Kyuhyun hanya bisa menatap pasrah pada seorang bocah yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil bermain komputer. Tangan mungil anak itu bergerak lincah di atas keyboard dengan mata yang tidak bisa lepas dari layar datar di hadapannya. Anak itu begitu serius meskipun Kyuhyun yakin anak itu tidak mengerti apa yang sedang ia perbuat. Sedangkan Kyuhyun sudah cemas-cemas khawatir membayangkan anaknya itu menghapus dokumen-dokumen di dalam komputer kerja Kyuhyun. Sengaja ataupun tidak sengaja. Kyuhyun sudah berkali-kali mencoba melepaskan anak itu dari peralatan elektronik yang sangat membantu pekerjaannya itu namun hasilnya nihil. Anak itu akan menangis sampai menjerit-jerit. “Jinhyuk-ah, Appa mau kerja. Sudah ya mainnya…” bujuk Kyuhyun sambil mencoba untuk menggendong Jinhyuk. Untuk kesekian kalinya, tangisan Jinhyuk mengumandang. Dengan terpaksa, Kyuhyun kembali meletakkan Jinhyuk di kursi, membiarkan anak itu bermain dengan komputernya. Sedangkan Kyuhyun hanya bisa mengawasi, berjaga-jaga jika anak itu dapat melakukan sesuatu yang mengancam keberadaan dokumen-dokumennya.

Song Hyejin is calling…

Dengan cepat, Kyuhyun menjawab panggilan dari Hyejin. Belum sempat wanita itu mengucapkan salam, Kyuhyun sudah memborbardirnya dengan pertanyaan yang tidak pernah bosan ia tanyakan meskipun sudah 4 kali ia tanyakan dalam satu hari yang sama. “Kapan kau pulang?” Hyejin hanya tertawa. Ia sudah tidak mau menjawab pertanyaan konyol Kyuhyun. Ketika hari pertama Hyejin meninggalkan pria itu, Hyejin dengan senang hati menjawab pertanyaan suaminya. Menginjak hari ketiga, Hyejin masih cukup sabar untuk menjawabnya seperti minum obat. Masuk hari ketujuh, dan sudah jelas ia akan pulang keesokan harinya, Hyejin hanya menjawabnya sekali ketika pertama kali pria itu menanyakannya.

“Apa Jinhyuk masih bermain dengan komputermu?” Tanya Hyejin sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun menganggukkan kepalanya, reaktif, meski Hyejin tidak dapat melihatnya.

“Dia tidak mau lepas. Aku bingung. Kalau dilepas pasti menangis. Aku harus bagaimana?” Keluh Kyuhyun. Mata Kyuhyun tidak bisa lepas dari bocah kecilnya. Mata Kyuhyun melotot saat melihat Jinhyuk masuk ke dalam folder kerjanya. Tangan Kyuhyun dengan cepat menyambar Jinhyuk, memindahkan bocah itu dari kursinya ke atas pangkuannya. Tangisan Jinhyuk langsung meledak dan terdengar jelas oleh Hyejin. Kyuhyun jadi tambah bingung. “Ottoke, Hyejin-ah? Aku bingung. Kapan kau pulaaang? Aku tidak kuat lagi.”

Hahahahaha. Hyejin tertawa. Selembut mungkin ia berusaha menyabarkan Kyuhyun. Ia tahu kesalahannya membiarkan anak bungsu mereka tinggal bersama ayahnya yang selalu sibuk bekerja. Seharusnya Hyejin mengajak semua anaknya pergi, tidak hanya anak pertama dan keduanya. Rasanya lebih baik meninggalkan Kyuhyun sendirian. “Sabar ya. Besok pagi aku kan sudah pulang. Kau sudah bisa tenang kembali. Sekarang, berikan saja Jinhyuk ponselmu atau tabletmu. Bisa juga konsol game-mu. Apapun asal ia bisa bermain tanpa mengganggu pekerjaanmu,” kata Hyejin.

