Annyeong yeorobuuunn..
Ini author bawain part selanjutnya dari rumus matematika. Hahhaaha. Karena part sebelumnya kemarin pendek, kali ini author bikin agak panjang. Semoga gak bosen yaaa…

Jangan lupa dikomen yaa…

Gomawooo….

*.*.*.*

image

Incoming call
LEE Donghae

Hyejin menghela nafas panjang sebelum menerima panggilan tersebut. “Selamat pagi, Lee sajangnim. Apa kabar? Lama tidak bertemu. Ada yang bisa aku bantu?” Sapa Hyejin seramah mungkin. Hyejin menunggu lima detik namun tidak ada jawaban, cukup lama untuk sebuah sahutan dalam percakapan telepon.

“Tuan Lee? Apa Anda mendengarku? Ada yang bisa aku bantu?” Hyejin mengulangi pertanyaannya namun tetap tidak ada jawaban. Hyejin menjauhkan telepon genggamnya dari telinga untuk melihat tidak ada yang salah dengan alat elektronik tersebut. Saat itu, Hyejin menyadari kebodohannya.

“LEE DONGHAE!!! OPPA!!!” Seru Hyejin dengan riang bahkan sambil tertawa terbahak-bahak. “Mianhe. Aku pikir Lee Donghae nasabahku. Bagaimana kabarmu? Mentang-mentang sudah punya anak, kau jadi lupa padaku.”

Hyejin bisa mendengar tawa renyah Donghae dari belahan dunia yang lain. Tawa yang menyadarkannya bahwa Ia sudah begitu lama tidak bertegur sapa dengan sahabatnya itu. Bukan karena bertengkar. Hanya karena kesibukan masing-masing yang begitu menyita waktu. “Don’t you miss me, Hye?” Tanya Donghae.

“I do really miss you,” sahut Hyejin yakin. Donghae kembali tertawa.

“Kau sedang apa?” Tanya Donghae.

Hyejin menimbang-nimbang jawaban apa yang akan ia berikan pada Donghae, melihat dirinya hanya duduk di sebuah sofa di sebuah ruangan kerja yang sangat luas sambil menonton televisi dengan mual yang tidak pernah berhenti menyerangnya sejak pagi. Karena sedang hamil muda.

Kyuhyun tiba-tiba masuk diikuti sekretaris kepercayaannya, Lee Jonghyun. Orang nomor satu Cho Industries itu sudah selesai rapat rupanya. Hyejin tersenyum saat Kyuhyun mencium keningnya dan mengikuti gerakan tangannya di atas perut Hyejin, sebelum pria itu melanjutkan pekerjaannya tepat di sebelah Hyejin.

“Aku sedang bosan,” jawab Hyejin akhirnya. Kyuhyun mendelikkan mata penasaran kepada Hyejin. Kenapa wanita itu bosan? Yang lebih penting, kepada siapa wanita itu sedang berbicara? Tentu saja, Hyejin tidak peduli.

“Donghae Oppa, aku merindukanmu,” ucap Hyejin dengan nada dibuat-buat manja, nyaris merengek seperti seorang gadis yang merindukan pacar barunya. Mata Kyuhyun tidak lagi mendelik melainkan sudah melotot. Menuntut penjelasan.

“Aku juga merindukanmu. Begitu juga Hamun. Kalau anak kami yang baru lahir ini sudah agak besar, sudah bisa dibawa jalan-jalan, kami akan menemuimu,” ujar Donghae. “Bagaimana kehidupanmu di Korea?”

Kyuhyun belum mengalihkan tatapan matanya dari Hyejin yang masih mengabaikannya. Sekarang, tubuh Kyuhyun bahkan ikut menuntut penjelasan. Ia menghadap Hyejin seutuhnya dan mengalihkan pekerjaannya kepada Jonghyun. “Kau sedang bicara dengan siapa, sayang?” Tanya Kyuhyun dengan nada yang bisa dibilang tidak lembut.

Donghae mendengar suara tersebut. “Kau sedang bersama seorang pria? Siapa?” Tanya Donghae.

Hyejin menatap Kyuhyun sambil menghela nafas panjang. “Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan, Lee Donghae-ssi,” kata Hyejin. “Aku sedang bersama Cho Kyuhyun, mantan suamiku.”

“Aku MASIH suamimu!” Sela Kyuhyun. “Dan ada anakku di rahimmu.”

“Hamil?” Tanya Donghae bingung.

“Ya, aku sedang hamil. Anak Kyuhyun. Oh astaga, Donghae! Banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu,” jawab Hyejin sejujurnya. Ia tidak bisa membohongi Donghae, orang yang selalu siap membantunya di setiap saat kesusahan datang menghampiri Hyejin.

“Kau berhutang cerita padaku. Aku akan menyiapkan waktu untuk mendengarkannya. Tapi tidak sekarang. Hamun sedang membutuhkan bantuanku untuk mengurus si kecil. Aku akan langsung memberitahumu begitu ada kesempatan,” kata Donghae.

“Okay,” sahut Hyejin santai. Semua pasti akan ia ceritakan pada Donghae.

