image

Annyeong yeorobuuun..
Author bawain FF one shot kepanjangan. Maaf ya… semoga suka. Ditunggu komennya. Muah!

Hope you enjoy!

—–

“Aku mau putus.”

“Wae?”

“Aku rasa aku sudah kehabisan energi untuk terus bersamamu. Menjadi yang kedua itu melelahkan. Kau tahu?”

“Tapi kau berjanji tidak akan meninggalkanku.”

“Ketika aku dibutakan oleh cinta. Tiga tahun menjadi bayang-bayang istrimu, aku berpikir, sampai kapan aku mau terus seperti ini.”

“Aku mencintaimu.”

“Tapi kau punya keluarga yang harus kau jaga. Jadi, mulai sekarang lupakan aku dan belajarlah mencintai istrimu.”

“Aku akan menceraikannya.”

“Aku menantikannya sejak tiga tahun lalu tapi tidak ada yang pernah terjadi. Ia tidak mungkin meninggalkanmu. Kau tidak bisa meninggalkannya. Satu-satunya cara berarti aku yang akan pergi. Selingkuh itu dosa. Kau tahu kan?”

“Lalu kau? Apa kau bisa hidup tanpaku? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan baik-baik saja. Selamat tinggal, Kyu.”

—–

MinAh merebut gelas bir dari tangan sahabatnya yang sudah mabuk berat. Kepalanya terkulai lemah di atas meja dengan tangannya yang terangkat tidak berdaya meminta gelas birnya untuk dikembalikan. Gadis itu sudah nyaris tidak sadarkan diri namun masih saja berusaha untuk minum. “Kau mau mati eoh?!” Teriak MinAh mengalahkan suara dentuman musik disko yang berkumandang keras di dalam klab.

“Min…hik! Kem…hik! balikan gelas…” Gadis itu bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena hal selanjutnya yang bisa ia lakukan adalah mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa cairan dengan bau alkohol yang menyengat.

“Kita pulang sekarang! Kau benar-benar menyedihkan, Hye!” Omel MinAh sambil membantu sahabatnya bangkit berdiri lalu menyeretnya keluar dari klab malam tersebut.

Dibantu oleh seorang pria, MinAh memasukkan sahabatnya ke dalam mobil. “Terima kasih. Aku benar-benar tidak akan melupakan jasamu yang mengenalkan Hyejin pada dunia seperti ini,” ucap MinAh menyindir pria tersebut.

Pria itu tertawa kecil. “Aku membuatnya lupa akan sakit hatinya. Jadi sudah seharusnya kau berterima kasih padaku. Jadi, terima kasih kembali?”

MinAh memandang party partner Hyejin dengan kesal. Kalau saja pria itu menjerumuskan Hyejin tanpa memberikan benefit yang berarti, melupakan cinta pertamanya, MinAh tidak akan berpikir panjang untuk menancapkan hak sepatunya ke kepala pria itu. “Lee Seunghyun, kau benar-benar menyebalkan!” Seru MinAh dan Seunghyun pun hanya tertawa.

“Sudah, pulang sana. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi besok,” kata Seunghyun.

MinAh hanya mendengus sambil memasuki mobilnya. Ia tidak terlalu suka pada Seunghyun karena pria itu terlalu nakal untuk sahabatnya tapi ia tidak bisa menyingkirkannya karena pria itu yang telah menyelamatkan Hyejin ketika gadis itu merasa dunianya telah berakhir hanya karena putus cinta. Berpesta dan minum alkohol terdengar lebih baik daripada harus mati bunuh diri di kamar mandi, menurut MinAh.

—–

Hyejin terbangun dengan kepala yang terasa berat luar biasa. Ia seperti sedang menahan beban puluhan kilogram di atas kepalanya. “Aku mabuk lagi,” gumam Hyejin menyadari kebiasaan barunya yang sulit untuk dihilangkan. Hyejin berusaha meredakan sakit kepalanya dengan memijit-mijitnya sambil mengecek apa saja yang terjadi selama ia tidur, pada ponselnya.

Tiga buah panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan pada berbagai aplikasi pesan teks yang terpasang di ponselnya.

Lee Donghae
Jangan lupa datang ke pesta bujang-ku malam ini!!! Aku akan menjadi milik wanita lain minggu depan. Jangan sampai kau menyesal!!

Hyejin tertawa membaca pesan dari calon suami adik tirinya itu. Mana mungkin ia akan menyesal. Jelas-jelas, ia yang menjodohkan Hamun dengan Donghae, mengeluarkan bujuk rayunya sehingga akhirnya Hamun bertekuk lutut pada Donghae.

Song Hyejin
I’ll be there. Aku akan mengawasimu, berjaga-jaga kalau kau berbuat yang aneh-aneh sebelum menikah.

Song Hyejin
Dan aku bersumpah akan membatalkan pernikahan kalian kalau sampai aku menemukan kau mengkhianati Hamun!!!! Kkkkkkk.

Hyejin membaca pesan lainnya yang berasal dari pasangannya yang sangat setia untuk urusan pesta.

Lee Seunghyun
Apa kau sudah sadar, nona Song? Mabukmu parah sekali kemarin.

Buru-buru Hyejin membalas pesan itu.

Song Hyejin
Donghae Oppa mengadakan pesta bujang malam ini. Take it? Or leave it?

Seunghyun mengirimkan gambar sticker orang tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya kepada Hyejin.

Lee Seunghyun
Aku akan menjemputmu jam 6 di apartemenmu. Bagaimana?

Song Hyejin
Terserah. Yang pasti sekarang aku mau tidur lagi. Kepalaku masih berat dan tampaknya aku belum mendapatkan kesadaranku seutuhnya. Sedangkan nanti malam kita akan kembali berpesta.

Song Hyejin
Aku harus mengisi kembali energiku. Annyeong, VI!!

Lee Seunghyun
See you soon!

Sebuah sticker dengan gambar bibir mengikuti tidak lama kemudian. Hyejin tertawa keras karenanya tapi ia memilih untuk tidak membalas karena ia ingin segera kembali ke dunia yang ia rasa paling menyenangkan di dunia ini. Tidur.

Hyejin juga memilih untuk tidak membaca pesan lain yang masuk yang berasal dari ‘Annyeong. Goodbye!’. Hyejin menghapus pesan tersebut tanpa lebih dulu membacanya.

—–

Hyejin berlari kesana-kemari dalam apartemennya untuk mengumpulkan baju, sepatu, make up, coat dan lain sebagainya yang tersebar di seluruh penjuru untuk segera ia pakai karena Seunghyun bilang ia sudah hampir sampai. Sedangkan Hyejin, baru saja selesai mandi.

Hyejin sudah meminta Seunghyun untuk datang menjemputnya jam 7 karena pesta akan dimulai jam 8 tapi pada kenyataannya meski sudah hampir jam 8, gadis itu masih sibuk berkutat dengan CC cream.

“Song Hyejin, kalau aku melewatkan bagian terbaik dari pesta bujang Lee Donghae, aku bersumpah akan mencukur habis rambutmu!” Omel Seunghyun yang sudah tidak sabar melihat pasangannya masih berjibaku di meja rias. Ia melihat rambut Hyejin yang masih berantakan dan hanya bisa mengernyit membayangkan berapa lama lagi ia harus menunggu gadis itu merapikan rambutnya. “Aku tidak bisa membayangkan jika harus menikah dengan gadis sepertimu. Doyan tidur, lelet, ribet, ….”

“Tenang saja. Aku tidak berniat menikah. Dengan siapapun, apalagi denganmu,” potong Hyejin. “Tunggu 5 menit. Aku akan segera selesai. Dan…” Hyejin melemparkan senyum sinisnya kepada Seunghyun sebelum pria itu keluar dari kamar Hyejin. “Jangan sebut kata-kata menikah di dalam apartemen ini. Aku jijik mendengarnya.”

Seunghyun menepuk bahu Hyejin yang terekspos karena gaun yang dikenakan gadis itu hanya menutupi bagian tubuhnya mulai dari ketiak sampai lutut. “Lupakan perkataanku. Mian,” ucap Seunghyun pelan. Hyejin menerima permintaan maaf tersebut.

—–

Hyejin memasuki area kolam renang hotel yang menjadi lokasi acara Donghae. Pesta sudah berlangsung meriah, setiap tamu sudah saling berbaur untuk berdansa, ada juga yang sibuk dengan urusan masing-masing tapi terlihat semuanya menikmati pesta bujang tersebut. Hyejin mendatangi Donghae dan memberikan selamat kepada calon iparnya tersebut. “Ingat, aku mengawasimu!” Kata Hyejin galak namun matanya justru tertawa geli.

Seunghyun ikut memberikan selamat kepada Donghae lalu berbaur dengan tamu yang lain karena Hyejin sedang tidak ingin berdansa. “Aku mau mengawasi pria ini,” kata Hyejin sambil menunjuk Donghae.

Donghae mendecakkan lidahnya dengan keras. “Kau sudah mengatakannya seribu satu kali, Song Hyejin!” Protes Donghae yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh Hyejin. Hyejin mengambil minuman lalu menyendiri di bawah pohon maple tiruan, jauh dari kerumunan.

Hyejin berpindah dari tempatnya ketika melihat seorang pria berjalan mendekati Donghae dan menyalami Donghae sambil tersenyum. Sejauh kakinya bisa melangkah, Hyejin meninggalkan tempatnya dan menghampiri Seunghyun.

“VI, dance with me,” ucap Hyejin, lebih tepatnya memerintah. Hyejin mengalungkan lengannya di leher Seunghyun sedangkan Seunghyun melingkarkan tangannya di pinggang Hyejin.

“Ada apa?” Tanya Seunghyun bingung. Keningnya berkerut cukup banyak melihat Hyejin tiba-tiba datang dan mengajaknya untuk menari bersama. Seunghyun tahu Hyejin senang pesta tapi tidak dengan menari. Hyejin akan lebih memilih duduk sambil minum di tempat yang menurutnya nyaman.

Hyejin merapatkan tubuhnya pada Seunghyun dan menyembunyikan wajahnya di dada party partner-nya tersebut. “Ada dia. Jangan sampai ia menemukanku,” ujar Hyejin tanpa berhenti berdansa.

Seunghyun meletakkan telapak tangan kanannya untuk semakin menyembunyikan Hyejin. Seolah pesta ini hanya milik mereka berdua, Hyejin dan Seunghyun terus berdansa. “Song Hyejin,” panggil seseorang tepat dari belakang Hyejin yang dengan mudah mengacaukan Hyejin.

