Annyeong! Ini adalah sequel dari ff one shot Birthday.

Selamat membaca dan ditunggu komennya😀

“Jadi apa yang ada dibalik pintu ini?” Bisik Woobin sebelum membuka kenop pintu dorm Super Girls.

“Mungkin Henry dan Donghae oppa menembakkan convetti, dan HyunAh onnie membawakan kue ulang tahun buatannya,” jawab Jihyo sambil mendorong Woobin membuka pintu.

“Aku kira akan lebih buruk.”

“Well, tadinya Hyung oppa mau menyirammu dengan cokelat cair dan Eric hyung sudah akan membelikan meises warna-warni, hihihi.”

Woobin mengangkat alisnya, “Sudah kuduga bisa lebih parah.”

“Kajja, kajja. Jangan lupa aktingmu, Tuan Kim,” seru Jihyo.

“Happy birthday, Woobin-ah!” Teriak Henry dan Donghae menembakkan convetti ke atas begitu Woobin membuka pintu dorm. Kyuhyun dan Eric meniupkan terompet. HyunAh maju ke depan dengan kue tart green tea kreasi terbarunya, sedangkan Hamun, Hyejin, dan MinAh berdiri di belakang HyunAh menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Woobin dengan amat sangat meyakinkan memasang tampang super terkejut. “Yeorobun, gomawoooo!” Seru Woobin heboh. “Ya! Kalian tidak ada kado untukku?”

“Anak ini, masih untung kami membuatkanmu pesta kejutan!” Eric menjewer telinga tuan evil dengan gemas.

“Akh, akh, hyuuung! Aku kan cuma becanda. Hyung, sakit!” Teriak Woobin melepaskan tangan Eric dari telinganya. “Hyungku yang tua namun tetap tampan, gomawo untuk pestanya, muach!” Seru Woobin pura-pura mencium Eric yang membuat Kyuhyun, Henry, dan Donghae mundur serentak ke belakang takut menjadi sasaran berikutnya.

“Hyungdeuuuul!” Woobin mulai berlari mengejar Kyuhyun, Donghae, dan Henry yang lari ketakutan.

“Woobin, jangan dekat-dekat denganku!” Teriak Kyuhyun berlindung di balik Hyejin.

“Ya! Ya! Cho Kyuhyun! Kim Woobin! Kalian berdua apa-apaan sih?” Hyejin menarik tangan Woobin yang mencoba meraih Kyuhyun. “Jihyo, kekasihmu!”

” Ah, kau tidak asik, Hyejin!” Seru Woobin memeluk erat Jihyo. “Hyun, kapan kita potong kuenya?”

“Ayo kita potong kue!” Teriak HyunAh menuntun gerombolan anak TK ke ruang makan. “Baby Hen, kau dimana? Ayo kemari. Woobin sudah dijinakkan.”

“Yang benar, baby Hyun?” Teriak Henry dari balik pintu lemari.

“Benar jagi,” seru HyunAh dari ruang makan.

“Woobin, ayo make a wish dulu,” seru MinAh menyalakan lilin di kue tart.

“Ne, noona. Aku ingin menikah dengan Jihyo, hahahaha,” seru Woobin sambil meniup lilin.

“Oppa, kenapa kau memberitahu keinginanmu? Nanti tidak terkabul,” gumam Hamun.

“Ah, kata siapa, Hamun? Ayo kita potong kue dulu!” Woobin meraih pisau cake dan memotongnya.

“Ah!” Teriak Henry tiba-tiba mengagetkan sembilan orang lainnya di ruang makan. “Hehe, ayo ayo silahkan lanjutkan.”

Woobin memberikan potongan pertama kepada Jihyo, lalu memberikan potongan kue selanjutnya kepada seluruh orang di ruangan makan.

“Saengil chukkae, Hyunjoong-ah!” Seru Jihyo sambil mencolek kue tart dengan tangannya dan mengoleskan ke hidung Woobin.

“Omo!” Henry berteriak lagi sambil menutup mulutnya.

“Baby Hen, ada apa?” Tanya HyunAh cemas.

“Gwenchana Baby Hyun, aku hanya lelah hingga pandanganku berkunang-kunang,” Henry menyenderkan kepalanya ke pundak HyunAh. “Tapi…” Henry berbisik ke HyunAh.

“Ah, yang benar?” Tanya HyunAh tak percaya saat mendengar bisikan Henry sambil meraih sekaleng soda yang ditawarkan Woobin. “Oh my God! Baby Hen, kau benar!”

“MinAh, MinAh!” ujar HyunAh mengejar MinAh menuju ruang bersantai. “Coba lihat coba lihat!” Ujar HyunAh menunjuk ke arah tangan kiri Woobin. “Dan Jihyo, lihat!”