“Kalau begitu, sampai jumpa. Aku mau mengurus anakku dulu. Sampaikan salamku untuk Kyuhyun. Annyeong!”

“Annyeong, Donghae Oppa sayang,” ucap Hyejin dengan sengaja. Hyejin pun selesai dengan Donghae berganti dengan Kyuhyun yang sudah menatapnya kesal.

“Lee Donghae meneleponmu?” Tanya Kyuhyun penuh selidik.

“Bukan Lee Donghae-mu. Lee Donghae-ku yang menelepon,” jawab Hyejin. Meskipun Kyuhyun sedang berusaha menarik Hyejin untuk hanya terfokus padanya, Hyejin justru membagi dua pikirannya dengan membaca bahan-bahan rapat Kyuhyun.

“Lee Donghae-mu?” Kyuhyun bertanya semakin menyelidik namun Hyejin tidak ada niat untuk melanjutkan lebih jauh. Hyejin yakin Kyuhyun pasti sudah tahu siapa Lee Donghae. Cho Kyuhyun punya Lee Jonghyun yang bisa dengan mudah mendapatkan data apapun di dunia ini. Biografi seorang Lee Donghae hanya akan memakan waktu setengah jam untuk mencarinya.

“Kau tidak mungkin lupa dengan pria yang menampung Hyejin di Paris sejak kalian berpisah kan, Cho sajangnim?” Jonghyun ternyata berusaha mengingatkan Kyuhyun.

“Ah yang itu,” kata Kyuhyun singkat menutup pembicaraan mengenai Lee Donghae. Ia tidak ingin tahu seberapa jauh hubungan Hyejin dengan pria itu namun pria itu mungkin akan jadi satu-satunya pria yang akan diijinkan Kyuhyun untuk berada paling dekat dengan Hyejin.

“Sampaikan terima kasihku kepadanya,” ujar Kyuhyun sebelum kembali bekerja.

“Untuk?” Tanya Hyejin.

“Menjagamu dengan baik selama aku tidak ada. Maafkan aku,” kata Kyuhyun pelan sambil mulai melanjutkan pekerjaannya. Dadanya terasa sesak menyadari ternyata cukup lama ia membiarkan Hyejin sendirian. Kyuhyun bahkan ingin menangis.

“Kau jelek kalau menangis. Jangan menangis,” kata Hyejin menyadari raut wajah Kyuhyun yang sudah berubah sangat sendu. “Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku mau tidur meskipun aku sudah bosan setengah mati di sini.”

Hyejin merebahkan dirinya di sofa. Kepalanya berada di atas bantal sedangkan kakinya ia julurkan di atas paha Kyuhyun, memaksa pria itu bekerja sambil memangku kakinya. “Bangunkan aku kalau sudah selesai atau kalau sudah jam 5 sore,” pesan Hyejin dengan nada memerintah.

Kyuhyun tersenyum menatap Hyejin yang sudah mulai terlelap. Tangannya mengelus perut Hyejin yang sudah mulai membuncit meski hanya satu sentimeter. “Bagaimana aku bisa bekerja kalau kau tidak melepaskan tanganku, cantik?” Gumam Kyuhyun melihat tangan Hyejin yang masih mengikat pergelangan tangannya sejak ia tiba di ruangan ini.

—–

Kyuhyun sedang serius menatap layar komputernya sambil berkomunikasi dengan Jonghyun melalui aplikasi canggih ciptaan sahabat sekaligus tangan kanannya tersebut. “Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tim shipping overseas, pendapatan mereka semakin lama semakin menurun padahal kontrak yang aku buat rasanya cukup banyak. Bisa tolong kau selidiki?”

“Tentu saja. Itu urusan kecil,” ujar Jonghyun.

Kyuhyun kembali memperhatikan layar komputernya yang kali ini menunjukkan kinerja bagian collection atau penagihan. Tidak ada masalah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kyuhyun beranjak ke kinerja tim-nya yang lain. Tiba-tiba telepon genggamnya bernyanyi nyaring.

Oneul pabo cheorom geujarie seoitneun geoya… Piga naerimyeon… Heumppeok jeojeumyeo… Eoji anheun neorul gidaryeo… Naneun haengbokhaesseo…

Kyuhyun hanya bisa mendesah pasrah ketika suara penyanyi kesayangan Hyejin berkumandang dari ponselnya. “Kalau kau tidak sedang hamil, aku tidak akan mau memakai ringtone ini,” gerutu Kyuhyun pada wanita yang masih tidur nyenyak di sebelahnya. Dengan segera, Kyuhyun menjawab panggilan tersebut.

“Manajer Kim! Apa kabar?” Tanya Kyuhyun basa-basi. Sebelum mengangkat telepon, Kyuhyun sempat melihat kalender di layar ponselnya tersebut. 30 September. Tanggal krusial untuk semua orang bisnis Bank. Kyuhyun sudah tahu pasti apa yang akan diminta Manajer Kim di akhir bulan seperti ini. Tidak akan jauh dari dana jutaan won atau ratusan ribu dolar.

“Annyeonghaseyo, Cho sajangnim. Apa kabar? Tampaknya sedang sibuk sekali,” kata Manajer Kim sambil tertawa ramah khas orang-orang pelayanan.