Seunghyun menahan Hyejin agar tidak membalikkan badan. “Dia bukan Song Hyejin,” ujar Seunghyun dengan santai.

Pria itu menatap punggung Hyejin lalu menatap Seunghyun dengan sopan. “Boleh aku memastikannya terlebih dahulu?” Tanya pria itu. Seunghyun tentu saja menolak. Ia tetap menyembunyikan Hyejin dalam pelukannya.

“Aku mohon.” Sedikit memaksa, pria itu membalikkan tubuh Hyejin dan tersenyum lembut melihat gadis kesayangannya berdiri di hadapannya. “Lama tidak bertemu, Hye. Susah sekali menghubungimu. Setiap aku telepon, tidak diangkat. Setiap pesan yang aku kirimkan, tidak ada yang kau balas.”

“Tidak ada yang aku baca lebih tepatnya,” ujar Hyejin dingin.

Pria itu hanya tersenyum. “Kau pasti tidak tahu betapa aku merindukanmu,” katanya.

Hyejin hanya menipiskan bibirnya, tersenyum kecut kepada pria itu. Ia tidak mau menanggapi perkataan pria itu. “Bagaimana kabar istrimu?” Tanya Hyejin basa-basi. Sejujurnya, ia tidak ingin tahu apapun mengenai pria itu dan istrinya.

“Kami sudah bercerai,” ujarnya tenang. “Ketika kau meninggalkanku, aku memutuskan untuk meninggalkannya. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama.”

Hyejin mengaitkan lengannya pada lengan Seunghyun. Bukan untuk maksud apapun kecuali meminta bantuan untuk menahan tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga, bahkan untuk berdiri. “Aku tidak lagi menunggu, Cho Kyuhyun-ssi. Permisi.”

Hyejin menggandeng erat Seunghyun untuk meninggalkan tempat acara namun sejauh apapun ia melarikan diri, Kyuhyun berjalan mengikutinya. “Kita harus bicara,” kata Kyuhyun.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kau tidak ada dalam daftar masa depanku, Cho Kyuhyun-ssi,” sahut Hyejin.

Hyejin masuk ke dalam mobil Seunghyun dan menyuruh pasangannya itu untuk membawanya pergi kemanapun pria itu inginkan asal bisa membuatnya senang. “Let’s get drunk,” kata Hyejin.

—–

Dalam dua hari berturut-turut, Hyejin mengawali pagi harinya dengan rasa sakit kepala yang sangat hebat. Hyejin sadar itu akibat perbuatannya sendiri tapi ia tidak punya cara lain untuk menghilangkan kebiasaannya itu. Baginya rasa sakit di kepalanya masih bisa ditoleransi dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya. “Auhh!” Pekik Hyejin pelan ketika ia mengangkat kepalanya dari atas bantal.

“Eonni pasti mabuk-mabukkan lagi. Ya kan? Kapan eonni akan berhenti minum? Alkohol tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kenapa eonni tidak pernah mendengar nasihatku?” Keluh Hamun yang sejak jam 5 pagi berjaga-jaga di apartemen Hyejin untuk mengecek keadaan kakak tirinya tersebut.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak usah mengkhawatirkan aku. Kau konsentrasi saja dengan pernikahanmu, Hamun sayang,” ujar Hyejin setengah sadar. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Hamun mendekati hari acara paling sakral seumur hidup gadis kecil kesayangannya itu.

“Bagaimana aku tidak mengkhawatirkanmu, eonni? Kau satu-satunya keluarga yang aku punya. Kalau ada apa-apa denganmu, apa yang harus aku lakukan? Kalau kau masuk rumah sakit di hari pernikahanku, apa yang harus aku lakukan?”

Hyejin melemparkan senyumnya meski terlihat sangat lemah. “Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Pernikahanmu akan berjalan lancar minggu depan. Ngomong-ngomong, apa Donghae sudah menceritakan tentang pesta bujangnya semalam?” Hamun menganggukkan kepala yang tampaknya tidak dilihat oleh Hyejin mengingat matanya agak tertutup, menghindari sinar lampu yang begitu menusuk matanya. “Pestanya sangat seru tapi aku berani pastikan Donghae tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Dia menjaga kelakuannya.”

“Dan kau tidak.”

“Eoh?”

“Kau meninggalkan pesta dengan Seunghyun Oppa dan pulang dalam keadaan tidak sadar. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, hanya saja aku harus terpaksa berterima kasih kepada Kyuhyun Oppa yang mengantarkanmu pulang,” kata Hamun.

Dalam hatinya, Hyejin ingin sekali kembali tidur namun nama Kyuhyun yang diucapkan oleh Hamun membuatnya membuka mata lebar-lebar. “Kyuhyun? Cho Kyuhyun?”

“Memangnya ada berapa Cho Kyuhyun yang mengenalmu? Pria itu mengantarkanmu pulang karena ia melihatmu dan Seunghyun sama-sama mabuk. Kalau tidak ada dia, aku tidak tahu apa eonni bisa berada di kamar ini sekarang atau tidak.”

Hyejin menatap Hamun dengan memelas, memohon agar adiknya itu tidak membahas tentang Cho Kyuhyun. “Lebih baik kita siap-siap pergi mengecek semua kebutuhan acara pernikahanmu, terutama gaun pernikahanmu,” kata Hyejin sambil bangkit berdiri dari tempat tidurnya.

“Tidak ada mobil. Mobil kita masih diservis karena kau menabrak tiang listrik di depan apartemen akibat menyetir sambil mabuk,” ujar Hamun.

“Donghae?”

“Dia sedang dinas di Busan, baru pulang nanti sore.”

Hyejin menatap Hamun dengan panik dan Hamun hanya bisa menghela nafas pasrah menghadapi kakak tirinya yang merepotkan tapi sangat ia sayang. “Kita bisa naik kereta atau bus. Urusan gampang,” kata Hamun yang tentu saja tidak disetujui oleh Hyejin.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau tidak bisa naik angkutan umum. Semua perawatan tubuhmu selama dua bulan ini bisa sia-sia. Tidak boleh, Hamun.”

Hamun menatap serius Hyejin. “Aku ada pilihan tapi aku yakin kau tidak akan menyukainya,” kata Hamun.

Meskipun Hyejin dan Hamun adalah saudara tiri namun kedekatan mereka bisa dibilang setingkat dengan saudara kembar. Tanpa perlu mengatakannya, Hyejin tahu apa yang ada di pikiran Hamun. “Dia mengantarkanku pulang bukan berarti dia bisa menginjak rumah kita lagi, Hamun. Tidak. Tidak,” kata Hyejin sambil bergidik ngeri membayangkan ia harus menemani Hamun ke bridal bersama mantan kekasihnya.

“Apa eonni membencinya?” Hyejin menggelengkan kepalanya. “Kau hanya tidak ingin bertemu dengannya kan? Kau takut menghadapi kenyataan kalau ternyata kau masih mencintainya?” Dengan ragu, Hyejin menganggukkan kepalanya. Takdir yang tidak bisa Hyejin lawan adalah saudara tirinya itu mengenal Hyejin melebihi siapapun.

Hamun memeluk Hyejin, mencium kedua pipi eonni-nya itu, memberikan kekuatan seperti yang biasa Hyejin lakukan jika Hamun sedang sedih. “Kau tidak bisa terus hidup dalam ketakutan seperti itu. Kau harus keluar. Meskipun eonni harus merangkak perlahan, eonni harus keluar. Arraseo? Aku akan membantu, eonni.”

Hyejin memeluk erat Hamun, menumpahkan seluruh beban pikirannya ke atas bahu Hamun. “Kalau aku tidak berhasil?” Keraguan merasuki Hyejin.

“Eonni pasti bisa. Lagipula laki-laki di dunia ini tidak hanya Kyuhyun. Kalaupun pada akhirnya aku harus melepaskanmu untuk Seunghyun, asal kau bahagia, aku akan melakukannya,” ujar Hamun dengan tegas membuat Hyejin gemas sampai-sampai Hyejin ingin mengecup bibir mungil Hamun.

“Donghae Oppa tidak suka berbagi wilayahnya dengan siapapun,” kata Hamun sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.

—–

Cho Kyuhyun memarkirkan mobilnya tepat di depan apartemen Hyejin dan senyumnya merekah cerah ketika ia melihat gadis itu dan seorang gadis, yang lebih muda dan agak mirip dengannya, berjalan semakin dekat ke mobilnya. “Senang rasanya kau mau keluar bersamaku. Terima kasih banyak,” kata Kyuhyun sambil membukakan pintu untuk Hyejin.

“Berterima kasihlah kepada Hamun,” sahut Hyejin lalu masuk ke dalam mobil di bagian belakang, bukan bagian depan dimana Kyuhyun membukakan pintu untuknya.

Hamun menyusul tidak lama kemudian. Ia masuk ke dalam mobil ke bagian depan sambil mengucapkan terima kasih kepada Kyuhyun. Kyuhyun membalas ucapan terima kasih Hamun dengan senyuman.

Tidak perlu bersedih, pikir Kyuhyun. Kehilangan Hyejin selama beberapa bulan lebih menyedihkan.  “Kita mau kemana?” Tanya Kyuhyun yang sudah siap menyetir kemanapun dua gadis itu ingin pergi.

“Ke gedung, aku ingin memastikan tempat dan makanan yang sudah aku pesan,” jawab Hamun.

Hyejin menyela dari belakang, “Sebaiknya kita ke bridal dulu, Hamun-ah. Kita harus mengecek gaunmu dulu. Semakin cepat kita datang, kalau ada kesalahan, semakin cepat mereka bisa memperbaikinya. Kalau sudah selesai, justru bisa kita bawa pulang sekalian.”

Kyuhyun menatap Hamun, meminta kepastian kemana mereka harus pergi lebih dulu. Hamun menghela nafas panjang sebelum memberikan jawaban, “Kau tahu betul eonni-ku ini tidak bisa dibantah kan? Dia pasti punya seratus ribu satu alasan agar kita ke bridal lebih dulu.”

“Yaaa Kang Hamun!!!” Seru Hyejin refleks. Hyejin tidak kesal hanya saja ia kebiasaan menyerukan nama orang yang sedang membicarakannya.

Kyuhyun dan Hamun tertawa, menertawakan tampang Hyejin yang terlihat sangat lucu. Paling tidak bagi Kyuhyun. Kalau bagi Hamun, tampang Hyejin yang seperti itu justru sangat menyebalkan.

