Annyeong readers tersayang…
Akhirnya setelah sekian lama author selesai juga mengetik lanjutan si rumus matematika itu. Semoga tidak bosan ya karena ini agak panjang. Huehehehhee. Hope you enjoy. Hope you like it.

Part 0 — 0 (XX+XY)
Part 1 — 1 (XX+XY)

image

XoXo

“Hye, kau benar-benar tidak asiik hari ini. Tidak minum, tidak dansa, bahkan kau tidak menanggapi satu pun laki-laki yang mendekatimu. Demi Tuhan, Song Hyejin. Ini malam minggu! Waktunya kita, para wanita single, bersenang-senang dan mencari teman berkencan!” Teriak MinAh tepat di telinga Hyejin demi mengalahkan volume suara dentuman musik klub yang sedang mereka datangi.

“Aku pusing. Pekerjaanku menumpuk,” sahut Hyejin.

“Biarkan aku mengingatkanmu. Kau sudah 5 hari seminggu mengabdikan diri untuk perusahaanmu. Kau hanya punya 2 hari untuk dirimu sendiri, apa kau mau menyerahkannya juga untuk perusahaan yang tidak seberapa menggajimu?”

Hyejin hanya tersenyum tipis. “Terserah kau sajalah. Aku mau bersenang-senang,” seru MinAh keras setelah mendengus kesal lalu meninggalkan Hyejin dengan pria pemilik klub terkenal di Gangnam ini.

Hyejin menatap layar ponselnya, tidak peduli apa yang sedang dilakukan sahabatnya dengan pria incarannya sejak lama yang tidak kunjung jadi juga. Ada hal yang lebih mengganggunya saat ini dibandingkan pekerjaan.

Cho Kyuhyun
Kenapa kau masih ada di Gangnam tengah malam begini? Kau ke Eden Club?

Hyejin berusaha mengabaikannya namun pesan lain kembali masuk ke ponselnya.

Cho Kyuhyun
Sedang apa kau di Eden? Kau dengan siapa kesana? Kau minum-minum?

Cho Kyuhyun
Yaa Song Hyejin, pulang sekarang atau aku yang akan menyeretmu keluar dari tempat itu.

Hyejin membaca pesan Kyuhyun yang terus mengalir masuk ke dalam ponselnya. Emosi Hyejin sudah naik sampai ke puncak kepalanya.

Me
Kau tidak punya hak mengatur hidupku, tuan Cho. Jadi, diamlah.

Tidak lama sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponsel Hyejin.

Cho Kyuhyun
Aku tidak cukup lelah untuk selalu mengingatkanmu. KAU MASIH ISTRIKU!!!

Cho Kyuhyun
Aku akan menjemputmu sekarang!!!

“Sial,” umpat Hyejin lalu melempar ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan Kyuhyun. Ia sudah kesal setengah mati melihat tingkah Kyuhyun yang semakin lama semakin sok protektif. Gara-gara aplikasi buatan Jonghyun, pria itu dapat dengan mudah melacak keberadaan Hyejin bahkan mengetahui apa yang sedang wanita itu lakukan.

Dalam keremangan, Hyejin menemukan sahabatnya yang sedang berdansa intim dengan pria impiannya. “Kau sudah sadar bahwa yang seharusnya kau lakukan dari tadi adalah berdansa di lantai ini?” Sindir MinAh menyadari kehadiran sahabatnya.

“Diamlah. Kau dansa saja dengan Eric Oppa. Aku hanya akan menikmati permainan DJ sambil minum cocktailku. Aku tidak akan mengganggu,” kata Hyejin yang memang tidak peduli dengan apa yang MinAh lakukan. Hyejin berusaha memfokuskan telinga, mata dan pikirannya pada DJ yang sedang lompat-lompat di depannya.

“Kira-kira apa yang akan terjadi jika aku tidak datang? Apa kau akan di sini sampai jam 4 pagi, nyonya Cho?” Sebuah bisikan keras mengagetkan Hyejin membuat Hyejin segera mengalihkan perhatian kepada pria yang sedang tersenyum lebar kepadanya.

“Cho Kyuhyun. Kau mengagetkanku,” kata Hyejin.

“Oh ya? Maafkan aku kalau begitu. Aku sungguh tidak berniat mengagetkanmu. Aku hanya ingin menjemputmu pulang,” sahut Kyuhyun sambil menarik Hyejin keluar dari keramaian lantai dansa.

“Aku tidak mau. Aku masih ingin di sini,” tolak Hyejin. Ia mengibaskan tangannya sekuat tenaga agar terlepas dari cengkraman Kyuhyun. Namun badan Hyejin langsung terhuyung karena tidak ada yang memegangnya. Dengan sigap, Kyuhyun menangkap tubuh Hyejin dan langsung membawanya pulang.

—-

Ke ruanganku.
PS : I Love You.

Hyejin menghela nafas panjang membaca secarik kertas kecil yang baru dijatuhkan Kyuhyun ke atas mejanya ketika pria itu berjalan melalui Hyejin. Dengan malas, Hyejin bangkit berdiri dari kursinya untuk kemudian memasuki ruangan yang pintu jatinya baru saja tertutup itu. Hyejin mendorong pintu itu tanpa mengetuk lebih dulu, tidak peduli dengan papan emas yang terpasang di sana, bertuliskan :

Marcus Cho
Cho Kyuhyun
President Director

“Ada apa?” Tanya Hyejin dengan galak begitu ia berada di dalam ruangan orang nomor satu Cho Industries. Hyejin tahu ruangan tempat ia berada sekarang kedap suara bahkan anti peluru sehingga Hyejin tidak berniat sedikitpun untuk menurunkan volume suaranya apalagi melemahlembutkan nadanya. Mumpung tidak ada yang melihatnya, ia tidak perlu berpura-pura bersikap manis di depan laki-laki ini.

“Kalau ini masalah aku mabuk tadi malam, kau tidak berhak ikut campur. Aku hanya sedang bersenang-senang.”

Kyuhyun tersenyum senang. Walaupun gadis itu memasang tampang paling garang, ia tetap terlihat menggemaskan, bukan menakutkan. “Easy, darling. Easy. Aku tidak akan memakanmu,” ujar Kyuhyun dengan santai bahkan sambil tertawa. Namun, Hyejin sangat konsisten dengan ekspresi andalannya untuk membuat Kyuhyun takut padanya. Usahanya gagal. Kyuhyun malah tertawa terbahak-bahak.

