Annyeong yeorobun! Terima kasih bagi para reader yang telah menunggu seri terakhir Miss Evil ini dengan sabar.

Mohon maaf kalau di sepanjang cerita ini ada yang kurang berkenan😀

Maaf juga karena belum membalas komen-komennya. Tapi author selalu menunggu komen kalian semua mengenai cerita ini.

Enjoy!

“Selamat dataaaaang!” teriak Jihyo membukakan pintu.

MinAh, Hyejin, dan Kyuhyun memandang Jihyo dengan tatapan takjub. Dari luar pintu apartemen Eric, mereka bertiga bisa melihat lampu disko berkelap-kelip.

“Kau bakal diamuk Eric hyung, Choi Jihyo,” Kyuhyun tak bisa menutup mulutnya yang terus menganga kaget begitu memasuki apartemen Eric yang kini disulap Jihyo menjadi kelab dadakan.

“Kau beli ini dimana, Jihyo?” tanya Hyejin begitu melihat beberapa botol wine yang ada di meja makan. “Bukannya ini mahal?”

“Kartu kredit Eric oppa, iya kan, MinAh onnie?” kedip Jihyo kepada MinAh yang langsung duduk di sofa.

“Tenang, semua ini sudah diizinkan oleh sang empunya apartemen. Kan aku sudah lama bilang bahwa kita butuh party,” ujar MinAh santai.

“Kita kan bisa party di luar, MinAh noona,” Kyuhyun sibuk melihat-lihat botol wine yang dibeli Jihyo. “Tak kusangka, pilihan wine mu bagus, nona Choi.”

“Tentu saja! Aku kan sering menemani kau dan Changmin oppa membeli wine. Seleraku tinggi,” Jihyo mulai membentangkan karpet dengan motif poldakot besar berwarna-warni di depan televisi.

“Twister?” tebak Hyejin.

“Tentu saja kita harus bermain twister! Biar semakin intim, hahaha,” ujar Jihyo setengah berlari saat mendengar bel pintu berbunyi.

“Annyeong yeorobun! Ayo masuk!” teriak Jihyo senang melihat HyunAh, Henry, Donghae, dan Hamun.

“Onnie, bisakah aku pulang ke dorm duluan? Aku harus mengerjakan tugasku,” keluh Hamun saat melihat apa yang Jihyo onnie lakukan pada apartemen Eric, lebih mirip kapal pecah ketimbang kelab dadakan.

“Tidak bisa, tidak boleh! Lagipula, kau pasti akan senang jika menemui guest star ku malam ini, hahaha,” seru Jihyo mendorong Hamun masuk ke dalam.

“Yeorobun, aku bawa bir!” seru Henry yang langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Kyuhyun sedang menuangkan wine. “Oh, ada wine? Kalau begitu buat apa aku beli bir?” ujar Henry sedih.

“Gwenchana, Baby Hen. Bir yang kau bawa bisa untuk treatment rambut kami,” HyunAh mengelus punggung kekasihnya. “Jangan sedih lagi ya, jagi.”

“Memangnya bir bisa untuk mencuci rambut?” tanya Henry semangat. “Serius Baby Hyun?”

“Tentu saja. Kami para yeoja punya 1001 rahasia untuk cantik,” ujar HyunAH cekikikan.

“Oiya Jihyo, siapa guest star kita malam ini?” tanya Donghae.

“Rahasia,” goda Jihyo sambil mengeluarkan kue tart dari dalam lemari es.

“Paling Eric Mun,” gumam MinAh sambil mengecek smartphonenya.

“Onnie! Darimana onnie tau?” seru Jihyo kaget.

“Ahjuppa mu itu tidak sengaja mengatakan kalau dia akan pulang dari LA malam ini,” MinAh mengambil segelas wine yang disodorkan Kyuhyun. “Mianhae evil magnae, oppamu yang satu itu memang tidak bisa menyimpan kejutan.”

“Ah, tidak asik! Awas saja Eric oppa!” Jihyo menekan nomer Eric di smartphonenya. “Ya! Mengapa kau memberitahukan MinAh onnie sih? Tidak asik!”

“Ya ampun Choi Jihyo! Aku baru saja landing dan kau malah marah-marah kepadaku? Dasar anak tidak sopan,” seru Eric di ujung telepon sana.

“Biar, aku tidak akan menjemputmu di bandara! Tidak ada kejutan lagi, huh,” seru Jihyo menutup teleponnya.

MinAh bertepuk tangan melihat evil magnaenya berani memarahi kekasihnya. “Hahaha, memang hanya kau dan Kyuhyun saja yang berani memarahinya seperti itu. Good job, duo evil magnae!”