“Perekonomian menurun, bisnis tidak berkembang ditambah mengurus wanita yang sedang hamil, ya, aku cukup sibuk,” sahut Kyuhyun. “Ada yang bisa dibantu, Manajer Kim?”

“Seperti biasa, tuan Cho. Hari ini kan akhir bulan.” Manajer Kim tertawa penuh basa-basi yang Kyuhyun langsung mengerti artinya. “Tapi Hyejin kan sedang cuti, aku juga tidak ada di kantor. Kalau ada yang bisa kupercaya untuk datang ke rumah mengambil cek, silahkan,” kata Kyuhyun tanpa pikir panjang. Beberapa ratus juta won yang bisa membuatnya bersama lebih lama dengan Hyejin. Sama sekali bukan masalah.

“Aku sendiri yang akan mengambilnya, tuan Cho. Jam berapa bisa kuambil?” Ujar Manajer Kim.

“Sekarang juga bisa. Aku seharian ini di rumah,” kata Kyuhyun santai.

“Berarti kalau Saya datang jam 11 siang, bisakah tuan Cho?”

“Silahkan.”

Manajer Kim yang cerdas berterima kasih banyak pada Cho Kyuhyun. Mood pria itu tampaknya sedang sangat bagus sehingga tidak disia-siakan oleh Manajer Kim. “Oh ya tuan Cho, kami ada produk back to back. Dengan mengagunkan deposito atau sejumlah dana kepada Kami, nanti bisa kami cairkan lagi 100 persen dari dana tersebut,” kata Manajer Kim berusaha menjual produk Bank yang menguntungkannya.

“Manajer Kim, kau atur saja bagaimana baiknya tapi kau tahu konsekuensinya. Setiap 100 juta won yang aku masukkan ke pengelolaan kalian, 1 hari bebas untuk Hyejin tanpa mengurangi jatah cutinya dan tidak ada satupun yang boleh memprotesnya.”

“Siap!” Manajer Kim menyanggupi permintaan Kyuhyun. Dia sudah mengantongi keputusan Direksi untuk memberikan izin tidak terbatas kepada Hyejin selama dana Kyuhyun dan grup-nya terus mengalir ke Bank of Korea.

Kyuhyun menutup teleponnya lalu memeriksa keadaan yang masih terlelap. “Kau mau bangun jam berapa, nyonya? Kau harus sarapan.” Kyuhyun membangunkan Hyejin dengan menepuk-nepuk pelan pipi tirus Hyejin. Hyejin hanya membuka matanya sebentar lalu menutupnya lagi dan membalik badannya membelakangi Kyuhyun.

“Aku masih ngantuk,” ujar Hyejin cuek dengan suaranya yang parau.

“Hey, sekarang sudah jam 10 lewat. Kau harus bangun. Aku tidak mau anakku kelaparan di perutmu. Lagipula, jam 11 manajer Kim mau datang,” kata Kyuhyun.

Mendengar nama Manajer Kim tampaknya jauh lebih ampuh dari apapun untuk membangunkan Hyejin. Wanita itu bahkan langsung melompat dari tempat tidur. “Buat apa Manajer Kim datang?” Tanya Hyejin panik.

“Akhir bulan. Seperti biasa. Karena kau sedang cuti, Manajer Kim yang akan langsung mengurusnya,” jawab Kyuhyun.

Hyejin sedikit rileks mendengar alasan manajer Kim datang. Ia tidak lagi panik namun tidak lagi mengantuk. “Aku mau sarapan saja,” ujar Hyejin berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan dimana asisten rumah tangga Kyuhyun sudah menyiapkan banyak makanan yang terjamin enak.

Kyuhyun menyusul tidak lama kemudian. Pria itu mengambil tempat duduk di sebelah Hyejin dengan mulutnya yang sedang mengunyah roti. “Manajer Kim menawarkan aku program back to back. Apa itu?” Tanya Kyuhyun.

“Kau menyetujuinya?” Hyejin sama sekali tidak menjawab pertanyaan.

“Selama setiap 100 juta won bisa membebaskan waktumu untuk bisa bersamaku, aku tidak peduli,” kata Kyuhyun.

“Aku sedang malas membahas produk back to back. Kalau tidak terlalu butuh, sebaiknya tidak usah. Tapi kalau kau sudah setuju, ya sudah. Saranku, jangan lama-lama. Sebulan cukup.”

Kyuhyun menatap Hyejin sambil tersenyum. “Apa kau sudah mulai peduli dengan uangku?” Goda Kyuhyun yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Hyejin.

“Selama anakku tidak akan kekurangan, aku tidak peduli,” sahut Hyejin santai.

“Kau dan anak KITA akan tetap jadi fokus utamaku. Tidak usah khawatir. Kau hanya perlu berpikir untuk tetap sehat. Sekarang, makan yang banyak. Lalu mandi. Setelah manajer Kim, Ahra nuna yang akan datang.”

Hyejin membelalakan matanya saking terkejutnya. Untung, makanan yang sedang berada di mulutnya masih bisa tertelan. Kyuhyun tersenyum tenang. “Ahra nuna senang mendengar kita kembali bersama. Aku cerita padanya kau sedang hamil. Reaksinya, dia tidak sabar untuk bertemu denganmu,” kata Kyuhyun.

