image

“Aku masih syuting. Rasanya melelahkan sekali….”

“Bersabarlah. Jaga kesehatanmu.”

“Saranghae.”

“Nado.”

Hyejin mematikan telepon genggamnya, benar-benar mematikannya sehingga tidak ada yang bisa menelepon atau mengiriminya pesan, lalu menyimpan benda itu ke bagian paling dalam di tasnya. Semanis mungkin, Hyejin melemparkan senyum kepada teman makan malam di hadapannya. Seorang pria yang pernah menjadi lawan mainnya dalam sebuah drama, Choi Jinhyuk.

“Maaf sudah membuat Oppa menunggu,” kata Hyejin dengan nada penuh penyesalan.

“Siapa yang menelepon?” Tanya Jinhyuk, pria yang saat ini sedang mengambil cuti satu hari dari wajib militernya dan memilih menghabiskannya dengan makan malam bersama Hyejin. Dari nada suaranya terdengar rasa keingintahuan yang tinggi.

“Temanku,” jawab Hyejin dengan santai. Hyejin menyumpit daging di atas pembakaran lalu memakannya dengan lahap. “Daging ini enak,” komentarnya.

Jinhyuk tersenyum namun dari senyumnya terpancar jelas rasa penasaran yang belum hilang. “Teman atau teman?” Goda Jinhyuk.

Hyejin tertawa kecil. “Teman, Oppa… Teman. Aku tidak punya pacar kalau itu maksud Oppa,” ujar Hyejin memperjelas.

Jinhyuk ikut tertawa. “Kau memang tidak basa-basi,” ujar Jinhyuk.

“Aku tidak suka basa-basi. Buat sakit kepala saja. Lagipula Oppa sendiri sudah tahu aturan di manajemenku,” sahut Hyejin dengan santai. Sumpitnya kini sedang mengambil japchae di samping tempat pembakaran daging.

Jinhyuk meletakkan sumpitnya lalu duduk tegak menghadap Hyejin. Keduan tangannya terlipat rapi di atas meja tepat di depan dada bidangnya. Tatapan mata Jinhyuk menyadarkan Hyejin bahwa pria itu akan membicarakan suatu hal yang serius. “Ada apa? Kenapa Oppa menatapku seperti itu?” Tanya Hyejin.

Jinhyuk tersenyum kepada Hyejin. Dengan posisi tubuh yang tidak berubah, Jinhyuk mengutarakan maksudnya. “Kalau kau sudah boleh punya pacar, aku tidak keberatan jadi pacarmu meski harus bersembunyi dari umum seumur hidup.”

Hyejin nyaris saja tersedak saking terkejutnya mendengar pernyataan Jinhyuk. Tanpa disengaja, usaha Hyejin untuk tidak tersedak berbuah tawa keras. “Kenapa tertawa? Aku serius, Song Hyejin. Aku menyukaimu. Aku ingin menjadi kekasihmu,” ujar Jinhyuk memperjelas isi hatinya.

Entah sedang bingung atau terserang fobia mendadak, Hyejin mengambil sepotong daging dengan sumpit lalu menyuapkannya kepada Jinhyuk. Untuk menutupi kegugupannya. “Selama aku masih jadi anggota grup idol, aku tidak boleh punya kekasih, Oppa,” kata Hyejin.

Bohong.

Jinhyuk lebih dulu menelan potongan daging yang diberikan Hyejin sebelum ia mengeluarkan argumentasinya. Ia sudah cukup lama menyukai Hyejin dan sudah waktunya ia mengutarakan keinginannya kepada gadis itu. “Karena itu aku bilang aku tidak keberatan jika harus bersembunyi seumur hidup. Aku ahli pacaran diam-diam,” kata Jinhyuk keras kepala.

Hyejin menatap mata Jinhyuk dan menangkap maksud perkataan Jinhyuk dengan jelas. “Aku juga menyukai Oppa,” ujar Hyejin pelan. Ia memang menyukai Jinhyuk, sebatas partner kerja-nya. Tidak lebih.

“Tapi?” Jinhyuk tahu pernyataan Hyejin masih menggantung. Ada yang belum dijelaskan oleh gadis itu kepadanya dan tampaknya akan membuatnya patah hati. Perasaan Jinhyuk mengatakan seperti itu.

Hyejin menghela nafas panjang. Penuh penyesalan, tatapan mata Hyejin kepada Jinhyuk. “Tapi aku tidak bisa mengkhianati Kyuhyun. Mian, Oppa,” ucap Hyejin sungguh-sungguh.