—-

Hyejin dan Hamun masuk lebih dulu ke dalam bridal, Kyuhyun menyusul kemudian setelah memarkir mobilnya. Ia hanya melihat Hyejin ketika masuk ke dalam studio yang penuh dengan berbagai macam gaun pernikahan. “Mana Hamun?” Tanya Kyuhyun.

“Sedang mencoba gaunnya,” jawab Hyejin. Mereka menunggu di depan ruang ganti tanpa bicara sedikitpun. Kyuhyun bolak-balik menengok kepada Hyejin, berniat untuk mengajak gadis itu bicara namun tampaknya Hyejin berniat kebalikannya. Gadis itu mengunci mulutnya rapat-rapat.

“Bagaimana menurut kalian?” Tanya Hamun begitu ia keluar dari ruang ganti dengan gaun putih yang sudah menempel lekat di tubuhnya. Hyejin bertepuk tangan senang sedangkan Kyuhyun bersiul menggoda.

“Kau sangat cantik dengan gaun itu, sayang!!” Seru Hyejin senang lalu memeriksa gaun adiknya dengan teliti. Ia memperhatikan setiap detil gaun itu, memastikan gaun itu jatuh dengan tepat di tubuh Hamun.

“Menurutmu, Oppa?”  “Aku hanya punya satu saran, pastikan gaun itu tetap utuh sebelum malam pertama kalian. Kalau aku jadi Donghae, melihat istriku secantik ini, aku pasti tidak akan bisa sabar,” ujar Kyuhyun lalu mengikik disusul senyuman malu-malu Hamun.

“Donghae tidak sepertimu,” kata Hyejin. Tatapan matanya menusuk Kyuhyun disusul dengan kata-katanya. “Donghae pasti akan memperlakukan Hamun, istrinya, wanita yang paling ia cintai, dengan lembut.”

“Aku tidak pernah menyentuhnya, kalau itu maksudmu. Sejak aku menikah dengannya sampai kami bercerai, aku bahkan tidak pernah memegang tangannya,” sahut Kyuhyun.

Hyejin mengangkat alisnya, menatap Kyuhyun dengan sinis. “Oh ya? Ha ha ha!” Tawa Hyejin terdengar jauh lebih sinis. Kyuhyun hanya bisa menahan diri untuk tidak bicara lebih panjang yang bisa saja berakibat fatal untuk hubungannya dengan Hyejin.

Hamun berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan. “Aku akan minta karyawannya untuk membungkus gaun ini sehingga bisa kita bawa pulang sekarang. Setelah itu, baru kita ke hotel,” ujar Hamun.

“Kau belum mencoba riasanmu untuk minggu depan, Hamun. Kita belum boleh pulang. Aku mau lihat dulu apa sudah tepat untuk pernikahanmu nanti,” cegah Hyejin mumpung dia masih ingat rincian kegiatan yang akan dilakukannya hari ini dalam rangka mempersiapkan pernikahan Hamun dan Donghae.

Hamun kembali ke dalam ruang ganti untuk mengganti gaun pernikahannya dengan pakaian yang ia pakai sewaktu datang ke tempat ini, kaus dan celana jeans. Sekembali tidak ada Hamun di antara Hyejin dan Kyuhyun maka tidak akan ada suara antara mereka. Hyejin duduk di salah satu sofa dan menyibukkan diri dengan ponselnya.

“Apa kau punya game baru yang sangat mengasyikkan di dalam ponselmu sampai kau lebih memilih untuk bermain dengannya dibanding bicara denganku?” Ujar Kyuhyun pada akhirnya, membuka pembicaraan antara mereka.

Hyejin menatap Kyuhyun, hanya untuk menanggapi pria itu sebentar. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Iya kan?” Tukas Hyejin.

“Tentu saja ada. Kita bisa membicarakan game yang sedang kau mainkan. Aku bisa memberikan saran atau tips agar kau bisa segera menamatkannya. Aku master dari segala game, kau tahu?” Ujar Kyuhyun membanggakan dirinya sendiri yang tentu saja hanya untuk bercanda.

“Tidak ada yang meragukan pengetahuanmu soal game, Cho Kyuhyun.”

“Jadi, sudah level berapa dirimu? Aku sudah tiga kali menamatkan game yang sedang kau mainkan itu.”

“Oh ya? Aku baru level 18 dan aku sudah memainkan level ini puluhan kali sampai bosan.”

“Sini aku ajarkan.” Kyuhyun meminta ponsel Hyejin dan memberitahukan cara untuk menamatkan level 18. “Di level ini ada jalan rahasia di bawah tanah. Kau harus masuk ke sana untuk mendapatkan emas dan nyawa tambahan. Lihat.”

Hyejin berdecak kagum melihat Kyuhyun berhasil menamatkan level yang menurutnya susah itu hanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Hyejin memperhatikan dengan seksama ajaran Kyuhyun sampai beberapa level ke depan.

“Seperti itu,” ujar Kyuhyun sambil mengembalikan ponsel Hyejin kepada pemiliknya.  Hyejin memainkan kembali game-nya yang sudah naik ke level 23 karena bantuan Kyuhyun. Tapi tampaknya Kyuhyun memang dilahirkan dengan bakat bermain game. Berbeda dengan Hyejin yang harus berulang kali mencoba untuk paling tidak hidup sampai beberapa menit. “Aaaaakhh!! Cho Kyuhyun!!! Aku mati lagi! Bagaimana ini?!” Seru Hyejin kesal.

Kyuhyun kembali meminjam ponsel Hyejin dan memainkan game tersebut dengan mudah. Sadar dirinya tidak secanggih Kyuhyun, Hyejin memperhatikan ajaran Kyuhyun. Ia langsung mengaplikasikan pengetahuan barunya di level 24 dan tidak bisa tidak bersorak gembira ketika berhasil menyelesaikan level tersebut dengan usahanya sendiri.

“Nice!” Puji Kyuhyun yang siap sedia untuk mengarahkan Hyejin di level-level berikutnya. Keduanya terlalu asyik sampai tidak memperhatikan Hamun yang sudah memulai kegiatannya untuk tes make-up.

—–

“Ada telepon,” ujar Kyuhyun saat ia sedang memainkan game pada ponsel Hyejin. Nama ‘Lee Seunghyun’ terpampang jelas di layar 5 inci tersebut. Hyejin mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. Dengan alasan agar merasa lebih nyaman, Hyejin menerima telepon jauh dari Kyuhyun.

“Ne, VI? Apa ada pesta hari ini? Membutuhkanku untuk menemani dirimu bersenang-senang?” Tanya Hyejin yang sudah tahu betul kebiasaan Seunghyun yang hanya akan meneleponnya jika ada pesta yang tidak bisa dia hadiri seorang diri.

Seunghyun tertawa lebar di ujung sana. “Kau tahu saja. Jiyong mengadakan pesta di rumahnya. Wanna join?”

“Aku sedang menemani Hamun mengecek persiapan pernikahannya. Jam berapa pestanya?”

“Jam 10 malam.”

“I’m in. Jihyo dan Seunghyun senior datang?”

“Tentu saja.”

“Ya sudah, jangan lupa jemput aku di apartemen nanti malam. Mobilku masih di bengkel. Kau berencana mabuk malam ini?”

“Tentu saja. Karena itu kau tidak boleh mabuk. Bisa-bisa kita tidak pulang.”

“Kalau pestanya di rumah Jiyong oppa tidak masalah. Kalau tidak bisa pulang, kita bisa menginap di sana. Tenang.” Tawa Hyejin meledak senang. Seunghyun pun menyetujui ide Hyejin.

Mereka mengakhiri sambungan telepon karena Seunghyun harus kembali bekerja. Hyejin mau kembali ke tempat duduknya semula namun ternyata Kyuhyun sudah berada di belakangnya, entah sejak kapan.

“Kau mau pesta jam 10 malam?” Tanya Kyuhyun.

“Yep. Waeyo?”

Kyuhyun memandang cemas kepada Hyejin. “Boleh ikut?” Hyejin menautkan alisnya saking heran mendengar permintaan Kyuhyun yang sangat tidak masuk akal.

“Pesta? Kau benci pesta.”

“Tapi aku tidak benci alkohol. Kalian pasti punya wine kan?”

“Punya sih tapi…”

“Aku akan ikut.”

“Aku akan tanya pada Seunghyun dulu, apa boleh membawa orang lain ke pesta Jiyong.”

“Kalau tidak boleh, aku akan memaksa. Aku dengar Jiyong bukan tipe orang yang memilih-milih tamu. Siapapun boleh datang ke pestanya.”

Hyejin menimbang-nimbang permintaan Kyuhyun. Dengan ragu Hyejin menjawab, “Terserah tapi kau tanggung sendiri akibatnya. Aku tidak mungkin menemanimu sepanjang pesta. Aku ingin bersenang-senang.”

“I will take care myself,” ujar Kyuhyun. “And yours. Tidak usah khawatir.”

“Sudah selesai membahas acara kalian untuk malam ini?” Tegur Hamun yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang sudah dirias penuh. “Bagaimana tata riasku? Eonni? Oppa?”

“Cantik! Cantik sekali!” Pekik Hyejin.

Kyuhyun mengacungkan dua jempolnya menggambarkan pujiannya terhadap Hamun. “Dasarnya kau sudah cantik jadi tambah cantik,” puji Kyuhyun.

Hamun tersenyum puas. “Gomawo, Oppa, eonni,” ucap Hamun dengan senang namun ekspresinya seketika berubah tajam. “Kalian mau mabuk-mabukkan malam ini?”

“Jiyong oppa mengadakan pesta,” alasan Hyejin sambil memandang Hamun dengan memelas.

“Ujung-ujungnya kau dan Seunghyun akan mabuk berat. Kau tidak boleh ikut, eonni!” Larang Hamun. “Kau ingat, pernikahanku tinggal menghitung hari. Tidak bisakah kau menahannya? Aku mohon.” pinta Hamun.

“Tapi aku sudah janji dengan Seunghyun.”

“Lebih penting Seunghyun dengan pesta Jiyong atau aku dengan pesta pernikahanku?”

Hyejin berpikir keras. Ia tidak setega itu untuk lebih memilih Seunghyun dengan pesta di rumah Jiyong. “Tentu saja lebih penting kau dan pesta pernikahanmu. Jangan seperti itu padaku.”

