Dapet ide ff ini pas denger lagu Elliott Yamin yang Wait for you (selera jadul) haha i dont know if this fanfiction good enough but hope you still enjoy it. Selamat membaca🙂

I loved her with a love that was more than love.

“Selamat pagi semuanya,” sapanya pada pasien yang ada di ruang santai ini. Ia terlihat cantik dengan jas putihnya walaupun lingkar matanya semakin menebal.

“Pagi dokter Hamun,” sapaku dan pasien yang lain. Hamun kini memandangku dengan heran. “Bagaimana anda bisa berada di bagian ini? Bukannya anda pasien di bagian syaraf?” tanyanya padaku.

“Donghae hyung datang pagi-pagi kesini karena tahu dokter Hamun yang akan keliling untuk memeriksa kami. Ia sengaja agar bisa-,”

Aku langsung menutup mulut pasien Hamun yang baru 10 menit yang lalu menjadi temanku, Taemin. Sedangkan, Hamun sudah tertawa melihat tingkahku. Ia bahkan bertanya padaku, “Jadi, kenapa anda mau bertemu denganku?”

Sejak saat itulah, aku mulai banyak berbicara dengannya. Mengenai hal apapun. Sampai akhirnya aku mensyukuri kenyataan bahwa aku dirawat di rumah sakit ini dalam waktu yang lama. 6 bulan kami berteman, sampai akhirnya aku mengatakan perasaanku yang tak kusangka berbalas. Hamun juga mencintaiku.

Aku menatap Hamun yang sedang duduk di tepi tempat tidurku. Ia menyuapiku bubur sayur yang sudah menjadi menu sarapanku selama dua tahun ini. Kalau bukan karena Hamun, aku pasti tidak mau makan makanan ini.

“Aaa,” ujar Hamun menyuruhku membuka mulut lalu menyuapiku. Ia tersenyum padaku saat menyadari kalau aku sedang menatapnya. “Waeyo, oppa?” tanyanya.

“Aku sayang padamu,” kataku yang membuatnya tertawa geli.

“Sudah dua tahun kita berpacaran. Kau belum bosan mengatakan hal itu?” tanya Hamun sambil kembali menyuapiku, satu sendok terakhir.

Aku menggeleng. “Aku tidak akan pernah bosan kalau pacarku adalah dirimu,” ujarku dengan tulus. “Atau jangan-jangan kau yang sudah bosan? Kau pasti bosan dengan pria penyakitan sepertiku,” kataku.

“Sayangnya aku tidak bisa bosan denganmu,” kata Hamun. “Oia, apa kata dokter Choi mengenai tumor di kepalamu, oppa?”

Pertanyaan Hamun membuat senyumku hilang sejenak. Untung aku ingat kalau Hamun ada disini, aku tidak boleh menunjukan kalau aku lemah. “Katanya tumorku sudah terlanjur menyebar. Sampai saat ini para dokter masih belum menemukan cara untuk mengoperasiku. Kemoterapi yang aku lakukan ternyata tidak memberi efek positif sama sekali. Padahal aku sudah mulai botak. Sayang sekali, ketampananku berkurang,” kataku sambil mengusahakan senyum diwajahku tidak hilang.

Hamun menatapku lirih dan bisa kulihat matanya mulai berair. Hamun seperti itu bukan untuk mengasihaniku tapi ia selalu menggantikanku untuk menangis. Hamun memelukku dengan erat dan ia mulai menangis. Di tengah isakannya aku bisa mendengar Hamun berkata, “Kau sangat tampan bagiku bagaimana pun kondisimu. Aku selalu mencintaimu, oppa,”

Aku membalas pelukan Hamun. Kalimat yang Hamun ucapkan tadi selalu menjadi obat untuk kesedihanku dan ketakutanku. Aku selalu memperoleh kekuatan baru saat Hamun menangis untukku dan mengatakan cinta padaku. “Sudah, jangan menangis lagi, sayang. Kau harus piket keliling pagi ini, kan?”

Hamun melepas pelukannya dan menghapus airmatanya. Saat melihat Hamun, aku merasa ingin kembali hidup. Aku ingin sembuh agar aku dapat hidup bersamanya. Aku ingin membahagiakannya. Tuhan, tolong beri aku kesempatan itu.

Pagi ini Dokter Choi menghampiriku dan memberi kabar mengenai operasiku. Mereka sudah menemukan jalan untuk mengangkat tumor di kepalaku ini. Begitu Dokter Choi pergi, aku langsung berlari menuju bagian Kejiwaan untuk menemui Hamun.

“Hamun! Hamun!” seruku saat melihat Hamun sedang berjalan diikuti dokter muda yang sedang magang. Hamun menoleh padaku lalu menghampiriku.