Hyejin tidak menjawab. Ia hanya berdiam di meja makan sambil berusaha menelan makanan yang ada di hadapannya. Paling tidak setengah porsi, hanya untuk menjaga asupan untuk kandungannya. Bertemu dengan Kyuhyun saja sudah cukup mengerikan. Beberapa jam lagi, ia akan bertemu dengan klan Cho yang lain. Hyejin sungguh tidak ingin bertemu.

—–

Hyejin tidak bisa menikmati sarapannya karena ia terlalu memikirkan pertemuannya dengan Cho Ahra nanti. “Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin bertemu dengannya. Apa yang harus aku lakukan?” Pikir Hyejin berkali-kali namun selalu menemui jalan buntu. “Aku tidak mungkin pergi. Tidak. Anakku mau makan apa nanti.”

Saking fokusnya memikirkan Ahra, Hyejin bahkan sampai tidak menyadari kedatangan Manajer Kim dan Jung HyunAh, teman satu kantornya. “Kau sedang memikirkan apa, nyonya Cho? Uang suamimu yang akan kami bungakan?” Goda HyunAh melihat temannya bengong di meja makan. Sayang, tidak mempan. “Yaa Song Hyejin!!”

Barulah Hyejin sadar ada HyunAh di depannya. “Hai, Hyun. Kau sudah datang? Mana manajer Kim?” Tanya Hyejin.

“Di ruangan tuan Cho. Aku disuruh kesini untuk menemanimu,” kata HyunAh sambil mengambil mendudukkan salah satu kursi yang terdekat dengan Hyejin. Dengan mata jelalatan, HyunAh memperhatikan apartemen Kyuhyun yang dapat dibilang sangat mewah.

“Kalau aku jadi kau ya Hye, aku tidak akan mau jadi pegawai lagi. Aku akan resign dari Bank lalu membuka usaha sendiri yang aku sukai,” kata HyunAh sambil mengunyah anggur yang baru ia ambil dari piring Hyejin.

“Modalnya darimana?” Tanya Hyejin sambil tertawa.

“Minta dari suamimu. Ya Tuhan, Song Hyejin. Di Bank kita saja dia punya miliaran dolar. Kau minta 1 juta dolar saja tidak akan langsung membuatnya jatuh miskin,” ujar HyunAh.

Hyejin hanya tersenyum tipis. Kalau bukan karena seorang bayi di dalam perutnya, Hyejin tidak akan mau berurusan terlalu dalam dengan seorang Cho Kyuhyun. Meskipun ia sangat mencintai Kyuhyun tapi hatinya belum siap untuk berbaikan. “Aku jadi pegawai Bank of Korea saja asal cukup memberikanku kehidupan. Kyuhyun cukup bertanggung jawab pada anaknya saja,” kata Hyejin.

HyunAh hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Ia tidak pernah mengerti jalan pikiran Hyejin untuk urusan yang satu ini. Hati teman sekantornya itu selalu saja keras. “Kau sulit sekali dicairkan padahal kau mencintainya kan? Kenapa sih kau suka sekali menyiksa dirimu sendiri?”

“Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya. Lebih baik kau beritahukan padaku berapa uang yang ditaruh Kyuhyun ke Bank hari ini?” Tanya Hyejin. “Dan back to back-nya.”

“Penasaran?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin tahu berapa hari yang harus aku habiskan bersamanya karena uang itu,” jawab Hyejin.

“10 hari,” kata HyunAh dengan santai namun sukses membuat mata dan mulut Hyejin membulat sempurna.

“1 miliar won?! Darimana ia punya uang sebanyak itu?! Apa ia menarik dananya dari bank lain?!”

HyunAh mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu darimana uang Kyuhyun berasal. Kalau istrinya saja tidak tahu apalagi dia yang hanya seorang Private Banking Officer pengganti. “Termasuk fasilitas back to back-nya dan harus aku koreksi nyonya Cho, nominalnya dalam US Dolar bukan Korean Won. Suamimu itu super kaya. Ckckckck,” kata HyunAh penuh kekaguman.

Hyejin tidak terlalu kagum. Ayahnya pernah memiliki uang sebanyak itu sebelum usahanya jatuh dan mengalami kebangkrutan. Hyejin tidak terlalu peduli sebenarnya. Ia lebih peduli dengan 10 hari yang akan ia habiskan bersama Kyuhyun yang over protektif.

“Kau tahu, Hyun? Aku sudah tidak keluar rumah 3 hari. Aku sudah tidak bertemu orang selama 3 hari karena Kyuhyun terlalu mengkhawatirkan aku. Aku hanya mual karena hamil. Aku tidak akan mati hanya karena keluar ke mall,” keluh Hyejin.

“Kyuhyun hanya mengkhawatirkanmu. Berpikir positif saja. That man loves you so much. I can see from his eyes and so do you. Tapi sejak kapan kau suka ke mall? Bukannya kau lebih suka tidur di rumah?” Sahut HyunAh.

