By @gurlindah93

“Oppa……,” panggil Jihyo pada sepupunya yang juga seorang barista di La Belle cafe.

“Eoh..,” balas Eric itu lalu mengikuti Jihyo duduk di sofa yang terletak di tengah cafe.

“Aigo, sudah 2 minggu aku tidak kemari… Oppa tidak merindukanku?” gadis itu menyeruput hot vanila lattenya perlahan untuk menikmati rasa kopi di cafe favoritnya yang sudah 2 minggu tidak dia rasakan.

“Ani… Untuk apa aku merindukanmu Choi Jihyo? Setiap hari kau menggangguku dengan pesan-pesanmu yang aneh bin ajaib itu,” Eric mengingat pesan-pesan absurd yang setiap pagi Jihyo kirimkan untuknya selama ini.

“Heheee.. Oppa tahu kan betapa aku mencintai oppa? Oleh sebab itu aku selalu ingin menyapa oppa setiap pagi agar oppa tidak kesepian,” ujar Jihyo merujuk pada status sepupunya yang belum juga menikah.

“Terserah….,” Eric memanyunkan bibirnya mendengar sindiran Jihyo.

“Aaaaahhh kiyeopta… By the way, siapa itu? Aku belum pernah melihatnya,” Jihyo menunjuk seorang gadis asing yang sedang meracik kopi dengan cekatan.

“Oh dia… Park MinAh, baru seminggu dia bekerja di sini. Kudengar dia teman SMA pemilik cafe ini,” jawab Eric. Untuk pertama kalinya dia memperhatikan rekan kerja barunya dengan seksama.

“Teman Hyejin eonni? Lalu apa oppa menyukainya? Aigo.. Mata oppa tidak bisa lepas darinya sejak aku menanyakannya,” goda Jihyo pada sepupu kesayangannya.

“Eeeeeyyy… Bagaimana mungkin aku menyukainya kalau baru seminggu mengenalnya. Bahkan aku belum pernah mengobrol dengannya,” entah kenapa Eric merasa sedikit canggung dengan MinAh sehingga sampai sekarang mereka belum pernah mengobrol.

Mendengar perkataan Eric tanpa diduga Jihyo beranjak dari sofa lalu mendatangi barista baru yang menarik perhatiannya.

“Ya yaaaaa…. Choi Jihyo… Eodiga???” lagi-lagi Eric mengikuti Jihyo.

“Annyeonghaseyo…. Apa kau baru bekerja di sini? Aku pelanggan tetap cafe ini sekaligus sepupu dari barista paling senior, Choi Jihyo-imnida,” Jihyo mengulurkan tangannya pada MinAh sehingga membuat MinAh sedikit terkejut.

MinAh menatap Eric yang berdiri di sebelah Jihyo dengan sedikit bingung tapi segera membalas uluran tangan Jihyo “Annyeonghaseyo Choi Jihyo-ssi, jeoneun Park MinAh-imnida… Bangapseumnida,”

“Aku akan memanggilmu MinAh eonni karena semua teman Eric oppa adalah temanku juga hehee.. Kuharap eonni tidak keberatan,” pinta Jihyo sambil memberikan puppy eyes yang dia yakini tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.

“Aaahhh aniya… Gwenchanayo Jihyo-ssi…”

“Panggil aku Jihyo saja eonni… Baiklah aku akan menghabiskan kopiku lalu langsung pergi untuk kembali ke kantor.. Kalian berdua silahkan mengobrol, kulihat cafe sedang sepi. Oppa annyeong..” Jihyo menyeringai usil lalu pergi begitu saja.

“Heiiissshhhh bocah itu. Mianhaeyo MinAh-ssi, sepupuku memang usil,” ucap Eric. Dia tidak menyangka kata-kata pertama yang dia ucapkan pada MinAh adalah permintaan maaf karena kelakuan miss evil.

“Gwenchanayo sunbaenim… Dia cukup manis,” MinAh tersenyum melihat Jihyo yang berjalan keluar dari cafe mengikuti pria tinggi nan tampan yang menjemputnya.

Eric baru saja akan membuka mulutnya untuk membantah perkataan MinAh saat barista lain bernama Henry menghampiri mereka “MinAh-ssi, nona Song memanggilmu.”

“Ne. Gomawoyo Henry-ssi,” segera saja MinAh meninggalkan Eric untuk menemui pemilik cafe.

“Aku masih tidak percaya MinAh-ssi seorang single parent,” gumam Henry. Matanya mengikuti MinAh memasuki ruangan pemilik cafe.

Eric langsung terbelalak mendengar kabar yang baru pertama dia dengar “Mwo????? Jinjja????”