“Bir ku bagaimana?” seloroh Henry tiba-tiba.

Jihyo mengambil plastik yang berisi kaleng bir dari tangan Henry. “Sini, oppa. Biar aku saja yang minum.”

“Jihyo-ah, kau kan paling tidak kuat untuk minum,” cegah HyunAh.

“Onnie, sekali saja. Lagipula aku kan di apartemen Eric oppa, bukan di tempat umum. Kalau aku mabuk tidak akan jadi masalah,” seru Jihyo senang.

“Onnie, terakhir kali kau mabuk, kau terus menangis hingga pagi,” ujar Hamun takut-takut melihat Jihyo memelototinya.

“Setidaknya aku tidak melakukan hal aneh saat mabuk, weeek.”

“Kau menangis adalah hal paling aneh di dunia, Choi Jihyo,” Kyuhyun menenggak winenya.

“Biar, aku tidak peduli,” Jihyo membuka kaleng bir sambil meraih remote player dan memencetnya. “Mari bersenang-senang!” teriak Jihyo memutar musik dengan keras.

Jihyo membawa plastik berisi bir tersebut ke sudut ruang tamu. Dalam satu tegukan, Jihyo menghabiskan satu kaleng bir.

Ia melihat Kyuhyun, Hyejin, MinAh, dan Donghae bermain Twister di depan televisi. Hamun hanya bisa menekuk wajahnya melihat tingkah ketiga orang lainnya. Jihyo tak bisa melihat HyunAh dan Henry, namun tercium aroma masakan mengelitiki hidungnya. Pasti dorky couple sedang membuat masakan.

Jihyo mengambil kaleng bir kedua, membuka penutupnya, dan menenggaknya dengan cepat. Jihyo tidak tau mengapa saat ini ia menjadi sangat kuat minum. Sepertinya baru beberapa tenggak, namun tak ada bir yang tersisa di kaleng kedua.

Jihyo sepertinya mendengar bunyi bel apartemen Eric, namun ia ragu. Kakinya refleks bergerak begitu mendengar MinAh berteriak menyuruhnya membukakan pintu.

“Annyeeeeeeeeeeeeeeong, Eric oppppaaaaaaaaaaa!” teriak Jihyo dengan kencang. Ia juga tidak tau mengapa ia senang sekali melihat Eric berada di depan pintu, padahal tadi ia sangat kesal karena oppa nya yang satu ini menggagalkan rencana kejutannya.

“Ya ampun, Jihyo! Kau mabuk?” tanya Eric begitu mencium aroma alkohol dari mulut Jihyo.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak,” Jihyo tertawa geli.

“Kau, urus Jihyo. Aku masuk dulu,” ujar Eric kepada namja di belakangnya.

“Annyeeeeeeeong!” Jihyo menyipitkan matanya, entah mengapa pandangannya kini menjadi buram.

“Kau tau kan, ini private party! Walaupun kau temannya Eric oppa,” Jihyo menenggak bir di kaleng ketiganya. “Kau. Tidak. Boleh. Masuk.”

“Jihyo, kau tidak kuat minum,” namja itu memegang lengan Jihyo begitu melihat yeoja di depannya limbung.

“Eh? Seunghyunie oppa?” Jihyo memegang wajah namja di depannya. “Aku merindukanmuu!”

“Ne, ne. Ayo kita masuk dulu,” namja itu berusaha mendorong Jihyo masuk ke dalam apartemen, namun kekuatan yeoja itu terlalu besar.

“Andwae! Kau akan diusir oleh oppadeul dan onniedeul! Kau juga tidak boleh masuk, hahaha,” Jihyo mendorong tubuh namja itu keluar dari apartemen. “Nah, di sini!” ujar Jihyo melepaskan dirinya dari pegangan namja tersebut dan menjatuhkan dirinya ke lantai.

“Jihyo, pelan-pelan. Kau bisa terluka,” namja itu ikut duduk di lantai menemani Jihyo.

“Aku ini kuat,” Jihyo tertawa kencang. “Aku tidak akan terluka,” Jihyo tiba-tiba terdiam. Entah mengapa rasanya kini airmata di dalam matanya mendesak ingin keluar.

“Gwenchanayo?” tanya namja itu.

Jihyo menggeleng, air matanya tak mau berhenti. Jihyo terisak. “Aku tidak tau mengapa, oppaa.”

Namja itu terdiam, ia mengelus kepala Jihyo. “Berhentilah menangis, nona evil.”

Jihyo merengek, menatap mata namja itu. “Jangan memanggilku seperti itu.” Kini ia meraung lebih kencang. “Dia jahat, oppa. Dia jahat.”

