Hope you enjoy!

Kyuhyun memandang ngeri piring-piring penuh berisi yang dibawa Hyejin ke meja makan. “Nasi goreng, sup rumput laut, sosis, telur, bulgogi dan kentang. Kau bisa menghabiskan semuanya?” Tanya Kyuhyun takjub. Dengan santai, Hyejin hanya mengangkat bahunya.

“Aku mau ambil roti, cake dan pudding dulu. Kau mau?” Tanya Hyejin yang membuat Kyuhyun menganga lebar melihat nafsu makan istrinya yang sangat besar.

“Terserah kau saja,” jawab Kyuhyun.

Hyejin pun mengambil makanan-makanan yang ia sebutkan tadi lengkap dengan jus jambu. Wanita itu kembali ke meja makan dibantu oleh pelayan restoran untuk membawa makanan-makanannya.

“Hye, kau bahkan belum menyentuh telur gorengmu tapi kau sudah mengambil cheesecake?”

“Aku lapar,” jawab Hyejin singkat lalu melanjutkan makan siangnya. Ajaib, semua yang ia ambil dapat ia habiskan.

Kyuhyun menatap istrinya masih dengan ketakjuban yang sama. Otaknya tidak bisa berhenti berpikir bagaimana Hyejin bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. “Kau sedang hamil?” Tanya Kyuhyun.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin aku hamil. Kita selalu memakai pengaman ketika bercinta,” jawab Hyejin.

“Siapa tahu,” sahut Kyuhyun lirih. Sebenarnya, ia menginginkan kehamilan Hyejin namun Hyejin merasa 3 makhluk penerus marga Cho sudah cukup.

“Aku mau mengambil cheesecake lagi,” ujar Hyejin namun dilarang oleh Kyuhyun.

“Beratmu sudah hampir 60, sayang.”

Kilo. Belum ton. Kau keberatan?” Apa kau akan berhenti mencintaiku jika aku semakin gendut?” Kyuhyun menghela nafas menyerah. Ia tidak mau bertengkar.

“Aku mau makan cheesecake lagi,” ujar Hyejin lalu mengambil kue kesukaannya tersebut di buffet restoran.

—-

“I titik titik titik You,” kata Kyuhyun sambil tersenyum kepada Hyejin. Hyejin menatap Kyuhyun dengan bingung. “Apa?”

“Isi titik titiknya. I titik titik titik You,” ulang Kyuhyun masih sambil tersenyum.

“Hate?” Sahut Hyejin yang langsung mengubah ekspresi Kyuhyun 180 derajat. Bibir pria itu sudah maju cemberut.

“Jadi kau membenciku?”

“Setelah kau membatalkan janjimu makan malam denganku dan kau malah makan malam dengan Victoria dan kawan-kawan. Yess, I hate you,” kata Hyejin datar namun menusuk.

“Aku kan sudah minta maaf kemarin,” kata Kyuhyun.

“Tapi aku belum memaafkanmu,” sahut Hyejin.

Kyuhyun berlutut di hadapan Hyejin, menggenggam tangan gadisnya lalu menciumnya dengan lembut. “Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya,” kata Kyuhyun.

Hyejin menatap tajam Kyuhyun lalu tersenyum. “Aku tidak yakin kau tidak akan mengulanginya tapi yah aku memaafkanmu.”

Kyuhyun tersenyum sumringah. “I titik titik titik You?”

“I Love You,” ujar Hyejin lalu mencium kening Kyuhyun dengan lembut. “Love. Love. Love.” Keduanya kemudian tertawa geli.

—-

“I’m gonna be a Mother!!” Teriak Ahra dari ruang tamu membuat semua orang keluar dari ruangannya masing-masing. Nyonya Cho dari dapur, tuan Cho dari ruang makan dan Kyuhyun serta Hyejin dari kamar Kyuhyun.

“Sungguh, sayang?” Tanya nyonya Cho.

Ahra pun menunjukkan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa ia positif hamil. Seluruh isi rumah bersorak gembira. Nyonya dan tuan Cho bergantian memeluk Ahra.

“Eonni! Chukkae!” Pekik Hyejin saking senangnya sambil memeluk Ahra. “Aku mau menjadi ibu baptisnya nanti ya, eonni.”

