image

“Cho Kyuhyun-ssi.”

“Ne?”

“Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari kau punya kekasih tapi ia tidak mau menikah denganmu? Kalian saling mencintai, tapi kalian tidak bisa menikah.”

Kyuhyun tersenyum.

Tidak usah ber-jika. Kenyataannya sampai detik ini pun wanita itu masih bersikeras tidak mau menikah denganku. Haisssh!

“Aku akan memaksanya. Aku akan melakukan segala cara agar ia mau menikah denganku. Aku akan meyakinkannya.”

“Bagaimana caranya?”

“Entahlah. Aku belum kepikiran. Aku kan belum memiliki kekasih.”

Aktingmu sangat bagus, Cho Kyuhyun! Kalau kau belum punya kekasih, lalu gadis yang hampir setiap malam tidur di sampingmu itu siapa??

“Apa kau setuju jika kekasihmu hamil sebelum kalian menikah?”

Kyuhyun kembali tersenyum.

Oh, astaga! Kenapa aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya?! Song Hyejin, kau benar-benar tidak akan bisa mengelak lagi!

Kyuhyun tertawa menjawab pertanyaan wartawan tersebut. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Sebaiknya menikah lebih dulu sebelum seorang wanita mengandung. Terima kasih,” jawab Kyuhyun dengan sopan.

—–

“Halo, gendut… Sudah selesai wawancaranya?” Sapa Hyejin menjawab panggilan Kyuhyun.

Sial. Hanya mendengar suaranya saja, aku sudah merasa sesak. Kenapa perempuan ini bisa membuatku begitu merindukannya sih?!

“Halo, kurus. Kau sedang apa? Sudah selesai packing?” Tanya Kyuhyun sambil menyetir mobilnya menuju dorm Super Girls, tempat kekasihnya berada.

“Sudah. Aku sudah siap berangkat besok. Kau sudah dimana? Jadi ke tempatku kan?”

“On the way. Sebentar lagi sampai. Kau tunggu dengan tenang ya di sana.”

Gempa bumi pun tidak akan menghentikan niatku untuk bertemu dengannya. 1 minggu, aku tidak akan bertemu dengannya. Aku tidak bisa menyentuhnya. Itu namanya penyiksaan!

“Kau pakai baju apa?” Tanya Kyuhyun.

“Memangnya kenapa?” Balas Hyejin.

“Agar aku bisa mempersingkat waktu untuk melepasnya dari tubuhmu,” jawab Kyuhyun lalu tertawa terbahak-bahak. “Aku bercanda, sayang…”

“Cho Kyuhyuuuun, kau benar-benar!!!”

Oh ya, kalau sudah berhubungan dengan Hyejin, otakku memang agak kotor. Aku tidak bisa hidup tanpa bersentuhan dengannya. Apalagi kalau sudah malam seperti ini.

“Aku sudah sampai. Tunggu sebentar ya… Aku butuh waktu untuk naik ke atas,” kata Kyuhyun sambil memarkir mobilnya.

Tanpa mematikan sambungan teleponnya dengan Hyejin, Kyuhyun masuk ke dalam lift yang akan langsung membawanya menuju dorm Super Girls. Kyuhyun baru mematikannya ketika ia sudah berhadapan langsung dengan Hyejin.

Ya Tuhan, aku begitu merindukan wanita ini.

—–

Sebuah ciuman, seperti biasa, mendarat di bibir Hyejin. Sapaan khas dari Kyuhyun. “Sendirian?” Tanya Kyuhyun melihat dorm Super Girls yang sunyi senyap, tidak ada tanda-tanda kehidupan kecuali ia dan Hyejin. Kaki Kyuhyun melangkah ringan memasuki apartemen yang disewa SMEnt untuk grup kekasihnya.

“Yang lain belum pulang,” jawab Hyejin. “Kau sudah makan? Kenapa tampaknya makin kurus?” Hyejin memegang wajah Kyuhyun dan membolak-baliknya dengan perlahan.

“Humm? Tidak salah? Semua orang bilang aku makin gendut tapi kau bilang aku makin kurus?”

“Jangan cerewet. Aku akan membuatkanmu makanan. Kau mau makan apa?”

Kyuhyun berjalan mengikuti Hyejin menuju dapur. Matanya memperhatikan tubuh Hyejin dengan lekat. “Kau mau makan apa? Aku bisa masak ramen kalau kau mau,” tanya Hyejin lagi sambil membuka-buka lemari penyimpanan makanan.

Song Hyejin, kapan kau akan berhenti menggodaku?

Kyuhyun terus berjalan sampai tidak ada lagi jarak antara dirinya dan Hyejin. “Aku mau memakanmu saja,” bisik Kyuhyun sambil memeluk Hyejin dari belakang. Dadanya kini sudah menempel pada punggung kurus Hyejin.

Hyejin hanya tertawa mendengar rayuan Kyuhyun. Ia sudah terbiasa dengan segala jenis ucapan Kyuhyun yang bertujuan untuk menjerumuskannya ke dalam hubungan yang lebih intim.

