajahnya. “Aku tidak suka bekas bibirnya masih menempel di bibirmu.” Woobin menggerakkan jarinya menyapu bibir Jihyo. “Selesai.”

“Ya!” Jihyo memukul lengan Woobin dengan keras. Ia tau saat ini wajahnya pasti saat memerah, suara jantungnya pasti bisa terdengar. Rasanya saat ini ia ingin pingsan saja.

“Wajahmu merah, hahaha,” Woobin tertawa melihat sahabatnya.

“Kau tau, ini tidak lucu. Sudah ah, aku mau pulang!” Jihyo kembali melayangkan tangannya untuk memukul Woobin sebelum ia beranjak pulang, namun Woobin menahannya.

“Kau tau, tidak baik memukul orang yang kau sayangi,” goda Woobin.

“Aku memang sayang kepada sahabatku, tapi tidak ada aturan tertulis jika aku tidak boleh memukulmu jika kau mulai bertindak bodoh!”

“Kalau begitu, ubah saja,” Woobin menarik Jihyo ke dalam pelukannya. “Jika aku menjadi kekasihmu, maka aku tidak akan dipukuli kan?”

“Kau mengigau!” Jihyo mencoba menarik tangannya dari genggaman Woobin, namun tidak bisa. “Kim Woobin, lepaskan!”

“Shiro!” Woobin dengan cepat mengecup bibir Jihyo. “Nah, sekarang sudah aman. Tidak akan ada lagi bekas dari namja menyebalkan itu.”

“Ih!” Jihyo mendorong Woobin menjauhinya. Ia berusaha untuk bersikap sesantai mungkin walaupun kini kesadarannya mulai menghilang karena dicium oleh namja yang sangat ia cintai. “Asal kau tau saja ya, tadi Seunghyun menciumku tidak seperti itu! Kau tau, seperti di film-film! Aku bisa merasakan lidahnya di dalam mulutku!”

“Ah berisik!” Woobin kini gantian mendorong Jihyo hingga hampir terjungkal. “Ayo kita reka ulang kejadiannya!”

“Andwae! Aku tidak mau!” Jihyo turun dari tempat tidur Woobin dan berlari keluar dari kamar Woobin.

“Ya! Choi Jihyo, jangan lari! Bukankah kau yang meminta untuk reka ulang?” teriak Woobin sambil tertawa.

“Dasar otak mesum! Aku tidak meminta reka ulang!” seru Jihyo menuruni tangga.

“Hahaha, tapi aku mau. Ayo sini, jagi!”

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Menjijikan!”

“Jagiyaaa!”

“Berisik!”

“Sampai jumpa besok, yeojachingu galak!” seru Woobin dari depan pintu rumahnya.

Jihyo menghentikan larinya, lalu berbalik ke arah Woobin. “Sampai jumpa besok, namjachingu otak mesum dan tukang cemburu buta!”

Happy Birthday Kim Woobin! Stay gorgeous and handsome as always, dear multi talented boy!

note : the picture is not belong to me. i took it from google🙂