“Ekspresimu itu mengingatkanku pada malam-malam pertengkaran kita yang selalu berakhir di atas ranjang,” kata Kyuhyun dengan seringaian menggoda dan membuat Hyejin mengubah ekspresi wajahnya, menjadi lebih keras. Hasilnya, Kyuhyun tidak berhenti tersenyum menatapnya.

“Ada apa memanggilku? Kalau tidak ada, aku mau kembali ke kantor,” tanya Hyejin tidak sabar. Ia memang tidak ingin lama-lama berada satu ruangan dengan (mantan) suaminya apalagi ruangan ini satu-satunya ruangan yang tidak dilengkapi CCTV. Kalau Kyuhyun berbuat macam-macam, tidak akan ada yang bisa menolongnya.

“Jangan mendekat!! Jangan coba-coba menyentuhku!!” Seru Hyejin dengan panik ketika Kyuhyun berjalan mendekatinya. Semakin maju langkah Kyuhyun maka Hyejin akan memundurkan langkahnya. Sayang, tembok setebal 10 cm di belakang Hyejin menghentikan upaya Hyejin untuk menjauh dari Kyuhyun. Kyuhyun terus melangkah, memperkecil jarak antara mereka. Imajinasi-imajinasi yang berkeliaran di kepala Hyejin membuat wanita itu semakin panik. “Berhenti! Aku bilang berhenti! Jangan mendekat lagi!” Kali ini Hyejin berteriak.

Kyuhyun berhenti ketika ujung sepatunya menyentuh ujung sepatu Hyejin. Matanya menatap Hyejin yang sudah menempel dengan tembok, seakan berharap tembok itu bisa ditembus. Kyuhyun tertawa geli. “Apa yang kau pikirkan? Aku memperkosamu?” Tanya Kyuhyun menikmati kengerian yang muncul di wajah Hyejin.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Bercinta denganmu adalah salah satu hal terbaik dalam hidupku yang selalu aku rindukan tapi aku tidak pernah memaksa. Iya kan?” Ujar Kyuhyun dengan lembut dan menyadarkan Hyejin bahwa dirinya sudah berpikir terlalu jauh. Dengan gengsinya yang tinggi, Hyejin menegakkan diri seakan siap menantang badai sekalipun. Lupa bahwa ia nyaris saja berharap tembok ruangan Kyuhyun adalah peron 9 3/4 milik Harry Potter.

“Kembali ke pokok permasalahan. Ada apa?” Hyejin setengah membentak.

Tangan Kyuhyun terjulur untuk membetulkan rambut Hyejin yang sedikit berantakan. Hyejin terpikir untuk menyingkir namun ia justru tetap berada di tempatnya, berdiri kaku. “Manajer Kim minta 500 juta won lagi untuk aku masukkan ke bank kalian,” kata Kyuhyun sambil tersenyum. Tangannya masih berada di telinga Hyejin, menyampirkan anak-anak rambut wanita itu ke belakangnya.

“Aku akan segera mengurusnya,” ujar Hyejin dengan mantap. Sebagai private banking officer, ia sudah hafal luar kepala prosedur keluar-masuk uang nasabahnya. Kyuhyun tersenyum, kali ini jahil, dan Hyejin tahu betul ada maksud di balik senyum pria itu. “Kali ini apa yang ia barterkan dengan 500 juta won-mu?” Terakhir kali, demi 500 juta won, Manajer Kim mengeluarkan surat izin pulang cepat untuk Hyejin selama 5 hari kerja berturut-turut sesuai permintaan Kyuhyun. Pria itu ingin Hyejin berada di kantornya sebelum jam 12 siang dan tidak boleh pulang sebelum selesai makan malam. Ia tidak sanggup membayangkan dirinya terus berada di dunia, Cho Industries dan Bank of Korea.

Kyuhyun mencubit pipi Hyejin dengan gemas. Senyum jahilnya tergantikan dengan tawa renyah yang cukup enak untuk didengar. “Kau semakin pintar. Aku minta ia memberikanmu libur 3 hari untuk menemaniku ke Jepang.” Mata Hyejin menyipit mendengar pernyataan Kyuhyun, yang baginya sangat mengerikan. “Well, 2 hari untuk bisnis dan 1 hari untuk kita bersenang-senang,” lanjut Kyuhyun.

“Mwo?”

Kyuhyun melemaskan otot-otot wajahnya agar bisa segera ia bentuk menyerupai ekspresi persuasif yang sangat meyakinkan. “Kau punya waktu 3 hari untuk bersenang-senang. 2 hari tanpaku, kau bisa jalan-jalan atau belanja sepuasnya, dan 1 hari bersamaku dimana aku akan mengikuti kemanapun kau ingin pergi.”

“Aku tidak akan pergi kemanapun.”

“Kalau begitu, 500 juta won-ku tidak akan pergi ke bank-mu. Manajer Kim pasti akan memarahimu. Begitu juga dengan Direktur Park.”

Hyejin menatap kesal pria yang berdiri di depannya yang seperti sedang berada di atas awan. Alis Kyuhyun meninggi seakan berbicara, “Silahkan pilih. Tapi kau tidak punya pilihan.”

“Kenapa kau selalu merepotkanku sih?!”

Kyuhyun menepuk bahu Hyejin dengan lembut. Sumringah puas tercermin jelas dari bibirnya yang sudah berbentuk bulat sabit. “Silahkan urus 500 juta won-ku. Setelah itu, kau boleh kembali ke kantor. Besok aku akan menjemputmu jam 5 pagi. Kita naik pesawat jam 7,” ujar Kyuhyun. Pria itu melihat jam tangannya sebelum kembali menatap Hyejin. “Sudah jam 5 lewat, hampir setengah 6 sore. Saranku, lebih baik kau pulang saja. Istirahat dan siapkan barang-barangmu. Kita tidak boleh terlambat besok.”

Hyejin mengangkat kakinya dengan perlahan dan kemudian menusukkan hak sepatunya dalam-dalam ke ujung sepatu Kyuhyun membuat pria itu berteriak kesakitan. “Yaaaak! Song Hyejin!!!” Hyejin melemparkan sunggingan rasa bersalah yang sama sekali tidak tulus lalu pergi meninggalkan Kyuhyun yang sedang memegang kakinya sambil meringis kesakitan.

Song Hyejin
Manajer Kim, 500 juta won Cho Industries sedang aku proses. Minta tolong untuk dicek di sistem. Kalau sudah masuk, tolong beritahu aku.

Manajer Kim
Done. Terima kasih banyak, Song Hyejin-ssi. Apa kau sudah tahu harga 500 juta won ini?

Song Hyejin
3 hari libur. Apa dipotong dari jatah cutiku?

