Di siang hari yang cerah, di puncak musim panas dengan sinar matahari yang sangat menyengat di luar sana, sekelompok orang lebih memilih untuk berada di sebuah apartemen dengan tiga buah pendingin ruangan yang menyala kencang membuat delapan orang di dalam ruangan itu hampir menggigil kedinginan.

“Hye, Kyuhyun mana sih? Kenapa dia belum sampai juga?” Tanya MinAh yang sedang sibuk membuka situs belanja online bersama kekasihnya, Eric, yang hanya bisa menghela nafas pasrah ketika wanita yang paling ia cintai itu memasukkan nomor kartu kreditnya sebagai sarana pembayaran atas barang-barang yang telah dipesan.

Hyejin, yang sedang bermalas-malasan di sofa sambil menonton televisi, hanya menjawab dengan singkat. “Masih di jalan.”

“Jalan mana? Jalan dari kamarnya ke garasi?” Sindir Eric yang sudah mulai bosan menunggu kedatangan satu lagi teman sekelompoknya. Ia dan tujuh orang lainnya sudah menunggu hampir sejam. Setiap ditanya sudah dimana, jawabannya masih di jalan. Kapan sampai, sebentar lagi. Heiiissh!

Di antara tujuh orang yang berada di dalam apartemen musim dingin buatan itu, terdapat dua orang gadis yang sedang sibuk dengan buku masing-masing. Jihyo dengan novel Mocking Jay dan Hamun dengan buku Mengenal Lebih Jauh Anak Hiperaktif. “Mereka sedang serius. Jangan diganggu,” ujar HyunAh memperingatkan MinAh, Eric dan Hyejin untuk paling tidak mengecilkan suara ketika saling melempar ocehan.

HyunAh, yang memang hobi memasak, tidak beranjak dari dapurnya sejak dua jam lalu. Ia sedang mencoba resep baru untuk makan malam nanti dibantu oleh Henry, pacarnya yang norak. Ayam goreng saus telur asin. “Ini enak,” puji Henry yang selalu menjadi orang pertama merasakan masakan HyunAh.

“Gomawo,” balas HyunAh disusul senyuman penuh terima kasih. Keduanya kemudian memulai untuk memasak makanan lain yang sudah sering mereka lakukan untuk mempercepat proses. Karena, seekor ayam goreng saus telur asin tidak akan cukup untuk sepuluh perut karet.

Hyejin berteriak keras mengabarkan pesan yang baru saja diterima smartphone-nya, “Kyuhyun sudah datang!!” Seketika, semua berkumpul di ruang tengah. HyunAh dan Henry meninggalkan dapur mereka, Jihyo dan Hamun melepaskan diri dari bukunya dan Eric bisa bernafas lega melihat kekasihnya menghentikan aksi online shopping-nya.

Betul seperti yang Hyejin katakan, Kyuhyun sudah datang. Pria itu muncul dengan membawa sebuah kantung coklat kecil yang langsung dilemparkannya kepada Jihyo. Jihyo yang terkenal cukup pandai di bidang lempar tangkap, menangkap kantung tersebut dengan baik. Dengan segera, Jihyo mengeluarkan isinya.

Mata Jihyo menatap jahil kepada seluruh orang di ruangan itu, terutama kepada gadis yang paling muda di antara mereka. “White shirt mission, start!” Seru Jihyo lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh yang lain, kecuali Hamun dan Kyuhyun. Hamun hanya bisa menunduk malu melihat kelakuan para seniornya sedangkan Kyuhyun sudah terkapar di pangkuan Hyejin saking lelahnya.

“Bagaimana caramu mendapatkannya, Oppa?” Tanya HyunAh yang saat ini sedang memegang kemeja tersebut.

“Tidak sulit. Sepulang dari konser kemarin, aku mengambilnya langsung dari stylist kami. Informasi saja, kemeja itu belum dicuci,” jawab Kyuhyun dengan mata tertutup. Pria itu sedang berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya meski hanya sebentar.

HyunAh memandang geli kemeja itu dan langsung melemparkannya kepada Hamun. “Bau pacarmu. Hyuuuh,” ujar HyunAh lalu tertawa.

Hamun memegang kemeja tersebut dan bisa merasakan ada bau tubuh kekasihnya di kemeja tersebut. “Apa Donghae Oppa tahu Kyu Oppa mengambil bajunya?” Tanya Hamun.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Kalau dia tahu, aku sudah menyiapkan alasan yang sangat bagus,” sahut Kyuhyun.

“Apa?”

“Hamun memintanya. Ia tidak berani meminta langsung padamu jadi ia meminta bantuanku.” Saat itu juga tawa Kyuhyun meledak membuat Hamun tersipu semakin malu. Kalau tidak ada Hyejin yang membungkam mulut Kyuhyun, mungkin Hamun sudah menangis saking malunya.

