Woobin bisa melihat dari sudut matanya yeoja itu lagi. Ia duduk di barisan paling depan penonton, untuk kesekian kalinya datang ke acara recital cello.

Ia tak bisa mengerti mengapa yeoja itu tidak pernah menyerah, selalu datang kembali dan kembali, menikmati melodi yang bahkan tidak ditujukan kepadanya.

Woobin mengenal yeoja itu saat pertama kali ia datang ke kota ini, saat ia putus asa dan melarikan diri dari kisah cintanya yang luluh lantah diantara kisah gemilangnya sebagai pemain cello.

Annyeong Woobin oppa. Hari ini americano lagi?” Ujar Jihyo menyambut Woobin di depan kasir.

“Uh, annyeong Jihyo. Aku akan memesan espreso saja,” ujar Woobin memberikan uang ke Jihyo.

“Baiklah, nanti akan aku antar,” seru Jihyo dengan riang.

“Tunggu,” Woobin menahan Jihyo. “Biar waitres yang lain yang mengantar. Aku sedang tidak mau diganggu.”

“Oh,” ekspresi wajah Jihyo berubah. “Baiklah, silahkan duduk.”

Woobin berjalan menuju spot favoritnya di dekat jendela. Ia melihat dari kejauhan sang anak pemilik kedai kopi itu masih dengan semangat melayani kostumer lain. Namun ada sedikit kesedihan di ujung matanya yang bahkan Woobin bingung mengapa ia bisa melihatnya.

Ia bukannya tidak menyukai yeoja itu. Dialah yeoja yang bisa menarik Woobin kembali ke dunia nyata. Yeoja yang menambahkan nada-nada indah di setiap permainan celo Woobin. Namun untuk Woobin, Jihyo tak akan pernah bisa menggantikan cinta pertamanya.

Semua penonton berdiri dan bertepuk tangan ketika permainan Woobin usai, tak terkecuali Jihyo. Woobin sudah memerintahkan matanya untuk tidak menatap Jihyo, namun tak bisa. Jihyo terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna biru tua. Namun matanya terlihat sembab, dan ekspresinya menunjukkan kesedihan.

+++

Woobin terdistraksi dari lamunannya saat mendengar tawa khas yang datang dari pintu masuk kedai kopi. Jihyo tertawa lepas sambil menarik tangan seorang namja.

“Eomma, appa! Coba lihat siapa yang aku bawa!” Teriak Jihyo memanggil eomma dan appanya.

Namja itu tersenyum dan menutup mulut Jihyo dengan tangannya yang terbebas, sambil menarik tubuh Jihyo lebih dekat dengannya dan membisikkan sesuatu di telinga Jihyo.

Tubuh Woobin refleks beranjak dari tempat duduknya. Untungnya otaknya masih bekerja dengan cepat untuk tidak menghampiri Jihyo dan namja itu.

“Nona Choi, Tuan Choi dan Nyonya Choi sedang keluar,” ujar salah satu waitress.

“Ah tidak asik,” Jihyo menghentakkan kakinya dan memasang wajah cemberut. Ini baru pertama kali Woobin melihat yeoja itu bersikap kekanakan di depan namja lain, yang entah mengapa membuat hatinya marah.

“Sudah sudah, bukankah aku bisa bertemu dengan ahjussi dan ahjumma lain kali?” Namja itu mengelus kepala Jihyo. “Aku akan menetap kembali di sini, anak kecil.”

“Appa dan eomma harus tau jika kau pulang, Seunghyun oppa!” rajuk Jihyo. “Huh, semenjak kau dan orangtuamu pindah, eomma selalu mengeluh mengapa kau harus meninggalkan kota ini. Eomma lebih suka kau jadi anaknya daripada aku. Setiap aku membangkang, eomma pasti akan membanding-bandingkan aku dengan kau. Bagaimana bisa aku dibandingkan dengan anak tetangga?”

Namja bernama Seunghyun itu meletakkan tangannya di pundak Jihyo. “Sudah anak kecilku tersayang, ayo bertemu dengan appa dan eommaku!”

“Jinjja? Kajja!” seru Jihyo. Ia tak sengaja berpandangan dengan Woobin yang sejak tadi tak diperhatikannya.

Woobin bisa melihat ekspresi terkejut Jihyo saat menyadari kehadirannya, namun Jihyo tersenyum kepadanya kembali seolah tak terjadi apa-apa.

Memang tak terjadi apa-apa diantara Jihyo dan Woobin. Namun terjadi apa-apa di diri Woobin, yang bahkan Woobin sendiri tak tau mengapa ia merasa marah seperti ini.

