image

Seingat Hyejin, ia pernah bersumpah lebih baik mati daripada ia bertemu kembali dengan (mantan) suaminya namun ia tidak pernah menyangka bunuh diri itu ternyata sangat menakutkan. Jauh lebih menakutkan jika dibandingkan berada di sebuah lift yang sebentar lagi akan membawanya menemui mimpi terburuknya.

“Kau terlambat 3 menit 27 detik, Song Hyejin-ssi,” kata Kyuhyun, yang telah menunggu di depan pintu lift, dengan senyuman lebar merekah di wajahnya.

“Nasabahku bukan hanya kau, tuan Cho yang terhormat,” sahut Hyejin sinis tanpa keluar dari lift. “Aku sudah menghubungi bagian IT untuk memperbaiki internet banking-mu hari ini juga. Sekarang, aku mau kembali ke kantor. Pekerjaanku masih segunung.”

Kyuhyun masih tersenyum. Dengan tenang, ia mempersilahkan Hyejin untuk menutup pintu lift. “Tapi kalau aku boleh memberi saran, sebaiknya kau mampir dulu ke apartemenku. Manajer Kim akan curiga kalau kau terlalu cepat kembali ke kantor. Aku bilang padanya selain ada masalah dengan internet banking-ku, aku kehilangan kartu ATM, kehabisan buku cek dan bilyet giro, serta butuh bantuan untuk menyetorkan 10 juta won-ku ke bank.”

Hyejin tidak sanggup untuk tidak memicingkan matanya, menatap Kyuhyun dengan kekesalan memuncak. “Aku benar-benar masih banyak pekerjaan di kantor, Cho Kyuhyun-ssi. Kenapa kerjamu hanya menambahinya terus?” Omel Hyejin, nyaris memaki kalau ia tidak pintar-pintar mengelola emosinya.

“Soal aku kehilangan kartu ATM dan kehabisan buku cek dan bilyet giro itu bohong. Aku hanya mau menahanmu lebih lama,” sahut Kyuhyun dengan santai sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan Hyejin. “Tapi aku tidak bohong soal menyetor 10 juta won. Aku malas mengantri di bank. Kajja?”

“Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu menggandengku,” kata Hyejin dengan galak dan Kyuhyun pun menarik tangannya. Ia berjalan lebih dulu memasuki apartemennya dengan sudut matanya memastikan Hyejin berjalan mengikutinya.

“Kau masih marah padaku soal Seulgi?” Tanya Kyuhyun.

Hyejin mendecak kesal. “Buat apa aku marah? Kau pikir aku cemburu?!”

“Lebih baik rasanya kau cemburu daripada aku tidak tahu sama sekali bagaimana perasaanmu padaku,” ujar Kyuhyun.

Hyejin hanya diam. Ia duduk di sofa ruang tamu Kyuhyun, menunggu pria itu selesai bicara.

“Aku baru beli wine dari Italia. Mau mencobanya?” Tawar Kyuhyun dengan manis namun sayang sia-sia.

“Tidak, terima kasih,” jawab Hyejin.

“Tehh manis kalau begitu?” Hyejin tidak menghiraukan Kyuhyun. “Atau air putih saja?” Lanjut Kyuhyun.

“Mana 10 juta won-mu, Cho Kyuhyun-ssi? Lebih cepat kau serahkan uang itu, lebih cepat pekerjaanku selesai.”

“Kau buru-buru sekali. Sudah aku bilang, Manajer Kim akan curiga kalau…”

“CHO KYUHYUN, aku mohon.”

“Baiklah, baiklah. Aku akan mengambilnya. Tunggu sebentar di sini,” kata Kyuhyun namun tetap diam di tempatnya dengan seringaian jahil menggoda. “Atau mau ikut ke kamarku?”

Kalau saja bukan karena gengsinya yang terlalu tinggi untuk menjaga sikap, Hyejin pasti sudah melempar tasnya tepat ke kepala Kyuhyun bukan hanya melemparkan tatapan dingin yang mematikan. “Aku rasa lebih baik kau tunggu di sini,” kata Kyuhyun lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil uang 10 juta won.

