Hope you like it yaa🙂 hehe

“Time can heal, but only love can truly cure”

“Hyejin-ah, Kyuhyun-ah, kenapa kau mengajak gadis itu kesini?” tanya Minah yang duduk tepat di sebelah Hyejin.

“Harusnya kita berpesta karena kalian akan menikah sebentar lagi,” sahut Hyunah.

“Aku tak yakin kita bisa bersenang-senang kalau ada Hamun disini,” timpal Jihyo.

“Apa kau tak merasa terganggu kalau ada Hamun?” tanya Eric pada Kyuhyun.

“Hyejin-ah, kalau Hamun mengganggu kalian terus bagaimana?” tanya Henry.

Kyuhyun dan Hyejin tersenyum lirih. “Aku tak mungkin tidak mengajaknya, dia masih adik sepupuku,” ujar Hyejin.

“Dia mencintai Kyuhyun, Hyejin. Kau lupa? Kau tak ingat kalau anak itu memaksa orang tuanya untuk menjodohkan dia dengan Kyuhyun? Bagaimana kalau ia melakukan sesuatu yang mengerikan untuk membatalkan pernikahan kalian?” Minah kembali berbicara.

“Hamun mencintaiku, aku tak bisa melarangnya. Lagipula, aku sudah mengenalnya sejak ia masih kecil. Aku sangat tahu, sebenarnya ia anak yang baik. Ia tak akan melakukan hal-hal seperti yang kau katakan tadi Minah,” jawab Kyuhyun.

Woobin tiba-tiba menyela. “Ada Hamun,” katanya saat menyadari bahwa gadis yang menjadi tokoh utama dalam pembicaraan tadi sudah berdiri tak jauh dari meja mereka.

Hamun tersenyum saat Woobin, Eric, Henry, Kyuhyun, dan Hyejin memandangnya. Hamun segera duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Kyuhyun. “Kau yakin tidak ingin satu kamar dengan kami, Hamun?” tanya Hyejin yang tidak disetujui ketiga sahabatnya.

Hamun bisa melihat ekspresi teman-teman Hyejin. “Gwencana, eonni. Aku lebih suka sendiri. Lagipula, eonnidul pasti mau cerita-cerita sampai pagi,” jawab Hamun.

“Aku tidak yakin. Kurasa Hyejin akan keluar tengah malam untuk bertemu dengan Kyuhyun. Aigo, aigo,” timpal Jihyo yang hanya Hamun respon dengan sebuah senyuman. Senyuman yang ia gunakan untuk menyembunyikan perasaannya.

Hamun mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan rasa sakit yang sejak tadi menyerang hatinya. Ia mendengar semua perkataan sahabat-sahabat Kyuhyun dan Hyejin. Ia juga tahu kalau perkataan Jihyo ditujukan agar Hamun sadar posisinya. Hamun tahu kalau mereka semua membenci dirinya karena mereka menganggap Hamun adalah ancaman bagi hubungan Kyuhyun dan Hyejin.

Hamun sangat mencintai Kyuhyun sejak ia kecil, lalu suatu ketika Hyejin datang dan Kyuhyun mencintai kakak sepupu Hamun itu. Kyuhyun bahkan rela membatalkan pertunangannya dengan Hamun agar ia bisa bersatu dengan Hyejin. Hamun juga menderita dengan semua rasa sakit yang ia rasakan tiap kali melihat Kyuhyun bersama Hyejin. Rasa sakitnya makin parah saat ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk menyerah, untuk melupakan pria itu, dan merelakannya. Sejak Kyuhyun mengatakan kalau ia mencintai Hyejin, sejak itu pula Hamun memutuskan untuk tetap berada di samping Kyuhyun meskipun ia bukan siapa-siapa, meskipun banyak orang yang mencibirnya, meskipun banyak orang yang membencinya.

“Maaf aku telat,” ujar seorang pria yang menghampiri Kyuhyun dan Hyejin. Ia tersenyum ramah pada semua orang yang ada di meja itu.