“Aku tidak bisa dimakan, tuan Cho sayang,” kata Hyejin. “Ramen?” Kyuhyun menganggukkan kepalanya yang diletakkan di atas bahu Hyejin.

“Aku tidak peduli makanan apa yang kau buat untukku karena aku benar-benar ingin memakanmu,” ujar Kyuhyun menemani Hyejin yang sedang memasak, Kyuhyun menciumi leher Hyejin. “Aku pasti akan kesepian tanpamu,” kata Kyuhyun kemudian di sela-sela kesibukannya.

“Oh ya? Bukannya kau sudah terbiasa?” Tanya Hyejin, menyindir. Ia bisa merasakan gesekan rambut Hyejin di sekitar lehernya. Pria itu baru saja menggelengkan kepala menjawab sindiran Hyejin.

“Aku tidak pernah terbiasa tanpamu. Begitu kau pergi, kau pasti akan menerima telepon dariku. Jangan coba-coba untuk tidak mengangkat telepon dariku. Arraseo?”

“Arra.”

Hyejin berusaha tetap fokus pada masakannya ketika tangan Kyuhyun sudah merayap di balik baju tidurnya dan bibir Kyuhyun sudah menjelajah punggungnya. “Bagaimana wawancaramu tadi?” Tanya Hyejin berusaha mengalihkan fokus Kyuhyun.

“Begitu-begitu saja. Tapi aku dapat pertanyaan menarik,” jawab Kyuhyun lalu kembali mencium Hyejin. Kali ini, kepala Hyejin sasarannya. Kyuhyun menghidu wangi di antara rambut-rambut Hyejin.

“Apa?” Tanya Hyejin. Ramennya hampir saja jadi.

Kyuhyun mematikan kompor lalu membalik Hyejin sehingga mata mereka kini saling bertatapan. Sebuah ciuman jatuh ke tulang selangka Hyejin. “Kyuu… Jawab dulu pertanyaanku. Kau dapat pertanyaan apa dari wartawan?” Tanya Hyejin sambil menarik kepala Kyuhyun dari tubuhnya.

“Apa yang akan kau lakukan jika kekasihmu tidak ingin menikah denganmu?” Kyuhyun mengangkat alisnya, menyindir Hyejin.

“Jawabanmu?”

“Aku akan melakukan segala cara agar ia mau menikah denganku. Aku akan meyakinkannya.”

Hyejin tertawa lalu mencium Kyuhyun dengan lembut. “Aku bukan tidak yakin padamu tapi kau tahu alasanku masih belum ingin menikah kan? Karirmu masih panjang, aku tidak ingin merusaknya.”

“Sebenarnya, aku tidak keberatan,” kata Kyuhyun. Wajahnya sudah maju lagi untuk mencium Hyejin namun gadisnya lebih cepat menahan agar indera pengecap Kyuhyun tetap dalam jarak normal. Satu sentimeter itu normal untuk Kyuhyun dan Hyejin.

“Aku yang keberatan,” kata Hyejin.

Kyuhyun hanya mengangkat kedua alisnya dengan santai. “Tapi aku dapat sebuah ide dari wartawan tersebut,” kata Kyuhyun.

“Ide apa?”

“Sebuah ciuman dan aku akan menjawab pertanyaanmu.”

“Ide apa, sayang?” Tanya Hyejin lagi sambil mencubit perut Kyuhyun. Bukan menciumnya, seperti permintaan pria itu.

“Aww!” Pekik Kyuhyun kesakitan.

“Apa ide yang diberikan wartawan itu?” Tanya Hyejin.

“Bagaimana kalau aku menghamilimu lebih dulu sehingga kau tidak punya pilihan lain selain menikah denganku?”

Tidak seperti itu tapi otakku mencernanya seperti itu. Mau bagaimana lagi?

“Mwo?!”

Mata Hyejin membelalak mendengar ide Kyuhyun yang sangat brilian tersebut. “Kalau kau ingin bercinta denganku, aku bisa mempertimbangkannya. Tapi kalau hamil hanya agar aku menikah denganmu, jangan pernah bermimpi Cho Kyuhyun. Ini bukan masalah hamil atau tidak hamil. Kau tahu, aku tidak akan lari kemanapun. Aku hanya butuh wak…”

Kyuhyun memotong ucapan Hyejin dengan sebuah ciuman, melepaskannya ketika wanita itu sudah mulai terbuai. “Kalau begitu, pilihanmu tinggal satu. Menikah denganku. Baik-baik,” ujar Kyuhyun lembut namun menuntut.

Hyejin melepaskan pelukan Kyuhyun dari pinggangnya. Tanpa menyelesaikan dulu masakannya, Hyejin pergi meninggalkan dapur. Mengingat Kyuhyun punya kaki yang lebih panjang dari Hyejin, mengejar Hyejin bukanlah hal yang susah.

“Aku belum selesai bicara, sayang,” kata Kyuhyun menarik Hyejin kembali ke dalam pelukannya.