“Waeyo?” tanya Hamun panik saat melihatku kelelahan.

Aku menarik Hamun ke dalam pelukanku. “Mereka menemukan alternatif untuk mengangkat tumorku!” kataku.

Hamun segera melepas pelukannya dan memandangku tidak percaya. “Jeongmalyo?” tanyanya.

Aku mengangguk dan tak berapa lama kemudian air mata Hamun mengalir. Aku yakin itu air mata kebahagiaannya, ia bahkan tidak bisa berbicara lagi. “Yaa, Kang Hamun, kenapa kau yang menangis?” tanyaku retoris.

“Aku.. bahagia karena.. bisa melihatmu bahagia,” kata Hamun.

Hatiku terenyuh mendengar perkataan Hamun. Aku tak peduli dengan semua mata yang memandang kami. Yang jelas, aku melakukan apa yang hatiku inginkan. Aku mengangkat wajah Hamun dan menciumnya. Ia sempat membalas ciumanku lalu ia segera melepaskannya. Masih dengan air mata yang mengalir, Hamun memukulku pelan. “Kau… kenapa menciumku.. disini? Pabo,” omelnya.

Aku tertawa lalu berbisik di telinganya. “Kukira kau juga menikmatinya. Tadi kau membalas ciumanku,”

Hamun kembali memukulku, ia pasti malu. Setelah itu, ia ikut tertawa bersamaku. Aku berharap, seterusnya aku akan bahagia dengan Hamun seperti sekarang ini.

Pagi ini seperti pagi yang lain, Hamun mengunjungiku untuk menyuapiku. Ia sangat tahu kalau aku tidak akan memakan makanan ini jika tidak ia suapi. “Pagi sayang, kau tampak sangat lusuh pagi ini,” sapaku.

Hamun berdiri di samping tempat tidurku dan menatapku tajam. “Berapa peluang keberhasilan operasimu? Tidak mungkin dokter Choi tidak menjelaskan hal itu padamu,”

Aku tahu apa yang akan Hamun katakan. Aku tetap tersenyum padanya. “Sudah, sayang. Mianhe, aku lupa memberitahumu hal itu,” kataku.

“Kurang dari 10%!” seru Hamun. Aku bisa melihat air matanya mulai mengalir. “Kalau kau melakukan operasi ini dan gagal, kau akan mati. Kalau kau tidak melakukan operasi ini, kau bisa hidup sampai 8 tahun lagi dengan kemoterapi! Aku tak setuju kau melakukan operasi ini!”

Aku mengambil tangan Hamun dan menggenggamnya. “Aku melakukan operasi ini demi kau, Hamun. Aku ingin hidup bahagia denganmu,” ujarku.

Hamun menepis tanganku. “Kalau begitu, aku ingin kita putus,” katanya.

Jantung serasa berhenti berdetak dalam sepersekian detik. Aku lupa bagaimana caranya bernafas. Suaraku tertahan di tenggorokanku. Air mataku akhirnya mengalir.

“Jika seperti ini, kau tidak punya alasan untuk melakukan operasi itu, kan?” ujar Hamun. Saat ia hendak melangkah pergi, aku kembali menahan tangannya.

“Waeyo?” tanyanya dengan suara yang bergetar. Ia juga tidak berani menatapku. Aku tahu, Hamun juga sudah menangis sepertiku.

“Kau benar-benar meninggalkanku?”

Hamun mengangguk.

“I know, it’s a lie that you keep inside. This is not how you want it to be,” ujarku.

Hamun melepaskan tanganku yang menggenggamnya. Ia berjalan menjauhiku. “I will wait for you,” kataku yang membuat langkahnya terhenti di ambang pintu kamarku.

“I will wait for you because i don’t know what else i can do. If it takes the rest of my life, i will wait,” ujarku. Hamun langsung pergi tanpa melihatku lagi. Kepergiannya membuat pertahananku runtuh. Aku menangis kembali untuk pertama kalinya. Kepergian Hamun terasa lebih menyakitkan dibandingkan saat tumor mulai menggerogoti tubuhku.

Sebulan ini aku tak pernah berbicara lagi dengan Hamun. Aku berusaha untuk menemuinya, namun ia selalu menghindar. Tak ada sehari pun kulalui tanpa merindukan kehadirannya. Hatiku tersiksa karena tak bisa bercengkrama dengannya atau memeluknya.

Sebulan ini aku juga berpikir mengenai operasi pengangkatan tumor di kepalaku ini. Meskipun Hamun meninggalkanku, aku sudah memutuskan untuk tetap melakukan operasi itu.