Manajer Kim
Tentu saja. TIDAK. Kalau aku jadi kau, aku akan keluar dari Bank dan menikah dengan Cho Kyuhyun. Apa kau masih waras?

Song Hyejin
Terima kasih banyak, manajer Kim. Atas liburannya dan juga saran Anda yang tidak masuk akal. Sampai jumpa hari Jumat!

—-

Hyejin menggeret kopernya sampai ke luar rumah yang kemudian diambil alih oleh supir Kyuhyun untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Kyuhyun sendiri sudah menunggunya di pinggir mobil sambil memegang pintu penumpang untuk Hyejin. “Selamat pagi. Silahkan,” sapa Kyuhyun sekaligus menyuruh Hyejin untuk segera masuk ke dalam mobil karena mereka sudah terlambat 45 menit dari waktu perjanjian. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi.

“Kau rapi sekali,” kata Hyejin melihat Kyuhyun yang duduk di sampingnya dengan setelan jas putih gading dan kemeja biru tua tanpa dasi. Dibandingkan dirinya yang hanya memakai jeans dan sweater tipis putih, orang mungkin akan menyangka Hyejin adalah keponakan yang sedang berpergian dengan pamannya. Ditambah lagi dengan sepatu keds dan tas punggung plastik berwarna putih. Seperti langit dan bumi jika disandingkan dengan sepatu dan tas jinjing kulit milik Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum sayu. Matanya terlihat sangat lelah. “Kau cantik,” ucap Kyuhyun menjadi kata-kata terakhir yang didengar Hyejin karena pria itu segera terlelap begitu supirnya tancap gas.

Hyejin berpikir apa Kyuhyun punya sebuah alarm di dalam otaknya yang akan membangunkannya di saat-saat tertentu yang tepat. Seperti, Kyuhyun terbangun saat supirnya memberhentikan mobil di depan pintu terminal keberangkatan. “Sudah sampai. Kajja,” kata Kyuhyun lalu keluar dari mobil. Hyejin melihat Kyuhyun sudah sibuk dengan beberapa pegawainya. Pria itu tidak lebih dulu membukakan pintu untuk Hyejin dan tanpa sebab yang jelas, Hyejin merasa kesal.

Hyejin keluar dari mobil tanpa suara sedikitpun. Bahkan ketika Kyuhyun memberikan tiket pesawat untuknya, Hyejin tidak membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih. Wanita itu malah berjalan lebih dulu sambil menggeret kopernya, meninggalkan Kyuhyun dengan para pegawainya.

“Istri Anda sudah jalan duluan, tuan. Apa tidak masalah?”

Kyuhyun menatap punggung Hyejin yang semakin lama semakin jauh dan hanya bisa tersenyum. Ia tidak cukup kuat untuk mengejarnya. “Biarkan saja. Aku nanti duduk di sebelahnya kan?” Kata Kyuhyun. Salah satu pegawai Kyuhyun yang mengurus tiket menganggukkan kepalanya.

Kyuhyun menyusul Hyejin tidak lama kemudian. Entah langkah Hyejin yang terlalu kecil atau Kyuhyun yang berjalan cepat-cepat sehingga kini keduanya sudah berjalan berdampingan menuju pesawat. “Kenapa meninggalkanku?” Tanya Kyuhyun dengan suara serak.

“Kau bilang kita sudah terlambat. Jadi aku cepat-cepat saja. Tidak tahunya kau masih ngobrol dengan anak buahmu. Harusnya bisa kalian lakukan sambil jalan. Untung barangku masih boleh masuk bagasi,” jawab Hyejin beralasan.

“Maafkan aku,” ucap Kyuhyun. Dengan lemah, ia menunjuk dua kursi yang akan mereka tempati selama kurang lebih satu setengah jam perjalanan ke Jepang. “Kau mau duduk dimana? Dekat jendela atau lorong?”

“Lorong,” jawab Hyejin dan Kyuhyun pun menjatuhkan diri di kursi dekat jendela. Dengan cekatan Kyuhyun memasang sabuk pengamannya lalu memejamkan mata. Kepalanya bertopang pada tangan kirinya yang ditegakkan di atas pegangan tangan kursi. Hyejin menatap Kyuhyun yang menurutnya aneh, tidak banyak bicara sejak pagi. Wajahnya juga terlihat lesu.

“Kyu, kau sakit?” Nalurinya memerintahkan Hyejin untuk berkata seperti itu. Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan pelan. Hyejin memegang kening Kyuhyun dan leher pria itu, merasakan panas tubuhnya. “Kyu, kau sakit. Kau demam. Kau punya obat? Sudah sarapan?” Terdengar kecemasan dalam suara Hyejin.

Kyuhyun tidak banyak bergerak. Hanya kepalanya yang menggeleng lemah. “Kepalaku sakit,” kata Kyuhyun pada akhirnya mengakui.

Hyejin duduk di kursinya dengan sabuk pengaman yang telah terpasang ketat. Dengan hati-hati, ia memindahkan posisi kepala Kyuhyun ke bahu kirinya. Perlahan, Hyejin memijat pelipis Kyuhyun. “Di sini?” Kyuhyun menunjuk bagian belakang kepalanya dan Hyejin memindahkan pijatannya ke daerah itu. “Tidurlah. Begitu pesawat ini take-off, aku akan minta makanan dan obat kepada pramugari. Sampai jepang kita langsung ke dokter. Apa kau mual?” Ujar Hyejin lembut.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil tangannya membimbing tangan Hyejin untuk memijat bagian lain kepalanya yang terasa sakit. Untuk pertama kalinya setelah 8 tahun lebih, Kyuhyun kembali menggenggam tangan Hyejin. Terasa kehangatan yang sudah lama ia rindukan, mengalir dalam tubuhnya. “Gomawo, Hye,” bisik Kyuhyun yang terlelap tidak lama kemudian.

Kyuhyun terbangun tepat ketika roda pesawat menjejakkan diri di landasan bandara Narita-Jepang dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cemberut Hyejin kepadanya yang siap mengomel kepadanya. “Susah sekali membangunkanmu. Kau jadi tidak sarapan dan minum obat kan. Aku tidak mau tahu, kau harus makan ini di mobil,” kata Hyejin menunjuk makanan yang terbungkus rapi di pangkuannya.

“Aku sudah baikan berkatmu. Terima kasih banyak, Hye,” ujar Kyuhyun sambil tersenyum penuh terima kasih sekaligus senang karena ia dapat tidur dengan nyenyak di bawah kelonan Hyejin. Hal yang sudah lama tidak ia rasakan.