Hyejin hanya menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu sejak kapan ia memikirkan mall dan isi-isinya. HyunAh tersenyum lembut. “Aku rasa hormon kehamilanmu yang membuatmu seperti itu,” kata HyunAh. “Saranku, istirahat saja di rumah untuk sementara ini. Kyuhyun pasti akan menjagamu.”

Sepertinya, urusan Kyuhyun dan Manajer Kim sudah selesai. Kedua pria itu sudah keluar dari ruangan Kyuhyun dan menghampiri Hyejin dan HyunAh yang berada di ruang makan. “Selamat siang, Manajer Kim. Maaf sudah merepotkan Anda,” sapa Hyejin dengan sopan sambil membungkukkan badannya dengan hormat. Bagaimanapun manajer Kim yang cerewet itu tetaplah atasannya.

“Selamat siang, Hyejin-ah. Kau tidak merepotkan. Sama sekali tidak merepotkan,” ujar Manajer Kim dengan senyum sumringah seharga 1 miliar USD. Manajer Kim bahkan menanyakan kabar kehamilan Hyejin. “Bayimu sehat kan?” Hyejin menganggukkan kepala.

“Jaga dirimu baik-baik. Kalau kau merasa tidak enak badan, tidak usah dipaksakan untuk masuk kantor. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian berdua,” kata Manajer Kim sambil tersenyum. Senyum 1 miliar USD. Gunung meletus pun tidak akan menghapus senyum mahal Manajer Kim dari wajahnya.

“Karena sudah siang, kami pulang dulu. Terima kasih banyak tuan Cho atas bantuannya. Sukses terus. Sampai jumpa,” kata Manajer Kim untuk berpamitan dengan Kyuhyun. Kyuhyun mengantarkan Manajer Kim sampai ke pintu apartemennya. HyunAh menyusul di belakang mereka.

“Hye, jaga dirimu baik-baik. Jangan bersedih. Jangan stress,” pesan HyunAh sebelum pergi meninggalkan kediaman President Director of Cho Industries.

Kyuhyun menutup pintu dan berbalik menghadap Hyejin. “Kau sudah selesai sarapan?” Tanya Kyuhyun. Hyejin menganggukkan kepalanya karena ia memang sudah selesai sarapan. Meski di jam 12 siang.

“Waeyo?”

Kyuhyun menatap nakal tubuh Hyejin yang hanya berbalutkan gaun tidur tipis berlapis kimono sebagai luarannya. Dengan cekatan, Kyuhyun melepaskan kimono tersebut. “Entah kenapa tiba-tiba aku ingin bercinta denganmu,” ujar Kyuhyun sambil mengecupi kening Hyejin.

“Tapi aku sedang hamil,” kata Hyejin, berusaha mengelak. Ia sama sekali tidak dalam mood untuk bercinta, mengingat dalam beberapa jam lagi ia harus bertemu dengan Cho Ahra.

“Aku tahu cara yang bercinta yang benar saat istri sedang hamil,” kata Kyuhyun. Pria itu tidak bisa dihentikan. Bibir Kyuhyun sudah bergerilya menyesap bibir dan leher Hyejin serta bagian tubuh di sekitar bahu wanita itu. Dengan mudah, Kyuhyun menggendong tubuh Hyejin dan membawanya ke atas sofa.

Kyuhyun mengangkat tangan Hyejin ke atas untuk dapat meloloskan gaun tidur lemah itu dari tubuh Hyejin. Dengan tidak sabar, karena pengaruh inti tubuhnya yang semakin sesak, Kyuhyun membuat Hyejin telanjang bulat. Segala cara Kyuhyun lakukan untuk membangkitkan hasrat istrinya itu untuk bercinta. Ketika Hyejin melenguh keras sambil meremas rambutnya, Kyuhyun tahu dia sudah diperbolehkan untuk memasuki tubuh Hyejin.

“Kau memang brengsek,” umpat Hyejin namun sambil tersenyum nakal. Bibirnya menempel erat pada bibir Kyuhyun dengan tangannya yang memeluk Kyuhyun, melarang Kyuhyun pergi dari tubuhnya. Kyuhyun terus bergerak sesuai bimbingan nalurinya diikuti Hyejin yang sudah cukup pintar untuk menyeimbangkan.

Kyuhyun menatap wanita di bawahnya dan tersenyum dengan lembut. “Kalau kau menuruti keinginanku, kita bisa bercinta sampai malam. Aku bisa minta Ahra nuna untuk datang besok,” ujar Kyuhyun dengan nafas terengah. Kelelahan mungkin.

Hyejin mengecup bibir Kyuhyun lalu mengelap keringat Kyuhyun yang sudah mengalir deras dari dahinya. Tatapan matanya jelas menunjukkan bahwa ia lelah. Tubuhnya sudah sakit dimana-mana tapi ia tidak sanggup untuk menolak Kyuhyun. Pria itu berhasil membuatnya kecanduan. “Kita belum makan siang jadi sebaiknya kita makan siang dulu. Sekarang sudah jam 3 sore,” kata Hyejin.

Kyuhyun bergerak sekali lagi untuk menuntaskan kenikmatannya. “Setelah makan siang, apa kau berniat untuk melanjutkannya?”

