Kim Woobin

Berapa persen kau mencintaiku?

Choi Jihyo

Waeyo?

Kim Woobin

Berapa persen, Choi Jihyo?

Choi Jihyo

Oppa, aku sedang sibuk. Nanti aku hubungi lagi.

Kim Woobin

Kau terlalu sibuk untuk memberitahukanku jika kau akan melakukan konferensi pers sekual dramamu dengan Seunghyun hyung?

Jihyo menghela napas panjang. Ia tidak bermaksud untuk tidak memberitahu Woobin. Direktur Choi dan pihak produksi tidak mengizinkannya untuk berbicara kepada siapapun mengenai rencana sekual dari drama ini. Baru hari ini, di konferensi pers perdana sebelum memulai syuting, Jihyo baru akan dapat berbicara.

“Hey,” ujar Seunghyun menepuk pundak Jihyo. “Gwenchanayo?”

Jihyo mengangguk. “Berapa menit lagi konferensi persnya mulai, oppa?”

“Sebentar lagi. Kru menyuruh kita untuk bersiap-siap di belakang panggung.”

“Arra,” Jihyo mengikuti langkah Seunghyun yang berjalan di depannya. Namun matanya tetap tertuju kepada layar smartphonenya.

Choi Jihyo

50%

+++

“Jihyo,” bisik Seunghyun sambil menyikut lengan Jihyo.

Jihyo tersadar dari lamunannya dan menatap Seunghyun dengan bingung. Seunghyun memberi isyarat dengan matanya untuk menjawab pertanyaan dari para reporter.

“Jihyo-ssi, bagaimana reaksi para member Super Girls akan sekuel drama ini?” tanya seorang reporter.

“Ah, tentu saja mereka mendukungku. Mereka semua tidak sabar menunggu dramanya tayang. Tapi mereka juga sedikit kesal kepadaku,” jawab Jihyo sambil tersenyum.

“Kenapa kesal, Jihyo-ssi? Apa karena kesibukanmu jadi album baru Super Girls tertunda?” lanjut sang reporter.

“Tidak-tidak, bukan itu,” Jihyo tertawa. “Mereka kesal karena aku akan mencium Choi Seunghyun lagi, haha. Ups, aku membocorkan skenarionya.”

Seluruh ruangan konferensi pers tertawa mendengar ucapan Jihyo.

Reporter lain mengacungkan tangan. “Jihyo-ssi, apakah Kim Woobin tidak marah?

Jihyo terdiam, matanya menatap kosong ke depan. Ia tidak tau apa jawaban dari pertanyaan itu. Matanya refleks melirik ke arah Seunghyun. Seunghyun menurunkan tangannya dari atas meja, dan menggenggam tangan Jihyo yang menjuntai dengan bebas di bawah meja.

“Tentu saja tidak. Dia tau kalau ini hanya akting saja. Malah Woobin-ssi selalu memberikan saran untukku,” Jihyo menarik tangannya dari genggaman Seunghyun.

+++

“Sejak tadi kau terlihat begitu tegang,” Suenghyun mengejar Jihyo yang berjalan menuju lobi.

“Aku hanya sedang tidak enak badan saja, oppa,” Jihyo memencet nomer kontak manager oppanya agar segera menjemput ke lobi.

“Jangan berbohong,” kini Seunghyun berjalan di samping Jihyo. “Aku bisa membaca raut wajahmu, nona Choi”

“Oiya? Seharusnya kau tau sekarang aku sedang kenapa.”

“Bertengkar dengan Woobin?” tebak Seunghyun.

Jihyo menghentikan langkahnya. “Memangnya terlihat sekali ya, oppa?”

“Tentu saja!” Seunghyun menyentil dahi Jihyo. “Ada apa lagi dengannya?”

“Entah, aku hanya tidak bisa seperti dulu lagi, oppa,” Jihyo mengecilkan volume suaranya, takut masih ada reporter yang belum meninggalkan gedung setelah konferensi pers selesai.

“Maksudnya?”

“Bukan apa-apa,” Jihyo kembali berjalan menuju lobi. Seunghyun mengikutinya dari belakang.

“Bilang padaku jika ia menyakitimu lagi, arra?” perintah Seunghyun ketika keduanya mencapai ke depan pintu lobi.

“Arra,” Jihyo menatap Seunghyun dengan lekat. “Gomawoyo, oppa.”

“Kau butuh pelukan?” goda Seunghyun sambil memamerkan senyuman mautnya.

“Ewh, gombalanmu tidak mempan untukku,” ujar Jihyo sambil memukul lengan Seunghyun. “Tapi untuk saat ini, aku terima.”

Seunghyun langsung memeluk Jihyo dengan cepat. “Hati-hati, paparazzi bisa melihat kita.” dan namja itu melepaskan pelukannya dari Jihyo. “Hati-hati, nona Choi.”

“Baiklah, tuan Choi,” ujar Jihyo setengah berteriak agar Seunghyun yang sudah bergegas masuk ke dalam gedung bisa mendengarnya.

Jihyo tersenyum melihat punggung Seunghyun yang menjauh dari pandangannya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke depan jalanan lobi. Betapa terkejutnya Jihyo melihat Woobin bersender di mobilnya.

“Sejak kapan kau di sini?” tanya Jihyo.

“Sejak Seunghyun hyung memelukmu dan kau membalasnya,” sindir Woobin.

