“Hai, sayang,” sapa Donghae begitu Hamun membuka pintu dorm SG untuk pria kesayangannya.

Hamun langsung memeluk dan mencium pipi Donghae. Sudah 5 hari ia tidak bertemu Donghae karena pria itu harus syuting CF diluar negeri. Hamun mengajak pria itu masuk. Donghae langsung duduk di ruang tamu sedangkan Hamun membuatkan hot chocolate untuk Donghae.

“Kemana eonnidulmu, sayang?” tanya Donghae saat menyadari kalau dorm itu sangat sunyi.

Hamun memberikan hot chocolate itu pada Donghae. Pria itu tersenyum lalu menepuk-nepuk sova, seakan ia menyuruh kekasihnya itu untuk duduk di sampingnya. Hamun tersenyum dan menurut. Donghae mengalungkan tangan kirinya di pundak Hamun lalu gadis itu pun memeluk pinggang Donghae. “Eonnidul pergi menemui kekasih mereka masing-masing. Sepertinya malam ini aku akan sendirian di dorm,” jawab Hamun.

Donghae mencium puncak kepala Hamun. “Kalau begitu, aku akan menemanimu,” katanya. “Kau sedang belajar?” tanya Donghae yang melihat laptop Hamun menyala di depannya ditemani dengan tumpukan buku kuliah Hamun.

Hamun tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. “Besok ada kuis,” jawabnya. Hamun mengeratkan pelukannya selama beberapa saat lalu melepaskannya. “Recharge selesai. Aku akan belajar lagi,” kata Hamun.

Hamun hendak kembali belajar namun Donghae menahan kepergiaannya. Ia memegang kepala Hamun dengan kedua tangannya lalu mencium bibir gadis itu. “Recharge untukku,” ujar Donghae. Donghae tertawa saat mendapati kekasihnya tersenyum malu-malu dengan wajah yang merona.

Donghae mencubit hidung Hamun. “Hei, kenapa malu-malu seperti itu? Ini bukan ciuman pertama kita, sayang,” candanya.

“Aish, jangan diperjelas, oppa. Sudah, aku mau belajar dulu,” ujar Hamun. Ia mengambil laptopnya dan kembali membaca bahan untuk kuis besok, sedangkan Donghae terdiam sambil menonton TV. Sesekali ia menatap Hamun yang duduk di sebelahnya.

“Hamun, bagaimana kalau kita menikah dalam waktu dekat?” tanya Donghae tiba-tiba yang membuat Hamun tidak lagi menatap laptopnya, kini ia menatap heran pria di sebelahnya.

“Yaa, oppa, jangan bercanda,” ujar Hamun sambil tersenyum.

“Aku serius, Hamun,” jelas Donghae. Senyum Hamun menghilang saat ia melihat keseriusan pria itu. “Kalau kau menikah denganku, kau tak perlu belajar susah-susah seperti ini. Kau tak perlu menghabiskan tenagamu untuk kerja dan belajar. Tabunganku sangat cukup untuk membiayaimu,”

“Oppa, aku tidak akan menikah sampai beberapa tahun kedepan. Masih banyak hal yang ingin aku capai, oppa. Lagipula, aku tidak mau menjadi perempuan yang merepotkanmu, selalu bergantung padamu. Aku juga ingin mandiri,” ujar Hamun. Ia bahkan sudah menutup laptopnya dan menatap lekat kekasihnya itu.

“Kenapa kau tidak mau bergantung padaku, Hamun? Kau tidak percaya kalau aku mampu mencukupimu setelah kita menikah nanti? Aku khawatir kau akan sakit kalau tiap hari kau kurang tidur karena belajar dan bekerja,” ujar Donghae dengan intonasi yang semakin tinggi.

“Oppa, bukan begitu. Aku tidak-”

Donghae mengalihkan pandangannya dari Hamun. Ia menghela nafas panjang. “Mianhe, Hamun. Kau belajar saja. Aku ingin tidur,” ujarnya. Donghae pindah ke sova yang lain agar ia dapat meluruskan badannya.

“Oppa, kau marah padaku?” tanya Hamun.

“Ani,” jawab Donghae singkat tanpa memandang Hamun.

“Kau bohong, kau tidak menatapku,” kata Hamun, tapi Donghae tidak menjawab. Hamun tidak bisa mengabaikan perasaan khawatirnya. Ia mencoba belajar, namun pikirannya terusik oleh Donghae.

Hamun mengambil selimutnya. Ia menyelimuti tubuh pria itu. “Mianhe, saranghae,” bisik Hamun di telinga Donghae, lalu ia mencium pipi kekasihnya.