Hyejin hanya tertawa. “Aku harap tidak,” kata Hyejin. “Dan aku harap kau tidak lupa masih ada anakmu di dalam rahimku.”

Kyuhyun melepaskan kontak tubuhnya dengan tubuh Hyejin. Dengan penuh cinta, Kyuhyun menciumi seluruh bagian tubuh Hyejin. Seluruh bagian favoritnya. “Aku akan membiarkanmu istirahat kalau begitu,” kata Kyuhyun. “Aku akan menelepon Ahra nuna untuk datang besok saja.”

Hyejin mencelos lega bahwa ia tidak akan bertemu dengan Cho Ahra hari ini. Ia masih punya waktu paling tidak 12 jam untuk mempersiapkan diri.

“Kau tidak mandi?” Tanya Kyuhyun.

Hyejin masih berbaring di atas sofa dengan luaran kimono yang diikat seadanya sehingga tidak bisa menutupi tubuh Hyejin dengan sempurna. “Kau duluan saja,” kata Hyejin sambil menonton televisi.

Kyuhyun berjalan kembali ke sofa, duduk di sebelah Hyejin dan mencumbu wanita itu sekali lagi. “Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya akan menciummu,” kata Kyuhyun.

Hyejin tertawa ringan saat tangan Kyuhyun sudah berada di antara kedua pahanya. “Terserah kau saja,” kata Hyejin kemudian melumat bibir Kyuhyun dengan bibirnya. Hyejin tidak melayangkan protes sedikitpun ketika tangan Kyuhyun bermain di atas dadanya atau ketika Kyuhyun kembali memenuhi tubuhnya. Mereka kembali bercumbu.

—–

Kecupan Kyuhyun di kening Hyejin menjadi alarm wanita itu pagi ini. Dengan tubuh yang rasanya sudah tidak berbentuk, Hyejin membuka kelopak matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah Cho Kyuhyun yang tersenyum manis padanya. “Selamat pagi, wanita paling agresif sepanjang masa,” goda Kyuhyun lalu mencium bibir Hyejin dengan ringan.

Hyejin mengangkat selimutnya sampai sebatas kepala untuk menutupi malunya. Ia tidak ingat jelas apa yang ia lakukan semalam tapi ia ingat menahan Kyuhyun untuk terus berada di dalamnya meski kegiatan bercinta mereka sudah selesai. Kyuhyun tertawa kecil melihat kelakuan istrinya. “Tapi aku suka wanita agresif,” kata Kyuhyun sambil menurunkan selimut Hyejin. “Sebaiknya kau segera mandi. Ahra nuna akan datang jam 10 pagi ini.”

Hyejin melihat jam dinding di hadapannya dan langsung merasa mulas di perutnya. Sejam lagi ia harus bertemu dengan Ahra.

“Tidak. Aku tidak siap,” pikir Hyejin. Seluruh kebahagiaan yang baru saja ia rasakan seakan menguap begitu saja. Seluruh pikirannya kini tertuju pada Cho Ahra, satu-satunya saudara kandung Cho Kyuhyun. “Aku tidak ingin bertemu dengannya,” kata Hyejin dingin.

Kyuhyun mengelus kepala Hyejin, berusaha untuk menenangkan wanita itu sambil tersenyum. “Ahra nuna tidak akan menggigitmu, sayang. Dia tidak sekejam itu,” ujar Kyuhyun dengan lembut.

“Tidak sekejam itu?!” Umpat Hyejin dalam hatinya. Mata Hyejin hanya memicing, memandang Kyuhyun penuh perendahan. “Cho Ahra dan ibumu tidak ada bedanya, Cho Kyuhyun-ssi,” kata Hyejin dingin.

Semua perbuatan yang pernah dilakukan Ahra dan nyonya Cho tiba-tiba datang membanjiri ingatan Hyejin, membangkitkan sakit hatinya dan trauma yang tidak kunjung pulih. Benteng tak terlihat yang dingin dan kuat dibangun dengan cepat oleh Hyejin. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Ahra.

“Aku tidak ingin bertemu dengan keluargamu. Siapapun itu,” kata Hyejin dengan lebih tegas.

Ingatan Kyuhyun membawanya ke masa 7 tahun silam ketika Ahra selalu berada di belakang eomma-nya untuk mendukung perceraiannya dengan Hyejin, bahu-membahu dengan eomma-nya untuk membuatnya berpisah dari Hyejin termasuk menyiksa wanita itu dengan ucapan-ucapan yang tidak enak didengar. Wajar jika Hyejin bersikap seperti sekarang namun Ahra tidak lagi sekejam itu ketika Kyuhyun mencurahkan isi hatinya sampai menangis, di tahun ke-tiga kematian kedua orang tuanya. “Ahra nuna sudah berubah,” ujar Kyuhyun meyakinkan.

Hyejin tersenyum tipis, mengejek. Tidak semudah itu mempercayai ucapan Kyuhyun. “Aku tidak akan bertemu dengan siapapun yang pernah menjadi mimpi burukku. Seharusnya, kau bersyukur aku masih bertemu denganmu. Kau itu mimpi burukku yang terburuk!” Seru Hyejin dengan keras.