“Ne.. Aku juga kaget, saat memperkenalkan diri dia bilang kalau dia tinggal bersama eomma dan anak perempuannya. Apa hyung tidak mendengarnya?”

“Kurasa aku tidak ada saat dia memperkenalkan diri,” Eric nampak syok dengan berita yang dia dengar. Entah kenapa berita itu cukup mengguncangnya.

“Wae hyung? Hyung tertarik padanya?” Henry menatap Eric dengan penasaran tapi langsung dibalas pukulan di kepalanya.

“Yaaaaaa…! Kenapa semua orang bilang kalau aku menyukainya? Memangnya tidak boleh kalau penasaran pada rekan kerja?” ujar Eric kesal.

“Sakit hyung.. Kenapa marah padaku? Aku kan hanya bertanya karena kulihat hyung cukup terpukul dengan berita ini. Sudah ah aku ke dapur dulu, lebih baik aku menemui baby Hyun daripada diomeli tanpa sebab di sini,” Henry meninggalkan Eric untuk menemui kekasihnya yang juga barista di La Belle cafe.

“Heiiissshhh siapa yang terpukul, aku hanya kaget. Dia kan masih muda…..”

“Siapa yang masih muda oppa?” gumaman Eric dipotong oleh Song Hyejin sang pemilik cafe yang tiba-tiba berdiri di belakang Eric.

“Ah ani.. Mmmmm Hyejin-ah. Apa benar MinAh-ssi teman SMAmu?” tanya Eric pelan.

“Ne. Wae?????? Apa oppa mau mendekatinya? Awas ya kalau oppa menggodanya,” ancam Hyejin serius. Bola matanya bahkan sudah hampir keluar gara-gara melotot.

“Yaaaaaaaa. Siapa yang mau mendekatinya? Aku hanya bertanya. Haiiisssshhh kenapa mereka semua berpikiran yang tidak-tidak sih,” Eric merasa frustasi karena semua orang salah mengartikan rasa penasarannya.

“Aku tidak akan membiarkan siapapun mempermainkannya termasuk oppa,” ancam Hyejin sekali lagi kemudian menghampiri adik tirinya yang bernama Kang Hamun lalu pergi dari cafe.

“Iyaaaa,” jawab Eric pelan entah pada siapa.

***

Seperti biasa setiap hari Minggu pagi Eric selalu jogging di taman, tapi hari ini dia melihat sosok gadis yang nampak tidak asing baginya.

“MinAh-ssi?” panggil Eric ragu-ragu.

Gadis yang sedang duduk di bangku taman menoleh lalu tersenyum melihat Eric.

“Sunbaenim. Annyeonghaseyo….” sapa MinAh ramah.

“Sedang apa MinAh-ssi di sini?”

“Aku sedang menemani anakku bermain,” MinAh menunjuk sekumpulan bocah yang sedang bermain di playground.

“Oh… Apa MinAh-ssi baru pertama kali ke sini? Setiap Minggu pagi aku selalu jogging di taman ini tapi belum pernah melihat MinAh-ssi di sekitar sini,” tanya Eric penasaran.

“Ah ne sunbaenim.. Sebenarnya aku tinggal di gedung C tapi baru hari ini aku mengajak Minra bermain di luar.”

Eric terkejut karena ternyata selama ini dia dan MinAh bertetangga “Jeongmalyo? Aku tinggal di gedung A. Tidak kusangka selama ini kita tinggal di apartemen yang sama.”

“Aku juga terkejut ternyata sunbaenim tinggal di sini, aku baru pindah ke apartemen ini saat Minra baru lahir….”

“Eomma…..” pembicaraan mereka terpotong oleh panggilan bocah kecil yang berlari ke arah mereka.

“Wae geurae? Minra bosan? Ingin pulang?” nada suara MinAh yang keibuan membuat Eric terkejut.

Sepertinya setiap bertemu MinAh selalu saja ada hal-hal baru dari dirinya yang membuat Eric kaget sekaligus penasaran.

“Aniya. Minra senang…. Pulangnya nanti saja ya, Minra tidak ingin pulang,” bocah yang wajahnya mirip MinAh tapi dengan pipi tembam itu berkali-kali menggelengkan kepalanya yang mau tidak mau membuat Eric tersenyum.

“Arasseo. Ohya Minra ucapkan salam pada samchon,” pinta MinAh.

Dengan patuh Minra membungkuk sopan dan mengucapkan salam pada Eric “Annyeonghaseyo samchon..”

“Annyeonghaseyo Minra-ssi. Panggil aku Eric samchon.”

“Ne Eric samchon.. Eomma, Minra ingin main lagi,” Minra menatap MinAh dengan tatapan memohon.

