“I know i love you when the thought of you being with me already make me happy,” – Woobin to Jihyo

Jihyo menatap kesal pria yang sedang bermain voli dengan teman-temannya. Kekesalannya makin bertambah saat mendengar siswi lain di sekitarnya menyoraki nama pria itu. “Woobin shi! Fighting!” seru para gadis.

Woobin menoleh ke tepi lapangan. Matanya sempat bertemu dengan mata Jihyo namun dengan segera pria itu mengalihkan tatapannya. Kini ia malah menatap gadis-gadis yang ada di sebelah Jihyo dan memberikan kiss bye pada mereka. Jihyo mendengus kesal. “Kau memang cari mati, Kim Woobin. Berani sekali kau mengacuhkanku selama satu minggu ini,”

Setelah jam perlajaran olahraga itu selesai, Woobin ditugaskan oleh sem untuk mengembalikan peralatan olahraga itu ke gudang. Melihat Woobin berjalan sendiri menuju tempat itu, Jihyo segera mengikutinya. Ia penasaran kenapa Woobin menjauhinya beberapa hari ini.

“Woobin-ah, ada apa denganmu?” tanya Jihyo begitu ia yakin hanya ada dirinya dan Woobin di gudang peralatan olahraga itu.

Woobin menoleh dan menatap gadis itu tajam, tanpa senyum. “Tidak ada apa-apa denganku,” jawab Woobin. Ia hendak berjalan keluar namun Jihyo menghadangnya.

“Lalu kenapa kau menjauhiku?” tanya Jihyo yang tak mengerti dengan tindakan Woobin kali ini. Biasanya, Woobin yang selalu mengikuti Jihyo kemana pun gadis itu pergi.

“Menurutmu?” tanya Woobin balik.

“Kau marah padaku? Kau sedang banyak tugas? Kau sakit? Atau kau-” suara Jihyo tercekat ditenggorokannya saat pikiran itu terlintas. “Kau tidak menyukaiku lagi?” tanya Jihyo pelan. Ia merasa tidak rela saat menanyakan hal itu.

“Kalau kau sudah tahu, untuk apa bertanya,” kata Woobin.

Mendengar perkataan Woobin itu membuat jantung Jihyo berdebar sangat kencang. Kakinya terasa lemas sehingga ia terkulai di lantai gudang itu. Ia bisa merasa tangannya dibasahi oleh setitik air, baru ia sadari kalau air matanya pun sudah menetes.

“Jihyo-ah, kenapa?” tanya Woobin yang kini sudah bersimpuh dihadapan Jihyo.

Jihyo menengadahkan kepalanya untuk dapat melihat Woobin. “Aku tak tahu. Setelah kau berkata, kau sudah tidak menyukaiku lagi, dadaku terasa sakit dan air mataku memaksa keluar. Aku tak mengerti kenapa tubuhku merespon seperti ini,” ujar Jihyo.

Woobin tiba-tiba tersenyum, membuat Jihyo makin bingung. Air matanya makin deras. “Kau jahat, Woobin. Kau tersenyum saat aku menangis seperti ini,” ujar Jihyo dalam isakannya sambil memukul pelan tubuh gagah Woobin.

“Jadi, kau juga mencintaiku rupanya?” tanya Woobin sambil menyeringai.

“Mworago?” tanya Jihyo tak mengerti.

“Isn’t now is a perfect time to accept your own feeling towards me?” tanya Woobin sambil mengusap air mata Jihyo yang belum berhenti mengalir.

“Bicaralah to the point. Aku tidak mengerti,” omel Jihyo, masih sambil menangis. Ia merasa Woobin sedang mengacaukan perasaannya.

“Kau mencintaiku. Sudah sejak lama. Apa sangat susah bagimu untuk menyadari perasaanmu sendiri?” tanya Woobin.

“Yang benar saja? Aku tidak menyukaimu, Kim Woo-”

Kalimat Jihyo terputus saat Woobin tiba-tiba memeluknya. Tanpa Jihyo sadari, tangannya sudah membalas pelukan Woobin itu. Woobin tertawa pelan. “Tubuhmu yang membuatku sadar kau juga mencintaiku. Jantungmu berdetak kencang, aku bisa mendengarnya sekarang. Dadamu terasa sakit dan kau menangis saat tahu aku tidak menyayangimu lagi. Banyak hal lain yang membuatku sadar kalau kau juga mencintaiku,” jelas Woobin.