“Kenapa kau tetap melakukan operasi itu?” tanya Hamun yang menghampiriku saat aku duduk di bench taman rumah sakit ini.

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Sudah kuduga kau masih sangat sayang padaku. Aku tahu tiap hari selama sebulan ini kau selalu bertanya pada dokter Choi mengenai kondisiku,”

Aku mengangkat wajahku untuk melihatnya. Senyumku menghilang saat aku mendapati Hamun sudah meneteskan air matanya. Aku berdiri di hadapannya lalu mengusap air mata yang mengering di pipinya. “Sekarang aku tahu kenapa kau meninggalkanku, aku selalu membuatmu menangis seperti ini,”

Hamun mengangkat kepalanya sehingga mata kami bertemu. “Kenapa kau tetap melakukan operasi ini? Kau bisa mati, oppa,” ujarnya.

Aku menggenggam tangan Hamun. “Karena aku ingin hidup, untuk diriku sendiri. Jika aku mati tanpa melakukan usaha apapun, aku akan menyesal. Kalau pun aku mati karena operasi ini, aku tidak akan menyesal,”

“Aku tak percaya. Tanganmu gemetaran, oppa. Kalau kau takut, katakan saja. Menangislah,” ujarnya sambil menarikku dalam pelukannya. Detik setelah Hamun memelukku, air mataku mengalir dengan deras.

“Aku.. melakukan operasi ini agar saat aku sembuh, kau kembali padaku.. Tapi.. Aku takut Hamun.. Aku takut jika tidak bisa melihatmu lagi.. Aku takut kalau kau tak bisa bahagia setelah aku meninggalkanmu dengan cara seperti ini,”

Hamun menepuk-nepuk punggungku. Membiarkan aku menangis. “Menangislah,” katanya. Saat ia mengatakan hal itu, aku tahu ia juga sudah ikut menangis denganku.

“Besok aku akan operasi,” kataku saat aku menemui Hamun di ruangannya. Kami masih belum kembali bersama tapi kami masih berbicara satu dengan yang lain. Untuk pria yang akan mati sepertiku, ini sudah cukup.

Hamun menghampiriku yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya. “Jam berapa?” tanyanya. Aku tahu ia sedang menahan tangisnya agar tidak menyeruak saat ini.

“Jam 9 pagi,” jawabku.

Hamun mengambil kedua tanganku lalu menutup matanya. “Aku mau berdoa untukmu. Kau juga tutup mata,” katanya yang tidak kuturuti. Aku tak ingin detik berlalu tanpa aku memandangnya. Aku ingin melihatnya sepuasku saat ini karena aku tak tahu apakah kelak aku masih dapat melihatnya.

“Tuhan, Kau tahu apa yang aku dan Donghae inginkan. Tapi biarlah kehendakMu yang jadi. Kau tahu isi hatiku mengenai pria ini. Tolong jaga dia untukku. Amin,” kata Hamun mengakhiri doanya.

“Apa isi hatimu yang hanya kau dan Tuhan yang tahu?” tanyaku untuk mengganggunya.

Hamun kini tersenyum. “Rahasia,” katanya. “Pastikan kau bangun kembali kalau kau penasaran,”

Aku tertawa lalu mengacak rambutnya. “Jangan sedih kalau aku tidak kembali. Arrachi?”

“Kau akan menyesal kalau hal itu sampai terjadi. Berjuanglah. Arraseo?”

Aku membuka mataku dan mendapati sekelilingku berwarna putih. Apa aku di surga? Tidak mungkin, aku bisa mencium bau parfum Hamun yang kusukai. Aku kembali menutup mataku dan membukanya lagi. Kali ini samar-samar aku bisa melihat interior kamarku di rumah sakit. Aku masih hidup. Aku masih hidup.

Aku hendak menggerakan kedua tanganku namun tangan kananku terasa berat. Aku menoleh ke sisi kanan tubuhku dan mendapati Hamun sedang tertidur sambil menggenggam tanganku itu. Aku mengelus kepalanya yang ia letakan di tepi tempat tidurku.

“Hamun.. sayang,” panggilku. Tidak perlu menunggu lama, Hamun bangun dan merespon suaraku.

Ia menatapku dengan air mata yang sudah mengalir. “Aku kembali, sayang,” kataku padanya. Air matanya menderas namun senyumnya tidak menghilang. Ia mengeratkan genggaman tangannya dan menghujaniku dengan ciumannya.

Aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat sikapnya ini, tapi wajahku terasa kaku dan aku hanya bisa mengikik. “Tunggu aku keluar dari rumah sakit, baru kau bisa menyerangku sepuasnya,” sindirku yang membuatnya tertawa.