Hyejin menyipitkan matanya, tanda ia tidak percaya begitu saja. Tangannya terangkat memegang kening Kyuhyun. “Masih demam. Apanya yang sudah baikan? Kita harus ke dokter. Urusanmu mulai jam berapa?” Oceh Hyejin yang hanya mendapat gelengan kepala dari Kyuhyun.

“No, no, no. Aku tidak mau ke dokter. Aku baik-baik saja. See?” Kyuhyun mengangkat tangannya seperti Popeye untuk menandakan bahwa ia masih sehat yang tentu tidak memberi arti buat Hyejin. Hyejin menunjukkan dahi Kyuhyun yang berkeringat dengan cermin dandannya.

“See? Keringatmu sebesar jagung di dalam pesawat yang sedingin ini. Kau sakit. Jadi, kalau kau mau urusanmu selama di Jepang lancar, dengarkan aku. Kita ke dokter. Tidak ada bantahan. Titik!”

Kyuhyun menyingkirkan cermin Hyejin dari hadapannya sehingga kini ia bisa menatap mata Hyejin yang sedang balas menatapnya dengan cemas. “Aku mohon,” ujar Hyejin meruntuhkan segala pertahanan yang Kyuhyun bangun sedemikian rupa agar kerinduannya tidak tersalurkan, cukup tertahan di dalam dirinya sendiri. Kyuhyun mencium Hyejin, tepat di bibir wanita itu.

Ciuman yang bisa dikategorikan hanya menempelkan bibir namun bisa memberikan reaksi luar biasa bagi keduanya. “Berhenti mencemaskanku. Kau membuatku tidak bisa berpikir. Kalau kau tidak ingin kembali padaku, jangan memberikanku harapan seperti ini,” ujar Kyuhyun dengan kepala tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah malu sekaligus girang. Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana kondisi jantung Kyuhyun sekarang yang berdetak sangat cepat, mesin EKG sekalipun. Yang Kyuhyun rasakan, dadanya seperti ingin meledak saking senangnya dapat merasakan bibir yang selalu menjadi objek utama dalam fantasi malamnya.

“Dokter…. Sarapan… Minum obat…” Hyejin tergagap mendapat serangan tiba-tiba dari Kyuhyun. Entah apa yang diperintahkan otaknya, Hyejin memegang bibirnya dan merasakan ciuman Kyuhyun yang tidak berubah dari bertahun-tahun yang telah lewat. Tetap lembut, menghangatkan dan membuat Hyejin kecanduan. Seperti 8 tahun lalu, Hyejin bisa menempel  Kyuhyun seharian hanya karena sebuah ciuman. Hyejin tahu tubuhnya menginginkan lebih dan sadar ternyata selama ini kebekuan biologisnya hanya bisa dicairkan oleh laki-laki yang sama setelah sekian tahun.

—–

Selama perjalanan, Hyejin hanya memalingkan wajahnya menatap pemandangan di luar jendela. Ia tidak berani menatap Kyuhyun meskipun hanya untuk sedetik. Ia takut tubuhnya melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya. Apalagi jika didukung hormon-hormonnya yang sedang bergejolak.

“Selesai. Sarapan sudah. Obat sudah. Apa aku masih harus ke dokter?”

“Eoh,” jawab Hyejin singkat tanpa menengok pada Kyuhyun. Ia hanya melihat Kyuhyun melalui pantulan samar-samar pada kaca jendela di depannya. Dari kaca itu, ia dapat melihat Kyuhyun yang sedang menatapnya sambil tersenyum meskipun sendu. Entah Kyuhyun bisa melihatnya atau tidak, Hyejin membalas senyuman itu.

“Hye, kau sudah 30 menit lebih menghindari tatapan mataku. Apa kau masih marah? Aku sadar aku kelewatan dan aku minta maaf. Aku tidak berani berharap kau menganggap serius ciuman itu. Kau boleh menghapusnya dari ingatanmu. Anggap saja tidak pernah terjadi tapi aku mohon paling tidak anggap aku ada,” kata Kyuhyun memelas.

Tidak pernah terjadi? Sial.

Hyejin menghela nafas panjang. Dengan keberanian yang berusaha ia kumpulkan selama setengah namun ternyata tidak ada seujung kuku, Hyejin menoleh kepada Kyuhyun. “Aku lelah. Bangunkan aku kalau sudah sampai hotel,” ujar Hyejin dan kemudian memejamkan matanya rapat-rapat. Hanya matanya, tidak dengan indera yang lain.

Bisa Hyejin rasakan tubuhnya menegang ketika tangan Kyuhyun tertumpang di atas kepalanya dan pria itu mengucapkan, “Selamat tidur. Aku mencintaimu.”

Kau hanya terbawa suasana, Song Hyejin! Kau hanya terbawa suasana! 3 kata 8 huruf. Tidak. Tidak. Tidak.

—-

Hyejin berjanji pada dirinya sendiri untuk memeriksakan diri ke dokter begitu ia kembali ke Korea. Apa mungkin ia terkena gangguan pada otaknya? Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan Kyuhyun menggandeng tangannya dan menggeret koper Hyejin sampai tepat ke depan kamar wanita itu. “Kau istirahat saja dulu. Kalau nanti mau jalan-jalan, hubungi aku atau Jonghyun. Kami sudah menyiapkan supir untukmu. Aku harus segera menemui klien-ku. Aku harap kau pulang sebelum jam 7 agar kita bisa makan malam bersama,” kata Kyuhyun dan Hyejin hanya mengangguk patuh.

Kyuhyun tersenyum lembut. “Masuklah,” ujar Kyuhyun dan Hyejin pun masuk ke dalam kamarnya.

Song Hyejiiiiin!!! Ada apa denganmu??? Kenapa kau jadi lemah begini??? Kenapa kau jadi bisa menuruti semua perkataan Kyuhyun???

Hyejin bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Tidak! Tidak!! Kau tidak boleh jatuh lagi ke pelukan Kyuhyun! Tidak! Tidak!! Ia boleh mencintaimu tapi kau tidak boleh kembali mencintainya! Tidak!

Hyejin mendapatkan jawaban dari dirinya sendiri atas pertanyaan yang ia ajukan.

“Kau pasti sudah gila, Song Hyejin. Lebih baik kau tidur,” umpat Hyejin lalu melemparkan dirinya ke bawah selimut hangat nan empuk tapi tidak membuatnya tenang.

Song Hyejin
Cho Kyuhyun-ssi

Cho Kyuhyun
Ya? Ada apa?

Song Hyejin
Urusanmu selesai jam berapa? Kau tidak jadi ke dokter? Kau masih demam.