Kyuhyun memandang Jinhyuk dengan sedih. Sesungguhnya, ia tidak suka melihat anaknya menangis namun ia bisa gila kalau ada file di komputernya yang hilang. “Aku sudah coba tapi yang Jinhyuk inginkan itu bermain dengan keyboard. Dia ingin mengetik,” kata Kyuhyun disusul helaan nafas panjang.

“Berikan saja komputer lain yang tidak ada isinya. Di kantormu banyak komputer yang tidak digunakan kan? Dudukkan saja Jinhyuk di situ,” kata Hyejin.

“Lalu siapa yang akan mengawasinya?”

Dahi Hyejin mengernyit, berusaha mencerna pertanyaan Kyuhyun. Siapa yang menjaga Jinhyuk? “Di rumah kan ada bibi Minjung, Yoonsae dan nona Gum. Apa selama ini kau selalu sendirian menjaga Jinhyuk?” Tanya Hyejin. Seorang Cho Kyuhyun memiliki banyak asisten yang dapat ia suruh untuk menjaga bocah berusia 3 tahun namun tidak ada satupun yang digunakannya. Kyuhyun lebih senang menjaga anaknya dengan tenaganya sendiri. Hyejin kembali tertawa saat mendengar jawaban Kyuhyun. “Hu um.”

“Kalau begitu, sabar sabar saja. Salahmu sendiri tidak mau mempergunakan pengasuh di rumah yang sudah kau bayar mahal setiap bulannya,” ujar Hyejin.

“Tadinya aku berniat untuk menghabiskan waktu dengan Jinhyuk saja. Mengingat kami hanya tinggal berdua, siapa lagi yang bisa kami harapkan? Aku kesepian. Aku tidak mau Jinhyuk juga kesepian jadi aku membawanya ke kantor untuk menemaniku. Tidak kusangka…” Kyuhyun memandang anak kecil dalam gendongannya yang sudah mulai berhenti menangis. Kepala kecil anak itu sudah terkulai di dada Kyuhyun dan sangat jelas ia memasrahkan dirinya ke dalam gendongan Kyuhyun. Kyuhyun semakin mengeratkan gendongannya, menjaga jika anak itu ketiduran dan tidak lagi berpegangan padanya.

“Ya sudah kalau begitu… Apa kalian sudah makan siang? Jinhyuk makan apa? Kau makan apa?” Tanya Hyejin.

“Sudah. Kami tadi sudah makan ayam goreng. Kalian sudah makan? Kihyun dan Jihyun sehat kan? Mereka tidak bertengkar kan?” Kyuhyun teringat pada dua anaknya yang lebih tua dari anak di gendongannya. Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dan anak perempuan yang 5 tahun lebih muda. Kyuhyun merindukan dua makhluk yang mempunyai hobi : merusak kemesraannya dengan Hyejin.

“Kalau mereka berani bertengkar, aku akan meninggalkannya di sini. Aku tidak akan membawanya pulang ke Korea,” kata Hyejin sambil tertawa-tawa.

“Mana mereka? Aku mau bicara,” kata Kyuhyun.

“Jihyun sudah tidur. Kihyun masih main game di sebelahku tapi ia tidak ingin bicara denganmu. Sedang tidak bisa diganggu katanya. Ia butuh konsentrasi untuk menamatkan level yang sedang ia mainkan. Oh ya Tuhan, kenapa anak ini sangat maniak game sepertimu?” Sahut Hyejin.

Kyuhyun tertawa puas. Salah satu hal yang dapat dibanggakan melihat tiga anaknya lebih mirip dirinya dibanding Hyejin. Sebuah kepuasan tersendiri melihat gen miliknya lebih dominan pada keturunannya. Hyejin sudah tidak bisa berkata-kata jika Kyuhyun membanggakan kehebatan Kihyun yang tidak pernah terkalahkan dalam setiap game yang anak itu lakukan. Menurut Kyuhyun, itu menurun darinya. Begitu juga dengan Jihyun, yang memiliki suara merdu. Kata Kyuhyun itu adalah bakat yang mengalir darinya. Ketika muncul Jinhyuk, Hyejon tidak berkomentar sedikit pun jika Kyuhyun sudah berkoar-koar bahwa anak bungsunya itu memiliki bentuk wajah yang sama persis dengan Kyuhyun. Padahal, Kihyun memiliki sifat setia yang diturunkan dari Hyejin. Jihyun yang ceria dan supel juga kloningan Hyejin. Tidak terkecuali Jinhyuk yang suka bergoyang saat mendengar musik. Itu kebiasaan Hyejin.

