Halo semuanya hehe ini ada ff baru, silahkan dinikmati ya. Semoga suka hehe

I’m lucky. In this big universe, I had the privilege to meet you.

“Annyeonghaseyo, yeorobun!” seru seorang wanita yang bernama Cho Hyejin, Manager divisi Accounting sekaligus istri dari General Manager di perusahaan tersebut. Ia menepuk tangannya sebagai tanda kalau ia ingin semua orang yang ada dilantai itu berkumpul di depannya sekarang juga. Pegawai yang sudah berkumpul menatap heran gadis lain yang ada di sebelah Hyejin.

“Ada apa, nona Song?” tanya pria tampan yang bernama Donghae, Kepala divisi Design.

“Nyonya Cho, tolong biasakan panggil aku dengan nama itu,” koreksi Hyejin sambil tertawa terbahak-bahak. Pegawai lain sudah ikut tertawa dengannya namun Donghae sudah memasang wajah kesal. Baginya, Hyejin yang suka pamer sangat menyebalkan!

“So, what’s the news?” tanya Donghae lagi dengan penuh kesabaran.

Hyejin tersenyum. Ia mendorong pelan gadis yang di sampingnya agar maju beberapa langkah. Hyejin menyikut pelan gadis itu sehingga ia langsung membungkukkan badan pada semua pegawai yang ada di hadapannya. “Bagus. Sekarang, perkenalkan dirimu, Hamun-ah,” titah Hyejin.

Gadis bernama Hamun itu terdiam sambil menundukan kepalanya. Waktu sudah berlalu sekitar semenit tapi gadis itu belum mengucapkan sepatah kata pun.

“Ada apa dengannya? Dia tidak bisa berbicara?” tanya salah seorang pegawai yang langsung membuat Hyejin berseru. “Yaa! Kau!” Hyejin nyaris menghampiri untuk memukul pegawai itu, namun Hamun segera menahannya.

Hamun tak berkata apapun. Ia hanya menatap Hyejin dengan memelas yang membuat Hyejin tidak bisa berkutik. Hyejin menghela nafas panjang. “Baiklah, aku saja yang akan memperkenalkannya. Namanya Kang Hamun. Adik sepupuku yang sangat aku sayang. Kalian akan mati ditanganku kalau berani macam-macam dengannya,” ancam Hyejin sambil menatap pegawai yang tadi menghina Hamun.

“Dia tidak bisu. Dia menderita Selective Mutism,” jelas Hyejin. “Sindrom ini ada hubungannya dengan social anxiety. Ia mengalami kecemasan saat berada di hadapan orang lain.”

“Aku tak tahan melihatnya mengurung diri selama ini, jadi aku mempekerjakannya di perusahaan ini. Hamun akan menjadi staff design. Kau akan bertanggung jawab padanya,” ujar Hyejin sambil memandang Donghae.

“Mwo? Kau bahkan tidak berdiskusi dulu denganku! Setidaknya aku harus tahu kemampuan dia!”  seru Donghae, ia tak pernah bisa menerima kebiasaan Hyejin yang selalu seenaknya.

Hyejin membuat gerakan meresleting mulutnya, menyatakan kalau ia ingin Donghae diam saja. “Kau percayalah padaku. Hamun tidak akan mengecewakanmu,” ujar Hyejin. “Baiklah kalau begitu, sampai disini. Aku harap kalian mau membantu Hamun.”

Hyejin pergi dari ruangan itu. Pegawai yang lain juga langsung kembali ke mejanya masing-masing. Tidak ada niatan untuk berkenalan dengan Hamun. Mereka kesal karena Hamun diperlakukan dengan special oleh Hyejin.

Donghae menghela nafas panjang saat mendapati Hamun menatapnya. Ia menghampiri Hamun. “Namaku Lee Donghae, kepala divisi Design. Ikut aku,” katanya.