Sudah tiga hari hubungan Hamun dan Donghae terasa dingin. Hamun sering menanyakan kabar Donghae, namun pria itu hanya menjawabnya dengan singkat. Hamun juga sesekali mengunjungi Donghae, akan tetapi mereka tidak banyak bicara.

“Kalian kenapa?” tanya Siwon saat Hamun datang ke practice room Super Junior. “Semua member juga bertanya-tanya,”

“Kalau Kyuhyun oppa dan Hyejin eonni diam-diaman kalian tidak pernah bertanya,”

“Itu karena kami sudah terbiasa. Jangan mengalihkan pembicaraan, kalian kenapa?”

“Aku membuat Donghae oppa marah,” jawab Hamun dengan lesu. “Aku sudah minta maaf tapi Donghae oppa bilang, ia tidak marah padaku. Padahal dari tingkah lakunya, aku tahu ia masih marah padaku,”

“Memangnya ada apa?” tanya Siwon.

“Aku menolak saat Donghae oppa mengajakku menikah,” jawab Hamun. Siwon sangat kaget mendengar hal itu, namun ia berusaha mengontrol ekspresinya.

“Kurasa Donghae hanya takut kehilanganmu karena kau menolaknya. Ia takut, mungkin suatu saat perasaanmu akan berubah,” kata Siwon.

“Oppa, kau tahu, kan? Aku hanya menyayanginya,” timpal Hamun.

“Aku tahu. Karena itu, kau harus meyakinkan Donghae lagi mengenai perasaanmu padanya,” jelas Siwon.

“Oppa, apa kau tahu caranya?” tanya Hamun.

Siwon tersenyum lalu mengacak rambut Hamun. “Aku hanya akan membantu sampai sini. Selanjutnya, aku percaya dengan idemu. Jangan menuruti ide-ide dari Hyejin, Minah, Hyunah, atau Jihyo. Membayangkan kau hanya memakai kemeja Donghae lalu menggoda Donghae.. Oh my God,” ujar Siwon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan berusaha menghapus pikiran yang baru terlintas dibenaknya.

“Yaa, oppa! Bagaimana kau tahu ide eonnidul itu?” tanya Hamun heran sambil berusaha mengontrol wajahnya yang sudah merah merona.

“Aku tidak sengaja mendengar Kyuhyun menggoda Donghae seperti itu. Dasar, kau sudah dewasa rupanya,” ujar Siwon sambil mencubit pipi Hamun.

Tiba-tiba seseorang memeluk Hamun dari belakang dan melepaskan tangan Siwon tadi. “Jangan lama-lama mencubit pipi Hamun,” ujarnya.

Siwon tersenyum pada temannya itu. “Cemburu? Makanya, jangan lama-lama marah pada Hamun. Kau juga, jangan khawatir pada perasaan Hamun. Arra? Bye,” pamitnya.

Pria itu melepaskan pelukannya. Hamun memutar tubuhnya untuk menatap pria yang ia sayangi. “Sudah mau pulang?” tanya Hamun.

“Hm, kajja,” ajak Donghae. Ia berjalan lebih dulu di depan Hamun. Hamun hanya bisa menatap punggung itu dengan sedih sambil memikirkan apa yang Siwon katakan tadi. Ia tahu benar kalau untuk masalah ini ia tidak bisa bertanya pada Hyejin eonni, Minah eonni, Hyunah eonni, ataupun Jihyo eonni.

Kang Hamun: Donghae oppa, mianhe, oppa sudah selesai syuting, kan? Bisa tolong jemput aku di gereja? Aku terpaksa pulang malam karena ada yang harus kubereskan tadi. Aku lupa bawa dompet, jadi tidak bisa naik taksi

Lee Donghae: Aku jemput sekarang

Donghae segera memutar arah mobilnya untuk menjemput Hamun. Setelah ia tiba, ia tidak menemukan Hamun di depan gereja. Karena smartphonenya yang sudah kehabisan baterai, Donghae turun dari mobilnya dan masuk ke dalam gereja untuk memanggil Hamun.

Akan tetapi, Donghae tidak menemukan Hamun di dalam gereja. “Hamun ah,” panggil Donghae. Ia bahkan sudah berjalan sampai di depan altar namun Hamun tetap tidak ada. Ia mulai merasa khawatir. Tiba-tiba ia mendengar suara musik. Instrumen lagu The Prayer yang dinyanyikan Celine Dion, salah satu lagu kesukaan Donghae.

Kini, pintu gereja terbuka dengan sendirinya. Donghae tercengang melihat wanita yang berdiri diambang pintu itu. Ia melihat Hamun, sangat cantik dengan dress putih seperti milik Bella dalam film Breaking Dawn dan buket bunga ditangannya. Gadis itu tersenyum pada Donghae sambil melangkah maju menuju tempat Donghae berdiri sekarang, sedangkan pria itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hamun.