MinAh mengulum senyum yang membuat Eric sedikit kehilangan fokus “Ne. Tapi ingat kata eomma, Minra harus menolak kalau ada orang tidak dikenal yang ingin mengajak Minra pergi ya.”

“Ne eomma…. Saranghae,” setelah mengatakan itu Minra langsung pergi menghampiri teman-temannya.

“Sekarang ini banyak berita penculikan anak jadi aku selalu berpesan agar Minra tidak menerima ajakan orang asing,” jelas MinAh.

Eric mengangguk-angguk mengiyakan “ Geurae. Hal itu penting untuk diingat semua anak. Berapa umur Minra?”

“Sebentar lagi dia akan ulang tahun yang keempat. Tidak kusangka waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin tubuh mungil Minra berada dalam gendonganku,” MinAh nampak bahagia saat mengatakannya  seolah-olah menggendong anaknya adalah hal yang paling menyenangkan.

Sepertinya kebahagiaan MinAh menular karena Eric tersenyum saat melihat ekspresi MinAh yang menurutnya sangat menenangkan.

***

“Eonni… Oppa…!!!” panggilan dari seorang gadis membuat Eric dan MinAh yang sedang mengobrol menoleh pada pemilik suara.

“Haiiisssshhhh bocah ini selalu saja. Apa kau tidak bosan setiap hari kemari? Bagaimana dengan maagmu kalau setiap hari minum kopi,” gerutu Eric.

Oh my God.. Aku tidak menyangka sebesar itu oppa mencintaiku. Tapi tenang saja, aku sudah besar jadi bisa menjaga diri. Lagipula tumben oppa kesal melihatku, biasanya oppa tidak pernah protes kalau setiap hari aku kemari. Atau oppa kesal karena aku mengganggu pembicaraan kalian?” Jihyo mengedip-ngedipkan mata, tujuannya jelas menggoda sepupunya.

“Aniya, aku senang kalau Jihyonnie setiap hari kemari. Mau pesan apa? Nanti aku buatkan yang spesial untuk Hyonnie,” tanya MinAh.

Hot americano,” jawab Jihyo cepat sebelum Eric mengomelinya lagi.

Dengan gesit MinAh langsung membuatkan hot americano pesanan Jihyo.

Setelah selesai membuat kopi untuk Jihyo MinAh menghampiri HyunAh “HyunAh-ssi, boleh aku keluar sebentar? Aku harus membeli susu formula untuk Minra,” ijin MinAh pada HyunAh yang merupakan mentor sekaligus penanggung jawabnya selama masa trainingnya.

“Oke.. Tapi jangan lama-lama ya MinAh-ssi, 1 jam lagi akan banyak pengunjung,” pesan HyunAh.

“Gomapseumnida sunbaenim,” setelah mendapat ijin dari HyunAh MinAh langsung berlari menuju ruang loker untuk mengambil tasnya.

“MinAh, jakkaman,” panggil Eric yang tanpa sadar mengikuti MinAh.

“Ne sunbaenim?” MinAh terkejut saat tiba-tiba Eric sudah di belakangnya.

“Ah mianhae sudah mengagetkanmu. Kudengar kau akan ke supermarket. Jalan kaki?”

“Ne, waeyo?”

Eric terdiam sebentar “Aku…. Aku juga harus membeli sesuatu yang penting di supermarket. Kupikir akan lebih baik kalau kita berangkat bersama dengan sepeda motorku.”

“Jeongmalyo? Apa tidak merepotkan?” tanya MinAh.

“Ani.. Pasti lebih menghemat waktu daripada berjalan kaki,” jawab Eric berusaha meyakinkan MinAh.

“Aaahh geurae… Oke, kajja,” akhirnya setelah berpikir sejenak MinAh menyetujui ide Eric.

Tanpa buang waktu mereka berdua langsung menuju tempat sepeda motor Eric diparkir.

“Pegangan yang erat,” pesan Eric sebelum memacu sepeda motornya.

“Joesonghamnida.. Joeosnghamnida,” teriak MinAh setelah melingkarkan tangannya ke pinggang Eric akibat kecepatan yang bisa membuatnya terlempar bila tidak melakukan hal itu.

“Gwenchana,” balas Eric sambil berteriak juga.

Sepanjang perjalanan senyum tidak henti-hentinya menghiasi wajah Eric.

“Joesonghaeyo,” ucap MinAh sekali lagi saat mereka sampai di supermarket hanya dalam waktu 5 menit berkat kegesitan Eric mengendarai motornya.

“Gwenchana, aku harus sedikit mengebut untuk menghemat waktu. Kajja,” ajak Eric memasuki supermarket.