Karena kedatangan Hamun yang mendadak, tidak ada meja kerja untuk Hamun di bagian pegawai. Dengan terpaksa, Donghae membawa Hamun ke dalam ruangannya dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk. “Belum ada meja kosong untukmu diluar, aku akan minta staff divisi akomodasi untuk menyiapkannya. Hari ini kau santai-santai saja, besok baru mulai bekerja,” jelas Donghae yang hanya direspon Hamun dengan anggukan.

Hamun menunduk dan memainkan jemarinya untuk mengurangi kecemasannya, sedangkan Donghae tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hamun. Baru kali ini ia menemui seseorang seperti Hamun, ada sedikit rasa penasaran dalam hatinya. Ia ingin bertanya apa yang menyebabkannya seperti ini, tapi ia tahu kalau pertanyaan tidak sopan untuk ditanyakan.

Tiba-tiba Hamun mengetik sesuatu di smartphonenya lalu memberikan benda itu pada Donghae. Donghae terheran-heran dengan tindakan Hamun akan tetapi ia tetap mengambil ponsel Hamun. ‘Mianhe, aku mengganggu anda. Anggap saja aku tidak ada. Atau, apa sebaiknya aku keluar?’

Donghae menatap smartphone itu dan Hamun  bergantian. Ia menghela nafas saat mengingat kalau dirinya sedang dikejar deadline. “Hm, sebaiknya kau jalan-jalan saja di luar,” perintah Donghae yang langsung dituruti Hamun. Kalau Hamun ada disitu, Donghae yakin pekerjaannya tidak akan beres karena ia sangat penasaran dengan Hamun.

Setelah selesai istirahat siang dengan staf-stafnya, Donghae berjalan kembali menuju kantor melalui taman yang sangat dekat dengan kantornya. Ia selalu senang melewati taman ini karena disini banyak hewan-hewan kecil seperti burung atau kelinci.

Langkah Donghae tiba-tiba terhenti karena ia melihat Hamun duduk di bench taman. Ia memangku seorang kelinci dan mengelus-elusnya. Donghae terheran karena kali ini ia melihat Hamun tersenyum pada burung-burung yang berkumpul disekitarnya. “Kalian pasti lapar. Makan yang banyak,” kata Hamun sambil menebarkan makanan burung disekitarnya. Mulut Donghae masih menganga sejak Hamun mengucapkan kalimat itu. Donghae berjalan semakin mendekati Hamun. Ia ingin meyakini dirinya kalau ia tidak salah dengar.

“Ini hari pertamaku bekerja di perusahaan Hyejin eonni dan Kyu oppa. Aku rasa, mereka tidak menyukaiku,” cerita Hamun pada hewan-hewan itu. Hamun menghela nafas panjang. “Apa aku bisa berbicara dengan mereka seperti aku berbicara dengan kalian?”

“Pasti bisa,” kata sebuah suara yang membuat Hamun terperanjat. Ia hendak berdiri untuk pergi dari situ namun pria itu menahan tangannya. “Duduklah,” kata Donghae yang kini sudah duduk di bench yang sama dengan Hamun.

“Jadi kau tidak bisa berbicara dengan manusia tapi bisa berbicara dengan hewan?” tanya Donghae yang tidak dijawab oleh Hamun.

“Kau sebenarnya ingin berbicara dengan orang disekelilingmu namun tidak bisa karena kau merasa cemas?” tanyanya lagi. Ia menatap Hamun dan mendapati gadis itu menganggukan kepalanya.

“Bagaimana kalau untuk sementara aku menjadi teman bicaramu?” usul Donghae. Hamun menatap Donghae dengan terheran. Baru kali ini ada seseorang yang menawarkan diri menjadi temannya.

“Kalau kau diam saja, aku anggap kau menolak tawaranku,” kata Donghae yang langsung beranjak pergi dari tempat duduknya. Saat ia sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba seseorang menarik lengan kemejanya. Kang Hamun. Gadis itu berdiri di hadapan Donghae.

Hamun mengangkat smartphone miliknya sampai menutupi hidung dan matanya. Donghae menatap layar 6 inci itu. Ada sebuah tulisan disana.

‘Aku mau!’ selang 3 detik, tulisan itu bergeser dan muncul sebuah tulisan baru.