+++

“Annyeonghaseyo, Woobin oppa,” ujar Jihyo perlahan membuka pintu ruang ganti Woobin setelah recital.

“Oh, Jihyo,” Woobin tak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat Jihyo ada di depannya, sedekat ini. Sudah lebih dari 6 bulan Woobin memutuskan untuk tak pernah datang kembali ke kedai kopi milik keluarga Jihyo. Dan selama itu, hanya Jihyo saja yang bersikeras untuk melihatnya saat pertunjukan musiknya seperti tadi, meskipun dari jauh.

“Ini, americano kesukaanmu,” Jihyo menyodorkan satu tumblr berisi minuman yang selalu dipesan Woobin saat di kedai kopi. “Maaf sudah dingin, tadinya aku ingin menyerahkan sebelum pertunjukan dimulai.”

“Gomawo,” ujar Woobin kikuk mengambil tumblr dari tangan Jihyo. Tak sengaja jari jemarinya menyentuh jari jemari Jihyo. Jihyo refleks menarik tangannya.

Tak ada lagi yang diucapkan Jihyo dari mulutnya, yang terdengar hanya helaan napas berulang kali.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Woobin memecah kesunyian.

“Baik-baik saja. Bagaimana dengan oppa?”

“Aku,” rasanya lidah Woobin kelu tak bisa menjawab. “Aku baik-baik saja.”

“Oh,” Jihyo memutar cincin di jari manis kirinya. Woobin menyadarinya tak berapa lama, serasa ada batu besar yang menimpa pundaknya.

“Dia melamarmu?” Suara Woobin tiba-tiba menjadi serak.

Jihyo mengangguk. “Kemarin malam. Namun Seunghyun oppa belum melamarku secara resmi di depan appa dan eomma. Rencananya malam ini oppa akan menemui orangtuaku.”

Woobin tidak bisa berkata apa-apa. Ia menjadi tidak yakin saat ini. Bukan Jihyo yang selama ini ia cari. Bukan Jihyo pula yang ia yakini akan menjadi pendamping hidupnya. Namun, mengapa rasanya ia ingin sekali melepas cincin itu dari jari manis Jihyo dan mendekap yeoja di hadapannya agar tidak pernah pergi dari hadapannya.

“Oppa,” Jihyo terlihat ragu-ragu. “Waeyo?”

Woobin menggeleng. “Chukkae.”

Jihyo memaksakan senyumnya. “Kalau begitu aku pulang dulu.” Dan berbalik meninggalkan Woobin sendirian di ruang ganti.

“Tunggu, Jihyo!” Woobin menyadari sesuatu hal saat Jihyo menghilang dari pandangannya. Jihyo yang selama ini menghapuskan semua lukanya. Yeoja itu pula yang menjadi inspirasi setiap alunan musiknya. Selama ini egonya menguasai diri Woobin, mengatakan bahwa ia tak akan pernah membutuhkan yeoja itu.

“Sudah bertemu dengannya?” Suara namja menghentikan langkah Woobin. Dengan cepat Woobin bersembunyi di balik pilar.

Jihyo tidak menjawab, Woobin bisa mendengar isakan tangis yeoja itu. Ia mengintip dari balik pilar, Jihyo terisak di pelukan Seunghyun.

“Aku sudah mengatakannya,” ujar Jihyo terisak. “Dia tak mencegahku, oppa.”

Seunghyun mempererat pelukannya. “Mianhae, Hyonnie. Kita tidak perlu bertemu dengan orangtuamu malam ini.”

“Tidak,” Jihyo menghapus airmatanya. “Aku yang harus meminta maaf padamu karena telah meminta kesempatan untuk bertemu dengan Woobin oppa. Aku bodoh karena berpikir dia mencintaiku juga.”

Woobin berusaha menggerakkan kakinya, namun tak bisa seperti terpaku di lantai. Airmatanya mengalir, bagaimana bisa selama ini ia menyakiti Jihyo.

“Aku bisa membatalkan semuanya jika kau tidak mau. Aku tidak akan menikahimu jika kau tidak mencintaiku, anak kecil,” lanjut Seunghyun mengelus rambut Jihyo.

“Tidak, tidak. Aku sudah berjanji kepadamu aku akan belajar mencintaimu sepenuh hati jika Woobin oppa tidak mencintaiku. Aku sudah berjanji, oppa. Kumohon bantu aku oppa.”

Woobin melihat Seunghyun dan Jihyo masuk ke dalam mobil, sekuat tenaga ia berusaha mengejar mobil itu, namun percuma. Jihyo sudah pergi, dan tak akan pernah kembali untuknya.