Setelah 15 menit mengambil barang yang diperlukan mereka beranjak ke kasir “Apa itu barang penting yang harus Eric-ssi beli?” tanya MinAh saat melihat 2 kaleng bir di tangan Eric, jauh berbeda dengan keranjang belanja MinAh yang dipenuhi susu formula dan buah-buahan.

“Hu-um..” jawab Eric pendek tanpa menatap MinAh. Salah satu hal yang Eric pelajari dari ibunya adalah seorang ibu pasti bisa mengetahui kebohongan seseorang dari tatapan matanya.

Setelah membayar barang belanjaan mereka langsung kembali ke cafe.

“Gomawoyo sunbaenim, aku bisa membeli susu formula Minra tanpa membuang banyak waktu,” ucap MinAh bersungguh-sungguh saat turun dari sepeda motor Eric.

No problem. Aku juga harus membeli benda penting ini,” Eric mengangkat plastik berisi 2 kaleng birnya yang membuat mereka berdua tertawa.

***

Sejak pertemuan beberapa minggu lalu di taman, sekarang setiap hari Minggu setelah jogging Eric akan menemui MinAh yang menemani anaknya bermain untuk mengobrol.

Tapi kali ini saat Eric mendatangi MinAh gadis itu sedang berbicara dengan seorang pria dengan wajah yang muram. Karena tidak ingin mengganggu Eric memutuskan duduk di bangku yang berjarak 10 meter dari MinAh dan pria itu.

Ternyata pembicaraan MinAh dan pria itu semakin memanas, pria itu nampak memohon sesuatu tapi jelas sekali MinAh menolaknya mentah-mentah.

Lama-lama Eric menjadi tidak tahan melihat perdebatan itu lalu menghampiri MinAh “Park MinAh.”

Kedua orang yang sedang berdebat langsung menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh pada Eric.

“Eric-ssi,” sapa MinAh.

“Kumohon MinAh, pertimbangkan permintaanku. Dia tidak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin menemuinya,” ujar pria itu sebelum pergi.

“Mianhae. Aku mendatangimu karena melihat kalian sedikit berdebat,” kata Eric jujur.

“Gwenchanayo Eric-ssi. Dia Minra appa… Tiba-tiba saja hari ini dia muncul di hadapanku kemudian bilang ingin menemui Minra saat ulang tahun Minra Sabtu depan,” jelas MinAh kesal.

“Jadi… Dia mantanmu?” sebenarnya Eric tidak ingin mencampuri urusan MinAh tapi entah kenapa dia menjadi sangat penasaran.

“Joesonghamnida Eric-ssi aku harus pulang,” tanpa menjawab pertanyaan Eric MinAh menjemput Minra lalu pergi meninggalkan Eric sendirian.

***

“Yoboseyo,” sapa MinAh saat Eric tiba-tiba meneleponnya.

“MinAh, bisakah kau turun dan menemuiku di taman?” pinta Eric.

“Waeyo Eric-ssi?”

“Turun saja, kau akan mengetahuinya. Ohya ajak Minra ya,” pesan Eric lalu segera menutup teleponnya.

Di tangan Eric ada boneka beruang berukuran besar yang tadi siang dia beli.

10 menit kemudian MinAh dan Minra menemui Eric di taman.

“Saengil chukkahae Minra-ssi,” kata Eric sambil berlutut lalu memberikan boneka beruang yang sejak tadi dia pegang ke bocah yang sekarang tertawa lebar melihat kado ulang tahun untuknya.

Melihat tawa bocah kecil itu tiba-tiba saja jantung Eric berdebar kencang karena mengingatkannya pada seseorang.

“Gamsahamnida Eric samchon. Saranghaeyo,” tanpa diduga Minra memeluk Eric dengan penuh kehangatan.

“Gomawoyo, Eric-ssi tidak perlu repot-repot memberikan hadiah untuk Minra,” ucap MinAh.

Masih dalam pelukan Minra Eric mendongak “Gwenchana, tadi sekalian membeli kado untuk keponakanku,” dustanya.

Kring kring.

MinAh melihat caller id di smartphonenya dan mukanya berubah masam.

“Yoboseyo,”

“…..”

“Sudah kubilang tidak bisa oppa,” kata MinAh dengan nada tinggi.

Eric menggendong Minra menjauhi MinAh dan mendudukkan bocah itu di bangku terdekat “Minra main di sini ya…”

“Ne samchon,” sahut Minra senang.

Jarak mereka yang tidak terlalu jauh membuat Eric bisa mendengar perdebatan MinAh dengan seseorang yang dia yakini sebagai ayah Minra.