“Slip setorannya?” Tanya Hyejin sambil menerima uang Kyuhyun.

“Aku serahkan padamu. Terserah mau kau setorkan kemana. Tadinya mau kuberikan kepadamu tapi kau pasti menolak.”

“Tentu saja. Buat apa kau memberikan aku uang? Lagipula aku tidak boleh menerima pemberian dari nasabah apalagi uang.”

“Apa aku harus mengingatkanmu berulang kali, Hyejin-ssi? Aku ini suamimu. Sudah kewajibanku memberikan semua kebutuhanmu.”

Hyejin mendengus keras untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas, tersipu dengan perkataan Kyuhyun. “Akan aku setorkan ke rekening biasa,” kata Hyejin secepat desiran darah dalam tubuhnya.

Tangan Kyuhyun sudah menjalarkan kehangatan di puncak kepala Hyejin begitu juga dengan senyuman lembut yang tepat berada di depan mata Hyejin. “Terima kasih tidak membantah ucapanku,” ujar Kyuhyun membuat pipi Hyejin memerah.

“Aku…mau pulang,” cicit Hyejin yang langsung mengambil langkah seribu keluar dari apartemen Kyuhyun, tidak peduli dengan pria yang terus mengikutinya sambil terkekeh.

“Sampai jumpa besok, cantik!” Seru Kyuhyun sambil melambaikan tangannya dengan semangatt ketika Hyejin masuk ke dalam mobil, tidak tahu wanita itu tersenyum geli melihat tingkahnya dari kaca spion mobil.

Entah kenapa, Hyejin tiba-tiba merasa mual. “Driver Jo, punya kantong plastik? Aku mau muntah,” kata Hyejin dengan sisa tenaga yang ia miliki.

—-

Bukan hal yang menarik perhatian lagi bagi para pegawai Cho Industries jika melihat seorang wanita berambut pendek-bergelombang-berwarna merah kecoklatan dengan setelan blazer coklat muda dan sepatu hak tinggi berwarna hitam, berjalan memasuki gedung bahkan menaiki lift yang menjadi satu-satunya akses menuju ruang Presiden Direktur mereka. Semua sudah tahu bahwa wanita itu adalah pengelola akun Cho Industries di Bank of Korea sekaligus istri dari Cho Kyuhyun sajangnim yang telah lama hilang. Namun berbeda dari biasanya, wanita itu tidak lagi menunjukkan wajah kesalnya setiap datang ke gedung Cho Industries. Ekspresi wajahnya kali ini terlihat tegang.

“Selamat pagi, nyonya Cho. Ada yang bisa aku bantu?” Hyejin, nama wanita itu, hanya tersenyum mendapat sapaan dari pihak keamanan yang menjaga ketat ruangan orang nomor satu Cho Industries. Selain tidak suka dengan panggilan ‘nyonya Cho’, sebenarnya Hyejin tidak perlu bantuan apapun untuk bertemu dengan Cho Kyuhyun. Kalau saja ia mau, Hyejin tinggal mengirimkan pesan ke handphone Kyuhyun, pria itu pasti akan langsung menemuinya. Namun demi menjaga nama baik perusahaan dan nama baiknya sendiri, Hyejin mengikuti etika permainan pihak keamanan.

“Apa tuan Cho ada di dalam? Aku mau bertemu dengannya,” kata Hyejin dengan anggun. Tidak menunjukkan superiornya namun bisa membuat pria berbadan besar di hadapannya menunduk penuh hormat.

“Cho sajangnim masih rapat pagi, nyonya. Silahkan menunggu di ruangannya saja. Aku akan memberitahukan tuan Cho bahwa Anda datang,” kata petugas tersebut dengan sopan.

