“Hey,” Woobin menemukan kekasihnya terduduk di sofa ruang tamu apartemennya, tidak menyalakan lampu utama, hanya ada penerangan lampu-lampu kota dari luar kaca jendela.

“Hey,” Jihyo masih duduk bersila di sofa milik Woobin, tidak bangkit untuk menyambut kekasihnya. Ia menepuk sofa mengisyaratkan agar sang namja bergabung bersamanya. “Hari yang melelahkan?”

“Lumayan,” Woobin duduk di samping Jihyo, menyenderkan kepalanya ke bahu kekasihnya, sesaat kemudian memejamkan matanya.

“Onniedul, magnae, dan oppadeul sedang menyiapkan pesta kejutan untukmu,” Jihyo menyelipkan jemarinya diantara rambut Woobin. “Mereka bilang aku harus menjemputmu.”

“Haha, mengapa kau bilang kepadaku jika itu adalah pesta kejutan?”

“Karena kau paling tidak suka kejutan di hari ulang tahunmu. Jadi beraktinglah seolah-olah kau terkejut nanti, arra?” Tanya Jihyo.

Woobin tidak menjawab, ia sibuk memainkan jemari tangan kanan Jihyo. “Gomawoyo, Hyonnie.”

“Mmh?”

“Terima kasih sudah merayakan ulang tahunku saat ini,” gumam Woobin.

Jihyo menghentikan aktivitasnya membelai kepala Woobin, ia mengambil lilin kecil dari meja di samping sofa dan menyalakannya dengan korek api. “Ayo tiup lilin.”

Woobin tersenyum melihatnya, ia memejamkan matanya, mengucapkan keinginannya.

Mungkin untuk sebagian orang, ini bukanlah perayaan ulang tahun yang sebenarnya. Namun untuk Woobin, bisa bersama orang yang dicintainya dalam keadaan tenang tanpa gangguan apapun seperti ini sudah menjadi perayaan paling menyenangkan.

Woobin meniup lilin ulang tahunnya. Ia mengecup kening Jihyo dan memeluknya dengan erat.

“Tunggu,” Jihyo melepaskan pelukan Woobin. “Aku ada hadiah untukmu.” Jihyo menyodorkan gelang rajutan berwarna biru laut. “Aku merajutnya sendiri. Maaf ya kalau kurang rapi, hehe.”

“Ppabo! Ini hadiah paling bagus yang aku dapat hari ini, ya walau tidak mahal sih,” goda Woobin yang langsung dihadiahi tonjokan di lengannya oleh Jihyo.

“Dan aku juga punya hadiah untukmu,” ujar Woobin mengeluarkan kotak kecil dari kantung kemejanya.

“Ya! Kotak apa itu? Jangan mengerjaiku! Ini kan hari ulang tahunmu, bukan ulang tahunku,” seru Jihyo sambil penasaran mengambil kotak kecil dari Woobin dan mengocoknya, terdengar suara sesuatu yang kecil terombang-ambing di dalamnya.

“Ya ampun, Kim Woobin! Jangan bilang isinya!” Teriak Jihyo panik.

Woobin merebut kembali kotak kecil itu dari tangan Jihyo dan membukanya. “Kau pernah bilang jika kau ingin dilamar dengan cara yang tidak biasa kan?” Woobin mengeluarkan cincin dari kotak dan memasangkan ke jari Jihyo.

“Apakah kau bersedia mengejutkan Eric hyung, Donghae hyung, Kyuhyun hyung, Henry, MinAh noona, HyunAh, Hyejin, dan Hamun, Choi Jihyo?” ujar Woobin.

“Hahaha, ne. Aku bersedia. Perlukah kita berangkat sekarang ke dorm SG? Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi mereka, hihi.”

“Sebentar,” cegat Woobin. “Cincinku, pasangkan di jariku.”

Jihyo memutar bola matanya, “Duh, kau manja!” Jihyo memasangkam cincinnya dengan cepat ke jari Woobin kemudian menariknya menuju pintu keluar. “Kajja, kajja!”