Kyuhyun memijit pelipis keningnya, menahan emosi yang sudah memuncak. Dia sudah cukup bersabar untuk mendapatkan hati Hyejin kembali. Ia rela melakukan apapun untuk Hyejin tapi tidak diperlakukan seperti ini. Sebagai pria, ia merasa harga dirinya terinjak-injak. “Song Hyejin, hentikan,” ujar Kyuhyun dengan gemeretuk gigi yang tidak stabil.

“Kalau kau berhenti menyuruhku bertemu dengan keluarga yang membuat aku hidup sebatang kara. Kau tidak bisa memaksaku bertemu dengan pembunuh orang tuaku, Cho Kyuhyun!!”

“HENTIKAN!!” Kyuhyun berteriak penuh kemarahan sambil memukul nakas di sebelahnya sampai bergetar, korban pelampiasan amarahnya tapi Hyejin tidak merasa gentar. Dengan amarah yang sama, Hyejin bangkit berdiri. Hyejin memakai bajunya dengan cepat tanpa bicara.

“Jangan pernah menemui aku lagi!!” Seru Hyejin. Setelah mengambil tas dan handphone-nya, Hyejin keluar dari rumah Kyuhyun.

“Dari awal memang seharusnya aku tidak membiarkannya masuk lagi ke kehidupanku. Kau bodoh, Song Hyejin!!!! Kau bodoh!!!!” Seru Hyejin dalam hati. Ia dan Kyuhyun baru saja bermesraan meluapkan cinta masing-masing semalam dan pagi ini Hyejin berada di tengah jalan dengan air mata yang tidak dapat terbendung lagi, Hyejin tidak dapat menahan tangisnya. Air matanya membutakan penglihatannya sampai Hyejin tidak bisa dengan jelas melihat tangga yang menurun di hadapannya. Kakinya salah menginjak sehingga ia terguling sampai ujung bawah tangga.

—-

Kyuhyun hanya duduk di atas tempat tidurnya sambil meremas-remas ponselnya dengan geram. Kyuhyun yang masih dilingkupi emosi tidak mau menyusul Hyejin. Ia memilih untuk tetap berada di kamarnya.

Ahra datang tepat jam 10 pagi dan melihat keadaan kamar Kyuhyun yang sangat berantakan. “Kau habis bertengkar dengan Hyejin?” Tanya Ahra.

“Darimana nuna tahu?” Tanya Kyuhyun tanpa semangat.

“Melihat keadaan kamarmu yang mengerikan dan tubuhmu yang hanya memakai boxer, kalian pasti berbuat yang liar-liar semalaman. Tapi melihat ekspresi wajahmu yang muram seperti itu, aku yakin kalian pasti habis bertengkar. Dan melihat Hyejin tidak ada, ia pasti pergi meninggalkanmu.”

“Berhentilah menganalisis keadaan rumah tanggaku, nuna,” ujar Kyuhyun kesal. Dengan malas, Kyuhyun meninggalkan Ahra di kamarnya. “Kau datang di saat yang tidak tepat.”

“Kau yang menyuruhku datang. Aku pikir Hyejin tahu aku akan datang,” ujar Ahra mengikuti Kyuhyun ke arah ruang makan. Kyuhyun menelan apapun yang bisa menahan kelaparannya.

“Hyejin belum sembuh. Ia masih marah kepadamu dan eomma. Dia pergi karena aku memaksanya untuk bertemu denganmu. Aku pikir, ia sudah memaafkanmu,” kata Kyuhyun muram.

Ahra duduk di kursi makan dengan memangku tangannya. “Apa ia sudah tahu eomma sudah meninggal?” Tanya Ahra. Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Tapi aku sudah bilang kau tidak lagi seperti dulu. Kau banyak berubah. Iya kan?”

“Kau seharusnya menceritakan dulu segalanya kepada Hyejin. Apa yang terjadi sejak awal kalian berpisah sampai kalian bertemu kembali. Kalau sudah seperti ini, aku juga tidak tahu harus berbuat apa,” kata Ahra yang kecewa tidak dapat bertemu dengan Hyejin.

Kyuhyun duduk berhadapan dengan Ahra. Berkali-kali, Kyuhyun menghela nafas dengan berat. “Aku juga tidak tahu harus berbuat apa.”

Kyuhyun terdiam dalam pikirannya. Hanya nyaring suara dering ponselnya yang menyadarkannya. “Ne, Jonghyun-ah? Ada apa?” Sahut Kyuhyun mendapat panggilan dari asistennya.

“Apa kau sedang di rumah sakit dengan Hyejin?” Tanya Jonghyun.

“Tidak. Aku ada di rumah. Ada apa? Apa yang terjadi?” Kyuhyun mulai panik ketika menyadari Jonghyun baru saja menyebutkan nama Hyejin dan rumah sakit.

“Aku sedang iseng memantau alat-alat pelacakku. Aku melihat punya Hyejin ada di Seoul National University Hospital sedangkan kau di rumah. Aku mencoba menghubungi Hyejin tapi tidak dijawab jadi aku menghubungimu. Aku tidak tahu apa yang terjadi jadi aku ingin memastikan….”