Cho Kyuhyun
Kau mencemaskanku?

Song Hyejin
Aku akan beritahu Jonghyun bahwa kau harus ke dokter.

Cho Kyuhyun
Aku sudah minta Jonghyun untuk membeli obat. Tidak perlu ke dokter. Tidak akan sempat.

Cho Kyuhyun
Kau masih istirahat? Jam berapa mau jalan-jalan biar kusuruh supir untuk siap-siap.

Song Hyejin
Aku akan mengabarimu nanti. Aku mau tidur.

Cho Kyuhyun
Selamat tidur.
PS. I Love You.

Hyejin melemparkan handphone-nya sejauh mungkin untuk mengurangi rasa berbunga-bunga di hatinya ketika membaca pesan Kyuhyun. Ia harus segera menormalkan kembali kehidupannya.

—–

Bel kamar Hyejin berbunyi dan dengan tergopoh-gopoh Hyejin membukakan pintu. Ekspresi kecewanya terpampang jelas membuat Jonghyun tertawa lebar. “Kecewa karena aku yang datang, eoh? Kyuhyun masih sibuk dengan kliennya,” Goda Jonghyun membuat Hyejin malu setengah mati. Melompat dari tempat tidur dengan harapan dapat segera bertemu dengan Kyuhyun, kebodohan macam apa itu?

“Ada apa?” Tanya Hyejin.

Jonghyun menyodorkan dua buah kantung plastik kepada Hyejin. “Jangan tanya aku apa isinya. Aku tidak membukanya. Kyuhyun hanya bilang berikan pada Hyejin dan suruh dia pakai ini untuk makan malam. Tebakanku, pasti baju dan sepatu,” kata Jonghyun. Hyejin menerima barang itu dengan senang hati.

Kebodohan lain, pikir Hyejin.

Ah, masa bodo, pikir Hyejin lagi.

“Terima kasih,” ucap Hyejin.

“Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya menyampaikannya saja,” sahut Jonghyun sambil tertawa. “By the way, kau tidak ingin jalan-jalan? Mau diam di hotel saja? Kau serius?”

“Aku mau tidur. Besok saja. Bye, Jong-ah.” Hyejin pun menutup pintu dan segera membongkar bungkusan di tangannya. Dengan tidak sabar, ia mengeluarkan gaun abu-abu sepanjang lutut dengan rok mekar dan lengan sebatas siku dimana bagian punggungnya terbuka sampai sepinggang. Hyejin juga dengan tidak sabar mengeluarkan sepatu hak setinggi 7 cm dengan warna senada plastik yang lain. Seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah, Hyejin mencoba pakaian yang baru ia dapatkan.

“Ia masih ingat ukuranku dan model-model baju kesukaanku,” gumam Hyejin sambil memandang pantulan dirinya di cermin. Hyejin tidak sabar untuk segera mandi dan memakai gaun dan sepatu barunya. Serta berharap jam 7 malam segera datang. “Shit. Apa yang baru saja aku pikirkan?!”

—-

Cho Kyuhyun
Hyejin-ah, apa kau sudah siap-siap?

Song Hyejin
Humm.

Cho Kyuhyun
Aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena terpaksa membatalkan acara makan malam kita. Aku tidak bisa meninggalkan klienku. Jonghyun yang akan menenamimu.

Song Hyejin
Tidak perlu. Aku bisa makan malam sendiri.

Jika tubuh Hyejin punya ukuran seperti gelas-gelas pengukur di laboratorium, isi tubuh Hyejin adalah full-tank kekecewaan. Tanpa hasrat, Hyejin melepaskan gaun dan sepatunya menggantikannya dengan piyama lalu kembali ke tempat tidur. Kelaparan yang ia rasakan juga telah menghilang begitu saja. Ia tidak menginginkan apapun kecuali Kyuhyun menepati janjinya.

—–

Hyejin terbangun keesokan paginya dengan kondisi mata bengkak, yang ia tahu karena habis menangis. Yang dia tidak tahu kenapa ia harus menangis. Dengan malas, Hyejin mencuci mukanya. Make-up yang tidak ia hapus semalam, membuat keadaan wajahnya lebih buruk. “Kau bodoh, Song Hyejin,” umpat Hyejin.

Hyejin ingin sekali keluar dari kamar tetapi ia malas sekali jalan-jalan. Tanpa mandi, hanya mengganti piyamanya dengan kaus dan celana jeans, Hyejin mendatangi resepsionis untuk bertanya apa mereka menjual bikini. Beruntung, mereka menjualnya. Hyejin membeli bikini untuk dia pakai berenang seharian. Siapa tahu dengan berenang, otaknya bisa ikut dicuci sekalian.

Hyejin mengenakan gaun dan sepatu pemberian Kyuhyun di luar bikininya. Dilengkapi dengan kacamata hitam, Hyejin keluar dari kamarnya menuju kolam renang. Ia tahu banyak mata tertuju kepadanya tapi siapa yang peduli. Hyejin hanya akan menyenangkan hatinya sendiri hari ini.

—-

Kyuhyun dan Jonghyun sedang sarapan dengan klien mereka dan tertawa-tawa dengan lelucon di antara mereka yang keenamnya adalah laki-laki. Salah seorang klien Kyuhyun menunjuk wanita yang sedang berjemur di kursi di pinggir kolam, hanya dengan menggunakan bikini pink yang menutupi hanya bagian tubuhnya yang paling intim dan kacamata hitam untuk menutupi matanya. “Wanita itu seksi,” ujar salah satu klien Kyuhyun.

Tidak perlu menggosok mata atau menyipitkan mata untuk memastikan bahwa wanita yang dimaksud kliennya adalah Hyejin. Entah kesal bercampur marah atau hanya sifat posesifnya yang muncul, Kyuhyun berdiri dari tempatnya, meminta handuk kepada penjaga kolam lalu menghampiri Hyejin. “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Kyuhyun mencoba untuk tetap tenang dan lembut meskipun dalam hati sebenarnya ia ingin menggendong Hyejin dan menyembunyikannya dari tatapan pria manapun di dunia ini.

“Berenang dan berjemur. Kenapa?” Sahut Hyejin menantang.

“Kembali ke kamar. Kau bisa sakit berenang di musim semi seperti ini,” kata Kyuhyun sambil menyampirkan handuk besar ke tubuh Hyejin untuk menutupi aset terpenting dalam hidup Kyuhyun.

“Tumben kau peduli padaku.”

“Aku selalu peduli padamu.”