Hyejin hanya mengangguk patuh. Ia mengikuti petugas tersebut yang mengantarkannya menuju ruangan Cho Kyuhyun. Hanya dengan menempelkan ponselnya di gagang pintu ruangan Kyuhyun, Hyejin dapat melenggang masuk ke dalam.

To : Cho Kyuhyun
Aku ada di ruanganmu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu.

Kabar dari Hyejin pasti lebih cepat sampai dari petugas keamanan tersebut. Buktinya, Kyuhyun sudah keluar dari lift ketika petugas keamanannya masih menunggu teleponnya disambungkan ke ruang rapat. Dengan buru-buru, petugas itu menutup telepon.

“Selamat pagi, tuan Cho. Nyonya ada di dalam,” kata petugas tersebut memberi tahu.

“Aku tahu,” sahut Kyuhyun sambil terus berlalu menuju ruangannya. Hanya dengan menyentuhkan jari-jarinya di gagang pintu, Kyuhyun dapat membuka pintu ruangannya dan melihat Hyejin duduk di sofa sambil meremas tangannya di atas paha.

Dengan riang, Kyuhyun menghampiri Hyejin, memeluk wanita itu dan memberikan kecupan ringan di keningnya. Aneh, Hyejin tidak menghindar. “Ada berita apa sampai kau mau datang ke kantorku tanpa aku minta? Humm? Kau sudah tidak marah padaku?” Kata Kyuhyun sambil mencubit-cubit pipi Hyejin dengan gemas.

Wanita itu tidak bergeming. Hanya tangannya yang masuk ke dalam tasnya, mengambil sebuah amplop dengan lambang Seoul University Hospital di bagian kiri atas. “Kau sakit?” Tanya Kyuhyun yang langsung berubah cemas melihat amplop di tangan Hyejin.

Hyejin hanya menggeleng. Dengan ragu, Hyejin menyerahkan amplop itu kepada Kyuhyun. Secepat kilat, Kyuhyun merobek amplop lalu membaca surat yang berada di dalamnya. “Kau hamil?” Tanya Kyuhyun dengan ekspresi datar. Ia masih terkejut dengan berita yang disampaikan Hyejin.

Hyejin menundukkan kepalanya. “Aku tidak tahu kau akan suka atau tidak,” kata Hyejin takut-takut. “Tapi aku yakin itu anakmu. Kita melakukannya sewaktu berada di Jepang. Kau ingat?” Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Mana mungkin ia lupa dengan kejadian di siang hari itu. “Kita melakukannya hanya sekali dan tidak ada pria lain setelah kau. Jadi aku pikir….” Hyejin tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menunduk semakin dalam.

Kyuhyun berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meskipun dalam hati sebenarnya ia ingin sekali melompat kegirangan. Hyejin sedang mengandung anaknya, itu berarti ia akan menjadi seorang Ayah dan Hyejin tidak akan mungkin lari lagi darinya. Double jackpot!!

Kyuhyun hanya bisa tersenyum meskipun Hyejin tidak melihatnya. Dengan lembut, Kyuhyun mencium puncak kepala Hyejin. “Menurutmu, aku senang atau tidak? Humm?” Tanya Kyuhyun sambil mengangkat kepala Hyejin sehingga kini ia bisa menatap mata indah Hyejin.

“Aku, tidak tahu,” jawab Hyejin.

Kyuhyun mengganti pertanyaannya, “Kau senang atau tidak?”

“Ini anakku, tidak mungkin aku tidak mencintainya,” jawab Hyejin pelan.

Kyuhyun tersenyum. Jika ada yang melihatnya saat ini, orang itu pasti tahu betapa senangnya Kyuhyun mendengar Hyejin sedang mengandung anaknya. Untuk mendapatkan tiga hari bersama Hyejin saja ia rela menukarkan 300 juta USD-nya apalagi mendapatkan Hyejin sekaligus generasi penerusnya. Rasanya, ia sanggup untuk menukarnya dengan apapun yang ia miliki.