“Ya sudah. Kau tidur saja sana. Suruh Kihyun tidur juga. Besok pagi kalian harus pulang. Kami sudah sangat merindukan kalian di sini. Terutama aku. Aku bosan melihat seprei tempat tidur yang tidak berubah bentuk sejak kau pergi,” kata Kyuhyun. Hyejin hanya diam. Fokusnya teralih pada Kihyun yang sedang minta dipijit punggungnya sebagai pengantar tidur. “Hye… kau mengerti maksudku kan?”

“Eoh?”

“Lupakan saja,” kata Kyuhyun kecewa. Sebagai pria normal, tujuh hari ditinggal wanita yang setiap malam selalu berada di sisinya rasanya sangat tidak menyenangkan. Tidak jarang memusingkan kepala. “Sudah, tidur sana. Aku juga mau kembali bekerja.”

“Memangnya Jinhyuk sudah tidak mengganggu?” Tanya Hyejin.

Dengan penuh kasih sayang, Kyuhyun mencium kepala Jinhyuk yang terasa seperti sedang mencium strawberry. Senyumnya tidak bisa tidak terkembang melihat makhluk kecil jiplakannya yang sedang terlelap nyenyak sambil mengisap jempolnya di dalam mulut. “Dia sudah tidur. Mungkin terlalu lelah menangis. Aku sebenarnya tidak tega tapi paling tidak aku bisa kembali bekerja. Aku mau mengerjakan pekerjaan yang sudah tertunda hampir tiga jam. Aku mencintaimu. Sampai jumpa besok, sayang.”

“Sampai jumpa besok, suamiku yang paling baik. Aku lebih mencintaimu.”

Kyuhyun menutup teleponnya dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, Kyuhyun mengambil gendongan yang berada tidak jauh dari jangkauan tangannya. Dengan cekatan, Kyuhyun memasang gendongan itu di tubuhnya dan memasukkan Jinhyuk di dalamnya. Sambil bekerja, Kyuhyun mencoba sebisa mungkin membuat Jinhyuk tetap nyaman tidur di dadanya.

—–

Kyuhyun berhenti bekerja ketika ia mendengar dua suara kaki berbeda saling berkejaran. Tanpa perlu lebih menajamkan telinganya, Kyuhyun tahu pasti bunyi suara sepatu siapa itu. Kedua anaknya. Kyuhyun bangkit berdiri dari kursinya, bersiap menyambut kedatangan malaikat-malaikat kecilnya. Setelah memastikan si bungsu aman dalam tempat tidur mungilnya. “APPAAAA!” seru Kihyun dan Jihyun bersamaan begitu mereka masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Kihyun, yang tertua, memeluk ayahnya dengan erat lalu melepasnya tiga detik kemudian untuk menghampiri adiknya yang sedang terlelap. Jihyun, sudah melompat ke dalam pelukan Kyuhyun dan tidak mau lepas.

Hyejin yang berada di belakang keduanya, memeluk Kyuhyun sebagai sapaannya. “Senang bisa berjumpa lagi denganmu, tuan Cho,” ujar Hyejin. Kyuhyun hanya sempat mencium sekilas pipi Hyejin karena anak gadisnya sudah mengajaknya melihat oleh-oleh yang dia bawa. “Okay. Okay, ayo kita lihat oleh-oleh apa untuk Appa,” kata Kyuhyun sambil membawa Jihyun duduk di sofa. Hyejin dan Kihyun ikut bergabung dengan Jinhyuk yang sedang terlelap nyenyak dalam gendongan Hyejin.