Begitu Hamun sampai di samping Donghae, ia menghadap pria itu lalu menggenggam kedua tangan Donghae sambil tersenyum padanya. “I-ige mwoya, Kang Hamun?” tanya Donghae. Ia bingung, namun perasaan gugup lebih mendominasi. Menurutnya, Hamun sangat cantik dan membuat pikirannya kacau.

“Karena aku tidak bisa menikah dengan oppa dalam waktu dekat, anggap saja kita latihan untuk pernikahan yang sesungguhnya kelak. Sekaligus, ini permintaan maafku karena sudah menolak lamaran oppa,” jelas Hamun sambil tersenyum. Donghae masih terdiam, belum bisa berkata apa-apa.

“Aku Kang Hamun,” seru Hamun sehingga suaranya menggema di dalam gereja ini. Donghae menatap Hamun,  menanti kelanjutannya. “Aku mencintai Lee Donghae dengan segenap hatiku dalam suka dan duka. Aku tidak bisa menikah dalam waktu dekat, tapi aku berjanji suatu saat nanti aku akan menikah dengan Lee Donghae. Hanya Lee Donghae. Kalau suatu saat Lee Donghae bosan denganku dan memutuskanku, aku lebih memilih untuk hidup selibat,”

“Hamun, jangan berkata seperti itu,” ujar Donghae yang merasa bersalah mendengar ucapan Hamun itu. Ia merasa bodoh karena sudah meragukan perasaan Hamun.

“Kalau begitu, jangan tinggalkan aku,” pinta Hamun sambil tersenyum. Senyum yang membuat keraguan Donghae hilang. Hamun menatap Donghae, seakan menunggu pria itu mengucapkan janjinya.

Donghae tersenyum pada Hamun. “Aku Lee Donghae. Aku mencintai Kang Hamun dengan segenap hatiku dalam suka maupun duka. Aku janji tidak akan pernah meragukan perasaan Kang Hamun lagi. Aku janji akan selalu mencintai Kang Hamun dan tidak akan meninggalkannya. Aku hanya akan menikah dengan Kang Hamun karena aku hanya bisa mencintainya,” ujarnya. Hamun tersenyum bahagia mendengar hal itu.

“Waktunya pasang cincin,” ujar Hamun sembari ia mengambil kotak cincin yang sudah ia siapkan di meja altar. Ia mengisyaratkan agar Donghae memasangkan cincin untuk Hamun terlebih dulu. “Mianhe, oppa. Aku tak bisa membeli cincin yang mahal,” ujar Hamun merasa bersalah saat Donghae memakaikan cincin Hamun.

Donghae tersenyum lalu mengulurkan tangannya, kini giliran Hamun yang hendak memakaikan cincin di tangan Donghae. “O-oppa, ottokaji? Cincinnya terlalu besar dijari oppa,” ujar Hamun. Donghae bisa melihat Hamun menjadi sangat sedih sekarang.

“Gwencana, Hamun,” ujar Donghae menenangkan Hamun.

“Padahal aku ingin memberikan kejutan padamu. Kenapa tidak berjalan lancar? Aish,” runtuk Hamun yang tak bisa menyembunyikan rasa kesal dan kesedihannya.

Donghae oppa menengadahkan wajah Hamun lalu mencium kening kekasihnya itu. “Tunggu sebentar disini,” kata Donghae. Ia segera berlari menuju mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana.

Saat Donghae kembali, ia melihat Hamun sudah terduduk lemas di bangku paling depan. Ia berjalan menghampiri Hamun sambil menyembunyikan salah satu benda yang ia bawa dibalik punggungnya.

“Kalau cincinnya aku jadikan kalung seperti ini bagaimana?” tanya Donghae. Di mobil tadi ia mengambil kalung yang tak sengaja ia bawa setelah syuting tadi. Ia mengganti liontin kalung itu dengan cincin yang Hamun berikan tadi. “Dengan begini, aku tak akan kehilangan cincin ini,”

Hamun tersenyum mendengar ide kekasihnya itu. Donghae memberikan kalung itu pada Hamun dan memintanya untuk memasangkan kalung tersebut.

“Nomu saranghae,” ujar Hamun sambil mengelus pipi Donghae.

Donghae menggenggam tangan Hamun yang ada dipipinya tadi. “Sebenarnya, hari ini aku juga berencana meminta maaf padamu. Aku sudah meragukan perasaanmu dan menjadi egois. Aku tidak menanyakan pendapatmu dan tidak berusaha memahamimu. Aku bukan kekasih yang baik. Mianhe, Hamun,” kata Donghae.