“Tentu saja, sayang,” kata Ahra sambil mengelus-elus punggung Hyejin. Mata Ahra memicing ketika menyadari sesuatu. “Kau tidak memakai bra? Kau lupa atau…”

Kyuhyun menarik Hyejin dan berganti memeluk Ahra. “Kalau anakmu laki-laki, aku bersumpah akan mengajarinya main game setiap hari,” ujar Kyuhyun dengan kepercayaan diri tinggi.

“Gomawo,” ucap Ahra yang menatap adik satu-satunya dengan curiga. Tidak biasanya Kyuhyun memakai kaus yang membuat lekuk tubuhnya menonjol dimana-mana. Ahra kemudian menatap Hyejin yang berada di belakang Kyuhyun dengan kaus yang jelas kebesaran di tubuhnya. “Kalian bertukar pakaian atau?” Ahra menarik kaus Hyejin dan mengintip bagian dada Hyejin dimana ada beberapa bekas merah kebiru-biruan yang ia tahu pasti apa penyebabnya.

“Kyu, apa yang kau lakukan pada Hyejin?” Ahra menatap tajam pada adiknya. Kyuhyun tersenyum tipis. “Make her a mother too,” jawab Kyuhyun dengan santai.

—-

“Kyu, siapa orang yang paling kau cintai di dunia ini?” Tanya Hyejin kepada pria yang sedang fokus bermain game di hadapannya.

“Humm,” sahut Kyuhyun dengan cuek.

Hyejin mencoba pertanyaan lainnya. “Kalau orang yang paling penting dalam hidupmu?”

“Aaaaargh!!!” Seru Kyuhyun tidak menjawab. Pria itu berseru kesal karena pasukannya sedang diserang.

“Yaaa Cho Kyuhyun!!!” Bentak Hyejin membuat Kyuhyun mengalihkan perhatiannya sejenak kepada Hyejin.

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun kemudian kembali bermain dengan konsol game-nya.

“Jawab pertanyaanku, siapa pacar pertamamu? Seperti apa wanita idamanmu? Dengan siapa kau pertama kali berciuman?” Tanya Hyejin lagi dengan pertanyaan yang berbeda.

Hyejin menunggu hampir setengah menit sebelum Kyuhyun menjawab pertanyaannya. Pria itu harus lebih dulu menghentikan sementara permainannya. Dengan serius, Kyuhyun menatap Hyejin.

Neo. Kau, jawaban untuk setiap pertanyaan konyol yang kau ajukan,” jawab Kyuhyun. “Kau adalah orang yang paling aku cintai di dunia ini, yang paling penting dalam hidupku. Kau juga pacar pertamaku. Wanita idamanku adalah kau dan kau juga orang pertama yang berciuman denganku. Kau, satu-satunya wanita yang bisa membuatku memutuskan untuk menjalani hubungan sampai seserius ini. Neo, neo, neo, neo. Arrachi?”

Hyejin tersenyum sumringah mendengar jawaban Kyuhyun. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mendengar bahwa ia adalah sebagian besar dalam kehidupan pria yang paling ia cintai. Hyejin menjauhkan konsol game Kyuhyun agar pria itu lebih memperhatikan dirinya. Dengan lembut, Hyejin mencium bibir Kyuhyun.

“Kau juga yang paling aku cintai. Kau adalah yang paling penting dalam hidupku,” ujar Hyejin dan kemudian tenggelam dalam ciuman Kyuhyun yang memabukkan.

—-

Kyuhyun melihat Hyejin yang sedang duduk termenung sedih di depan televisi. Matanya menatap nanar kepada acara penghargaan film yang paling bergengsi di dunia. Kyuhyun duduk di sebelah Hyejin dan merangkul gadis itu pada bahunya. “Sudah tidak usah sedih,” kata Kyuhyun berusaha menghibur.

Hyejin merebahkan kepalanya di atas bahu Kyuhyun. Tanpa bisa ia bendung, air matanya mengalir. “Aku gagal. Sedikit lagi. Satu tahap lagi aku masuk nominasi Oscar,” kata Hyejin dengan nafas tersengal-sengal. Tangisannya menyulitkan gadis itu untuk bernafas normal.

