Annyeong yeorobun! Kali ini author kembali lagi dengan seri lepas. Kali ini tentang miss evil Choi Jihyo yang gangguin para couple lain, hehe.

Terima kasih sudah membaca ff dari author dan jangan lupa komen😀

Eric memencet tombol pengaman pintu apartemennya dan membuka pintu. Aneh sekali melihat seluruh lampu ruangan apartemennya menyala dan menemukan seorang yeoja berambut biru tua duduk menonton televisi.

“Annyeong, Eric oppa,” seru Jihyo sambil menyendokkan es krim ke mulutnya.

“Hey,” Eric bergabung dengan Jihyo duduk di sofa. “Kapan kau mengganti warna rambutmu?”

“Tadi pagi, hahaha. Keren kan?” Jihyo menyibakkan rambut panjangnya hingga mengenai wajah Eric.

“Ya! Choi Jihyo!” Seru Eric menjitak kepala Jihyo. “Kau sudah makan belum?”

“Sudah, hehe. Tadi aku masak di dapurmu. Tidak apa-apa kan yah?” Jihyo menyengir tanpa rasa berdosa, meskipun Eric tau pasti keadaan dapurnya akan lebih mirip kapal pecah.

“Yah, mau bagaimana lagi. Aku yang memberikanmu nomer pin pintu apartemenku,” ujar Eric masuk ke kamarnya.

“Eh, MinAh onnie mana, oppa?” Teriak Jihyo.

“Biasa, shopping. Tadi aku tinggal karena ia lama sekali. Bayangkan, dia hanya membandingkan 2 tas dalam waktu 1 jam,” Ujar Eric keluar sambil memasang kaosnya. “Bisa tidak kau ingatkan onniemu untuk mengerem kebiasaan belanjanya saat aku di LA nanti?”

“Hahaha, aku bisa dikurung olehnya jika aku mengingatkan MinAh onnie untuk mengerem belanjanya,” Jihyo menghela napas amat panjang.

“Aku pulang,” MinAh datang dengan 6 kantung belanjaan di tangan kanan dan kirinya. “Ah, Jihyonnie!”

“Annyeong, onnie!” Cengir Jihyo sambil mengangkat tangannya. “Oiya, silahkan jika kalian mau masuk ke kamar. Aku ditinggal saja, hehe. Kau tau kan, aku tinggal memasang ear plug di telingaku dan aku tidak akan dengar apa-apa, hihi.”

MinAh langsung menjewer telinga Jihyo. “Anak ini benar-benar. Memangnya kami animal couple? Dasar kau ini memang mirip sekali dengan Woo-, ah sudahlah,” cerocos MinAh sambil masuk ke kamar.

“Tuh kan, langsung masuk ke kamar. Kenapa jadi aku yang dijewer sih?” Adu Jihyo kepada Eric.

“Kau yang lebih lama mengenal sifat onniemu,” Eric kembali duduk di samping Jihyo dan menyodorkan sekaleng bir. “Kau sudah cukup umur kan? Temani aku minum.”

Jihyo mengangguk dan membuka kaleng bir kemudian menghabiskan dalam sekali tenggak.

“Ya! Ya! Choi Jihyo. Kau kan tidak kuat minum. Jangan dihabiskan semuanya,” ujar Eric mengingatkan. “Jangan seperti itu, Jihyo. Ceritalah evil magnae.”

“Oppa,” kini suara Jihyo berubah menjadi serius. “Kau kan tau aku bagaimana.”

“Tentu saja kami tau dirimu, nona Choi,” celetuk MinAh dari dalam kamar. “Itulah mengapa kami mencemaskanmu. Kau bukan tipe orang yang menceritakan masalah seriusmu bahkan kepada orang terdekatmu. Kami sangat tau dirimu, evil magnae.”

“Arra, arra, MinAh onnieku tersayang. Aku tidak akan membuat kalian cemas. Aku hanya menagih janji kalian untuk meminjamkan apartemen Eric oppa disaat aku membutuhkan,” ujar Jihyo.

Eric hanya mengangguk.

“I need my last fortress. Please,” Jihyo memasang puppy eyes memohon kepada Eric.

“Okay, just for this case. Evil magnae, I believe he can find you. He will know,” Eric menghela napas panjang. Ia selalu berpikir kapan sang nona evil bisa bersikap sangat serius, namun ia tidak berharap dalam keadaan seperti ini.

“Well, at least he doesn’t know about the password. Without those numbers, he can’t reach me, oppa,” ujar Jihyo sambil berlari ke dapur, tak lama kemudian membawa senampan kue berwarna hitam.

“Sebenarnya tadi aku mencoba membuat kue brownies, tapi jadinya begini. Luarnya memang tidak bagus sih, tapi dalamnya enak kok oppa. Mau?” Tanya Jihyo sambil memotongkan kue brownies buatannya untuk Eric.

“Aku tidak mau keracunan karenamu, Hyonnie,” jawab Eric dengan cepat.

“Ya! Aku kan sudah susah-susah membuatnya! Makan oppa, makan!” Bentak Jihyo.

“Ya! Choi Jihyo! Jangan membentak orang yang lebih tua darimu!” Eric mencubit lengan Jihyo.

“Awww! Onnie! Aku dianiaya Eric oppa,” teriak Jihyo berlari menuju kamar Eric diikuti Eric.

“Ya ampun, apa-apaan sih kalian berdua kejar-kejaran di dalam apartemen? Oppa, kau sudah tua, ingat umur,” omel MinAh.

“Onnie, aku dianiaya Eric oppa,” adu Jihyo sambil bersembunyi di balik MinAh.

“Choi Jihyo, aku hanya mencubitmu,” balas Eric sambit memijit dahinya. “Mengapa aku harus bertengkar dengan bocah ini sih?”

“Oppa, sudah jangan marahi Jihyo terus. Ayo minta maaf,” perintah MinAh.

“Mengapa jadi aku yang harus minta maaf?” Tanya Eric kesal.

“Karena kau yang lebih tua, jagi. Berikan contoh yang baik untuk evil magnae,” MinAh memasang senyum mengancam. “Lagipula Jihyo sedang sedih, biarkan dia senang.”

“Aku sudah meminjamkan apartemenku untuknya, jagi,” balas Eric tidak mau kalah.

“Onnie, kalau Eric oppa tidak mau meminta maaf padaku, hukum saja. Minta kartu kredit oppa selama pergi ke LA,” gumam Jihyo dari belakang MinAh.

“Ya! Choi Jihyo!” Eric berusaha menggapai Jihyo, namun terhalang MinAh yang sekuat tenaga melindungi dongsaengnya.

“Ide bagus, Hyonnie. Dompetnya ada di kamar. Ayo, kita ambil kartu kreditnya, aku tau pin nya, hahaha,” ujar MinAh dengan secepat kilat menutup pintu kamar.

“MinAh, Jihyo! Jangan lakukan itu padaku! Aku minta maaf! Ya! Kalian berdua! Cepat keluar dari kamarku!” Amuk Eric menggedor kamar.