Hamun menggeleng. “Oppa sadar, mau mengakui, dan mau minta maaf. Menurutku, itu bukti kalau kau adalah pria yang baik. Kita sama-sama belajar, oppa,”

“Kau benar. Ah, aku bahkan sudah menyiapkan sesuatu untukmu,”

“Jeongmal? Apa itu?” tanya Hamun.

“Ternyata sekarang sangat sulit untuk mencari benda ini di sekitar sini,”

“Kau membawa apa, oppa?”

Donghae mengeluarkan benda yang sejak tadi ia sembunyikan. Sebuah cotton candy. “Kau ingat waktu kau trainee dulu, aku memergokimu saat kau makan cotton candy diam-diam, kau bilang padaku kalau rasa sedih dan kesalmu akan hilang jika makan cotton candy karena rasanya yang manis,”

Hamun tertawa kecil. “Aku tak percaya oppa masih mengingat perkataanku itu,” ujarnya. Hamun menggigit cotton candy itu, begitu juga dengan Donghae. Donghae tersenyum saat mencuri lihat Hamun yang sudah tidak sedih lagi.

“Tapi, oppa, aku yang sekarang sudah tidak perlu cotton candy lagi,” ujar Hamun.

“Waeyo?” tanya Donghae tak mengerti.

Hamun tersenyum lalu mencium bibir Donghae singkat. “Karena kau lebih manis dari cotton candy ini. Kesedihan atau rasa kesalku akan hilang hanya dengan melihatmu,”

Donghae tertawa mendengar perkataan Hamun. Hamun juga demikian. Ia hendak kembali mencium Donghae namun pria itu segera menutup bibirnya.

“Waeyo?”

“Yaa, Kang Hamun, jangan menyerangku. Apa kau tak tahu susahnya aku menahan diri? Aku berusaha menjagamu sampai kita menikah nanti. Jangan memancingku,”

Hamun tersenyum. “Mianhe dan gomawo oppa. Tapi aku ingin memelukmu sekarang,” pintanya dengan wajah memelas.

Donghae menghela nafas panjang lalu menarik Hamun dalam pelukannya. “Kau sudah menjadi wanita kejam sekarang, Hamun. Jangan belajar yang aneh-aneh dari eonnidulmu, ya,” ujar Donghae yang kini masih berjuang untuk mengendalikan dirinya.

“Makanan sudah siap,” seru Hyunah dan Henry yang baru selesai memanggang daging. Hari ini Eric menggundang semua member SG dan kekasihnya untuk barbeque party sekaligus berkemah di halaman rumah Eric di Jeju.

Kyuhyun dan Hyejin baru keluar dari rumah Eric sambil membawakan tiga botol wine. “Aku bawakan favoritku,” ujar Kyuhyun. “Aku bawakan yang aku suka juga,” ujar Hyejin.

“Gomawo, Henry-Hyunah,” ujar Eric yang sudah duduk di meja bersama Minah. “Terima kasih, Hyejin-Kyuhyun,” kata Minah.

“Mianhe, kami telat,” seru Jihyo dan Woobin yang berlari menuju halamam rumah itu. “Wah, sepertinya enak sekali,” seru Jihyo. “Aku sudah lapar. Ayo makan,” ajak Woobin.

“Mana Donghae oppa dan Hamun?” tanya Hyunah.

“Mereka tertidur di tenda,” ujar Hyejin. Semua pria dan wanita itu kini sudah beranjak menuju tenda untuk melihat kedua pasangan itu. Hamun tertidur diatas lengan Donghae sambil memeluk erat tubuh pria itu. Tangan Donghae yang lain juga ia gunakan untuk memeluk Hamun.

“Mereka sudah baikan?” tanya Woobin.

“Kurasa sudah,” ujar Minah.

“Sepertinya Donghae oppa tidak bisa tidur nyenyak. Ia pasti berusaha menahan dirinya,” ujar Hyejin sambil tertawa.

“Bagaimana pun, Donghae Hyung pria sejati. Hamun keterlaluan sekali,” kata Kyuhyun.

“Kalian harus mengajari Hamun sesuatu agar Donghae tidak tersiksa,” ujar Eric.

“Siwon oppa mengancamku, ia akan menghukum kita kalau berani mengajarkan yang tidak-tidak pada Hamun,” cerita Jihyo.

“Kalian.. berisik. Aku mendengar semuanya,” ujar Donghae masih setengah sadar. Ia mengeratkan pelukannya pada Hamun dan kembali tidur. Sedangkan teman-temannya itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan itu.

“Himnae, hyung. Perjalanan hyung masih panjang,” kata Henry memberikan semangat yang membuat mereka semua tertawa.

END