‘Jeongmal, gamsahamnida!’ tulisan itu kembali bergeser.

‘Aku sangat senang karena ada yang mau menjadi temanku’

‘Aku tidak bisa menahan air mataku’

‘Tapi, aku masih cemas dan takut’

‘Aku akan membuatmu repot’

‘Aku akan membuatmu kesal’

‘Tapi aku ingin mencoba’

‘Kau masih mau membantuku, Donghae sajangnim?’

Donghae melirik Hamun. Ia bisa melihat pundak Hamun naik turun. Donghae menurunkan smartphone Hamun yang sedari tadi menutupi matanya. Saat itu, ia bisa melihat kalau Hamun sudah menangis. Tangis Hamun menderas saat Hamun sadar kalau Donghae sudah membaca semua isi hatinya. Donghae tersenyum tanpa diketahui Hamun lalu mengacak rambut Hamun.

“Sudah, jangan menangis lagi. Aku bisa kena marah Hyejin. Kau tahu ia sangat mengerikan kalau marah, kan?” kata Donghae. Hamun mengangguk tanda setuju.

Hamun menatap sekeliling apartemen Donghae begitu ia masuk ke dalam. ‘Kenapa membawaku ke apartemen sajangnim?’ tanya Hamun melalui tulisan di layar smartphonenya.

Donghae berjalan menuju dapur dan Hamun mengikutinya kemana pun Donghae melangkah. “Tiga bulan ini kau tetap belum berbicara padaku, tapi sepertinya kau suka dekat-dekat denganku,” canda Donghae yang membuat wajah Hamun memerah. Dengan segera, Hamun mengetik sesuatu lalu memberikan ponselnya pada Donghae.

‘Mianhe, aku merasa nyaman denganmu. Tanpa kusadari, aku menjadikanmu perisaiku saat orang lain menatapku aneh,’

Donghae mengangguk. “Kemajuan yang cukup bagus. Tapi aku belum puas kalau kita belum bercakap-cakap layaknya seorang teman,” ujar Donghae sambil berjalan menuju ruang tamu. Hamun masih mengikutinya.

“Berapa lama sampai akhirnya kau bisa berbicara dengan Hyejin dan Kyuhyun?” tanya Donghae.

“Kiyowo!” seru Hamun tiba-tiba saat melihat Bada, anjing Donghae. Hamun sudah memeluk Bada lalu duduk di samping Donghae.

“Kau bisa berbicara dengan Bada walaupun ia tidak mengajakmu bicara. Aku kalah dengan seekor anjing,” gerutu Donghae kesal sambil menatap Hamun. Hamun mengikik geli sambil mengetik sesuatu

‘Hyejin eonni: 10 bulan. Kyu oppa: 15 bulan’

Donghae menganga. “Aku tak bisa menunggu selama itu. Aku harus memikirkan sesuatu,” ujarnya yang tampak berpikir keras.

‘Kenapa kau berusaha keras untuk membuatku bicara denganmu, sajangnim?’ Hamun menunjukan layar 6 inci itu pada Donghae.

Donghae tersenyum. “Awalnya karena aku penasaran. Tapi, semakin aku mengenalmu, aku benar-benar ingin menjadi temanmu. Aku ingin mendengarmu menceritakan semua masalah-masalahmu dan aku ingin membantumu,” ujar Donghae sambil tersenyum pada Hamun.

‘Gamsahamnida,’ tulis Hamun.

‘Aku juga akan berusaha untuk menghilangkan rasa cemas dan takutku,’

“Aku ada ide!” seru Donghae tepat setelah ia membaca perkataan Hamun yang terakhir. “Kau tunggu disini,” titahnya. Donghae segera berlari ke kamarnya. Dalam waktu 3 menit, ia kembali keluar dengan sudah mengenakan piyama berbentuk anjing. Lengkap dengan ekor dan hoodie yang memiliki telinga seperti anjing jenis Basset Hound.

“Tada! Bagaimana? Aku sudah mirip anjing?” tanya Donghae pada Hamun. “Aku tak menyangka kalau suatu hari aku akan menggunakan hadiah konyol yang Hyejin dan Kyuhyun berikan ini,” tawa Donghae membuncah.