“Jadi, kalau begitu eonni tidak boleh ke pesta itu. Eonni akan menemaniku seharian ini. Kita belum mengecek gedung, makanan, dekorasi dan perintilan lainnya. Sehabis itu, aku mau makan kepiting yang banyak.”

“Yaa Kang Hamun! Kau tidak boleh makan banyak! Apa gunanya dietmu? Kalau tiba-tiba gaunmu tidak muat bagaimana?”

Hamun menyeringai jahil. “Karena eonni sudah mengabulkan permintaanku dengan tidak datang ke pesta itu, aku akan mengabulkan permintaan eonni. Aku tidak akan makan banyak. Aku hanya akan makan apel siang ini. Kajja!”

Hamun berjalan lebih dulu menuju mobil. Kyuhyun menunggu Hyejin untuk berjalan menyusul Hamun. “Duluan saja. Aku mau menelepon Seunghyun dulu untuk membatalkan janji,” kata Hyejin namun Kyuhyun tidak beranjak dari tempatnya.

“Aku akan menunggumu,” ujar Kyuhyun.

“Kau membiarkan Hamun sendirian ke mobil?” Tanya Hyejin menunjuk Hamun yang sudah menunggu di pinggir mobil Kyuhyun. Kyuhyun menatap Hyejin dengan bingung. “Kau tahu siapa yang paling penting dalam hidupku kan? Dia akan menikah beberapa hari lagi.” ujar Hyejin.

Dengan berat hati, Kyuhyun meninggalkan Hyejin. “Aku akan selalu menunggumu. Kau tahu kan?” Ucap Kyuhyun sebelum keluar dari bridal. Hyejin hanya menganggukkan kepalanya.

Hyejin segera menelepon Seunghyun untuk membatalkan janjinya sesuai permintaan Hamun. “Aku tidak jadi ikut,” kata Hyejin.

“Waeyoo?”

“Hamun memintaku untuk menemaninya mengurus acara pernikahannya. Tiga hari lagi. Kau ingat?”

“Aku ingat. Kau sudah menandakannya di kalenderku. Kau bahkan memasang reminder sejak seminggu lalu. Jadi kau tidak ikut? Kau yakin?”

“Mau bagaimana lagi?”

“Ya sudah. Aku akan bilang Jiyong hyung nanti. Kalau boleh, aku akan mengajak temanku yang lain. Pesta ini ada private katanya.”

“Oh ya? Untung aku tidak jadi ikut. Kyuhyun memaksa ingin ikut tadi.”

“Kyuhyun? Kau sedang bersama dengannya?”

“Hanya ia yang bisa mengantarkanku dan Hamun seharian ini. Waeyo?”

“Tidak kenapa-kenapa. Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku. Okay?”

“Okay. Bye, VI.”

“Bye, Hye.”

Seunghyun menutup teleponnya namun tidak segera menyimpannya. Ia masih menatap layar ponselnya, berpikir bagaimana Hyejin bisa berbicara seringan itu jika ia sedang bersama-sama dengan Kyuhyun. Apa ia sudah sembuh?

—-

Hamun, Hyejin dan Kyuhyun sudah meluncur menuju hotel dimana pesta pernikahan Hamun dan Donghae akan digelar. Dengan semangat, Hamun melangkah cepat untuk segera bertemu dengan manajer wedding organizer-nya. “Jihyo eonni!!” Hamun memeluk wedding organizer kesayangannya dengan erat. “Bagaimana persiapan pernikahanku?”

Jihyo membentuk huruf O dengan telunjuk dan jempol kanannya. “Semua sudah siap, tinggal dekorasinya saja. Kami akan memulainya besok karena barang-barangnya baru datang malam ini. Mana Donghae Oppa?”

“Sibuk bekerja untuk membayar semua tagihan darimu nanti.” kata Hamun yang membuat mereka berdua tertawa.

Jihyo mencuri pandang kepada Hyejin yang sedang berkeliling ruangan untuk mengecek kondisi perlengkapan pesta dengan lebih detil. Kyuhyun berjalan mengikuti Hyejin di belakangnya. “Pacar baru Hyejin eonni?” Tanya Jihyo menunjuk Kyuhyun.

Hamun mengerlingkan matanya. “Mantan pacar tapi mungkin mereka akan pacaran kembali. I hope so,” jawab Hamun sambil tersenyum nakal.

“Aku rasa mereka sangat serasi. Kalau mereka ada rencana menikah, kabari aku. Aku akan mengaturnya seindah mungkin,” ujar Jihyo promosi namun ekspresi wajahnya terlihat menyesal ketika Hyejin berteriak memanggil namanya.

“Kau masih mau menjadi wedding organizernya, eonni?” Goda Hamun sambil tertawa. Jihyo dan Hamun segera menghampiri Hyejin.

“Ada apa, eonni?” Tanya Jihyo selembut mungkin. Hyejin menunjuk ke salah satu kursi yang sudah dibungkus kain putih bersih.

“Kursi ini tidak seimbang. Cobalah,” kata Hyejin menyuruh Jihyo duduk di meja tersebut. Jihyo pun duduk di kursi tersebut dan merasakan kursi itu agak bergoyang. “Aku akan menggantinya.”

Hyejin cukup puas dengan jawaban Jihyo namun ia tidak cukup puas jika tidak mengecek seluruh kursi di ruangan itu. “Kyu, tolong aku,” ujar Hyejin. Dibantu oleh Kyuhyun yang tidak protes sedikit pun, Hyejin mengecek keseimbangan seluruh kursi yang ada di ruangan itu. Sekitar 600 kursi.

“Eonni-mu memang mengerikan. Bagaimana bisa pria itu tahan dengannya?” Komentar Jihyo membuat Hamun tertawa.

“Itu namanya cinta, eonni,” sahut Hamun dengan santai. “Oh ya, penderitaanmu belum berakhir. Kami masih harus tes makanan hari ini kan?”

Jihyo menepuk keningnya dan berharap Hyejin tidak akan banyak protes dengan makanan yang akan disajikan nanti. “Astaga Kang Hamun, kau membuatku cemas!!!”

Hyejin dan Kyuhyun menemukan 15 dari 600 kursi yang ada yang menurut Hyejin harus diganti. Jihyo pun harus menyanggupinya. Mereka berpindah ke restoran setelah Hyejin puas.

Berbagai jenis makanan telah dihidangkan untuk segera dicicipi oleh Hyejin dan calon mempelai. Jihyo sudah bersiap untuk mendengar komentar pertama Hyejin. “Ini cocok untuk disajikan. Aku pilih ini. Steamboat harus masuk daftar,” kata Hyejin. Jihyo sedikit bernafas lega.

“Kalau ini bagaimana menurut eonni?” Tanya Hamun menyodorkan bebek peking yang baru ia makan.

“Terlalu asin. Harus dikurangi garam sedikit,” komentar Hyejin yang langsung dicatat oleh Jihyo. Buku agenda Jihyo sudah memasuki halaman ketiga untuk bagian komentar Hyejin.

“Okay,” ujar Jihyo.

Hamun dan Hyejin mencoba makanan lain dan memutuskan makanan apa saja yang akan jadi menu di pernikahan Hamun dan Donghae. “Kalian tidak mencoba dessertnya? Aku rasa es krim ini sangat enak,” kata Kyuhyun mengangkat gelas es krim di tangannya.

Hyejin mengambil sesendok es krim yang ada di tangan Kyuhyun itu lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. “Aku setuju. Es krim ini juga harus ada,” kata Hyejin. Kyuhyun memandang Hyejin tanpa kedip. Ia terlihat sangat kaget.

“Waeyo?” tanya Hyejin bingung.

“Kau baru saja makan es krim dengan sendokku,” kata Kyuhyun sambil menunjuk sendok yang maish Hyejin pegang.

“Lalu kenapa?”

“Itu berarti kita….” Kyuhyun memilih untuk tidak melanjutkan kata-katanya karena Hyejin sudah memelototinya dengan tajam.

Hyejin meletakan sendok itu ke dalam gelas yang masih Kyuhyun pegang. “Tidak usah berpikiran macam-macam. Aku juga sering makan satu sendok dengan Seunghyun atau teman laki-lakiku yang lain. Biasa saja,” tukas Hyejin.

Kyuhyun balas melotot kepada Hyejin. “Mwo? Kau sering makan satu sendok dengan Seunghyun?”

“Satu gelas juga sering.”

“Yak Song Hyejin!!” seru Kyuhyun.

“Apa?!” Hyejin juga berteriak.

Hamun dan Jihyo hanya mengikik geli melihat Hyejin dan Kyuhyun yang sudah saling mendelik. “Pria itu tidak protes saat disuruh Hyejin eonni memeriksa 600 kursi, tapi dia jadi senewen hanya karena Hyejin eonni makan satu sendok dengan Seunghyun oppa,” bisik Jihyo pada Hamun.

Hamun tertawa. “Setahuku Kyuhyun oppa memang posesif,”

“Kau tidak boleh minum lagi dengan Seunghyun!” Larang Kyuhyun.

“Apa hakmu?”

“Kecuali aku menemanimu!”

“Yak!! Apa hakmu?!”

Hamun meleraikan sepasang mantan kekasih itu dengan sabar. “Berhenti berdebat. Aku seperti melihat kalian pacaran waktu kuliah. Cepat habiskan makanannya. Kita masih harus ke gereja dan toko cincin.”

“Kau tidak boleh lagi pergi pesta-pesta jika tidak bersamaku!”

“Berisik! Kau tidak punya untuk melarangku tahu!!”

“Kyuhyun Oppa! Hyejin eonni! Berhenti bertengkar!” Bentak Hamun yang mendiamkan keduanya. Mereka menatap Hamun dengan penuh rasa bersalah.

“Mianhe, Hamun-ah.”

“Maafkan aku ya, Hamun.”

Hamun memasang wajah kesal namun dalam hatinya ia bersorak melihat kedua manusia di hadapannya itu perlahan kembali normal. Kyuhyun dan Hyejin yang dikenal Hamun memang seperti itu, sering berdebat namun saling mencintai.

—–

Setelah memastikan gedung dan makanan untuk pesta akhir minggu nanti, Hamun meminta untuk sekalian mengecek cincin. Sayang, toko perhiasannya sudah tutup sehingga mereka harus kembali besok hari.  “Kita kembali besok ya, Oppa, eonni,” kata Hamun pada kedua insan yang menemaninya sepanjang hari ini. Kalau tidak ada Hyejin eonninya yang perfeksionis dan Kyuhyun oppa yang setia mengantar kemana-mana, Hamun tidak yakin semua persiapannya akan berjalan lancar seperti hari ini.