“Hai, Donghae-ah, lama tidak bertemu,” sapa sahabat-sahabat Kyuhyun dan Hyejin. Hamun memilih untuk tetap diam sambil memotong daging steak yang menjadi menu utama dinner di hotel ini.

“Sepertinya aku baru bertemu denganmu. Aku Lee Donghae, teman kuliah Hyejin dan Kyuhyun dulu,” ujar Donghae yang sudah berdiri di samping tempat duduk Hamun.

Hamun tersenyum. “Aku Kang Hamun,” jawab Hamun sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Donghae tidak menerima uluran tangan Hamun. Ia tersenyum, namun Hamun tahu itu bukan senyuman yang tulus. “Ah, jadi kau yang namanya Kang Hamun? Hyejin sering bercerita tentang dirimu. Ternyata kau sangat tidak berperasaan sampai memaksa ikut juga ke tempat ini. Aku jadi kasihan pada Hyejin dan Kyuhyun,” ujarnya sambil berjalan menuju kursi kosong di sebelah Henry.

Hamun merasakan sesak di dadanya berkat perkataan pria itu. Ia tahu kalau dirinya memang tidak tahu diri, tapi apa mereka tidak bisa memikirkan sedikit perasaan Hamun yang juga mencintai Kyuhyun?

Hamun menghela nafas panjang. “Mianhe eonnidul dan oppadeul, kehadiranku membuat suasana makan malam ini tidak enak. Aku akan segera pergi setelah makananku habis,”

“Aniya, Hamun. Kau disini saja, tidak masalah,” ujar Hyejin.

Hamun tersenyum lalu menghabiskan makanannya. Setelah itu, Hamun beranjak untuk pergi. “Oppa, nanti malam aku boleh ke tempat oppa? Banyak yang mau aku ceritakan pada oppa,” ujar Hamun pada Kyuhyun sebelum ia benar-benar pergi.

“Aku nanti malam-”

“Kyuhyun tidak bisa. Ia sudah punya janji dengan Hyejin,” sela Donghae. Ia tetap tersenyum pada Hamun meskipun kata-katanya sangat menusuk.

Hamun mengabaikan pria itu. “Eonni, aku hanya pinjam Kyu oppa selama satu jam. Boleh, kan?” tanya Hamun yang mau tidak mau Hyejin izinkan. Setelah Hamun merasa sahabat-sahabat Kyuhyun dan Hyejin menatapnya tajam, ia segera pergi dari situ. Kini ia membiarkan air mata yang sedari tadi ia tahan mengalir.

*****

Hamun membuka pintu kamar saat mendengar suara ketukan di pintunya. Senyum Hamun menghilang saat mendapati bahwa orang yang ada di depannya adalah Lee Donghae.

“Ada apa Lee Donghae-ssi?” tanya Hamun sesopan mungkin, ia belum bisa melupakan perkataan Donghae tadi saat makan malam.

“Aku lupa ponselku dimana. Aku boleh pinjam ponselmu untuk miscall?” tanya Donghae. Meskipun Hamun masih kesal, ia tetap menolong pria itu. Ia memberikan ponselnya pada Donghae yang masih berdiri di ambang pintu.

“Ah, Kyuhyun-ah,” ujar Donghae saat telepon itu tersambung pada nomor yang dituju. Hamun sangat kaget menyadari bahwa Donghae menelpon Kyuhyun. “Hamun bilang ia tidak jadi bertemu denganmu malam ini, ia ingin lebih mengenalku,” ujar Donghae.

Hamun berusaha merebut ponselnya namun ia yang kalah tinggi tidak dapat mejangkau ponsel tersebut. “Jangan khawatir, aku akan menjaga Hamun. Selamat bermesraan dengan Hyejin. Di pantai? Kau memang romatis,” katanya.

“Arra, arra, aku tahu kau tidak enak pada Hamun kalau aku berkata seperti tadi. Ia tidak ada di sampingku, ia tidak mendengarnya. Tenang saja,” lanjut Donghae sambil menatap gadis yang ada di sampingnya. Hamun nyaris menangis mendengar perkataan Donghae. Mendengar kata bermesraan di pantai membuat Hamun membayangkan yang tidak-tidak dan hal itu sangat menyakitkan hatinya.