Kyuhyun mengambil sebuah box paling tinggi dari dalam kantong yang dibawa Jihyun. “Itu oleh-oleh dari Kihyun Oppa. Isinya wine yang dibuat dari apel. Oppa membelinya dengan uangnya sendiri, Appa,” seru Jihyun. Kyuhyun melemparkan senyum penuh terima kasihnya kepada Kihyun. “Jeongmal gomawo, jagiyaa,” ucap Kyuhyun sambil memeluk Kihyun. Kyuhyun lalu mengambil box berikutnya yang lebih pendek tapi lebih lebar. Saat Kyuhyun membukanya, ia mendapatkan sebuah kemeja bunga-bunga berwarna pink muda. “Itu dariku. Aku rasa pink dan bunga-bunga sangat cocok buat Appa,” kata Jihyun sangat percaya diri. Hyejin hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Kyuhyun. Dia tahu Kyuhyun tidak suka pink apalagi bunga-bunga tapi tidak mungkin ia menunjukkannya kepada Jihyun. Dengan erat, Kyuhyun memeluk Jihyun dan mencium kening anak gadisnya. “Gomawo, baby…”

Kyuhyun melihat kantongnya sudah kosong. Tidak ada barang apapun lagi kecuali oleh-oleh dari kedua anaknya. Kyuhyun menatap Hyejin. “Mana oleh-oleh darimu?” Tanya Kyuhyun.

Dengan hati-hati, menjaga agar Jinhyuk tidak jatuh, Hyejin merogoh isi tasnya untuk mendapatkan tiga buah kartu kredit yang dibawanya sebagai bekal jalan-jalan bersama Kihyun dan Jihyun. “Tagihan untuk bulan depan mungkin akan lebih besar. Semuanya sudah sampai limit habis,” ujar Hyejin dengan santai. Kyuhyun menaikkan alisnya. Dia tidak kaget dengan kebiasaan Hyejin yang satu ini. Limit kartu kreditnya pasti akan habis kalau sudah jalan-jalan ke luar negeri apalagi jika bersama anak-anaknya. Makanya ia tidak pernah memberikan kartu kredit kepada Hyejin yang limitnya lebih dari 100 juta won. “Dan dari 300 juta won yang kau habiskan, tidak ada oleh-oleh untukku?” Tanya Kyuhyun.

Hyejin menggelengkan kepalanya tanpa merasa bersalah. “Eomma beli sesuatu buat Appa tapi aku tidak tahu itu apa. Eomma juga beli banyak oleh-oleh untuk Appa tapi semua masih ada di koper. Eomma belanja banyak,” lapor Jihyun. “Oh ya, eomma juga memesan paket liburan untuk Appa di sana tapi eomma bilang aku, Oppa dan Kihyun tidak boleh ikut. Kami harus sekolah katanya.” Kyuhyun tersenyum cerah mendapatkan laporan dari Jihyun. Tidak sia-sia ia mendidik Jihyun untuk tidak bisa diam seperti dirinya. Dengan senang hati, Kyuhyun menawarkan hadiah untuk Jihyun. “Setelah Appa selesai kerja, kita beli baju baru yang banyak untuk Jihyun.”

“Yeay!” Seru Jihyun kesenangan.

Hyejin bangkit berdiri dari sofa diikuti oleh Kihyun di sebelahnya. “Anak-anak, ayo kita pulang. Kalian belum mandi. Lagipula appa juga harus bekerja. Kajja!” Ujar Hyejin. Jihyun ikut bangkit berdiri. Dengan tidak rela, gadis itu memberikan pelukan perpisaha  untuk ayahnya. “Tapi nanti malam kita akan pergi belanja kan, Appa?” Tanya Jihyun dan Kyuhyun mengangguk memastikan. “Sampai jumpa, Appa.”

“Sampai jumpa, sayang.”

Kihyun memeluk Kyuhyun dan kemudian menggandeng adiknya keluar dari ruangan Kyuhyun, meninggalkan kedua orang tuanya di dalam ruangan dengan adik mereka yang masih terlelap nyenyak. “Paket liburan hanya untukku di Spanyol?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan menggoda. Tangannya memegang pinggang ramping Hyejin. Senyum Kyuhyun sudah lebih menyerupai seringaian serigala yang siap menyantap mangsanya.