Hyejin mengiyakan permintaan Hamun. Lagipula jadwal kerjanya juga sedang tidak padat dan Hamun melarangnya untuk berpesta. Ia bisa pergi kemana saja ia mau. Tapi tidak dengan Kyuhyun.

“Aku harus ke Jepang besok. Apa Donghae sudah pulang?” tanya Kyuhyun dengan penuh penyesalan.

“Sudah. Besok kita dengan Donghae saja, Hamun.” kata Hyejin.

Hamun memasang tampang bersalah setelah ia melihat smartphonenya. “Donghae Oppa baru bilang padaku, ia akan pulang besok sore. Urusannya masih belum selesai,” kata Hamun dengan wajah penuh rasa bersalah.  Hyejin tampak berpikir sesaat.

“Tapi Kyuhyun tidak bisa menemani kita. Jadi kita harus mencari orang untuk membantu. Aku akan coba minta tolong Seunghyun nanti.”

Hamun mengabaikan usul Hyejin. Ia sudah memohon kepada Kyuhyun untuk mengundur urusannya. “Apa tidak bisa diundur sehari? Sehari saja, Oppa. Sehari… Aku mohon.”

Kyuhyun tidak bisa menolak. Mata memelas Hamun membuat Kyuhyun tidak tega. “Baiklah, aku akan menemani kalian besok. Jam berapa?” tanya Kyuhyun sambil mengacak rambut Hamun.

“8 pagi.”

“Pagi sekaliii! Aku belum apa-apa jam segitu, Hamun-ah,” protes Hyejin.

“Jam 9 kalau begitu. Jam 9,” koreksi Hamun.

“Baiklah, jam 9 aku akan menjemput kalian,” kata Kyuhyun.  Hamun tersenyum penuh terima kasih.

Begitu Hamun duduk di mobil, dan tanpa diketahui kedua orang yang sudah seharian menemaninya, Hamun menghubungi Donghae dan dua sahabatnya, Lee Taemin dan Oh Sehun.

To : Haendsome Oppa
Oppa, besok temui aku di gereja jam setengah 10 pagi ya. Aku akan diantar oleh Taemin dan Sehun. Oh ya, kalau Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni tanya kau dimana, bilang masih di Busan ya oppa. Baru pulang besok sore. Oke? Love you.

To : Lee Taemin dan Oh Sehun
Jemput aku jam 9 di apartemenku! Jangan lupa…

—–

Kyuhyun sudah siap dengan mobilnya. Hamun dan Hyejin pun sudah siap masuk ke dalam mobil Kyuhyun ketika sebuah motor tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan dua orang penumpang di atasnya. “Annyeonghaseyo, hyung, nuna,” sapa mereka dengan ramah.

“Ah Taemin-ah, Sehun-ah, apa kabar?” Balas Hyejin sambil memeluk sahabat adik tirinya dengan hangat. Taemin dan Sehun hanya tersenyum malu-malu. Sebenarnya, mereka sangat mengagumi Hyejin. “Ada apa tiba-tiba datang?”

Sehun menjelaskan maksud kedatangannya seperti yang sudah Hamun sms panjang lebar padanya tadi malam. “Aku dan Taemin mau mengepas baju kami untuk pernikahan Hamun tapi kami tidak berani jika hanya berdua. Kami takut tidak cocok dengan selera Hamun, jadi kami ingin mengajaknya ke penjahit baju kami.”

“Tapi ia mau ke toko perhiasan dan gereja dulu. Bagaimana?” Ujar Hyejin. “Hamun-ah?”

Hamun berpikir sejenak. “Sebenarnya aku tidak tega menyusahkan oppa dan eonni hari ini, kalian sudah menemaniku seharian kemarin. Jadi, Oppa, kami boleh pinjam mobil Oppa? Aku akan ke toko perhiasan dan gereja dengan mereka saja. Setelah selesai, aku janji akan langsung pulang dan mengembalikan mobilmu. Kalau kau ada perlu, pakai saja motor Sehun.” ujar Hamun.

“Silahkan.” Kata Kyuhyun sambil memberikan kunci mobilnya pada Sehun.

Hyejin membelalakan matanya. Ia menatap Hamun tidak percaya. “Yaa Kang Hamun!” Tapi pada akhirnya Hamun pergi dengan dua sahabatnya.

Kyuhyun menatap motor Sehun dan Hyejin bergantian. “Jadi kita hanya akan diam saja di apartemen?”  Hyejin menganggukkan kepalanya. “Aku mau tidur,” ujar Hyejin dengan santai.

“Heisssh. Hari secerah ini sayang kalau hanya dihabiskan di kamar dengan tidur. Bagaimana kalau kita ke pantai?”

Hyejin menyeringai gembira mendengar tawaran Kyuhyun. “Call! Ayo kita pergi,” kata Hyejin yang langsung duduk pada jok belakang motor Sehun.

Kyuhyun duduk di depan kemudian. “Pegangan erat-erat,” ujar Kyuhyun. Hyejin pun memeluk pinggang Kyuhyun dengan erat. “Let’s go!!!” seru Hyejin.

Kyuhyun tersenyum saat melirik tangan Hyejin yang ada dipinggangnya. Ia juga bisa merasakan kepala Hyejin yang bersandar di punggungnya. Astaga, Kyuhyun sangat sadar kalau jantungnya sudah berdetak sangat kencang. Akan tetapi, demi keselamatan dia dan Hyejin, ia berusaha setenang mungkin mengendalikan motornya. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke pantai. Hyejin langsung berlari menuju tepi pantai dimana air dapat menyentuh kakinya.

Kyuhyun tersenyum melihat Hyejin yang ternyata tidak berubah. Dulu sewaktu pertama kali ia membawa Hyejin ke pantai, wanita itu juga sangat bahagia, seperti sekarang. Kyuhun melipat lengan kemejanya dan celana panjangnya. Ia melepaskan sepatu dan kaos kakinya lalu menyusul Hyejin.

“Lepaskan dulu sepatumu. Kau tidak kasihan dengan Hamun yang bertugas untuk mencuci?” tanya Kyuhyun.

Hyejin tertawa terbahak-bahak. “Aku lupa. Aku terlalu senang saat melihat laut. Aku akan antar ke laudry saja nanti,” kata Hyejin.

“Dasar, kau sudah tua tapi bertingkah seperti anak kecil saat melihat pantai. Kau lebih suka pantai ya daripada aku?” tanya Kyuhyun.

“Tentu saja tid-” kalimat Hyejin terpotong saat ia sadar kalau dirinya hampir mengatakan sesuatu diluar kendalinya.

Walaupun Hyejin tidak menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun tahu apa yang mau dikatakan wanita itu. Ia tersenyum penuh arti pada Hyejin yang menatapnya tajam. “Yaa, Cho Kyuhyun! Jangan berpikir macam-macam!” seru Hyejin. Ia melangkah mundur saat Kyuhyun mulai melangkah maju untuk mendekati Hyejin.

“Aku tahu pasti kalau kau selalu tidak tahan dengan pesonaku, ya, kan, Hyejin?” tanya Kyuhyun.

“Yaa! Kau pria narsis! Aku tid-” kalimat Hyejin kembali terputus saat ia tersandung batu. Ia hendak terjatuh dan Kyuhyun berusaha menangkapnya, tetapi keduanya justru terjatuh dan terhempas ke dalam air. “Yaa, Cho Kyuhyun! Kau tidak keren sama sekali! Bagaimana bisa kau terjatuh saat mau menolongku?!” omel Hyejin sambil memukul Kyuhyun.

“Aku belum sarapan tadi, makanya aku tidak punya tenaga,” kilah Kyuhyun. Ia menatap Hyejin yang ternyata sudah menatapnya sedari tadi. “Sudah terlanjur basah,” kata Hyejin. Ia bangkit berdiri lalu melemparkan air laut itu ke wajah Kyuhyun. “Hukuman untukmu!” seru Hyejin.

Hyejin langsung berlari saat melihat Kyuhyun bangkit berdiri. “Kau meremehkanku, Hyejin! Jangan menangis saat aku berhasil menangkapmu!” seru Kyuhyun yang sudah berlari untuk mengejar Hyejin.

—-

Setelah selesai dari toko perhiasan, Hamun dan Donghae segera beranjak menuju gereja. Dalam perjalanan, Donghae bertanya pada Hamun. “Jadi, ada apa sebenarnya?” tanya Donghae pada Hamun yang sedari tadi tampak sangat bahagia.

“Aku senang karena Kyuhyun oppa dan Hyejin eonni mulai normal kembali. Aku sengaja meninggalkan mereka berdua hari ini agar mereka bisa bersenang-senang,” kata Hamun. Membayangkan apa yang akan dilakukan eonni dan oppanya itu sudah membuat Hamun tersenyum-senyum sendiri. Donghae mencubit pipi Hamun karena ia sangat gemas dengan kekasihnya.

“Anak pintar,” kata Donghae sambil tertawa.

“Aku tahu Hyejin eonni masih sayang pada Kyuhyun oppa. Aku tahu kalau Kyuhyun oppa adalah sumber kebahagiaan Hyejin eonni, selain aku tentunya.”

“Kau mulai narsis seperti Kyuhyun, sayang. Jangan banyak bergaul dengannya. HAHAHAHA!”

“Tapi aku juga tahu eonniku sangat keras kepala. Jadi, aku berniat untuk membantu Kyuhyun oppa mendapatkan hati Hyejin eonni lagi. Oppa, kau mau membantuku, kan?” tanya Hamun pada Donghae.

“Tentu saja, sayangku,” kata Donghae sambil mencium pipi Hamun dengan kilat.

“Nyetir yang benar, oppaku,” ucap Hamun tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphonenya yang baru mendapatkan sebuah pesan.

From: Kyu oppa
Aku tak tahu apa kau sengaja/tidak sengaja meninggalkan kami berdua seharian ini, tapi aku sangat berterima kasih. Aku melihat Hyejin tersenyum padaku, seperti dulu. Hamun, percayalah padaku, aku akan membuat kakak kesayanganmu ini bahagia. Kau percaya padaku, kan? Bahkan aku rela mengetik sepanjang ini demi Hyejin. I love you, sister. Too much!