Hanya Hyejin yang tidak menyadarinya. “Kau akan bertanggung jawab kan, Kyu? Maksudku, memenuhi kebutuhan hidup anak ini. Sebagai pegawai bank biasa, aku tidak mampu memberikan yang terbaik yang ia butuhkan,” kata Hyejin.

Kening Kyuhyun mengernyit heran mendengar Hyejin. “Kau bicara apa sih?” Kyuhyun terpaksa menggigit hidung Hyejin saking gemasnya. “Kenapa kau selalu lupa bahwa aku ini masih suamimu? Tentu saja aku akan bertanggung jawab. Bukan hanya terhadap anak kita tapi juga terhadap kau. Jadi mulai sekarang berhentilah berpikir kita telah bercerai. Kau masih istriku baik secara agama dan juga hukum. Kau boleh mengeceknya ke kementrian yang mengurus data penduduk negara ini kalau tidak percaya.”

Hyejin hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Tampaknya, ia memang tidak bisa terus-terusan melarikan diri dari Kyuhyun. Hatinya sudah berkata demikian sejak lama dan sekarang rahimnya pun ikut mendukung. “Aku percaya padamu,” ujar Hyejin dengan kepala terkulai di atas dada Kyuhyun. Hyejin juga sudah tidak menarik diri saat Kyuhyun merangkul bahunya.

—–

Berita kehamilan Hyejin dengan cepat menyebar di Cho Industries dan Bank of Korea. Tidak ada yang menyadap ruangan Kyuhyun sehingga tidak mungkin ada yang mendengar pembicaraan Kyuhyun dan Hyejin lalu menyebarkannya ke seluruh isi gedung. Kecuali, Kyuhyun sendiri yang menyebarkannya. “Aku akan menjadi Appa 9 bulan lagi. Hyejin sedang hamil 3 minggu,” kata Kyuhyun kepada Jonghyun begitu selesai rapat. Ada banyak pegawai di ruangan itu yang mendengar ucapan Kyuhyun. Tidak sampai sehari, ucapan selamat dari para pegawai membanjiri ruangan Kyuhyun.

Sedangkan di Bank of Korea, Hyejin terpaksa hanya melempar senyum palsu ketika Manajer Kim dan Direktur Park menanyakan kabar kehamilannya. “Dapat berita darimana, Manajer Kim?” Tanya Hyejin dengan sopan.

“Kyuhyun-ssi sendiri yang memberitahukannya padaku. Dia juga berpesan agar aku menjaga dirimu dengan baik. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu dan anak kalian, ia akan menarik 1 milyar USD-nya dari Bank of Korea. Kau bisa bayangkan betapa mengerikannya itu?”

Hyejin tersenyum lemah. Kyuhyun benar-benar keterlaluan kalau benar mengatakan hal itu. Hyejin dan kandungannya tidak selemah yang dibayangkan Kyuhyun. Hyejin bahkan masih sanggup lari pagi meski sudah berbadan dua. “Aku pastikan Kyuhyun tidak akan menarik dananya. Percaya padaku,” ujar Hyejin meyakinkan.

Hyejin baru saja mendudukkan bokong tipisnya ke kursi ketika seorang greeter datang dan memberitahukannya bahwa Tuan Cho Kyuhyun sudah datang. “Astagaaa!!! Sekarang bahkan belum jam 8 pagi,” keluh Hyejin dan dengan terpaksa kembali bangkit untuk menemui nasabah kelolaannya yang paling rumit tersebut.

“Yaaa Cho Kyuhyun-ssi!!! Jam layanan kami baru mulai jam 8! Kenapa kau sudah datang jam segini?!” Omel Hyejin yang hanya ditanggapi senyuman oleh Kyuhyun sedangkan manajer Kim sudah menatap Hyejin dengan garang.

“Wah wah wah. Minggu lalu kau datang ke kantorku dengan tampang takut dan kau tidak segalak ini. Kemana istriku yang manis?” Goda Kyuhyun disambut tatapan mata kesal dari Hyejin.