Donghae mengembalikan ponsel Hamun pada pemiliknya. “Puas?” tanya Hamun sambil menyeka air matanya.

Donghae tersenyum. “Belum,” jawabnya. Ia menarik Hamun keluar dan membawanya pergi. Hamun sudah meronta, berusaha agar pria itu melepaskannya namun Donghae tidak bergeming dan tetap menggandeng Hamun.

*****

Donghae membawa Hamun ke pantai dengan paksa. Hamun meronta karena ia tak mau berada disini. Hamun tahu, ia hanya akan melihat sesuatu yang menyakiti hatinya.

“Itu Kyuhyun dan Hyejin,” ujar Donghae begitu mereka berdiri tidak jauh dari Kyuhyun dan Hyejin. Mereka tidak bisa mendengar apa yang pasangan itu katakan karena suara ombak dan angin, akan tetapi mereka bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Kyuhyun dan Hyejin.

“Lepaskan aku, aku ingin kembali ke kamar,” ujar Hamun tanpa berani menatap apa yang ada di depannya.

“Aku ingin kau melihat apa yang terjadi setelah ini,” ujar Donghae. Ia memeluk tubuh Hamun dari belakang sehingga Hamun tidak bisa lari dan tidak bisa menoleh ke belakang. Saat ia meronta, tidak sengaja matanya memandang Kyuhyun. Air matanya menderas saat melihat Kyuhyun mencium Hyejin dengan lembut.

Hamun menutup matanya. Tidak mau melihat kelanjutan dari perbuatan Kyuhyun dan Hyejin. “Kau tak mau melihat? Kyuhyun memeluk Hyejin sekarang sambil tetap mencium bibir Hyejin. Hyejin membalas ciuman Kyuhyun dan mengalungkan tangannya di-”

“Hentikan,” pinta Hamun ditengah isak tangisnya.

“Kyuhyun membuka kancing kemeja Hyejin,”

“Aku mohon hentikan,”

“Mereka-”

Hamun terjatuh lemas di tempatnya berdiri tadi. Ia kehabisan tenaga untuk menangis histeris. Ia bangkit untuk berjalan pergi dari situ. Langkahnya menyeret dan sesekali ia terjatuh karena kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya. Saat Hamun sudah menjauh dan tubuhnya tak kuat lagi, akhirnya ia duduk di atas pasir pantai itu.

“Kau puas melihatku seperti ini?” tanya Hamun ditengah tangisnya pada Donghae yang ternyata mengikuti Hamun sedari tadi.

“Aku puas bisa membalas rasa sakit yang Hyejin rasakan selama ini,” jawab Donghae yang sudah duduk di samping Hamun.

“Beruntung sekali Hyejin eonni. Ia memiliki segalanya. Ia dicintai Kyuhyun oppa, juga disayangi omma dan appaku. Ia juga memiliki teman yang rela membalaskan dendamnya padaku, sepertimu,” ujar Hamun yang Donghae respon dengan tawanya.

“Aku hanya punya Kyuhyun oppa. Hanya ia yang menerimaku apa adanya,” timpal Hamun lagi. Ia menyeka air matanya yang kembali mengalir.

“Andai aku tahu bagaimana cara untuk melupakannya, aku akan melakukannya. Aku hanya ingin Kyuhyun oppa bahagia, meskipun yang bersamanya adalah Hyejin eonni. Aku hanya butuh waktu sampai aku bisa melupakannya, tetapi orang-orang menganggapku sebagai perusak hubungan mereka,” ujar Hamun menyuarakan isi hatinya.

“Kau butuh waktu berapa lama?” tanya Donghae.

“Sangat lama, tapi aku yakin perasaanku ini akan berakhir,” ujar Hamun.

“Mau aku bantu agar kau bisa melupakan Kyuhyun lebih cepat?” tanya Donghae.