“Kita ke rumah sakit. Sekarang!!! Kau cek keadaan Hyejin kalau sudah sampai lebih dulu!” Teriak Kyuhyun. Teriakannya sudah lebih mengerikan daripada sebuah perintah. Jonghyun pun segera mengerjakan perintah tersebut.

Dengan tergesa-gesa, Kyuhyun memakai bajunya dan mengambil kunci mobil. Ahra yang bisa melihat kekalutan di wajah Kyuhyun, memaksa untuk mengantarkan adiknya ke rumah sakit. “Aku tidak akan membiarkanmu menyetir seperti orang gila,” kata Ahra.

Ahra berusaha membawa mobil dengan tenang meskipun Kyuhyun berkali-kali meneriakinya untuk menyetir lebih cepat. Begitu sampai, Kyuhyun langsung menyerbu bagian resepsionis tanpa menunggu Ahra. Beruntung, Jonghyun sudah tiba lebih dulu.

“Sebelah sini,” tunjuk Jonghyun kepada seorang wanita yang sedang tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Sebuah cairan dimasukkan ke dalam tubuh wanita itu melalui selang infus. Darah segar mengalir deras di sepanjang kakinya. Kyuhyun tahu apa yang terjadi tapi ia tidak sanggup memikirkan kengerian itu sekarang.

“Kenapa tidak ada yang menanganinya?” Teriak Kyuhyun kepada dokter dan perawat yang sedang bertanggung jawab di ruang gawat darurat tersebut.

“Dokter kandungan kami sedang operasi melahirkan, tuan,” jawab perawat.

“Apa kalian hanya punya satu dokter kandungan?”

“Yang lain sedang tidak praktek, tuan.”

Dengan tatapan mengintimidasi, Kyuhyun mengancam seluruh isi ruangan. “Jonghyun-ah, tolong telepon Profesor Hong Dae Han dan Profesor Go Min Guk. Bilang pada mereka, Cho Kyuhyun akan menutup rumah sakit ini kalau istriku tidak ditangani sekarang juga.”

Tidak semua orang kenal dengan Profesor Hong Dae Han dan Profesor Go Min Guk tapi setiap dokter dan perawat di rumah sakit ini tahu pasti siapa Hong Dae Han dan Go Min Guk. Mereka adalah pemilik rumah sakit tersebut. Kalau pria di tengah ruangan itu kenal dengan Profesor Hong-Go berarti ia bukan orang biasa.

Satu tim dokter khusus berlari memasuki ruang gawat darurat dan langsung membawa Hyejin ke ruang operasi untuk penanganan lebih lanjut. Ketua tim yang merupakan dokter senior yang sangat disegani di rumah sakit tersebut, membungkuk kepada Kyuhyun, membuat yang lain terbelalak. “Maafkan kami tuan Cho. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda,” kata dokter tersebut dengan sungguh-sungguh.

“Aku akan menuntut rumah sakit ini jika kau tidak berhasil menyelamatkannya, Profesor Go,” ancam Kyuhyun lalu meninggalkan ruang gawat darurat mengikuti para dokter yang membawa Hyejin.

Profesor Go menatap kepada seluruh dokter dan perawat di ruang gawat darurat tersebut. “Siapapun yang bertanggung jawab di ruangan ini hari ini, aku pastikan karirnya akan berakhir jika nyawa wanita itu tidak berhasil diselamatkan.”

Seorang dokter yang berdiri di sebelah tempat tidur bekas Hyejin hanya bisa menelan ludah, membayangkan masa depannya yang akan mengerikan jika tim dokter khusus gagal melakukan upaya terbaik mereka.

—–

Kyuhyun berjalan mondar-mandir dengan cemas di depan ruangan operasi. Pikirannya tidak ada lagi tentang pekerjaan di kantor. Semua sudah ia serahkan pada Jonghyun. Fokusnya sekarang sudah terampas pada keadaan Hyejin yang sedang di ujung tanduk.

“Tenanglah, Kyu. Hyejin akan baik-baik saja. Dokter-dokter yang menanganinya adalah yang terhebat.” Ahra berusaha menenangkan adiknya yang tidak berhenti gelisah. Ia tetap berjalan mondar-mandir.

“Aku tidak akan tinggal diam jika mereka tidak bisa menyelamatkan Hyejin,” desis Kyuhyun. “Aku bisa kehilangan bayi di rahimnya tapi aku tidak bisa kehilangan Hyejin. Tidak bisa. Tidak boleh terjadi.”

Ahra hanya menatap Kyuhyun dengan sedih. Hatinya teriris melihat adiknya yang sudah seperti orang frustasi hanya karena Hyejin keguguran. Penyesalan mendalam menjalar dalam tubuh Ahra. “Seharusnya aku tidak pernah memisahkan mereka,” batin Ahra.

—-

Jeng jeng jeng….
Ide author mandek. Doakan segera dpt wangsit.

Kalau ada yang baru baca FF ini dan mau baca part sebelumnya silahkan dicari di library- series yaa… gomawooo. Cup cup muah!

xoxo @gyumontic