Setelah menutup teleponnya MinAh mendatangi Eric dan Minra.

“Minra appa?” tanya Eric.

MinAh mengangguk pelan.

“Apa dia masih ingin menemui Minra?”

MinAh kembali mengangguk.

“Kenapa kau tidak memberi ijin padanya untuk menemui Minra? Menurutku tidak adil kalau seorang anak tidak bisa menemui ayahnya,” akhirnya Eric mengungkapkan apa yang selama ini ada di pikirannya.

“Adil? Kurasa sunbaenim tidak berhak menilai apa yang adil atau tidak bagi anakku. Tolong jangan campuri urusanku lagi Eric-ssi,” walaupun nada suara MinAh terdengar penuh amarah tapi tatapan matanya menyiratkan kesedihan.

“Mianhae, aku hanya penasaran mengapa kau bersikeras tidak mengijinkan Minra untuk bertemu appanya. Jeongmal mianhae,” ujar Eric.

Tanpa satu katapun MinAh mengendong Minra dan membawanya pulang. Eric hanya bisa menatap kepergian MinAh dan Minra dengan perasaan bersalah.

***

Seharian ini Eric sibuk di luar cafe untuk memesan bahan-bahan yang diperlukan cafe sekaligus mengikuti pertemuan dengan beberapa barista.

“Oppa.. Sudah datang??” tanya Hyejin saat Eric masuk ke ruangannya tengah malam.

“Eoh… Aigo, aku tidak sadar kalau sudah selarut ini. Yaaa Song Hyejin, tidak bisakah kau sendiri yang membeli bahan-bahan keperluan cafe?” keluh Eric.

“Yaaaa walaupun aku sudah mengenalmu seumur hidupku tapi di sini aku bossmu jadi oppa harus menuruti semua perintahku hohoho,” balas Hyejin. Eric merasa Hyejin sudah tertular virus evil dari kekasihnya.

“Geurae… Tapi  aku minta naik gaji,” goda Eric pada boss sekaligus teman masa kecilnya.

“In your dream,” sahut Hyejin yang membuat Eric tertawa terbahak-bahak.

Kring kring.

“Eoh MinAh-yaa,” Hyejin mengangkat teleponnya.

Mendengar itu Eric langsung menyadari bahwa hari ini dia belum bertemu dengan MinAh sama sekali.

“Mwo?? Dompetmu ketinggalan di loker? Yaaaaa kenapa kau tidak pernah berubah sejak SMA? Dasar pelupa… Geurae aku akan mengantarkan ke rumahmu, sebentar lagi aku pulang… Eoh… Traktir saja aku di restoran langganan kita hahahaa. Bye….”

Setelah menutup teleponnya Hyejin langsung keluar dan kembali tidak lama kemudian sambil membawa dompet.

“Wae?? Kenapa oppa memandangku seperti itu?” tanya Hyejin saat tahu Eric memandangnya dengan aneh.

“Apa kau tahu kalau aku dan MinAh bertetangga?”

“Eoh… Tentu saja, aku tahu semua rumah pegawaiku. Lalu?”

“Berikan dompet itu, biar aku yang mengantarkannya.”

“Shireo… Aku sudah berjanji padanya akan mengembalikan dompet ini.”

Eric menghela nafas, dia menyadari sifat keras kepala Hyejin tidak pernah berubah. Terutama bila ingin melindungi temannya.

“Ada yang harus kulakukan jadi tolong berikan dompet MinAh padaku. Jebal,” kata Eric dengan memohon. Tidak mungkin Eric mengatakan pada Hyejin kalau dia sangat ingin bertemu dengan MinAh.

“Apa oppa menyukainya?”

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Eric.

Hyejin menghela nafas lalu menyodorkan dompet MinAh sambil melotot “712. Sekali lagi kuperingatkan, hanya karena dia single parent….”

“Bukan berarti aku bisa mempermainkannya. Arasseo.. Aku hanya akan mengembalikan dompetnya. Gomawo Hyejin-aahh,” Eric mengambil dompet dari tangan Hyejin lalu pergi secepat kilat.

Sampai di depan apartemen 712 Eric mengatur nafasnya karena tiba-tiba saja jantungnya berdebar-debar.

Ting tong.

“Cepat sekali Hyejin-aah,” ujar MinAh saat membuka pintu.

“Hi…” sapa Eric.

MinAh nampak terkejut dengan kedatangan Eric “Eric-ssi…”

“Ini, aku membawa dompetmu,” Eric menyodorkan dompet MinAh dan diterima MinAh dengan bingung.

“Mana Hyejin?” tanya MinAh, kepalanya melongok ke kanan kiri untuk mencari Hyejin.