Hamun tertawa kecil untuk menyindir pria itu. “Aku menolak, kau hanya akan menyakitiku seperti tadi,”

“Ani, aku tidak akan menyakitimu,” ujar Donghae. Hamun menoleh dan mendapati pria itu ternyata menatapnya sedari tadi. “Lalu?” tanya Hamun.

“Aku akan mencintaimu,” katanya lalu mencium bibir Hamun. Hamun mendorong pria itu akan tetapi Donghae kembali menarik Hamun. Ia mencium Hamun lebih lama dan lebih dalam. Sekuat apapun Hamun menolak, Donghae tetap dapat menahannya.

Hamun menampar Donghae bersamaan dengan pria itu melepaskan bibirnya dari Hamun. Hamun kembali menangis berkat perbuatan pria itu. “Kau sama saja seperti orang lain yang menganggapku wanita murahan karena aku memilih untuk selalu dengan Kyuhyun oppa,” seru Hamun. Ia bangkit dan hendak pergi namun Donghae menahannya.

“Aku tidak menganggapmu seperti itu, Hamun-ssi,”

Hamun menghempaskan tangan Donghae dari tangannya. “Lalu apa yang kau perbuat tadi?!”

“Karena kau membuat hatiku sakit!” seru Donghae. “Hatiku sakit saat melihatmu menangis untuk Kyuhyun. Hatiku sakit saat aku menyadari betapa besar cintamu pada Kyuhyun. Hatiku sakit karena aku merasa tidak punya harapan sama sekali!” lanjutnya.

“Jangan mengucapkan kata-kata yang membuatmu seolah-olah sudah lama mencintaiku,” ujar Hamun.

“Aku sudah lama menyukaimu, Hamun,” ujar Donghae yang tidak bisa dipercaya oleh Hamun. Hamun tidak berkomentar apapun dan memilih untuk pergi.

Hamun yang memang masih lelah secara batin dan fisik tidak bisa berjalan dengan cepat. Dengan mudah Donghae menyusulnya. Donghae menggenggam tangan Hamun dan kembali menarik Hamun dengan paksa.

*****

“Apa yang kau lakukan membawaku ke kamarmu seperti ini?!” seru Hamun. Ia tidak bisa kemana-mana karena Donghae mengunci pintu kamar itu dan menyembunyikan kunci atau kartu akses pintu kamar tersebut.

Donghae menyuruh Hamun untuk duduk di tempat tidur. Ia memberikan segelas minuman pada Hamun lalu duduk di samping wanita itu. “Aku hanya ingin kau mendengar penjelasanku tanpa banyak protes ataupun komentar. Kau mau percaya atau tidak, itu keputusanmu,” ujar Donghae.

Hamun menyeka air matanya yang mulai kering. “Aku menyukaimu karena Hyejin sering bercerita mengenai adik sepupunya. Saat itu, aku sudah tidak di Korea lagi, jadi aku tidak pernah bertemu denganmu. Aku kasihan padamu karena Hyejin menceritakan hubunganmu dengan Kyuhyun. Aku jadi penasaran padamu karena aku tidak mengerti pemikiranmu. Aku selalu berpikir bagaimana rasanya dicintai olehmu, akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padamu,”

“Aku tidak percaya,” ujar Hamun.

“Aku mencintaimu seperti kau mencintai Kyuhyun. Aku tidak menuntut perasaanmu. Aku hanya ingin kau bahagia, siapapun orangnya nanti. Aku hanya ingin mengatakan padamu kalau sejak detik ini, kau tidak hanya memiliki Kyuhyun. Kau juga memilikiku, yang siap menerimamu apa adanya,” ujar Donghae yang membuat hati Hamun terenyuh. Air mata Hamun kembali mengalir, batin dan akalnya saling berbicara. Hamun tidak ingin percaya pada perkataan Donghae mengenai perasaannya, tapi Hamun ingin meyakini bahwa kalimat terakhir Donghae tadi, ia ucapkan dengan tulus.

Hamun terbangun pada pagi hari di tempat tidur Donghae. Hamun ingat kalau semalam ia menangis di pelukan Donghae lalu tertidur. Hamun mencari pria itu dan mendapatinya masih tertidur di lantai kamar. Hamun turun dari tempat tidur untuk menyelimuti Donghae. Selama beberapa saat, ia memandangi wajah pria itu sambil mengingat kembali semua perkataannya kemarin malam.