Donghae menghampiri Hamun dan duduk di sebelahnya. Donghae menggaruk-garuk kepalanya dengan tangannya. Donghae menatap Hamun lalu menggonggong seperti suara anak anjing. Ia menyodorkan kepalanya pada Hamun agar gadis itu bisa mengelusnya.

“Ki-kyeopta,” puji  Hamun dengan mulutnya sendiri sambil mengelus kepala Donghae.

Donghae langsung menatap Hamun dengan matanya yang berbinar. “Kau bilang apa tadi? Kyeopta?!” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan anggukan. Donghae sangat senang mendengarnya sampai-sampai ia memeluk Hamun dengan erat lalu mencium puncak kepala gadis itu.

“Ayo katakan yang lain!” pinta Donghae. Ia kembali berperilaku seperti tadi. Menggaruk-garuk, menggonggong, dan minta di elus.

“Ga..gamsahamnida, sa..sajangnim,” kata Hamun dengan segala usahanya. Rasa takutnya jauh berkurang saat ia melihat pria itu berusaha keras untuk bisa berbicara dengannya. Kecemasannya juga menurun saat Donghae terlihat bahagia mendengar suaranya.

“Yaa, Lee Donghae!” seru sebuah suara yang membuat Donghae dan Hamun terdiam. Ia menatap seorang wanita dan seorang pria yang sudah berdiri di ambang pintu apartemen Donghae.

Tak berapa lama kemudian, pria dan wanita itu tertawa terbahak-bahak saat melihat Donghae dengan piyama itu. “Hyejin-ah, kau ingat saat kita memberi piyama itu pada Donghae, ia bersumpah tidak akan pernah memakainya?” tanya Kyuhyun yang jelas hanya ingin menyindir Donghae. Hyejin tidak bisa menjawab. Ia belum bisa menghentikan tawanya.

Hamun bisa melihat wajah Donghae yang sudah memerah, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan tawa Hyejin eonni dan Kyuhyun oppa. Donghae langsung bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. “Pergi kalian! Aku akan mengganti password apartemenku agar kau dan Hyejin tidak bisa masuk seenaknya lagi!” teriak Donghae dari dalam kamar.

Masih dengan tawa yang tersisa, Kyuhyun dan Hyejin mengajak Hamun untuk pulang. “Aku kaget karena kau dan Donghae sudah tidak ada di kantor. Aku kesini untuk bertanya padanya, ternyata ia bersama denganmu. Ayo pulang,” ajak Hyejin.

“Do-donghae sajangnim.. Bagaimana?” tanya Hamun khawatir. Donghae bisa mendengar suara Hamun itu.

“Biarkan saja, ia hanya marah sesaat. Nanti malam juga sudah mengganggu kami lagi,” kata Kyuhyun.

Setelah yakin sudah tidak ada orang di apartemennya, Donghae akhirnya keluar dari kamarnya. Ia mengambil air putih dan meminumnya untuk menenangkan hati.

“Sajangnim?” panggil Hamun yang baru keluar dari kamar mandi. Donghae sampai tersedak saking kagetnya melihat Hamun masih disana. Hamun segera menghampiri Donghae yang terbatuk-batuk.

“Gwen..cana?” tanya Hamun sambil menepuk pelan punggung Donghae.

“Kenapa kau masih disini?” tanya Donghae setelah merasa baikan.

“Aku merasa bersalah. Aku t-tak bisa meninggalkanmu,” jelas Hamun.

Donghae terdiam, menahan malu yang masih ada dalam dirinya. Ia bahkan belum melepas piyama anjing itu. Kini Donghae juga bingung kenapa tadi ia tidak merasa malu sama sekali saat memakai piyama itu di depan Hamun?

“Sa-sajangnim, aku akan berusaha bicara padamu. Ka-kau tak perlu memakai piyama ini lagi,” kata Hamun sambil menarik lengan piyama tersebut. “Aku.. akan benar-benar berusaha,” janji Hamun.