“Mereka tidak sedang mengerjai kita kan?” MinAh mengerenyitkan dahinya.

“Aku juga curiga sih. Tapi kalau mereka sedang mengerjai kita, mana mungkin Woobin memberika kita clue seperti itu?” Tanya HyunAh.

“Ah, benar juga. Itu terlalu ceroboh untuk rencana duo evil itu,” gumam MinAh.

“Ada apa?” Eric bergabung di sofa bersama MinAh dan HyunAh.

“Oppa, kau tidak lihat ada yang aneh dari Jihyo dan Woobin?” Tanya MinAh.

“Oh itu, pasti Jihyo sudah memberitahu ke Woobin kalau kita mau memberikan kejutan ke Woobin. Makanya Woobin berakting pura-pura terkejut,” jelas Eric sambil menyuapkan cake ke mulutnyam

“Anniya, bukan itu,” MinAh memukul pelan lengan Eric. “Eh, tapi memangnya itu juga?”

“Ne. Aku begini-begini juga aktor juga, tau!” Eric menyentil dahi MinAh. “Jadi apa maksudnya?”

“Itu loh, cincin di jari manis Woobin dan Jihyo,” bisik MinAh. “Apa menurutmu mereka berdua benar-benar?”

“Kim Hyunjoong!” Teriak Eric begitu mendengar kata terakhir yang diucapkan MinAh. Eric tidak pernah mengucapkan nama asli Woobin, kecuali di saat Eric berbicara sangat serius dengan Woobin.

“Ne, hyung?,” Woobin keluar dari dapur terburu-buru, bertukar pandang dengan HyunAh dan MinAh mencari tahu ada apa dengan Eric.

“Duduk,” suara Eric menggema ke seluruh ruangan dorm Super Girls, memancing Jihyo yang sejak tadi menemangi Woobin di dapur, Hyejin dan Kyuhyun yang berada di dalam kamar, Henry dan Donghae yang sedang bermain PS4, serta Hamun yang sedang berkutat dengan tugasnya ikut berkumpul melihat apa yang terjadi.

“Jihyo,” Eric menggerakkan tangannya menunjuk Jihyo dan mengarahkannya untuk duduk di samping sang namja tertua di ruangan tersebut. “Kemari.”

Jihyo menurut duduk di samping Eric. “Oppa, waeyo?”

“Tangan,” Eric mengambil tangan kanan Jihyo lalu mengangkatnya agar bisa dilihat dengan jelas oleh para member Super Girls dan para namja.

“Ya! Choi Jihyo! Kenapa kau memakai cincin di jari manismu?” Kyuhyun terbelalak syok. “Andwae, andwae! Kau tidak boleh menikah duluan sebelum aku dan Hyejin!”

“Cho Kyuhyun! Kau ini! Jihyo, kau tidak mengerjai kami kan? Selidik Hyejin.

“Apa sih oppa, onnie? Menikah? Siapa yang mau menikah?” tanya Jihyo menarik tangannya dari Eric.

“Mmh, kurasa karena cincin itu onnie. Ah, oppa juga memakainya!” Seru Hamun.

“Ya! Kim Woobin! Siapa kau yang berani melamar dongsaengku ini, hah?” Kyuhyun refleks menjambak rambut Woobin karena kesal hingga Donghae dan Henry harus melerainya.

“Aduh sakit, hyung!” Teriak Woobin.

“Lepaskan aku! Jangan tahan aku untuk memberi pelajaran ke anak tengil ini!” Seru Kyuhyun.

“Hyung, aku bukan Woobin, jangan jambak aku!” Henry terisak karena jadi korban salah jambak.

“Kyuhyun! Aw! Jangan injak kakiku!” Kini Donghae ikut berteriak karena Kyuhyun yang semakin heboh menjambak Woobin.

“Aku yang tertua di sini, seharusnya aku yang menikah duluan, huh,” Eric memijit dahinya melihat tingkah para dongsaengnya. “Aku tidak mengerti mengapa mereka ingin menikah muda, cckcck.”

“Iiiiih, hentikan hentikan!” Jihyo menyelusup di tengah pertengkaran para namja dan menarik Woobin. “Kan kasihan Woobin.”

“Dongsaengi, minggir!” Kyuhyun sudah akan menerkam Woobin namun Jihyo sudah berdiri di depan Woobin.

“Kau mau ku tendang, Hyung oppa?” Ancam Jihyo.

“Siapa yang bilang kalau aku mau menikah dengan Jihyo sih?” Woobin memeluk Jihyo dari belakang. “Aku cuma melamarnya saja kok. Iya kan, Hyonnie?”