“Bukan aku yang memintanya. Eonnideul dan Oppadeul yang merencanakan ini semua,” keluh Hamun namun ia tidak bisa menolak White Shirt Mission yang dirancang delapan manusia ajaib ini, termasuk Kim Woobin meskipun ia tidak muncul hari ini.

“Jadi, kapan kau akan memakai kemeja itu? Malam ini? Apa kau akan mencucinya dulu?” Tanya MinAh sebagai salah satu pihak yang tidak sabar menjalankan misi ini.

“Menurutku, tidak usah dicuci. Donghae pasti lebih bergetar melihatmu memakai kemeja bekas pakainya daripada kemeja yang sudah dicuci. Taruhan, tidak sampai 5 menit ia pasti sudah menyerangmu,” kata Eric disusul kikik geli yang terlihat tidak cocok untuk pria berusia hampir 40 tahun.

“Aku setuju dengan Eric Oppa!” Seru Jihyo sambil ber-high five dengan Eric dan berseru kegirangan. “Kyaaa!!!! Hamun-ah!!! Kyaaa!!! Lalalalalala!!!”

“Kalau aku melihat Hyejin memakai kemejaku, tidak usah siapkan stopwatch untuk menghitung waktu, detik ke nol aku pasti sudah menyerangnya,” kata Kyuhyun sambil tertawa. Hyejin hanya bisa ikut tertawa, sinis, mendengar pengakuan Kyuhyun. Ia tidak bisa membantah karena Kyuhyun-nya memang seperti itu. Kening orang malah akan berkerut kalau melihat Kyuhyun hanya diam saja.

“Tapi Donghae hyung berbeda denganmu, hyung.” Henry bersuara. “Menurutku, Donghae hyung tidak akan melakukan apa-apa Hamun. Mereka paling hanya akan berciuman.”

“Heiiishh!! Aku sudah menurunkan semua ilmu menggoda yang aku miliki kepada Hamun. Kita bisa mengeceknya besok pagi, berapa banyak jejak yang ditinggalkan Donghae di tubuh Hamun,” ujar MinAh dengan ekspresi malu-malu yang sangat sangat menyebalkan. Matanya berkedip-kedip nakal kepada Hamun.

“Nanti malam. Donghae hyung sedang menuju kemari,” kata Kyuhyun. Ia sudah menegakkan tubuhnya. Kyuhyun segera bangkit berdiri dan mengajak Hyejin untuk mengikuti langkahnya. “Semua terserah kalian. Mau mengeceknya nanti malam atau besok pagi. Aku dan Hyejin mau pergi dulu. Kami akan membiarkan mereka bermesraan sepanjang malam ini. Hamun-ah, hwaiting!!”

Tawa setan Kyuhyun tidak bisa lepas dari wajahnya. Kalau saja Hamun tidak bisa mengingat segala kebaikan Kyuhyun yang pernah pria itu lakukan, ia pasti sudah melempar semua bantal sofa ke wajah Kyuhyun. Hyejin menepuk-nepuk kepala Hamun dengan sayang. “Kami pergi dulu ya. Selamat berjuang, Hamun sayang,” ucap Hyejin lalu menyusul Kyuhyun yang sudah keluar lebih dulu.

MinAh dan Jihyo menatap Hamun dengan jahil. “Ada apa, eonnideul?” Tanya Hamun hati-hati. Ia sudah siap siaga jika para seniornya itu melakukan sesuatu yang tidak ia sangka-sangka.

MinAh menarik Hamun dari sofa dibantu Jihyo yang mendorong magnae dari belakang. Mereka membawa gadis kecil itu ke dalam kamar. “Ganti bajumu,” ujar MinAh.

Hamun pun mengganti kaus bersablon Song Triplets dengan kemeja putih Donghae. “Sudah,” kata Hamun datar. Dibilang suka dengan misi ini, tidak. Dibilang tidak suka, juga tidak. Hamun hanya bisa merasakan jantungnya berdebar kencang di setiap langkah untuk menjalankan White Shirt Mission.

HyunAh sudah selesai dengan bagiannya ketika MinAh berteriak kencang dari dalam kamar. “Hyuuun, semua sudah siap?” HyunAh menatap apartemen Eric yang sudah ia tata seindah, serapi dan sewangi mungkin dengan tambahan bunga di beberapa meja dan lilin aromaterapi di beberapa sudut ruangan. “Sudah!!!” Jawab HyunAh puas dengan hasil kerjanya.

Henry berpamitan lebih dulu karena ia harus segera memenuhi jadwal kegiatan berikutnya. HyunAh mengikuti karena ia juga harus ke lokasi syuting setelah mengantarkan Henry. “Hamun, aku pergi ya… Aku menantikan kabar baik untuk nanti malam,” seru HyunAh sambil tertawa geli. Ia pasti sudah terkontaminasi otak jahil Hyejin, Jihyo dan MinAh. Poor Hamun.