“Tidak hanya untukmu sebenarnya. Aku juga ikut,” kata Hyejin.

“Oh tentu kau harus ikut. Tidak ada gunanya aku jauh-jauh liburan ke Spanyol kalau tidak ada dirimu. Yang ingin aku tanyakan, apa kau berencana untuk mendapatkan anak keempat dariku? Diam-diam memesan paket liburan di tempat romantis hanya untuk kita berdua.”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Tiga bocah sudah cukup, sayang. Aku hanya ingin menghabiska  waktu berdua saja denganmu. Kau sudah terlalu lelah bekerja. Kau butuh hiburan. Kalau ada anak-anak, waktu senggangmu pasti akan dipenuhi oleh mereka bukannya istirahat. Aku juga tidak bisa memberikan perhatian penuh padamu saat Jihyun berteriak sakit perut atau Jinhyuk yang tiba-tiba terbangun dengan celana basah. Kita butuh waktu berdua saja. Bagaimana menurutmu?”

“Setuju. Tapi aku rasa aku juga tidak bisa istirahat jika terus berduaan denganmu,” kata Kyuhyun disusul kerlingan nakal matanya. Hyejin tersenyum mengerti. Dengan lembut, Hyejin mencium bibir Kyuhyun. “Tentu saja kita tidak akan istirahat. Dari pagi sampai malam kita akan jalan-jalan mengelilingi Spanyol sampai puas. Dan…”

“Daaaaaaaan?” Kyuhyun menantikan terusan dari pernyataan Hyejin yang menggantung, membuatnya penasaran. Dalam pikirannya, ia sudah membayangkan hal-hal apa yang akan dilakukannya selama liburan di Spanyol. “Aku harap kau tidak lupa kegiatan yang harus kita lakukan selain jalan-jalan. Sebagai suami istri. Sebagai dua orang yang saling mencintai?”

Hyejin tertawa pelan. Ia tidak mau membangunkan Jinhyuk dan mengajak anak itu masuk ke dalam pembicaraan yang jelas tidak akan dimengerti olehnya. “Aku tidak akan melupakannya. Tidak mungkin. Jadi Cho Kyuhyun, kalau kau melewatkan kesempatan ini, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup. Minggu ketiga bulan depan. Kosongkan jadwalmu.”

“Pasti. Aku tidak akan melewatkannya.”

Hyejin hanya tersenyum. Kyuhyun mungkin akan melewatkannya karena kesibukannya yang luar biasa sehingga Hyejin selalu siap dengan plan B C D E F dan seterusnya jika ingin memberikan kejutan untuk Kyuhyun. “Sampai jumpa di rumah,” kata Hyejin lalu keluar menyusul Kihyun dan Jihyun yang sudah lebih dulu berada di mobil.

—–

“Oppa, kau tahu apa yang dibeli eomma sewaktu kita pergi ke supermarket di Spanyol kemarin? Kotak kecil berwarna pink. Kemasannya sangat lucu tapi dijual di area orang dewasa. Aku tanya pada eomma, dia tidak menjawab,” kata Jihyun.

Kihyun yang memang bercita-cita sebagai dokter, sudah mendalami dunia kedokteran sejak usianya 10 tahun. Ia tahu apa yang dimaksud Jihyun. “Setelah usiamu 17 tahun, aku akan menjelaskannya padamu. Yang pasti, kita tidak akan punya adik selain Jinhyuk,” kata Kihyun. Tidak mungkin ia menjelaskan kepada adiknya bahwa ibu mereka membeli kondom. Jihyun pasti akan bertanya lebih jelas mengapa ibu mereka membeli kondom. Kihyun belum siap untuk menjelaskan hal sedetil itu kepada adiknya yang berusia 8 tahun dan dirinya yang baru berusia 13 tahun.

Kkeut!

xoxo @gyumontic