Donghae bisa merasakan tangan Hamun yang bergetar. Ia yakin gadis itu masih merasa takut dan cemas, akan tetapi ia tersentuh saat melihat gadis itu mau berjuang untuknya. Donghae mengacak rambut Hamun lalu berjalan menuju kamarnya. Tidak sampai semenit, ia kembali keluar dengan kaos putih dan celana tidurnya. Donghae kembali duduk di sova, di samping Hamun.

“Jadi, apa yang harus kita bicarakan hari ini?” tanya Donghae dengan lembut.

Hamun menatap Donghae dengan ragu. “Ka-kau mau tahu, apa yang membuatku seperti ini?” tanya Hamun. Donghae terdiam menatap Hamun. Ia tidak menyangka hari ini akan tiba. Donghae mengangguk dan Hamun memulai ceritanya.

“Saat aku masih kecil, orang tuaku mengalami masalah. Mereka difitnah dianggap penjahat, begitu juga aku. Tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku. Mereka menatapku dengan pandangan mengejek. Puncaknya adalah saat aku harus memberikan pidato sambutan karena aku peraih nilai tertinggi saat itu. Semua berseru memintaku turun. Mereka menyebutku anak pembunuh dan lainnya. Mereka melepar tomat, telur, tepung padaku,” cerita Hamun. Ia berhenti sejenak karena tidak bisa menahan tangisannya saat mengingat masa lalunya itu. Donghae mengelus kepala Hamun, seakan memberi kekuatan pada gadis itu.

“Sejak saat itulah aku mulai merasa ketakutan dan cemas saat berhadapan dengan orang lain. Bahkan setelah kedua orang tuaku terbukti tidak bersalah, tidak ada seorang pun yang mau menjadi temanku karena mereka menganggapku patung yang tidak bisa berbicara,” cerita Hamun. Tangisnya mulai menderas.

Donghae menarik Hamun kedalam pelukannya. “Everything has passed, Hamun. This world is cruel and life is not fair. So, it’s okay to be afraid, it’s okay to feel anxiety. But you have to remember, there’s still good people around you, they will love you and protect you. You have to open your heart to accept their heart and open your eyes to see their kindness. They will help you. So do I,”

Hamun terdiam mendengar ucapan Donghae. Yang ia lakukan hanyalah membalas pelukan pria itu. Hamun ingin Donghae tahu, kalau ia sangat berterima kasih pada Donghae.

“Untuk siapa?” tanya salah satu staf design yang melihat Hamun sedang membuat kopi di pantry. Hamun tersenyum pada wanita itu lalu memberikan smartphonenya.

“Donghae sajangnim,” jawab Hamun ragu-ragu. Sudah 6 bulan ia bekerja disini. Dengan bantuan Donghae, Hyejin, dan Kyuhyun, ia mulai berani untuk bicara dengan staff lain. Walaupun masih sangat sedikit.

Setelah itu, Hamun langsung masuk ke dalam ruangan Donghae. Ia mendapati pria itu tertidur di kursi kerjanya. Hamun meletakan kopi itu di meja kerja Donghae dengan perlahan karena ia tidak mau membangunkan Donghae.

‘Hari ini aku berbicara dengan Minah sunbae. Walaupun hanya 2 kata: ‘Donghae sajangnim’. Mianhe, aku akan lebih berusaha. Aku sudah menyelesaikan deadlineku. Aku bisa membantumu lembur nanti malam. Ah, ini kopi sebagai tanda terima kasihku, sudah 6 bulan sejak hari pertama kita berteman hehe. Saranghae, Donghae sajangnim (kata Hyejin eonni, saranghae boleh diucapkan pada teman terbaik)’

Hamun tersenyum melihat post-it yang sudah tertempel rapi di mug kopi Donghae. Sebelum ia pergi, Hamun melirik wajah Donghae yang tertidur pulas itu. Hamun menepuk pelan dadanya yang sejak sebulan ini selalu terasa sesak saat ia didekat Donghae. Jantungnya juga berdetak kencang tiap kali ia berada bersama Donghae. Ia tahu, debaran itu bukan karena rasa takut atau kecemasannya, ia tahu dirinya mencintai Donghae sebagai seorang pria.