Kyuhyun mengelus lengan Hyejin dan kemudian mengecup puncak kepala Hyejin dengan penuh kasih sayang. “Bagiku, kau tetap yang terbaik. Kau sudah melakukan hal yang paling hebat. Masuk seleksi saja itu sudah pencapaian terbaik di dunia perfilman Korea, sayang. Tidak usah bersedih. Kau bisa mencobanya lagi tahun depan, sayang.” Kyuhyun berusaha meredakan kesedihan Hyejin namun sayang belum berhasil. Gadisnya masih menangis.

Kyuhyun membiarkan Hyejin terus menangis sampai gadis itu tenang. Setelah agak mereda, Kyuhyun baru kembali mencoba untuk menghibur Hyejin. “Kalau aku, tidak peduli Daesang, Bonsang atau apapun, dirimu lebih penting. Bisa mendapatkanmu dan terus berada di sisiku, itu lebih hebat. Aku harap kau juga merasakan hal yang sama.”

Hyejin menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah di dada Kyuhyun, mengusap air matanya dengan kemeja Kyuhyun. “Kau lebih berharga dari sebuah piala Oscar, bodoh,” sahut Hyejin malu-malu.

—–

Papa. Panggil aku Papa,” kata Kyuhyun kepada bayi mungil di dalam gendongannya. Bayi laki-laki gendut itu sangat mirip dengan ibunya dan sangat menggemaskan. Kyuhyun lalu mencium bayi tersebut meskipun setelah itu ia mendapat omelan dari yang melahirkan.

“Kyuuu, kau kan sedang fluuuu!!!”

Kyuhyun menyengir kepada Ahra lalu menyerahkan bayi tersebut kepada eommanya. “Maaf, noona. Anakmu sangat menggemaskan soalnya,” kata Kyuhyun sambil tertawa.

Ahra mendengus kesal. “Kalau kau mau menularkan flu pada anak kecil, tularkan pada anakmu saja sana,” omel Ahra.

Kyuhyun menoleh kepada wanita di sebelah eommanya yang sedang bermain dengan anak Ahra. Wanita itu sedang menidurkan anak Ahra di atas dadanya yang membesar seiring dengan perutnya yang semakin membesar setiap waktu. Kyuhyun tersenyum lembut kepada wanita itu sedang hamil 7 bulan itu. Bayangannya tentang keluarga kecilnya mendatang sudah menghantui pikirannya sejak tahu Hyejin mengandung anaknya.

Kyuhyun lalu berpaling kembali kepada Ahra. Dengan gemas, Kyuhyun menciumi pipi Ahra. “Aku mau menularimu saja,” kata Kyuhyun sambil tertawa-tawa puas tidak peduli dengan omelan Ahra.

Kyuhyun duduk di sebelah Hyejin, menciumi pipi Hyejin yang juga semakin gendut sebagai efek kehamilannya. “Kalau anak kita lahir, aku akan menamakannya Kihyun dan dia harus memanggilku Daddy atau Dad. Aku tidak mau dipanggil Appa. Terlalu kuno,” kata Kyuhyun lalu mencium perut buncit Hyejin.

Hyejin tertawa. Tangan kanannya menopang tubuh anak Ahra sedangkan tangan kirinya mengelus-elus kepala Kyuhyun yang sedang berkomunikasi dengan calon anaknya. “Terserah kau saja,” kata Hyejin.

—–

Agak susah memang jika memiliki satu anak gadis di antara dua anak laki-laki. Kelakuannya tidak akan jauh berbeda dengan ibunya yang dikelilingi oleh tiga laki-laki yang selalu siap siaga. Kyuhyun punya julukan sendiri untuk istri dan anak perempuannya. The Queen and the Princess.

“Appaaa!!” Seru Jihyun dengan suara lantangnya sambil berlari menuruni tangga. Gadis itu bergerak dengan lincah sampai-sampai Kyuhyun tidak tahu bagaimana caranya anak itu sudah berada di pangkuannya dengan sebuah majalah fashion terbaru. “Aku mau gaun ini,” kata Jihyun sambil menunjuk gaun putih rancangan desainer terkenal yang baru saja rilis di Amerika Serikat.