“Aku tidak mau menikah denganmu. Titik!” Seru Hyejin galak. Kyuhyun hanya tersenyum, melemparkan tatapan matanya yang sangat mematikan. “Paling tidak untuk saat ini,” lanjut Hyejin.

“Mau sampai kapan? Aku dan kau sudah 6 tahun lebih bersama. Kau mau menunggu sampai 10 tahun? 15 tahun? Atau jangan-jangan sebenarnya kau memang tidak berniat sama sekali menikah denganku?”

Hyejin menatap langsung mata Kyuhyun dan merasa bersalah atas keinginannya yang masih begitu susah ditaklukan. Ia mencintai pria. Ia tidak menginginkan pria lain dalam hidupnya. Segala yang ia cari ada pada Kyuhyun. Tapi itu tidak membuat Hyejin ingin menikah dengannya. Dalam pikiran Hyejin, hanya ada kesuksesan Kyuhyun. Tidak ada pernikahan.

Wanita macam apa yang tidak ingin menikah dengan Cho Kyuhyun?

“Mianhe,” ucap Hyejin pelan, menutupi penyesalannya.

Kyuhyun mengecup kening Hyejin lalu tersenyum. “Kau selalu saja berhasil membuatku merasa tidak enak. Jadi, kita tidak akan menikah dalam waktu dekat?” Hyejin menggelengkan kepala.

“Aku harus bersabar menunggu?” Hyejin kembali menggelengkan kepala.

“Jadi kita akan menikah?” Hyejin menggelengkan kepalanya untuk ketiga kalinya.

Kyuhyun menggigit pipi Hyejin dengan gemas. “Jadi maumu apa, sayang? Menikah atau tidak menikah?”

“Molla,” jawab Hyejin sambil mengembungkan kedua pipinya. “Itu pilihan yang sulit untukku. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

Hyejin, berhentilah memasang wajah sok imutmu kalau kau tidak ingin aku menyerangmu saat ini juga.

“Jangan salahkan aku kalau kau berakhir di tempat tidur,” kata Kyuhyun dengan gemas. Detik berikutnya, Hyejin sudah berada dalam gendongan Kyuhyun yang akan membawanya ke ruangan terfavorit di dalam dorm Super Girls.

Hyejin’s Room

“Sejak kapan kau jadi gadis yang berantakan begini?” Tanya Kyuhyun melihat kamar Hyejin yang persis seperti kapal pecah. Kegiatan favoritnya, berciuman, bahkan tidak sanggup mengalihkan perhatian Kyuhyun dari kondisi kamar Hyejin yang sangat menyedihkan.

“Aku belum sempat membereskannya,” jawab Hyejin lalu menarik bibir Kyuhyun untuk kembali beradu dengan miliknya.

Kyuhyun melepaskan ciumannya dari Hyejin. “Astaga, Song Hyejin. Kau harus membereskan kamarmu dulu. Besok kau kan sudah pergi.”

Akibatnya, Hyejin mengerucutkan bibirnya tanda ia tidak suka Kyuhyun menghentikan kemesraan mereka. “Aku bisa membereskannya nanti. Aku masih ingin bermesraan denganmu,” kata Hyejin semanja mungkin, membujuk Kyuhyun untuk segera menyentuhnya. Bukan memberikan komentar atas barang-barang yang berserakan di lantai kamar Hyejin.

Kyuhyun menurunkan Hyejin dari gendongannya, menyuruh gadis itu membereskan kamarnya yang berantakan. “Setelah rapi, baru aku mau melanjutkan bemesraan denganmu,” kata Kyuhyun dengan tegas.

Bukan Hyejin namanya jika takut dengan Kyuhyun. Hyejin tidak membereskan kamarnya. Gadis itu justru naik ke atas tempat tidurnya, menatap Kyuhyun penuh ancaman. “Kau saja yang bereskan. Aku mau tidur. Bangunkan aku kalau kau sudah selesai dan masih mau bermesraan denganku. Yaah, itupun kalau aku masih ingin.”

Kyuhyun membelalak menatap Hyejin. “Yaaaak!!!” Hyejin hanya tersenyum sambil menatap Kyuhyun, menggoda pria tersebut.

“Kesempatan tidak selalu datang dua kali, Cho Kyuhyun-ssi.”

“Kau,” geram Kyuhyun yang akhirnya memilih mengikuti Hyejin ke atas tempat tidur. “Habis kau malam ini. Aku akan menuntut jatahku sampai seminggu ke depan.”

“Dengan senang hati.” Tangan Hyejin sudah melingkar di leher Kyuhyun yang sudah bergerilya menciumi tubuh Hyejin.

“Kyu,” panggil Hyejin di tengah-tengah keasyikan Kyuhyun menikmati tubuhnya.

“Eoh?”

“Kalau sampai 10 tahun ke depan aku masih tidak ingin menikah denganmu, bagaimana?”

“Aku sudah mencapai titik dimana aku tidak akan pergi kemana pun. Apapun yang terjadi. I’ve reached my point of no return. Aku akan tetap bersamamu. Menikah atau pun tidak. Kita akan selalu bersama.”

—–

Kkeut!

xoxo @gyumontic