Kening Jinhyuk berkerut banyak. Agak bingung dengan penjelasan Hyejin. “Bukankah kalian hanya berteman? Kau tidak boleh pacaran.” Jinhyuk menatap Hyejin lebih dalam. “Jangan bilang, kau dan Kyuhyun…”

Hyejin menganggukkan kepalanya. Untuk kali ini, ia tidak akan berbohong lagi. Jinhyuk adalah salah satu pria baik dan tidak pantas dibohongi. Ia harus tahu yang sebenarnya agar tidak selalu berkutat pada Hyejin. Pria itu pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dari Hyejin. “Aku dan Kyuhyun sudah lama bersama. Kyuhyun itu temanku juga kekasihku. Kadang ia seperti Joong Ki Oppa, kadang seperti Appa. Tapi kadang ia juga seperti MinAh yang cerewet atau Hamun dan HyunAh yang penuh perhatian. Bagiku, dia segalanya. Aku tidak bisa mengkhianatinya. Mianhe, Oppa.”

Jinhyuk masih tidak bisa percaya dengan apa yang didengarnya. Itu realita tetapi rasanya seperti mimpi. Keras kepalanya masih muncul. “Apa aku tidak punya kesempatan?” Tanya Jinhyuk.

Dengan ragu, karena merasa tidak enak, Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku dan Kyuhyun sudah bersama sejak kami masih remaja. Aku tidak bisa meninggalkannya, Oppa,” kata Hyejin.

“Karena ia yang memintamu?” Jinhyuk benar-benar membutuhkan penjelasan yang logis dan sangat panjang atas alasan Hyejin yang tidak bisa mengkhianati Kyuhyun.

Hyejin kembali menggeleng. “Dia tidak pernah memintaku untuk selalu bersamanya. Dia membebaskanku selama aku bahagia,” kata Hyejin. “Tapi aku sadar aku ini gadis paling egois, Oppa. Aku tidak bisa meninggalkannya karena aku tahu aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku yang menguncinya.”

Jinhyuk tersenyum kecil. Pahit. Terlihat jelas kekecewaannya namun ia sadar tidak ada yang bisa dilakukannya. Hati gadis yang ia sukai sudah diserahkan kepada orang lain. Harapannya nol. Gadis di hadapannya tidak akan bisa ia miliki. “Apa kau bahagia bersamanya?” Tanya Jinhyuk.

“Dengan segala hal yang telah kami lewati selama ini, aku bahagia. Dia adalah yang terbaik yang pernah ada dalam hidupku.”

“Apa ia pernah membuatmu menangis?” Tanya Jinhyuk lagi.

“Sering…”

“Lalu kenapa kau masih mau bersamanya kalau ia sering membuatmu menangis?”

“Karena ia selalu membuatku menangis bahagia. Ia tidak pernah membuatku sedih. Kyuhyun selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku.”

Jinhyuk sudah kehilangan kata-kata. Ia juga sudah kehilangan nafsu makannya. Rencananya tidak berjalan semulus yang ia bayangkan. Angan-angannya juga tidak terjadi seperti yang sudah menari-nari di pikirannya. “Humm… Selesaikan makan malammu. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang,” ujar Jinhyuk. Datar.

Hyejin hanya menatap tidak enak hati kepada Jinhyuk. “Oppa… Mianhe.” Satu-satunya kata yang bisa ia ucapkan kepada Jinhyuk.

—–

Hyejin sengaja bangun pagi-pagi sekali karena ia akan mengunjungi lokasi syuting Kyuhyun, sebelum orang-orang terbangun dan melihat ia berada di tempat yang tidak seharusnya. “Aku sudah sampai,” lapor Hyejin begitu ia memasuki lokasi syuting Kyuhyun.

Kyuhyun langsung keluar dari kamar peristirahatannya dengan para kru. Matanya terbuka lebar, menjelajah setiap inci alam terbuka di hadapannya. Tidak terlalu sulit, Kyuhyun mendapatkan mobil Hyejin yang terparkir di antara mobil peralatan syuting. Tergesa, Kyuhyun masuk ke dalam mobil Hyejin dan langsung memeluk gadis yang berada di dalamnya. Tidak posesif namun menunjukkan kepemilikan.

“Aku merindukanmu,” ujar Kyuhyun singkat, tanpa basa-basi.

“Aku juga,” sahut Hyejin.

Kyuhyun masih terus memeluk Hyejin. Ia bahkan tidak berniat melepasnya. “Jangan lepaskan,” kata Kyuhyun. Kyuhyun sepertinya berencana kembali tidur sambil memeluk Hyejin seperti itu.

“Bagaimana syutingmu? Lancar?” Hyejin memeluk Kyuhyun dengan erat sambil mengelus punggung pria itu dengan lembut.

“Aku baru syuting 4 episode, masih ada 11 episode lagi yang harus aku selesaikan. Aku hanya tidur 3 jam sehari. Rasanya kepalaku mau copot. Sakit sekali.”