Hyejin mendengus keras, mengejek ucapan Kyuhyun yang mengaku selalu peduli padanya tapi pada kenyataannya pria itu telah menelantarkannya dalam 24 jam terakhir sendirian. “Tidak usah mengurusku. Urus saja bisnismu. Sana.”

Kyuhyun menarik tangan Hyejin dan memaksa wanita itu untuk berdiri. “Kalau kau marah karena aku tidak menepati janjiku semalam, aku akan menebusnya besok. Ayo, aku akan menemanimu kembali ke kamar,” kata Kyuhyun.

Jonghyun dan empat kliennya memperhatikan Kyuhyun dengan wanita yang mereka bilang seksi. Klien Kyuhyun bersorak ketika Kyuhyun berhasil menggandeng wanita itu berjalan untuk mengikutinya. Kyuhyun bahkan membawakan pakaian dan sepatu wanita itu. “Kyuhyun benar-benar hebat! Pesonanya sungguh luar biasa! Wanita itu mudah sekali termakan rayuan Kyuhyun! Hebat! Hebat!”

Jonghyun tersenyum kecil. Dengan santai, ia memandang klien-kliennya yang masih berdecak kagum melihat Kyuhyun. “Wanita itu bukan termakan rayuan Kyuhyun. Kyuhyun justru bersyukur wanita itu masih mau mendengarkannya. Aku yakin Kyuhyun susah payah membujuk istrinya untuk mengikutinya. Jadi, atas nama Kyuhyun aku meminta maaf kalau ia baru kembali sejam atau dua jam lagi,” ujar Jonghyun.

Hyejin memasuki kamar hotelnya mengikuti Kyuhyun yang sudah lebih dulu melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Kyuhyun meletakkan sepatu dan baju Hyejin di atas sofa lalu menangkup wajah Hyejin, tersenyum pada wanita itu dengan penuh kasih sayang. “Kau tidak boleh memakai bikini seperti ini lagi. Kau tahu mata pria-pria yang menatapmu seperti ingin memangsamu?”

“Aku tidak peduli,” sahut Hyejin.

“Tapi aku sangat sangat sangat peduli padamu. Aku tahu kau tidak suka, tapi aku harus mengingatkanmu kalau tubuhmu itu masih tercatat sebagai milikku dan kau tahu pasti aku tipe orang yang tidak suka berbagi kepemilikan terutama untuk hal-hal penting, apalagi dirimu.” Kyuhyun menatap langsung mata Hyejin, tidak berkedip sepanjang ia mengucapkan isi hatinya yang cukup panjang itu dan Hyejin bisa menangkap bahwa pria itu serius dengan ucapannya.

Hyejin melepaskan diri dari Kyuhyun, memalingkan wajahnya yang pasti sudah bersemu merah saking tersipunya mendengar ucapan Kyuhyun yang jelas tidak suka melihat Hyejin memamerkan lekukan tubuhnya. Entah kenapa Hyejin menyukai bahwa Kyuhyun begitu posesif padanya seakan ia milik Kyuhyun.

“Kau urus klienmu lagi sana. Aku mau mandi lalu tidur,” kata Hyejin menghindar tatapan mata Kyuhyun yang begitu mengintimidasinya, yang membuatnya akan salah tingkah jika terus menatap mata indah pria itu.

“Kau sudah sarapan?” Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku akan menyuruh Jonghyun untuk mengantarkan sarapan ke kamarmu. Kau tidak jalan-jalan lagi hari ini?” Hyejin menggelengkan kepalanya lagi. “Kenapa?”

“Aku malas. Aku mau tidur saja. Lagipula aku sudah sering ke Jepang,” jawab Hyejin yang memiliki alasan utama bahwa ia malas jika harus jalan-jalan sendirian. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Kyuhyun.

“Aku pasti sudah gila,” batin Hyejin.

Kyuhyun membelai rambut basah Hyejin kemudian mencium kening Hyejin dengan lembut. “Maafkan aku. Kau boleh menganggap ciuman itu tidak ada,” kata Kyuhyun.

Kalau saja ia bisa, Hyejin ingin sekali menganggap ciuman itu tidak ada. Namun yang ada tubuhnya justru menuntut lebih. Tangan Hyejin menarik dasi Kyuhyun sehingga wajah mereka berada dalam jarak terdekat. Tanpa bicara apapun, Hyejin melumat bibir Kyuhyun, meminta pria itu untuk membalasnya, merengek untuk memanjakan tubuhnya.

“Aku akan dengan senang hati bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu tapi aku tidak mau jika kau melakukannya tanpa hati. Aku akan menerimamu jika kau sudah siap menyerahkan lagi dirimu seutuhnya kepadaku. Aku tidak memaksa. Aku akan menunggu.” Kyuhyun berbicara di sela-sela nafasnya yang terengah akibat ciuman dengan Hyejin yang semakin lama semakin panas. Kyuhyun bahkan tidak tahu kapan ia mengangkat Hyejin ke dalam gendongannya sehingga membuat bagian intim tubuh mereka menempel erat meski terhalang pakaian masing-masing.

Hyejin bergerak tidak sabar. Sambil berciuman, tangannya dengan lincah menanggalkan kemeja Kyuhyun dan seluruh celana yang dipakai pria itu. “Ini kesempatan terakhirmu, Cho Kyuhyun. Kau mau menggunakannya dengan baik atau membuangnya begitu saja?”

Entah siapa yang melakukannya, yang pasti ketika Kyuhyun membaringkan Hyejin ke atas tempat tidur, tidak ada lagi sehelai benang pun yang melindungi tubuh langsing Hyejin. Seakan takut Kyuhyun akan lari, walau tidak mungkin, Hyejin mengikat tubuh Kyuhyun erat dengan kedua kakinya.

“Kyuhyun-ah!!” Teriak Hyejin keras sekeras jambakan yang ia berikan pada kepala Kyuhyun ketika pria bergerak lebih keras dan semakin dalam pada tubuh Hyejin. Bukan hanya itu, Hyejin juga menancapkan kuku tajamnya di punggung Kyuhyun. Kalau tidak ada dada Hyejin yang sedang menyumpal mulut Kyuhyun, pria itu pasti juga sudah berteriak kesakitan. Tapi jikalau pun tidak ada yang menyumpal mulut Kyuhyun, pria itu tidak akan berteriak. Ia lebih memilih untuk melumat tubuh Hyejin untuk mengalihkan rasa sakit yang ia rasakan. Lagipula kenikmatan ini cukup setimpal dengan beberapa jambakan di rambut, cengkraman di punggung dan lengan bahkan gigitan di bahu.