—–

“Eonniiii!!! Sudah kubilang kau tidak boleh kemana-mana!!! Kenapa tidak mau mendengarku siiih?!” Omel Hamun yang memergoki Hyejin sedang mengendap-endap untuk keluar apartemen. Seunghyun sudah menunggu di lobi. Mereka berencana untuk menghadiri pesta ulang tahun bos Seungri di klab malam terkenal di Gangnam. Dengan terpaksa, Hyejin kembali ke kamarnya.

Tanpa mengganti pakaiannya apalagi menghapus makeup-nya, Hyejin menghubungi Seunghyun.

To : VI
Sampai acara pernikahan Hamun selesai, aku tidak boleh pesta dan minum. Malam ini, aku dilarang keluar oleh Hamun. Bosaaaan!!!

To : Hyejin
Mwo? Waeyo?

To : VI
Ia takut ada apa-apa terjadi padaku. Besok kan dia menikah! Jangan lupa!!

To : Hyejin
Kkkkkkkk. Aku paham perasaan Hamun. Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi sendiri saja malam ini.

To : VI
Maafkan aku ya…

To : VI
Btw, aku merindukanmu. Kkkk

To : Hyejin
Cih!! Kau merindukan Kyuhyun. Aku benar kan?

“Yaaaak! Lee Seunghyun! Kenapa kau jadi ikut-kutan Hamun sih? Aku tidak merindukan Kyuhyun! Hampir setiap hari dia datang ke sini, mana mungkin aku merindukannya!” seru Hyejin sebelum Seunghyun sempat mengucapkan Halo.

“Tapi hari ini dia tidak datang kan? Jadi kau merindukannya, makanya kau menghubungiku sekarang. Nasibku selalu menjadi bempermu. Hiks hiks hiks!” sindir Seunghyun.

“Tidak. Aku tidak merindukannya.” sangkal Hyejin. Hyejin menatap kamarnya yang biasanya dipenuhi oleh cerita-cerita lucu Kyuhyun namun sudah dua hari ini Hyejin melewatkan kekonyolan pria itu. Tanpa sadar, Hyejin menghela nafas panjang.

“Tuh kan! Kau menghela nafas! Oh ayolah, Song hyejin. Kau tidak bisa membohongiku. Kau pasti merindukan Kyuhyun! Sadar atau tidak, kau tidak pernah lagi mengeluh soal Kyuhyun kepadaku. Aku bahkan boleh dengan seenaknya menyebut-nyebut nama itu. Kau sudah sembuh dan kau masih mencintainya. Iya kan?”

“Heisssh!!! Terserah apa katamu. Aku mau tidur. Besok aku harus bangun pagi. Hamun akan segera menikah. Kyaaaaa!!!!”

“Okay. Selamat tidur, Hye. Sampai jumpa besok. Setelah Hamun menikah, aku bersumpah akan mengajakmu pesta dan minum sampai teler. Kkkkkk!!!” Tawa Seunghyun tiba-tiba terhenti. “Kalau Kyuhyun mengijinkannya. Kkkk!”

“Jaljaaa, Lee Seunghyun-ssi!!!” Begitu Hyejin menutup panggilan itu, layar smartphone Hyejin kembali menyala. Satu pesan masuk.

To : Song Hyejin
Hai. Apa kabar? Apa kau sudah tidur? Aku baru selesai makan malam. Maaf jarang mengabarimu. Aku sibuk sekali hari ini.

To : Annyeong! Goodbye!
Baru mau tidur.

To : Song Hyejin
Baiklah kalau begitu. Selamat tidur, moonlight.

Hyejin berdecak kesal melihat pesan Kyuhyun yang seakan menutup pembicaraan. “Apa dia tidak merindukanku? Aku menunggunya seharian tapi dia hanya begini saja? Sial,” umpat Hyejin.

To : Annyeong! Goodbye!
Yaak! Kau pulang jam berapa besok? Kau jadi menyanyi di acara Hamun kan?

To : Song Hyejin
Pesawatku jam 5 pagi. Aku akan langsung ke hotel begitu mendarat. Tenang saja, aku pasti menepati janjiku.

To : Annyeong! Goodbye!
Jangan sampai terlambat!!

To : Song Hyejin
Arraseo. Baiklah. Kau lebih baik tidur sekarang. Kau harus istirahat. Selamat tidur.

To : Annyeong! Goodbye!
Bye.

To : Song Hyejin
I miss you so bad. I love you.

Hyejin tersenyum membaca pesan Kyuhyun namun sama sekali tidak berniat membalasnya. Dia memilih untuk tidur setelah mengirimkan pesan singkat lain.

To : Annyeong! Goodbye!
Tidur sana.

—–

“Kau dimana?” Tanya Hyejin menelepon penyanyi utama di pernikahan Hamun dan Donghae yang sampai detik ini belum sampai juga ke tempat acara, padahal ia dijadwalkan bernyanyi kurang dari sejam lagi.

“Aku masih di Jepang. Aku ketinggalan pesawat. Sekarang aku sedang mencari pesawat yang berangkat paling cepat.”

“Yaaak Cho Kyuhyun!! Jangan bercanda!!!” Seru Hyejin dengan keras, tidak peduli pada puluhan pasang mata yang menatap kepadanya. Bagaimana bisa seorang gadis berteriak sekeras itu, di pesta pernikahan adiknya sendiri.

Tidak banyak yang tahu bahwa Kyuhyun memiliki bakat lain selain bermain game. Kyuhyun punya suara yang sangat bagus untuk didengar, sangat sayang jika dilewatkan begitu saja oleh Hyejin. Hyejin yang mengajukan Kyuhyun untuk bernyanyi ketika Hamun dan Donghae kehabisan akal siapa yang harus mengisi acara di pernikahan mereka.

“Kyu, aku tidak mau tahu. Kau harus datang sekarang juga! Aku bisa mengatur ulang jadwalmu tapi kalau kau sampai tidak muncul, aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi!!”

Klik. Sambungan telepon diputus. Hyejin kembali ke mejanya, dimana Hamun dan Donghae sedang bersiap-siap untuk bersulang. “Untuk Lee Donghae dan Kang Hamun! Cheers!” Seru MC sambil mengangkat gelas anggurnya dan seluruh tamu pun mengikutinya.

“Untuk Lee Donghae dan Kang Hamun!” Semua tamu bertepuk tangan dan berseru riuh rendah setelah bersulang. Sebagian di antara mereka berseru, “Kisseu! Kisseu! Kisseu!” Donghae menoleh pada Hamun, tersenyum lembut lalu mencium bibir istrinya dengan penuh kasih sayang. Semua kembali bertepuk tangan dan berseru senang.

Seseorang yang berdiri di paling belakang ruangan, memperhatikan sambil tersenyum. Ia merasa bahagia melihat pasangan itu tapi ada sebagian kecil hatinya yang terasa sakit.

“Kyuhyun-ssi? Kenapa kau berdiri di sini? Masih banyak tempat duduk kosong,” sapa Seunghyun yang baru kembali dari toilet dan menemukan Kyuhyun hanya berdiri paling belakang, memperhatikan pasangan yang sedang berbahagia itu.

Ah tidak. Kyuhyun memperhatikan wanita yang berada di sebelah mempelai wanita. Wanita itu tidak berhenti tersenyum. Tentu saja. Wanita itu pasti sangat bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan adiknya.

Seunghyun mengikuti arah tatapan Kyuhyun. “Hyejin melarangmu datang ya?” Tebak Seunghyun. Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Terakhir kali aku melihatnya berada di pesta pernikahan, ia tidak sebahagia itu. Ia hanya berdiri di bagian paling belakang ruangan, sepertiku, menatapku dengan nanar. Aku tahu ia ingin menangis tapi ia menahannya. Saat itu, aku ingin sekali menghampirinya, memeluknya, memberikan kebahagiaan untuknya. Tapi tidak bisa.”

“Waeyo?”

“Aku tidak bisa lari dari pesta pernikahanku sendiri, Seunghyun-ssi. Meskipun aku tidak mencintai wanita yang menjadi istriku dulu, aku tidak bisa lari. Aku tidak ingin membuat keluargaku malu. Makanya sekarang aku berada di sini. Aku ingin merasakan apa yang Hyejin rasakan dulu. Meskipun ini bukan pesta pernikahan orang yang aku cintai, rasanya sangat menyakitkan melihat puluhan orang berbahagia dan hanya kau seorang diri yang bersedih.”

Seunghyun menepuk-nepuk punggung Kyuhyun. “Hubunganmu dengan Hyejin terlalu sulit diuraikan, menurutku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuat kalian bersatu kembali. Yang pasti, aku mendukung apapun keputusan kalian yang membuat kalian bahagia. Aku tidak ingin ada satupun dari kalian yang bersedih. Hyejin salah satu teman terbaikku dan aku akan ikut bahagia saat dia bahagia.”

Kyuhyun memandang Seunghyun dengan penuh terima kasih, sekaligus heran. “Apa kau baik-baik saja, Seung? Otakmu sudah bergeser? Bagaimana bisa kau mengucapkan kalimat melankolis seperti itu?” Sejak mengenal Seunghyun, Kyuhyun tahu betul Seunghyun orang yang sangat easy going, ia tidak akan pernah memikirkan hal-hal ribet seperti hubungannya dengan Hyejin.

Seunghyun hanya tertawa. “Sialan kau. Jadi masih mau berdiri di sini?”

“Yepp. Sampai sejam lagi,” jawab Kyuhyun.

Seunghyun menatap Kyuhyun dengan heran namun tidak ingin bertanya. Ia hanya menepuk punggung Kyuhyun dua kali dengan pelan lalu meninggalkan Kyuhyun sendirian di tempatnya. Kyuhyun masih ingin menikmati senyum dan tawa Hyejin dengan tenang.

Ketenangannya terganggu ketika ia sadar ia tidak bilang pada Seunghyun bahwa Hyejin tidak boleh tahu ia sudah berada di dalam ruangan saat ini. Hyejin telah menangkap keberadaannya.

Dengan wajah kesal, Hyejin mendatangi Kyuhyun dan langsung memukul lengan pria itu berkali-kali untuk meluapkan kekesalannya. “Bagaimana bisa kau bilang kau masih di Jepang?! Kau membuatku panik tahu!! Kau tega sekali!! Cho Kyuhyun, kau mau mati eoh?”

Kyuhyun hanya tertawa. Ia merelakan dirinya untuk dipukuli oleh Hyejin. Seberapapun sakitnya pukulan Hyejin tidak mungkin setara sakitnya dengan apa yang dirasakan Hyejin ketika melihatnya menikah dengan wanita lain.