“Maaf atas ketidaknyamanan ini, tuan Cho. Sebagai permintaan maaf kami akan…”

“Tidak usah repot-repot, manajer Kim,” potong Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum bahagia kepada manajer Kim. “Aku kesini hanya untuk bertemu dengan istri dan calon anakku. Aku harus memastikan mereka baik-baik saja.”

“Aku akan menjaga mereka dengan baik, Tuan Cho.”

“Aku yakin kau pasti memegang kata-katamu, Manajer Kim, tapi tidak wanita ini,” kata Kyuhyun menunjuk Hyejin. “Apa kau tahu kemarin kami hampir saja bertengkar hanya karena ia berenang tanpa memberitahuku, manajer Kim?”

“Cho Kyuhyun-ssi,” desis Hyejin kesal namun Kyuhyun hanya tersenyum.

“Kalau begitu kami akan memberikan kompensasi karena Anda tidak dilayani dengan standar layanan untuk nasabah private,” kata manajer Kim memilih untuk menghindari pembicaraan rumah tangga anak buahnya dengan nasabah terkaya kelolaannya.

“Aku sungguh-sungguh berterima kasih atas penawarannya tapi saat ini aku datang bukan sebagai nasabah. Aku hanya sedang mengunjungi tempat kerja istriku,” kata Kyuhyun dengan tenang, melemparkan senyumnya yang paling menarik kepada Hyejin. “Jadi tidak masalah.”

“Aku benar-benar akan membunuhmu, Cho Kyuhyun-ssi,” desis Hyejin membuat manajer Kim kembali memelototinya dan Hyejin hanya bisa menunduk.

“Anakmu tidak akan punya ayah kalau kau membunuhku, sayang,” kata Kyuhyun tertawa renyah sambil merangkul bahu Hyejin dengan erat. “Boleh pinjam pegawaimu sebentar, Manajer Kim? Aku akan mengembalikannya dengan selamat nanti,” ujar Kyuhyun dengan senyum ramah dan mengingat kekuatan kekayaannya, manajer Kim tidak akan pernah sanggup menolak.

“Silahkan. Take your time, tuan Cho. Sampai jumpa,” ujar manajer Kim lalu keluar dari ruangan nasabah private.

Hyejin melepaskan tangan Kyuhyun dari bahunya dan menghindar sejauh mungkin. “Mau apa kau kesini pagi-pagi begini?” Tanya Hyejin galak.

“Menemuimu tentu saja. Dan anak kita,” kata Kyuhyun sambil melirik perut Hyejin yang masih rata. “Kalau urusan bank aku bisa suruh pegawaiku. Kau sudah sarapan?”

“Sudah,” jawab Hyejin singkat.

“Kau sedang hamil jadi harus banyak makan. Ayo makan lagi.”

“Aku masih banyak pekerjaan.”

“Temani aku sarapan atau manajer Kim akan marah-marah kepadamu karena aku menarik 500 juta USD-ku?”

“Kau berani mengancamku?”

“Aku tidak perlu mengancammu, sayang.” Kyuhyun tersenyum jahil pada Hyejin. “Kajja, jagi?”

Hyejin tidak punya pilihan selain mengikuti Kyuhyun dan menemani pria itu sarapan. Pekerjaannya akan selalu bisa menunggu jika sudah Cho Kyuhyun yang datang.

“Terima kasih sudah mau menemaniku sarapan dan mau makan lagi demi bayi kita. Nanti jangan lupa pulang ke rumah,” kata Kyuhyun saat mengembalikan Hyejin ke kantornya setelah selesai sarapan. Tidak lupa, Kyuhyun mencium bibir Hyejin sebelum pergi meninggalkan Bank of Korea. Banyak mata yang memandang dan Hyejin tidak tahu harus berbuat apa kecuali menunduk malu.

“Awas kau, Cho Kyuhyun!!!” Rutuk Hyejin dalam hati dengan geram.

—-

xoxo @gyumontic