“Kau luar biasa. Tidak ada yang berubah dari 8 tahun lalu ketika aku terakhir kali menyentuhmu,” puji Kyuhyun ketika tubuhnya sudah terbaring miring di sebelah Hyejin, setelah puas, menikmati wajah lelah (mantan)  istrinya yang tetap saja terlihat cantik dan mempesona bagi Kyuhyun.

“Kau masih ingat rasanya bercinta denganku 8 tahun lalu?” Kyuhyun menganggukkan kepala sambil tersenyum senang.

“Aku ingat setiap rasa ketika bersentuhan denganmu, sayang.”

“Kau mengerikan,” sahut Hyejin namun sambil tersenyum. Tangannya menyeka keringat di dahi Kyuhyun dan menyingkirkan rambut-rambut Kyuhyun yang basah ke belakang kepala pria itu.

Kyuhyun tersenyum kepada Hyejin, menyeringai lebih tepatnya. “Tapi kau suka kan?” Goda Kyuhyun.

Hyejin tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun. Hyejin juga merasa tidak sanggup untuk menatap wajah pria yang paling tidak ia inginkan namun ia izinkan untuk memasuki tubuhnya dan tubuhnya bereaksi sangat baik seperti sekrup dan cincinnya. “Lebih baik kau mandi lalu kembali pada klien-mu,” kata Hyejin.

“Kau?”

“Aku mau tidur,” ujar Hyejin.

“Tanpa mandi? Aku tidak keberatan untuk berbagi kamar mandi denganmu. Aku janji tidak akan menyerangmu.”

“Kyu… Hentikan,” pinta Hyejin dengan malu-malu membuat Kyuhyun tertawa geli sambil membelai rambut lembap Hyejin karena keringat.

Kyuhyun mendekap tubuh Hyejin, meletakkan kepala wanitanya senyaman mungkin di atas dadanya dan kemudian mengecup kening Hyejin. “Tampangmu sudah sangat menyedihkan. Tidurlah. Aku akan pergi kalau kau sudah tidur,” ucap Kyuhyun yang membutuhkan usaha keras untuk menenangkan diri karena tanpa sengaja mereka bergesekan, membangkitkan setan-setan dalam dirinya.

—–

“Good morning,” sapa Kyuhyun dengan lembut ketika ia melihat mata wanita yang paling ia cintai terbuka dan menatapnya. Rambut berantakan wanita itu sudah disisir Kyuhyun ke belakang sehingga menunjukkan wajah penuh kekasihnya yang sangat disukainya. “Tidurmu tampaknya sangat nyenyak sampai kau tidak sempat mandi?”

“Jam berapa ini?” Tanya Hyejin yang belum sadar sepenuhnya bahwa ia baru saja bangun dari tidur belasan jamnya. Kyuhyun menunjukkan jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. “Astaga!!! Aku tidur hampir seharian!” Pekik Hyejin membuat Kyuhyun tertawa terpingkal-pingkal.

“Susah kali membangunkanmu. Tampaknya kau sangat kelelahan karena kegiatan kita kemarin. Maaf karena aku lancang tapi aku harus memakaikan baju untukmu. Tidak mungkin aku membiarkan kau tidur telanjang di bawah AC yang dingin ini. Bisa-bisa kau sakit,” ujar Kyuhyun. Hyejin melihat tubuhnya yang sudah memakai piyama dan merasa sangat malu. Segera ia angkat selimutnya untuk menutupi sampai ke ujung kepalanya.

Kyuhyun menurunkan selimut Hyejin sehingga ia bisa melihat mata wanitanya yang sedang memandangnya dengan takut-takut. “Jangan menutup wajahmu. Aku jadi tidak bisa memandangnya. Walaupun sudah sepanjang malam menikmati wajahmu, aku tetap merasa kurang,” ujar Kyuhyun lalu mencium pipi Hyejin dengan lembut. “Kau mau pergi kemana hari ini, sayang? Kita punya waktu sampai jam 4 sore.”

Hyejin melihat Kyuhyun sudah rapi dengan kaus hijau muda, celana jeans dan kacamata hitam di atas kepalanya serta sepatu sneakers di kakinya. Rambutnya telah disisir rapi. Berbanding terbalik dengan Hyejin yang masih berantakan. Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku mau kembali ke Korea saja,” kata Hyejin.

“Wae? Aku siap menemani kemanapun kau ingin pergi. Aku juga tidak keberatan kau menghabiskan limit kartu kreditku. Tapi kenapa yang kau inginkan malah pulang?”

“Aku mau pulang sajaaaa,” rengek Hyejin dan kembali menutup wajahnya dengan selimut tebal. “Aku malu.”

“Malu kenapa?” Tanya Kyuhyun. Kelembutan dalam suaranya semakin memperkuat niat Hyejin untuk kembali ke Korea. Ia tidak sanggup berlama-lama lagi dengan Kyuhyun. Ingatannya terus berputar menampilkan betapa lemahnya ia terhadap Kyuhyun dan agresifnya ia sebagai wanita. Bagaimana bisa ia mengajak pria yang berstatus (mantan) suaminya untuk bercinta dengannya?

“Pokoknya aku malu. Aku mau pulang ke rumah,” kata Hyejin lagi dan Kyuhyun tidak ingin mendebatnya. Kyuhyun hanya ingin menyenangkan hati Hyejin saat ini. Apapun yang wanita itu inginkan, Kyuhyun hanya akan berusaha sebisa mungkin untuk mengabulkannya.

“Okay. Kita akan kembali ke Korea setelah kau mandi dan kita sarapan. Aku tidak mau duduk dengan wanita yang belum mandi dan perut keroncongan,” kata Kyuhyun sambil tertawa. Tawanya semakin keras melihat Hyejin yang menatapnya dengan kesal. “Aku hanya bercanda, sayang. Mandi sana. Aku tunggu di restoran ya. Barang-barangmu jangan lupa dibereskan kalau mau langsung pulang.”

Hyejin beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Kyuhyun menahan Hyejin sebelum wanita itu masuk ke kamar mandi. “Kau lupa bawa handukmu. Take your time. Kau tahu aku selalu menunggumu,” ucap Kyuhyun lalu meninggalkan Hyejin setelah memberi jejak pada leher Hyejin yang membuat Hyejin menghabiskan 30 menit pertamanya di kamar mandi hanya untuk memandang kissmark Kyuhyun melalui cermin dan tersenyum sendiri tanpa alasan jelas mengapa ia begitu senang mendapat tanda dari Kyuhyun.