“Kalau kau suka padaku, kenapa kau tega sekali menyakitiku seperti kemarin? Apa benar hanya untuk membalas perasaan Hyejin eonni?” tanya Hamun.

“Aku kesal melihatmu sangat menyukai Kyuhyun seperti itu. Aku ingin kau sadar kalau pria itu hanya akan menyakitimu, tapi aku sadar kalau aku sudah sangat keterlaluan, mianhe,” jawab Donghae tanpa membuka matanya. Ia justu mengeratkan pelukannya pada guling. “Aku mau tidur 5 menit lagi. Kalau kau tidak ingin aku tarik ke dalam selimutku ini, tunggu aku di atas tempat tidur saja,” ujar Donghae yang hanya Hamun balas dengan senyum.

*****

“Semalam apa yang kalian lakukan?” tanya Hyunah pada Kyuhyun dan Hyejin saat mereka semua berkumpul satu meja untuk sarapan. Kyuhyun dan Hyejin hanya tersenyum penuh arti sedangkan Donghae sudah menatap Hamun dengan cemas.

“Ceritakan saja, oppa, eonni, aku juga penasaran,” timpal Hamun yang membuat semua mata di meja itu menatapnya heran.

Hamun tersenyum sambil menggigit rotinya. “Waeyo eonnidul dan oppadeul? Aku sudah cukup umur untuk mendengar cerita yang dewasa,” jawab Hamun sambil tertawa.

Donghae tiba-tiba bangkit berdiri. Ia juga sudah menggandeng tangan Hamun. “Aku tidak mau mendengarnya. Kau juga belum cukup umur. Kajja,” ajak Donghae. Ia bahkan tidak berpamitan pada teman-temannya yang lain.

“Sejak kapan mereka berdua akrab?” tanya Hyunah sambil tetap memandang kepergian Hamun dan Donghae.

“Rasanya baru kemarin mereka bertemu,” kata Minah.

“Bahkan kemarin Donghae oppa menyindir Hamun,” timpal Jihyo.

“Donghae suka dengan Hamun sudah sejak lama,” ujar Kyuhyun yang membuat Minah, Hyunah, Jihyo, Henry, Woobin, dan Eric tercengang.

“Sebenarnya, aku mengajak Hamun karena Donghae yang meminta. Ia ingin menyelesaikan masalah perasaannya pada Hamun sebelum ia kembali ke Amerika,” cerita Hyejin.

“Kau yakin perasaan Donghae tidak akan tersakiti? Ia tahu kan, Hamun cinta pada Kyuhyun?” tanya Eric.

“Donghae tahu, tapi ia tetap ingin mencoba. Ia tidak ingin perasaan Hamun tersakiti lebih lama lagi. Donghae ingin menyembuhkan hati Hamun dengan caranya,” jelas Hyejin.

*****

“Donghae-ssi, kau hobby menarik-narik tangan orang? Tanganku sakit,” ujar Hamun sambil menepis tangan Donghae yang sedari tadi menggenggamnya.

“Kau, kenapa memaksa dirimu seperti tadi saat disana? Kenapa kau malah menyakiti dirimu sendiri?!” seru Donghae.

Hamun tersenyum. “Aku berusaha untuk melatih diriku. Aku masih merasa sakit, akan tetapi rasa itu jauh berkurang saat aku berpikir, ‘Tenang, jika Kyuhyun oppa pergi, kau punya Donghae yang akan melindungimu’,” jelas Hamun.

Donghae menghela nafas panjang. “Kau memanfaatkan perasaanku sekarang? Dasar wanita kejam,”

“Katanya kau menerimaku apa adanya? Aku memang orang yang jahat dan tidak berperasaan,” ujar Hamun sambil tertawa kecil.