Hyejin mendengarkan keluh kesah Kyuhyun dan berusaha memberikan dukungan yang menguatkan. “Tetap semangat! Kau pasti bisa melaluinya, sayang.”

“Terima kasih. Aku pasti sudah akan cemberut seharian ini kalau kau tidak datang,” kata Kyuhyun dengan mata terpejam. Kepalanya sudah terkulai di atas bahu Hyejin. Tampaknya ia benar-benar ingin kembali tidur sambil memeluk Hyejin.

Hyejin memberikan belaian lembut di kepala pria itu, membuat Kyuhyun semakin ingin terlelap. “Kau cocok dengan lawan mainmu? Para kru?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya yang berada di atas bahu Hyejin, dagunya terasa menusuk tulang bahu gadisnya. “Aku baru syuting adegan ciuman kemarin dan masih akan ada adegan ciuman-ciuman lain,” ujar Kyuhyun yang tidak ditanggapi oleh Hyejin. “Kau tidak cemburu?”

“Tidak,” jawab Hyejin singkat. Ia memang tidak cemburu. Ada hal yang lebih mengganggu pikirannya daripada puluhan adegan ciuman Kyuhyun dengan gadis lain.

Mata Kyuhyun masih terpejam, menikmati tidur setengah-setengahnya. “Kau sendiri? Kapan mulai syuting? Belum ada jadwal?” Tanya Kyuhyun.

“Aku masih cuti sampai besok. Jadi mungkin lusa baru mulai syuting,”。 jawab Hyejin.

Kyuhyun tidak berkata apa-apa lagi. Ia terlalu menikmati berada dalam pelukan Hyejin. Alam mimpi sudah mulai mendekatinya.

“Kyu, apa kau pernah berpikir untuk meninggalkanku?” Tanya Hyejin tiba-tiba, membangunkan Kyuhyun yang baru saja menginjakkan kaki di dunia bawah sadarnya

“Eoh? Kau bicara apa?” Sahut Kyuhyun tidak ambil pusing. Kantuknya saat ini benar-benar menuntut kemenangan.

“Aku mohon, jangan pernah meninggalkanku. Jangan pernah.”

Hyejin menenggelamkan kepalanya pada bahu Kyuhyun, menyembunyikan air matanya yang perlahan mengalir. Suara sesenggukkan Hyejin yang menyadarkan Kyuhyun. “Kau bicara apa sih? Aku tidak pernah ada rencana untuk meninggalkanmu,” kata Kyuhyun.

“Kau juga bilang seperti itu saat ditanya mengenai album solo. Tidak ada rencana, tidak tahunya, beberapa bulan kemudian albummu muncul.”

Setelah hampir 15 menit memeluk Hyejin, Kyuhyun akhirnya menjauhkan gadis itu sepanjang lengan tangannya. “Jangan samakan dirimu dengan sebuah album. Itu jauh berbeda tahu. Aku bingung, kenapa kau tiba-tiba bicara seperti ini?” Tanya Kyuhyun penasaran. Kalau Hyejin sedang melankolis seperti ini berarti ada hal yang sedang mengganggunya.

“Semalam, Jinhyuk Oppa menyatakan perasaannya padaku. Ia bilang suka padaku.” Hyejin memulai ceritanya.

Kyuhyun berusaha mendengar tanpa menyela Hyejin sedikit pun. “Lalu kau bilang apa?” Tanya Kyuhyun.

“Aku juga menyukainya tapi aku tidak bisa mengkhianatimu,” jawab Hyejin. “Aku membayangkan jika ada gadis yang menyatakan perasaan padamu dan kau…”

Kyuhyun ingin tertawa tapi tidak cukup tega untuk melakukannya. Gadis ini tidak pernah berubah. Hal yang paling ditakutinya tetaplah jika ditinggal oleh Kyuhyun. Kyuhyun bersyukur akan hal itu. “Meninggalkanmu, tidak ada dalam rancangan hidupku bahkan dalam ide-ide liarku sekalipun. Aku tidak pernah akan meninggalkanmu. Meskipun kau lari ke ujung dunia, aku akan mengejarmu. Kau tidak perlu cemas, sayang.”

“Sungguh?”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Tidak akan. Rencana hidupku itu yang paling mudah,” kata Kyuhyun. Mata Hyejin bergerak seolah bertanya, “Apa?”

Kyuhyun menghapus air mata Hyejin dengan ibu jarinya. “Kau,” kata Kyuhyun kepada Hyejin lalu mencium gadis itu tepat di keningnya yang lebar. “Dan aku, akan terus bersama. Selamanya,” lanjut Kyuhyun sambil tersenyum, mendamaikan, menenangkan perasaan Hyejin.

Kkeut!

xoxo @gyumontic