“Mianhe, akan kupanggilkan dokter Choi. Kau tunggu disini,”

Aku tersenyum padanya. “Kembalilah kesini secepatnya,” pintaku.

Sebulan sudah berlalu sejak aku sadar. Sebulan ini aku melakukan proses pemulihan dan sekarang aku merasa jauh lebih baik.

“Hai, Taemin ah,” sapaku pada pasien Hamun, yang juga adalah temanku. Ia sedang duduk di ruang santai yang ada di bagian Kejiwaan ini.

“Kau masih hidup rupanya,” ujarnya yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Aku langsung duduk disampingnya dan memukup pelan kepalanya.

“Kau tampak tidak suka melihat aku hidup?” tanyaku sambil merebut buku yang ia baca.

“Ne, aku sudah bertekad untuk mengejar dokter Hamun kalau kau tidak hidup kembali,” katanya yang membuatku memukul kepalanya dengan bukunya tadi.

“Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Hamun milikku,” kataku padanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Jangan bercanda. Kata dokter Hamun, kalian tidak punya hubungan apa-apa sekarang,”

“Kau kira kenapa aku ke bagian Kejiwaan pagi-pagi seperti ini? Aku ingin memintanya kembali padaku saat ini. Wish me luck!” kataku pada Taemin sambil mengacak rambutnya.

Aku beranjak dari ruangan itu dan berjalan menuju ruangan Hamun. “Aku ingin konsultasi dengan Dokter Hamun, bisa?” tanyaku saat aku berdiri di ambang pintunya.

Hamun tersenyum lalu menyuruhku masuk dan duduk di kursi yang ada di hadapannya. “Ada apa, Donghae ssi?” tanyanya.

“Aku ingin melamarmu. Kau mau menikah denganku?” tanyaku sambil membuka genggaman tanganku. Hamun tersenyum saat melihat cincin yang ada ditanganku.

“Bukannya harusnya kau memintaku menjadi pacarmu terlebih dahulu? Status kita sekarang masih sepasang mantan kekasih, kalau kau lupa,” ujarnya yang membuatku tertawa.

“Apa itu perlu saat aku tahu kau masih mencintaiku dan aku juga masih mencintaimu?”

“Why me?” tanya Hamun sambil menataku lekat.

“Because my heart chose you. Kau harus senang karena aku orang yang picky,” ujarku yang membuatnya tertawa terbahak-bahak.

“Aku tak bisa menolak pesonamu itu,” ujar Hamun sambil mengulurkan tangan kirinya padaku. “Kau tahu cincin itu harus dipasang dimana, kan?” tanyanya.

Aku tersenyum lalu menyematkan cincin itu di jari manisnya. Aku merasa sangat bahagia saat mendapati Hamun senyum-senyum sendiri sambil memandangi cincin itu. “Ah, kau janji akan memberitaku rahasiamu dengan Tuhan kalau aku masih hidup setelah operasi. Beritahu aku sekrang,”

Hamun berdiri dan menghampiriku. Ia duduk dipangkuanku sekarang. “Aku bilang pada Tuhan, ‘I will wait for him because i don’t know what else i can do. If it takes the rest of my life, i will wait’. Tuhan mungkin tidak tega jika melihatku menghabiskan hidupku sendirian makanya ia mengembalikanmu padaku,” katanya. Hamun berusaha tertawa namun air matanya mengalir.

“Kenapa menangis sayang?” tanyaku sambil menyeka air matanya.

“Aku sangat takut saat kau tidak membuka matamu dan aku sangat bersyukur saat menyadari kau ada disini, bersamaku,” kata Hamun. Aku tersenyum padanya sambil mencium keningnya.

“Harusnya kau tak perlu setakut itu. Kalau aku tidak kembali, kau bisa mencari pria lain,” katanya.

Hamun menggeleng. “I’ll wait for you because honestly I don’t want anyone else,”

“Dasar, kalau kau bilang seperti ini, bagaimana aku bisa menahan diriku, hm? Aku mencintaimu, Hamun. Sangat,” kataku. Saat aku hendak menciumnya, Hamun menahan tubuhku.

“Ini rumah sakit dan kita belum menikah. Hanya boleh disini, disini, dan disini. Tak boleh kemana-mana,” ujar Hamun sambil menunjuk dahi, pipi, dan bibirnya. Area yang Hamun izinkan untuk kucium.

Aku tertawa terbahak-bahak berkat Hamun. “Baiklah, sayangku,”

I kiss her softly, conveying all my heart which i can’t describe through words, because I loved her with a love that was more than love.

END

Makasih sudah baca ffnya ^^