Melihat tawa Hamun membuat Donghae ikut tesenyum. Ia menarik Hamun dan memeluknya. “Tak apa, berpikirlah demikian setiap kali kau merasa sakit baik karena Kyuhyun, Hyejin, atau pun orang lain yang menganggapmu rendah. Seperti yang kau pikirkan, aku akan melindungimu,”

“Jangan merasa senang dulu, aku masih kesal pada perbuatanmu semalam,” kata Hamun yang membuat keduanya tertawa.

“Aku sudah minta maaf padamu tadi pagi, kalau kau lupa,” ujar Donghae.

*****

“Hari ini Kyuhyun dan Hyejin menikah,” ujar Donghae pada Hamun yang duduk di sampingnya.

“Aku tahu, makanya aku dan kau ada disini, di dalam gereja,” bisik Hamun. Tiba-tiba, Donghae menggandeng tangan Hamun. “Apa maksudnya?” tanya Hamun sambil menatap tangannya.

“Agar kau tidak lupa kalau aku ada disini untuk melindungi hatimu,” jawab Donghae yang membuat Hamun tersenyum. Hamun mengaitkan jemarinya diantara jemari Donghae. Donghae menatap Hamun heran.

“Agar aku tidak lupa,” jawab Hamun.

Sepanjang hari itu, mulai dari pemberkatan sampai resepsi dan acara foto-foto, Hamun selalu disamping Donghae. Pria itu juga selalu menggenggam tangan Hamun.

“Kami ingin foto dengan Hamun. Only Hamun. Bisa kau lepas tangan Hamun?” tanya Kyuhyun pada Donghae. Hyejin sudah tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah sahabatnya yang gelagapan saat melepas tangan Hamun.

“Bagaimana sebulan ini mengenal Donghae?” tanya Hyejin di sela-sela sesi foto.

“Aku merasa ditinggalkan,” sela Kyuhyun yang membuat mereka bertiga tertawa.

“Perasaan Donghae padamu tulus Hamun. Kalau kau tidak keberatan, tolong berikan kesempatan padanya sebelum ia kembali ke Amerika,” kata Hyejin.

Senyum Hamun menghilang. “A-Amerika?” tanya Hamun.

“Donghae belum cerita padamu? Ia hanya sebulan disini untuk membantu pernikahan kami, setelah itu ia akan kembali ke Amerika,” jelas Kyuhyun yang membuat Hamun terdiam.

*****

Donghae menatap Hyejin dengan penuh harap. Hyejin sedang mencoba untuk menghubungi Hamun sekarang. “Tidak diangkat,” ujar Hyejin yang langsung membuat Donghae lemas.

“Kau sudah bilang pada Hamun jam keberangkatanmu, kan?” tanya Kyuhyun.

“Ne, dia sudah tahu. Tapi, ia tidak bilang apa-apa kemarin,” ujar Donghae yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dan kesedihannya. Sebenarnya, ia dan Hamun membuat kesepakatan kemarin. Kalau Hamun masih ingin melanjutkan hubungannya dengan Donghae, ia akan datang ke bandara untuk mengantarnya pergi. Akan tetapi, jika Hamun ingin melupakan semua kebersamaannya dengan Donghae selama sebulan ini, ia tidak perlu datang. Bukankah ini berarti Hamun ingin mengakhiri semuanya?

“Kau ada salam untuk Hamun? Nanti akan kusampaikan,” ujar Hyejin yang ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu.

“Tidak ada,” jawab Donghae.

“Masuk sana, kau harus segera check-in,” ujar Kyuhyun. Donghae memeluk Hyejin dan Kyuhyun bergantian.

“Awas kalau kau membuat Hyejin menangis. Aku akan langsung kesini untuk memukulmu,” ancam Donghae yang membuat mereka semua tertawa.

“Jangan buang-buang uang seenaknya. Kau harus mulai menabung untuk segera menyusul kami,” jawab Kyuhyun.

*****

Donghae menghela nafas panjang begitu ia tiba di apartemennya. Meskipun sudah lama di perjalanan, perasaannya belum terobati. Donghae menekan password pintunya lalu membuka pintu itu.

“Annyeong,” sapa sebuah suara yang sangat familiar bagi Donghae. Ia menengadahkan kepalanya untuk melihat sang pemilik suara.

