Annyeong! Maafkan author yang lama tak muncul untuk update seri Miss Evil. Semoga masih ada yang nungguin kelanjutan seri ini ya, hehehe.

Selamat membaca dan jangan lupa komen *hug*

“Jihyo!” seru Henry begitu melihat Jihyo keluar dari kamarnya.

“Oh, annyeong, oppa! Kapan kau datang?” tanya Jihyo sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.

“Sudah daritadi. Kau baru bangun tidur? Bagaimana keadaanmu? Sudah sembuh? Hei, kau kenapa minum air dingin sih?” protes Henry begitu melihat sang evil magnae membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin.

“Oppa, kau cerewet macam HyunAh onnie! Aku sudah sehat kok. Lagipula hanya demam dan flu biasa,” ujar Jihyo menenggak air. “Oiya, tumben kau daritadi mengikutiku. Biasanya sudah nempel dengan HyunAh onnie.”

“HyunAh onnie mu sedang tidak bisa diganggu,” Henry menggembungkan pipinya hingga mirip mochi. “Dia sedang sibuk menonton DVD tur konser Bigbang.”

“Oh,” Jihyo merespon seolah itu adalah hal yang biasa. “Baiklah kalau begitu.”

“Jihyo, tunggu,” Henry mengejar Jihyo yang berjalan menuju ruang tamu. “Ada yang mau aku tanyakan kepadamu.”

“Wae, oppa?”

“Itu, lihat onniemu,” Henry menunjuk ke arah HyunAh yang terduduk di sofa depan televisi. HyunAh menggoyang-goyangkan lightstick di tangan kanannya, namun kepalanya terus bergerak mengikuti ke mana arah para namja di shoot oleh kamera.

“Kenapa? Ada yang salah?” Jihyo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Perhatikan sih,” rengek Henry.

“Perhatikan apa lagi sih, mochi oppa?” Jihyo meninggalkan Henry dan bergabung dengan HyunAh di ruang tamu.

“Kwon Jiyong! Kwon Jiyong! Kwon Jiyong!” gumam HyunAh.

“Heeee?” Jihyo menggerakkkan telapak tangannya di depan wajah HyunAh, namun HyunAh tidak merespon.

“Oppa, ini serius?” tanya Jihyo kepada Henry yang kini duduk di sebelah HyunAh. “Bukannya HyunAh onnie ngefans dengan Taeyang sunbae, ya?”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Kwon Jiyong daebaaaaaaaaaaaak! Saranghaaaaaaaeeeeeeeee!” HyunAh berteriak kencang saat layar televisi menyorot close up wajah G-Dragon.

“Baby Hyun,” rengek Henry. “Jangan memperhatikan televisi terus. Jangan cuek kepadaku.”

“Duh, baby Hen!” HyunAh memelototi Henry. “Konsernya belum selesai.”

“Jihyo, aku dimarahi baby Hyun! Baby Hyun tidak sayang lagi kepadaku, huhuhuhu. Tidaaaaaak! Aku akan kesepian sepanjang hidupku tanpa Baby Hyun!” Henry mulai berakting seseunggukan.

“Oppa, jangan berlebihan seperti itu,” Jihyo menepuk pundak Henry. “Kita makan siang saja yuk? Aku belum makan, temani aku.”

“Tidaaaaaaak! Aku tidak akan meninggalkan Baby Hyun-ku tersayang sebelum ia tersadar!” teriak Henry.

“Yasudahlah, terserah,” Jihyo melirik ke arah HyunAh. “Onnie, mau makan, aku lapar.”

“Jihyo, bikin saja ramyun sendiri,” ujar HyunAh tanpa melepaskan pandangannya dari layar televisi.

“Sepertinya salahku mengajak HyunAh onnie menonton konser Bigbang kemarin,” ujar Jihyo menghela napas.

“Kalian menonton konser Bigbang kemarin?” tanya Henry.

“Aku mau bertemu dengan Seunghyun oppa, namun HyunAh onnie tidak mengizinkanku pergi menonton konser sendirian, katanya kondisi badanku belum fit. Jadi HyunAh onnie menemaniku nonton konser,” urai Jihyo. “Entah mengapa setelah pulang konser, dia berubah haluan dari Taeyang sunbae ke G-Dragon sunbae.”

“Baby Hyun, mengapa kau tiba-tiba berpaling ke G-Dragon sunbae?” tanya Henry bingung.