“Tidak boleh, Hamun. Jangan. Kau harus menahan perasaan ini. Perasaanmu hanya akan membebani Donghae. Ia baik padamu karena dia memang orang baik,” ujar Hamun mengingatkan dirinya sendiri.

Donghae terbangun akibat suara alarm dari smartphonenya. Saat ia hendak mematikan alarm itu, ada note di layarnya. ‘Semangat! H-36 jam dari deadline! Lihat mejamu, sajangnim,’

Donghae tersenyum membaca note itu. Ia tahu pasti siapa pelaku yang menulis note seenaknya di ponselnya. Ia langsung melihat meja kerjanya dan menemukan sebuah cangkir kopi. Ia membaca post-it yang tertempel dengan seksama. Senyumnya menghilang saat ia selesai membacanya.

Donghae menghela nafas panjang. “Aku mulai membenci saat Hamun mengatakan kalau aku temannya. Hatiku sakit,” gumam Donghae pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba Hyejin masuk ke dalam ruangan Donghae. “Kau punya tangan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu,” gerutu Donghae.

“Aku melihat telingamu masih ada di tempatnya, harusnya kau mendengar aku sudah mengetuk dan memanggilmu berulang kali,” ujar Hyejin yang membuat Donghae terdiam.

“Mianhe,” balas Donghae.

“Aku kesini untuk main-main, tapi sepertinya ada yang perlu kau ceritakan padaku,” tebak Hyejin yang tepat sasaran.

Donghae tersenyum. “Coba tebak masalahnya apa,” tantangnya.

“Kau suka Hamun tapi kau tak tega mengatakan padanya karena kau adalah teman satu-satunya,” kata Hyejin yang membuat Donghae tertawa.

“Bagaimana kau tahu?”

“Tertulis di seluruh wajahmu. Aku sudah menduganya sejak 3 bulan yang lalu. Kau pria dengan pride yang tinggi, tapi kau rela mengorbankan pridemu itu demi Hamun. Kau ingat? Saat kau memakai piyama anjing itu,” kata Hyejin.

“Jadi aku harus bagaimana menurutmu?”

“Sebagai seorang kakak, aku lebih setuju kau menjadi kekasihnya daripada hanya menjadi temannya,”

“Kalau ia tidak menyukaiku?”

“Banyak cara untuk membuatnya menyukaimu. I’ll help you if that’s happen,”

Donghae mencari Hamun untuk mengajaknya makan malam berdua. Ia menemukan gadis itu sedang berdiri di depan pantry. Suara Donghae tertahan di tenggorokannya saat mendapati wajah gadis itu terlihat marah. Baru kali ini Hamun seperti itu.

“Gosipnya, Donghae sajangnim menyukai Hamun. Apa itu benar?” ujar sebuah suara dari pantry itu. Donghae juga bisa mendengar dari tempatnya berdiri.

“Yang benar saja? Apa tidak ada perempuan lain di perusahaan ini? Aku tak menyangka selera Donghae sajangnim seperti itu,”

“Kurasa ia bersikap baik pada Hamun hanya untuk dilihat oleh nona Hyejin dan Kyuhyun sajangnim. Sapa tahu pangkatnya akan dinaikan,”

“Jangan menjelek-jelekan Donghae sajangnim!” seru Hamun. “Ia bukan orang seperti itu. Dia orang yang baik. Aku yang jahat karena selalu berada bersamanya sehingga ia digosipkan orang lain. Bukan dia yang mencintaiku tapi aku yang mencintainya. Ia hanya menolongku untuk beradaptasi. Silahkan menjelek-jelekan aku, tapi jangan Donghae sajangnim. Aku mohon,” ujar Hamun. Donghae melihat gadis itu membungkukan badannya berulang kali.