“K-Kang Hamun? Kau-”

“Donghae-ssi, kau sangat mencintaiku ya?” sela Hamun yang tidak dijawab Donghae. Ia masih tercengang menghadapi kenyataan yang ada di depannya. “Kata Hyejin eonni, kau selalu menggunakan tanggal ulang tahunmu dan orang-orang terdekatmu untuk password apapun. Hyejin eonni sudah menyiapkan semua tanggal ulang tahun omma, appa, dan kakakmu, tapi tidak ada yang benar. Akhirnya aku mencoba tanggal ulang tahunku, dan ternyata-”

Donghae menarik Hamun ke dalam pelukannya. Ia memeluk Hamun sangat erat. Ia merasa terharu dan bahagia melihat wanita itu. “Bisa kau jelaskan kenapa kau ada disini?” tanya Donghae.

Hamun melepas pelukan itu. Ia menatap Donghae lekat. “Selama beberapa ini aku selalu bertanya-tanya, kenapa akhir-akhir ini aku tidak merasa sakit saat aku melihat Kyuhyun oppa dan Hyejin eonni bersama? Kenapa, meskipun aku tidak membutuhkanmu untuk melindungiku, aku selalu ingin kau ada di dekatku? Kenapa aku tidak ingin melepaskan tanganmu? Kenapa aku bahagia saat bersamamu? Dan kenapa aku tidak ingin kau merasakan rasa sakit yang selama ini kurasakan?”

“Kau menemukan jawabannya?” tanya Donghae.

Hamun mengangguk. “Saat itu aku sadar, aku sudah menyukaimu,”

“Ka-kau tidak bercanda, kan? Kau wanita kejam, bisa saja kau bilang kalau kau bercanda setelah aku mempercayainya,” ujar Donghae yang membuat Hamun tertawa.

“Aku tidak akan jauh-jauh kesini hanya untuk bercanda,” kata Hamun.

“Kalau kau hanya ingin mengatakan ini, kau juga tidak perlu jauh-jauh datang kesini. Kau hanya perlu datang ke bandara tadi siang,”

“Seperti kau yang membuktikan perasaanmu padaku, aku juga tidak mau setengah-setengah untuk membuktikan perasaanku. Aku sadar, pasti susah untukmu percaya pada perasaanku. Kau melihatku mencintai Kyuhyun oppa. Tetapi, inilah kenyataannya, kau menyembuhkan hatiku,” jawab Hamun.

Donghae tersenyum mendengar hal tersebut lalu ia mencium bibir Hamun dengan penuh kelembutan. “Boleh aku minta sesuatu untuk merayakan hari ini?” tanya Donghae saat ia melepas bibirnya.

“Jangan yang aneh-aneh,” peringat Hamun.

“Aku mau kau memanggiku oppa, seperti kau memanggil Kyuhyun,” kata Donghae.

Hamun mengecup bibir Donghae singkat. “Tidak mau,” ujar Hamun lalu beranjak pergi menuju ruang tamu.

Donghae mengikuti Hamun kemana pun gadis itu melangkah. “Yaa, Kang Hamun! Dasar wanita kejam! Kau kira kau akan memaafkanmu jika kau menciumku seperti-”

Hamun tiba-tiba mencium kembali Donghae. “Setidaknya ini membuatmu diam. Aku tidak mau menyamakanmu dengan Kyuhyun oppa. Aku ingin memanggilmu dengan sebutan yang spesial. Mengerti? Jangan iri hanya karena hal kecil seperti itu,” ujar Hamun.

Donghae tertawa sambil memeluk gadis itu dari belakang. “Kalau ‘Hae baby’? Atau ‘Dongie’?”

“Menggelikan. Biar aku saja yang perpikir,” ujar Hamun.

“Aku sukanya ‘Hae baby’ atau ‘Dongie’. Pilih saja,”

“Okay, Dongie. Thank you for your love. Your love is my remedy to heal my heart. You give me a chance to feel love again,”

END.

Makasih yang sudah baca ^^