“Di rumahnya atau mungkin di rumah Kyuhyun. Aku menawarkan diri untuk mengembalikan dompetmu karena kita bertetangga. Lagipula ada yang ingin kukatakan padamu,” Eric menatap MinAh dengan serius.

“Ne?”

“Mianhae. Aku ingin meminta maaf karena sudah menyinggungmu dan mengomentari kehidupan pribadimu. Aku tahu aku tidak punya hak untuk itu,” ucap Eric sungguh-sungguh.

“Jeodo mianhaeyo. Sepertinya reaksiku semalam terlalu berlebihan, gomawoyo sudah memperhatikan aku dan Minra,” kata MinAh, senyum tulus tergambar di wajahnya.

Eric memandang lekat-lekat wajah yang seharian ini tidak ditemuinya.

“Gwenchana, aku bisa memahami reaksimu. Hmmmm lebih baik aku pulang karena kau harus istirahat, maaf mengganggumu. Sampai bertemu besok,” pamit Eric setelah puas bertemu dengan MinAh walaupun hanya beberapa menit.

***

“Eonni tolong gantikan aku sebentar, aku ingin ke toilet,” pinta Hamun pada HyunAh.

Hari ini customer La Belle cafe benar-benar membludak, sampai-sampai Hamun harus turun tangan untuk membantu di bagian kasir. Mungkin karena hari ini banyak sekali promosi dalam rangka anniversary La Belle cafe yang ke-7 jadi para pelanggan memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati kopi favorit mereka.

“Eric oppa, tolong buatkan 3 ice americano dan 2 hot capuccino. Aku harus menggantikan Hamun di kasir,” pinta HyunAh pada Eric.

“Eoh,” jawab Eric. Tangannya bergerak cepat untuk menyelesaikan semua pesanan-pesanan yang menumpuk.

“Akan kubantu Eric-ssi, aku akan mengerjakan hot capuccinonya,” tiba-tiba MinAh datang dan menawarkan diri untuk membantu Eric.

“Tidak usah MinAh, gomawo,” tolak Eric karena tidak ingin merepotkan MinAh.

“Aniya. Gwenchanayo, aku sudah mengerjakan semua pesanan. Kalau dikerjakan berdua pasti lebih cepat selesai,” tangan MinAh mulai sibuk mengerjakan hot capuccino dengan cepat.

“Gomawo,” bisik Eric di telinga MinAh yang membuat MinAh sedikit terkejut.

“A.. Aniya.. Gwenchanayo sunbaenim,” ujar MinAh. Eric menyeringai melihat wajah MinAh yang memerah.

Setelah semua kerepotan yang terjadi hari ini akhirnya Eric bisa beristirahat saat cafe tutup.

“Yeorobeundeul… Jangan lupa setelah ini kita merayakan anniversary cafe ini di bar langganan kita.. Siap-siap yaaaa,” ajak Hyejin riang pada semua pegawainya.

“Di bar itu lagi? Kenapa tidak ganti tempat sih? Aku bosan,” keluh Eric yang setiap tahun merayakan anniversary cafe di bar yang sama sejak cafe dibuka.

“Ssssshhhhh shut up, ini namanya tradisi,” jawab Hyejin galak.

“Cih.. Alasan,” Eric tahu alasan sebenarnya adalah Hyejin selalu mendapat diskon di bar itu karena pemiliknya adalah sahabat Hyejin.

“Oppa daripada duduk-duduk tidak jelas begitu tolong buang sampah ini ya, aku masih harus membereskan yang lainnya,” pinta HyunAh sambil menunjuk plastik besar berwarna hitam.

“Siapa yang duduk-duduk tidak jelas? Aku hanya mengistirahatkan pantatku yang sejak tadi tidak menyentuh kursi,” gerutu Eric. Masih dengan menggerutu Eric bangkit dari kursinya dan mengambil plastik hitam yang dimaksud HyunAh.

“Oppa, sekalian yang ini ya,” Hamun menunjuk plastik hitam lainnya saat Eric melewatinya.

“Ne nona Kang….” dengan patuh Eric mengambil plastik kedua yang harus dia buang.

“Hehee gomawo oppa… Ohya MinAh eonni mana ya?” tanya Hamun entah pada siapa karena yang di sana hanya ada Eric.

Eric yang memang tidak melihat MinAh mengangkat bahunya lalu menuju tempat sampah di gang samping cafe.

“Ne oppa… Eoh… Aku sangat yakin, oppa tidak perlu mengkhawatirkan aku”

Saat Eric membuang sampah dia mendengar seseorang sedang berbicara. Karena suaranya yang tidak asing Eric mendekati suara itu.