Jihyo tak membalas perkataan Woobin, ia tau jika ia membalasnya maka akan kembali terjadi pertengkaran hebat, dan Jihyo tak mau melakukannya di tempat umum seperti ini. Ia melangkahkan kakinya menuju mobil Woobin dan masuk ke dalam.

Woobin membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang kemudi, bergegas memacu mobilnya keluar dari gedung. Ia hanya memandang lurus melihat jalanan, tidak bersuara sedikitpun kepada yeoja di sampingnya.

“Sampai kapan kau mau diam seperti itu?” gumam Jihyo.

Woobin menghela napas panjang, berusaha untuk tidak berteriak kepada kekasihnya. “Mengapa kau tidak memberitahuku akan proyekmu saat ini?”

“Aku menandatangani kontrak proyek sekuel drama ini saat kita berdua sedang bertengkar waktu itu. Lagipula appa dan pihak produksi tidak mengizinkannya untuk berbicara kepada siapapun mengenai drama ini.”

“Tidak bisakah kau menghindari segala hal yang berhubungan dengan Seunghyun?”

“Ini soal pekerjaan, Kim Woobin. Aku harus profesional.”

“Apa pelukan tadi termasuk dalam hitungan profesional?” suara Woobin meninggi, namun ia tetap tak menatap Jihyo.

Jihyo memilih untuk tidak menjawab pertanyaan kekasihnya. Percuma saja jika ia jawab saat Woobin sedang emosi seperti ini.

“Lalu mengapa 50 persen?” desak Woobin kesal karena Jihyo hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.

“Aku sudah bilang oppa, aku tidak bisa menjalani hubungan kita sama seperti dulu,” Jihyo menggigit bibirnya dengan kencang. “Harus berapa kali aku bilang jika aku tidak akan bisa mencintaimu seperti sebelum kita bertengkar hebat?”

“Tapi bukan berarti kau bisa bersama Choi Seunghyun!” Woobin mengerem mendadak hingga Jihyo terlempar ke depan.

“Ada apa sih denganmu? Seunghyun oppa tidak ada hubungannya dengan permasalahan kita.”

“Tentu saja ada!” Woobin memukul setirnya. “Aku bisa melihat tatapan dan bahasa tubuhnya kepadamu, Choi Jihyo!”

“Kau berlebihan, Kim Woobin! Seunghyun oppa adalah sahabatku dan dia menganggapku sebagai adik. Memang aku adalah fansnya sejak lama. Aku selalu menggunakan Seunghyun oppa untuk membuatmu cemburu. Namun bukan berarti kalau kau bisa menuduhnya seperti itu!” kini Jihyo tak bisa menahan emosinya, ia berteriak sangat kencang hingga memenuhi seluruh kabin mobil.

Woobin tersenyum sedih, “Sayangnya, hal itu juga yang aku lihat padamu. Aku bisa melihat tatapanmu kepadanya, Choi Jihyo. Itu tatapan yang berbeda sebelum kita bertengkar. Apa hanya dalam 2 minggu saja kau bisa jatuh cinta kepadanya? Apa hanya dalam waktu 2 minggu kau hanya mencintaiku 50 persen?”

“Woobin yang aku kenal dulu bukanlah orang yang bertanya alasan mengapa aku hanya mencintainya sekian persen. Dia adalah orang yang akan terus bertanya sudah berapa persen cintaku kepadanya dan akan terus berusaha agar aku mencintainya 100 persen,” ujar Jihyo melepaskan seat beltnya dan berusaha membuka pintu.

“Tunggu,” Woobin menarik tangan Jihyo dan menahannya agar yeoja itu tidak keluar dari mobilnya. “Mianhae, Jihyo-ah.”

“Haruskah kita terus bertengkar seperti ini?” Jihyo memandang Woobin dengan penuh kekesalan. “Aku tidak tahan oppa.”

“Maafkan aku, kumohon,” Woobin menarik Jihyo dalam pelukannya. “Aku janji aku tidak akan seperti ini lagi. Aku janji aku akan terus berusaha membuatmu mencintaiku seperti dulu.”

Jihyo membalas pelukan Woobin. Aneh rasanya memeluk tubuh kekasihnya, ia malah merasa familiar memeluk tubuh Seunghyun.

“Tapi aku mohon,” pinta Woobin. “Kumohon, jangan dekat-dekat dengan Seunghyun hyung. Kumohon ini semua hanyalah sebatas hubungan profesional.”

Jihyo melepaskan pelukan Woobin. “Aku akan berusaha.”

“Berjanjilah kepadaku,” rengek Woobin.

“Kau tidak pantas merengek seperti anak kecil, oppa.” Jihyo mencubit gemas lengan Woobin. “Tidak mau.”

“Ya! Choi Jihyo! Kau ini dasar! Ayolah, kumohon!” Woobin menggembungkan pipinya sambil memanyunkan bibirnya agar Jihyo luluh.

“Arra, arra. Aku janji. Sudah ah, ayo jalan, oppa. Aku lapar,” keluh Jihyo.

“Siap, ibu bos!” Woobin kembali melajukan mobilnya menuju restoran favorit Jihyo.

Jihyo mengetikkan pesan kepada manager oppanya bahwa ia dijemput oleh Woobin. Namun, jari jemarinya berhenti saat melihat notifikasi pesan dari Seunghyun.

Choi Seunghyun

Setelah pembacaan naskah kedua besok, temani aku ke toko action figure, okay?

Jihyo memandangi Woobin yang bersenandung kecil mengikuti lagu Super Girls yang diputar di radio. Woobin melirik ke arahnya dan tersenyum.

Choi Jihyo

Okay.