Eric bersiul keras saat melihat Hamun keluar dari kamarnya dengan kemeja putih Donghae yang kebesaran di tubuhnya dan celana pendek ketat yang hanya menutupi sampai sebatas paha kurusnya. “Kalau Donghae tidak melakukan apapun padamu, aku akan memberikannya penataran khusus 7×24 jam. Laki-laki macam apa yang tidak tergoda melihat kekasihnya seksi seperti ini,” kata Eric menggoda Hamun.

MinAh dan Jihyo mengikik di kanan-kiri Eric. Mereka juga sepakat dengan ocehan pria yang paling tua di antara mereka bersepuluh itu. “Baiklah, Hamun. Jaga dirimu baik-baik. Selamat berjuang. Kami akan pergi. Pakai apartemen Oppa-mu yang paling tampan ini sesukamu. Aku sudah menyiapkan pembantu untuk membereskan semua kekacauan yang akan kalian buat,” kata MinAh. Tawa menggelegar kemudian.

“Eonni…..”

Jihyo memeluk Hamun dengan erat. Nafasnya dibuat seolah-olah berat, ekspresi wajahnya juga dibuat seolah-olah ia memahami perasaan Hamun namun pada akhirnya Jihyo menyeringai jahil kepada Hamun. “Selamat berjuang!” MinAh, Jihyo dan Eric pun meninggalkan Hamun sendirian yang sudah tidak bisa digambarkan lagi perasaannya saat menanti kedatangan Donghae.

—–

Donghae masuk ke dalam apartemen Eric dan menemukan Hamun yang sedang terlelap di sofa, di depan televisi, memakai kemeja yang ia kenali sebagai kemejanya serta celana yang mengekspos bagian kaki Hamun yang paling Donghae sukai. Pergelangan kaki.

Donghae berusaha menahan keinginannya. Berulang kali ia hanya menelan ludah melihat Hamun yang terlihat sangat menggoda. “Hamun-ah,” panggil Donghae sambil membelai rambut Hamun dengan lembut.

Tidak terlalu sulit membangunkan gadisnya. Tidak perlu dipanggil dua kali, Hamun sudah terbangun. “Donghae Oppa.” Hamun menegakkan tubuhnya, memberikan ruang kepada Donghae untuk duduk di sebelahnya.

Donghae tersenyum, memandang gadis-nya dengan lembut. “Eonnideulmu menjahilimu lagi ya?” Ternyata Donghae tahu bahwa kekasihnya itu sedang menjadi korban ide liar seniornya. Hamun menganggukkan kepalanya. “Tapi aku senang melihatnya. Kau terlihat sangat cantik.”

Hamun tersipu malu. “Gomawo, Oppa,” cicit Hamun. Ia terlalu malu, bahkan untuk menatap mata Donghae pun ia tidak sanggup.

“Kalau kau keberatan dengan ide mereka, kau boleh mengganti bajumu,” ujar Donghae dan merasa terkejut ketika Hamun menggelengkan kepalanya.

“Memakai kemeja Oppa terasa serasa sedang dipeluk Oppa,” ujar Hamun membuat Donghae gemas.

Donghae merangkul bahu Hamun dan mendekatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. “Jangan menggodaku. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak menyentuhmu,” ujar Donghae kemudian tertawa pelan. Hamun mengelus kaus Donghae pada bagian dada pria itu.

“Apa itu termasuk Oppa tidak akan menciumku?” Donghae menundukkan sedikit kepalanya sehingga kini keningnya bersentuhan dengan kening Hamun. “Hanya kalau kau menginginkannya dan mengijinkannya,” kata Donghae.

“Aku menginginkannya dan aku menginjinkan Oppa menciumku,” kata Hamun nyaris berbisik.

Donghae menundukkan kepalanya semakin dalam sampai ia bisa menautkan bibirnya di bibir Hamun. Hamun memegang kepala Donghae hingga pria itu tidak bisa melepaskan ciumannya sesuka hati. Keduanya begitu intim, terbawa suasana romantis, ditambah tempat yang begitu mendukung. Keduanya enggan melepaskan diri satu dengan yang lain.

—–

MinAh mengirimkan foto yang baru saja ia ambil kepada seluruh anggota grup chatting di Kakao Talk-nya. Foto Donghae dan Hamun yang sedang terlelap di sofa sambil berpelukan.

Park MinAh
Kita lihat berapa banyak bekas yang ditinggalkan Donghae Oppa. Kyaaaa!!!!

Choi Jihyo
Kyaaaa!!! Tidak sabar! Tidak sabar!!!

Jung HyunAh
You did it? Kkkkk.

Song Hyejin
Hamun-ah! Magnae, good job!! Saranghae!

Kkeut!

xoxo @gyumontic