“Eoh.. Aku akan segera mengurus surat adopsi Minra secepat mungkin agar dia bisa sekolah.. Gwenchana oppa, aku sudah memikirkannya matang-matang. Saat ini prioritasku hanya Park Minra, aku belum memikirkan yang lainnya.. Oke, bye… Nado saranghae” MinAh menutup teleponnya lalu berbalik dan mendapati Eric berdiri di belakangnya.

“Tadi aku disuruh membuang sampah” ujar Eric memberi alasan mengapa dia ada di sana.

Entah kenapa tiba-tiba keadaan menjadi canggung di antara mereka.

“Adopsi?” tanya Eric akhirnya. Dia sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang dia rasakan.

MinAh bersandar di dinding kemudian menghela nafas dalam-dalam “Eric-ssi pasti penasaran”

Eric tidak menjawab, dia ikut bersandar di sebelah MinAh siap mendengarkan apapun yang MinAh katakan.

“Tadi yang meneleponku Jungsoo oppa, kakak laki-lakiku yang tinggal di Jerman. Dia bertanya apa aku benar-benar akan mengadopsi Minra, Jungsoo oppa khawatir jika aku mengadopsi Minra nantinya tidak akan ada pria yang mau menikahiku karena statusku single parent. Oppaku itu sejak dulu memang selalu berlebihan hahaa” dibanding menertawakan kakaknya MinAh lebih terdengar seperti menertawakan dirinya sendiri.

“Jadi Minra bukan anakmu? Tapi wajahnya……” Eric terbayang wajah Minra yang sangat mirip dengan wajah MinAh.

“Tentu saja kami mirip. Minra anak saudara kembarku, Park Ahreum” MinAh melirik Eric untuk melihat reaksi Eric atas berita yang baru dia sampaikan. Sebenarnya Eric sangat kaget dengan pengakuan gadis penuh kejutan ini, tapi dia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya setenang mungkin.

Setelah terdiam beberapa saat MinAh kembali bercerita.

“Saat kami kuliah Ahreum memberitahuku kalau dia hamil, sayangnya tiba-tiba saja kekasihnya tidak bisa dihubungi sejak tahu Ahreum hamil. Appa benar-benar murka saat mengetahui kehamilan Ahreum jadi tanpa pikir panjang appa mengusir Ahreum dari rumah, terpaksa aku, eomma, dan oppa mengungsikan Ahreum di sebuah apartemen kecil. Dari awal Ahreum bersikeras mempertahankan bayinya apapun yang terjadi meskipun ternyata kehamilannya membahayakan nyawanya. Setelah appa meninggal karena sakit kondisi Ahreum menjadi semakin lemah karena rasa bersalahnya pada appa. Akhirnya melalui perjuangan yang berat Ahreum berhasil melahirkan bayinya, tapi sayang nyawa Ahreum tidak tertolong. Sejak saat itulah aku berhenti kuliah dan merawat Minra seperti anakku sendiri,” mata MinAh menerawang seakan semua kejadian beberapa tahun yang lalu berputar kembali di ingatannya.

“Jadi, pria yang menemuimu itu kekasih Ahreum?” ternyata selama ini tebakan Eric bahwa pria yang menemui MinAh adalah mantan kekasih MinAh salah.

“Ne.. Namanya Daniel Ahn. Aku baru tahu beberapa hari yang lalu kalau ternyata Daniel oppa dipaksa pindah ke Inggris agar tidak menikahi Ahreum, lalu setelah ayahnya meninggal akhirnya dia bisa kembali ke Korea.. Ah aku lupa berterima kasih pada Eric-ssi” kata MinAh.

“Mwo? Aku? Untuk apa?” Eric bingung karena tiba-tiba saja MinAh mengucapkan terima kasih.

“Berkat Eric-ssi aku memberi ijin pada Daniel oppa untuk menemui Minra 1 kali dalam seminggu,” jawab MinAh.

“Jinjja? Syukurlah. Aku khawatir kalau apa yang kukatakan membuatmu tidak nyaman,” Eric senang karena kejujurannya bisa berdampak positif bagi MinAh.

“Aniya.. Aku memikirkannya dan kurasa memang benar, apapun yang terjadi Minra butuh sosok ayah yang bisa melindunginya. Gamsahamnida Eric-ssi,” MinAh menatap Eric dengan tulus.

Karena MinAh menatapnya seperti itu jantung Eric kembali berdebar-debar. Tanpa berpikir panjang dia merengkuh MinAh ke dalam pelukannya.

“Wae.. Waeyo?” tanya MinAh kaget.

“Aku merasa bangga padamu,” jawab Eric pelan.