“Itu sama saja!” Serempak Eric, MinAh, Kyuhyun, Hyejin, Henry, HyunAh, Donghae, dan Hamun.

“Tidak sama kok,” goda Jihyo. “Iya kan, tuan evil?”

“Benar sekali, nona evil tersayang,” Woobin mengelus kepala Jihyo.

“Mengapa aku merinding melihat mereka berdua bermesraan seperti itu yah?” Henry bergidik ngeri.

“Karena saat mereka seperti itu, biasanya ada ide jahil mengerikan dari kepala mereka berdua,” ujar MinAh.

“Hahaha baiklah, aku hanya mengatakan ke Jihyo apakah dia bersedia untuk mengejutkan Eric hyung, Donghae hyung, Kyuhyun hyung, Henry, MinAh noona, HyunAh, Hyejin, dan Hamun,” ujar Woobin memasang tampang santai seolah tak terjadi apa-apa.

“Lalu aku jawab, aku bersedia,” Jihyo ikut memasang tampang tak tahu menahu. “Memangnya ada yang salah?”

“Tuh kan benar! Mereka memang mengerjai kita,” ujar MinAh mengelus punggung Eric. “Tenang sayang, kau masih punya kesempatan untuk menikah duluan.”

“Tentu saja aku dan kau harus menikah duluan, kita yang paling tua di sini, aish,” Eric bangkit dari duduk dan menghampiri Woobin dan Jihyo, menjewer telinga mereka “Dua anak ini paling bisa membuat orang jantungan, tau!”

“Ah sudah, aku mau lanjut mengerjakan tugas,” gumam Hamun kembali ke kamarnya.

“Hamun-ah, jadi kapan kira-kira aku harus melamarmu? Setelah lulus kuliah?” Tanya Donghae menyusul Hamun.

“Ah, aku jadi ingin menikah juga,” Henry tersenyum pada HyunAh.

“Loh, bukannya kau sudah pernah menikah?” Sindir HyunAh.

“Baby Hyun, jangan begitu. Maafkaan akuuu.”

“Lalu kapan kau mau menerima lamaranku?” Kyuhyun melirik Hyejin.

“Bukannya sudah kuterima?” Hyejin bertanya balik.

“Tapi kau menjawabnya setengah-setengah. ‘Arra arra aku terima, tapi tunggu Joongki oppa selesai wamil dulu’, ‘Ne, aku bersedia, tapi nanti saja kita obrolkan, aku harus bertemu dengan Junsu oppa’. Jawaban apa itu?”

“Berisik kau Cho Kyuhyun! Mau kembali ke kamar atau tidak?” Ancam Hyejin.

“Mau! Kajja!”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Oppa, sepertinya masih banyak piring kotor di meja makan. Tolong ambilkan,” ujar Jihyo sambil mencuci piring sehabis pesta ulang tahun Woobin.

“Aku malas. Mau di sini saja bersamamu,” jawab Woobin mendekap Jihyo.

“Ya! Cepat ambil! Kerjaanku tidak akan selesai kalau begini. Kau mau bergantian mencuci piring apa?” dumel Jihyo.

“Siap laksanakan, calon nyonya Kim!” Jawab Woobin.

Jihyo melanjutkan mencuci gelas dan piring. Namun, ia terkejut saat ada sesuatu yang menabrak kakinya.

“Mobil-mobilan siapa ini?” Jihyo meraih mainan yang menabrak kakinya dan melihat ada gulungan kertas yang terikat di badan mobil.

Dear Choi Jihyo,

Terima kasih sudah memberikan 100 persen cintamu kepadaku.

Terima kasih sudah selalu menjagaku dan melindungiku.

Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya meskipun aku tidak perhatian seperti Sungmin hyung, tidak tampan seperti Seunghyun hyung, dan tidak modis seperti Key.

Sekarang, biarkan aku selalu berada di sampingmu untuk selamanya.

Maukah kau menikah denganku?

Ps : tentu saja kita baru akan menikah setelah random couple dan animal couple menikah. Sulit sekali mendapatkan restu dari oppadeul dan onniedeulmu😦

Jihyo tertawa membacanya. Ia melihat ada satu mobil-mobilan lagi meluncur menuju dapur. Kali ini ada plastik kecil yang terlilit dan secarik kertas.

Aku hampir lupa, karena melamarmu dengan cincin tidak berhasil karena ketahuan oleh para member Super Girls dan namjadeul. Jadi sebagai gantinya, aku memberikan gelang ini. Tenang, gelang ini lebih mahal daripada cincinnya, hahaha.

“Kim Woobin, kau benar-benar ajaib,” gumam Jihyo.