“Kau harus menyanyi sekarang!! Tidak ada mengundur-undur waktu!!” Hyejin menarik tangan Kyuhyun untuk mengikutinya menuju panggung dimana peralatan musik dan sebagainya telah disediakan. Kyuhyun mengambil mikrofon dan memulai ucapan selamatnya, “Selamat menempuh hidup baru untuk hyung kesayanganku, Lee Donghae dan dongsaeng yang paling cantik kesukaanku, Kang Hamun. Pernikahan kalian akan bertahan sampai maut yang memisahkan. Aku yakin itu.”

Kyuhyun berkoordinasi dengan pemain piano yang berada di belakangnya. Mereka menyesuaikan beberapa nada sebelum mengumandangkan suara merdunya. Kyuhyun berdiri di tepi panggung, menatap Hyejin yang menjadi penonton terdepan. “Untukmu,” kata Kyuhyun tanpa mengeluarkan suara. Hanya mulutnya yang bergerak dan Hyejin bisa membacanya.

Jichin haruga gago dalbich arae
(After a tiring day passes, underneath the moonlight)
Du saram hanaui geurimja nun
(Two people become one shadow)
Gameumyeon jabhil deut aryeonhan
(A vague happiness that seems reachable)
Haengbogi ajig jeogi itneunde
(Is still over there)

Sangcheo ibeun maeumeun neoui
(Even if my scarred heart casts)
Kkum majeo geuneureul deuriwodo
(A shadow on your dreams)
Gieog haejwo apeudorog sarang
(Please remember that a person, who loves you)
Haneun sarami gyeote itdaneun geol
(Till it hurts, is next to you)

Ttaeroneuni giri meolgeman boyeodo
(Although this path seems far sometimes)
Seogeulpeun maeume nunmuri heulleodo
(Even if you shed tears out of sadness)
Modeun iri chueogi doel ttaekkaji
(Until everything becomes a memory)
uri du saram seoroui shwil goshidoe eo juri
(Let’s become each other’s resting place)

Du Saram (Two People) – Sung Si Kyung

Mungkin Hyejin terlalu meresapi lagu yang dinyanyikan oleh Kyuhyun atau karena mata Hyejin yang tidak bisa lepas dari Kyuhyun, tanpa gadis itu sadari ia meneteskan air mata. Ia merasa sangat tersentuh. Cinta yang selama ini ia kubur dalam-dalam, terasa mulai merangkak, menyeruak keluar dari persembunyiannya.

—–

Setelah Kyuhyun selesai menyanyi, Hyejin segera mengusap air matanya saat melihat Kyuhyun berjalan kearahnya. Kyuhyun melihat hal itu akan tetapi ia duduk di samping Hyejin, seolah-olah tidak tahu apa-apa.

“Bagaimana? Tidak mengecewakan, kan? Aku berlatih cukup sering untuk acara ini,” ujar Kyuhyun sambil menyeringai, walau sesungguhnya hatinya terasa sakit melihat wanita yang dicintainya menangis.

Hyejin tertawa mendengar Kyuhyun, ia tahu kebiasaan pria itu yang suka pamer. “Tidak ada apa-apanya dibandingkan penyanyi aslinya, mengecewakan,” gerutu Hyejin sambil menggelengkan kepalanya.

Kyuhyun tersenyum tanpa sepengetahuan Hyejin. Ia bahagia karena wanita itu memberikan respon khas Hyejin tiap kali Kyuhyun menyombongkan dirinya. Seperti saat mereka bersama dulu. Apa aku boleh berharap lebih, Hyejin ah? pikir Kyuhyun.

“Sekarang mari kita dengarkan bagaimana perasaan uri Donghae dan uri Hamun setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri!” seru MC yang disambut oleh tepuk tangan para tamu. Hyejin tersenyum melihat adik kesayangannya dan suami Hamun itu. Kyuhyun, dengan terpaksa, mengalihkan pandangannya dari Hyejin menuju Hamun dan Donghae.

“Aku berterima kasih untuk semua yang menyempatkan datang pada acara pernikahan kami ini,” kata Donghae. Ia mengucapkan satu-persatu nama yang berperan besar dalam kehidupannya. Hyejin termasuk di dalamnya.

“Terima kasih banyak untuk Hyejin yang memperkenalkan aku pada Hamun dan membantuku untuk mendapatkan Hamun. Butuh waktu yang lama, kesabaran, dan perjuangan untuk bisa membuat Hamun mencintaiku. Terima kasih sahabatku yang kini jadi kakak iparku, aku akan memperlakukanmu dengan baik,” ujar Donghae sambil memberikan tanda hati pada Hyejin.

Hyejin tidak bisa berhenti tertawa melihat tingkah pria itu. Tawa Hyejin baru berhenti saat ia melihat Donghae memandang Hamun lembut. “Aku sangat berterima kasih, karena kau mau menikah denganku. Aku mencintaimu,” kata Donghae pada Hamun. Hyejin terharu melihat adiknya dicintai oleh Donghae seperti itu. Ia tak akan pernah menyesal sudah mengenalkan Hamun pada sahabatnya itu.

“Hyejin eonni, gomawo untuk semuanya,” ujar Hamun begitu ia mendapatkan mic dari Donghae. Sebelum ia melanjutkan perkataannya, Hamun menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir. “Kau selalu berusaha untuk membuatku bahagia, tapi kini aku sudah punya Donghae oppa. Karena itu, aku mohon, mulai sekarang pikirkan kebahagiaan eonni sendiri. Kau tahu, kan? Kebahagiaan terbesarku adalah saat melihat eonni juga bahagia,” ujar Hamun sambil menatap Hyejin. Hyejin sendiri tidak bisa menahan air matanya saat mendengar perkataan Hamun.

“Aku tetap akan memikirkan kebahagiaanmu,” ujar Hyejin hanya dengan gerak mulutnya. Hamun tertawa menyadari apa yang Hyejin katakan. “Kali ini saja, tolong dengarkan aku. Susah sekali untuk menasehati eonni tersayangku ini,” ujar Hamun yang membuat semua tamu tertawa.

—–

“Kyuhyun Oppa, tolong antar Hyejin eonni pulang. Jangan biarkan eonni menyetir karena ia pasti sudah lelah. Hari ini ia tidak boleh mabuk-mabukan karena besok eonni ada harus ke Busan,” ujar Hamun mengingatkan sebelum ia masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke apartemen barunya, tempat tinggalnya dengan Donghae.

“Yaa, Kang Hamun! Memangnya aku kelihatan seperti wanita lemah yang butuh pertolongan Kyuhyun?” seru Hyejin.

“Ne, dimataku eonni tampak seperti itu. Makanya aku tidak bisa tenang meninggalkan eonni sendirian,” ujar Hamun yang membuat Kyuhyun tertawa. Tawa Kyuhyun berhenti saat Hyejin menatapnya tajam.

“Yaa, Hyejin ah, dengarkan kata Hamun hari ini saja. Aku tak mau malam pertamaku terganggu karena Hamun khawatir padamu. Jebal,” pinta Donghae yang membuat Hyejin menghela nafas panjang.

“Baiklah, baiklah. Demi malam pertama kalian yang harus berakhir indah, aku akan pulang dengan Kyuhyun dan membiarkannya menjagaku semalaman ini. Puas?” tanya Hyejin, lebih tepatnya menyindir. Donghae tersenyum puas mendengar jawaban Hyejin itu.

Sebelum Hamun dan Donghae benar-benar pergi, Hamun memandang pria itu dengan penuh arti. ‘Ingat janjimu padaku, oppa,’

Kyuhyun tersenyum. ‘Aku akan membahagiakan Hyejin, gomawo Hamun,’

—–

“Yaa, Kyuhyun ah, kenapa kau tidak membawaku langsung ke apartemenku? Aku akan beritahu Hamun kalau kau tak bisa dipercaya,” seru Hyejin saat mobil yang Kyuhyun bahwa justru berhenti di taman sekitar sungai Hangang.

Kyuhyun mengambil smartphone Hyejin. “Kau mau merusak malam pertama mereka?” tanya Kyuhyun yang akhirnya membuat Hyejin terdiam. “Ayo keluar, kau perlu menghirup udara segar,” ajak Kyuhyun yang terlebih dulu turun dari mobil.

Hyejin turun dari mobil. Ia duduk di kap mobil bersama Kyuhyun. “Menangislah, kau pasti sangat sedih karena Hamun bukan lagi milikmu,” kata Kyuhyun.

Hyejin tertawa kecil. “Aku sedih, tapi aku juga bahagia. Aku hanya perlu membiasakan diri tanpa Hamun,”

“Bagaimana kalau kau mulai memikirkan kebahagiaanmu sendiri, seperti kata Hamun tadi,” ujar Kyuhyun.

“Aku sudah memikirkannya. Aku akan bekerja cari uang yang banyak, lalu mengambil cuti panjang untuk travelling keliling dunia,”

“Tambahkan satu lagi di rencana masa depanmu itu,”

“Apa?”

Kyuhyun menatap lekat Hyejin. “Menikah denganku. Aku ingin kita bersatu kembali.”

“…” Hyejin terdiam, ia terlalu kaget mendengar perkataan Kyuhyun barusan. Ia belum menyiapkan perasaannya untuk menerima Kyuhyun kembali.

“Kau tahu aku sangat mencintaimu dan aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon, terima aku kembali.” pinta Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun, aku tidak bisa memutuskannya sekarang.”

“Kau tidak mencintaiku?”

“Jangan berpikiran konyol. Aku hanya perlu waktu berpikir. Sejak kita berpisah, aku sudah mengubur dalam-dalam impianku untuk menikah.”

“Kau mencintaiku tapi tidak ingin menikah? Baiklah. Tidak perlu cepat-cepat, tapi jangan terlalu lama. Kau tahu aku tidak suka menunggu, kan? Tapi, kau mau kembali padaku, kan?”

“Berikan aku waktu untuk berpikir,”

Kyuhyun tersenyum. “Baiklah, 3 detik,” ujar Kyuhyun sambil menatap Hyejin tajam.

“Yaa, Cho Kyuhyun!”

“Waktu habis. Aku akan membuatmu bahagia, Hyejin.”

“…”

“Kau tidak percaya padaku?”

Hyejin menghela nafas panjang. Kata-kata Hamun tergiang di kepalanya, hal itu membuat Hyejin sadar kalau pria dihadapannya ini adalah sumber kebahagiaan terbesarnya, selain Hamun. “Aku akan hanya memberi satu kesempatan untukmu. Satu saja. Kalau kau tidak mempergunakannya dengan baik, tidak akan ada lagi namamu dalam kehidupanku.”