“Jeongmalyo? Waaahhh aku jadi malu.. Hehehee gomawoyo,” tidak disangka MinAh membalas pelukan Eric.

Tapi memeluknya saja ternyata belum cukup bagi Eric, dengan lembut Eric mencium bibir MinAh beberapa detik lalu melepasnya.

MinAh hanya menampakkan ekspresi datar yang sulit Eric pahami.

“Gomawoyo karena selalu mendukung dan merasa bangga padaku yang seorang single parent. Tapi karena hal itu juga lebih baik Eric-ssi memikirkan dan mempertimbangkan lebih dalam sebelum melakukan sesuatu yang nantinya akan Eric-ssi sesali,” setelah mengatakan itu MinAh segera masuk ke dalam cafe.

Eric hanya terpaku, berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya.

“Eric oppa! Lama sekali sih, Hyejin sudah menunggu dari tadi,” kata-kata HyunAh membuat Eric tersadar.

“Eoh.. Kajja,” Eric mengikuti HyunAh masuk ke dalam cafe.

Eric tidak bisa menikmati pesta di bar tempat perayaan anniversary cafe tempatnya bekerja. Kata-kata MinAh terus terngiang di telinga Eric.

***

“Henry-ssi… Henry-ssi…” teriak MinAh saat tidak bisa menemukan rekannya. Malam ini Henry dan MinAh yang bertugas mengunci cafe.

“Di dapur,” teriak Eric. Tanpa MinAh ketahui Eric meminta bertukar tugas dengan Henry.

“Eric-ssi?” MinAh terkejut saat melihat Eric berdiri di dapur.

“Kemarilah,” pinta Eric. Tanpa bertanya MinAh menurutinya berdiri di hadapan Eric.

“Aku sudah mengikuti saranmu Park MinAh.”

MinAh menunjukkan wajah tidak mengerti.

“Aku sudah memikirkan dan mempertimbangkan lebih dalam semuanya. Siapa dirimu, latar belakangmu, statusmu. Aku sudah memikirkannya dengan matang dan ternyata jawabannya tetap sama, oleh sebab itu aku tidak merasa bersalah apalagi menyesal dan tidak akan meminta maaf karena telah lancang menciummu. Bahkan apa yang ada di otakku malah mendukung apa yang ada di hatiku,” ujar Eric dengan yakin.

Lagi-lagi ekspresi MinAh tidak dapat dibaca oleh Eric.

“Sebenarnya aku berencana untuk menunjukkannnya padamu, tapi berhubung aku tidak bisa menunjukkan isi otakku aku akan menunjukkan isi hatiku saja. Ani, kuperdengarkan lebih tepatnya. Because heartbeat never lies” Eric mengambil stetoskop yang sudah dia persiapkan. Dipasangkannya pada kedua telinga MinAh dan ujung stetoskop dia letakkan di dada kirinya.

Eric membiarkan MinAh mendengar jantungnya yang berdebar-debar, berdetak lebih kencang dibanding detak jantung normal pada umumnya.

Setelah merasa MinAh sudah cukup mendengar detak jantungnya, Eric melepas stetoskop dari telinga MinAh.

“Jantungku selalu berdetak seperti ini setiap melihatmu tersenyum, melihatmu bekerja dengan sangat keras, melihatmu menatap Minra layaknya seorang ibu, dan hal-hal kecil yang bisa membuat jantungku berdebar tanpa bisa kukontrol saat berada di dekatmu.”

Akhirnya MinAh menyunggingkan senyum tipis.

“Saranghae.”

Eric mengangkat dagu MinAh dengan jarinya kemudian menciumnya seperti beberapa hari yang lalu, tapi bedanya kali ini MinAh membalas ciumannya.

“Gomawo,” bisik MinAh setelah sejak tadi tidak berkata apa-apa.

“Aku memintamu untuk memikirkan dan mempertimbangkan semuanya karena satu hal,” lanjut MinAh. Dia mengambil stetoskop dari tangan Eric lalu memasangkannya di telinga Eric, ujung stetoskop dia letakkan di dada kirinya seperti yang tadi Eric lakukan.

Eric hanya bisa tersenyum bahagia saat mendengar detak jantung MinAh ternyata berdetak sama cepat seperti miliknya.

“Nado saranghae.”

Meskipun tidak bisa mendengarnya tapi Eric bisa membaca gerak bibir MinAh dengan jelas.

Langsung saja Eric melepas dan membuang stetoskopnya kemudian memeluk pinggang MinAh dengan sangat erat.

“Aku lebih suka merasakan debaran jantungmu secara langsung” kata Eric lalu kembali mencium MinAh dengan lebih intens.

***

Enjoy ^^

Thank u for reading..