“Yang benar saja,” elak Jihyo walaupun ia makin mengeratkan pelukannya pada Woobin.

“Aku sayang padamu, Jihyo. Kau satu-satunya orang yang mau menemaniku saat aku menjadi siswa baru di sekolah kita dulu. Kau yang mengajariku Bahasa dan budaya Korea. Kau yang melindungiku dari tindakan usil teman-teman, kau yang selalu berjanji padaku kalau kau tidak akan meninggalkanku, ujar Woobin.

“Itu ‘kan saat kita masih di elementary school. Aku melakukan itu karena aku merasakan hal yang sama denganmu saat aku baru pindah dari Jepang,” jawab Jihyo.

“Tapi aku percaya kalau kau akan menepati janjimu. Aku yakin kau tidak akan meninggalkanku,”

“Jangan terlalu percaya diri,”

“Buktinya kau tetap memelukku meskipun kau selalu menyangkal perasaanmu,” kata Woobin. Jihyo akhirnya melepas pelukannya dan hendak beranjak keluar dari gudang itu. Akan tetapi saat ia membuka kenopnya, pintu itu tidak terbuka. Berulang kali ia mencoba, tapi pintu itu tetap diam. “Kenapa tidak bisa dibuka? Aku tidak menguncinya tadi,” kata Jihyo.

“Kau mencari ini?” tanya Woobin sambil memamerkan kunci gudang yang ada ditangannya.

“Berikan kunci itu, Woobin-ah!” seru Jihyo. Ia mengejar Woobin dan berusaha menggapai kunci yang ada di tangan pria itu. Ia melompat-lompat untuk mengambil kunci itu namun keseimbangan Jihyo hilang dan mereka berdua terjatuh.

“Gwencana?” tanya Jihyo pada Woobin.

“Tuh, kan, kau menyerangku duluan. Kau memang jatuh cinta padaku, Jihyo-ah. Terimalah kenyataan itu,” kata Woobin sambil tertawa. Jihyo segera bangkit dari tubuh Woobin. Ia mengetuk-ngetuk pintu gudang itu berharap ada yang mendengar suaranya.

Tiba-tiba, Woobin memeluk Jihyo dari belakang. “Woobin-ah, lepaskan aku,” pintu Jihyo.

Woobin justru mengeratkan pelukannya. “Seperti ini, sebentar saja,” bisik Woobin tepat di telinga Jihyo.

Jihyo membiarkan Woobin memeluknya. Ia sendiri berusaha bersikap sebiasa mungkin padahal jantungnya sudah berdetak sangat kencang.

“Aku boleh menciummu?” tanya Woobin.

Jihyo terdiam.

“Aku anggap itu iya,” kata Woobin. Woobin memegang dagu Jihyo dan menuntun dagu itu untuk menoleh sehingga kini wajah Jihyo berhadapan dengan Woobin. “Saranghae, Jihyo-ah,” kata Woobin lalu mengecup bibir Jihyo.

Wajah Jihyo memerah setelah Woobin melepaskan bibirnya. Woobin tersenyum melihat ekspresi Jihyo. “Apa yang harus kau katakan setelah kubilang aku sayang padamu?” tanya Woobin.

Mulut Jihyo sudah terbuka, namun suaranya tidak kunjung keluar. Ia akhirnya mengalihkan wajahnya dari Woobin. “Aku tidak bisa mengatakannya,” ujar Jihyo.

Woobin tertawa terbahak-bahak. “Tenang saja, aku akan selalu bersamamu sampai kau bisa mengatakan hal itu. Aku juga tidak keberatan jika kau mengekspresikan perasaanmu melalui tindakan. Aku siap kapan pun kau menyerangku,” goda Woobin.

“Sialan kau,” runtuk Jihyo walaupun beberapa detik kemudian ia tersenyum.

“Jadi, kita resmi menjadi sepasang kekasih sekarang?” tanya Woobin.

“Hm,” jawab Jihyo.

“Aku anggap itu ‘iya’, oke sayangku?” ujar Woobin yang kemudian tertawa terbahak-bahak melihat Jihyo tersipu malu.

Aku mencintai Jihyo. Meskipun butuh waktu yang lama untuk membuatnya sadar, aku tidak pernah menyesal. Kebahagiaan yang ia beri padaku, hanya dengan ia berada di sisiku, sangat banyak. Kini, biarkan aku juga membuatmu bahagia.

END

Selamat membaca, hope you like it🙂