“Baby Hen, kau tidak lihat betapa karismatiknya sang leader? Duh, G-Dragon sunbae tampan sekali, kyaaaaa! Aku meleleh saat ia menggigit bibirnya, itu menggoda!” seru HyunAh dengan berapi-api.

“Jadi kau memilih G-Dragon sunbae dibanding Taeyang sunbae, onnie?” tanya Jihyo.

“Kalau disuruh memilih, tentu saja aku akan memilih dua-duanya. Aaaaaaakhhh, aku tak bisa memilih antara dua namja tampan dan bertalenta itu.  Aku tak dapat menolak pesona dan suara Taeyang. Aaaaaaaaaa, kenapa harus selesai?” HyunAh menatap nanar layar televisi yang kini sudah tak menampilkan lagi rekaman konser Bigbang.

HyunAh merentangkan tangannya untuk mengambil remote televisi namun Jihyo dengan cepat mengambilnya terlebih dahulu.

“Jihyo, berikan padaku,” perintah HyunAh.

“Shiro! Aku lapar, onnie. Tolong masakkan aku makanan terlebih dulu, nanti aku sakit lagi jika aku tidak makan?” Jihyo tersenyum penuh arti.

“Kau tidak melihat jika onnie mu ini sedang menikmati DVD konser, Choi Jihyo? Kau mau merusak kesenangan onnie mu?” ujar HyunAh memelototi Jihyo.

Jihyo menggeleng. Ini adalah kondisi kedua Jihyo melihat HyunAh berubah menjadi galak seperti ini. Kondisi lainnya adalah saat Jihyo memasuki dapur teritori saat HyunAh sedang memasak.

“Benar Baby Hyun. Masakkan Jihyo dan aku dulu untuk makan siang, baru kita akan menonton DVD konser Bigbang bersama-sama. Bagaimana?” Henry mengelus punggung HyunAh.

“Yang benar, Baby Hen? Kau mau menemaniku menonton semua DVD konsernya? Jjinja?” mata HyunAh berkaca-kaca melihat Henry yang tersenyum tulus.

“Benar, Baby Hyun. Bagaimana kalau aku bantu kau untuk menyiapkan makan siang?”

“Tidak usah, Baby Hen, nanti kau lelah. Aku tidak mau kau sakit. Tapi serius kau mau menemaniku?” tanya HyunAh ragu.

“Tentu saja sayangku manisku bidadariku malaikat jiwaku,” Henry mencubit gemas pipi HyunAh. “Jihyo tentu juga dengan senang hati menemanimu menonton. Iya kan, Jihyo?”

“Loh, loh, kenapa jadi aku dibawa-bawa?” Jihyo memelototi Henry. “Tapi yasudah akan aku temani, aku juga hari ini tidak ada jadwal apa-apa.”

“Yeees! Gomawo Baby Hen, evil magnae! Aku akan segera buatkan makanan untuk kalian berdua,” ujar HyunAh senang.

“Oppa, kau serius mau menemani HyunAh onnie menonton semua DVD ini? Bisa sampai tengah malam loh,” tanya Jihyo.

“Tentu saja Jihyo. She’s my joy. I will do everything for her,” ujar Henry mengacak rambut Jihyo.

Jihyo tersenyum memandang Henry. “Walaupun HyunAh onnie ngefans dengan Jiyoung sunbae?”

“Tentu saja. Aku percaya seluruh cinta Jung HyunAh hanya untukku. Jadi aku tidak perlu khawatir untuk menemaninya bahagia juga.”

Jihyo menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa “I’m sure about that, oppa.”

“Bahkan kalau HyunAh memintaku untuk menyelam ke dasar samudra akan kulakukan. Jika HyunAh memintaku untuk mengambilkan bulan dan bintang jika aku lakukan,” angguk Henry mantap.

Jihyo bergidik mendengar ucapan Henry. “Oppa, simpan gombalanmu untuk HyunAh onnie. Itu tidak mempan kepadaku.”

“By the way,” Henry menatap Jihyo dengan serius. “You’re his joy, Jihyo.”

“Siwon oppa, Kyuhyun oppa, Super Girls members, Eric oppa, Donghae oppa, and you are my joys,” Jihyo tersenyum. “Duh, kenapa sih wangi masakan HyunAh onnie selalu menggoda. Aku mau mengganggu ke dapur. Mau ikut, oppa?”

Henry menatap Jihyo dengan penuh simpati, ia mengangguk. “Baiklah, ayo kita ganggu Baby Hyun. Namun hati-hati dia bisa berubah jadi Godzilla yang mengamuk, hahaha.”