“Appa tidak pergi ke sana, sayang. Appa mau ke Inggris bukan ke AS. Maafkan Appa,” kata Kyuhyun.

Jihyun menatap Kyuhyun dengan kesal. “Appa kan bisa pesan ke teman Appa. Apa harus aku yang telepon Paman Yunho untuk mengirimkan gaun ini?”

Kyuhyun menatap Hyejin, meminta pertolongan. Hyejin hanya tersenyum. “Anggap saja sebagai kompensasi karena kau tidak jadi mengajaknya ke Eropa bulan lalu,” kata Hyejin.

Jihyun tersenyum penuh terima kasih kepada ibunya. Kyuhyun pun tidak punya pilihan lain. “Baiklah, appa akan telpon Yunho nanti. Sekarang, kau belajar sana. Jangan membaca majalah saja ya, Princess,” kata Kyuhyun.

“Ne. Gomawo, Appa. Saranghae!” Jihyun mencium pipi kiri Kyuhyun lalu turun dari pangkuan ayahnya itu. Selincah gerakannya menuruni tangga, selincah itu juga ia menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Kyuhyun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadis satu-satunya yang ia miliki itu.

“Dia persis sepertimu,” kata Hyejin mengingat betapa keras kepalanya Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tersenyum tipis. “Kau tidak ada titip apapun? Dari Inggris atau Amerika?” Tanya Kyuhyun yang sudah mulai mencari nomor Yunho di ponselnya.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Kau harus kembali dengan selamat. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak akan lagi menjadi Queen kalau kehilangan King-ku,” kata Hyejin.

Kyuhyun melumat bibir Hyejin yang hanya sejauh jangkauan kepalanya bisa menyambar bibir empuk itu. Kyuhyun tidak berhenti sampai panggilannya disambut oleh Yunho. “Yunho-ssi,” sapa Kyuhyun dengan nafas sedikit terengah dan tatapan yang jelas masih menginginkan ciuman dengan Hyejin. Hyejin hanya tersenyum sambil membersihkan bekas lipstiknya di sekitar bibir Kyuhyun.

—-

Kyuhyun memandang gadis yang sudah dua jam tidak menghiraukannya meskipun Kyuhyun tidak beranjak dari hadapannya. “Aku sedang belajar, Kyu sunbae. Pergilah,” kata Hyejin dengan kesal.

Kyuhyun hanya tersenyum. “Aku tidak akan pergi sebelum kau mengajakmu bicara,” katanya.

“Aku sudah mengajakmu bicara tadi itu. Sekarang pergilah. Kau menggangguku,” kata Hyejin lagi.

Kyuhyun tetap tidak bergeming. Ia tetap duduk di kursinya, memperhatikan Hyejin yang sedang belajar dengan buku-buku kuliahnya. “Aku akan menemanimu belajar sampai selesai,” kata Kyuhyun keras kepala.

Hyejin menghela nafas panjang, mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi seniornya ini. Hyejin menutup bukunya lalu berhadapan langsung dengan Kyuhyun. “Apa yang harus aku lakukan agar kau pergi, sunbae?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun mengulum senyumnya. “Jawab pertanyaanku, tipe pria seperti apa yang kau sukai?” Tanya Kyuhyun.

Romantis,” jawab Hyejin.

Kyuhyun tersenyum lembut kepada Hyejin. “Apa menurutmu aku kurang romantis? Aku langsung menemuimu begitu pulang dari Busan. Aku juga membawa bunga dan rela menunggumu dua jam untuk menghiraukanku. Apa kau tidak percaya aku mencintaimu?”

Hyejin mengelak untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Pipi Hyejin sudah bersemu merah dan jantungnya sudah berdebar keras tidak karuan. “Aku…mau belajar…,” kata Hyejin sedikit tergagap. “Jangan menggangguku.”

Kyuhyun tersenyum. Dengan sabar menunggu Hyejin membalas cintanya.

—–

Kkeut!
Sisa STUVWXYZ. Semoga segera terlaksana. Amin.

xoxo @gyumontic