Saat Hamun hendak pergi, akhirnya ia melihat Donghae yang berdiri 2 meter di hadapannya. Air mata Hamun mengalir saat ia melihat pria itu. Air mata ketakutan kalau setelah Donghae mengetahui perasaannya, Donghae akan merasa terbebani, dan akan menjauhi Hamun. Gadis itu tidak tahu harus menyangkal seperti apa, Donghae pasti sudah mendengar semuanya.

Donghae baru bisa bernafas lagi saat Hamun sudah berjalan melewatinya. Ia sangat terkejut mendengar pengakuan Hamun. Jantungnya saja masih berdetak sangat kencang. Saat Hamun memandangnya dengan mata berair, Donghae kehilangan akalnya. Ia sampai tidak tahu harus berbuat apa.

“Masuk,” kata Donghae saat ia mendengar suara ketukan di pintunya.

Donghae tersenyum ketika melihat wanita yang membuka pintu kerjanya itu. Hamun masuk ke dalam namun tetap berdiri di ambang pintu. Ia menutup wajahnya dengan iPad 10 inci miliknya.

‘Aku tahu kau mendengar perkataanku tadi,’ tulisan di layar itu bergeser.

‘Mianhe, perasaanku pasti membebanimu’ tulisan di layar tersebut kembali berganti.

‘Aku tidak ingin menemuimu sebenarnya tapi aku tidak tega kalau kau harus lembur sendirian,’

‘Tapi’

‘Aku akan pergi, kalau kau menginginkan demikian,’

Entah sejak kapan, Donghae sudah berdiri di depan Hamun. Ia menurunkan iPad gadis itu sehingga mata mereka kini bertemu. Donghae bisa melihat mata Hamun yang sudah berair.

“Kau akan pergi kalau aku bilang ‘pergi’?” tanya Donghae. Hamun mengangguk.

“Kau akan tetap tinggal kalau aku minta kau menemaniku?” Hamun mengangguk lagi.

“Apa kau akan mengatakannya lagi kalau aku bilang, ‘Aku ingin mendengar perasaanmu padaku’?” tanya Donghae yang membuat air mata Hamun mengalir.

Donghae menggenggam tangan kanan Hamun. Ia bisa merasakan tangan Hamun yang bergetar. “Jangan takut, Hamun,” ujar Donghae sambil menyisipkan rambut Hamun ke belakang telinganya. “Katakan saja, aku ingin mendengarnya,”

Donghae tersenyum memandang Hamun, memberikan kekuatan pada gadis itu. “Aku mencintaimu… lebih dari sekedar teman,” tangis Hamun merebak setelah ia menyelesaikan kalimat itu.

Donghae menarik Hamun dalam pelukannya. Ia mencium puncak kepala Hamun. “Aku juga mencintaimu, Hamun. Asal kau tahu, aku sudah lama menahan perasaanku ini. Jadi, jangan berpikir kalau perasaanmu membebaniku. Temani aku, untuk seterusnya ya, Hamun,” kata Donghae.

Dua hari berlalu sejak Donghae dan Hamun saling menyatakan perasaannya. Kali ini, Donghae menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Hamun karena itulah Donghae mengajak Hamun ke apartemennya. Hamun sangat tercengang saat melihat apartemen Donghae yang sudah berubah sangat cantik. Di atas meja makan juga sudah terhiasi oleh lilin dan makanan.

“Kau suka?” tanya Donghae. Hamun menggangguk. Ia menggandeng Hamun dan membawanya menuju meja makan. Donghae menarik kursi untuk Hamun lalu duduk di seberang Hamun.

Hamun tersenyum menuntut penjelasan dari Donghae apa maksud semua ini. “Kata Hyejin, ini baru pertama kalinya kau berpacaran karena itu aku ingin menunjukan sedikit sisi romantisku,” katanya yang membuat Hamun terkikik.

“Gomawo,” ujar Hamun dengan senyum yang tak bisa hilang.

“Sama-sama, sayang. Ah, makan ini. Kau harus makan yang banyak,” ujar Donghae sambil memberikan bulgogi ke piring Hamun.