Namja itu menarik Jihyo dalam pelukannya, “Mianhae, Jihyo-ah.”

“Aku tidak mau bertemu lagi,” Jihyo membasahi kaos namja itu dengan tangisannya. “Aku mau Seunghyun oppa saja,” rengek Jihyo.

“Ne, Hyonnie,” Namja itu semakin mempererat pelukannya. “Jeongmal mianhae.”

“Dia meninggalkanku begitu,” Jihyo tak bisa melanjutkan kalimatnya. Suaranya tercekat karena tangisannya yang entah mengapa tak bisa berhenti.

“Dia tidak meninggalkanmu, Hyonnie.”

“Dia meninggalkanku!” Jihyo berteriak kepada namja di hadapannya. Jihyo memeluk tubuh namja itu, tak mendengar lagi apa yang dikatakan olehnya. Matanya terpejam. Mungkin Jihyo seharusnya mendengar ucapan para member Super Girls tadi, ia memang tidak pernah kuat untuk minum bir sebanyak itu.

+++

Jihyo memeluk bantal di sampingnya, perlahan membuka matanya. Ia memperhatikan sekitar. Ini kamar tamu.

“Hoooaaaam,” Jihyo menguap sambil membenamkan wajahnya di bantal. Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk tirai jendela. Ia tiba-tiba teringat mimpi terakhirnya tadi. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir ini, ia memimpikan Kim Woobin.

Mood Jihyo untuk tidur menghilang begitu mengingat mimpi itu. Di dalam mimpinya, Jihyo bisa merasakan wangi parfum Woobin sangat jelas, bahkan ia bisa merasakan hangatnya tubuh Woobin yang memeluk dirinya.

“Oh tidak, aku perlu teh,” gumam Jihyo berjalan sempoyongan dari kamar. Ia melihat Hamun, MinAh, Eric dan Donghae terlelap di ruang tamu. Jihyo menduga pasti kamar utama diambil alih oleh animal couple. Namun Jihyo tak melihat dimana dorky couple.

Dari jauh Jihyo bisa mendengar suara wajan beradu dengan sodet. “Dorky couple daebak! Tau saja aku mulai lapar,” gumam Jihyo sambil berusaha berjalan dengan lurus menuju dapur.

Namun Jihyo tak menemukan HyunAh dan Henry di dapur. Ia melihat sosok namja menjulang membelakangi dirinya. Sosok yang ia tak ingin temui selama dua minggu ini.

“Kau sudah bangun?” tanya Woobin tanpa melihat ke arah Jihyo.

“Ne,” Jihyo tidak tau bagaimana Woobin bisa menyadari kehadirannya di sini. Ia mau melangkahkan kakinya keluar dari dapur, namun tidak bisa. Seperti ada paku yang menahan kedua kakinya untuk melangkah.

Woobin mematikan kompor dan menyodorkan secangkir teh kepada Jihyo. “Ini, kau pasti pusing.”

“Tidak,” Jihyo menolak dengan tegas. Ia tak mau terlihat lemah di hadapan Woobin. “Untuk apa kau ke sini?”

Woobin tak menjawab, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Kau lebih ingin ada Seunghyun di sini daripada aku?”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku,” Jihyo menaikkan sedikit nada suaranya, namun ia berusaha tidak berteriak agar tidak membangunkan yang lain.

“Kau juga tidak menjawab pertanyaanku, Choi Jihyo,” Woobin menatap Jihyo dengan lekat. “Bagaimana bisa di saat kau mabuk, kau malah mengingat Seunghyun?”

Kepala Jihyo rasanya seperti terhantam palu besar. Ia berusaha mengingat semuanya. Namja yang ia kira Seunghyun adalah Woobin. Berarti mimpi terakhirnya tadi malam adalah nyata?

“Aku tidak ada urusan lagi denganmu,” Jihyo memerintahkan kakinya untuk bergerak, namun masih tidak bisa.

“Aku masih ada urusan denganmu,” Woobin berjalan mendekati Jihyo. “Mengapa kau menjauhiku?”

“Kau pikir saja sendiri,” tantang Jihyo.

“Mengapa kau lebih mempercayai ucapan orang daripada diriku, Choi Jihyo?” Woobin meletakkan kedua tangannya di pundak Jihyo, namun Jihyo menampiknya.

“Aku tak mau bertengkar denganmu, Kim Woobin,” Jihyo berusaha menstabilkan napasnya. “Kumohon, aku tidak ingin melihatmu lagi.”