—–

Hyejin sarapan secepat mungkin karena ia benar-benar ingin segera kembali ke Korea. Karena itu, jadwal pesawatnya yang sudah dipesan Kyuhyun jam 4 sore manjadi maju ke jam setengah 1 siang. Hyejin menunggu di lounge sembari Kyuhyun mengurus check-in pesawat dan bagasinya. Baru setelah semua selesai, Kyuhyun kembali datang kepada Hyejin. “Kajja?” Hyejin pun mengikuti langkah Kyuhyun menuju pesawat.

“Kyuhyun-ah!” Langkah Kyuhyun pun terhenti begitu juga dengan Hyejin. Mereka berdua sama-sama menoleh kepada wanita yang sedang berlari kecil ke arah Kyuhyun. “Kyuhyun-ah, kau kemana saja? Aku terus mencarimu. Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini,” sapa wanita itu ditambah dengan sebuah kecupan mesra di ujung bibir Kyuhyun.

Hyejin tersenyum kecut kepada wanita yang tidak ia ketahui identitasnya. “Aku duluan,” kata Hyejin dingin lalu meninggalkan Kyuhyun dengan wanita itu. Tidak peduli Kyuhyun memanggilnya, meminta Hyejin untuk menunggu, bahkan mengabaikan Kyuhyun sepanjang hari. Tidak ada satupun pertanyaan Kyuhyun yang ia jawab. Apa kelebihan Kyuhyun sehingga sanggup membuat suasana hatinya memburuk?

“Gadis itu namanya Seulgi. Kami dijodohkan 2 tahun setelah kau pergi dariku. Dia menyukaiku tapi aku tidak pernah bisa melepaskanmu. Dia menyerah setelah aku menjelaskan padanya dengan baik-baik. Kami tidak pernah berhubungan apapun.”

Hyejin tidak bergeming sama sekali. Ia hanya duduk dengan earphone yang terpasang di telinganya, menyalurkan suara dari film yang sedang ia tonton. Meskipun Hyejin tidak tahu film apa yang sedang ia tonton, paling tidak sedikit membantu untuk mengacaukan pikirannya yang sudah kacau.

“Hye, kau kenapa daritadi diam saja? Kau sakit?” Tanya Kyuhyun cemas sambil mengecek suhu tubuh Hyejin dengan telapak tangannya.

Hyejin menyingkirkan kepalanya dari sentuhan tangan Kyuhyun. Ia tidak mau laki-laki itu kembali menyentuhnya. Tidak akan pernah.

“Kau agak demam. Mungkin tertular dariku. Sampai Korea, kita akan ke dokter untuk mengecek kesehatanmu. Juga aku,” ujar Kyuhyun dengan sumringah, mengingat bagaimana cara demamnya bisa tertular.

Hyejin menghela nafas panjang, memalingkan wajahnya sejauh mungkin dari Kyuhyun. “Cho Kyuhyun-ssi, berhenti bicara. Aku mau tidur,” kata Hyejin kesal lalu melepas earphone-nya dan menutup mata serta telinganya dari pria bernama Cho Kyuhyun.

“Tidurlah. Kau memang sangat suka tidur kan?” Kata Kyuhyun diiringi tawa renyah yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Hyejin. Bagaimana bisa pria itu masih bisa tertawa sebahagia itu.

Hyejin menolak mentah-mentah bantuan Kyuhyun untuk merebahkan kursinya agar ia dapat tidur dengan lebih nyaman. “Ini batas antara kita berdua. Tidak ada satu pun bagian tubuhmu yang boleh melewati batas ini,” kata Hyejin menunjuk pegangan tangan yang berada di antara ia dan Kyuhyun. “Dan anggap saja apa yang terjadi kemarin tidak pernah ada. Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi padamu, Cho Kyuhyun-ssi.”

Rasa penyesalan membuncah dalam dirinya karena begitu mudah menyerahkan diri kepada Kyuhyun. Kalau saat ini bukan Kyuhyun yang duduk di sebelah Hyejin, mungkin ia sudah menangis menyesali kebodohannya. Sedangkan Kyuhyun hanya bisa menatap Hyejin dengan bingung. Apa yang terjadi dengan gadis itu? Kemarin gadis itu seperti membawanya ke surga lapisan paling atas dan saat ini menghempaskannya ke jurang neraka yang paling dalam.

“Kalau kau masih marah karena gadis itu, aku bisa menjelaskan. Seulgi seperti itu kepada semua laki-laki bukan hanya kepadaku. Itu sudah sifatnya.” Hyejin memasang kembali earphone-nya dan memasang musik dengan volume sekeras mungkin. “Kupingmu bisa rusak kalau begini. Aku bahkan bisa mendengar lagu yang sedang kau dengarkan.” Kyuhyun melepaskan earphone dari telinga Hyejin.

Hyejin menoleh malas pada Kyuhyun. Tatapannya terlihat sangat menusuk. “Aku pikir kau serius dengan ucapanmu selama ini. Kau terlihat dan terdengar sangat meyakinkan ingin kembali padaku. Ternyata, berciuman dengan wanita bukanlah hal yang spesial untukmu. Aku yakin bercinta pun untukmu tidak se-istimewa yang aku bayangkan. Kau tidak salah. Hanya aku yang terlalu bodoh. Aku akan belajar darimu.”

Kyuhyun rasanya ingin sekali mengumpat tapi di dalam pesawat yang banyak orang begini, umpatannya jelas akan sangat mengganggu dan Kyuhyun tidak ingin merusak citra dirinya apalagi Hyejin. Kyuhyun berusaha untuk sesabar dan selunak mungkin menghadapi wanita yang sedang cemburu buta di sebelahnya itu. “Song Hyejin-ssi yang paling aku cintai, aku mohon berhentilah berimajinasi tentang aku dan wanita lain. Aku tidak pernah memikirkan wanita selain dirimu. Kalau kau mempermasalahkan ciuman tadi, Seulgi yang menciumku. Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan langsung melepaskan diri darinya. Seumur hidup, aku juga hanya bercinta denganmu. Sungguh.”

Hyejin menyampingkan tubuhnya sehingga punggungnya yang menjadi teman bicara Kyuhyun. Kyuhyun mengelus punggung Hyejin dengan lembut lalu memeluknya. “Jangan pernah berpikir aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Ya? Kalau kau belum bisa membalas cintaku paling tidak percaya bahwa aku hanya mencintaimu. Ya?” Bisik Kyuhyun dilanjutkan dengan dongeng antah berantah yang membuat Hyejin terlelap sampai mereka tiba kembali di Korea.

XoXo

Idenya baru sampai sini.
Jeng jeng jeng!

xoxo @gyumontic