Mereka berdua bercerita sambil menghabiskan makan malamnya. Setelah itu, Donghae berdiri lalu menyalakan mp3 playernya yang disambungkan ke speaker. Sebuah music waltz yang sangat cocok untuk berdansa.

Donghae mengulurkan tangannya pada Hamun. “Aku tidak bisa berdansa,” ujar Hamun.

“Aku juga baru diajarin Hyejin kemarin,” kata Donghae yang membuat Hamun tertawa dan menerima uluran tangan itu.

Hamun melepas sepatunya sebelum mereka mulai. “Aku tidak mau kakimu terluka,” kata Hamun yang membuat keduanya tertawa.

“Perfect. Aku suka sekali pada Hamun yang selalu memikirkan orang lain. Kau benar-benar tipeku,” kata Donghae yang kini juga melepas sepatunya. Mereka mulai berdansa dengan langkah seadanya. Mereka justru tertawa jika Hamun menginjak kaki Donghae atau sebaliknya.

“Aku mencintaimu, Hamun,” kata Donghae.

Hamun menengadahkan kepalanya untuk menatap pria itu. Hamun tersenyum lalu berkata, “Aku juga,”

“Aku tak ingin cepat-cepat. Jadi, kau juga tidak perlu memaksakan dirimu, sayang. Aku mohon jangan pernah dengarkan nasihat Hyejin atau Kyuhyun. Kurasa style berpacaran kita dengan mereka berbeda jauh,” ujar Donghae yang membuat Hamun tertawa.

“Aku sudah sangat tertekan saat Hyejin eonni memaksaku untuk mengambil kemeja putihmu dan memakainya saat bersamamu,”

Donghae tersenyum membayangkan hal itu. “Well, aku tidak menolak untuk melihatmu seperti itu. Tapi, nanti saja saat kau sudah siap atau setelah kita menikah,” jelas Donghae.

“Lalu, saat kita berpacaran?” tanya Hamun.

“Bergandengan tangan, memelukmu, atau menciummu,” ujar Donghae sambil menatap lekat Hamun. “Seperti ini.”

Donghae menghentikan langkahnya. Ia memegang kepala Hamun dan mencium bibir Hamun dengan lembut. Donghae melepaskan bibirnya dan menggenggam tangan Hamun yang sudah gemetar.

Donghae tersenyum.“Tenang sayang. Tutup matamu. Kau bisa merasakan sebesar apa perasaanku padamu,” ujar Donghae. Pria itu kembali mencium bibir Hamun. Hamun pun menutup matanya. Benar kata Donghae, ia bisa merasakan seberapa besar cinta Donghae untuknya.

“Kami bawa wine untuk kita!” seru Hyejin dan Kyuhyun. Mendengar itu, Hamun menarik lengan kemeja Donghae sebagai isyarat agar pria itu melepaskan ciumannya, tapi Donghae tetap mencium Hamun.

Kyuhyun bersiul saat melihat apa yang terjadi. “Oh my god,” kata Hyejin.

Kali ini, suara Hyejin berhasil membuat Donghae melepaskan ciumannya. “Mereka selalu saja datang di waktu yang tak tepat,” gerutu Donghae. Hamun segera bersembunyi di belakang Donghae karena ia tak berani melihat eonni dan oppanya itu. Donghae berjalan menghampiri Kyuhyun dan Hyejin lalu mengambil wine yang mereka bawa.

“Gomawo,” kata Donghae sambil mendorong paksa pasangan itu sehingga mereka keluar dari apartemen Donghae. Donghae pura-pura tidak mendengar segala ancaman yang keluar dari mulut Kyuhyun dan Hyejin.

“Mereka terlalu sayang padamu,” kata Donghae yang membuat Hamun tersenyum.

“Mau minum, sayang?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan anggukan.

“Oppa, I’m glad that I met you. I want to make sure you know that,” kata Hamun saat Donghae menuangkan wine di gelas Hamun.

Donghae tersenyum sambil mencium bibir Hamun singkat. “Well, this world is really unfair. But, I’m thankful I can live until this moment when I realized, in this big universe I had the privilege to meet you,”

END.

Thankyou for reading! Ditunggu kommennya hehe