“Tentu saja kau tidak ingin melihatku lagi. Kau sudah punya Seunghyun yang setiap hari datang ke dorm dan bertukar pesan di instagram!” Woobin tak dapat menahan emosinya.

“Oh, jadi kini aku yang salah?” Jihyo berteriak ke Woobin. “Kau tidak berhak marah kepadaku!”

“Tentu saja aku berhak! Aku kekasihmu, Choi Jihyo!” Woobin tak peduli jika suaranya membangunkan yang lain. “Taukah kau betapa tersiksanya aku selama dua minggu ini?”

“Tidak, aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu!” Jihyo mengepalkan tangannya, menahan hasratnya untuk meninju Woobin.

“Mengapa kau selalu saja keras kepala sih?”

“Oiya? Aku keras kepala? Kalau begitu cari saja yeoja lain yang tidak keras kepala, tidak hobi bertengkar, tidak suka berteriak kepadamu, tidak menjauhimu!”

Naapas Woobin tersengal. “Baiklah, terserah kau!” ujar namja itu berjalan keluar dari dapur.

Jihyo masih terdiam, ia semakin tidak tau mengapa kakinya terasa seperti batu. Air matanya mengalir di pipi. Jihyo menahan sekuat tenaga, namun tidak bisa.

“Haruskah kau terus bersikap seperti itu kepadaku?” bisik Woobin di telinga Jihyo. “Kau yeoja paling jahat, Choi Jihyo. Kau tau aku tak bisa meninggalkanmu,” Woobin memeluk kekasihnya dari belakang.

“Tentu saja aku tau,” isak Jihyo.

“Jeongmal mianhae, Jihyo-ah,” Woobin menyenderkan kepalanya di pundak Jihyo. “Haruskah kita seperti ini terus?”

“Kau tau jika kita melanjutkan untuk terus bersama, situasinya akan berbeda kan?” Jihyo memberanikan diri untuk menggerakkan tangannya membelai rambut Woobin.

“Aku mencintaimu.”

“Aku,” Jihyo terdiam sejenak. “Aku tidak akan bisa seperti Jihyo yang kau temui dua minggu lalu, oppa.”

“Wae?”

“Dua minggu ini semuanya berjalan dengan sangat berbeda,” Jihyo membalikkan tubuhnya menghadap Woobin. “Dan kau tau, kau merasakan juga apa yang terjadi selama dua minggu ini.”

“Kau selalu bilang bahwa tak ada salahnya mencoba,” Woobin menatap Jihyo dengan lekat. “Kau selalu memintaku untuk memegang tanganmu jika kau mau menyerah,” Woobin meraih tangan Jihyo dan menggenggamnya. “Dan disinilah aku, Nona Choi Jihyo. Berdiri di hadapanmu, memutuskan untuk tidak menyerah terhadapmu. Aku mohon, jangan menyerah terhadapku juga.”

Genggaman tangan Woobin terasa begitu asing di tangan Jihyo, padahal baru dua minggu. Namun, Jihyo masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana hangatnya berada di dalam pelukan namja itu.

“Bagaimana jika aku menyerah?” tanya Jihyo. Seluruh ide liar di pikirannya berkecamuk saat ini. Ia tak tau apa yang harus dilakukan.

“Maka aku akan mengejarmu. Menyadarkanmu bahwa kau seharusnya tidak menyerah. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dan menyerah, tidak akan,” Woobin mempererat genggaman tangannya.

Kini Jihyo mulai familiar dengan genggaman tangan Woobin. Genggaman yang selalu menjaganya agar tetap di sisi Woobin. Genggaman yang selalu kuat agar Jihyo tak terlepas dari jangkauannya.

“Maybe, just maybe, this is not the last dream for us,” pikir Jihyo.

“Apa aku masih boleh bertemu dengan Seunghyun oppa?”’ ucap Jihyo takut-takut.

“Tentu saja tidak! Apa-apaan dia datang ke dorm girlband lalu menemaniu hingga larut malam? Apa-apaan dia berbalas pesan rahasia denganmu melalui instagram?” Woobin menggerutu dengan cepat tidak memperdulikan ucapan Jihyo.

“Ya! Kau berisik, tuan devil!” Jihyo mencium bibir Woobin dengan cepat, menghentikan kekasihnya mengomel tanpa henti. “Saranghae.”

“Saranghae, Jihyo.”

Tamaaaaat! Terima kasih untuk para reader yang telah setia membaca.

As a fan, author tentu saja rela Kim Woobin sudah punya kekasih di dunia nyata🙂

Namuuuun, author gak tega untuk memisahkan WooJi couple, hehehe.

Semoga suka dengan ceritanya. Jangan lupa komen yaaa😀