Kyuhyun menggenggam erat tangan Hyejin. “Kau tidak akan pernah menyesalinya, sayang. Aku mencintaimu. Kau merasakannya kan, Hye?”

—–

Hyejin berguling-guling di atas tempat tidur di kamar hotel yang ia sewa di salah satu hotel paling terkenal di Pulau Jeju. Matanya terus memandang ponselnya yang tidak kunjung berdering padahal screensaver ponsel itu sudah menunjukkan jam setengah 10 pagi. Seharusnya, Kyuhyun sudah bangun dan mengabsen dirinya.

“Haiiisshh!!” Keluh Hyejin kesal karena sampai jam 10 kurang 15 menit, belum ada juga panggilan atau pesan masuk dari Kyuhyun. Sambil menghentak-hentakkan kakinya, Hyejin memilih masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap daripada ia hanya tidur-tiduran tidak jelas. “Awas kau Cho Kyuhyun!!!”

Hyejin menyelesaikan mandinya cukup lama karena saat ia kembali memeriksa ponselnya, jam digital di layarnya sudah menunjukkan angka 10.23 am. Untung, Kyuhyun sudah bangun dan menyapanya. Pesan pertama dari Kyuhyun masuk pada jam 10.14 am.

To : Song Hyejin
Morning love… Apa kau sudah bangun? Aku baru bangun. Mian. Kkkk.

To : Song Hyejin
Heyyy, kenapa tidak membalas pesanku? Kau sedang apa? Masih tidur?

To : Song Hyejin
Jagiyaaaaaa….

To : Song Hyejin
Aku mau mandi dulu ya. Kalau sudah bangun, balas pesanku! Muach!

Hyejin membaca pesan yang baru masuk dari Kyuhyun dan tidak bisa untuk menahan senyumnya. Hyejin merasa pesan Kyuhyun menggelikan tapi rasanya selalu menyenangkan mendapat pesan-pesan seperti itu. Dengan lincah, Hyejin mengetik di atas layar ponselnya.

To : My Eternal Sunshine
Selamat pagi… Aku sudah bangun daritadi. Aku baru selesai mandi. Apa kau sudah selesai mandi?

To : Song Hyejin
Aku pikir kau belum bangun, sayang. Aku sudah selesai mandi. Apa kau sudah siap? Aku lapar. Ayo kita sarapan sekaligus makan siang. Kkkkk.

To : My Eternal Sunshine
5 menit. Aku belum pakai baju. Tunggu sebentar ya…

To : My Eternal Sunshine
Btw, kemana kita hari ini? Aku ingin ke pantai.

To : Song Hyejin
Kita akan pergi ke aquarium dulu baru kita ke pantai. Aku ada kejutan untukmu.

To : My Eternal Sunshine
Kejutan apa?

To : Song Hyejin
Kalau aku mengatakannya, namanya bukan kejutan. Sudah, pakai baju sana!! Aku sudah lapar.

Hyejin pun segera memakai bajunya secepat shinkansen nozomi yang mampu menempuh Tokyo-Osaka hanya dalam 2 jam saja. Setelah itu, ia segera memakai bedak dan lipstik di wajahnya. Ia tidak sabar untuk segera bertemu Kyuhyun.

To : My Eternal Sunshine
Aku sudah siap. Kajja.

To : Song Hyejin
Tunggu aku. Aku akan ke kamarmu sebentar lagi. Muaaaach!!!

Tidak lama, bel kamar Hyejin berbunyi. Hyejin segera menyambar tas dan handphonenya lalu berlari untuk membuka pintu kamarnya. Senyumnya melebar begitu melihat Kyuhyun berdiri di hadapannya. “Selamat pagi,” sapa Kyuhyun diikuti sebuah kecupan ringan di pipi Hyejin.

“Selamat pagi,” balas Hyejin. Tangannya mengamit lengan Kyuhyun dengan manja dan matanya menatap Kyuhyun mesra. “Kajja. Aku juga sudah lapar. Kalau kita terlalu lama berada di sini, bisa-bisa aku memakanmu.” Hyejin menutup pintu kamarnya dan mengajak Kyuhyun mulai berjalan.

Kyuhyun mencubit hidung Hyejin dengan gemas ketika mereka mulai melangkah. “Aku tidak keberatan. Mungkin rasa digigit-gigit gigimu itu menyenangkan,” ujar Kyuhyun sambil tertawa renyah.

Sebuah pukulan ringan mendarat pada lengan Kyuhyun. “Yang benar saja. Aku tidak suka manusia. Apalagi dirimu. Kalau aku memakanmu, nanti siapa pasangan hidupku?” Kata Hyejin membuat Kyuhyun terpaku di tempatnya.

“Ada apa?” Tanya Hyejin karena Kyuhyun tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Kyuhyun menatap Hyejin dengan serius. “Pasangan hidup? Apa itu artinya kau menerima lamaranku?” Tanya Kyuhyun. Tatapannya begitu tajam, menyadarkan Hyejin bahwa pria itu membutuhkan sesuatu kejelasan.

Hyejin mencubit kedua pipi Kyuhyun dengan keras. “Kau telah menggunakan kesempatanmu dengan baik dan membuktikan padaku bahwa kau mampu membahagiakanku. Walaupun kita tetap suka bertengkar, aku sadar kita tidak bisa terpisah. Lagipula aku juga mencintaimu,” kata Hyejin.

Kyuhyun dan Hyejin berdiri berhadapan dengan latar belakang taman yang memiliki bunga warna-warni di tanahnya. Terlihat sangat indah bagi orang-orang yang melewatinya.

“Kau mencintaiku?” Tanya Kyuhyun tidak percaya. Tampangnya nyaris seperti orang bodoh karena begitu kaget mendengar pernyataan Hyejin.

“Apa kau baru pertama kali mendengarnya? Humm?” Hyejin menyeringai geli melihat ekspresi kaget Kyuhyun yang menurutnya sangat menggemaskan. “Iya, aku mencintaimu. Jangan bengong seperti itu,” ulang Hyejin menyadarkan Kyuhyun.

“Aku hanya terkejut. Mian,” ucap Kyuhyun yang masih tidak bisa berpikir dengan benar. Tubuhnya masih terpaku di tempatnya dan Hyejin tidak tahan untuk tidak memeluk Kyuhyun dengan erat.

“Kau benar-benar lucu, Kyu. Mendengar aku mencintaimu saja kau sampai mematung seperti ini. Apalagi kalau kau mendengar aku hamil?”

Mata Kyuhyun melebar menatap Hyejin. Ekspresi kagetnya bertambah parah. “Kau hamil?!” Seru Kyuhyun nyaris mengusir seluruh kupu-kupu yang sedang bermain di taman.

“Aku bilang kalau, sayang. Kalau… Bagaimana aku bisa hamil kalau bercinta saja belum pernah? Memangnya aku Bunda Maria yang hamil karena dititipkan janin langsung oleh Tuhan? Pikiranmu terlalu kusut tampaknya,” sahut Hyejin nyaris terbahak-bahak melihat kekasihnya yang semakin lama terlihat semakin bodoh saking terkejutnya.

“Aku pikir…” Kyuhyun menggaruk-garuk telinganya dengan malu karena sudah salah mengartikan ucapan Hyejin.

Hyejin kembali mengamit lengan Kyuhyun dan mengajak pria itu brunch (breakfast and lunch) namun Kyuhyun tetap berdiri di tempatnya. “Ayo makan. Aku sudah lapar,” kata Hyejin.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Ada yang harus aku bicarakan denganmu,” kata Kyuhyun dengan nada serius. Hyejin tersenyum.

“Ada apa? Humm?”

Kyuhyun mengeluarkan sepasang cincin emas dari kantung celananya. Sebuah cincin memiliki ukuran lebih kecil dari cincin yang satunya dan Kyuhyun mengambil cincin tersebut. “Tadinya aku mau memberikan cincin ini di aquarium tapi aku rasa ini saat yang tepat,” kata Kyuhyun. Diraihnya tangan kanan Hyejin, merenggangkan jarak antara jari manis Hyejin dengan jari tengah dan kelingking milik gadis itu. Cincin emas yang lebih kecil Kyuhyun sematkan di jari manis Hyejin. “Mulai hari ini, kau tidak boleh pergi kemana-mana lagi. Kau adalah milikku. Selamanya milikku. Aku sangat sangat mencintaimu. Song Hyejin, menikahlah denganku.”

Hyejin tersenyum. Sebagian dirinya terharu bahagia namun sebagian dirinya lagi ingin sekali tertawa. Tidak ia sangka, Kyuhyun bisa berlaku seromantis ini.

Hyejin mengambil cincin yang memiliki bentuk sama persis dengan cincin yang baru tersemat di jarinya, hanya saja ukurannya lebih besar. “Aku tidak bisa seromantis dirimu tapi aku akan mencoba untuk mengatakannya dengan selembut mungkin.” Hyejin pun menyematkan cincin ke jari manis kanan Kyuhyun. “Aku sangat sangat sangat mencintaimu dan kau tahu betapa cemburuannya aku. Mulai hari ini, kau adalah milikku. Selamanya milikku. Kalau kau berani berpaling dariku, aku bersumpah kau akan menyesal seumur hidupmu. Aku dan Hamun akan mengejarmu sampai ke liang kubur,”

Kalau saja suasana hati Kyuhyun tidak seromantis saat ini, Kyuhyun pasti sudah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Hyejin bukan menangkup wajah Hyejin dengan kedua tangannya. Kyuhyun menatap lembut Hyejin lalu memberikan ciuman selembut tatapan matanya tepat di bibir Hyejin. “Aku tidak akan berpaling darimu. Selamanya, aku akan mencintaimu. Percayalah,” ucap Kyuhyun.

Hyejin tidak ingin muncul beberapa pilihan selain mempercayai Kyuhyun. Ia sudah memutuskan untuk berbagi segalanya dengan Kyuhyun untuk selamanya. Ia sudah memutuskan meletakkan harapan dan kebahagiannya pada pria yang tidak bisa berhenti ia cintai seumur hidupnya.

“Cho Kyuhyun, you walk into my life and make me see why it never worked out with anyone else. I do really love you. Even our love story isn’t always good but still my favorite. Cho Kyuhyun, I’m forever yours.”

Kkeut!!!

xoxo @gyumontic